Wednesday, June 13, 2007

Serasa di Sarimatondang



22 Mei 2007
Udara pagi desa Sarua tempat kami tinggal terasa menusuk. Hujan tadi malam masih menyisakan rumput-rumput yang basah di kanan-kiri jalan. Jarum jam menunjuk 06:43. Saya mengendarai motor dengan kecepatan sedang, menantang angin pagi yang basah dan tajam. Sudah hampir sebulan terakhir saya bertugas sebagai ‘tukang ojek’ mengantarkan istri yang mulai bekerja (kembali). Tempat dia bekerja bisa ditempuh tak lebih dari 10 menit mengendarai motor dari rumah kami. Dan bepergian pada pagi hari begitu di jalanan yang masih belum ramai sungguh saya rasakan merupakan rekreasi rutin yang berharga.

“Kalau mencium bau asap seperti ini, saya jadi ingat Sarimatondang. Serasa pulang kampung,” celutuk istri saya dari belakang. Kami memang sedang melalui kepulan asap ringan yang datangnya dari sampah-sampah yang dibakar. Satu-dua rumah di perkampungan menuju tempat dia bekerja itu tampak tengah dibersihkan oleh pemiliknya. Dan mereka membakar sampah-sampah di pekarangannya.

“Apanya yang membuat ingat Sarimatondang?” tanya saya, memperjelas.

“Ya, di Sarimatondang kan, kalau sore-sore, orang selalu bersih-bersih di pekarangan rumah. Pasti bakar sampah. Kalau kita ke kebun, juga pasti bikin api unggun, membakar-bakar kayu atau daun-daun kering dulu baru bekerja. Baunya persis kayak gini nih….” istri saya menyahut.

Dalam hati saya tertawa girang. Paling tidak saya bangga juga lah sedikit. Dia yang suka meledek saya sebagai orang kampung yang noraknya sampai ke langit yang ketujuh, toh ternyata menyimpan juga sesuatu kesan tentang kampung saya yang udik dan juga norak itu. Istri saya yang dilahirkan di Jakarta, yang mengaku orang modern dan sudah dibawa ibunya mengenal dokter gigi sejak berumur lima tahun (bandingkan dengan saya yang baru berani menyambangi klinik gigi di RS Cikini setelah punya anak, itu pun karena terpaksa oleh pipi bengkak dan gigi yang berlubang), ternyata mencatat juga dalam hatinya apa-apa yang dilihatnya manakala saya ajak pulang kampung. Hati pria norak mana yang tak luluh manakala ada orang yang mau berbagi nostalgia tentang kampung halamannya?

“Bedanya, kalau di Sarimatondang kita bisa bakar-bakar sampah sambil bakar singkong dan jagung. Tinggal ambil dan petik saja dari kebun. Kayu-kayu pun banyak untuk dibakar. Di sini, boro-boro mau nanam singkong. Buat bikin jemuran aja pekarangan sudah nggak cukup.” Istri saya masih terus berceloteh.

“Enak lho, singkong yang dibakar langsung di atas kayu yang sudah jadi bara. Singkongnya nggak usah dikupas dulu sewaktu membakar. Nanti setelah matang baru dikupas. Wah, pas banget, apalagi kalau kita sudah capek dan lapar bersih-bersih kebun.” Istri saya masih terus berkata-kata. Nalurinya tentang makanan yang enak-enak tak bisa ia sembunyikan.

Saya tak menyahut. Pikiran saya sibuk membayangkan pekerjaan ‘bakar-membakar’ sampah seperti yang dikatakannya itu….




***
Memang betul observasi istri saya. Membuat semacam api unggun untuk membakar sampah di pekarangan rumah hampir dapat dikatakan acara rutin di kampung halaman kami dulu. Paling tidak sekali dalam tiga hari. Dan, jangan bayangkan yang dibakar itu seperti sampah di Jakarta. Bukan. Sampah itu bukan campur-aduk segala macam limbah dari dapur yang baunya auzubillah. Sampah-sampah kampung biasanya adalah daun-daun luruh dari pohon-pohon di pinggir jalan, rumput dan semak kering hasil proses menyiangi lahan, dahan dan ranting, kulit pisang, sepah-sepah tebu, batok kelapa dan sebagainya.

Sampah-sampah itu awalnya berserakan di jalan atau di halaman rumah. Lalu disapu, dikumpulkan di pojok pekarangan membentuk gundukan secukupnya. Lalu setelah menuang sedikit minyak tanah, ayah akan memantikkan mancisnya untuk menciptakan apa yang oleh kami anak-anak dianggap sebagai klimaks: lidah api makin lama makin berkobar. Menyisakan bara merah pada kayu-kayu di dasar gundukan.

Selalu kami anak-anak menikmati proses membuat api unggun itu. Apalagi bila kita merasa sudah terbebas dari pekerjaan tetek bengek di rumah. Sampai sore berganti malam barulah kami masuk ke rumah. Bara api itu kami pandangi layaknya kembang api yang berpendar menerangi malam.

Saya menduga bukan kami anak-anak saja yang menikmati acara api unggun dalam rangka membakar sampah itu. Ayah juga. Sering kali saya menyaksikan ia menyenang-nyenangkan diri dengan membuat api unggun, manakala ia sudah tak punya sesuatu dikerjakan di rumah. Atau pikirannya mungkin sudah lelah sehabis memeriksa kertas-kertas ulangan murid-muridnya. Atau mungkin ia ingin membuang rasa suntuk akibat kantong yang kempes di akhir bulan?

Membuat api unggun lebih seru lagi manakala dilakukan di ladang atau di kebun. Dalam ingatan saya, kebiasaan semacam ini bukan hanya dilakukan ayah dan ibu, tetapi terutama oleh kakek dan nenek. Kebun itu lebih kurang satu kilometer jaraknya dari rumah dan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Macam-macam tumbuhan ada di sana. Mulai dari cengkeh, kopi dan nanas. Juga secara sporadis ditumbuhi pohon durian, pisang dan jambu klutuk.

Pekerjaan rutin yang kami lakukan adalah menyiangi rumput di sela-sela tanaman. Kecuali itu, kami juga menyapu daun-daun cengkeh yang berguguran di bawah pohonnya. Daun-daun kering dan basah itu dikumpulkan di satu tempat. Lalu dibakar. Jadilah api unggun . Ada kalanya gundukan api unggun itu tiga sampai empat tempat. Menyebabkan kepulan asapnya seperti tiang-tiang yang menjulang ke langit. Mengingatkan saya pada cerobong asap di kawasan industri. Nenek saya terutama, selalu meletakkan daun-daun yang agak basah di bagian atas api unggun. Itu berfungsi meredam nyala api yang terlalu besar, sehingga hanya di bagian bawah api unggun yang terlihat nyala api, sedangkan ke bagian atasnya adalah kepulan asap.

Ketika api pembakaran itu sudah tinggal bara, biasanya kami memanfaatkannya untuk membakar macam-macam hasil kebun untuk dijadikan cemilan selingan sambil bekerja. Kadang-kadang kami membakar singkong, ubi jalar atau talas. Kala lain pisang. Sekali-dua kali, ketika ada yang beruntung berhasil membidik burung dengan ketapelnya (apa nih, bhs Indonesianya?), kami bisa menikmati daging burung panggang. Sewaktu saudagar Tionghoa yang jadi juragan cengkeh datang dari Kota, untuk ‘menginspeksi’ kebun nenek tempo hari, ia membawa senapan anginnya. Dan kami pun berpesta panggang tupai pada sore-sore di sela-sela membakar sampah itu. Sementara ibu saya, paling getol mencari jangkrik untuk dibakar dan kemudian dimakannya.

***
Awalnya saya menduga kebiasaan membuat api unggun di ladang hanya sekadar untuk melenyapkan sampah. Ternyata tidak. Makin lama makin saya sadari, baik kakek mau pun nenek memang menjadikan pekerjaan menyalakan api pembakaran itu sebagai bagian penting dari pekerjaan berkebun. Saya katakan begitu karena walau pun daun-daun luruh dari pohon cengkeh sudah tidak ada, rumput-rumput kering pun tak terlalu banyak berserakan, toh sambil melakukan pekerjaan berkebun itu mereka pasti juga menyalakan api unggun. Selalu ada saja kayu-kayu kering, entah bekas tiang gubuk yang tak terpakai lagi, atau sisa tebangan pohon yang sudah membusuk, yang dijadikan bahan untuk dibakar.

Ternyata tradisi baker-membakar sebelum bekerja di kebun (atau ruang terbuka lainnya) bukan cuma monopoli petani di kampung kami. Saya ingat setahun lalu, ketika setiap akhir pekan mengunjungi rumah mertua di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Di depan rumah itu ada tanah kosong yang oleh pemiliknya sedang dibangun sebuah rumah yang lumayan besar. Tak mengherankan bila tukang yang bekerja disitu butuh waktu berbulan-bulan mengerjakannya.

Setiap kali tatkala saya ke sana, saya selalu menghabiskan waktu beberapa menit berbasa-basi dengan pekerja di situ. Dan sambil begitu, pasti saya melihat salah seorang diantara anggota tukang itu menyalakan api unggun manakala mereka akan memulai kerja. Nyala api unggun itu tidak terlalu besar. Kadang kala hanya asapnya lah yang mengepul. Iseng-iseng saya bertanya kepada mandornya, apa gunanya api unggun selalu dinyalakan sambil mereka bekerja bertukang. Sang mandor menatap saya sekelebat, lalu membuang muka seolah menyeringai. Tapi kemudian dengan seolah nyaris tak terdengar, dia berkata supaya tak ada orang yang kesambit setan....

Wah, kok jawaban Pak Mandor hampir serupa dengan bisik-bisik bernada magis yang dahulu sering juga diceritakan dari mulut ke mulut oleh penduduk kampung kami. Konon, api unggun di ladang yang dinyalakan sambil bekerja berguna untuk mengusir ‘roh halus’ yang suka mengganggu di kala kita bekerja di ruang terbuka. Dan hal ini tentu sangat lah penting bagi desa seperti tempat kelahiran saya Sarimatondang.

Bayangkan, perladangan di desa kami itu memang jauh dari perkampungan. Suasana bekas hutan masih terasa di perladangan itu, baik dari pohon-pohon tua yang masih tersisa, aneka suara burung dan juga sengau suara nyamuk yang fals tetapi kencang. Pada kesunyian semacam itu di siang hari, tentu lah dibutuhkan 'sesuatu' untuk mendatangkan rasa aman. Dan, api unggun sebagai pengusir setan, kenapa tidak?

Konon di perladangan sunyi seperti itu, kerap ada orang yang tiba-tiba pingsan atau tak sadarkan diri. Orang-orang selalu mengatakan, itu kena sambit oleh mahluk yang tak terlihat. Sebenarnya tidak ada alasan untuk mempercayai hal ini. Tetapi juga tak pernah ada keyakinan yang penuh untuk bisa mengatakan hal itu tak benar. Jadi tradisi api unggun dalam artian mistis makin terpelihara saja.

Ternyata bukan hanya orang Sarimatondang yang percaya akan kegunaan api unggun yang semacam itu. Dulu di masyarakat Yunani Kuno juga ada pandangan demikian. Menurut buletin Melsa,(http://buletin.melsa.net.id/apr/1207/paskah.html), di zaman pra-kristen di Yunani, api unggun merupakan bagian penting dari ibadah kepada dewa alam. Nyala api unggun diyakini memberi semangat kepada dewa itu untuk memberkati manusia sehingga panen akan berhasil baik. Api juga memberi kekuatan kepada matahari kalau dia sudah mulai suram dan menjadi lemah di musim dingin. Juga api dipercaya mengusir roh jahat.

Masih menurut buletin Melsa, sesudah zaman Kristen datang, tradisi menyalakan api unggun tak lantas lenyap. Ia tetap ada hanya saja simbolisasinya yang berubah. Misalnya, di Yunani dalam merayakan paskah, warga gereja berkumpul di gedung ibadah pada jam 00.00. Setiap orang sedapat mungkin mengenakan pakaian baru. Ini sebuah simbol dari kehidupan yang baru. Dalam gedung gereja yang gelap gulita, imam menyalakan lilin. Lalu tiap hadirin menyalakan lilin mereka dari lilin pertama tadi sehingga seluruh gedung penuh dengan terang. Barulah setelah itu semua berteriak secara serentak tentang paskah. Menurut orang Yunani, api unggun padam pada malam menjelang paskah. Api itu mereka namakan bone fires, karena menggunakan tulang belulang binatang.

Dalam tradisi pramuka, api unggun juga dipercaya membawa aneka pesan. Menurut Ajeng Kania, guru SDN Taruna Karya 04, Kecamatan Cibiru Bandung dalam sebuah tulisannya di situs yang saya lupa namanya, esensi acara api unggun dalam kegiatan kepramukaan bukan sekadar acara begadang atau acara hura-hura layaknya acara camping ala remaja sekarang. Justru acara api unggun harus mengedepankan norma dan etika, semisal, semua yang terlibat harus (1) menjaga ketertiban dan sopan santun; (2) menghindari ucapan kotor dan perilaku negatif; (3) tidak merusak lingkungan; (4) menciptakan kesan terbaik bagi peserta; (5) jangan lupa mematikan api dan membersihkan sampah di lokasi.

Bagi peserta, manfaat api unggun dirasakan langsung dalam bentuk menghangatkan badan, menerangi kegelapan, dan dapat mengusir binatang buas.

***

Sore-sore hari Sabtu atau Minggu, saya sering juga bakar-bakar sampah di tanah kosong di samping rumah. Guguran daun bambu yang renyah dan cepat dimakan api, ditambah dengan kayu-kayu setengah kering bekas hasil tebangan pohon di tanah kosong itu, juga rumput-rumput dan daun-daun, menjadi bahan utama api unggun pada sore semacam itu.

Asapnya mengepul kemana-mana. Kadang-kadang apinya menjilat juga rumpun bambu yang jadi pagar pembatas, sehingga nyala api sekejap seperti terbang ke angkasa untuk selanjutnya punah. Berganti dengan kepulan asap karena nyala api tak kuat memakan daun hijau yang masih mentah.

Dikala demikian itu lah seringkali jalan besar di depan tanah kosong itu seperti tertutup kabut. Dan orang-orang yang mengendarai motor atau mobil sering mendelikkan mata memandang ke arah api unggun itu. Sesekali mereka seperti mau marah. Tetapi setelah mereka melihat saya yang berdiri menjaga sang api, mereka tampaknya akhirnya mengerti. Toh, dengan membakar sampah-sampah itu pada akhirnya saya telah turut juga menjaga agar lingkungan bersih, bukan?

Sambil menatap nyala api, diam-diam saya sering merenung, apa sebetulnya yang dapat menjelaskan sehingga sampai orang bisa mengatakan api unggun itu bisa mengusir roh halus, memuja dan memberi semangat kepada dewa agar memberi kesuburan pada tanaman dan membuat orang terhindar dari kesambit oleh sang tak terlihat?

Saya kira memang hal itu bisa dijelaskan. Misalnya, bagi para tukang yang menyalakan api sambil mereka bekerja, nyala api pada saat-saat semacam itu akan menjadi intermezzo bagi pekerjaan mereka. Sehingga mereka tidak terlalu asyik bahkan lantas tenggelam dalam pekerjaan bertukang itu. Sebab kalau mereka sampai 'tenggelam,' lupa makan, lupa istirahat, lupa segalanya, disitulah bisa terjadi bahaya. Lupa diri hingga akhirnya tak sadarkan diri. Dugaan saya, hal semacam ini lah yang kerap menyebabkan ada pekerja terjatuh dari bangunan yang tinggi. Terlalu asyik dengan pekerjaan, tetapi di sisi lain konsentrasinya sudah mulai melorot. Jatuh lah dia. Tapi orang berkata dia kesambit…

Hal yang sama sangat mungkin terjadi pada petani yang bekerja di perladangan. Di bawah rindangnya pohon-pohon, teduh dan bahkan kadang-kadang seperti kehilangan cahaya matahari, dibutuhkan sesuatu yang menjadi penghangat dan pengingat agar kita tetap awas, bahwa kita sedang berada di kebun. Api unggun dengan asapnya yang kadang memedihkan mata, suara kayu bergemeretak dilalap nyala api, adalah bagian-bagian yang penting memecahkan kesunyian di ladang. Dan, dengan begitu orang-orang di sekitarnya tetap terjaga.

Asap dari api unggun itu selanjutnya bisa menjadi semacam mercu suar apabila kita tersesat kecil-kecilan di ladang yang luas. Dengan melihat sang asap, kita dengan serta-merta bisa berkata, oh, tadi saya memulai kerja dari titik sana. Saya meninggalkan peralatan saya di sana. Dst.

Di atas semua itu, api unggun adalah pertanda adanya kehidupan plus penambah daya melanjutkan hidup. Sebab dengan adanya api di ladang itu lah kita bisa mengolah bahan-bahan mentah yang ada di sekitar. Entah itu singkong, talas, pisang bahkan belalang dan jangkrik untuk dibakar. Sementara sampah-sampah yang kemudian terbakar, adalah pupuk yang baik bagi tanam-tanaman. Mungkinkah itu sebabnya, orang Yunani percaya bahwa api itu akan dapat membujuk dewa agar mendatangkan berkat dalam bentuk panen yang melimpah?

Nah, kalau sesekali Anda kebetulan melintas di perumahan tempat kami tinggal, dan melihat ada orang yang sedang bakar-bakar sampah, kemungkinan besar itu adalah saya. Jangan segan-segan menyapa ya? Siapa tahu kita bisa mengulang lagi ritual menyenangkan dari masa kecil: berkeliling di api unggun sambil menyaksikan pesona nyala-nya yang indah dan hidup.

***
P.S. Dari radio saya mendengar, ada lomba kebersihan antar RW seJakarta yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan multinasional. Hebat. Salute.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...