Friday, May 04, 2007

Tenggelamnya Rasio di Jalan Sempit Permata Hijau



Pasti setuju, kan, kalau manusia disebut sebagai mahluk yang rasional? Kita-kita dulu ketika belajar ilmu ekonomi di bangku kuliah, sejak pagi-pagi sudah diperkenalkan dengan asumsi ini. Bahwa dalam memutuskan pilihan-pilihannya, manusia dianggap rasional. Dan, ini jadi pilar yang tak bisa ditawar dalam hampir semua teori ekonomi mula-mula. Tanpa asumsi ini, teori itu bisa bubar.

Tapi dalam dunia nyata jelas lah manusia tak selalu rasional. Bahkan termasuk juga dalam melakukan pilihan-pilihan ekonomis.

Saya ingat, misalnya, ketika dulu sekali saya mula-mula jadi wartawan. Dan ditugaskan mewawancarai seorang eksekutif dari perusahaan otomotif. Kala itu ekonomi kita sedang booming. Industri otomotif bergairah. Mobil-mobil mewah berharga miliaran mulai diminati oleh orang Indonesia.

Ketika tanya-jawab dengan eksekutif itu sampai pada apa motif orang Indonesia membeli mobil semahal itu, dipakai untuk apa, di tengah jalanan yang macet dan banyak pengamen dan pengemis. Sang eksekutif tertawa dengan pertanyaan naif saya. Menurut dia, kalau sudah bicara mobil-mobil berharga M-M-an, tak ada lagi aspek rasional dibalik motivasi para pembelinya. Semuanya sudah irasional atau bisa juga beyond-nya. Pertaruhan dan pertarungan gengsi, obsesi sewaktu kecil, fanatisme gila-gilaan pada merek dan model tertentu, dan aspek-aspek emosional lainnya lah yang lebih banyak mendorong mereka dalam melakukan pilihan ketimbang rasio. Karena itu pula, dalam memasarkan mobil-mobil semacam itu, bukan aspek rasional calon pembelinya yang dibidik. Melainkan aspek emosionalnya. Begitu lah kata si eksekutif tadi.

Eh, benar juga, pikir saya dalam hati. Saya jadi ingat pada lelucon tentang para penggemar motor gede yang mencintai motornya kadang-kadang melebihi istrinya. Agak absurd bila dipikir-pikir apa yang mendorong mereka membeli motor yang sangat mahal itu? Dan uang sebanyak itu digelontorkan demi motor yang lebih sering ngendon di garasi daripada dikendarai.

Lagi-lagi kita disadarkan bahwa tidak semua dalam hidup tindakan-tindakan manusia itu rasional. Termasuk juga dalam membuat pilihan-pilihan ekonomis, yang selayaknya mestinya didasarkan pada rasio. Manusia justru kerap menenggelamkan rasionya. Dan mengikuti yang bukan rasio-nya. Apakah itu yang kita sebut emosi, perasaan, kata hati, intuisi dan semacamnya.

Perilaku irasional itu tidak selalu menyangkut hal-hal yang mahal dan mewah, seperti para eksekutif yang keranjingan pada mobil mewah tadi. Dalam hal yang ecek-ecek, menyangkut uang Rp5000-Rp50.000 pun kita kerap juga tidak menurutkan rasio. Seperti yang saya alami hari Selasa, 24 April lalu ketika berangkat kerja dan melintas di Jalan Permata Hijau.

Mengendarai motor dari arah Pondok Indah menjelang Sekolah Bina Nusantara, saya terpaksa menurunkan kecepatan karena jalan menyempit akibat pembangunan jalan tembus di kawasan itu. Kendaraan yang berlalu-lalang juga mulai membuat macet. Kala berkendara dalam suasana lalu lintas ‘padat merayap’ itu lah sekonyong-konyong mata saya terpana pada pemandangan di sisi kiri jalan. Di sana, persis bersebelahan dengan sebuah WC Umum, ada sebuah kios yang mepet betul ke jalan raya. Kios itu terbuka lebar-lebar. Tanpa pintu, tanpa krei. Di dalamnya penuh buku-buku tua. Dari atas motor, saya bisa dengan jelas menatap pemandangan di dalam toko buku loak itu.

Rasa aneh menjalari pikiran saya. Kok baru sekarang saya melihat toko buku itu ya? Apakah saya yang selama ini tak jeli memperhatikannya, atau memang toko itu baru saja buka di tempat itu? Tapi hanya sekelebat saja pertanyaan-pertanyaan itu mengisi benak saya. Selanjutnya, ada pertanyaan lain yang justru datang lebih menggoda. Bunyinya: Berhenti nggak ya di toko buku ini? Singgah nggak ya?

Terjadi perang kecil di batin saya. Antara ingin singgah di toko buku loak itu atau mengabaikannya saja. Sisi rasional saya berkata, tidak perlu singgah. Toh, toko buku loak itu berada di jalanan sempit dan tak mudah mencari tempat parkir. Apalagi sambil saya berpikir-pikir begitu, motor yang saya kendarai tetap melaju menyebabkan toko buku itu makin jauh saja saya tinggalkan. Lagipula, begitu lah pikiran rasional saya berkata, seandainya singgah, saya pasti tidak kuat menahan godaan untuk membeli dua atau tiga biji buku. Nah, mau ditaruh dimana buku itu nantinya? Pasti repot kan menggantungkan bungkusan berisi buku di motor bebek saya?. Dan, yang paling ironis, buku-buku itu sudah pastilah tak akan saya baca secara serius. Cuma teronggok saja di rumah atau di meja kerja di kantor, seperti kebiasaan saya yang lalu-lalu. Bikin kotor pemandangan saja. Begitu lah sisi rasional saya berkata, menunjukkan keengganan saya untuk singgah di toko buku loak itu.

Tapi sisi irasional saya berkata lain. Ia justru mendorong-dorong saya berhenti untuk masuk ke toko buku itu. Sisi irasional itu seolah memanas-manasi hati saya dengan berkata, eh, katanya pencinta buku, kok dihadapkan pada jalanan macet sedikit aja langsung nyerah, tak mau singgah di toko buku loak yang belum pernah disinggahi? Lagipula, punya buku-buku loak yang tebal-tebal kan asyik? Entar, kita akan dicap orang sebagai intelektual kelas wahid. Kelak di usia uzur, anak-cucu bisa mewarisi perpustakaan usang bin pengap plus ‘dikeramatkan.’ Hebat kan?

Begitulah sisi irasional itu berkata-kata. Dan, manjur lho, rayuan sisi irasional itu. Hati saya jadi berbunga-bunga diiming-imingi citra intelektual wahid oleh sisi irasional saya itu. Apalagi membayangkan buku-buku tebal yang berbaris memadati lemari buku mau pun raknya. Makin menjadi-jadi keinginan untuk singgah di toko loak itu. Dan akhirnya sisi irasional saya menang. Walau sudah cukup jauh saya meninggalkan kios buku loak itu, akhirnya saya mencari juga putaran untuk berbalik. Mungkin ada satu kilometer lebih kios buku itu berada di belakang saya, untuk kemudian motor saya belokkan untuk menuju ke sana kembali.

Tatkala kemudian saya melangkah masuk ke kios buku itu, mendadak ada perasaan lega. Apalagi pagi itu baru saya saja yang ada di kios itu bersama seorang pemuda penjaganya yang cengar-cengir dan tampaknya belum mandi. Saya lampiaskan saja melihat-lihat, membolak-balik buku-buku di situ. Memang toko loak ini lumayan kaya. Sebagian besar adalah buku-buku berbahasa Inggris.

Tangan saya mulai gatal mencomot satu demi satu buku loak itu seraya menyisihkannya di suatu tempat. Satu, dua, tiga hingga enam buku saya tumpuk di depan saya. Dalam hati saya menebak-nebak, berapa kira-kira harga buku ini? Sebab berbeda dengan toko buku loak yang kerap saya kunjungi di Taman Ismail Marzuki, di sini buku-buku itu belum diberi penanda harganya.

Ketika kepada si penjaga saya tanyakan berapa harga buku yang saya sisihkan itu, saya hampir tertawa melihat caranya menentukan harga. Dia timang-timang buku-buku itu. Ia buka-buka sampulnya. Ia telisik kertasnya, seolah mengukur ketebalannya. Setelah itu tiga buah buku yang seukuran novel, ia patok harganya masing-masing Rp7.500. Ketika saya tawar menjadi Rp5.000, ia mengiyakan. Berarti Rp15 ribu untuk tiga buku itu.

Bagaimana dengan tiga buku lainnya?

Kembali si pemuda penjaga kios menimang-nimangnya. Tiga buku itu memang lebih besar dan pakai hard cover. Tetapi sesungguhnya ketiga-tiganya sudah usang. Itu sebabnya saya terheran-heran ketika si pemuda mengatakan harganya tiga kali lipat dari tiga buku pertama, masing-masing Rp15.000. Untungnya ketika saya tawar menjadi Rp10.000, ia kemudian mengalah dengan mengatakan agar saya menambah Rp3000 lagi. Deal. Jadi ketiga buku itu saya beli dengan harga Rp33.000.

Total belanja saya pagi itu Rp48 ribu untuk enam buku, yang kesemuanya berbahasa Inggris, dengan topik beraneka ragam, yang saya sendiri sangat yakin tak satu pun saya kuasai secara mendalam. Itu sebabnya sisi rasional saya berkata, ah, lu, dasar kampungan. Untuk apa sih beli buku sebanyak itu, yang sudah usang, sudah belel, berdebu, dan sudah pasti tidak akan lu baca. Sok maut lu. Sok intelektual kelas dunia, lu.

Tapi sisi irasional saya berkata, eh, diam lu. Ini harta karun, tau. Gengsinya dong, gengsinya. Kalau pun tak akan saya baca, minimal saya bisa bangga, sudah punya koleksi buku-buku tua beberapa biji. Lagipula dulu sewaktu mahasiswa, dendam betul ingin punya banyak buku, tapi tak kesampaian. Paling-paling cuma bisa beli buku fotokopian atau buku bajakan.

Ingat, kan? Dulu saya pernah cerita tentang Dr. Sjahrir. Dalam sebuah tulisan di majalah Matra tempo hari, istrinya bercerita, kalau Sjahrir pergi ke luar negeri, pulangnya pasti bawa oleh-oleh buku-buku yang seabrek-abrek. Mirip orang kulakan buku. Dan, di rumah, buku itu pasti lah tak sempat ia baca. Buku itu ditimang-timang saja menjelang tidur. Seperti keponakan saya yang harus dipertemukan dengan mobil-mobilan mainannya dulu baru bisa tidur.

Ketika tiap kali saya belanja buku loak, perasaan mirip-mirip begitu lah yang ada pada saya. Tapi berbeda dengan Dr. Sjahrir yang menimang-nimang buku baru yang dia beli tatkala tiba di rumah, saya justru harus membiarkan buku-buku loak saya teronggok di garasi. Sebab, sebagian besar buku-buku itu sudah tua dan berdebu. Bahkan satu dua diantaranya saya curigai bekas terendam banjir. Setelah mengering, sisa-sisa air berlumpur di buku itu menjelma jadi debu kasar yang sangat terasa ketika diraba. Itu sebabnya harus didiamkan dulu untuk dibersihkan ala kadarnya sehingga debunya menghilang. Jadi ingat pula saya pada Hasballah Saad, bekas menteri HAM di kabinet Gus Dur. Dalam sebuah penerbangan ke Aceh, kami kebetulan duduk di baris bangku yang sama, dan ia bercerita tentang perpustakaan pribadinya yang berisi beratus-ratus buku di rumahnya di Bekasi, terendam air setinggi orang dewasa pada banjir dahsyat beberapa bulan lalu. Jangan-jangan, beberapa buku di toko loak ini adalah bekas kepunyaan orang beken seperti Pak Hasballah Saad, pikir saya.

Hampir satu jam saya berada di toko loak itu. Belum puas sebetulnya membaca judul-judul buku yang banyak dan umumnya menarik. Tetapi saya tak bisa lebih lama lagi. Soalnya, pekerjaan di kantor juga sudah menunggu. Sambil begitu, saya melangkah keluar toko. Tenggelamnya rasio di jalan sempit Permata Hijau telah menjerat saya untuk membeli enam buah buku ‘maut’ yang tak kan mungkin dapat habis saya baca. Ingin sekali bisa membacanya sampai tuntas, tetapi sudah pasti itu tak kan bisa saya lakukan. Sudah terlalu sering saya menjadikan buku seperti ensiklopedia saja. Membacanya sekejap-sekejap dan membuka halamannya secara random.

Lagipula, sedari awal memang sisi irasional saya sudah menaklukkan sisi rasional. Bahwa belanja buku itu, tidak selalu untuk dibaca dan untuk mengeruk ilmu pengetahuan dari bacaan. Ada sisi lain, sisi irasionalnya, semacam melampiaskan nostalgia di masa mahasiswa, kebanggaan dicap sebagai intelektual dan tak kalah penting, memberi apresiasi kepada para penulis yang sudah jungkir-balik menyusun sebuah buku.

Maka kalau boleh saya minta tolong, mungkin ada diantara Anda yang telah baca buku-buku yang saya beli ini. Mohon sudi lah berbagi isinya kepada saya. Kadang-kadang, lebih mengasyikkan, bukan, mendengar orang bercerita tentang buku daripada kita langsung membacanya?

Ini dia buku-buku yang saya belanjakan itu.

Judul Buku: Crisis in Black and White
Penulis: Charles E. Silberman
Penerbit: Vintage Books, New York,1964
Tebal:370 halaman
Harga Loak: Rp5.000
Komentar saya:
Penulisnya adalah redaktur majalah Fortune. Dalam buku ini ia membahas secara komprehensif munculnya krisis dalam hubungan kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Ia juga menyodorkan cara pandang yang ia anggap realistis: yakni menghadapi ketegangan rasial itu apa adanya, jangan menghindari apalagi menutup-nutupinya. Salah satu yang menarik dari kalimat pada kata pengantarnya, berkata: Orisinalitas itu bukan karena kita mengatakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dikatakan orang, melainkan bila apa yang kita katakan itu memang sungguh-sungguh datang dari pemikiran kita. Benar juga.

Judul Buku : The Presidential Transcripts,
The Complete Transcripts of the Nixon Tapes- The Most Extraordinary And Revealing White House Document Ever Made Public

Penulis: Staf Redaksi The Washington Post
Penerbit: Dell Publsihing Co, Inc, New York, 1974
Tebal: 693 halaman
Harga Loak: Rp5.000
Komentar saya:
Buku ini berisi rekaman pembicaraan Presiden Nixon di Gedung Putih (Oval Room) pada masa maraknya skandal watergate. Sejak 1971 pembicaraan presiden di ruangan itu memang direkam. Senat memilih komite untuk Watergate (Juli 17-23) dan menunjuk Archibald Cox, jaksa khusus untuk menyelidiki skandal tersebut. Lalu Archibald meminta agar rekaman pembicaraan itu dipublikasikan demi kepentingan pengadilan. Semula ada tarik ulur tentang perlu tidaknya dipublikasikannya rekaman ini, tetapi akhirnya Nixon bersedia rekaman ini diumumkan setelah diedit.

Judul Buku: The Quite Revolution, Reflections on the Changing Profile of American Business
Penulis: Robert G. Dunlop
Penerbit:Chilton Book Company, Radnor Pennsylvania, 1975
Tebal:173 halaman
Harga Loak: Rp11.000
Komentar saya:
Buku ini mempertanyakan dan kemudian menjelaskan arah bisnis AS. Diulas, apa peran dunia usaha membantu persoalan sosial di AS. Penulisnya yang berlatarbelakang karier sebagai eksekutif di perusahaan perminyakan mengemukakan paradoks dalam dunia energi: sistem bisnis AS diyakini telah meningkatkan standar kehidupan, tetapi dominasi sistem itu dianggap terlalu kuat dan motifnya tidak bisa dipercaya. Dunlop berpendapat telah terjadi perubahan revolusioner pada komunitas bisnis AS, tetapi terjadi secara diam-diam.

Judul Buku: The Function of the Executives
Penulis: Chester I Barnard
Penerbit: The President and Fellow of Harvard College 1958 (cetakan ke 13)
Tebal: 334 halaman
Harga Loak: Rp11.000
Komentar saya:
Terus terang, saya tertarik membeli buku ini karena dalam sebuah ensiklopedia bisnis saya membaca penulis buku ini adalah salah satu perintis awal pemikiran-pemikiran manajemen, hampir bersamaan dengan 'bapak manajemen' Henry Fayol. Buku The Function of Executives ini pula yang menjadi salah satu 'kitab suci' manajaemen, terutama dari penulis-penulis segenerasinya.


Judul Buku: The Singapore Story, From Raffless to Lee Kuan Yew
Penulis:Noel Barber
Penerbit: Fontana Collins, 1978
Tebal:224
Harga loak: Rp5.000
Komentar saya:
Bentuk fisik bukunya seperti novel. Mengisahkan sejarah Singapura dari zaman Raffless hingga Lee Kuan Yew. Dulu seingat saya sudah pernah banyak resensi tentang buku ini. Jadi saya membeli buku ini sekadar untuk koleksi-koleksian saja.

Judul Buku: Future Shock
Penulis: Alvin Toffler
Penerbit: Alvin Toffler, 1970
Tebal:505 Halaman
Komentar saya:
Buku ini juga adalah buku yang sangat terkenal. Diulas dimana-mana. Dibicarakan di seminar. Dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sudah pula dibukukan. Lagi-lagi, buku tua ini berperan sebagai pajangan belaka ketimbang untuk dibaca bagi saya. Atau sekali-kali, kalau lagi kangen pada kalimat-kalimat lugas Toffler, boleh lah membolak-balik halamannya secara acak.

2 comments:

  1. wah..boleh juga itu infonya bang, daripada nyari2 di senen dan harganya belum tentu murah alternatif ini bisa dicoba juga.. kebetulan saya tiap pagi berangkat sejalur dengan bang eben ini :)

    ReplyDelete
  2. Wah, buku-buku bagus begitu murah meriah ya... Bagus, memasyarakatkan buku murah.

    Saya tunggu ya kabar mengenai kolom usulan saya. Mohon baca email ya.

    Makasih.

    Jennie S. Bev

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...