Thursday, June 28, 2007

Eh, Ada juga Rupanya Orang Batak Di Sini....



I
Mengarungi lalu lintas Jakarta yang padat dan sering macet, tak pernah menyenangkan. Namun justru di saat-saat menjengkelkan itu kerap muncul hal-hal segar. Dan itu pula yang menyebabkan kita jadi tersadar, tarjolma kata orang (Batak) Simalungun, atau eling kata orang Jawa. Bahwa kita ini masih hidup di bumi. Bukan di Surga. Dan karena itu, hal-hal menjengkelkan masih harus kita hadapi hari demi hari.

Hal-hal segar yang saya maksud berupa kejutan-kejutan kecil yang kita temukan di saat sedang suntuk-suntuknya berlalu-lintas. Tiba-tiba muncul di hadapan kita. Dan lantas dalam hati kita merasa tersadar, oh, saya tidak sendirian ternyata.... Misalnya, suatu hari akhir tahun lalu, tatkala saya mencoba-coba jalur baru sepulang dari kantor menuju rumah kami di Sarua, Tangerang. Jika sebelumnya lebih kerap menempuh jalur Lebak Bulus-Ciputat dst, kali itu saya mencoba lewat Daan Mogot- Tangerang.

Apa hasilnya?
Jelas saja saya nyasar kemana-mana. Putar sana putar sini. Terbentur sana terbentur sini. Untuk kesekian kali Par-Sarimatondang mengamini penilaian istrinya tentang suaminya yang norak tapi sok tahu ini: samasekali tak punya naluri alamiah untuk bisa menebak mana jalan yang tepat. Mungkin karena terbiasa di Sarimatondang pada jalan yang lempang tak banyak persimpangannya, saya kerap tiba-tiba terkesiap dan gamang dihadapkan pada perempatan yang bertubi-tubi. Belum lagi penunjuk arah yang berdempet-dempet. Kadang-kadang tertutup pohon dan billboard iklan pula. Tanya kenapa, kata salah satu billboard itu. Tapi mau tanya siapa? Semua orang kelihatan bergegas kok....

Saya sudah hampir putus asa ketika tersadar sudah berada di jalan yang besar. Banyak truk dan juga omprengan yang menyebabkan jalan itu macet seketika. Lelah dan kepala mulai nyut-nyutan, saya mengarahkan pandangan ke samping kiri. Eh, di pinggir jalan itu ada sebuah toko frame dan lukisan. Yang membuat saya senyum-senyum di kulum adalah papan nama toko itu: JENGES.....

Ah, kata saya dalam hati. Pasti lah yang punya toko itu orang Simalungun. Sebab JENGES berasal dari Bahasa Simalungun. Artinya: cantik, indah, beautiful. Sekejap saja hati ini seperti kemasukan energi baru. Mungkin karena ada perasaan tidak sendirian di belantara aspal dan asap di daerah yang tak saya kenal itu. Dan ketika saya meminggirkan kendaraan, lantas menanyakan arah kepada seorang penjual teh botol di sekitar toko itu , kok aneh lho. Dari penjelasannya saya jadi mengerti bahwa ternyata jalan ke arah rumah kami sudah tak terlalu jauh lagi....

Kejadian semacam itu tak hanya sekali itu. Dulu saya masih ingat tatkala di terik panas matahari terjebak macet di kawasan Manggarai hendak membeli kursi roda (bekas) untuk (alm) ibu Mertua. Perut lapar. Keringat mengucur. Dan mobil, motor, bajaj serta pemulung beserta gerobaknya bertumpuk di hadapan. Mau marah saja rasanya, kalau saja pandangan saya tidak segera tertancap pada sebuah papan nama perusahaan kargo. Di sana tertera: TOHO DIROHA.

Eh, batin saya, lagi-lagi ada orang Batak di sini. Sebab TOHO DIROHA itu artinya tepat di hati, atau mengena di hati. Istilah TOHO DIROHA itu pun jadi bahan perbincangan yang enak antara saya dan istri pada saat itu. Suntuk oleh macet yang berkepanjangan itu jadi sedikit berkurang.

Yang lebih lucu adalah beberapa hari lalu. Seperti biasa, perjalanan menuju kerja di atas Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi dari stasiun Sudimara menuju stasiun Tanah Abang, harus ditempuh penuh perjuangan. Harus rela berdiri dan berhimpit di antara gado-gado aroma penumpang: antara sayup-sayup bau keringat diri sendiri, semriwing ketiak Pak Tua penjaja tahu goreng yang tampaknya belum sempat mandi, bau rokok si mahasiswa yang menempel di baju dan rambutnya, ditingkahi sesekali segar dan lembut wewangian Body Shop si nona yang duduk sambil membaca Cosmopolitan...

Kalau sudah menjelang stasiun Kebayoran, KRL itu biasanya ngebut tak kira-kira. Di tikungan atau jalan lurus kecepatannya hampir sama belaka, menyebabkan perjalanan pada pagi hari penuh dengan ayunan. Tak bisa tidak, kita harus kencang-kencang menancapkan genggaman pada pegangan berupa besi panjang di atas kepala. Dalam hati kita sering ngedumel, “ah, kok bisa ya orang seabrek-abrek gini terdampar di Jakarta yang makin sempit ini....”

Namun, di tengah suntuk karena berjubelnya penumpang, ada jua lah penghiburan kecil-kecilan. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri tatkala kereta melintas di daerah Palmerah. Dari kejauhan saya melihat sebuah usaha tukang tambal ban di pinggir jalan. Penjaganya, duduk santai dengan sebelah kaki naik di atas kursi. Rokoknya mengepul. Segelas kopi terletak di atas kursi lain di sampingnya. Di tembok yang melatarbelakanginya, ada tulisan besar-besar: AI SHO ISHE.

Hah? Lagi-lagi orang Batak ada di sini, pikir saya. Meskipun AI SHO ISHE itu memunculkan nuansa bahasa Tiongkok (atau Jepang?) pasti lah itu berasal dari Bahasa Batak (Toba). Sebab, aslinya AI SHO ISHE itu merupakan modifikasi kreatif dari kata AI SO ISE. Yang artinya: bukan siapa-siapa. Maksudnya mungkin, usaha tambal ban itu bukan milik siapa-siapa, melainkan milik kita-kita juga. Karena itu jangan sungkan untuk mampir....

II

Rupanya banyak cara orang Batak memilihkan nama bagi usaha atau lembaga yang dibentuknya. Membuat nama yang memunculkan nuansa bahasa asing, hanya lah salah satunya. Jika AI SO ISE dimodifikasi menjadi AI SHO ISHE untuk memunculkan efek bahasa Mandarin, ada kalanya tanpa dimodifikasi pun efek itu sudah muncul. Misalnya, NAMURA (Life). Banyak orang mengatakan itu berasal dari Bahasa Jepang. Bisa jadi. Tapi feeling saya mengatakan itu diambil dari Bahasa Batak (Toba) yang artinya, yang murah. Bisa juga, yang mudah. Idem dito dengan TOHO DIROHA. Seperti Bahasa Jepang juga kan? Padahal artinya: mengena di hati.

ADAM AIR (sudah jadi mendiang) ada juga memunculkan nuansa Bahasa Batak, walau pun sepintas lintas ia seperti nama perusahaan penerbangan internasional dengan kata AIR di belakangnya. Tetapi coba, deh, baca secara terbalik. Jadinya, RIA MADA kan? Dalam Bahasa Batak (Toba), RIAMADA berarti bergembira lah. Saya belum mengecek apakah asal-usul nama itu mempunyai keterkaitan seperti ini. Feeling saya sih..... ada.


Salah satu tempat makan yang populer di kalangan orang Batak di Jakarta ini bernama LAPO NI TONDONGTA. Secara harfiah, itu berarti kedai milik saudara kita. Namun, kesan yang lebih mendalam dari nama ini adalah keakraban dan ikatan batin. Sebab dalam psikologi orang Batak, Tondong itu adalah kerabat yang dekat, tempat kita meminta nasihat, perlindungan dan juga berkat. Jika dalam istilah pemasaran ada istilah mind share sebagai perbandingan dari market share, LAPO NI TONDONG TA lebih mengarahkan diri pada yang disebut pertama. Dengan menganggap lepau itu kepunyaan kerabat kita juga, yang ingin dimunculkan adalah rasa memiliki dari para pelanggannya. Winning the heart to win the market.

Maen kali bah... kata orang Siantar.

Penamaan yang ingin memunculkan persepsi akrab lebih menonjolkan hubungan batin ketimbang sekadar hubungan transaksional belaka, tampaknya sudah biasa bagi para usahawan Batak. Sebuah usaha angkutan antarkota di Sumatera Utara, misalnya, bernama BETA HAMU. Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, artinya kira-kira, Pergi, Yuk. Atau Yuk, Kita Berangkat. Sebuah kata ajakan, tetapi ajakan yang santun sekaligus mesra.

Dalam Bahasa Simalungun ajakan semacam itu berbunyi seperti ini: ETA HAM. Dan, setahu saya sudah ada sebuah rumah sakit bernama ETA HAM. Bagi orang Simalungun dalam konteks pembangunan kebudayaan dan perekonomiannya, ETA HAM bisa juga ajakan untuk maju, ajakan untuk bersatu dan saling bahu-membahu.

Pemunculan suasana akrab dan bersaudara bisa juga ditempuh cara lain. Misalnya dengan memakai nama marga atau fam. Sudah lama kita mendengar nama Pardedetex, perusahaan yang didirikan oleh Almarhum T.D. Pardede. Juga Hotel Pardede dan dulu sekali, sempat juga jadi nama klub sepak bola. Saya kira bukan hanya orang bermarga Pardede, umumnya kita-kita yang terlahir sebagai orang Batak juga ikut bangga dengan ketenaran nama itu.

Para penggemar durian, boleh juga sekali-kali mendatangi rumah Pak Simanjuntak di kawasan Tebet. Di sana ia menjual durian montong dari kebunnya di kawasan Bogor. Saya pernah menjenguk rumah itu. Duriannya digelar begitu banyaknya. Tinggal pilih, dan beli, tentu. Ada juga dia jual rambutan yang manisnya luar biasa. Semua dari hasil kebunnya yang puluhan hektar. Dan, untuk memasarkan duriannya, beliau memberi nama DURIAN JUNTAK. Situsnya juga ada: www.juntak.com. Nah, bahkan marga juga bisa dijadikan nama kebun durian, bukan?

Di kawasan Kedaung, daerah Ciputat, ada sebuah bengkel bernama Parna Motor. Bengkel kecil, sih. Tapi rasa senang berhamburan tiap kali melewatinya, kendati saya belum pernah menyempatkan mampir. Sama seperti ketika suatu kali saya mewawancarai seorang narasumber muda yang baik hati dan ramah. Ternyata dia bekerja di perusahaan multinasional yang masih punya afiliasi dengan kelompok usaha bernama Parna Raya. Senang hati saya melihat kartu namanya, karena marga saya, Siadari, juga masih 'terafiliasi' lho dengan marga Parna. (Siadari merupakan salah satu dari anggota rumpun marga Parna, yang konon jumlahnya lebih dari 50 marga. Diantara 50 marga ini tidak boleh saling kawin-mawin, sebab dulunya nenek moyang sudah bersumpah tentang itu.)

Nama kampung halaman juga bisa memancing rasa akrab dan rasa memiliki. Orang Batak pasti sudah tak heran lagi bila menemukan entah itu restoran, lepau, tukang jahit atau servis radio bernama SILINDUNG, sebuah nama wilayah di Tapanuli Utara. Walau bukan kepunyaan orang Batak, kadang-kadang ada juga desir-desir kangen mana kala membaca atau mendengar nama perusahaan SIANTAR TOP, yang bergerak di industri makanan dan sudah jadi perusahaan publik (Tbk) pula.

Di Bandung ada satu rumah makan khas Batak Karo bernama GUNDALING. Orang Sumatera Utara pasti tahu nama ini, sebab ia adalah tempat tamasya di daerah Tanah Karo. GUNDALING adalah sebuah bukit, tempat kita bisa memandang kota Kabanjahe dan Berastagi dari ketinggian. Menaiki bukit itu kita bisa menggunakan kuda yang disewakan, sambil mengerat jagung bakar dan ho-ah ho-ah oleh pedasnya sate kerang.

Di rumah makan GUNDALING di Bandung kita juga bisa ho-ah ho ah karena sambal daging B2 panggangnya memang pedas. Apalagi kalau dulu kita makan di sana sehabis ujian yang bikin pusing kepala. Bertambah agresif kita mencolek sambalnya, untuk melupakan soal-soal yang baru saja tak bisa kita selesaikan, seraya bersiap menerima nilai D (atau E?).

Kalau Anda sempat, datang lah berkunjung ke rumah makan khas Karo juga, di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur. Dulu Bapak sempat merah padam mukanya ketika kami membawanya ke sana. Tebak punya tebak, ternyata dia punya kenangan lama pada nama rumah makan itu: SINGALOR LAU. Menurut Bapak, itu adalah nama suatu daerah di Tanah Karo. Ketika muda dulu ayah pernah ditugaskan di sana sebagai guru dan jatuh cinta pada salah seorang gadisnya. Mamak mesem-mesem saja mendengar ayah bercerita tentang itu. Bukan karena cemburu, melainkan karena sejak dulu suaminya sudah sering menceritakannya sampai bosan.

Kata-kata yang bagus, yang mengandung pengertian yang baik, tentu lah juga tak ketinggalan digunakan sebagai nama usaha. JENGES yang berarti cantik, seperti usaha frame dan lukisan di Tangerang tadi, hanya lah salah satu. Saya pernah membaca papan nama RADOT entah dimana. Dalam Bahasa Batak Toba, RADOT itu mempunyai arti mengurus bukan semabrang mengurus, tetapi mengurus dengan penuh tanggung jawab.

Sebuah perusahaan rekaman untuk lagu-lagu Batak namanya BONA JAYA. Di sini BONA bukan lah nama si gajah yang ada di komik majalah Bobo, melainkan diambil dari khasanah bahasa Toba yang berarti pohon atau pangkal. BONA JAYA dapat berarti awal dari kejayaan, pangkal dari sukses. Bermiripan dengan itu adalah GABE JAYA. GABE kurang lebih berarti penuh berkah, penuh rezeki. GABE JAYA berarti penuh rezeki dan berjaya. Tetapi dapat juga berarti, Menjadi Jaya.

Sebuah lepau di kawasan Terminal Senen, seingat saya ada yang bernama SEREP. Artinya adalah bijaksana, pintar. Ada lagi yang bernama LAMBOK, yang berarti lemah lembut. Di Jombang, ada sebuah rumah makan orang Batak bernama LAPO HOLONG. Holong berarti kasih. Sebuah grup bisnis yang pemiliknya orang Simalungun bernama SARDO. Artinya, tenar atau terkenal .Lalu HORAS, saya kira sudah tak terhitung lagi berapa banyak dipakai sebagai nama, entah nama usaha atau malah nama pasar, seperti di Pematang Siantar. Hal serupa juga terjadi pada kata ULI atau NAULI yang berarti indah, baik atau cantik.

Kata-kata yang bermakna lebih serius serta menggambarkan peran yang ingin diemban oleh yang diberi nama itu juga bisa kita temukan. Dalam khasanah Batak, nama SAROHA dan juga SATAHI sudah sering digunakan. SAROHA itu berarti satu hati. SATAHI berarti satu tujuan. Bahasa Simalungun untuk SAROHA adalah SAUHUR, sebuah nama yang tampaknya cukup populer dipakai. Sebuah majalah Simalungun baru saja terbit dengan nama itu. Dulu juga majalah bernama serupa sudah pernah ada. Majalah Simalungun lainnya, yang dulu sempat terbit dan dikenal luas adalah SINALSAL yang berarti cahaya dan PANASTAS yang berarti perintis.


Joy Tobing ketika memenangi Indonesian Idol yang pertama dan mengalahkan Delon, menyanyikan lagu andalan ciptaan Glenn. Lagu itu berjudul Karena Cinta, yang saya tidak hafal semua syairnya. Diantara yang saya ingat begini kira-kira bunyinya:

Dan bila aku berdiri
Tegar sampai saat ini
Bukan karena kuat
dan hebat ku.....


Seandainya lagu itu dinyanyikan dalam Bahasa Batak, barangkali judulnya yang tepat dan sudah populer di telinga orang Batak adalah SO ALA GOGO. Arti 'huruf demi huruf'nya adalah 'bukan karena usaha (semata).' Pesan hakiki dari frasa ini adalah suatu pekerjaan atau prestasi tercapai bukan karena mengandalkan kekuatan manusia melainkan harus mengikut sertakan si Dia yang Mahakuat.

Mungkin karena pesan seperti ini sudah akrab di telinga orang Batak, baik lewat Pak Pendeta di gereja, lewat Raja Parhata di pesta-pesta adat, atau lewat pepatah ninik-mamak dalam acara 'tepung tawar,' maka kalau kita datang ke Sumatera Utara, pasti bisa menemukan toko, rumah makan, warung bahkan tukang jahit bernama SO ALA GOGO. Sepintas, seperti bahasa Inggris – So A'la Go Go – ya?

III

Suatu pagi di atas KRL yang kencang dan dijubeli penumpangnya, seperti biasa saya berdiri dengan berpegang erat pada rak di atas kepala tempat saya menempatkan ransel. Tiba-tiba sebuah telepon genggam berbunyi. Ketika saya melirik ke arah suara, seorang wanita tergopoh-gopoh merogoh tasnya. Dari seragamnya yang berwarna coklat-coklat, saya bisa menebak dia bekerja di sebuah instansi Pemerintah di Jakarta ini. Kelihatannya ia tak ingin berlama-lama membiarkan nada dering ponselnya mengganggu penumpang yang lain. Dan setelah telepon genggam itu berada di tangannya, saya mendengar ia berbicara seperti ini:

“Halo... halo... ya, Bang, aku sehat-sehat aja kok. Bagaimana kabar di kampung? Sudah... sudah sembuh, aku cuma kena flu, gak usah terlalu khawatir lah. Aku jadi malu nih, kemarin juga namboru sudah telepon. Sampe segitunya mikirin aku. Ya...ya... nantilah, kalau abang jadi ke Jakarta. Jangan lupa bawa roti Ganda ya? Aku di kereta nih, mau ke kantor. Udah dulu ya? Love you.”


Di papan nama yang terpampang di atas saku sang wanita itu, saya melihat huruf-huruf yang membentuk sebuah kata dalam bahasa Batak Toba. Dalam Bahasa Indonesia, kata itu berarti: tampak atau terlihat. Dalam hati kembali saya membatin, oh, ada juga rupanya orang Batak di sini, di KRL yang riuh rendah

Menyadari diri tak sendirian, terasa juga ada kelegaan. Horas Bah.

2 comments:

  1. ada lagi salah satu perusahaan distributor bidang kesehatan/farmasi yang sangat terkenal yg bernama PT.DOS NI ROHA (www.dosniroha.com). saya pernah lihat salah satu motor dengan bak besar dijok belakang berlabel perusahaan tersebut. pengertiannya kira-kira "sepakat/sesuai dengan keinginan bersama" cmiiw. posting yang menarik bang eben. salam.

    ReplyDelete
  2. Horas Lae. Untung lae ingatkan saya tentang PT Dos Ni Roha itu. Dahulu tahun 1985-1990, saya tinggal di sebuah asrama di Jl Juanda 109, di Bandung. Persis sebelah asrama itu, kantor dari PT yang lae sebutkan. Saya tidak tahu apakah sudah pindah atau masih tetap berkantor di sana. Terimakasih sudah datang dan tinggalkan pesan. GBY

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...