Sunday, March 04, 2007

NASI BERKAT Paling Jauh Sepanjang Sejarah


Salah satu kearifan klasik yang selalu dipetuahkan orang tua mana pun yang saya temui sejak dulu kala, bunyinya kira-kira begini: tiap manusia adalah unik. Tidak ada dua insan, bahkan yang kembar identik sekali pun, sama dalam segala hal. Selalu ada yang khas pada dirinya. Bukan hanya secara fisik, tetapi lebih luas daripada itu. Entah kebiasaan-kebiasaannya, entah cara berfikirnya, entah seleranya dan seterusnya.

Barangkali bukan hanya manusia yang demikian. Saya kira negara-negara di dunia pun begitu. Tidak ada dua negara yang sama persis. Well, para ahli ekonomi memang bisa saja menggolong-golongkan negara berdasarkan Pendapatan Per Kepala penduduk negara tersebut, misalnya. Tetapi tetap lah tidak ada dua negeri yang sama dan sebangun dalam segala hal. Bahkan seandainya pun kedua negara itu berasal dari induk yang sama.

Samar-samar saya jadi ingat pada pelajaran semasa terdampar jadi mahasiswa fakultas ekonomi tempo hari. Bahwa terjadinya perdagangan internasional justru berangkat dari perbedaan antarnegara. Perdagangan mancanegara terjadi dan akan menguntungkan kedua belah pihak justru bila masing-masing negara berbeda atau membedakan dirinya dari negara lain. Dua negara bisa saja sama-sama memiliki sumber daya tenaga kerja dan sumber daya alam, misalnya. Tetapi masing-masing negara harus mencari perbedaan untuk menemukan pada sumber daya mana dia unggul. Dan ia harus fokus di situ. Dengan demikian, negara itu mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain.

Lalu transaksi perdagangan internasional pun terjadi berdasarkan keunggulan komparatif tersebut. Negara yang unggul secara komparatif dalam hal tenaga kerja, akan memusatkan diri membuat dan menjual produk yang dihasilkan oleh keunggulannya itu. Demikian pula sebaliknya. Dengan begitu terjadilah perdagangan internasional yang tidak hanya sekadar menghasilkan pertukaran barang. Lebih jauh, pertukaran barang itu tercapai dalam tingkat yang optimum yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kalau tidak salah, dasar pemikiran semacam ini lah yang melambungkan teori pembagian kerja yang dilansir oleh David Ricardo, yang membuat namanya dihafal luar kepala oleh setiap orang yang duduk –serius atau setengah serius—di tahun-tahun pertama mengikuti mata kuliah teori ekonomi internasional. Hanya saja, nama David Ricardo itu akan segera berlalu sebagai sejarah karena para mahasiswa baru biasanya akan dipaksa untuk menyambut hadirnya pemikiran yang lebih baru. Datangnya dari seseorang yang bermuka sangat serius, namanya Michael Porter, profesor dari Universitas Harvard, yang hingga kini masih dipuja oleh banyak orang. Ia memperkenalkan Keunggulan Kompetitif (competitive advantage) yang samasekali lain dari Keunggulan Komparatif tadi.

Seingat saya, jargon ‘keunggulan kompetitif’ ini pernah sangat populer di Indonesia di tahun-tahun 1980-an, sehingga bukan hanya para akademisi serius yang luar kepala mengucapkannya, tetapi juga para politisi amatiran pun ikut-ikutan mencomotnya. Seringkali dengan penyederhanaan yang sangat berlebihan, mengingat teori itu sebenarnya agak rumit dibandingkan dengan jargonnya. Mirip-mirip perkataan globalisasi dewasa ini, yang semua orang bisa mengatakannya tapi lupa tentang substansinya.

Saya termasuk orang yang suka gagah-gagahan bicara teori-teori rumit seperti itu tanpa tahu isi terdalamnya. Karena itu saya cukupkan saja bicara tentang teori keunggulan komparatif mau pun teori keunggulan kompetitif sampai di sini. Sebab, sebetulnya saya tak paham betul perihal dua teori yang dihasilkan orang-orang jenius itu. Yang saya ingin sampaikan dengan menyitir pikiran-pikiran tokoh hebat semacam itu soal sederhana belaka. Yakni sebuah santir (refleksi) yang bersandar pada pengalaman pribadi di tengah keluarga saya yang noraknya sampai ke ubun-ubun. Siapa tahu ada yang terhibur. Atau setidaknya terbahak-bahak mentertawakan betapa kampungannya saya dan keluarga saya.

Seperti sudah saya katakan tadi, kearifan klasik yang sudah saya dengar sejak masih kecil, dan saya percayai tanpa syarat, adalah bahwa tiap manusia adalah unik. Keunikannya itu sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena kita tak bisa melihat rasionalitas di situ. Tetapi apa boleh buat. Yang namanya manusia itu adakalanya tak terkira-kira. Tak terduga-duga.



Ambillah contoh tentang kegetolan istri saya pada apa yang kami sebut sebagai Nasi Berkat. Kegetolannya itu sudah muncul sejak ia masih kecil, tetapi saya baru menyadarinya ketika kami kemudian berumah tangga. Sebuah kegetolan yang sampai sekarang sering membuat saya meledeknya sebagai orang aneh.

Yang dimaksud dengan Nasi Berkat itu adalah nasi dengan lauk-pauk yang biasanya merupakan buah tangan dari pesta atau hajatan. Biasanya ia dikemas dalam sebuah kotak karton atau rantang. Nasi Berkat lazimnya dititipkan oleh si empunya hajat kepada setiap undangannya untuk dibawa pulang ke rumah. Entah itu hajatan besar atau kecil. Semisal hajatan sunatan, tahlilan, syukuran memasuki rumah baru atau arisan dan macam-macam hajatan lainnya. Bahkan dari pesta perkawinan pun kita sering dioleh-olehi Nasi Berkat tersebut.

Nah, istri saya adalah penggemar berat Nasi Berkat. Manakala kami mendapatkan kiriman Nasi Berkat dari tetangga atau kerabat yang melangsungkan hajatan, istri saya akan segera menyerobotnya. Kadang-kadang, orang yang mengantarkan Nasi Berkat itu belum sepenuhnya berada di luar pagar rumah, istri saya sudah dengan serius melahap hantaran itu. Wajahnya sangat bersemangat sehingga saya membayangkan, seandainya pun ada tsunami datang, ia pasti akan menyelesaikan dulu suapan terakhirnya baru pergi menyelamatkan diri.

Yang sering membuat saya mentertawakannya adalah bila kami berkunjung ke rumah Mertua. Sekali dua kali adakalanya ada Nasi Berkat yang teronggok di meja. Tanpa minta izin terlebih dahulu, ia biasanya langsung melahapnya. Sambil mengunyah begitu, baru lah ia bertanya kepada Bu Mertua, “Bu, ini siapa yang hajatan, kok ada Nasi Berkat?” Untungnya Bu Mertua sudah tahu kebiasaan putrinya. Dan, untungnya pula, kelihatannya hanya dia yang punya kegetolan semacam itu sehingga ia tak punya pesaing diantara saudara-saudaranya. Coba, kalau kakak dan adiknya juga penggembar Nasi Berkat. Bisa terjadi ‘perang saudara’, bukan, jika sekotak Nasi Berkat diserobot tanpa izin?

Menurut istri saya, ketika masih kecil dulu ia senang sekali manakala menyaksikan sang Ibu bersiap-siap akan berangkat menuju hajatan. Sebab dalam hati ia berharap sang Ibu akan membawakannya Nasi Berkat. Dan, sambil begitu, ia merasakan waktu begitu lambat bergulir. Ia selalu ternanti-nanti akan buah tangan sang Ibu dari tempat pesta itu. Ini agak berkebalikan dengan saya. Mungkin karena sejak kecil saya sudah ‘termakan’ oleh sugesti yang ditanamkan oleh Ibu saya bahwa makanan terbaik itu adalah makanan yang hangat dan masih fresh from the oven alias baru dimasak, maka saya tidak terlalu berselera terhadap yang namanya Nasi Berkat. Bagi saya Nasi Berkat hanya setingkat saja di atas nasi sisa. Sebab kerap kali Nasi Berkat itu sudah dingin.



***
Hari Sabtu, tiga pekan lalu, di atas pesawat Garuda yang membawa saya dari Makassar menuju Jakarta, kisah tentang Nasi Berkat itu berputar-putar di kepala saya. Malam baru saja tiba dan para pramugari pesawat itu yang tampak cekatan tetapi ramah, sudah membagi-bagikan makan malam. Kepada setiap penumpang mereka bertanya, “Nasi dengan ikan atau dengan dengan ayam?” Ketika hal itu ditanyakan kepada saya, saya menjawab pilihan kedua. Dan dengan senyumnya yang manis sang pramugari meletakkan jatah saya di meja lipat di depan saya. Segera tercium aroma lezat, apalagi setelah kawan duduk di kanan-kiri saya membuka jatah makan masing-masing.

Namun, saya tak tergerak sedikit pun untuk melahapnya karena perut saya masih kenyang. Sebelum berangkat tadi, saya sudah makan cukup banyak, ditraktir oleh orang yang mengundang kami ke kota Makassar itu. Dan, karena itu pula pikiran saya segera melayang pada cerita perihal Nasi Berkat. Dalam hati saya berkata, baik juga saya coba membawakan nasi dari pesawat ini ke rumah. Siapa tahu istri saya menggolongkannya juga sebagai Nasi Berkat sehingga ia akan melahapnya dengan sukacita. Itu berarti bakal genaplah kata pepatah, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Sebab, jatah makan di hadapan saya tidak terbuang sia-sia. Dan pada saat yang bersamaan, ada yang malah tak terkira senang hatinya karena kebagian makanan favoritnya.

Lagipula, sudah sangat lama saya tidak bepergian dengan pesawat yang menyediakan makan berat untuk penumpangnya. Selama ini, manakala saya dan istri pulang ke kampung halaman, paling banter kami menumpang pesawat bertiket supermurah yang hanya menyajikan segelas air mineral plus dua potong kue basah untuk mengisi perut penumpangnya. Jadi membawa makanan dari pesawat terbang adalah pengalaman langka buat kami.

Maka ketika pramugari pesawat itu kembali menghampiri tempat duduk di jejeran saya untuk mengumpulkan kembali kemasan makanan yang sudah disantap, saya bertanya (dengan berbisik-bisik karena takut ditertawakan oleh penumpang lain) apakah saya bisa membawa pulang jatah makanan saya. Sekali lagi, sang pramugari dengan senyumnya yang santun mengangguk. Tetapi ia mengingatkan bahwa mereka tidak punya kantong sebagai tempat membungkus makanan itu. Dan, mungkin karena melihat wajah saya yang agak bingung, ia segera menawarkan jalan keluar. “Bagaimana kalau saya bungkuskan pakai tissue saja, Pak?” .Tentu saja saya mengangguk cepat-cepat, karena memang tidak ada pilihan lain. Lalu makanan dari hadapan saya dia angkat kemudian di bawa ke bagian belakang pesawat.

Ketika asyik menikmati penerbangan, setengah jam sebelum sang Pilot mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, sang pramugari yang tadi kembali datang menghampiri tempat saya duduk. Sambil dengan sopan menyenderkan tangannya di bahu kursi di depan saya, dia menyerahkan jatah makan saya yang sudah terbungkus oleh tissue yang tebal. Benar-benar dikemas dengan rapi sehingga aman dari kebocoran mau pun tumpah. Tabung plastik kecil berisi beberapa iris buah melon dan semangka pun direkatkan dengan manisnya, sehingga Nasi Berkat ala Garuda ini benar-benar nyaman ditenteng.

Pesawat kami tiba di Bandara Soekarno Hatta kira-kira pukul 21:00 WIB. Dan saya tiba di rumah kami nun jauh di pinggiran Ciputat sana dua jam kemudian. Mendengar suara ojek di depan rumah, istri saya terbangun dari tidurnya kemudian membukakan pintu pagar untuk saya. Di dalam rumah, ketika saya merebahkan diri duduk di sofa, ia bertanya saya membawa oleh-oleh apa. Sambil begitu, ia membuka ransel yang saya geletakkan di atas meja, mengeluarkan pakaian-pakaian kotor dan buku-buku. Saya tak menjawab pertanyaannya dan membiarkan dia menemukan sendiri bongkahan kecil yang terbungkus oleh tissue dengan rapatnya di dalam ransel. Itu lah jatah makan malam saya pemberian Garuda

Tahu apa yang terjadi?

Dia kaget menemukan ada nasi dan lauknya di dalam bungkusan tissue itu. Dan, seperti yang sudah saya duga, istri saya memang begitu excited mendapatkan Nasi Berkat di tengah malam begitu. Ia melahapnya dengan serius dan bersemangat. Sepotong ayam gulai dan nasi putih dengan secuil sayuran tumis ala capcai ia nikmati begitu rupa. Lebih unik lagi, ternyata Nasi Berkat itu masih hangat sampai di rumah. Mungkin karena tissue pembukusnya berlapis-lapis. Hingga sendokan terakhir, istri saya tetap saja mempertontonkan ekspresi wajah khasnya, yakni ekspresi yang sering saya temukan manakala ia menikmati Nasi Berkat dari tetangga. Padahal, menurut dia sendiri, dua jam sebelumnya baru saja ia makan malam dengan lauk cumi goreng serta terong balado.

Dalam hati saya berkata, tidak sia-sia nih ‘berani malu’ untuk meminta jatah nasi di pesawat dibungkuskan oleh pramugari. Tak berlebihan bila saya meledek istri saya dengan mengatakan, bahwa Nasi Berkat yang ia nikmati itu adalah Nasi Berkat Terjauh yang pernah ia nikmati sepanjang sejarah hidupnya. Sebab Nasi Berkat itu datangnya dari ketinggian entah berapa ribu kaki di udara (atau beberapa puluh ribu kaki?).

Istri saya tertawa saja mendengar lelucon itu.

Saya juga mengaminkan dalam hati bahwa alangkah tak terduga-duganya manusia. Jatah makan di pesawat itu, mungkin tidak sebegitu tingginya nilainya bagi sebagian orang, ada bahkan yang tak menyentuhnya dan membiarkannya terbuang begitu saja. Tetapi bagi sebagian orang lain, ia mempunyai nilai tak terkira.

***
Sabtu berikutnya ketika saya harus berangkat lagi ke Banda Aceh, pertanyaan yang diajukan istri saya adalah, “Naik Garuda lagi nggak?” Saya tersenyum karena saya sudah tahu apa maksud di balik pertanyaan itu. Ia menginginkan Nasi Berkat lagi. Dan, putri saya pun ternyata tak mau ketinggalan. Ia juga minta saya untuk tidak melupakan buah tangan dari pesawat. Sebab, tiap kali saya habis bepergian dengan pesawat terbang, ia selalu tak lupa merogoh kantong kemeja yang saya pakai. Lalu mencomot permen dari dalamnya. Lalu permen berlogo armada penerbangan apa saja itu di bawa-bawa hingga ke sekolahnya. Apakah ia menganggap bahwa permen yang sudah sempat ‘jalan-jalan’ ke angkasa sana, lebih bergengsi daripada permen yang cuma ngendon di stoples kantin di sekolahnya?

Itulah sekelumit cerita bagaimana kearifan klasik itu bekerja dalam keluarga kami yang noraknya makin menjadi-jadi.
###




















3 comments:

  1. salam kenal ya. membaca tulisan ini membuat saya terkenang masa kecil, ketika musim lebaran, atau ya itu musim kondangan, menerima makanan kiriman dari orang lain itu nikmat sekali.

    ReplyDelete
  2. Nasi berkat emang khas.. INDONESIA BANGET ... dulu saya sering rebutan dengan adek saya kalo orang tua kami bawa nasi berkat

    ReplyDelete
  3. Anonymous12:25 PM

    tidak ada tulisan abang yang minim makna. thanks a lot

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...