Sunday, June 24, 2007

Kabar dari Siantar

(Telah Diluncurkan, Buku Kenalkan, Mansen Purba SH, Guru Saya ‘Marsimalungun')


Judul Buku : Kenalkan, Mansen Purba SH, Guru Saya ‘Marsimalungun’
Penulis : Eben Ezer Siadari
Jumlah Halaman : 62 Halaman
Penerbit : Bina Budaya Simalungun, Medan, 2007
Harga : Rp10.000



Buku ini adalah versi cetak dari tulisan berjudul serupa yang sudah tayang di The Beautiful Sarimatondang. Isinya merupakan cerita perkenalan penulisnya dengan Mansen Purba SH, tokoh politik, budaya dan gereja Simalungun. Perkenalan itu dipicu oleh tindakan norak dan dungu penulis, yang kemudian mengantarkannya mendalami pikiran-pikiran Mansen Purba. Selanjutnya itu lah yang membuat penulis menobatkannya dalam hatinya sebagai gurunya Marsimalungun.



Pada 9 Juni 2007 lalu buku ini resmi diluncurkan dalam acara peringatan ulang tahun ke 70 sang Guru Marsimalungun tersebut. Perayaan ulang tahun itu sendiri sudah didahului oleh upacara tanam 1000 pohon di Sondi Raya, daerah kelahiran sang Guru. Acara tanam pohon dan peluncuran buku itu, dilaporkan oleh koran Metro Siantar sebagai berikut:

Perayaan HUT 70 Mansen Purba SH, Ortu Marim Purba,Tanam 1000 Pohon di Sondi Raya

Dalam rangka perayaan Ulang Tahun ke-70 Mansen Purba SH, 3 Juni lalu, mantan anggota DPRD Provinsi Tingkat I Sumatera Utara itu melakukan penanaman seribu pohon di dekat Kantor Bupati Kabupaten Simalungun di Sondi Raya, Kecamatan Raya, Simalungun. Dalam kegiatan penanaman pohon itu, mantan orang nomor satu di Kota Madya Pematang Siantar, Marim Purba, yang juga anak kandung Mansen Purba, hadir. Mansen Purba didampingi istri Tuti Dora Rusnaini, Dr. Med Sarmedi Purba SpOG beserta keluarga.

Sebanyak 200-an pohon telah ditanami dengan varietas dari berbagai jenis seperti mangga, kemiri, petai, durian, pinus, dan lain-lain.

Kegiatan penanaman 1000 kayu di Raya ini bukan lah yang pertama kali. Tetapi pada perayaan Jubileum 100 tahun injil di Simalungun, tepatnya 2003 lalu, telah dilakukan penanaman kayu sebanyak 2000 pohon jenis meranti, ingul dan kemiri.

Dr. Sarmedi Purba mengatakan kegiatan menanami kayu itu direncanakan akan tetap berlanjut. Sedangkan pada bulan Februari 2007 pihak keluarga juga telah melakukan hal yang sama dengan menanam 2000 pohon. Ikut dalam kegiatan menanam pohon itu, kakak kandung Mansen Purba , Menna br. Purba mewakili keluarga dr. Djasamen Saragih. Ia mengharapkan kegiatan menanam 1000 pohon itu akan dijadikan sebagai kenangan untuk anak cucu kelak.

Setelah melakukan aksi menanam seribu pohon dilanjutkan dengan perayaan di Kompleks Rindam Siantar sekaligus peluncuran buku kecil berjudul, ‘Kenalkan, Mansen Purba SH, Guru Saya ‘Marsimalungun,’ oleh Ebenezer Siadari, terbitan Bina Budaya Simalungun, Medan,2007. Rencananya, buku tersebut akan dipasarkan di toko-toko buku di P.Siantar.

(Metro Siantar, 12 Juni 2007).


Buku mini ini lebih menekankan sisi human interest dari dua orang yang berasal dari generasi berbeda dalam membicarakan dan memahami Simalungun sebagai budaya, bahasa dan selanjutnya sebagai suku. Tipis dan mungil seukuran novel populer pada umumnya, buku ‘Marsimalungun’ ini boleh lah diibaratkan sebagai appetizer untuk mengenal lebih jauh pribadi mau pun pikiran-pikiran sang Guru. Menu utamanya kelak adalah sebuah buku yang ditulis sendiri oleh sang Guru, berupa buku semi otobiografi yang masih dalam tahap pengerjaan. Buku itu direncanakan disajikan dalam dua bahasa, Bahasa Simalungun dan bahasa Indonesia. Isinya antara lain memoar tentang masa kecil Mansen Purba SH di Pematang Raya, yang dulunya adalah ibukota Kerajaan Raya. Kerajaan ini punah oleh Revolusi Sosial beberapa tahun setelah Indonesia Merdeka. Mansen Purba sebagai salah seorang keponakan raja, banyak menuturkan kehidupan Raja Raya sehari-hari, yang bagi kebanyakan orang Simalungun sering kali hanya dikenali lewat mitos, legenda dan gosip. (Sebagian dari naskah buku itu sudah ditayangkan oleh Mansen Purba SH di blognya, http://marayak70tahun.blogspot.com ).

Kenalkan, Mansen Purba SH, Guru Saya 'Marsimalungun', oleh penerbitnya disuguhkan sebagai bagian dari upaya mengedukasi publik tentang pentingnya melestarikan budaya lokal, terutama Simalungun, sebagai bagian dari budaya bangsa. Secara terbatas, ia akan beredar di Pematang Siantar. Tetapi bagi siapa yang berminat, bisa juga menyurati penerbitnya di alamat berikut:
CV Bina Budaya Simalungun, Jl Karya 155, Medan 20117 (Telp. 061.6615253).

Begitu lah kabar dari Siantar.

P.S.
Foto koran Metro Siantar adalah kiriman Dr. Sarmedi Purba SPOG

3 comments:

  1. Dear Eben,
    I am reading Kabar Dari Siantar in Regen, in the middle of Bavarian Forest, Germany. I am becoming more aware the importance of reforestration of our country side in Simalungun.

    Here in Germany I see a fascinating forest between cultivated land in which every meter of land are utilized. What a beautiful landscape.

    To every village there are good roads with hot mix technology. Every house is connected to canalization system which are collected to Klaeranlage (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

    Sometimes I wonder why our big cities like Jakarta and also Pematangsiantar do not have such vital instalation . If our townships do have such closed system (no open canalization), we do not have to suffer from Dengue Hemorhagic Fever (DHF).

    I am longing for welfare state Indonesia.

    Best regards from Germany also to your beloved wife and son and have my appreciation for writing on the events on behalf of the 70th birth day of Mansen Purba (28 Juni 2007)

    Sarmedi Purba
    http://sarmedipurba.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Dear Mr. Sarmedi, thank you for visiting this blog and for sharing your love, faith and 'Dream' of Simalungun. I am happy to say you are not alone.

    regards,

    ReplyDelete
  3. wah, barusan saya berknjung ke blog nya pak Mansen, eh sekarang ga sengaja malah baca artikel tentang pak mansen juga.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...