Tuesday, April 17, 2007

To See the Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh, Diluncurkan



Judul Buku : To See the Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh
Penulis : Farid Husain
Editor : Salim Shahab dan E.E. Siadari
Penerbit : Health & Hospital Indonesia, 2007
Jumlah Halaman: 291 Halaman
Harga : Rp80.000


Ada banyak analogi yang digunakan para penulis untuk menggambarkan proses merampungkan buku. Seorang teman mengibaratkannya seperti seorang wanita yang tengah mengandung. Proses menanti hingga ‘lahir’nya buku itu demikian mendatangkan macam-macam perasaan. Makin dekat ke proses persalinan, semakin beraneka rupa perasaan itu. Harap-harap cemas karena khawatir ada yang kurang di sana-sini, gelisah tak menentu menunggu hari H peluncurannya, dan pada saat yang sama penuh pengharapan akan hasil yang baik.

Analogi lain yang lebih sederhana adalah mengumpamakannya sebagai pekerjaan seorang koki. Bagian yang melelahkan sekaligus memakan waktu dari pekerjaan itu, dugaan saya adalah ketika mengolah bumbu-bumbu dan bahan-bahan masakan. Campur aduk pula perasaan kala menyiapkannya. Antara sedikit perasaan bosan karena pekerjaan mengupas, mengiris, melumat dan sebagainya, terkesan begitu rutin tetapi harus dilalui. Pada saat yang sama ada perasaan senang manakala membayangkan hasilnya nanti. Sementara bagian yang paling nikmat dari proses memasak itu, menurut saya adalah ketika sang koki kemudian mengolahnya di atas tungku. Untuk kemudian deg-degan lagi menanti reaksi orang ketika mencicipi hidangan yang ia sajikan.

Mungkin karena dilahirkan di daerah yang banyak petaninya, saya lebih suka menggambarkan pekerjaan menulis sebuah buku seperti seorang petani yang menanti panen dari ladangnya. Ada saat-saat dimana proses itu begitu sangat abstraknya. Dari mengolah tanah, menanam hingga menantikan berminggu-minggu tatkala akhirnya benih itu tumbuh sebagai tunas, benar-benar yang dibutuhkan adalah pengharapan bahwa proses itu akan berlangsung. Pengharapan yang hanya ada di dalam hati sebab tak bisa dibuktikan dengan kasat mata. Sebab, kecuali kalau kita memang punya laboratorium dan memiliki waktu detik demi detik mengintip ke dalam tanah mengikuti perubahan benih untuk kemudian menjadi tunas, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa benih itu bakal jadi panen berlimpah kecuali karena adanya pengharapan?

Lalu begitulah seterusnya. Dari benih yang bertunas hingga tiba waktunya dipanen, pengharapan yang sama harus dipupuk, sambil kita mengerjakan bagian kita. Entah itu menyiram, menyiangi, memangkas daun-daun yang tidak perlu. Hingga akhirnya tatkala melihat sudah tiba waktunya menuai, kita dapat bernafas lega. Akhirnya satu tahap lagi dalam hari-hari kehidupan kita, berlalu dengan menghasilkan buah.

Perasaan seperti petani itu lah yang saya alami selama beberapa minggu terakhir. Sudah tiga bulan ini saya terlibat penyusunan sebuah buku bersama Salim Shahab, teman wartawan yang mengajak saya ikut dalam proyek tersebut. Buku itu berisi pengalaman Farid Husain, kini Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, ketika ia terlibat dalam upaya mendamaikan konflik di Poso, Ambon dan kemudian di Aceh. Buku ini akhirnya rampung juga dengan judul To See the Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh. Saya dan Salim Shahab bertindak sebagai editor bagi buku hasil karya Farid Husain ini.

Menghabiskan waktu hanya lebih kurang 70 hari dalam pengerjaannya, praktis Salim dan saya bekerja all out terutama setiap akhir pekan. Salim banyak bekerja sebagai deal maker, mengurus bagian-bagian teknis dari pengerjaan sekaligus penerbitan buku ini, termasuk mengatur jadwal wawancara dengan berbagai narasumber. Saya sendiri membenamkan diri sebagai Mr Fix It Up, menyusun kata demi kata informasi hasil wawancara untuk kemudian dijahit menjadi cerita yang (muidah-mudahan) mengasyikkan.

Buku ini disusun dengan sudut pandang orang pertama yang mengisahkan pengalamannya. Episode demi episode pengalaman itu digambarkan dalam bentuk fragmen-fragmen peristiwa, yang dituturkan dengan gaya campuran antara catatan harian (diary) dan memoar. Tak cukup hanya itu, pada bagian lain penulis sebagai si pencerita juga menghadirkan si pencerita lain, menuturkan ‘konfirmasi’nya atas ‘kenang-kenangan yang dituturkan sang penulis. Itulah sebabnya dalam buku ini adalah kutipan-kutipan langsung dari hasil wawancara dengan berbagai narasumber, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, Panglima Perang GAM, Sofyan Dawood, ex PM GAM Malik Mahmoud, dll.

Di sampul belakang buku ini tertulis sbb:

Sesaat setelah kami berhenti, bermunculanlah para pria berbaju loreng dengan baret berwarna berbeda-beda. Mereka menyandang senjata M-16. Dua orang diantaranya membukakan pintu truk untuk saya…. Tak lama kemudian muncul lagi dua orang-dua orang, hingga akhirnya delapan orang. Dua orang mengapit saya sementara enam orang lagi berada di belakang saya, kesemuanya membelakangi dengan sikap berjaga-jaga dan mengawasi.”

Itulah sekelumit catatan perjalanan Farid Husain memasuki hutan di Aceh, menemui Panglima GAM, Sofyan Dawood dalam tugas merintis perdamaian antara Pemerintah dan GAM. Dalam buku ini, Farid Husain secara gamblang menyajikan kisah-kisah eksklusif yang belum pernah terungkap di balik suksesnya Pemerintah menangani konflik di Aceh. Termasuk bagaimana awalnya dia mendapat ‘perintah’ dari Jusuf Kalla untuk menangani konflik di Poso, Ambon dan kemudian Aceh, serta cara pendekatannya yang tak lazim dalam menelusuri jejak tokoh GAM hingga ke warung makan orang Aceh di Benhil, Lhok Sukon, Singapura bahkan sampai ke Swedia.


Buku ini telah membawa kami para editornya berkelana ke Makassar, Banda Aceh dan Bali, termasuk mewawancarai Pak Wapres di atas pesawat kepresidenan. Sebagian besar waktu pengerjaannya adalah pada hari libur dan akhir pekan. Sementara untuk memoles di sana-sini, kami mencuri waktu Pak Farid pada pagi hari, sebelum ia memulai tugas rutinnya sebagai Dirjen.

Puncaknya, tadi malam, 17 April 2007, saya merasakan kebahagiaan yang amat besar karena To See the Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh, karya Farid Husain itu akhirnya diluncurkan di Hotel Gran Melia, Jakarta. Upacara peluncurannya meriah. Wapres Jusuf Kalla sendiri yang meluncurkan secara resmi buku tersebut dan menyampaikan pidato peluncuran yang agak panjang. Menurut Farid Husain dalam kata pengantarnya, selain dalam bahasa Indonesia, buku ini kelak akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sebagai referensi bagi siapa saja yang meminati masalah-masalah resolusi konflik.

Prof Bakhtiar Ali yang ikut berbicara mengulas buku ini mengatakan bahwa buku ini menjadi bahan pelajaran yang penting tentang bagaimana menjajaki proses perdamaian. Juga ia katakan bahwa buku ini ditulis dengan sangat jujur, berusaha menampilkan sebanyak mungkin fakta disamping memoar.

Sambil bersyukur bahwa satu tugas sudah usai saya rampungkan, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Farid yang telah mempercayakan saya untuk ikut dalam pengerjaan buku ini. Juga tentu kepada Salim Shahab, yang telah memilih saya sebagai partnernya mulai dari menyusun draft outline buku hingga akhirnya buku itu bisa seperti sekarang. Yang menyenangkan, judul To See the Unseen yang sudah saya sodorkan sejak awal penyusunan draft outline buku, tetap dipakai hingga buku itu beredar. Ini sangat mempermudah tugas saya untuk berfokus pada tema itu sejak awal. Saya kira dipertahankannya judul itu juga merupakan pertanda bahwa upaya Pak Farid dalam menjajaki perdamaian di Aceh dengan mencoba menyelami aspek-aspek yang selama ini tidak banyak dilihat oleh banyak pendahulunya, memang benar-benar tergambar dalam dalam frasa To See the Unseen.

Dulu saya selalu tak habis-habisnya ingin bisa membayangkan bagaimana sih kira-kira perasaan Ramadhan KH, biographer terkenal itu, setiap kali merampungkan satu karya biografi dari tangannya?. Sampai sekarang pun saya tetap masih ingin membayangkannnya. Apakah perasaan seperti yang saya rasakan ini kah yang ia rasakan? Perasaan seorang petani yang baru saja merampungkan panen, lalu berleha-leha sejenak, untuk kemudian memikirkan lagi, what next, menanam apa lagi untuk kelak dipanen?

Itulah sekelumit cerita di balik buku To See the Unseen, sekaligus menjawab pertanyaan beberapa orang teman tentang mengapa blog ini cukup lama absen diupdate.

6 comments:

  1. Anonymous1:12 AM

    Eksaudi. S

    Selamat atas diluncurkannya buku To See the Unseen

    sukses selalu

    ReplyDelete
  2. Anonymous3:03 AM

    kira-kira di mana bisa beli buku ini? saya belum ketemu di toko-toko buku di jakarta. terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Dua Minggu yang lalu saya jalan-jalan ke Gramedia Bintaro. Buku ini dijejerkan di section Biografi. Di toko buku Gunung Agung di Kwitang juga ada. Harganya Rp80 ribu. Bahkan penulis seperti saya pun, tak dapat diskon...hehehehe. Terimakasih telah mampir ke sini ya...

    ReplyDelete
  4. hallo Bang, congratulations ya atas terbitnya buku itu. Saya kemarin dapat cuma-cuma, Salim Shahab yang kasih waktu temani pak Farid ke Aceh,

    salam,

    amin

    ReplyDelete
  5. Anonymous1:29 AM

    Bos, selamat ya. Maaf telat kasih komentar. Maju terus pantang mundur. Horas.

    Paulus Pandiangan

    ReplyDelete
  6. ada kontak penerbitnya gak, saya pingin banget beli buku ini. tapi susah menemukannya di jogja.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...