Wednesday, June 06, 2007

May Day


May Day, kita tahu, jatuh pada tanggal 1 Mei. Ini adalah peringatan hari buruh sedunia. Di banyak negara ini dijadikan hari libur. Di Indonesia tidak. Dan hal itu sudah ditegaskan oleh Wakil Presiden beberapa hari lalu.

Di rumah kami yang mungil dan hanya berpenghuni empat orang, biasanya May Day berlalu datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa. Saya berangkat ke kantor sebagaimana rutinnya. Putri saya berangkat ke sekolahnya. Istri saya beres-beres di rumah, dibantu si Mbak yang bekerja all round.

Tapi May Day tahun ini agak istimewa. Sebab persis hari itu, si Mbak pulang kampung. Mulanya ia minta agar ia diizinkan cuti selama dua minggu. Wah, istri saya menggerutu. Setelah ada negosiasi, akhirnya si Mbak ngalah dan cuti itu jadi satu pekan.

Sebetulnya kami berusaha membujuk si Mbak agar jangan pulang dulu persis pada May Day. Mbok diundur toh beberapa minggu sesudahnya, bujuk istri saya. Tetapi si Mbak tak bisa ditawar dalam hal ini. Kakaknya akan menyelenggarakan hajatan tujuh bulanan, dan si Mbak berperan aktif untuk mengurusi hajatan itu. Apa mau dikata. Kami tak bisa bilang apa-apa.

Mengapa kami ingin sekali agar si Mbak jangan pulang persis pada 1 Mei, yang merupakan May Day itu? Jangan salah tebak. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan hari buruh. Penyebabnya sebetulnya sepele bagi ukuran kebanyakan orang tetapi benar-benar gawat-darurat bagi kami. Kenapa? Karena pada hari itu, istri saya mulai bekerja (kembali). Sudah dua bulan ini dia bolak-balik diinterview oleh pengurus sebuah Panti Werda (jompo) tak jauh dari pemukiman kami. Akhirnya ia diterima untuk menangani dapur Panti tersebut. Syukur alhamdulillah. Ini benar-benar yang kami inginkan. Tidak jauh beda dengan pekerjaannya dulu sebagai trainer dan kitchen staff sebuah restoran Amerika. Juga relevan betul dengan tataboga, jurusannya semasa kuliah. Dan yang paling utama: tempat kerjanya bisa ditempuh hanya dalam 15 menit dari rumah.

Kami sudah hampir merayakannya dengan makan ala Korea yang murah meriah di kaki lima Pasar Modern BSD kalau saja tidak ada ‘interupsi’ tak diinginkan dari pulang kampungnya si Mbak pada ‘hari penting’ itu. Pulangnya si Mbak benar-benar membuat pusing kepala memikirkan bagaimana kira-kira pembagian kerja kami dalam sepekan itu.

Saya dan istri akhirnya menginventarisir sejumlah pekerjaan. Lalu masing-masing kami memilih sesuai dengan preferensi kami. Berikut ini daftar 10 pekerjaan itu. Tanda (+) adalah pekerjaan yang saya pilih (bukan karena saya suka, melainkan saya anggap lebih tidak menyebalkan dibanding pekerjaan lain) sedangkan yang bertanda (*) pekerjaan buat istri saya.

1. Menyapu (+)
2. Mengepel (*)
3. Memasak (*)
4. Melipat Selimut (+)
5. Mencuci Piring (*)
6. Mencuci Pakaian (*)
7. Menjemur (*)
8. Menyetrika (*)
9. Mengeluarkan Motor (+)
10. Mengantarkan Marty ke sekolah dan ‘tugas luar’ lainnya (+)
(Catatan: tugas luar ini meliputi membeli beras ke warung, memesan Aqua galon dan gas, membayar rekening listrik dan telepon dll).

Saya sudah lupa bagaimana selama sepekan itu kami melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Seingat saya, baik saya mau pun si ‘nyonya rumah’ alias istri saya tidak benar-benar melaksanakan semua pekerjaan yang jadi bagiannya. Kalau pun dikerjakan, tidak sempurna betul.

Sejak lama kami berdua sudah saling tahu ‘kartu’ masing-masing. Ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang samasekali tidak kami sukai. Tetapi kini harus kami lakukan. Istri saya, misalnya, paling sebal bila disuruh menyetrika pakaian. Hasil setrikaannya pun tak pernah rapi. Berbeda dengan jika ia diminta mencuci pakaian (dengan mesin cuci, tentu). Ia justru menikmatinya.

Saya sendiri, baik menyetrika, apalagi mencuci, sama-sama tak saya sukai. Mencuci dengan mesin cuci tak pernah menarik buat saya, karena saya sering dibingungkan oleh tombol-tombolnya. Saya lebih menikmati mencuci ala tradisional. Membasuh dan mengucek-ucek pakaian-pakaian yang berbusa oleh sabun, lantas menyikatnya langsung di lantai kamar mandi. Tetapi, sudah kuno kan cara begitu? Dan seisi rumah akan merasa malu habis-habisan bila saya sudah mulai mencuci ala kampung begitu. Lalu karena jengah melihat cara mencuci yang norak demikian, istri saya pun mengambil alih pekerjaan mencuci tersebut. Blessing in disguised bagi saya.

Pelajaran paling penting dari May Day kali ini adalah dalam hal mengepel. Sejak pagi-pagi ketika rencana pembagian kerja itu kami rumuskan, saya sudah melontarkan veto bahwa saya jangan kebagian pekerjaan mengepel. Istri saya setuju saja, sebab dia justru senang akan pekerjaan itu. Sebaliknya, ia melancarkan ultimatum agar saya yang mengambil alih pekerjaan menyapu. Ia tampaknya tak menyukai pekerjaan ini sementara saya menganggap ini lebih ringan ketimbang mengepel.

Eh, di sini lah saya baru tersadar dan merasa mendapat pelajaran. Ternyata mengepel lantai zaman sekarang ini sudah demikian praktisnya. Yang diperlukan hanya lah memasukkan larutan pembersih lantai ke dalam ember dan mencampurnya dengan air. Lalu dengan alat pel bertangkai (saya lupa namanya) lantai siap dipel. Di tangan istri saya, alat itu seperti menari saja ketika ia liuk-liukkan menyapu lantai, di sela-sela kursi dan meja.

Wah, kalau begitu saja sih, saya juga bisa mengerjakannya....

***

Kawan-kawan seusia dan sekampung saya mungkin tak pernah bisa lupa bagaimana repot dan menyebalkannya pekerjaan mengepel tatkala kita masih kanak-kanak dulu. Saya memang tak pernah merasakannya. Maklumlah, saya ini anak cowok yang dimanja (ehm..ehm). Dan di rumah kami ada banyak kerabat yang suka bantu-bantu. Meskipun demikian tetap saja saya dapat merasakan betapa tak enaknya pekerjaan mengepel.

Bayangkan saja, rumah-rumah di Sarimatondang waktu itu umumnya berdinding kayu dan berlantai semen yang benar-benar semen. Tanpa keramik. Mungkin untuk menghemat biaya, plesteran yang jadi lapisan terakhir lantai itu kadang-kadang seadanya saja. Menyebabkan permukaan lantai tidak rata. Di bagian yang agak dekat ke pintu masuk, masih terasa licin tetapi bila sudah agak mencapai ke arah dapur, permukaannya kasar seperti babat kerbau.

Untuk mengepel lantai semacam ini tentu lah butuh tenaga ekstra. Dulu deterjen pembersih lantai belum dikenal. Begitu juga dengan peralatan-peralatan lainnya. Cairan yang digunakan sebagai pembersih adalah campuran antara minyak tanah dan minyak goreng serta lilin yang dilelehkan. Sementara alat pel adalah potongan kain sisa atau pakaian sobek yang tak terpakai lagi.

Setidaknya ada tiga tahap dalam proses mengepel itu. Pertama, lantai kering dibersihkan dengan sapu. Proses ini saja sudah tampak demikian repotnya. Soalnya, ini bukan sembarang pekerjaan menyapu biasa. Sebelum ruangan itu dibersihkan, sofa, meja dan kursi-kursi kecil digeser, bahkan kerap dipindahkan ke teras. Dengan begitu, ruang tamu benar-benar lapang. Dan, proses menyapu jadi mudah dan tuntas.

Setelah ruangan yang lapang itu selesai disapu, tahap berikutnya adalah 'membilasnya' dengan air bersih. Proses membilas ini berlangsung sebagaimana cara mengepel secara tradisional. Sembari berjongkok, kita melap lantai dengan kain basah yang sudah diperas. Mungkin maksud dari proses ini adalah untuk menghilangkan debu yang masih lengket di lantai.

Ada kalanya proses membilas ini tak hanya sekali. Mereka yang kerajinannya super, seringkali tak puas jika tak membilasnya berkali-kali.

Jika ini sudah rampung, baru lah tahap akhir dimulai. Cairan pembersih berupa campuran minyak tanah, minyak goreng dan lelehan lilin itu kali ini menggantikan air bersih. Lap basah dimasukkan ke dalam cairan ini untuk kemudian diusapkan ke lantai. Saya sesungguhnya tak tahu persis apa kegunaannya. Dugaan saya, efek mengkilap dan licin lah yang diharapkan dari proses ini. Plus, konon, hasilnya akan bertahan lebih lama ketimbang dipel dengan air bersih belaka.

Bila itu selesai, selesai sudah lah pekerjaan mengepel. Namun, jangan harap masalah sudah beres. Sebab di kala demikian, semua orang tanpa kecuali tidak diperbolehkan masuk ke ruang tamu. Semuanya harus mendekam di dapur atau di teras rumah. Paling tidak dibutuhkan waktu satu jam untuk menunggu agar lantai agak kering kembali. Pada saat itu lah kursi-kursi dan meja dimasukkan ke dalam ruangan.

Demikian repotnya pekerjaan mengepel itu, menyebabkan tak mungkin lah itu dikerjakan setiap hari. Seingat saya, pekerjaan mengepel paling banter dilakukan dua kali seminggu. Itu pun hanya terjadi pada rumah yang penghuninya banyak anak gadisnya. Entah itu putri si pemilik rumah atau ada yang kos di sana.

Pekerjaan mengepel yang paling umum berlangsung pada Sabtu sore. Biasanya anak-anak gadis seolah berlomba mengepel rumah masing-masing pada hari itu. Tak jarang mereka saling pinjam peralatan. Tampaknya para anak gadis itu merasa kurang sreg menyambut malam minggu dengan lantai rumah yang tak mengkilap. Siapa tahu, bukan, pujaan hatinya datang berkunjung?

Sabtu sore makin sibuk dengan pekerjaan mengepel itu manakala putri-putri asal kampung kami pulang dari Pematang Siantar, ibukota kabupaten tempat mereka mondok untuk sekolah setingkat SMA. Mereka ini pun kerap langsung terjun mengepel rumahnya di hari Sabtu. Satu-dua orang dari mereka kerap datang dengan 'inovasi' baru dalam tatacara mengepel. Inovasi itu tentu lah mereka bahwa dari pergaulan mereka di ibukota.

Ruangan yang sudah dipel memang terasa bedanya. Lantai semen yang berwarna gelap, jadi tampak mengkilap diterangi cahaya lampu petromaks. Memang, ketika kaki kita jejakkan, adakalanya terasa lengket. Kala lain, karena begitu licinnya, kita bisa juga terjerembab. Anak-anak biasanya akan serta-merta diperingatkan untuk tidak berlari-lari di lantai yang baru saja dipel.

^^^
RUmit dan ribetnya ngepel di masa lalu itu lah yang saya bayangkan sehingga saya menghindari dari tugas mengepel. Tak tahunya, kini proses mengepel sudah demikian ringannya. Seminggu di masa-masa May Day itu benar-benar sebuah pelajaran. Bahwa banyak hal kini sudah berubah. Banyak hal kini sudah lebih mudah. Maka kalau putri saya selalu saja mengeluh ketika saya memintanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan di rumah, ingin sekali saya bercerita betapa beratnya mengepel di zaman dahulu kala itu dan betapa mudahnya kini hal itu dilakukan. Mudah-mudahan ia jadi mengerti. Bahwa seharusnya ia bersyukur hidup di zaman kini. Atau malah ia akan mencap kita orang tua kuno yang lebih cocok masuk museum?

3 comments:

  1. Anonymous4:25 AM

    Wah repot betul ngepel jaman dulu itu ya?

    ReplyDelete
  2. he.he.he.tulisan yg menarik bang ben. saya jd teringat masa kecil dulu di sidikalang. kalau bang ben termasuk beruntung tidak merasakan mengepel ala tradisional itu, kalau saya sebagai bungsu dari 2 bersaudara (laki2 smua) mau ga mau harus belajar mencuci, memasak dan mengepel lantai juga :) cuma agak beda di tahap ketiga saat cairan minyak tanah + lilin dilap ke lantai saya dulu ga pakai kain basah tp kain kering. hasilnya lebih mengkilap kin clong :)

    ReplyDelete
  3. horas lae. wah, kalau sekarang, masihkah bisa mempraktikkan cara ngepel tempo dulu itu? :-). mungkin lae yang benar perihal tahap ke-3 ngepel cara tradisional itu. mungkin sebaiknya pakai lap kering.

    tabik

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...