Thursday, July 05, 2007

Ekonomi djaman Malaise (01)



Perpoestakaan itoe sepi-sepi sadja. Jakni Perpoestakaan Nasional jang berada di djalan Salemba di Djakarta Poesat. Poekoel sembilan saja soedah di sana. Tetapi tampaknja beloem banjak orang. Baik petoegas maoe poen pengoendjoeng. Njaman dan lapang roeang penerima tamoenja, tetapi masih terasa aroma birokrasinja. Soedah hampir saja oeroengkan niat memasoeki perpoestakaan itoe manakala saja mengetahoei bahwa mereka menggoenakan sistem tertoetoep. Artinja, hanja anggota sadja jang diperbolehkan memasoeki perpoestakaan. Oentoengnja, hati saja terobati karena bagian lajanan keanggotaannja ternjata menjenangkan. Tak perloe lama, tjukup 15 menit, kartoe anggota saja soedah djadi. Lengkap dengan foto wadjah saja tertera di kartoe jang tjantik dan seperti kartoe kredit. Bajarnja pun hanja Rp15 riboe oentoek keanggotaan satoe tahoen.

Kedatangan saja ke perpoestakaan itoe dikarenakan seboeah pekerdjaan roemah (pe-er) dari poetri saja, Martj. Sewaktoe saja bertjerita bahwa ajah saja jang tak lain adalah kakeknja, doeloenja djoega pernah djadi wartawan, Martj lantas bertanja wartawan di koran mana. Laloe ketika saja djelaskan sang kakek bekerdja di koran zaman dahoeloe, Martj bertanja lagi seperti apa koran djaman dahoeloe kala itoe. Ketika saja bertanja apa dia benar-benar ingin tahoe, ia berkata ja, maka saja poetoeskan oentoek mengoendjoengi perpoestakaan ini. Sebab saja tahoe, di sini banjak disimpan koran-koran langka. Saja pikir, inilah waktoenja saja mendjelaskan serba sedikit kepada poetri saja itoe perihal doenia kewartawanan, doenia jang digeloeti kakek dan ajahnja. Siapa tahoe dia kelak ada ketertarikan. Kalaoe poen tidak, sedikitnja dia tahoe bagaimana koran-koran dari djaman dahoeloe sehingga sekarang. Dengan begitoe dia dapat memberi apresiasi pada pekerdjaan ajahnja.

Sebenarnja Martj saja adjak djoega toeroet serta, sebab dia masih liboer. Tetapi dia berkata lain kali sadja. Roepanja dia lebih tertarik bermain sepeda dengan anak-anak tetangga jang mengalami liboeran djoega.”Nanti malam sadja tjeritakan kepada saja apa jang papa lihat di perpestakaan itoe,” kata dia.

Di perpoestakaan itoe, saja langsoeng sadja naik lift ke lantai delapan, tempat koran-koran tempo doeloe berada. Banjak sekali koran itoe. Ada koran-koran tempo doeloe yang masih kita kenal sampai sekarang, seperti koran Kompas, Sinar Harapan, Angkatan Bersendjata dan sebagainja. Tapi banjak djoega yang samasekali beloem pernah saja dengar. Seperti koran Aljaum, seboeah koran jang dimaksoedkan sebagai batja'an pentjerah oentoek masjarakat Arab di Soerabaia. Terbit hanja tiap-tiap hari Rebo, koran ini beredar sebanjak enam halaman setiap edisinja.

Dengan tjepat koran Aljaum menarik perhatian saja. Loetjoe djuga, pikir saja. Namanja Aljaum, tetapi saja ragoe-ragoe tentang tjara membatjanja. Sebab, hampir di semoea toelisan di dalam koran terseboet, tidak saja temoekan hoeroef U. Hoeroef U pada oemoemnja ditoelis dengan OE. Djadi, bagaimana kah gerangan membatja hoeroef U pada nama madjalah terseboet?

Koran ini diterbitkan oleh seboeah peroesahaan bernama Electrische Drukkerij N.V. Alwehdah. Kantoor Redactie & Administratie-nja berada di Kampementsraat 152 Soerabaia. Dalam seboeah toelisan di edisi no 4 tahoen 1, ada diterangkan sedikit mengenai Alwehdah ini. Begini bunjinja:

Erti bangsa jang hidoep semangatnja

Tida ada satoe perkoempoelan, satoe keradjan satoe pendirian jang mana poen djoea zonder mempoenjai oeang bisa berdiri begitoe poen dengan N.V.Drukkerij Alwehdah.

Melihat sikapnja begitoe banjak kita penja saudara-saudara bangsa Arab di Soerabaja jang Kaja dan miskin sama bergembira membeli begitoe banjak aandeel, terlebih djika kita lihat atau perbandingkan bangsa kita di Pemekasan jang membeli 30 aandeel a 100 roepiah, jaitoe berdjoemblah 3000 roepiah, soedah tentoe besar hati Alwehdah jang nanti dengan sebentaran sadja bisa menambah kekoeatan financieel-nja berlipat atau sedikitnja tjoekoep betoel oentoek mengadakan Soerat kabar harian jang tjotjok dengan zaman.

Kita pertjaja dengan penoendjangan soedara-soedara bangsa kita jang soedah sama sedar akan erti soerat kabar dan soerat kabar ialah satoe-satoenja advokaat jang bisa dipakai saban hari oentoek membela bangsanja....

(Aljaum, 25 Maret 1931)


Lewat ini toelisan, tampaknja redaksi hendak mengingatkan lagi aspek komersial dari seboeah soerat kabar. Isinja boleh serba-ide dan serba perdjoeangan namoen jang menjadi darah ataoe bensinnja tetap lah jang bernama oeang.

Sisi lain jang menarik dari toelisan itu, perhatikan penggoenaan huruf u jang masih sering djoega moencoel menggantikan oe. Apakah di djaman dahoeloe itu memang masih ada tarik oeloer penggoenaan u dengan oe itoe? Begitoe djoega dengan penggoenaan kata j dan i, seringkali tidak konsisten. Soerabaja dan Soerabaia tidak dapat kita bedakan mana jang benar.

Pada edisi perdana koran ini, ada ditjantoemkan harga berlangganan serta tarif iklannja. Harga langganan dalam Indonesia oentoek 3 boelan adalah f.2.50, dan 6 boelan f.6. Jang loetjoe adalah tarif iklan atau dalam bahasa kala itoe diseboet Advertentie.Tjara mereka menginformasikannja mengundang tawa dalam hati:

Harga Advertentie:
Boleh Berdamai. Segala pembajaran diminta lebih doeloe.


Loetjoe kan?
Bukan berarti Harga boleh Berdamai itoe tidak ada lagi di djaman sekarang. Tetap ada jakni dalam bentuk tawar-menawar diskon atau rabat. Hanja sadja setahoe saja, tidak pernah ada lagi koran atau madjalah yang terang-terangan berkata bahwa tarif iklannja boleh berdamai. Djuga persjaratan haroes bajar di moeka. Wah, para pemasang iklan di djaman sekarang bisa mentjak-mentjak bila diharoeskan membajar di moeka.
Bersamboeng ke sini

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...