Friday, June 15, 2007

Kapan Anda Terakhir Kali Menangis? (2)



Tatkala dulu saya menurunkan tulisan Kapan Anda Terakhir Kali Menangis ?(1),
ada rekan yang membacanya merasa terkecoh. Dia kira tulisan itu membahas faktor-faktor biologis yang menyebabkan orang menangis. Padahal, itu hanya sebuah refleksi personal belaka, tentang peristiwa-peristiwa apa saja yang membuat saya menangis.

Namun, terus terang, kejadian itu mengganggu saya. Pertanyaan mengapa orang menangis dan mengapa menangis itu menjadi sesuatu yang ‘istimewa’ bagi manusia, cukup lengket di benak saya. Untuk dicari jawabannya. Bukan karena semata ingin memberi jawaban kepada rekan yang bertanya, melainkan juga untuk diri sendiri. Karena, memang aneh juga. Kenapa menangis, salah satu perilaku alami manusia, harus dengan malu-malu kita
lalukan kalau bukan karena terpaksa.

Pertanyaan itu kembali mengemuka ketika saya membaca sebuah posting Mansen Purba SH di blog pribadinya bernama http://marayak70tahun.blogspot.com. Postingnya itu sebetulnya adalah perihal liturgi pada perayaan ulang tahunnya yang ke 70. Tetapi dalam tulisan pengantarnya, yang disajikan dalam Bahasa Simalungun yang manis, santun dan rapi, ada dia bercerita tentang berurainya air matanya.

Pak Mansen Purba SH, yang saya anggap sebagai ‘Guru’ saya dalam proses menjadi dan sebagai orang Simalungun (Marsimalungun) adalah salah seorang pemuka politik, budaya dan gereja di Kabupaten Simalungun. Dugaan saya, makin jarang kita menemukan tokoh yang demikian lengkap. Dan akan makin langka lagi, bila di usianya yang ke 70, kita mempertimbangkan aktivitasnya sebagai blogger, yang mendokumentasikan dan menyiarkan pikiran-pikirannya lewat blog pribadinya. Baik yang di http://mansenpurba.blogspot.com, berisi pernak pernik pemikirannya yang ditulis dalam Bahasa Simalungun, mau pun di http://marayak70tahun.blogspot.com, yang merupakan kumpulan tulisan yang dia persiapkan sebagai otobiografinya (juga berbahasa Simalungun). Blognya yang lain, dalam bahasa Indonesia adalah Barung-barung Ni Mansen Purba SH. Menurut saya, dia lah satu dari sedikit orang seuzur dia di negeri ini yang tekun ngeblog, baik dari rumahnya, mau pun dari warnet. Dalam hati saya selalu berharap-harap, kapan, ya, harian Kompas mengangkatnya sebagai salah seorang tokoh yang bakal diulas, di rubrik Sosok, di halaman 16-nya yang legendaris itu? Bila saya bandingkan dengan tokoh-tokoh yang sudah pernah dimuat di sana, Mansen Purba SH sudah bisa dijejerkan dengan mereka.

Dalam cerita ketika mengantarkan liturgi ulang tahun ke 70 nya itu, ia berkisah seperti di bawah ini. Aslinya ia menulis dalam Bahasa Simalungun, tetapi sudah saya terjemahkan:

Sebulan sebelum hari ulang tahun saya yang ke 70, Marim, anak saya nomor dua, mengajukan usul agar acara doa syukur perayaan ulang tahun itu diadakan di rumahnya. Tepatnya di Jl. Komando No 1 Pematang Siantar. Selanjutnya, ia juga menyarankan agar hajat itu diselenggarakan pada Sabtu 9 Juni, 2007, walau pun sebenarnya hari ulang tahun saya adalah pada Minggu Trinitatis 3 Juni 2007.

Setelah berunding dengan istri, kami menyetujui usul itu. Bahkan memang lebih baik begitu. Soalnya, Wanita GKPS Sambu Baru (Medan) berencana menyelenggarakan rekreasi ke Parapat. Berangkat hari Sabtu dan pulang 3 Juni 2007. Walaupun usianya sudah mendekati 65 tahun, istri saya masih rajin mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Wanita GKPS Sambu Baru.

Maka yang tersisa di rumah kami, di Medan, pada hari ulang tahun saya, hanya tiga orang, yakni saya, Jumpatuah (menantu, yang mempersunting putri keempat saya, Lydia) dan Laura, anak tertua mereka.

Sebenarnya, ulang tahun saya dan Laura jatuh pada hari bersamaan. Pada 3 Juni 2007 Laura genap berusia 14 tahun. Namun karena ia mengikuti ulangan pada hari Sabtu itu, dan pada hari Minggunya ia juga masih punya kegiatan di sekolah, Laura urung berangkat ke Parapat bersama neneknya. Adik-adiknya, Fifi, Eva dan Martin turut serta dibawa sang nenek mengikuti rombongan Wanita GKPS Sambu Baru.

Jadinya saya seolah-olah sendirian saja berada di rumah, menanti-nantikan genapnya usia saya 70 tahun. Dan tatkala tanggal 3 Juni tiba, Jumpatuah menjabat tangan mengucapkan selamat pada saat saya akan berangkat ke gereja.

Ketika ibadah usai, beberapa orang kenalan di gereja itu juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Di warta gereja memang ada dicantumkan nama-nama penatua gereja yang berulang tahun hari itu.

Pada saat itu saya membagikan buku Kenalkan, Mansen Purba SH, Guru saya Marsimalungun (ditulis oleh Eben Ezer Siadari) kepada siapa saja yang menyapa saya dan mengucapkan selamat pada Minggu Trinitas, hari ulang tahun saya tersebut. Dari hal itu pula saya dapat menghitung berapa orang yang menjabat tangan saya. Kira-kira ada 17 dari sekitar 100 orang yang mengikuti ibadah. Termasuk ke dalam yang 17 ini, satu-dua orang yang ikut-ikutan mengucapkan selamat karena mereka melihat ada orang yang mendapatkan buku setelah menjabat tangan saya. Mereka rupanya ingin kebagian juga. (Dari sini lah saya mengamati bahwa meskipun warta gereja sudah cukup lama disebarluaskan secara tertulis lewat semacam bulletin--dan tidak dibacakan lagi—tampaknya belum banyak yang tergerak untuk membacanya. Seandainya pun mereka membacanya, kemungkinan hal itu dilakukan di rumah saja.).

Pada Selasa, 5 Juni 2007, kami berangkat ke Siantar, dengan niat dapat tinggal beberapa malam di rumah Marim, anak kami. Keesokan harinya kira-kira pukul 5 hingga 6 sore, Pendeta Bonar L. Tobing dari STT Nommensen, berkunjung menemui saya. Rupanya, Marim telah meminta Pendeta Tobing untuk memimpin acara doa syukur ulang tahun saya yang akan diadakan beberapa hari lagi. Ada beberapa pertanyaan Pendeta Tobing kepada saya. Agaknya dari pertanyaan-pertanyaan itu lah ia berharap dapat menyusun liturgi doa syukur yang relevan dengan hari ulang tahun saya dan adik saya, Ned Riahman.( Ned Riahman berulang tahun pada 9 Juni).

Saya tak bisa menahan air mata tatkala menjawab pertanyaan-pertanyaan Pendeta Tobing. Soalnya saya harus menjelaskan sejumlah pengajaran yang pernah saya dapatkan dari almarhum ayah dan ibu. (Memang, urat syaraf mata saya sudah rusak ketika dulu saya sempat terkena stroke ringan. Itulah yang menyebabkan saya mudah meneteskan air mata; biasanya saya cukup kuat untuk menahannya. Begitu saya diingatkan akan kebaikan dan kasih dari almarhum ayah dan ibu, air mata saya berlinang menjawab pertanyaan Pendeta Tobing).

Hari Jum'at, sehari sebelum acara doa syukur itu, Pendeta Tobing mengirimi saya liturgi yang sudah ia siapkan melalui surat-e. Kembali saya tak dapat menahan tangis. Seolah-olah apa yang ia tanyakan beberapa hari lalu yang menjadikan saya berurai air mata tergambar kembali dalam liturgi yang dikirimkannya itu. (Liturgi yang khusyuk dan mengharukan itu, disusun dengan mengikuti liturgi ala gereja Timur. Dapat dilihat di http://marayak70tahun.blogspot.com)

Marim kemudian memperbanyak liturgi tersebut. Kira-kira 250 eksemplar banyaknya. Itu lah yang menjadi panduan kami beribadah pada acara doa syukur ulang tahun saya yang ke 70 dan ulang tahun adik saya, Ned Riahman Purba yang ke 65.

Juga pada saat acara doa syukur itu, air mata saya tak henti-hentinya berderai walau pun saya berusaha mencegahnya. (Dari jauh, saya juga melihat abang saya Asang, ikut berurai air mata).





***
Dulu saya pernah bercerita, bahwa di balik sifat keras dan tegar yang kerap disematkan kepada pria Batak (apakah itu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing dan lainnya) sesungguhnya tersimpan sifat yang oleh kebanyakan orang dianggap rapuh. Yakni mudah terharu dan menangis. Dalam berbagai pertemuan keluarga, saling bertangisan kerap jadi acara yang penting dan memakan waktu.

Anehnya, pria Batak selalu berusaha menyembunyikan, sebisa mungkin, tangisannya. Pria Batak selalu malu bila ketahuan menangis. Pria Batak tak sudi dianggap sebagai orang cengeng, lembek. Dan julukan itu dengan mudahnya disematkan pada pria yang kedapatan menangis.

Dan, ternyata, bukan hanya budaya suku di Indonesia yang menempatkan tangisan di tempat yang demikian. Di Amerika pun, pandangan serupa pernah jadi ulasan yang menarik. Itu, misalnya, terlihat dari tulisan Ashley Montagu, profesor antropologi pada sejumlah universitas di negeri Paman Sam itu. Ia banyak menulis buku, diantaranya, On Being Human (1950), The Natural Superiority of Women (1953), Culture and the Evolution of Man (1962), The Nature of Human Aggression (1962), Man and the Computer (1972) dan American Way of Life (1952). Dari bukunya yang disebut terakhir ini lah tulisan berikut diambil untuk kemudian disajikan sebagai salah satu bacaan dalam buku Crossing Cultures, Reading for Composition karangan Henry Knepler/Myrna Knepler (1983). Dari buku karya pasangan Knepler itu pula saya menerjemahkannya secara amburadula di bawah ini.


Lelaki Amerika tak Boleh Menangis

Lelaki Amerika tak boleh menangis karena dianggap tak maskulin jika dia begitu. Hanya perempuan yang menangis. Menangis adalah karakter lemah dari perempuan dan tak ada pria Amerika yang ingin dikenali melalui sesuatu yang paling lemah atau keperempuan-perempuanan. Menangis, dalam budaya kita, dicap sebagai sifat kekanak-kanakan, lemah dan tidak mandiri. Tidak ada diantara kita yang suka pada tangis bayi dan bahkan kita berusaha mencegah agar orang tidak menangis, termasuk anak-anak. Di negeri yang demikian lekatnya tujuan hidup bahagia seperti di negeri kita, Amerika, menangis sungguh dianggap sesuatu yang tidak Amerika. Orang dewasa harus belajar untuk tidak menangis pada situasi dimana anak-anak dimungkinkan untuk menangis. (Di lain sisi) Wanita adalah jenis kelamin lemah dan tidak mandiri sehingga wajarlah jika mereka menangis pada situasi emosional tertentu. Pada wanita, menangis bisa dimengerti. Tetapi pada lelaki, menangis adalah suatu tanda kelemahan.

Begitu lah kredo Amerika perihal menangis.

“Anak muda,” kata kita kepada anak-anak lelaki kita, “tidak pernah menangis. Hanya perempuan dan bayi yang melakukannya.” Dengan begitu, kita menciptakan kondisi sehingga kaum pria Amerika tidak akan menangis di saat mereka mungkin ingin melakukannya. Ini terjadi bukan karena adanya jam biologis di dalam tubuh mereka yang menyebabkan kapasitas mereka untuk menangis makin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, melainkan karena mereka memang terlatih (dan dilatih) untuk tidak menangis. Tidak ada ‘anak muda’ yang ingin menjadi ciptaan inferior, seperti halnya wanita. Dan sebutan paling buruk untuk pria semacam itu adalah sissy atau crybaby. Sehingga para ‘anak muda’ selalu berusaha menekan keinginan untuk menangis dan mereka terus saja melakukannya sampai kemudian mereka tak sanggup lagi menangis pada saat mereka perlu untuk menangis. Artinya, kita menciptakan ketidakmampuan menangis pada pria Amerika.

Hal ini tidak baik.

Kenapa? Karena menangis adalah fungsi alami bagi organisme manusia yang didisain untuk memulihkan ketidakseimbangan emosionalnya ke tingkat keseimbangannya. Kembalinya ketidakseimbangan sistem organ tubuh ke tingkat yang lebih mapan atau disebut juga stabilitas dinamis, dikenal dengan sebutan homeostatis. Menangis bekerja sebagai fungsi homeostatis untuk organisme secara keseluruhan. Tiap kali terjadi penyimpangan pada mekanisme homeostatis, akan menciptakan kerusakan pada organisme. Dan, sangat beralasan bagi kita untuk percaya bahwa ketidakmampuan pria Amerika untuk menangis akan merusak diri mereka secara serius.

Tidak berarti menangis bisa dilakukan kapan saja kita mau, tetapi kita hendaknya mampu menangis di saat kita harus menangis –ketika kita perlu menangis. Menangis dalam kondisi ketidakseimbangan emosi tertentu sangat penting untuk memelihara kesehatan.

Adalah manusiawi bercucuran air mata. Dari keseluruhan mahluk alam, hanya spesies manusia dianugerahi air mata. Ketidakmampuan manusia untuk meneteskan air mata (yang diperoleh secara terlatih oleh kebiasaan dan pandangan tentang tidak maskulinnya menangis, penerjemah) mengurangi kapasitasnya sebagai manusia –suatu kesalahan yang biasanya makin dalam daripada sekadar tak bisa menangis. Dan, hal ini, diantara banyak hal lainnya, merupakan ‘prestasi’ para orang tua Amerika –yang dengan segala niat baiknya—terhadap para pria Amerika.

Ini menyedihkan.

Dan, jika kita memang dapat merasakan (kesedihan) ini, marilah kita semua menangis yang baik –dan menjernihkan pikiran kita dari perangkap yang selama ini telah membingungkan kita yang menyebabkan kita tak bisa memahami pentingnya menangis.




***

Indonesia tampaknya perlu menangis. Tetapi menangis yang baik, seperti yang dimaksudkan Montagu. Menangis demi menjernihkan pikiran. Menangis demi mengembalikan keseimbangan kita yang sempat terganggu. Dan itu berarti bukan tangisan massal yang jadi komoditas seperti pada banyak ritual yang kita saksikan. Atau tangisan semu seperti yang muncul dari wajah-wajah berlumur bedak dan eye shadow di acara infotainment. Atau tangisan pesanan yang dipertontonkan pengunjuk rasa bayaran.

Membaca kesan Pak Mansen di hari ulang tahunnya, saya yakin, dengan tangisannya itu, ia pasti akan bertambah sehat, panjang umur dan makin produktif lagi ngeblog. Selamat Ulang Tahun, Pak.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...