Monday, August 13, 2007

Sekadar Bekal Menyambut 17 Agustus



Salah satu novel Sidney Sheldon (kalau tak salah, judulnya dalam Bahasa Indonesia
Butir-butir Waktu) mengambil setting perjuangan rakyat Spanyol merebut kemerdekaannya. Ada sejumlah anak muda yang jadi tokoh utamanya. Salah satunya, anak petani yang terseret ke kancah perang gerilya karena alasan yang sangat simpel: tanah pertanian milik keluarganya direbut lawan. Sejumlah sanak-saudaranya jadi korban karena bersimpati pada perjuangan kemerdekaan. Karena itu anak muda tadi angkat senjata demi satu cita-cita yang simpel pula: kelak kalau kemerdekaan itu sudah tercapai, ia ingin meneruskan kembali apa yang sudah dirintis oleh keluarga, menjadi petani di tanah dan kampung halaman sendiri.

Samar-samar, kisah dalam novel itu lah yang saya ingat tatkala tenggelam dalam sebuah buku berjudul Kisah Dari Pedalaman, Epos Perjuangan dari Sumatera Utara, karya Payung Bangun (1979). Buku ini bercerita tentang perang melawan Belanda mempertahankan kemerdekaan, beberapa saat setelah diproklamirkan (1945-1950). Seperti Sheldon dalam novelnya, dalam buku ini penulisnya ada juga sekelumit bercerita tentang seorang anak petani yang bercita-cita jadi petani, namun, oleh perang kemerdekaan, terseret menjadi pejuang. Dan ia menjalankan panggilan itu dengan gagah berani.

Anak muda itu bernama Saureen Saragih.

Saureen berasal dari Simalungun dan tamatan sekolah pertanian menengah Talapeta. Ia melihat kariernya di ketentaraan sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan untuk memenuhi suatu tugas yang mulia. Dan bila tugas ini telah selesai, cita-citanya ialah kembali ke bidang yang merupakan panggilan jiwanya, yakni pertanian. Ia ingin menjadi seorang petani yang model yang akan memelihara berbagai ternak, seperti ayam, itik, kambing, lembu dan sebagainya.

Pokoknya segala pengalaman sekolahnya akan dituangkannya dalam praktek. Begitu jiwanya terikat kepada pertanian, demikian pula kesungguhannya melaksanakan tugasnya sebagai seorang komandan pasukan bersama-sama dengan Letnan A. Salim Rangkuty. Ia bertugas di Batalyon Pertempuran Res II di bawah pimpinan Kapten Mardjunet (sekarang Let Kol CPM). Perwira-perwira yang lain yang masih saya ingat ialah Letnan Tugimin dan Letnan Syamsul Sulaiman (sekarang Letkol).

Pada tiap-tiap pertempuran dibuktikannya betapa besarnya tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugasnya dan terhadap keselamatan anak buahnya. Suatu peristiwa yang perlu dicatat ialah waktu gugurnya Sakti Lubis dalam pertempuran Kampung Baru, maka waktu sedang menghebatnya pertempuran, jenazahnya terpaksa belum dapat diambil karena betul-betul tepat di depan sarang pertahanan musuh. Sebagai Komandan Batalyon Sakti Lubis kiranya memimpin anak buahnya sesuai perang klasik yakni berada di depan sekali. Pada malam itu fihak kita mengadakan penyerangan di sektor Selatan dengan kekuatan dua batalyon di bawah pimpinan Sakti Lubis dan Kapten Mardjunet.

Setelah pertempuran agak mereda dan samar-samar fajar mulai menyingsing, oleh Kapten Mardjunet dimintakanlah siapa yang sukarela untuk mengambil jenazah Sakti Lubis. Semua insyaf bahwa tugas ini sangat berbahaya dan berat. Maka muncullah Saureen Saragih beserta beberapa orang prajurit lainnya. Dengan bersusah payah, akhirnya dapatlah mereka mengambil jenazah Sakti Lubis dengan menggunakan beberapa karbijn sebagai usungan.
(Kisah dari Pedalaman…, Payung Bangun, 1979, halaman 102)


Sama seperti kebanyakan orang Simalungun yang terkenal sering kikuk di keramaian dan introvert—paling tidak bila dibandingkan dengan kawan-kawan dari suku lain—Saureen, menurut penulis buku itu, adalah orang bertipe serius.

Bicara tak banyak tetapi semua yang diucapkannya merupakan buah renungan yang telah dipikirkan secara matang.
(Kisah dari Pedalaman….., Payung Bangun, 1979, halaman 102)


Seandainya saja ia hidup di alam fiksi, mungkin Saureen akan sebahagia tokoh-tokoh dalam novel Sheldon. Anak petani yang diceritakan dalam novel Butir-butir Waktu, misalnya, di akhir kisah digambarkan hidup berbahagia. Melalui perang yang panjang dan perjuangan yang sulit, akhirnya rakyat mendukung para gerilyawan itu. Kemerdekaan tercapai. Dan, si anak petani itu, meskipun sempat tertembak, di ujung cerita mendapatkan apa yang selama ini ia perjuangkan. Lelaki lugu itu menemukan jodoh gadis kota yang bengal tetapi putri tunggal dari pengusaha kaya dan bersimpati pada perjuangan kemerdekaan. Setelah merdeka pasangan itu kembali ke kampung halaman si pria. Bertani dan merajut hidup sebagai keluarga, seperti dulu telah dirintis oleh orang tua mereka.

Tapi Saureen Saragih tak hidup di alam fiksi. Ia adalah bagian dari kenyataan. Dan perjuangan kemerdekaan tak selalu dipenuhi oleh kisah heroik yang menyenangkan. Yang getir juga ada. Dan Saureen ada dalam bagian yang demikian itu.

Pada saat menghebatnya pertempuran di Binjai Amplas (Medan Selatan) yakni pada 28 Juli 1947, musuh mendorong pula dari arah Tanjung Morawa dan mengepung pasukan-pasukan kita yang masih bertahan di garis depan. Akibat pendaratan Belanda di Pantai Cermin, praktis seluruh kekuatan kita yang di Timur dan Selatan terkepung oleh musuh. Yang masih sempat menyelamatkan diri berusaha keluar dari kepungan musuh. Tetapi pasukan-pasukan kita yang berada dalam stelling di garis depan menghadap Medan sukarlah untuk berbuat demikian.

Di dalam hal ini juga termasuk pasukan yang dipimpin oleh Letnan Saureen Saragih dengan pembantunya Letnan Tugimin. Kubu-kubu pertahanan mereka dan sarang-sarang senapan mesin semua lurus menjurus ke arah Medan. Bagaimana saat terakhir mereka? Yang jelas ialah bahwa mereka dengan gagah-berani menghadapi kepungan dan pendadakan fihak musuh itu dan di dalam melaksanakan tugas ini Letnan Saureen Saragih telah gugur bersama Letnan Tugimin.

Bagaimanakah musuh memperlakukan jenazah pahlawan-pahlawan kita itu? Kita mengetahui musuh banyak menggunakan kendaraan-kendaraan lapis baja. Lagi-lagi sejarah ingin penelitian untuk meletakkan kembali seseorang pada tempat yang selayaknya. Saureen pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan jenazah teman seperjuangannya, kiranya nasib telah menentukan ia harus tertinggal di Medan Bakti.

Temanku, Saureen,
Jasadmu hilang tak dapat diketemukan, tetapi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia menuntut agar namamu ditempatkan pada tempat yang selayaknya, sejajar bersama dengan nama pahlawan-pahlawan lainnya, terkenal, terbilang atau hilang menghias Bumi Persada Indonesia.
(Kisah dari Pedalaman…., Payung Bangun, 1979, halaman 102-103)


Anak petani itu gugur di medan laga. Jasadnya lenyap. Tetapi ada banyak orang yang percaya bahwa seseorang sesungguhnya tak pernah lenyap sepanjang orang-orang mengingat dan mengabadikan jasanya. Pastilah Pak Saureen tetap hidup di hati keluarga dan orang-orang yang mencintai kemerdekaan.

Merdeka!

***

Catatan:
Tulisan ini dipersiapkan dengan agak terburu-buru karena itu ada beberapa hal yang mungkin kurang akurat. Judul novel Sidney Sheldon seingat saya adalah itu, tetapi mungkin juga lain. Kalau keliru, mohon dimaafkan. Juga judul buku dan pengarang Kisah dari Pedalaman, mungkin kurang lengkap. Kalau ada waktu, akan diperlengkapi sebagaimana mestinya. Mohon maaf dan mohon maklum.

Foto dari www.tempointeraktif.com

1 comment:

  1. Anonymous1:52 AM

    Hallo Bang, wah beberapa hari ini selalu aku sempatkan melongok ke blog abang, sekedar ngecek apakah ada tulisan yang baru, tapi selalu ga ada. eh hari ini ada. aku senang sekali. Wah membaca ini rasa nasionalismeku jadi tergelitik. Aku jadi sangat berterima kasih sekali pada para pahlawan yang sudah dengan rela berjuang sehingga kini aku bisa menikmati hasil perjuangan mereka, yakni KEMERDEKAAN. Dan bagiku kemerdekaan adalah modal hidup yang terpenting, baik sebagai individu apalagi sebagai suatu bangsa. Tulus aku berdoa bagi mereka semoga Tuhan berkenan pada mereka, mengampuni dan memberi kasih karunia dengan memberikan tempat terindah disurga. Tapi yang terpenting adalah, bagaimana kita sebagai generasi penerus bisa menindak lanjuti perjuangan itu sehingga punya makna dan menjadi berarti bahkan bisa menjadi berkat buat kita semua, bangsa Indonesia. Kalau aku sih berfikirnya simpel aja bang dan ga muluk muluk, dengan segala keterbatasan dan kekurangan ku sebagai manusia, aku bisa mulai dari diriku sendiri, dilingkungan yang terkecil yakni keluarga. bisa menjadi istri yang baik dan punya arti bagi suamiku, berusaha keras agar bisa mendidik dan membesarkan anak2ku supaya bisa jadi anak baik dan berguna, berusaha bekerja dengan baik di kantorku, berusaha semampuku memberikan kontribusi (entah itu waktu, pikiran, tenaga, atau materi semampuku) di lingkungan manapun aku berada, ya keluarga besar aku dan suamiku, lingkungan rumah, gereja, dan di komunitas manapun aku terlibat. bagiku itu juga sudah merupakan perjuangan dan proses memberi arti bagi kemerdekaan itu sendiri. Dalam fikiranku yang sempit ini, aku berfikir seandainya saja orang tidak terlalu muluk2 dan mau memulai segala sesuatunya dari diri sendiri dulu tanpa menunggu orang lain memulainya atau bahkan menurut hematku, ga usah pikirin orang lain mau buat apa (melainkan tetaplah jadi emas bahkan didalam lumpur sekalipun) jangan mudah menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar tapi ajarilah orang lain yang menurut kita salah melalui perbuatan keseharian kita, mulai dari hal2 / perkara2 yang kicil, aku yakin cepat atau lambat kita akan sampai pada Indonesia yang lebih baik. Karena jika satu orang saja memberikan sedikit kontribusi positif pada negara ini bayangkan jika dikalikan dengan setengah saja dari warga negara ini (kita asumsikan setengah ya supaya jangan muluk2 kali kita) yang juga melakukannya, aku yakin hasilnya pasti terlihat. Dan yang kecil itu kalau sudah diberkati Tuhan wah efeknya bisa besarrrr sekali.
    Dirgahayu Indonesiaku. MERDEKA !!!

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...