Thursday, July 05, 2007

Ekonomi djaman Malaise (03)



Soelitnja perekonomian di djaman itu, makin djelas bila melihat oelasan tentang perekonomian oleh Mr. Froein jang dikoetip Aljaum dari koran De Stuw. Djoedoelnja adalah Kemoendoeran Ekonomie dalam doenia-Indonesier.

Menoeroet Froein, depresi ekonomi di negara Eropa berdampak kepada perekonomian Indonesia teroetama terhadap petani.

Jang teroetama mendapat kesoesahan, ialah pertanian. Sedang 3 perempat dari banjaknja pendoedoek Indonesia, termasoek dalam golongan pertanian. Kesoesahan itoe, disebabkan oleh toeroennja harga hampir semoea hasil tanah yang dirasakan sedjak pertengahan kedoea dari tahoen 1929.

(Aljaum,25 Maret 1931)


Dan, sehoeboengan dengan itoe, sama seperti di djaman sekarang Mr. Froein memberi peringatan akan pentingnja kehati-hatian dalam membatja indikator ekonomi. Sebab, apa jang tertjatat beloem tentoe menggambarkan kenjataan sehari-hari.

Baik tjatatan harga export, maoepoen harga pasar, tidak bisa dibilang harga jang sebetoelnja jang diterima oleh petani. Harga export jang ditjatat oleh exporteur disegala kota, pelaboehan, sangat berlainan dengan harga jang dibajarkan oleh tengkoelak kepada petani di desa. Pada waktoe yang terachir, karena pasar hasil boemi selaloe toeroen, tengkoelak-tengkoelak sangat berlakoe hati-hati, sehingga ta’ berani mareka itoe menjimpan hasil tanah banjak-banjak, dan dibelinja dengan moerah sekali.


Harga pasar poen tidak menjatakan harga jang sebetoel-betoelnja dibajarkan kepada petani. Harga itoe, ialah jang dibajar oleh pendoedoek kota kepada waroeng dan pedagang di pasar dalam kota poela. Tentoe sekali berlainan dengan harga jang diterima oleh pendoedoek desa jang pada galibnja ada dibawah harga pasar.

Harga pasar itoe diambil poekoel ratanja sedang pada satoe-satoe tempat amat berbedaa poela.

Djadi boleh dikatakan harga jang didapat petani memang lebih rendah benar dari pada harga export dan harga pasar.


Oentoek menundjang apa jang dikatakannja itoe, Mr. Fruin mengetengahkan daftar beberapa harga komoditas, dibandingkan dengan setahun sebelumnja.


Dec 1929 Dec 1930
Padi goendil f 4.63 3,37
Beras No 2 11.40 8.98
Djagoeng No 2 5.07 2.89
Cassave (oebi kajoe no 2) 1.43 0.98
Oebi No 2 1.34 0.97
Katjang terkoepas 1.97 9.70
Kedele hitam 9.43 7.38
Kelapa per stuk 0.06 0.05
Goela teboe Djawa per kati 0.11 0.08

Dari daftar harga ini memang tampak djelas bagaimana pendapatan petani merosot dengan drastis, akibat dari penurunan harga komoditas mereka.

Meskipoen keadaan ekonomi jang demikian, Mr Froein tidak menjetoedjoei andjuran oentoek mengimbaoe rakjat soepaja menanam tanaman makanan oentoek menghadapi depresi. Soalnja, persediaan makanan kala itoe soedah tjoekoep.

Karena keterangan toean Wellenstein (dalam Volksraad tempo hari) kedengaran sekarang soeara-soeara dalam pers, jang mendesak didjalankan perintah haloes soepaja ra’jat meloeaskan tanaman oentoek makanan. Boeat tanah Djawa, perintah demikian itoe tidak perloe, sebab, hasil padi dan djagoeng ditahoen 1930 ada menjenangkan, dan ra’jat pada waktoe ini menjimpan makanan loear biasa banjaknja, karena tidak lakoe didjoeal. Tambahan lagi beras loear negeri sekarang amat moerah harganja di Indonesia. Djadi makanan tidak koerang.



Menoeroet Froein, masalah jang teroetama adalah hasil tanah jang tidak lakoe. Ini menjebabkan ra’jat sangat kekoerangan wang. Hanja di Djawa Timoer jang ada mendingan, sebab di sana ra’jat bertanam tembakau boeat pasar Europa, jang harganja masih patoet. Demikian opela daoen thee di Djawa Barat masih bisa lakoe, walaupoen harganja moerah.

Froein mengeritik sikap hati-hati perkeboenan besar jang djoestroe melakoekan penghematan besar-besaran.

Ada lagi jang menjebabkan kesoesahan oeang pada ra’jat jaitoe penghematan dan kelepasan jang dilakukan oleh onderneming besar jang bertanam karet dan kopi, demikian poela thee dan goela.


Kekurangan oeang dengan oemoem berpengaroeh amat djelek pada perniagaan dan peroesahaan Indonesier.


Mereka itoe berkeloeh kekoerangan kehasilan. Toeroet poela dalam peri keadaan demikian jaitoe satoe bahagian pendoedoek Indonesier jang lebih besar bilangannja dari pada pedagang dan pengoesahaan.



Boekankah petani melakoekan poela perdagangan ketjil dan peroesahaan diroemah, boat menambah kehasilannja. Tapi kehasilan itoe sekarang sangat banjak koerangnja.


Setjara keseloeroehan, menoeroet Froein, perekonomian Indonesia soedah demikian tertekannja. Kata dia, kemelaratan jang menimpa doenia Indonesier terlihat antara lain dari bertambah banjaknja barang-barang gadaian jang tidak lakoe dilelangkan. Barang-barang itoe tidak diteboes oleh jang poenja lantas dibeli oleh Gouvernement.

Hal lain jang djoega membebani adalah padjak.

Soeatoe akibat dari sangat berkoerangnja pendapatan oeang oleh ra’jat ialah beban belasting jang tidak ditoeroenkan, terasa makin bertambah berat djoea. Boeat pembajaran padjak tanah (landrete) sekarang ra’jat mesti mendjoeal hasil tanahnja lebih banjak dari pada dahoeloe. Demikian poela tjitjilan hoetang ra’jat, lebih menjoesahkan. Tidak heran kalaoe toenggakan hoetang ra’jat kepada Volkscredietbanken di Djawa dan Madoera naik dari f1.486.000 pada penghabisan December 1929 djadi f2.910.000 pada penghabisan December 1930 sedang di Seberang dari f398.000 naik djadi f671.000.


Sama seperti di djaman sekarang, seringkali perekonomian jang tertekan itoe tidak tampak ke permoekaan. Orang Indonesia mempoenjai tjara sendiri oentoek tetap bersoekatjita dalam penderitaannja. Antara lain karena ada boedaja gotong-rojong jang pekat.

Soenggoehpoen begitoe keadaan djelek jang menampak keloear karena disebabkan penganggoeran sebagai jang terdjadi di Europa, di pergaoelan hidoep orang Indonesia, tidaklah kelihatan. Sebabnja karena memang soedah biasanja Indonesier hidope ketjil dan pada masa ini keperloeannja dikoerangkan poela sampai seketjil-ketjilnja, sedang pertalian famili masih koeat, sehingga sanak soedara jnng tidak mempoenjai kehidoepan, bisa dipeliharakannja.


Dan karena beloem menemoekan soloesi oentok masalah ini,Mr. Froein menoetoep toelisannja dengan nada pasrah.

Soeka sekali saja, demikian Mr. Fruin, menamatkan toelisan ini dengan pemberian tahoe tentang daja dan oepaja koeat bisa memperbaiki keadaan sekarang ini. Tetapi daja oepaja itoe tidak saja ketahoei.


Ra’jat sendiri barangkali menolong dirinja sendiri dengan oesaha memperloeas tanamannja, tetapi boeat di Djawa sedikit sadja kesempatan boeat itoe. Lagi poela karena hasil pertanian tidak lakoe, maka perloeasan tanaman itoe sedikit sadja mengoentoengkan.


Tambahan lagi ada keberatannja tentang tambahan poepoek dan kapitaal.

Di Seberang kadang-kadang orang menambah kehidoepannja dengan mengambil hasil hoetan.

Verkoop-Cooperatie boeat kaoem tani kiranja akan menjebabkan tambahnja penghasilan petani, tetapi petani beloem matang tentang organisasi demikian itoe.

Boeat pertjobaan memperloeas perniagaan dan peroesahaan, waktoe ini memang koerang baik.

Oleh karena itoe, tak ada lagi djalannja ketjoeali berlakoe teroes seperti adanja sekarang, sambil menoenggoe dan mengharap tempoe jang lebih baik.


(Albaum, 25 Maart 1931)


***

Satoe setengah djam saja habiskan di perpoestakaan itoe, oentoek kemoedian saja mengoendoerkan diri dan pergi ke djalan raja menoedjoe kantor tempat saja bekerdja. Dalam hati saja masih berpikir-pikir apa jang dapat saja tjeritakan kepada putri saja dari apa jang soedah saja batja. Djangan-djangan boekan hanja putri saja jang dapat peladjaran dari apa jang saja dapatkan itoe. Tetapi saja djoega. Sebab, bukankah masalah-masalah jang terdjadi pada tahoen 1931 itoe, benar-benar masih djoega kita temoei di masa sekarang ini?

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...