Friday, November 16, 2007

Lain Balige, Lain Jepara

Kain selampe kain kebaya
Lain Balige lain Jepara.


Ini cerita tentang dua kota. Balige di Sumatera Utara, Jepara di Jawa Tengah. Satu dihuni orang Batak dari pegunungan. Satunya oleh orang Jawa pesisir. Balige kota tenun, Jepara kota furnitur. Tetapi sejarah menorehkan jalan berbeda. Balige redup. Jepara mengkilap. Balige kehilangan generasi wiraswasta. Jepara justru jadi lahan subur bagi tumbuhnya entrepreneur mandiri…..

“Kok bisa?,” tanya si Ucok.

Mau dengar?

“Mau, mau, mau,” si Ucok menjawab cepat tanpa berpikir.

Nah, duduklah kau baik-baik. Cerita akan kita mulai dari Jepara, kata si Pencerita.
Maka mengalirlah hikayat itu…..

Cerita Jepara
Jepara itu bukan kota kemarin sore. Berabad-abad lalu ia sudah jadi kota dagang yang ramai. Ia jadi salah satu kota pelabuhan yang banyak dikunjungi para saudagar. Makin tenar lagi namanya karena di kota ini lah Ibu Kita yang ‘harum namanya’ dilahirkan. Yakni Raden Ajeng Kartini. Ingat kan, sewaktu kita belajar di Sekolah Dasar tempo hari?

“Ingat,” kata si Ucok. Sambil begitu, mengangguk pula dia.

Tetapi bukan hanya karena itu Jepara jadi tenar. Ia juga dikenal orang sebagai penghasil perabotan kayu yang jempolan. Tentang darimana datangnya ketrampilan ini di tengah masyarakatnya, banyak sekali mitos dan legenda yang berkembang. Salah satunya mengatakan, pemicu munculnya keahlian itu adalah karena kemarahan Raja Majapahit pada suatu hari. Lalu sang Raja yang kesal itu dengan kesaktiannya melemparkan begitu saja ke awang-awang salah seorang ahli ukirnya. Sang seniman yang malang itu ternyata jatuh di kota Jepara. Dan, dari sana lah, menurut legenda, asal-muasal kemahiran orang-orang Jepara mengerjakan aneka produk kayu. Percaya atau tidak, yang jelas ukiran Jepara sudah dikenali kualitasnya sejak abad ke 16.

“Lalu?”, Ucok mereguk kopi, tapi tetap menyimak.

Itu baru sepersepuluh dari cerita. Lanjutannya, mau yang sedih dulu atau yang gembira?, tanya si Pencerita.

“Terserah.”

Nah, Jepara yang ramai di abad 16 itu ternyata mengalami pukulan berat ketika Belanda membumihanguskannya seabad kemudian. Belanda memindahkan pusat administrasinya dari kota ini ke kota Semarang. Jadilah Jepara mengalami kemunduran sebagai kota dagang. Termasuk pula dalam hal produksi perabotan kayunya. Di abad 20, orang mengenal Jepara bukan lagi terutama karena produk perabotan kayunya, melainkan sebagai kota tempat lahirnya Kartini.

Dalam surat-suratnya kepada kawan-kawannya di negeri Belanda, Kartini kerap mempromosikan produk kayu bikinan Jepara. Ia juga meminta agar kawan-kawannya itu sudi mengorder atau membelinya. Berkat koneksi keluarga Kartini dengan para wirausahawan di negeri Belanda, sempat terselenggara sebuah eksebisi furnitur Jepara di negeri kincir angin itu. Persisnya pada tahun 1902. Eksebisi itu cukup mendapat apresiasi. Sayangnya, industri perabotan kayu Jepara tak banyak terbantu. Ia tetap tumbuh begitu-begitu saja, seperti tercermin juga dari keluhan-keluhan Kartini dalam surat-suratnya. Hingga masa awal kemerdekaan Jepara tak terlalu banyak mengalami kemajuan. Ia hanya sebuah kota kecil yang lebih banyak ditopang oleh sektor pertanian ketimbang industri dan jasa.

“Menyedihkan juga, ya?,” kata si Ucok.

Memang, kata si Pencerita, tetapi segera cepat-cepat ia menukas bahwa sampai disitu saja Jepara menyedihkan. Sebab setelah itu cerita mulai berwarna cerah.

Sejak tahun 1970-an, ketika pembangunan ekonomi mulai mendapat perhatian di Indonesia, industri perabotan kayu di Jepara mulai menggeliat. Pesanan yang paling utama datang dari instansi Pemerintah. Pertumbuhan penjualannya pun mulai terlihat. Pada tahun 1979, penjualan di industri ini di Jepara tercatat sekitar Rp21 miliar, dan lebih dari 11 ribu orang bekerja di industri ini. Tahun 1983 penjualannya sudah meningkat menjadi Rp81 miliar dengan total lapangan kerja 18 ribu orang.

“Wah, hebat.”

Bukan cuma itu. Produk Jepara pun mulai mendunia. Jika ekspor pertama produk Jepara pada tahun 1986 hanya US$30 ribu, pada tahun 1995 sudah mencapai US$150 juta. Itu berarti melambung 50 kali lipat dalam volume, dan 400 kali lipat dalam ukuran nilai. Itu semua baru lah produk-produk yang diekspor. Dan ekspor yang dihitung itu pun baru ekspor langsung. Padahal, industri kerajinan kayu Jepara juga memenuhi pasar domestik. Jangan dilupakan pula bahwa ada juga ekspor tidak langsung. Misalnya, produk kayu Jepara yang belum selesai sepenuhnya, dikirimkan ke kota-kota lain. Di kota-kota itu lah produk tersebut mendapat finishing, sebelum akhirnya di ekspor ke mancanegara.

Menurut catatan, pada tahun 1996 industri perabotan dan kerajinan kayu Jepara mencatat penjualan langsung sebesar US$225 juta. Ia mempekerjakan 80 ribu tenaga kerja di lebih dari 2000 perusahaan terdaftar yang tersebar di 80 desa. Angka ini diperkirakan bisa membengkak jika perusahaan tidak terdaftar yang mempekerjakan tenaga borongan ikut diperhitungkan.

Jepara benar-benar bertransformasi dari kota yang redup menjadi kota dagang yang hidup kembali. Jalan-jalan di kota itu mulai dipenuhi oleh toko, showroom, kantor bank, hotel modern dan restoran-restoran Eropa yang kesemuanya dipicu oleh dinamisnya industri perabotan kayu. Orang asing pun kian gampang ditemui di Jepara. Mereka bukan semata bertamasya, melainkan turut berbisnis perabotan dalam rangka menjangkau pasar ekspor. Perusahaan-perusahaan lokal berkembang dan membesar, antara lain karena mengadopsi disain inovatif yang dibawa oleh para orang asing itu.

“Wah,wah,wah, menarik. Kalau begitu, tak percuma ya, Raja Majapahit jaman dahulu kala marah-marah, dan melemparkan ahli ukirnya di Jepara….,” kata Ucok, sambil menyeruput tetes terakhir kopi manisnya. Ia memesan segelas lagi.

Si Pencerita hanya tersenyum. Ia kemudian melanjutkan kisah.

Sekarang kita tiba pada bagian paling menarik dari kisah tentang industri furnitur Jepara. Tentu orang bertanya, bagaimana ceritanya industri furnitur yang sempat mati suri berabad-abad di zaman Belanda, dalam tempo tiga dekade bisa bangkit dan mengalami booming. Jawabannya agak panjang. Ada beberapa pendorong yang bekerja secara simultan. Salah satunya adalah kebijakan Pemerintah di awal dekade 1980-an yang bersifat pro-pasar dan melancarkan deregulasi.

Pada tahun 1986 Pemerintah memperlonggar peraturan ekspor yang menyebabkan prosedurnya lebih mudah. Jika dulunya diperlukan 12 jam di atas bis atau di atas kereta untuk mengurus administrasi ekspor ke Jakarta, plus 10 hari untuk melengkapi persyaratan-persyaratan, setelah deregulasi hanya perlu dua jam perjalanan ke Semarang dan dua hari melengkapi surat-surat di kota itu.

Pada saat yang sama, sumberdaya Jepara turut mendukung perubahan yang terjadi. Biaya produksi furnitur di Jepara sangat kompetitif dibandingkan daerah lain bahkan juga negara lain. Harga kayu dan upah tenaga kerja tergolong murah di Jepara. Kenaikan gaji para pekerja memang terjadi tetapi dengan pertumbuhan yang moderat. Sementara inovasi transportasi berupa tersedianya jaringan kontainer yang melayani door to door menjadi salah satu faktor yang peting. Biaya transportasi jadi rendah, yang pada gilirannya memberi layanan memuaskan bagi pelanggan. Sebab bila ada kerusakan produk, perbaikan atau penggantian dapat dengan cepat dilakukan.

Tidak mengherankan bila furnitur Jepara segera mendapat nama di pasar global. Pelanggan di Australia kemudian Eropa dan Amerika utara, berlomba-lomba memesan. Belakangan dari Amerika Selatan dan Asia Timur juga mengikuti jejak yang sama.

Industri furnitur Jepara dikenal juga dengan kecepatannya mengikuti perubahan mode. Keluwesan seperti ini konon tidak bisa ditemukan di negara lain. Sebagai contoh, industri furnitur Meksiko cukup baik dalam mengerjakan perabotan model Spanyol tetapi mereka tidak bisa mengerjakan dengan kecepatan yang sama bila terjadi perubahan gaya dan selera. Berbeda dengan para pengrajin Jepara. Mereka adalah imitator yang hebat. Apalagi mereka selama ini sudah terbiasa mereproduksi perabot-perabot antik dengan cepat, dalam iklim dimana Hukum Kekayaan Intelektual (HAKI) masih belum sepenuhnya punya gigi.

Tidak perlu diherankan jika orang-orang asing pun ikut menanamkan uang di Jepara. Makin hari mereka berperan penting di industri ini terutama dalam menggeluti pasar ekspor. Mereka kian terlibat dalam hampir setiap aspek industri. Mulai dari pemasaran, disain dan kontrol kualitas produk hingga mengajarkan teknik-teknik produksi baru. Pada tahun 1996, diperkirakan ada 90 orang asing yang menjadi penduduk Jepara dan ratusan orang lagi yang secara rutin tinggal beberapa bulan di kota ini. Pengurusan visa bisnis yang relatif mudah, merupakan faktor lain yang perlu dicatat. Dewasa ini ribuan orang asing diperkirakan setiap hari berada di Jepara, tinggal untuk beberapa hari atau beberapa minggu.

Memang ada juga muncul kecurigaan dan kecemburuan dengan hadirnya orang asing di Jepara. Meskipun demikian kecemburuan itu tampaknya terlalu dibesar-besarkan, bila menilik struktur industri dan kepemilikannya. Sebab cukup jelas terlihat masih dominannya pengusaha pribumi, bahkan ditengarai merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan di industri lain di Indonesia.

Itu bisa ditelusuri dari struktur pasar dan struktur usaha industri ini. Secara sederhana pasar furnitur made in Jepara dapat dibagi jadi dua bagian, yakni pasar ekspor dan pasar domestik. Pasar ekspor memang sudah mengalahkan pasar domestik. Namun pasar domestik tetap berperan sebagai penampung perusahaan-perusahaan ‘baru’ yang umumnya dilakoni oleh pengusaha-pengusaha pemula.

Bila menilik struktur usaha, bisa dibagi menjadi tiga bagian. Yang paling bawah adalah perusahaan skala kecil yang berbasis di desa-desa. Mereka ini lah yang umumnya memproduksi furnitur berdasarkan pesanan perusahaan lain yang lebih besar. Perusahaan skala kecil ini umumnya mempekerjakan 5-20 tenaga kerja. Jumlah perusahaan jenis ini mencapai 2000-an.

Berikutnya adalah perusahaan skala menengah dengan tenaga kerja 20-100 orang. Perusahaan ini berhubungan dengan perusahaan skala kecil dan mengumpulkan hasil produksi mereka. Kadang-kadang mereka juga melakukan ekspor, tetapi pekerjaan utamanya adalah sebagai pengumpul.

Perusahaan skala menengah ini kemudian melayani perusahaan skala besar yang mempekerjakan 100-1000 orang tenaga kerja. Umumnya perusahaan skala besar lah yang melakukan ekspor. Perusahaan dalam skala ini diperkirakan hanya ada 10 perusahaan yang menguasai 50% pasar ekspor. Dari keseluruhan itu, hanya empat perusahaan yang milik orang asing. Sisanya milik para pribumi.

“Sebentar, Om. Setahu saya, selama ini ada anggapan kita 'orang Melayu' nggak bisa berbisnis. Selalu kalah sama orang-orang bermata biru dan bermata sipit. Kok di Jepara itu bisa?.” Ucok bertanya.

Pertanyaan bagus dan disinilah nanti terlihat beda Jepara dan Balige, kata si Pencerita.

Tidak seperti banyak pemikiran klasik tentang budaya orang Indonesia, ternyata budaya yang berkembang di Jepara memberikan sumbangan positif terhadap tumbuhnya kewirausahaan orang-orang Jepara di industri furnitur di sana. Budaya dan identitas lokal Jepara merupakan energi yang besar, juga terhadap etos kerja mereka. Orang Jepara selalu berusaha menemukan dan menyegarkan kembali legenda, mitos dan dongeng-dongeng tentang kehebatan tradisi ukir Jepara yang menumbukan rasa percaya diri pada mereka untuk meneruskan tradisi agung tersebut. Hal ini lah yang mendorong mereka menghasilkan karya-karya berkualitas di lapangan industri furnitur yang tiada tandingan hingga kini.

Namun bukan cuma itu yang khas dari budaya lokal Jepara ini. Sebagai wilayah yang sangat kuat mendapat pengaruh Islam, orang Jepara pada umumnya juga mempunyai semacam perasaan berbeda –dan lebih tinggi-- dibandingkan dengan daerah lain. Adanya tradisi mengirimkan anak-anak mudanya 'merantau' dalam bentuk berguru ke pesantren telah mendorong mobilitas yang tinggi di kalangan mereka. Kelak ini lah salah satu landasan bagi tercipotanya jejaring perdagangan furnitur di seluruh Indonesia. Bahkan ketika industri ini mati suri di zaman penjajahan Belanda, para pedagang dan tukang kayu Jepara sudah melanglang buana Jawa dan membangun komunitasnya di tempat-tempat baru. Kemudian menjalankan bisnis furniturnya di sana.

Hal lain yang cukup khas dari budaya lokal Jepara adalah adanya anggapan bahwa orang Jepara agak sulit mendapat posisi prestisius di dalam birokrasi pemerintahan. Ada semacam mitos bahwa hanya orang-orang Jawa dari daerah lainnya lah yang bisa menjadi pejabat dan penguasa. Sedangkan orang Jepara takkan kebagian. Mitos ini kelihatannya ikut menyebabkan kewirausahaan dipandang sebagai alternatif untuk maju.

Orang Jepara dikenal rajin, mau bekerja keras, trampil, dan berorientasi pada bisnis. Tetapi di sisi lain mereka juga dikenal cukup kritis terhadap pemerintah, kadang-kadang susah diatur dan tidak segan-segan melancarkan protes secara publik tatkala mendapat perlakuan tak adil.

Hal semacam ini kemudian berpengaruh kepada cara Pemerintah dan kalangan investor dari luar dalam memanfaatkan peluang investasi di Jepara.Karena sifat-sifat yang demikian itu, Pemerintah setempat menjadi sangat berhati-hati dan cepat tanggap terhadap permintaan komunitas di sana. Apalagi ketika industri furnitur mengalami booming, Pemerintah pusat memang sedang giat-giatnya mendorong ekspor nonmigas. Pemerintah pun bertambah supportif terhadap perkembangan industri furnitur Jepara.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa budaya lokal Jepara telah ikut menyumbang dan mendukung Jepara sebagai pusat industri furnitur yang maju dan menembus pasar ekspor. Alih-alih sebagai penghalang, budaya lokal Jepara telah mendorong kewirausahaan (entrepreneurship) di sana. Tidak terhitung banyaknya kisah yang menggambarkan bagaimana seseorang memulainya dari belajar bertukang, bekerja pada orang, lalu membuat sendiri perabot, menjualnya, hingga kemudian berkembang jadi perusahaan besar, tak jarang menembus pasar mancanegara. Jepara telah berhasil menemukan model sukses pengembangan bisnis, melalui kombinasi kebijakan yang membebaskan banyak hambatan bagi pebisnis lokal, plus reinterpretasi dan menyegarkan lagi budaya lokal untuk mendukung kewirausahaan. Pada gilirannya ini memajukan perekonomian lokal.

“Terimakasih, Om, untuk cerita tentang Jepara. Sekarang, bagaimana tentang Balige. Apakah semenarik cerita tentang Jepara juga?” Ucok bertanya sambil memperbaiki duduknya. Dari belakang etalase warung terdengar tawaran untuk menambah kopinya. Ucok hanya mengangguk pertanda ia ingin segelas kopi lagi.

Sudah pernah ke sana?, si Pencerita bertanya.

“Belum Om,” kata si Ucok, yang dilahirkan di Jakarta dan hingga masa remajanya sekarang belum pernah diajak menjelajahi Sumatera Utara oleh bokap dan nyokapnya. Bila pulang kampung, paling-paling ia hilir-mudik Medan-Pematang Siantar saja. Plus ngendon di rumah Oppungnya di bilangan Polonia.

Kalau begitu, dengarlah baik-baik.


Cerita Balige

Balige itu juga bukan kota kemarin sore. Sudah cukup tua lah umurnya. Dari Medan jauhnya kira-kira enam jam perjalanan via darat, Balige merupakan salah satu kota di kabupaten Toba Samosir (Dulunya ia berada di kabupaten Tapanuli Utara). Di zaman kemerdekaan dulu, Balige termasuk kota yang tenar di Tapanuli, selain Tarutung. Balige juga adalah tempat kelahiran banyak sekali tokoh-tokoh Batak. Kalau pun tidak dilahirkan di sana, tokoh-tokoh itu mengenang Balige sebagai kota tempatnya menempuh pendidikan. Memang di Balige lah para misionaris Jerman dahulu kala mendirikan sekolah pertama untuk kawasan Tapanuli Utara.

Tapi bukan karena perihal itu cerita ini mempersandingkannya dengan Jepara. Melainkan karena dulunya, Balige juga merupakan sentra industri seperti halnya Jepara. Balige dulu sampai-sampai disebut sebagai Majalaya kedua, berkat popularitasnya sebagai penghasil kain tenun dan kain sela.

“Tahun berapa itu, Om?” Ucok mendongak kan kepalanya menatap si Om yang jangkung itu.

Sampai pertengahan tahun 1970-an, julukan Majalaya kedua itu masih melekat. Pada saat itu sekitar 70 hingga 80 unit kilang tenun masih beroperasi. Sayangnya memasuki tahun 1990-an jumlahnya terus menciut. Pada tahun 1998 jumlahnya tinggal 13 unit saja dengan kapasitas produksi yang juga merosot. Dari yang dulunya dominan menengah ke dominan kecil. Dapat dikatakan keberadaan golongan pengusaha tenun, suatu golongan kapitalis lokal, memudar dalam masyarakat Batak Toba di Balige.

“Wah, kok cerita jadi mendung begitu, Om?” si Ucok setengah berteriak. Di luar, mendung yang tadi gelap sudah jadi hujan dan suaranya yang jatuh di atas atap terdengar kencang.

Memang. Dan, itu sebabnya hal ini perlu diceritakan, agar kita dapat menarik pelajaran.

Munculnya golongan pengusaha tenun di Balige terjadi pada masa kolonial, yakni di paruh kedua tahun 1930-an. Ini berlangsung berkat diterapkannya kebijaksanaan pengembangan industri rakyat oleh Pemerintah kolonial, menyusul terjadinya depresi besar di awal dekade tersebut. Pengembangan industri itu dimaksudkan sebagai upaya mengatasi dampak depresi di wilayah itu. Dapat dikatakan, pada masa ini lah munculnya apa yang dinamai kelompok perintis industri tenun di Balige. Dalam hal ini kita bicara tentang pengusaha tenun modern baik yang berbasis teknologi ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan Alat Tenun Mesin (ATM).

Perkembangan usaha tenun ini mendapat 'suntikan' baru pada 20 tahun kemudian. Pemerintah Soekarno kala itu menerapkan kebijakan penjatahan benang tenun pada paruh pertama tahun 1960-an. Kebijakan ini ditempuh dengan tujuan mempertahankan kelangsungan ekonomi rakyat sekaligus menjamin ketersediaan sandang murah. Benang tenun bersubsidi dijatah menurut jumlah pemilikan alat tenun. Usaha tenun di Balige makin marak karenanya. Tak mengherankan bila pada saat ini lah dapat dikatakan sebagai puncak ledakan populasi pengusaha tenun di Balige. Jika pada tahun 1930-an dicatat sebagai munculnya kelompok perintis, maka pada periode 1950-1970 bermunculan pengusaha tenun yang kita golongkan sebagai kelompok pengikut.

Kelompok perintis dan kelompok pengikut ini memulai usaha tenunnya dari nol. Dan ini lah yang membedakannya dengan apa yang disebut sebagai kelompok penerus, yang muncul di paruh kedua 1980-an. Yang disebut belakangan adalah para pengusaha tenun yang meneruskan perusahaan orang tua/keluarganya, yang dahulunya termasuk ke dalam kelompok perintis.

Munculnya golongan pengusaha di Balige tampaknya tak dapat dipisahkan dari struktur adat lokal. Dalam budaya Batak dikenal dua kelompok sosial, yakni marga raja yang merupakan elit tradisional dan marga boru pada posisi 'rakyat.' Hampir semua penguasaan aset, terutama tanah dalam suatu kampung (huta) ada pada marga raja. Tak mengherankan bila akses terhadap sumberdaya ekonomi mau pun politik ada pada marga raja itu.

Cikal bakal usaha tenun di Balige, baik dalam kelompok perintis mau pun pengikut, didominasi oleh tokoh-tokoh dari marga raja tadi. Marga raja itu sendiri adalah Sianipar, Siahaan, Simanjuntak, Napitupulu, Pardede, Panjaitan dan Tampubolon. Pada umumnya, para pengusaha pada kelompok perintis sudah menjadi elit ekonomi jauh sebelum mereka memasuki usaha tenun. Mereka dahulunya, setidaknya menurut ukuran lokal, sudah menjadi pengusaha dagang/jasa yang besar yang membangun usahanya sejak tahun 1910.

Pada tahun 1935 tercatat tiga pengusaha perintis yang cukup besar. Masing-masing adalah Baginda Pipin Siahaan (20 Alat Tenun Bukan Mesin, 30 gedogan), H.O. Timbang Siahaan (10 ATBM, 200 gedogan) dan Karl Sianipar (80 gedogan). Jumlah ini cukup bertahan lama hingga menjadi empat perusahaan pada tahun 1950, yakni dengan hadirnya usaha milik Eli Simanjuntak. Pada tahun 1960, tercatat ada enam perusahaan, kendati Baginda Pipin memindahkan usahanya ke Pematang Siantar.

Pada puncak kejayaan usaha tenun pada 1970, tercatat ada 82 perusahaan berbasis ATM dan 48 unit usaha berbasis ATBM. Memang data ini sudah memasukkan semua usaha pertenunan di kabupaten Tapanuli Utara, namun hampir seluruhnya berada di Balige. Pada masa-masa ini lah Balige sering dijuluki sebagai Majalaya kedua, untuk memberikan perbandingan dengan kota di Jawa Barat yang juga jadi sentra industri tenun.

Pasca 1970-an, usaha tenun di Balige secara perlahan surut. Tahun 1985 jumlah usaha tenun tinggal 18, keseluruhannya adalah ATM. Sepuluh tahun kemudian sudah tinggal 14 unit usaha dan kesemuanya beroperasi di bawah kapasitas. Tahun 1998, jumlahnya tinggal 13. Lagi-lagi semuanya beroperasi di bawah kapasitas.

“Kenapa bisa begitu, Tulang?” Ucok terdengar bertanya dengan nada menghiba. Simpatinya kepada pengusaha di tanah kelahiran ayah-bundanya itu tak dapat ia tutupi.

Cukup panjang ceritanya, apalagi bila yang diinginkan adalah penjelasan akademis-teoritis yang sangat komprehensif. Misalnya, kita bisa juga 'menyalahkan' faktor regional mau pun internasional dalam bentuk kian derasnya penetrasi perusahaan tekstil nasional dan internasional, termasuk dengan makin maraknya perdagangan pakaian bekas sejak 1980-an yang menembus pelosok-pelosok Sumatera Utara. Selain itu di masa Orde Baru dukungan finansial tampaknya agak minim diberikan kepada pengusaha-pengusaha tenun lokal Balige. Pihak perbankan agaknya lebih melihat industri lain ketimbang usaha tenun di kota kecil ini.

Jauh sebelumnya, tanda-tanda makin terpuruknya usaha tenun ini sudah terlihat manakala pengusaha tenun Balige kian kalah bersaing dalam menarik pekerja, bila dibandingkan dengan perusahaan di daerah lain di Sumatera Utara, misalnya sektor perkebunan. Ini terlihat dari bagaimana penduduk Balige dan sekitarnya cenderung memilih bermigrasi ke Sumatera Timur untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi upah dan gengsinya ketimbang tetap bertahan di kampung halamannya.

Namun yang paling penting dari kesemuanya ini adalah penjelasan berikut. Para elit tradisional Batak yang sudah jadi golongan pengusaha itu, rupanya tidak bisa sepenuhnya meninggalkan etos kerja petani dalam dirinya, atau setidak-tidaknya ia kembali kepada etos itu di masa tuanya. Hal ini lah yang oleh para pakar disebut sebagai reproduksi kultur agraris.

Budaya lokal Batak Toba mengatakan bahwa para orang tua bekerja demi membawa anaknya mencapai pendidikan setinggi mungkin, sehingga kelak mereka dapat mencapai tiga sukses. Yakni, sukses dalam bentuk hagabeon (keberhasilan reproduktif dan produktif), hamoraon (kekayaan) dan hasangapon (kehormatan). Etos kerja ini tetap dipegang dan dipraktekkan, dan ternyata membawa dampak yang tidak diharapkan bila dikaitkan dengan kelangsungan usaha tenun yang telah mereka rintis.

Kerja keras para pengusaha tenun itu telah melambungkan status mereka sebagai elit masyarakatnya. Hal itu antara lain terlihat dari tercapainya cita-cita mereka membawa anak-anaknya mencapai pendidikan yang tinggi, berhasil meraih karier yang baik di sektor swasta mau pun pemerintahan. Dan terjadilah ironi. Pendidikan tinggi itu ternyata menyebabkan para putra-putri pengusaha tenun itu tidak berminat menggantikan orang tuanya mengelola kilang tenun. Mereka lebih memilih menggeluti bidang lain.

Sementara itu, orang tua yang telah menyelesaikan 'tugas suci'nya mengantarkan anak-anaknya mencapai pendidikan tinggi, ternyata juga tak lagi merasa mempunyai tantangan besar untuk meneruskan, apalagi mengembangkan usaha tenunnya. Sebagaiamana etos kerja agraris tadi memberi pelajaran kepadanya, ia memandang puncak pencapaiannya telah ia raih, yakni membawa dan menyaksikan anak-anaknya jadi sarjana, jadi pejabat atau jadi penguasa. Hal ini turut makin memperparah nasib usaha tenun yang mereka bangun.

Gejala reproduksi kultur agraris ini terlihat juga di tingkat organisasi perusahaan yang dibangun oleh para pengusaha tenun itu. Jika pada masa 1950-an organisasi produksi di perusahaan-perusahaan tersebut masih bersifat formal-kapitalis, yakni adanya hubungan yang tegas antara majikan-buruh, pada masa 1980-an hubungan semacam ini makin longgar. Majikan bahkan terlihat intensif juga terlibat dalam pekerjaan teknis pertenunan. Ini lah yang ditengarai menyebabkan perusahaan pengikut dan penerus tidak mampu berkembang mengikuti tuntutan perkembangan ekonomi.

“Agak sedikit mengecewakan endingnya, Om. Pusing aku mendengarnya,” Ucok menggumam.

Memang demikianlah selalu. Sejarah seringkali bercerita tentang perubahan. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang muncul, ada yang hilang. Ada pasang ada surut. Meskipun demikian, cerita itu samasekali bukan dimaksudkan menyesali, apalagi meremehkan golongan pengusaha tenun Balige. Sejarah akan mencatat mereka telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi masyarakat Balige mau pun kota itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, mereka telah menggerakkan transformasi sosial lokal. Mereka lah penggerak utama industrialisasi di wilayah itu yang ikut membawa hamajuon (kemajuan) bukan saja di masyarakat lokal di sana, tetapi sangat mungkin di masyarakat lainnya, lewat karya putra-putri mereka. Barangkali dapat dikatakan tidak sedikit dari para elit Batak Toba kelahiran Balige dewasa ini, adalah orang-orang yang dahulunya lahir dan bertumbuh oleh dukungan jerih-lelah ayah-ibu mereka mengelola usaha tenun. Jika dahulu ayah-ibu mereka jadi elit tradisional lewat usaha tenun, sekarang generasi penerus itu menjadi elit modern melalui statusnya sebagai pejabat, jenderal, profesor atau semacamnya. Dan umumnya mereka tak lagi bermukim di Balige tetapi di kota-kota besar lainnya di Tanah Air ini.

“Memang, benar, sih, Om. Tapi aku masih tetap tidak rela, bila usaha tenun itu suatu saat lenyap tak berbekas....,” Ucok setengah memelas setengah menggerutu.

Si Pencerita cuma bisa tersenyum. Ia bangkit berdiri, bersiap-siap meninggalkan Ucok di warung yang masih ramai itu. Sebelum beranjak, si Pencerita menyodorkan secarik kertas. Di dalamnya, ada tulisan: “Dongeng saya tadi selengkapnya bisa kau baca di dua artikel ini.”. Bersama dengan kertas itu ia serahkan juga dua artikel berbentuk fotokopian. Yang pertama berjudul, Market, Culture and State in the Emergence of an Indonesian Export Furniture Industry. Ditulis oleh Jim Schiller dan Barbara Martin Schiller, artikel itu dimuat di Journal of Asian Business volume 13, 1997. Yang satunya lagi berjudul Pembentukan Golongan Pengusaha Lokal: Kasus Pengusaha Tenun dalam Masyarakat Toba. Ditulis oleh M.T. Felix Sitorus dan dimuat di Analisa CSIS tahun XXIX/2000, artikel ini diangkat dari disertasinya di program Pasca Sarjana IPB, 1999.

Hujan sudah reda. Sore itu si Pencerita berjinjit melangkah menghindari becek di jalan raya. Dalam hatinya ia bertanya, siapa lagi yang sudi saya dongengi?

***


Catatan: Cerita lain yang berhubungan, bisa dibaca diMompreneur

1 comment:

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...