Monday, March 26, 2007

Sambil Berjongkok di Kali (Aek) Simatahuting



Aek Simatahuting, seperti yang sudah sering saya ceritakan, adalah sebuah pemandian penduduk di kampung saya, Sarimatondang. Ia berasal dari mata air yang bening. Airnya mengalir sampai jauh (seperti syair Bengawan Solo), bergabung dengan aliran air dari mata air lainnya dan kemudian membentuk sungai. Di bagian hilir ia masih digunakan penduduk untuk anekarupa keperluan, sebelum akhirnya sampai ke sawah-sawah, menghidupi padi dan aneka tanaman lainnya di lahan-lahan milik para petani.

Selalu kenangan yang indah lah datang dari Aek Simatahuting, yang dalam Bahasa Indonesia berarti kali Simata Kucing. Sewaktu kecil, ia adalah tempat penghiburan yang tiada tara. Setiap pagi, kami sudah hadir di sana. Mandi dari pancurannya yang deras. Pemandian pria dan perempuan hanya dipisahkan oleh dinding batu dan pohon-pohon besar. Para pria mandi bertelanjang, sementara perempuan menggunakan sarung.

Banyak orang yang mengingat masa kecil dengan mengarahkan kenangan pada sungai di kampung halaman. Tidak hanya oleh rakyat jelata seperti saya. Banyak juga mereka yang berpangkat bahkan bertitel negarawan, merefleksikan masa kecilnya lewat pergaulan dengan sungai. Sukarno, misalnya.

Dalam otobiografinya, Sukarno bercerita kepada Cindy Adams tentang sungai yang ia akrabi di Mojokerto, tempat ia menjadi kanak-kanak lengkap dengan kenakalan-kenakalannya.

And I made the river my friend since it was one place a poor boy could play free. It was also a source of food. I always tried hard to surprise Mama with some small fish for dinner. This once earner me a whipping. It had grown late. When father realized baby Karno was not home, he was furious. “Why is he out playing so long? Has he no feeling for his mother? Doesn’t he realize she will be worried?”

“The village is so tiny nothing could happen without our hearing about it,” mama pointed out.

Nontheless, Father, who was somewhat stubborn, was infuriated and when I skipped happily home an hour later triumphantly bearing my Kakap for Mama, Papa grabbed me, fish and all and caned me soundly.

(Sukarno, an Autobiography, Cindy Adams, The Bobbs-Merrill Company, Inc, 1965)


Hidup yang kita rindukan, dalam hemat saya, selalu mengacu kepada keceriaan sungai seperti Aek Simatahuting dan sungai di Mojokerto seperti dalam ingatan Sukarno itu. Desaunya yang ramai tetapi sebetulnya bernada kacau, adalah suara berisik yang nyaman, menenteramkan, menandakan ada gerak, perubahan bahkan pergolakan. Namun semuanya menyejukkan dan yang paling penting, menghidupi.


Pandangan seperti ini tentu lah tidak disetujui semua orang. Sebagaimana kritik yang selalu diarahkan kepada wong ndeso, norak dan terpana pada keindahan masa kecil seperti saya, sungai tidak selalu dalam wajah yang begitu. Sungai tak selalu seramah kenangan masa kecil.

Pramudya Ananta Toer telah lama mencium hal itu. Ia jungkirbalikkan romantisme pada sungai justru dengan bahasa dan pilihan katanya yang aduhai. Ia tunjukkan bahwa hidup tak selalu seramah masa kecil. Seperti cerita pendeknya yang berjudul Yang Sudah Hilang, Pramudya menggunakan sungai sebagai cermin bagaimana perubahan sosial di kota Blora, yang dibelah oleh kali Lusi yang ganas di kala banjir, juga bisa memporak-porandakan hidup.

Kali Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebelah selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi. Dia merombak tebing-tebingnya.

Dan di dalam hidup ini, kadang-kadang aliran yang deras menyeret tubuh dan nasib manusia. Dan dengan tak setahunya ia kehilangan beberapa bagian dari hidup itu sendiri….

(Yang Sudah Hilang, dalam Cerita dari Blora, Pramudya Ananta Toer, Hasta Mitra, 1994)


Di Amerika Serikat, ada sungai raksasa bernama Missisippi. Di kartu-kartu pos, kita menyaksikan gambarnya demikian indah, mendorong imajinasi ingin duduk berlama-lama menyaksikannya sambil menyeruput es krim atau mengerat sepotong burger. Tapi imajinasi itu akan segera lenyap bila membaca deskripsi datar namun menohok, berikut ini:

Missisippi adalah salah satu sungai benua terbesar di dunia, seperti sungai Amazon di Amerika Selatan, sungai Congo di Afrika, Sungai Volga di Eropa atau sungai Gangga, Amur dan Yangtze di Asia.
…. Sungai Missisippi disebut ‘bapak sungai.’ Di sepanjang alirannya di dataran rendah sungai ini berbelok-belok, tampak malas dan tidak berbahaya. Akan tetapi orang-orang yang mengenal sungai ini tidak tertipu dengan penampilannya yang ramah, karena mereka telah sering berjuang dengan pahit menghadapi banjir sungai tersebut.
(Garis Besar Geografi Amerika, Earl N. Mittleman, Dinas Penerangan Amerika Serikat (USIS), tanpa tahun)


Kecuali oleh sungai besar seperti Missisippi, dengan lembah dan ngarainya, sungai-sungai kecil dengan ceritanya yang muram, sebenarnya kian hari kian akrab di telinga kita bahkan di sekitar kita. Bukan hanya pada kita warga Jakarta yang rutin disambangi banjir. Tetapi juga oleh warga lain di seantero Indonesia yang bernasib tidak lebih baik.

Kali Code di Yogyakarta, adalah contoh yang juga nyata. Almarhum Umar Kayam menggambarkannya dalam sebuah kolomnya berjudul Malioboro, Banjir dan Para Kawula di majalah Tempo beberapa tahun silam. Seperti kebiasaannya yang selalu mencintai kota Yogya berikut pengisinya, Kayam menceritakan fenomena Kali Code dalam nada yang mengingatkan kita pada orang tua tatkala bercerita tentang anaknya. Ia mungkin dikecewakan, dibuat sedih, disakiti tetapi cinta mengalahkannya dan mengobatinya. Sama seperti penduduk yang dengan dalam mencintai Yogya dan tak kan pernah bisa meninggalkannya meskipun Kali Code dengan garang merusak dan memorak morandakan rumah-rumah mereka.

Di tengah kota Yogya mengalir Code. Ini bukan sungai yang istimewa cantik. Berkelok-kelok mengalir dari utara ke selatan, dengan airnya yang lumayan jernih dan batu-batu lahar Gunung Merapi berserakan sepanjang alur, sungai ini menjadi istimewa karena ia membelah bagian pusat kota. Maka tebing-tebingnya yang tidak curam menjadi bagian yang menarik bagi mereka yang tidak mampu membuat rumah di kampung-kampung dan daerah elite dan mau dekat fasilitas pusat kota. Waktu permukiman ledok-ledok ini semakin padat, serta arus penduduk melarat terus saja masuk kota, maka lahan-lahan yang lebih sempit di bawah-bawah tebing, pratis di pinggir sungai mulai juga dipadati rumah penduduk.

Apa yang disebut lahan di pinggir sungai adalah tanah-tanah lunak dan pasir yang sesungguhnya masih ‘bergerak –wedi kengser, kata penduduk…..Bila hujan turun denganderasnya, wedi kengser akan bergeser dan rumah-rumah di atasnya pun ikut hanyut. Penduduk lari mengungsi ke para tetangga di lahan tebing sebelah atas. Bila hujan berhenti, mereka turun lagi, membangun lagi rumah mereka. Kehidupan kembali ‘normal.’ Sampah-sampah dan kotoran lain terus juga dibuang ke sungai. Penduduk pada mandi, buang air, berkumur, mencuci beras dan pakaian seperti biasa—di sungai. Anak-anak bersembur-seburan, ibu-ibu dengan kain basahan memandikan anak mereka. Dari atas jembatan Code pemandangan itu bagai lukisan lanskap Bali dari Walter Spies. Indah, tenteram, damai, gembira. Sementara Code makin menyempit juga.

Maka musim hujan dengan dahsyatnya mengguyur Yogya dalam ukuran elite, yang biasanya tidak kebanjiran, tahun ini harus mengalaminya. Jalan-jalan di daerah permukiman ‘elite’ yang biasanya tidak kebanjiran, tahun ini harus mengalaminya. Dan Code dengan kesakitan yang sanat, air pun naik dengan cepatnya. Dan Code mengamuk dahsyat. Rumah-rumah wedi kengser di lahan bawah dan rumah di ledok dihajarnya dan hanyut bagai rumah-rumah kertas.
(Malioboro, Banjir dan Para Kawula, dalam Titipan Umar Kayam, Umar Kayam, Pusat Data Analisa Tempo, 2002)



***
Berjongkok berlama-lama di tepian Aek Simatahuting yang bening, sambil sesekali menjejakkan mata kaki ke air untuk membiasakan diri pada dinginnya yang menusuk tulang, selalu membersitkan aneka pertanyaan tentang hidup, tiap kali saya mengunjungi mata air itu manakala pulang ke kampung halaman.

Aek Simatahuting kini tak seramai dulu, semenjak rumah-rumah penduduk sudah dialiri air ledeng. Namun penduduk yang datang dari perkampungan yang tampaknya mulai pula dibuka tak jauh dari sungai itu, masih juga menggunakannya sebagai sumber air bagi kebutuhan sehari-hari.

Dan, sambil melihat air yang tercurah dengan deras dari pancuran-pancurannya, saya bertanya dalam hati, sampai kapan ia akan begini, membuat hati tetap damai walau dengan desaunya yang ramai dan berisik, dengan gelombang-gelombang kecilnya yang membuat pantulan bayangan kita bergoyang-goyang di atas air? Sampai kapan Aek Simatahuting akan ramah seperti ini, sebelum roda ekonomi kelak mengubahnya menjadi sumber banjir dan bencana?


Begitu kami melewati jembatan Tappan Zee, seluruh sifat kekanak-kanakanku serentak datang. Ini adalah 20 tahun setelah kunjungan terakhirku, kecuali untuk sebuah perhentian singkat….. Air sungai Hudson yang bening dan damai mengalir di bawah. Sungai itu tampak lebih lebar dan lebih indah daripada Sungai Missisippi. Suatu ketika, Twain berkata bahwa membedakan Laut Galilee dengan Danau Tahoe adalah seperti membedakan sebuah garis bujur dengan pelangi. sungai Hudson, menurut pendapatku, adalah Danau Tahoe-ku dan sungai Missisippi tampaknya membatasi perbandingan itu. Ada sebuah cerita John Cheever kegemaranku, The Angle of the Bridge, yang di dalamnya karakter utamanya berada di lintasan jembatan Tappan Zee, yang diperankan seorang wanita muda dengan rambut keemasan, sebuah harpa, dengan suara yang amat merdu. Masa lalu itulah yang bernyanyi untukku, tapi aku merasa banyak kesamaannya dengan karakter seperti itu: “Semua itu kembali –langit biru terang, semangat ketegaran yang tinggi, dan sebuah ketenangan yang amat memukau.”
(Tempat-tempat Imajiner, Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika, Michael Pearson, Yayasan Obor Indonesia, 1994)


Ciputat, 24 Maret 2007
(P.S. Kesebelasan Inggris Usia 21 Tahun baru saja memasukkan gol ketiganya ke gawang Italia. Sementara di koran Kompas beberapa hari sebelumnya, ada liputan tentang hari Air Sedunia)

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...