Monday, March 12, 2007

Serdadu Belanda yang Namanya Lupa Dicatat



“Membaca-baca buku sejarah negeri kita tidak ada ruginya. Percaya deh.”

Itu nasihat seorang teman. Tertawa saja saya mendengarnya.

“Lakukan lah dengan santai dan tanpa beban. Maksud saya, bukan karena ada yang mengharuskan, seperti yang kita lakukan dulu tatkala masih kanak-kanak. Yakni dengan mata dipejamkan sambil komat-kamit, menghafal peristiwa-peristiwa penting berikut tanggal, bulan dan tahunnya, karena kita tak ingin mendapat angka merah saat menerima rapor kenaikan kelas. Sehingga buku sejarah kita perlakukan tak ubahnya seperti lembaran jadwal acara televisi, yang sesudah kita hafal, boleh dibuang atau dijadikan pembungkus sayur-mayur.”

Kali ini saya mulai agak serius menyimak nasihatnya.

“Coba lah baca buku sejarah seolah-olah ia sama ringan dan renyahnya dengan buku-buku sejenis chicken soup for the soul pada umumnya. Saya jamin, kau tak hanya akan menemukan ‘sup’ penghangat jiwa, malahan juga kebagian ati dan ampela-nya sekalian, yang pada gilirannya mengenyangkan jiwamu, bukan sekadar menghangatkannya.”

Ah, yang bener?

“Dan, untuk tujuan semacam itu, tak usah berpikir harus baca buku-buku sejarah pilihan, yang tebal-tebal, yang resensinya dimuat oleh berpuluh-puluh koran. Buku-buku loakan, yang tipis, yang kusam, yang tak jelas lagi siapa nama pengarangnya bahkan yang hampir dibuang ke tempat sampah, coba baca lah.”

Jadi penasaran juga untuk mempraktikkannya.

Maka sambil menyaksikan Rojas babak belur menerima pukulan Chris Jhon, pada siaran langsung pertandingan tinju akhir pekan beberapa waktu lalu, tangan saya membuka halaman demi halaman sebuah buku berjudul Perang Kemerdekaan yang diterbitkan oleh Yayasan Pro Patria Medan, 1979. Sudah kusam buku itu. Dapat nemu dari lemari buku ayah saya yang suda berdebu, di kampung tempo hari.

Penulis buku itu namanya Letkol A.R. Surbakti. Menurut dia, buku ini adalah “suka-duka perjuangan gerilya TNI Sektor III Sub Ter VII bersama-sama rakyat pejuang pada Perang Kemerdekaan II di daerah Tanah Karo, Karo Jahe dan Dairi….”

Mungkin perlu penyederhanaan sedikit untuk menjelaskan konteks yang diterangkannya itu. Kejadian-kejadian yang diceritakan penulisnya dalam buku ini adalah pada periode Perang Kemerdekaan II, yakni sekitar tahun 1948-1950-an. Sedangkan yang dimaksud Sub Ter VII adalah Sub Teritorial VII, kata lain dari Komando TNI untuk wilayah Sumatera. Waktu itu komandannya adalah Letkol A.E. Kawilarang. Sub Ter VII terbagi atas lima sektor. Dan, Sektor III, yang menjadi fokus cerita dalam buku ini, meliputi daerah Dairi dan Tanah Karo, keduanya (sekarang) adalah nama dua kabupaten di Sumatera Utara.

Menurut penulisnya, buku ini ditulis sebagai persembahan “ kepada teman seperjuangan yang telah gugur sebagai PAHLAWAN BANGSA dan sebagai tanda kenangan serta penghargaan kepada SELURUH RAKYAT yang telah memberikan bantuan kepada kesatuan TNI SEKTOR III SUB TER VII serta untuk NUSA DAN BANGSA INDONESIA.”

Selanjutnya, “Juga untuk isteri dan anak-anakku yang cukup memberikan pengertian sewaktu menyusun buku ini; serta kepada cucuku: Sylvia Sari Malem, Edward Samantra, Pratidina Pujiastuti Ginting dengan Kristina, Yanusville Bangun, yang akan banyak dapat mengambil pelajaran dari masa lampau.”



***

Bila mengingat usia penulisnya yang tidak lagi muda tatkala mulai menyusun buku ini, ditambah tahun penerbitannya yang 26 tahun lalu, cukup dimengerti mengapa bahasa yang digunakan demikian ‘dingin,’ bertutur ala hard news, dengan pilihan kata yang mengingatkan kita pada koran-koran tempo dulu.

Dugaan saya pastilah buku ini ditulis dengan tulisan tangan terlebih dahulu lalu diketik dengan mesin ketik yang berbunyi tak tik tuk itu. Dan, dapat dimengerti pula bila menulis dengan peralatan seperti ini, tidak tersedia kemewahan untuk berlama-lama pada gaya bahasa, apalagi plot cerita. Berbeda dengan sekarang ketika mirosoft word sudah tak terpisahkan dari dunia menulis, sehingga dengan teknik copy paste dan insert file, kita bisa menyediakan aneka struktur cerita dalam tempo singkat.

Namun, bila mengingat nasihat kawan yang mengatakan, “Coba lah baca buku sejarah seolah-olah ia sama ringan dan renyahnya dengan buku-buku sejenis chicken soup for the soul pada umumnya,” saya dapati juga lah bahwa buku ini makin dibaca lebih teliti makin banyak hal menarik.

Sejumlah catatan-catatan penulisnya merupakan garis besar mengenai tanggal, bulan dan peristiwa-peristiwa bersejarah, tetapi di sana-sini tercantum juga detail yang sering membuat kita terhenyak. Dan makin benar lah kata si kawan, bahwa akhirnya kita temukan juga makanan bagi jiwa dari membaca catatan-catatan bersejarah, sehingga dalam hati kita bisa mengatakan, betapa telah beruntungnya kita hidup di negeri yang diperjuangkan dengan susah-payah ini. Betapa terlalu berharganya ia bila disia-siakan dengan kasus-kasus konyol, semisal pejabat yang ‘bermain mata’ dengan narapidana, anggota parlemen cengeng yang protes karena kenaikan gaji yang direvisi, korupsi demi korupsi yang tiada henti, dst, dst, dst.

Coba lah simak, bagaimana para tentara yang berjuang menjaga kemerdekaaan itu menghidupi dirinya. Negara hanya membekali mereka dengan beberapa meter kain, satu piring kaleng dan satu periuk untuk satu regu.

22-12-1948
Pada pukul 08.00 kepada seluruh anggota pasukan dibagikan:
sepasang pakaian berkantong samping.
Selembar kain bakal pakaian ukuran 2,5 meter.
Sepasang sepatu karet.
Sebuah piring kaleng
Sebuah topi pet warna ungu
Sebuah periuk regu untuk tiap regu
.


Dan, dengan bekal yang sangat minim itu, mereka masih dikerangkeng juga oleh rambu-rambu yang ketat.

Selanjutnya kembali ditekankan kepada setiap prajurit supaya dimana pun berada:
Tidak dibenarkan melakukan sesuatu perbuatan yang dapat menyakiti hati rakyat.
Tidak dibenarkan mengambil barang-barang penduduk tanpa seijin pemiliknya, seperti mengambil sayur, makanan dsb-nya.
Dimanapun berada rahasia ketentaraan harus dipegang teguh.
Setiap saat tiap anggota harus menjaga kesehatannya, karena perjuangan akan berlangsung lama
.


Membaca catatan-catatan ini, saya berharap betul agar para penyelenggara negara makin banyak juga lah membaca sejarah, terutama sejarah dalam bentuk catatan-catatan dari pelakunya secara langsung. Sebab seperti dari buku ini, kita dapat belajar bahwa sedari dulu negeri ini dibangun bukan dengan budget yang sudah beres. Bukan dengan organisasi yang sudah rapi. Namun semua kekurangan-kekurangan itu ternyata bukan menjadi alasan mereka untuk tidak melakukan tindakan-tindakan heroik. Seperti kesaksian Sersan Rasmin Sembiring yang direkam oleh penulis buku itu. Yah, memang kadang-kadang konyol juga. Tetapi mereka sudah menunjukkan patriotisme 24 karatnya.

Setelah konvoi musuh yang pertama berhasil dibungkemkan dan dihentikan dengan tembakan-tembakan gencar dari pasukan penghadang, beberapa orang anggota regu kami segerea menyerbu ke jalan raya untuk merampas senjata musuh yang telah tewas. Sebuah senjata bren MK-I kami rampas dan ternyata penembaknya lari. Oleh komandan saya diperintahkan untuk mencari houder bak bren tersebut di atas kendaraan. Saya dengan cepatnya naik ke atas kendaraan dan berhasil menemukan sebuah kotak dan memberikannya kepada kawan yang di bawah. Kemudian saya membuka tutup mesin kendaraan, lalu memasukkan lalang ke mesin dan membakarnya. Saya mengira pada waktu itu bahwa mesin berada di tangki dekat mesin. Karena kekeliruan ini kerusakan yang ditimbulkan pembakaran tersebut hanya sedikit saja. Demikian juga rupanya kotak yang saya ambil dari atas kendaraan bukanlah tempat houder bak peluru, tapi adalah kotak ransum roti tentara Belanda


Juga seperti pengalaman prajurit Bangkumalem Singarimbun sebagai berikut:

Setelah kami menyerbu kendaraan musuh ke jalan raya, saya melihat beberapa orang serdadu musuh seperti bertiarap. Karena keadaan cuaca masih remang-remang saya tidak tahu bahwa mereka ini telah mati. Saya berseru sekeras-kerasnya: “Angkat tangan, Angkat tangan! Sambil mengarahkan moncong senjata saya ke arahnya, namun seorang pun tidak mau bergerak karena memang sudah mati. Akhirnya saya menyentuh badannya dengan senjata dan karena tidak bergerak lagi saya terus ambil senjatanya


Cerita tentang kemenangan demi kemenangan masih banyak tersebar diantara catatan-catatan penulis dalam buku itu. Tetapi cerita sebaliknya juga ada. Tentang orang-orang yang gugur, yang berperang dengan antusias sehingga lupa menyelamatkan diri. Seperti kesaksian tentang pertempuran di Bertah…

Dalam pertempuran di Bertah ini, prajurit Pusuhmalem Ginting yang baru sehari masuk Kompi II Batalyon II gugur karena dia tidak mau tiarap menembak musuh. Juga Abdul Muluk Lubis tentara BP yang baru saja bergabung dengan pasukan TNI Sektor III, juga gugur kena tembak di atas cot bukit, karena dia tetap berdiri melepaskan tembakan-tembakan sten-gunnya.


Sebelumnya, Kapten Pala Bangun (*) yang jadi komandan mereka, telah lebih dulu tersungkur karena semangat yang menyala dalam memimpin penyerbuan.

Pada saat- saat pasukan penghadang mengadakan pembersihan dan mengejar musuh yang lari, maka ketika itu juga eselon kedua dari konvoi musuh tiba dan terus melancarkan serangannya. Tembak-menembak kembali berkobar dengan sengitnya. Dalam pertempuran yang seru ini tampillah Kapten Pala hendak memimpin anak buahnya melakukan penyerbuan, tapi malang baginya, begitu ia berdiri tembakan lawan telah mengenai dirinya dan ia pun terjatuh


Lalu ketika perang berkecamuk sedemikian rupa, tatkala kita membayangkan persoalan hidup-mati mendominasi alam pikiran, suara luhur dari kemanusiaan yang paling dalam tetap saja tak bisa lenyap bahkan oleh bisingnya desingan peluru dan mortir. Diantara tentara Belanda yang bengis itu, masih ada tersisa orang-orang yang lebih mendengarkan suara hatinya dan bekerja berdasarkan suara yang luhur itu. Meskipun harus dengan anonim.

Itu dengan mengharukan dicatat oleh AR Surbakti dalam bukunya ini:

Setelah tentara Belanda menempatkan pos dan pemerintahannya di Tigakerenda, Kutabuluh, keesokan harinya rumah saya pertama-tama digeledah. Istri dan anak-anak saya diusir dari rumah dan seorang adik andung saya bernama Kendit Tarigan ditangkap. Dalam penggeledehan ini tiga orang tentara Belanda memeriksa semua isi rumah, dua orang lagi memeriksa Kendit Tarigan dan kadang-kadang memukulnya untuk (dipaksa, red) menjelaskan tempat persembunyian Ngaloken Tarigan. Juga istri saya dimarah-marahi karena dituduh menyembunyikan tempat persembunyian suaminya.

Melihat ibunya dimarah-marahi, diancam dan begitu juga Pakciknya dipukuli secara kejam, ketiga orang anak saya yang mempersaksikan jalannya peristiwa tersebut menangis terus-menerus sambil berkata: “Nande (mama)… Nande,…” berulang-ulang dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Di tengah isak-tangis anak dan ibu ini, seorang tentara Belanda datang menghampiri anak-anak dengan membawa sebungkus roti serta membagikannya kepada ketiga anak tersebut. Dia berkata, “Ini roti, jangan menangis.” Dan kepada istri saya dibisikkannya: “Bersabarlah ibu, suami ibu adalah kawan saya.”

Setelah penggeledahan selesai, tentara Belanda pulang. Tetapi tentara yang memberikan roti tadi berangkat belakangan. Sebelum berangkat ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantongnya dan mengikatkannya pada leher anak saya yang terkecil bernama Ngalemken Tarigan. Setelah diperiksa ibunya, bungkusan tadi berisi beberapa uang perak Belanda.


Tidak satu pun mereka yang tahu siapa nama serdadu Belanda yang baik hati itu, walau pun kebaikan demi kebaikan terus saja ia perlihatkan.

Dua jam sesudah peristiwa yang menyedihkan ini terjadi, anak saya yang laki-laki langsung sakit, badannya serasa demam panas, lalu muntah-muntah. Dia segera diberi obat oleh ibunya namun belum juga baik. Keesokan harinya anak ini dibawa ke Kabanjahe untuk dirawat di Rumah Sakit Umum Kabanjahe, tentara yang berperikemanusiaan ini juga datang menjenguk Ngalemken Tarigan. Kepada istri saya yang menjaganya diberikannya uang dua puluh gulden, untuk biaya perawatan, katanya.


Malang tak dapat ditolak, rupanya. Ngalemken Tarigan yang sudah harus menderita di usia bocahnya itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahiran ayahnya. Dan si tentara Belanda, toh masih juga menyempatkan diri hadir.

Pada watu penguburan Ngalemken Tarigan, tentara Belanda ini juga hadir memperlihatkan dirinya ikut berdukacita. Kepada istri saya ia membisikkan, “Walau pun anak ini telah mati, bersabar dan tabah lah ibu. Janganlah karena ini pula bapaknya disuruh datang karena musuh terus mengintipnya.”


Selalu sulit menjawab kenapa ada perang dan kenapa ada orang yang mau melibatkan diri di dalamnya. Tetapi pada akhirnya, manusia selalu akan banyak belajar tentang sesamanya dari apa saja yang dialaminya. Termasuk dari perang.

A.R. Surbakti lewat bukunya itu, mencatat pula pelajaran yang ia petik.

DI hati saya timbul suatu kesimpulan bahwa perasaan manusia ini adalah sama, orang lain juga merasakan kesulitan dan kesusahan manusia lainnya. Tentara Belanda memerangi rakyat atau pejuang Indonesia bukanlah rupanya karena suruhan atau panggilan hatinya, tetapi karena dipaksa pemerintahnya, dikenakan wajib militer untuk menindas perjuangan bangsa Indonesia.


Akan halnya kita yang membaca kembali kisah-kisah dalam buku ini, setidaknya kita belajar bahwa negeri ini dimenangkan bukan hanya oleh bedil, tetapi juga oleh piring kaleng dan periuk. Di atas semua itu, ada hati nurani yang di tengah desingan peluru seramai apa pun, ia senantiasa bisa terdengar oleh orang-orang yang mau mendengarkannya.

***
Buku di tangan saya masih juga belum selesai saya baca semua halaman-halamannya. Tetapi dalam hati saya makin membenarkan nasihat si kawan, bahwa, “Membaca buku-buku sejarah negeri kita, tidak ada ruginya. Percaya, deh.”

Jiwa kita turut dikenyangkan.

(*) Kalau tak salah, dinobatkan sebagai salah satu pahlawan, dan dijadikan nama jalan di Kabanjahe, plus ada patungnya.

3 comments:

  1. Hmm.. aku jadi menyesal. Dulu kerap menyepelekan buku2 tua koleksi Alm.Bapak. Setelah coba membaca buku2 tua.. rasanya memang berbeda. Rasanya seperti menyelami dunia berbeda. Kecuali satu hal, hati manusia memang sama.. :)

    ReplyDelete
  2. hmmmm
    q org sidamanik
    emang enak banget makan nanas
    apalagi makan nya di siang hari
    ummmmm
    yuuuunnnni

    ReplyDelete
  3. I LOVE U FULL SIDAMANIK

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...