Thursday, July 17, 2008

The True Meaning of Rocker juga Manusia



(Sebuah Perjalanan Pendek ke Inti Pemikiran dan Teori Manajemen dari A hingga Z)

Note: sebetulnya ini tulisan lama yang baru saya temukan kembali di laci meja kerja. Mudah-mudahan masih ada gunanya.


Lengking suara Candil dari Grup Seurieus memang unik dan segera menarik perhatian. Tapi saya kira bukan cuma lantaran itu maka lagu Rocker juga Manusia sangat populer, sehingga mulai dari pengamen di bis kota sampai anggota paduan suara di gereja dapat dengan fasih menyanyikannya. Syair lagu itu, menurut hemat saya, memang mengena dan menohok kesadaran siapa saja. Seolah merefresh lagi pikiran dan hati untuk mengenali siapa kita dan siapa sesama.

Tak perlu diherankan bila seiring dengan popularitas lagu itu, makin marak pula kata-kata ‘Juga Manusia’ diselipkan dalam kalimat apa saja. Misalnya, beberapa waktu lalu saya membaca di sebuah harian ibukota tentang pameran foto di Istana Presiden. Tema pameran itu: Presiden juga Manusia.

Di televisi, entah sudah berapa judul sinetron yang menggunakan kata-kata semacam itu. Dulu, seingat saya, ada tontonan di salah satu televisi swasta yang berjudul Selebriti juga Manusia. Sinetron lainnya diberi tajuk, Kyai juga Manusia. Yang cukup membuat hati saya bertanya-tanya tentang tepat tidaknya penggunaan judulnya, adalah sebuah tulisan di koran SINDO dengan kepala berita: Chu juga Manusia. Tulisan itu bercerita tentang mahasiswa AS berdarah Korea yang menghabisi 33 mahasiswa Virginia Tech (termasuk dirinya sendiri) lewat tembakan membabi buta.

Sepintas lalu, semua judul-judul ini mempunyai cara pandang yang sama dengan lagu Rocker juga Manusia karya Seurieus itu. Padahal, tidak lho... Kata-kata Juga Manusia pada judul semacam Selebriti juga Manusia atau Kyai juga Manusia terkesan berfungsi sebagai excuse, dalih untuk memaafkan ketidaksempurnaan manusia. Kata-kata Juga Manusia dalam kalimat-kalimat itu seolah sebuah penjelmaan dari pepatah Inggris yang berkata, To Err is Human. Berbuat salah itu adalah manusiawi.

Sebaliknya dengan Juga Manusia pada Rocker juga Manusia. Keunikan manusia tidak dipandang dari ketidaksempurnaannya sehingga kita harus menerima dan memaafkan kesalahannya. Keunikan manusia justru dilihat dari keluhurannya, keagungan pribadinya, karena ia punya hati, punya rasa. Dan karena itu, jangan samakan dengan pisau belati, yang dingin dan tak punya empati itu.

Rocker juga manusia
Punya hati punya rasa
Jangan samakan dengan
Pisau belati



***


Tarik ulur tentang penting tidaknya memberi perhatian lebih pada dimensi kemanusiaan manusia itu rupanya pernah jadi isu yang hot. Bahkan saya kira hingga kini pun masih tetap relevan. Yang saya maksudkan kali ini bukan di lapangan musik seperti yang digeluti Seurieus dan kawan-kawan, melainkan di lapangan yang rada-rada membosankan, yakni Manajemen.

Saya berkata begini karena akhir pekan lalu secara iseng-iseng saya membolak-balik buku Seri Intisari Manajemen terbitan Elexmedia Komputindo. Judulnya: MBA, Inti pemikiran dan teori manajemen dari A hingga Z. Buku jenis handbook ini, aslinya pertamakali terbit dalam Bahasa Inggris oleh The Economist Books pada tahun 1992. Buku ini berisi penjelasan-penjelasan ringkas perihal istilah manajeman. Plus diterangkan juga secara singkat pemikiran-pemikiran tokoh manajemen yang berpengaruh. Mengenai yang terakhir ini, sebenarnya ada buku lain yang masih dalam tahap rencana untuk saya baca. Judulnya: Managing with the Gurus, Panduan Inti 20 Teknik Manajemen karya Carol Kennedy. Nanti deh, kapan-kapan kalau ada waktu.

Sebagaimana pasti dihafal luar kepala oleh setiap mahasiswa Fakultas Ekonomi tingkat dasar, ilmu manajemen modern pada awalnya dirintis oleh Frederick Winslow Taylor. Lewat bukunya yang pertama kali terbit pada tahun 1911 berjudul TThe Principles of Scientific Management, pemikiran-pemikiran Taylor mempengaruhi bukan hanya praktik bisnis, tetapi juga meluas hingga pada bagaimana pendidikan memandang manajemen. Terbukti, Manajemen kemudian diakui sebagai sebuah disiplin akademik di Oxford dan Cambridge. Padahal sekolah bisnis tingkat universitas pertama di AS sebenarnya sudah ada di Warthon School, Universitas Pennsylvania pada tahun 1881.

Salah satu inti anjuran Taylor, seperti diterangkan dalam MBA, Inti Pemikiran dan Teori Manajemen itu, adalah agar para manajer mengumpulkan semua pengetahuan tradisional yang dimiliki para pekerja, kemudian mengklasifikasikannya serta menyederhanakannya menjadi hukum, aturan dan rumus. Lebih lanjut, dijelaskan sebagai berikut:

Mereka (para manajer, red) harus mengembangkan sebuah ilmu bagi setiap unsur dari pekerjaan manusia untuk menggantikan metode lama rules of thumb (aturan bodoh-bodohan) dan secara ilmiah memilih serta melatih para pekerja dalam metode yang baru. Akhirnya para manajer harus mengambil alih tugas-tugas tertentu, seperti perencanaan dan penjadwalan yang sebelumnya diserahkan untuk diatasi oleh para pekerja sendiri sebisa mungkin. (halaman 10)


Selanjutnya dijelaskan pula:

Tulisan Taylor sangat berpengaruh terhadap praktik manajemen pabrikasi dan banyak praktik workshop, khususnya penggunaan teknik-teknik studi kerja, yang masih mencerminkan hal ini sampai sekarang. (halaman 11)


Pada perjalanannya pemikiran-pemikiran Taylor berkembang sedemikian rupa sehingga melahirkan temuan dan kajian baru dalam praktik manajemen. Salah satu istilah yang kita kenal dewasa ini, yakni Ergonomis, merupakan turunan dari pemikiran Taylor. Ergonomis berasal dari kata Ergonomics, yakni studi tentang cara orang bekerja dan cara-cara bagaimana semua ini dapat diperbaiki agar angkatan kerja menjadi lebih produktif.

Ergonomi memandang secara khusus pada hubungan antara mesin, manusia dan lingkungannya. Studi ini memusatkan perhatian pada pembuatan rancangan peralatan agar sesuai dengan ciri-ciri fisik umum dan pada upaya mencari cara-cara, misalnya, untuk menghilangkan rasa sakit dan jemu karena duduk selama waktu yang panjang dalam posisi yang tetap. Pokok perhatian ini kemudian berkembang lebih daripada sekadar hal-hal yang melulu bersifat fisik, tetapi juga untuk keseluruhan faktor psikologis yang mempengaruhi orang pada waktu ia bekerja. (halaman 101)


Walau Taylor memandang ‘Bekerja’ lebih tinggi daripada sebuah mesin yang canggih sekali pun (halaman 101), pendekatannya tetap dipandang terlalu mekanistik. Taylor dan pemikir-pemikir yang sealiran dengannya mendapat kritik tajam karena dianggap mengabaikan dimensi kemanusiaan manusia. Manusia seolah diatur dan didekati tak ubahnya dengan faktor produksi lain, seperti mesin dan modal. Atau bila dalam kata-kata Grup Seurieus, manusia justru disamakan dengan ‘pisau belati,’ yang tidak punya hati, punya rasa.

Itu sebabnya setelah era Taylor, berkembang pemikiran-pemikiran yang ingin mengoreksi (meskipun yang mengembangkan teorinya lebih banyak lagi). Salah satu yang berseberangan dengan Taylor adalah Elton Mayo, pendiri sebuah aliran yang dinamai aliran hubungan antarmanusia. Karyanya yang paling terkenal, The Human Problems of an industrial Civilisation, memberikan pandangan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang motivasi manusia, sikap emosional terhadap kerja dan hubungan sosial adalah faktor penentu yang lebih penting bagi produktivitas dibandingkan pengaturan (lay outs) tempat kerja yang logis atau rencana ‘ilmiah’ untuk merasionalisasikan pekerjaan. (halaman 11).

Tokoh lain yang mungkin tidak terlalu populer di Indonesia tetapi oleh buku terbitan The Economist itu perlu dijadikan item dengan penjelasan yang cukup panjang, adalah Mary Parker Follett. Ia dianggap sebagai wanita pertama yang berpengaruh di dunia manajemen. Buku pertamanya terbit lebih awal daripada buku Taylor, berjudul tidak lazim, The Speaker of the House of Reprensentatif (1898), yang berisi studi tentang bagaimana para pembicara tertentu yang efektif telah menjadi pemimpin di Kongres. Namun, tulisan-tulisan Follett setelah bukunya ini lebih menjurus kepada manajemen dan dianggap merupakan reaksi terhadap gagasan Taylor yang mekanistik.

Ia (Follett) memandang pegawai sebagai manusia yang mempunyai kelemahan, bukan sebagai mesin yang canggih. Kecakapan manajemen adalah mengumpulkan orang-orang ini dalam kelompok dan memahami apa yang dapat membuat mereka bekerja dan berhasil. (halaman 117)


Pemikiran Follett ternyata kurang dapat diterima di Barat, “yang para audiens prianya tidak selalu mengambil pendekatan femininnya yang lunak terhadap bisnis tentang manusia.” (Halaman 117). Gagasan-gagasan Follett justru lebih diterima di Jepang. Di sana sampai ada sebuah Follett Society yang didirikan untuk menghargai karya-karyanya.

Hal ini mendorong kita untuk bertanya, apakah dengan begitu, negara seperti Jepang dan Asia pada umumnya dapat dikatakan lebih menghargai dimensi kemanusiaan manusia dalam manajemen dibanding dengan negara Barat? Apakah unsur-unsur soft pada manusia, lebih dikedepankan oleh orang Asia ketimbang negara-negara di belahan Barat, seperti sinyalemen banyak ahli sosiologi yang meneliti negara-negara sedang berkembang?

Jujur saja, saya tidak pasti tentang hal ini. Yang jelas, di Jepang menurut buku yang saya baca itu, ada sebuah istilah bernama Gambare yang dalam bahasa mereka berarti kegigihan; keunggulan bangsa Jepang. Uniknya, untuk membangkitkan semangat Gambare itu, pendekatan yang diambil bukan dengan menonjolkan aspek-aspek keras dari manusia, melainkan sebaliknya.

Di pabrik-pabrik seperti Mazda di Hiroshima, lukisan anak-anak yang mengandung lambang Gambare digantung pada dinding untuk mengingatkan para ayah mereka agar tidak menyerah sebelum tugas mereka selesai. Di JVC para insinyur tetap melakukan usaha mereka untuk menghasilkan sebuah alat perekam video dengan baik setelah mereka menerima perintah dari manajer puncak untuk menghentikan proyek tersebut. (halaman 123)



III

Kritik terhadap diabaikan atau dimarginalkannya aspek kemanusiaan manusia di dunia kerja tak adil kiranya bila sepenuhnya ditujukan kepada Taylor dan pendekatan ilmiahnya pada manajemen. Pasti banyak hal di luar itu yang turut jadi penyebabnya, termasuk pada anggapan bahwa kemanusiaan manusia itu seharusnya sudah inherent pada setiap manusia yang terlibat dalam manajemen. Meskipun demikian, tak dapat dibantah, dasar-dasar manajemen yang dikembangkan Taylor telah turut menyumbang meraksasanya organisasi bisnis di seluruh dunia. Pada gilirannya, organisasi yang menjelma jadi birokrasi itu ikut menjadi faktor dipinggirkannya kemanusiaan manusia itu.

Frederick Herzberg, seorang psikolog Amerika, pada tahun 1968 menulis sebuah artikel di Harvard Business Review yang kemudian dibukukan dan jadi best seller. Judulnya: One More Time: How Do You Motivate Employees?. Herzberg yang adalah mantan tentara pembebasan Amerika di Dachau, mencoba mempertemukan faktor-faktor manusiawi dan ekonomi dalam industri.

Kisah cinta kita dengan angka-angka adalah akar penyebab dari tiadanya cinta pada tahun 1980-an. Angka-angka mematikan perasaan kita tentang apa yang dihitung dan membawa kita pada pemujaan akan ekonomi skala. Semangat berada dalam merasakan kualitas pengalaman, bukan dalam usaha mengukurnya .(halaman 135)


Rupanya bagi Herzberg, pengerdilan manusia hingga menjadi angka-angka statistik sudah demikian parahnya sehingga perlu dikoreksi. Bagi dia, dalam jangka panjang motivasi datang dari sifat pekerjaan yang dilakukan seseorang, bukan dari rangsangan keuangan atau psikologis dari luar.

Kritik bernada serupa juga datang dari Manfred Kets de Vries, seorang psikoanalis yang mengajar di INSEAD. Ia mempunyai pengaruh kuat terhadap banyak manajer senior yang menempuh program singkat di institusi itu. Spesialisasinya adalah neurosis perusahaan.

Menurut de Vries, banyak manajemen yang mengidap gangguan klinis yang dikenal sebagai alexithymia. Gejala-gejalanya meliputi kehidupan fantasi yang miskin, kekurangan pengalaman emosional batin, kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku antipribadi dan stereotip dan pola bicara yang dicirikan oleh rincian yang tidak habis-habisnya, remeh dan berulang-ulang.

Perusahaan-perusahaan besar mempunyai sejenis sifat yang mematikan rasa yang membangkitkan kecenderungan alexithymia tersembunyi di antara para pegawainya. Pendakian ke jenjang eksekutif tidak diperkuat oleh perilaku eksentrik. (halaman 159).



Selanjutnya, kritik yang pedas terhadap organisasi-organisasi bisnis yang tumbuh meraksasa juga datang dari Henry Mintzberg. Akademikus Kanada yang punya banyak pengikut ini, dalam Mintzberg on Management menyarikan pendapatnya sebagai berikut:

Akhirnya kita tiba pada sebuah lingkaran setan dalam masyarakat kita. Suatu obsesi irasional dengan rasionalitas menghasilkan suatu masyarakat dengan organisasi-organisasi yang besar dan birokratis yang dikelola oleh suatu manajemen profesional yang terbukti tipis, superfisial dan kadang-kadang tidak bermoral. Hal itu menyingkirkan komtimen manusia yang pada gilirannya menyebabkan politisasi organisasi. Hal ini seharusnya menghancurkan mereka tetapi tidak, karena mereka berbalik menggunakan kekuatan politik mereka untuk mempertahankan diri mereka secara artifisial (Halaman 186).


Meraksasanya sebuah organisasi (tidak hanya bisnis, tetapi dalam bernegara juga bisa terjadi) kemudian dapat melahirkan apa yang disebut Maugham’s Muffler atau peredam Muffler. Yang dimaksud dengan istilah ini adalah tersekatnya informasi dari arus bawah semata karena dianggap tidak bermutu dan tidak dapat dipercaya.

Informasi yang datang dari peringkat bawah sebuah organisasi ‘diredam’ oleh waktu ketika tiba di puncak, dengan alasan yang tidak lebih dari kenyataan bahwa ‘yunior’ diartikan sebagai tidak dapat ‘dipercaya’ oleh mereka yang ada di puncak. Ini adalah pedang bermata dua: merugikan mereka yang tidak mendengar pesan-pesan yang diredam; dan juga mematahkan semangat para pengirim pesan itu untuk melakukannya lagi kelak. (Halaman 182).


IV


Masih dalam rangkaian perjalanan pendek ke Inti Pemikiran dan Teori Manajemen dari A hingga Z ini, ada baiknya menyinggahi halaman 246 untuk berkenalan dengan Doulas McGregor. Ia adalah seorang psikolog sosial yang menjadi profesor di MIT selama 10 tahun pada pertengahan 1950-an dan mempunyai perhatian yang besar pada aspek kemanusiaan manusia dalam dunia kerja. Ia melahirkan Teori X dan Teori Y sebagai gambaran sikap manusia terhadap kerja.

Teori X adalah pandangan tradisional tentang berbagai hal, manusia mempunyai kecenderungan alamiah untuk menghindari pekerjaan dan akan mengindarinya bila mereka dapat. Karena itu mereka harus dipaksa dan diancam agar melakukan tugasnya. Para manajer yang menggunakan pandangan ini umumnya memperoleh rekasi bermusuhan dari para pegawainya. Reaksi ini memperkuat pandangan awal mereka.

Teori Y mengatakan bahwa manusia dengan sendirinya menganggap pekerjaan memuaskan dan bahwa sistem manajemen yang dibangun berdasarkan asumsi ini akan memberikan individu tanggung jawab dan kebebasan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan tingkat kemampuan mereka.

Kebanyakan kritik terhadap teori Y didasarkan pada kegagalannya untuk memperhitungkan kenyataan bahwa banyak orang yang jauh dari gambaran sebagai individu kreatif yang mempunyai motivasi pada diri sendiri.


Teori X dan teori Y ini mengembalikan kita pada dua kutub pandangan tentang manusia. Yang satu memandang bahwa pada dasarnya manusia itu jahat sehingga ia perlu dipaksa dan diancam. Sementara yang lainnya menganggap pada dasarnya manusia itu baik sehingga tanggung jawab dan kebebasan padanya akan berbanding lurus dengan apa yang dapat dicapainya.

Dengan mudahnya, kita mungkin dapat berkata bahwa baik teori X mau pun teori Y, adalah sebuah cara berfikir, metode analisis, bukan sesuatu yang harus kita gunakan dalam menilai sesama. Dalam pergaulan sehari-hari, tidak mungkin manusia dikotak-kotakkan menjadi hanya manusia tipe X atau manusia tipe Y. Sebagai alternatifnya, Teori X dan Teori Y ini secara bersama-sama justru harus digunakan untuk makin memahami sesama. Bukan untuk membeda-bedakan mereka. Dan itu lah antara lain yang dikemukakan oleh William Ouchi, pengagum manajemen ala Jepang, ketika tiba pada konsepnya yang diberi nama Teori Z. Ini merupakan sintesa dari Teori X dan Teori Y yang makin menunjukkan dimensi kemanusiaan manusia dalam dunia kerja.


Teori Z Ouchi menggambarkan sistem manajemen Jepang, dengan para pekerjanya sangat terlibat seperti halnya para manajer dan dimana ada cukup banyak ganjaran sosial. Ia berpendapat bahwa sistem semacam itu dapat diperkenalkan dimana-mana. Ini bukanlah sesuatu yang unik bagi kebudayaan Jepang.


V

Walau pun buku MBA Inti Pemikiran dan Teori Manajemen dari A hingga Z hanya handbook mini, petualangan ini terasa melelahkan juga. Terutama karena banyaknya tokoh, pemikiran dan istilah-istilah yang harus kita ‘kunyah’ secara singkat tetapi tak bisa terlalu mendalam. Memang agak absurd lah saya ini, bila ingin mencari sebuah benang merah dari buku yang dimaksudkan sebagai semacam ensiklopedi manajemen.

Namun bertemu juga oleh-oleh yang dapat saya bagikan kendati bakal terdengar klise. Yakni, seperti kata Grup Seurieus dalam lagunya, manusia itu tidak sama dengan pisau belati. Ia punya hati, punya rasa. Dan hati dan rasa itu lah yang paling banyak menggerakkannya. Eksperimen paling terkenal yang melahirkan istilah Hawthorne Effect pada tahun 1927 merupakan salah satu buktinya. Percobaan yang dipimpin oleh psikolog sosial Elton Mayo itu berlangsung di pabrik General Electric Company di Hawthorne Chicago dan berlanjut selama satu dekade. Program ini melibatkan sekitar 20 ribu pegawai dan hampir 100 peneliti dari Harvard.

Hawthorne effect adalah penemuan bahwa para pekerja pabrik bekerja lebih keras bila tingkat penerangan pabrik mereka ditingkatkan. Kemudian mereka bekerja lebih keras lagi ketika tingkat penerangan itu dikurangi. Yang memotivasi mereka bukanlah kondisi fisik itu sendiri, tetapi pernyataan bahwa ada orang entah di mana yang prihatin dengan kesejahteraan fisik mereka. (halaman 134)


VI
Sambil menyimpan kembali buku obral yang saya beli seharga Rp10 ribu untuk dua buku itu, dalam hati ada sedikit rasa lega telah menemukan
menemukan the true meaning of Rocker juga Manusia-nya Grup Seurieus. Lewat blog ini ingin rasanya menitip salam, dengan harapan semoga Seurieus mencipta lagi tema lagu yang menarik untuk jadi pemandu membicarakan berbagai aspek dalam kehidupan.

Ciputat,26 April 2007

1 comment:

  1. sumpah bang eben saya malah gak tau seluk beluk ilmu ekonomi n manajemen.tapi.. asyik juga kali ya belajar ilmu ekonomi,he..he..he..terinsfirasi dari lagunya seureus bisa buat tulisan se TOP ini ciee..bang eben punya fans panatik nie...he..he..he..

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...