Tuesday, October 23, 2007

Laporan Lebaran *)

Kalau ada jarum yang patah
jangan disimpan di dalam peti
kalau ada kata yang salah
jangan disimpan di dalam hati



Lebaran kali ini terasa lebih sepi di kompleks perumahan kami di desa Sarua, Tangerang. Masa liburan yang lebih panjang mungkin jadi penyebabnya. Mereka yang merayakan lebaran pada mudik. Yang lainnya, memilih bertamasya ke luar kota. Apalagi para kitchen staff atawa para Inem pengurus dapur plus all round assistant itu, sudah pulang lebih awal. Rata-rata tanggal 5-6 Oktober mereka sudah hengkang dari perumahan kami. Berbondong-bondong mereka berjalan kaki menuju pemberhentian angkot, sambil mengangkat atau menyeret kopernya. Dilihat dari dandanan dan menornya, mereka sudah mirip-mirip dengan para finalis AFI yang tereleminasi. Bedanya, senyum mereka sumringah. Siap siaga menempuh perjalanan panjang menuju kampung halaman.

Seperti yang sudah-sudah, kali ini kami merayakan lebaran di 'Pondok Mertua Indah' di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Bersama anggota keluarga lainnya, kami turut mendampingi Ibu Mertua menerima para tamu. Beliau yang sudah mulai pulih dari stroke karena darah tinggi dan diabetes, menyalami orang-orang yang menghampirinya dari atas kursi rodanya. Sebelah tubuhnya memang masih 'mati rasa.' Tetapi semangatnya tak kendur seperseribu milimeter pun. Seperti ibu-ibu pada umumnya, ia masih tetap saja dengan gesit dan tegas mempersilakan para tamu mencicipi hidangan ala kadarnya. Bahkan kadang-kadang setengah memaksa. Tak tahukah ia bahwa tamu-tamu itu mungkin sudah pula kenyang makan ketupat, kacang, cookies, sirop aneka rasa dan lain-lainnya dari rumah-rumah orang yang mereka kunjungi? Atau beliau pura-pura acuh, sekaligus mengetes, apakah makanan yang disajikannya cukup enak atau amburadul?

Seperti juga pada lebaran-lebaran sebelumnya, keramaian bersilaturahmi kali ini tetap saja mengangkat tema-tema yang lazim. Nostalgia tentang kampung halaman, bertukar kabar tentang si polan dan si pulan, cuaca yang makin tak terkira-kira, harga-harga yang membubung, sekolah anak-anak, kolesterol yang tak jinak-jinak dan sebagainya.

Sebagai orang Batak nasrani yang norak, plus selalu terkesima dengan hal-hal norak dari orang-orang yang berasal dari kampung halaman mereka yang mungkin juga norak, saya menikmati betul suasana ini. Sebab ternyata suasana lebaran sesungguhnya tak jauh berbeda dengan kala pulang kampung di akhir tahun ke Sarimatondang di ujung Sumatra sono. Tema kumpul-kumpul kala Natal dan Tahun Baru itu persis juga seperti itu. Tentang nostalgia masa kecil, tentang makanan yang enak-enak, tentang kesulitan hidup di rantau dan di kampung halaman, tetapi pada ujungnya diakhiri juga dengan perasaan lega dan syukur. Bahwa toh kita masih bisa berkumpul, bermaaf-maafan, bercengkerama dan berhaha hihi.

Kalau sudah begini, saya selalu jadi ingat senyum Pak Harto pada saat bertemu kelompencapir di pelosok-pelosok Jawa dahulu kala. Itu lah senyum dan tawa oleh karena perasaan yang tak bisa disembunyikan, baik karena mentertawakan hal yang lucu mau pun karena bisa bertemu dengan orang-orang yang lugu dan apa adanya. Tawa yang seperti terlepas dari beban berat. Beda dengan raut wajahnya kala menerima tamu negara atau kala sehabis sidang kabinet. Yang disajikannya lebih bersifat senyum dan tawa 'kenegaraan.' Bukan senyum dan tawa seorang smiling general yang berasal dari kampung Kemusuk, yang menurut dugaan saya, sama juga lah noraknya dengan Sarimatondang kampung halaman saya itu.

Bahkan seorang aktivis yang sangat anti-Pak Harto pun, seperti sahabat saya yang tak usah saya sebutkan namanya, bisa luluh juga oleh senyum Pak Harto yang demikian itu. Suatu ketika di zaman dulu, dia bercerita, pidato Pak Harto yang ia rela mendengar dan menyimaknya di televisi adalah kala beliau berbicara langsung dengan para petani kelompencapir. Sebabnya, karena di sana lah dia dapat melihat Pak Harto yang sesungguhnya. Ia berpidato tanpa teks. Apa yang diucapkannya kala itu benar-benar datang dari pikiran dan hatinya. Menurut si aktivis, hanya pada saat berbicara dengan kelompencapir lah Pak Harto dapat kita saksikan terpingkal-pingkal atau terbatuk-batuk. Hanya di saat seperti itu lah kita bisa mendengar Pak Harto bisa cerita tentang enaknya makan nasi dengan lauk lamtorogung, sampai-sampai lupa pada ayah mertua. Selebihnya, tiap kali Pak Harto pidato di DPR atau dimana saja, sang aktivis tadi tak pernah mau mendengarkannya. Pesawat televisi yang menyiarkan acara itu ia matikan. “Buat apa menghabiskan waktu. Toh besok lusa kita bisa membaca pidato itu di koran. Atau lebih afdol lagi, tanyakan saja langsung kepada si pembuat pidato itu,” kata sang aktivis, yang kini memimpin sebuah lembaga pengkajian dan tetap konsisten jadi 'oposisi' dan menuntut agar reformasi dituntaskan.

Dalam hati saya mengakui juga ketajaman analisis kepribadian yang dilakukan si aktivis itu. Betul. Senyum Pak Harto di saat-saat seperti itu memang tak tertandingi daya pesonanya. Seperti juga senyum dan tawa yang selalu saya temukan dari orang-orang yang bersilaturahmi di saat lebaran, termasuk kali ini, di Pondok Mertua Indah ini. Semuanya penuh tawa dan senyum lepas.

Sambil tergulung oleh energi sukacita yang dahsyat itu, saya juga dengan rela menenggelamkan diri pada salah satu diskusi paling favorit pada momen-momen semacam ini. Yakni tatkala para anggota keluarga yang berkunjung itu saling obral cerita ngalor-ngidul tentang masa kecil mereka di kampung halaman mereka. Tentang bagaimana bunyi bedug di desa mereka. Tentang bagaimana bolak-baliknya mereka keluar-masuk rumah orang. Tentang tersambar petasan ketika malam takbiran. Dan banyak lagi. Kalau sudah begitu, aneka nama kampung halaman plus makanan-makanannya berlompatan seperti bintang-bintang warna-warni dalam perbincangan itu.

“Wah, inget pecel di dekat kantor polisi di Tulung Agung, perut jadi laper. Ueenak tenan. Apa masih di situ toh, tukang pecelnya?,” seorang kerabat yang masa kecilnya di Tulung Agung tiba-tiba nyelutuk. Lalu sambil menoleh dan menggamit lengan saya, ia berkata, “Ayah mertua mu dulu kalau makan di situ, sampai nambah tiga kali. Pagi-pagi warungnya belum buka, tapi kami sudah ngantri. Takut keduluan orang.” Saya tersenyum membayangkan pecel dimaksud. Tulung Agung adalah tempat kelahiran ibu mertua.

“Eh, masih ingat gak, Mas Anu anaknya Pak De Inu, yang makan sate kambing sampai 30 tusuk?,” Si Mbak yang duduk di ujung ruangan bertanya kepada wanita yang duduk di sebelahnya. “ Di Kedunggalar itu, Dik, yang gak berubah itu ya sate kambingnya. Tetap besar-besar. Harganya juga murah. Tidak seperti di Jakarta. Sate kambing makin mahal, makin kebanyakan kecap dan mentega lagi,” kata dia. Ia memang berasal dari Kedunggalar, tempat kelahiran almarhum ayah mertua.

“Ah, kalau ingat Kedunggalar, yang paling jelas ya ini nih,” Mas H berkata sambil mencomot sekerat kerupuk gadung berwarna putih bersih. Saya tahu, Mas H memang paling jago makan kerupuk gadung. Bisa seharian ia mengunyah terus kerupuk yang memang renyah tetapi lebih padat dibandingkan dengan kerupuk beras mau pun kerupuk kulit itu. Terbuat dari umbi-umbian bernama gadung, konon pengolahan kerupuk ini rada rumit karena gadung harus dibersihkan dulu dari getahnya sebelum diolah. Dahulu kala, gadung konon banyak tumbuh di Kedunggalar.

Makin siang perbincangan makin seru.

“Mas B, kalau di Wonogiri gimana Mas. Apa baksonya masih tetap enak-enak?. Kata orang, bakso Wonogiri sudah seperti sate Madura. Lebih enak makan di Jakarta daripada di tempat asalnya,” tutur si Mbak.

Mas B yang menjadi tujuan pertanyaan tersenyum. Lalu menjawab: “Apa aja enak Mbak kalau di kampung halaman sendiri. Wong sudah sejak kecil kita cicipi. Sudah hapal rasanya. Gak perlu pake kaget-kaget lagi,” kata si Mas B.

“Betul. Betul itu....” yang lain menimpali. “Tahun lalu kami mudik ke Madiun. Mata masih sepet karena kurang tidur di perjalanan. Tapi pas ketemu sama soto Madiun, weleh-weleh-weleh, langsung nyus itu. Padahal Bapake anak-anak paling tidak bisa makan kalau kurang tidur. Eh tak taunya, kalau di kampung halamannya, apa aja bisa nyuss itu...” Seorang ibu bercerita.

Si Mbak yang masih penasaran soal bakso Wonogiri bertanya lagi. “Wonogiri itu dimana toh? Masih jauh dari Solo? Apa benar bakso-bakso di Jakarta ini dibikin di sono.” Si Mbak tampaknya cuma tahu bahwa Wonogiri penghasil bakso, tetapi tak tahu dimana persisnya kota itu walau si Mbak berasal dari Solo.

Mas B yang masih muda belia dengan sabar menjelaskan rute ke Wonogiri dari Solo. Dan di tengah penjelasannya itu, ia menyebutkan sebuah desa bernama Praci, yang langsung saja membuat saya terhenyak. Soalnya nama itu terasa sangat dekat di benak saya. Dalam hati saya berkata, bukan kah Praci, yang tak lain dari Pracimantoro, adalah nama desa tempat asal Mr Rigen, tokoh semi rekaan dalam kolom-kolomnya Mangan ora Mangannya Umar Kayam, penulis pujaan saya itu? Bukankah Pracimantoro itu dulu desa yang jadi basis revolusi, tetapi karena kemajuan pembangunan dan modernisasi, justru membuat penduduknya banyak yang jadi termarginalkan, sehingga lebih dikenal sebagai pemasok kitchen staff yang patuh dan loyal di seantero negeri?

Maka karena tak bisa menahan diri untuk nimbrung, saya akhirnya memotong pembicaraan walau pun saya melihat si Mbak masih ingin bertanya lagi tentang Wonogiri.

“Jadi kampung Mas B tidak jauh toh dari Praci?” Saya bertanya

“Iya, Mas. Emang kenapa? Ada saudara di sana?”.

“Tidak. Cuma ingin tahu saja.”

“Praci itu, Mas, tanahnya gersang. Apalagi kalau musim kemarau,” kata Mas B.

“Iya, dan, pada saat seperti itu macan-macan suka turun dari gunung ke desa-desa untuk mencari air...” saya begitu saja menyambung penjelasannya.

Mas B terperanjat dan menoleh kepada saya. “Kok Mas tahu?” Ia bertanya.

“Iya, kok lu tahu?” Istri saya ikut menimpali karena ia heran, kok saya tahu tentang Praci.

Dan bukan hanya Mas B dan istri saya yang seperti shock mendengar celutukan saya. Semua mata yang hadir di sana langsung mengarah kepada saya. Saya jadi serba salah dan setengah menyesal, kenapa sok berani bicara tentang Praci. Ini mungkin mengejutkan orang-orang karena seorang Batak norak dari ujung Sumatra nun jauh tak ada di peta, kok telah lancang lho, bisa cerita-cerita tentang Praci. Padahal, mereka sendiri yang orang Jawa tak semuanya tahu tentang Praci, apalagi tentang kebiasaan macan yang turun gunung di musim kemarau. Ini lah risiko seorang kampung norak yang gampang jatuh cinta pada kampung-kampung norak seperti saya. Berani-beraninya saya bicara tentang Praci padahal yang saya tahu tentang desa itu hanya lah sekelumit. Itu pun dari hasil baca-baca kolomnya Umar Kayam saja....

Ketika kemudian saya menjelaskan bahwa saya tahu Praci dari baca-baca buku belaka, semua yang hadir tersenyum-senyum. Apalagi ketika kemudian saya menceritakan tentang kisah si Mr Rigen **), tokoh legendaris asal Praci yang hanya bisa kita temukan di dunianya keluarga Pak Ageng ciptaan Umar Kayam van Ngawi itu, tambah tak bisa mereka menahan tawa. Lucu dan noraknya Mr Rigen jadi hiburan kala itu. Rupanya walau pun Mr Rigen sudah jadi kerabat imajiner di benak saya (karena begitu hafalnya akan cerita-cerita dalam buku Mangan ora Mangan nya Umar Kayam) diantara hadirin di Pondok Mertua Indah itu tak satu pun yang pernah membaca kisah tentang tokoh yang dulunya diceritakan secara berkala di koran Kedaulatan Rakyat itu.

Tatkala sore sudah mulai turun dan satu demi satu yang hadir mulai pamit, si Mas B mendekati saya. Ia kelihatannya akan pamit juga. Tinggal menunggu putra-putrinya yang masih kecil berbenah-benah selepas mandi. Tetapi tampak seperti ada yang menggelayuti pikirannya setelah perbincangan tentang Praci itu.

“Mas, saya nggak percaya kalau Mas tahu Praci cuma dari baca-baca saja,” kata Mas B kepada saya.

“”Serius, Mas B. Saya cuma tahu Praci dari koran kok.”

“Nggak percaya saya.”

“Ya sudah, kalau tak percaya.”

“Apa toh yang bikin sampeyan suka sama Praci?”

“Wah, ndak tahu saya, Mas,” kata saya. “Tapi saya memang suka dengan tokoh-tokoh norak tapi ulet kayak Mr. Rigen-nya Umar Kayam itu. Tentu lah dia bisa begitu karena ditempa kampung halamannya yang noraknya setengah mati. Ya kan?, kata saya membanyol.

Mas B tertawa. “Ah, Mas bercanda saja,” katanya. Tetapi dengan segera dia berkata dengan agak serius. “Kapan-kapan Mas saya ajak ke Praci, deh. Biar lebih kenal dan bisa melihat sendiri. Belum pernah ke sana, kan?” kata dia.

Saya tersenyum. “Bener nih. Tapi jangan janji-janji doang. Yang serius.”

“Serius.”

“Emang dalam waktu dekat Mas B akan ke sana?”

“Gampang diatur. Sangat manusiawi kalau ada orang yang bangga manakala ada orang dari budaya lain yang tertarik pada budayanya. Saya pun begitu. Saya senang Mas tertarik pada Praci yang kecil itu. Kewajiban saya memperkenalkan Mas dengan Praci.”

“Ah, jangan seserius itu ah. Saya kenal Praci sambil lalu saja. Itu pun hanya karena membaca kolom-kolom di koran...”

“Justru itu Mas. Tak kenal maka tak sayang. Kita harus ke Praci. Sesudah itu ke Kedunggalar. Sesudah itu..... coba Mas bikin daftar tempat-tempat yang ingin Mas kunjungi. Tempat-tempat yang menurut Mas norak dan kampungan seperti kampungnya Mr.. siapa tadi itu?. Mungkin bisa kita jalani sekaligus,” kata Mas B.

Terdiam saya mendapat tantangan itu.

Ketika ia, istri dan anak-anaknya berpamitan, ia masih juga meneguhkan janjinya itu. “Siap-siap ya Mas, menerima undanganku. Akan saya bawa Mas menuju dunia Jawa, dunia Jawa yang norak. Bukan cuma kampung halaman Mas lho, yang norak. Banyak lagi yang norak-norak di pulau Jawa ini. Entar, Mas bisa bandingkan dunia Jawa yang Mas baca dengan dunia Jawa yang Mas kunjungi. Dunia Jawa-nya Mr...siapa tuh? (Mr Rigen, saya nyelutuk), ya, dunia Jawanya Mr Rigen dengan dunia Jawa yang Mas temukan nanti,” kata dia sambil tersenyum.

Mas B yang kendati usianya lebih muda, di mata saya selalu lebih tua dan lebih mengayomi. Mungkin karena penghayatannya yang mendalam tentang budayanya. Ia menyalami saya. Mereka sekeluarga berlalu dengan Kijang Innovanya.


***
Di televisi, beberapa malam sesudah itu, sebuah stasiun televisi menyiarkan film Jurassick Park. Di ujung cerita, ada adegan ketika sang Profesor berbincang-bincang dengan seorang anak kecil. Seakan memberi kuliah, Profesor itu berkata kepada si bocah bahwa ada dua tipe manusia. Ada manusia yang bertipe ahli astronomi (astronomer), ada manusia yang bertipe astronout. Yang disebut pertama mungkin saja lebih banyak memahami dan mengetahui tentang seluk-beluk bintang, planit dan alam semesta ini. Tetapi astronout lah yang akhirnya akan benar-benar menjejakkan kaki di planit-planit yang menjadi incaran para ahli-ahli astronomi itu.

Sambil menyimak kata-kata itu, saya jadi ingat perbincangan dengan Mas B dan suasana lebaran beberapa hari sebelumnya. Apakah demikian pula kah kita, manusia, ketika hidup dalam berbagai perjumpaan budaya pada hidup kita sehari-hari? Apakah kita harus selalu dihadapkan pada pilihan menjadi astronomer atau astronout itu? Misalnya, saya membayangkan bagaimanakah saya diantara lingkungan keluarga Jawa itu? Seberapa pun banyak yang saya baca dan saya tahu tentang Jawa dan budayanya, sejarahnya, humor dan plesetannya, tetapi apakah itu cukup untuk bisa menjejakkan kaki pada apa yang dapat sering disebut dengan menjadi manungsa Jowo?

Banyak sekali orang, ahli, pakar, dari berbagai suku bangsa yang dapat menjadi ahli tentang Indonesia, menjadi Indonesianist, tahu sampai seluk beluk terdalam dari negeri tercinta ini, seperti para astronomer paham seluk beluk alam semesta. Tetapi berapa banyakkah diantara mereka yang benar-benar berhasil menyentuh, menjejakkan kaki pada apa yang mereka ketahui, yakni Indonesia, seperti hanya segelintir astronout yang berhasil tiba di planit impiannya?

Dan akhirnya pertanyaan yang sama mungkin akan muncul ketika bicara tentang hari yang fitri seperti yang dirayakan pada saat lebaran. Kerinduan macam apakah yang ada di hati para insan di saat-saat seperti itu kepada sang khalik sumber segala yang fitri itu?. Kerinduan sang astronomer atau kerinduan sang astronout? Apakah kemudian kita harus pasrah lagi pada kata-kata Soren Kierkegaard dari beberapa abad lampau, yang berkata, jika manusia dapat menangkap Dia, Sang Fitri, secara objektif, manusia tidak akan percaya. Tetapi justru karena manusia tidak dapat melakukannya lah maka manusia harus percaya? Atau kita harus lagi mengunyah pepatah filosofis abad pertengahan tentang iman, credo quia absurdum; Aku mempercayainya karena ia tidak rasional. Jika ia dapat meyakinkan akal kita, dan bukan sisi-sisi lain dari diri kita, maka itu bukan lah masalah iman?.

minal aidin walfaizin
mohon maaf lahir dan batin


*) Kisah ini tidak sepenuhnya nyata, sudah didekorasi di beberapa bagiannya.
**} Mr. Rigen adalah supir, merangkap pembantu merangkap tukang cukur merangkap... semuanya lah dalam rumah keluarga Pak Ageng. Pak Ageng yang jadi profesor di UGM di Yogyakarta tinggal di rumah dinasnya. Bersamanya, selain Pak Ageng adalah Nansiyem (istri Rigen) dan dua orang putra Rigen-Nansiyem bernama Beni dan Septian (Tolo-tolo). Pak Ageng kerap kali mengatakan bahwa Mr Rigen yang berasal dari Praci itu sesungguhnya adalah filsuf Jawa yang menyamar jadi pembantu rumah tangganya.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...