Monday, May 14, 2007

Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya (2)



Saya selalu tertawa melihat bibirnya yang dicibirkan, tiap kali menggoda Marty dan menawarkan bagaimana kalau besar nanti putri saya itu jadi wartawan saja. Saya belum pernah mendengar alasannya yang jelas kenapa ia menolak. Yang selalu ia katakan berulang-ulang, adalah ia ingin jadi dokter. Sembari begitu, ia sampirkan juga kata-kata ”…. dokter yang pintar masak juga.”

Jawaban itu tak mengejutkan. Mungkin karena ibunya sering memuja-muji dokter, Marty lantas menorehkan dalam hatinya ingin jadi dokter kalau sudah dewasa kelak. Lantas karena saya selalu mengatakan bahwa anak perempuan itu sebaiknya rajin bersih-bersih di dapur, pintar masak dan seterusnya, maka selalu ia garisbawahi pula jawabannya dengan mengatakan dokter yang pintar masak juga. (Mohon maaf kepada para pejuang gender. Saya pendukung kesetaraan gender lho… Tapi menurut saya, pembagian kerja harus ada juga. Anak perempuan sebaiknya bisa masak-memasak, anak lelaki sebaiknya cekatan dalam berkebun dan bertukang perabotan).

Sejak masih TK, Marty sudah menghafal jawaban seperti itu. Hingga kini dia menginjak kelas 2 SD, jawabannya belum berubah. Yang berubah adalah ketrampilannya. Salah satunya membaca. Makin hari makin sering saya melihatnya membenamkan diri dalam bacaan justru pada saat-saat saya mengira dia tengah bermain. Dan kalau dia diganggu kala begitu, ia bisa marah-marah tak ketulungan.

Suatu hari Minggu pagi ketika kami akan berangkat ke rumah seorang kerabat, tiba-tiba Marty bertanya kepada saya. “Pa, nenek Papa itu gimana sih wajahnya?”

Pagi-pagi mendapat pertanyaan seperti itu mengejutkan juga. Nenek saya sudah almarhumah. Sama seperti Kakek saya. Tetapi seingat saya, Marty masih sempat menemui sang Nenek ketika kami pulang kampung tempo hari. Hanya saja nenek kala itu sudah pikun sementara putri saya masih bayi.

Karena itu saya menjawab pertanyaan Marty seadanya saja. Dengan mengatakan nenek saya sudah tua sekali, wajahnya keriput dimana-mana.

“Orangnya baik, ya Pa?” tanya dia lagi.

“Tentu. Tidak ada nenek yang tidak baik,” kata saya bangga.

Kasian deh lu, dimarahin. Tapi bisanya cuma lari sama nenek,” tiba-tiba putri saya mencela saya ketika kami sudah berada di dalam mobil.

Saya bingung. Kok tiba-tiba dia mengenyek saya?

Istri saya kemudian menimpali. Dengan bahasa Inggrisnya yang patah-patah (agar putri saya tak mengerti apa yang dijelaskannya) ia mengatakan bahwa kemarin sepanjang hari putri kami membaca habis buku Ortu Kenapa Sih? yang diterbitkan oleh Blogfam dan Penerbit Cinta, tahun lalu. Dalam buku itu ada dua karya saya bercerita tentang masa kecil di kampung halaman, Sarimatondang. Salah satunya adalah kisah tatkala saya dimarahi oleh ayah yang menyebabkan saya minggat ke rumah nenek. Nah, itu lah rupanya yang menyebabkan Marty mengenyek, ‘kasian deh lu, dimarahin. Bisanya cuma lari sama nenek.’

Mendengar penjelasan demikian, saya jadi mengerti. Oh, ternyata Marty akhirnya membaca juga kisah masa kecil lewat buku itu, yang sesungguhnya sudah sering pula saya dongengi padanya dulu tatkala ia masih balita. Baguslah, pikir saya dalam hati. Hitung-hitung, dia makin bisa mengenal nilai-nilai baik yang berkembang dan selalu ditanamkan di kampung halaman saya itu.

Beberapa hari kemudian ada perkembangan lain. Malam hari selepas makan, istri saya menyodori saya buku latihan Marty. Di buku latihan itu, ia ternyata mendapat tugas mengarang ‘kisah nyata’ dengan tema ‘peduli terhadap keselamatan orang lain.’ Dan, di luar dugaan saya, Marty yang mengaku kelak tak ingin jadi wartawan, tak ingin jadi penulis, ternyata bisa, lho, menulis dengan lancar. Saya katakan lancar karena latihan itu dikerjakan di sekolah. Jadi ia pasti tak mungkin mendapatkan bantuan dari ibunya, seperti manakala ia mengerjakan Pe-er. Lebih dari itu, karangannya itu ditulis dengan bolpen. Dan saya melihat, tak banyak coret-coretan dalam karangannya.

Beginilah Marty menulis:

Kisah yang Menyedihkan

Waktu itu saya sedang bermain ular tangga. Bersama teman-teman saya. Karena banyak sekali yang bermain jadi kita berdesak-desakan. Saya hampir jatuh tapi untungnya tidak.

Semakin lama desakannya semakin kencang tapi kami tidak mau berhenti. Kami tetap bermain terus sampai akhirnya aku jatuh. Kaki saya berdarah dan luka.

Untungnya ada teman saya yang menolongku. Aku dibelikan hansaplas lalu dipasangkan ke kaki saya. Lalu bel berbunyi saatnya pulang. Aku pulang dan menceritakan semuanya kepada mama. Mama lalu melihat kakiku. Ternyata benar kamu jatuh kata mama. Tapi kamu gak apa-apa kan lanjut mama. Gak pa pa kok ma. Ya udah mangkanya kalau main hati-hati dong kata mama sambil menciumku lalu aku menciumnya lagi.


Membaca kisah ini saya jadi sedikit ge-er tetapi was-was juga. Ge-er karena benar lah kata pepatah, Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kegemaran menulis ayahnya tampaknya menurun kepada putri saya. Bahkan saya berani ge-er menduga-duga, alur dalam karangannya ini pasti banyak dipengaruhi gaya menulis saya. Lihat, bagaimana ia menggunakan kata ‘Saya’ dalam hampir sebagian besar tulisannya, kendati di beberapa bagian, ia terpaksa juga lupa, dan kembali menggunakan kata aku. Sebab saya memang pernah menasihati dia, dalam bahasa tulisan sebaiknya menggunakan kata ‘saya’ ketimbang aku. (Nasihat ini mungkin terlalu konservatif bagi sebagian orang).

Ibu Guru yang memeriksa tulisan itu memberinya nilai 90. Bertambah senang hati saya. Ketika di judulnya saya melihat ada tipp-ex, saya bertanya kenapa sampai begitu. Putri saya menjawab ogah-ogahan bahwa awalnya judul tulisan itu adalah Kejadian yang Tidak Diinginkan. Tetapi atas saran guru, berubah menjadi Kisah yang Menyedihkan. Naluri jurnalistik saya mengatakan jelaslah judul pertama lebih menjual dan lebih orisinil. Tapi Ibu Guru mungkin berpikir lain.

Yang membuat saya was-was adalah nada tulisan itu. Saya ingat, beberapa orang teman dan terutama istri saya, memberi cap kepada saya sebagai orang yang ciri khas tulisannya adalah nada mellow pada alur mau pun pilihan kata-katanya. Sampai-sampai istri saya berani dan berhasil pula menebak yang mana tulisan yang saya kerjakan dengan rada serius dan mana yang main-main, ketika tempo hari saya menyodorinya dua naskah tulisan dengan tema yang sama, hanya dengan menandai cirinya yang mellow itu. Seorang teman sesama orang Simalungun pernah berkirim email, dan mengatakan, tulisan bernada mellow tampaknya menjadi ciri khas penulis Simalungun, yang terbiasa kesepian di tengah keramaian. Saya tak bisa membantahnya. Sarimatondang memang sebuah dusun dan di sana banyak sungai, kebun dan pohon tempat melarikan diri dari keramaian. Di Jakarta? Justru tulisan lah tempat kita melarikan diri dari keramaian.

Jika diperhatikan, nada tulisan Marty juga mellow. Terlalu sendu untuk anak seumur dia. Alurnya juga mengalir tanpa kelokan tajam, seperti kesederhanaan yang banyak dipilih oleh orang yang sudah kenyang makan asam-garam kehidupan lalu menyimpulkannya menjadi: pembuka—konflik—penyelesaian. Benar-benar jauh dari sifat kanak-kanak yang lasak dan suka melantur kemana-mana. Bila anak-anak seumur dia sangat mungkin membuat cerita yang lebih riang, lebih lincah dan lebih mengajak melihat keluar dirinya daripada melihat ke dalam, Marty tampaknya memilih (atau ia mengikuti nalurinya?) cara lain. Salahkah saya bila ge-er dan mengatakan ia pasti sangat dipengaruhi oleh gaya ayahnya ketika menulis cerita-cerita masa kecil dalam Ortu Kenapa Sih? yang dia baca beberapa hari sebelumnya?

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya
, kata pepatah. Tapi mudah-mudahan Marty kelak masih punya waktu untuk menentukan pilihannya. Baik pilihan mau jadi apa mau pun memilih gaya mana dalam menulis. Untuk sementara, saya sudah cukup gembira bahwa dia sudah mulai bisa menulis. Selangkah lagi, saya berharap dia sudah bisa saya suruh-suruh membuat transkrip wawancara atau menyalin dan membetulkan ejaan dari buku-buku tua. Bukankah cara begini yang dilakukan orang tua kita dahulu, ketika pertama kali tahu bahwa kita sudah bisa mengayunkan cangkul, lantas kita diminta menyiangi rumput-rumput tipis sebagai ‘latihan’ jadi petani?

1 comment:

  1. Anonymous6:45 AM

    anakku malah susah kalau disuruh nulis. maunya main game mlulu....

    lis

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...