Tuesday, December 11, 2007

Kekasih-kekasih yang Mendahului Kita

(Bu Kustiyah dan Om Jamerson dalam Kenangan)

Sarimatondang 3 Desember 2007. Hujan makin deras. Sore makin larut. Di seputar liang lahat berkumpul sanak saudara, para pelayat dan pengantar. Di depan mereka melingkar belasan pria dan wanita berbaju toga hitam.
Mereka, para pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) itu, berdiri menumpangkan tangan sambil bertahan melawan dinginnya embusan angin. Bergantian mereka membacakan ayat-ayat alkitab. Mengiringi peti berisi jasad salah seorang kolega mereka yang diturunkan ke dalam kubur.

Hari ini Pendeta Jamerson Hasiholan Damanik dimakamkan. Saya memanggilnya Tulang. Atau Om. Lengkapnya, Tulang Eton, karena dulu ketika kecil, kami belum bisa dengan sempurna melafalkan nama panjangnya, Jamerson. Ia adik ibu saya. Tiga hari lalu Tulang Eton meninggal di RS Harapan, P. Siantar, karena pendarahan di otak. Ia berpulang keharibaanNya di usia 54. Meninggalkan istri dan empat orang putra-putrinya yang masih remaja. Ia kembali ke pangkuan ibu pertiwi, Sarimatondang tanah kelahirannya, yang sore itu diguyur hujan dan diselimuti mendung.

|+|+|+|+|+|


Jakarta, 5 Desember 2007. Terik matahari menyengat siang ini. Padahal sejak malam hingga pagi tadi hujan dan mendung masih menaungi langit Jakarta. Orang-orang mulai berteduh di pohon kamboja dan belimbing. Baru saja Pak Ustadz merampungkan tausyahnya. Sanak keluarga mulai menabur bunga di makam yang masih berupa tanah merah segar dan basah. Pelayat dan pengantar satu per satu undur dari pemakaman umum Tanjung Barat, Jakarta Selatan itu. Setelah air mata mulai kering, kini keringat membasahi badan.

Hari ini telah dimakamkan Rr Kustiyah Binti Iskandar. Ia meninggal dalam usia 70 tahun. Kemarin malam ia mengalami sesak nafas dan kemudian mengembuskan nafas terakhirnya di RS Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Setahun terakhir Ny Kustiyah hanya dapat duduk di kursi roda akibat terserang stroke oleh komplikasi darah tinggi dan penyakit diabetes. Ia meninggalkan tiga orang putra-putri dan dua cucu. Suaminya sudah lebih dulu tiada empat tahun lalu. Putri saya memanggil Ny. Kustiyah dengan sapaan Yang Ti, kependekan dari Eyang Putri. Saya menyapa dengan panggilan Bu. Ia ibu dari istri saya.

|+|+|+|+|+|

Kematian, kata Ebiet G. Ade, hanya lah tidur yang panjang. Tetapi seperti kita semua tahu, itu hanya lah satu dari banyak cara manusia untuk mengungkapkan ketidaksempurnaan pengetahuannya akan misteri maut. Kematian juga kita sebut sebagai perjalanan pulang sehingga kita mengenal kata berpulang. Tetapi kematian pun berarti keberangkatan atau mangkat. Sebuah kata yang justru menggambarkan awal, bukan akhir.

Sering kita mengatakan mereka yang meninggal sedang menuju persinggahannya yang terakhir. Lagi-lagi aneh. Persinggahan pada dirinya mengandung arti kesementaraan, tetapi pada saat yang sama dibubuhi kata terakhir yang justru mengandung makna final. Orang Batak Toba menyebutkan alam kubur itu sebagai inganan parsatokkinan. Sebuah tempat sementara. Sementara di salib setiap orang Simalungun yang meninggal di Sarimatondang, tertulis kata-kata, Marsaran do Ijon, yang dalam Bahasa Simalungun berarti, di sini beristirahat.

Kematian datang tak pernah bisa diduga. Bermiripan dengan akhir zaman, yang oleh kitab suci digambarkan hadir seperti pencuri. Ia tak pernah diundang. Tanpa aba-aba dan tak ada pemberitahuan. Tetapi maut pasti menjemput. Dengan sekonyong-konyong tanpa kita sempat membuat perhitungan. Menyebabkan kita yang hidup kerap tak habis pikir, bertanya-tanya, penasaran dan sampai beberapa waktu lamanya baru bisa menerima kenyataan.

Tak mengherankan bila nasihat yang tak kunjung usai diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan adalah supaya ikhlas melepas orang yang lebih dulu pergi. Sebesar apa pun kasih kita padanya. Setajam apa pun duka yang menyayat dalam hati. Akhirnya kerelaan jua lah yang bisa jadi obat penawarnya. Sambil waktu berjalan, sambil mengingat-ingat yang baik dari mereka yang telah berlalu itu....

|+|+|+|+|+|

Bu Kustiyah, ibu mertua saya, dilahirkan di Tulung Agung 14 April 1937. Anak keempat dari delapan bersaudara, ia menempuh pendidikan guru, SGB, di Blitar, Jawa Timur. Di Blitar itu ia menghabiskan masa remaja, tinggal di asrama, berlatih bulu tangkis, salah satu olah raga kegemarannya dan cukup ia kuasai –setidaknya begitu lah terlihat dari foto-foto tua di album keluarga. Di asrama di Blitar itu pula dahulu kala, seperti yang pernah ia ceritakan, ia bisa mengingat bagaimana panik dan berlariannya mereka ketika Gunung Kelud meletus. Mereka mengungsi selama berhari-hari.

Kariernya sebagai guru ia awali di tanah kelahirannya, Tulung Agung itu. Cukup lama ia menghabiskan waktu sebagai guru di sini, sehingga tak mengherankan bila ia sering bercerita, tentang pengalamannya yang unik tatkala pulang ke kampung halamannya ini. Yakni, tanpa disangka-sangka selalu ada saja kondektur angkutan umum yang menolak menerima pembayaran ongkos darinya. Usut punya usut, tak dinyana banyak diantara preman terminal di sana adalah bekas muridnya dan tetap masih ingat wajah Bu Kustiyah walau sudah demikian keriputnya....

Bu Kustiyah dipersunting Pak Isnandar tahun 1964. Dan itu lah awal hijrahnya keluarga itu ke Jakarta. Kariernya sebagai guru tetap ia jalani. Antara lain dengan mengajar di sebuah SD Negeri di kawasan Manggarai, Jakarta Timur. Seperti cerita kaum guru tempo dulu di mana pun di seluruh Indonesia, keluarga ini menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan yang bukan sebagai pilihan, melainkan keharusan. Tempat tinggal mereka sempat berpindah-pindah. Sebelum akhirnya menetap di perumahan yang jadi rumah duka ketika ia berpulang, Bu Kustiyah dan keluarga paling tidak sudah berpindah tempat empat kali. Di kawasan Pasar Rumput dua kali kemudian pindah kontrakan ke Jalan Museum di Jakarta Pusat, lalu ke kawasan Kebon Nanas di Jakarta Timur .

Saya selalu mengagumi beliau dari sikap perfeksionisnya dalam hal tetek-bengek administrasi. Sebab hal itu mengingatkan saya pada ibu saya, yang juga lulusan SGB zaman Belanda, yang tak pernah mau berkompromi dalam disiplin dan peraturan. Tatkala menjelang Pemilu tempo hari, misalnya, berkali-kali Bu Kustiyah ingin memastikan, jari dari tangan mana kah --kiri atau kanan -- yang sebaiknya dicelupi tinta seusai mencoblos. Mati-matian kami meyakinkan beliau bahwa tangan mana saja pun diperbolehkan untuk itu. Tetapi ia tampaknya tidak terima. Menurut dia, seharusnya hal semacam itu diatur juga, sehingga tidak perlu ada keragu-raguan seperti yang ada dalam pikirannya.

Sekali waktu tanda tangan beliau diperlukan untuk mengurus surat-surat pensiunnya. Sebelum ia membubuhkan tanda tangan, ia minta disediakan kertas kosong berlembar-lembar. Ketika kertas itu sudah tersedia, segera ia pergunakan untuk ‘berlatih’ menuliskan tanda tangan. Ada 10 tanda tangan ia corat-coretkan di kertas itu, sebelum akhirnya ia membubuhkan tanda tangan di dokumen yang sesungguhnya. Itu pun masih terdengar suara ketidakpuasannya karena ia merasa ‘keindahan’ tanda tangannya itu belum sempurna betul....

Dari beliau, sedikit banyak saya juga belajar tentang gaya diplomasi Jawa yang terkenal itu. Orang Jawa, sebagaimana kerap kita baca dari buku-buku panduan tentang budaya suku bangsa terbesar di Indonesia itu, hampir tidak pernah mengatakan maksudnya secara langsung dan vulgar. Selalu dipilihkannya cara yang berbelok dengan harapan sang lawan bicara bisa menangkap arah perbincangan dan memberi respon yang diharapkan, tanpa merasa tersinggung atau ‘diperintah.’

Bu Kustiyah kerap kali berbicara dalam gaya seperti itu. Ia cukup jeli menemukan lekukan-lekukan diplomasi yang tepat. Bahkan ketika ia berhadapan dengan yang bukan berlatarbelakang Jawa sekali pun. Misalnya, suatu kali pada hari lebaran, dua tahun lalu, rumah Ibu Mertua mendapat kunjungan beramai-ramai dari keluarga besar saya, yang notabene orang Batak norak bin udik. Hingga larut senja belum ada tanda-tanda keluarga besar saya itu akan beranjak pulang. Istri dan saya sudah mulai rada gelisah karena kami juga sebenarnya sudah kelelahan dengan kunjungan tamu beruntun yang tak henti-hentinya pada hari itu. Dan sang Ibu Mertua lah yang ternyata menyiapkan senjata diplomasinya. Sambil mengelus salah seorang keponakan yang masih bocah, ia berkata, “Wah, sudah capek ya le. Gak pa-pa. Nanti di jalan sewaktu pulang, kamu bisa tidur pulas.....” Senyap seketika, tetapi tak lama kemudian para tamu memang segera berkemas.

Penyakit diabetes sudah menghinggapinya jauh sebelum ia pensiun. Dan karena itu pula, diet terhadap semua makanan yang mengandung karbohidrat tinggi plus gula, tak pernah ia kompromikan hingga akhir hayatnya. Itu sebabnya, berkali-kali ia masuk rumah sakit tempo hari bukan karena kadar gula darahnya yang terlalu tinggi. Tetapi justru karena terlalu melorot. Rupanya karena ia ingin disiplin, ia memperketat dietnya. Sampai-sampai porsi makannya ia tekan sampai jauh di bawah porsi yang seharusnya.

Di usianya yang sudah senja, berbekal uang pensiun dirinya dan suaminya yang tidak seberapa, ia menjalani hidup di rumah yang sudah mereka tinggali sejak 1974. Sepenglihatan saya, rumah itu bukan lagi sekadar tempat berteduh bagi dirinya, melainkan juga menjadi kampung halaman tempat segalanya ada dan tersedia secara ajeg. Ini yang tak pernah tergantikan oleh apa pun, menyebabkan ia tak lagi pernah betah berlama-lama menginap di rumah anak-anaknya. Ia pernah menginap di rumah kami selama satu minggu. Tetapi dalam tiga hari terakhir kunjungannya itu ia habiskan dengan berkeluh kesah dalam nada tanya, “wadduh, udah gimana rumah saya ya. Pasti sudah kotor tidak ada yang urus….”

Rumah itu memang benar-benar memanjakannya. Walau bentuk bangunannya sangat sederhana, tua dan bocor dimana-mana, tak bisa dipungkiri itu lah rumah yang sungguh menyatu dengan dirinya. Setiap pagi ia sudah akan meminta ‘suster’ pengasuhnya mendorong kursi rodanya ke teras depan. Seolah ia hafal bahwa tak lama lagi si Dul, tukang sayur langganannya akan tiba dan berhenti persis di pintu pagar. Lalu dari atas kursi roda itu dengan suara ‘Ibu Guru’ nya ia akan mendiktekan belanjaannya hari itu. Selain tahu, tempe dan kerupuk, belanjaannya yang tak pernah alpa adalah labu siam mini untuk direbus dan dicocoli sambal.

Hampir setiap hari Minggu siang kami menyempatkan diri singgah menjenguknya. Dan cemilan yang tak pernah absen di meja makan adalah rempeyek bikinannya yang renyah, dengan butir-butir kacang sporadis yang seolah melotot. Tak pernah pula ia lupa membubuhkan irisan daun jeruk dalam adonan rempeyek itu, menyebabkan kadang kala potongan daun itu ada juga terselip di lidah ketika mengunyahnya. Rempeyek lah yang selalu jadi oleh-oleh kebanggannya manakala ia bepergian ke tempat dekat mau pun jauh. Misalnya, tiap kali adik ipar saya membawanya memeriksakan diri ke dokter langganannya setiap bulan, ia selalu membawakan beberapa keping rempeyek dalam bungkus plastik untuk diberikan kepada sang dokter. Sampai akhir hayatnya saya tidak berani bertanya apakah ia mendapat tarif diskon karena oleh-oleh rempeyek itu. Sayup-sayup saya ingat juga, tatkala mereka tempo hari datang ke Sarimatondang menghadiri pernikahan saya dengan putrinya, rempeyek jua lah yang jadi oleh-olehnya.

Seminggu sebelum ia meninggal, seperti biasa pada hari Minggu, kami mengunjunginya. Ia duduk menonton televisi ketika kami tiba. Putri saya segera menciumnya di pipi, ritual yang sudah beribu kali terjadi sebagai pembuka dan penanda kehadiran kami di rumah itu. Suara Bu Kustiyah terdengar ceria, berceloteh tentang macam-macam hal, seolah presenter televisi yang menyiarkan berita terkini tentang perkembangan keadaan di seputar kompleks tempat tinggalnya itu. Ia juga mengingatkan kami agar tidak lupa untuk datang ke arisan Keluarga Kedunggalar (nama desa kelahiran ayah Mertua, red) minggu berikutnya.

Walau sudah setahun terakhir tidak bisa menggerakkan separuh badannya yang menyebabkan kursi roda menjadi bagian penting mobilitasnya, kesehatan Ibu mertua sesungguhnya terlihat prima. Paling tidak bila dibandingkan dengan dulu sekali, manakala ia kerap masuk rumah sakit akibat kadar gulanya yang drop. Tiga tahun lalu, kami menduga ia sudah akan 'pergi', karena beberapa kali ia pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tetapi rupanya waktu masih mau berdamai. Dan memberinya kesempatan yang lebih panjang.

Itu sebabnya kian hari kami bergembira melihat perkembangan kesehatannya. Detik demi detik kami menikmati saja bercengkerama dengannya, sembari sekali-kali meledek pendengarannya yang mulai terganggu yang membuat kami harus mengulang-ulang cerita yang sama di dekat-dekat telinganya.

Mungkin karena kami terlalu yakin akan kesehatannya, sehingga tak terlalu hirau ketika pada hari Minggu itu, ia seperti memberi isyarat akan kepergiannya. Yakni ketika sambil lalu ia memanggil putri saya dan menyematkan uang Rp100 ribu ke tangannya. Sambil begitu, Bu Mertua berujar uang itu diberikannya sebagai sangu untuk merayakan Natal kepada sang cucu. “Wis, sudah ya, pokoknya aku sudah kasih. Nanti ndak usah minta lagi,” kata dia.

Tidak pernah Bu Mertua memberikan hadiah sebelum waktunya. Apakah itu hadiah Ulang Tahun, hadiah Lebaran dan juga hadiah Natal, selalu ia berikan tepat pada hari H. Atau paling tidak sehari sebelumnya. Itu sebabnya, istri saya sempat bertanya, “Kok buru-buru amat sih, kasih hadiah Natal sekarang?,” yang segera ditukas oleh Bu Mertua, “Nanti takut lupa, takut tak sempat.”

Jika sudah begitu, ketegasannya yang mewujud pada senyum tipis dan keanggunan dalam ketenangannya, tak kan mungkin dapat dibantah. Dan senyum tipis dan keanggunan itu lah yang terus ia perlihatkan dalam raut wajahnya, hingga ia memejamkan mata, dimandikan, dikafani dan kemudian ditandu menuju ambulans yang membawanya menuju pemakaman, Rabu, 5 Desember lalu.

Sambil mengiring jenazah setelah disembahyangkan di masjid dekat rumahnya, dalam hati ada terbersit sedikit tanya. Di Alam Baka sono, akankah Bu Kustiyah akan bertemu dengan orang-orang tercinta yang telah terlebih dulu mangkat, termasuk bertemu dengan Tulang (Om) Jamerson Hasiholan Damanik, paman saya yang dua hari sebelumnya masih sempat saya jenguk jasadnya dan antarkan ke tempatnya dimakamkan di Sarimatondang?



|+|+|+|+|+|

Om Jamerson, dilahirkan di Sarimatondang, 25 September 1953. Terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, masa SD hingga SMP ia habiskan di Sarimatondang, sebelum melanjutkan SMA ke Pematang Raya, kota kecamatan sejauh lima jam perjalanan dari Sarimatondang. Tentang masa kecil Om Jamerson, saya pernah mendengar cerita dari ibu saya, yang tak lain adalah kakak sulungnya. Katanya, dulu ketika masih sekolah dasar, Om Jamerson pernah menangis meraung-raung karena permintaannya tidak dikabulkan. Memang bukan hal lazim yang dia pinta itu. Sebab Om Jamerson minta dibelikan pakaian berupa jubah hitam dengan dasi putih kecil, seperti yang lazim dipakai oleh para pendeta ketika berkhotbah. Kontan saja permintaan itu tak dikabulkan. Sebab, selain sulit menemukan tukang jahit yang mau menerima order demikian, tidak pula pantas membiarkan kanak-kanak berjubah pendeta. Tidak senonoh, bukan, jika jubah sakral itu disamakan dengan kostum Spiderman yang bisa dipakai main bola dan petak umpet?

Tetapi keinginannya mengenakan baju toga hitam berdasi putih kecil itu akhirnya tercapai juga. Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Teologia, P. Siantar dan menjalani masa vikar di salah satu gereja GKPS, pada tahun 1982, ia ditahbiskan menjadi pendeta. Usianya kala itu 29 tahun. Saya sudah lupa di tempat-tempat mana saja ia pernah ditugaskan sebagai pendeta setelah itu. Yang sempat saya ingat antara lain di kota Medan, Seribudolok, Kotarih, Gunung Monaco, Sibolga dan Simpang Sigodang. Putri sulungnya, Mona, ia beri nama itu untuk mengingatkan tugasnya di GKPS Gunung MONAco. Putri ketiganya, Olga, lahir ketika ia bertugas sebagai pendeta GKPS di SibOLGA.

Kakak dan adik-adiknya –tujuh orang-- memanggilnya dengan sapaan akrab, Esson. Tetapi lidah kami keponakannya yang masih kecil kala itu, tak bisa melafalkannya dengan sempurna. Jadilah kami memanggilnya Tulang Eton atau Om Eton. Setelah ia jadi pendeta, beberapa orang keponakan yang masih kecil mengubah panggilan itu menjadi Tulang Pandita atau Om Pendeta. Tetapi saya masih sering lupa dengan panggilan baru itu dan merasa lebih afdol untuk tetap memanggilnya Tulang Eton, kendati panggilan itu sering menghadirkan delikan mata dari orang-orang yang tidak tahu sejarahnya.

Sebagai keponakan (panogolan)nya yang paling tua, sejak dini saya telah menikmati kemanjaan darinya sebagai Om (Tulang). Kemanjaan yang demikian itu bahkan masih juga kerap saya dapatkan hingga saya sudah berkeluarga dan mempersembahkan cucu padanya. Tatkala bertemu, sesekali kami masih saling ledek dan saling sindir. Juga saling remeh-meremehkan pekerjaan kami masing-masing.

Sekali waktu ia berkunjung ke Jakarta dan saya menjemputnya dari tempat penginapannya. Lalu kami terlibat diskusi yang panjang tentang berbagai cara orang mencari nafkah di Jakarta. Kemudian dia menasihati saya dengan mengatakan profesi wartawan tak beda dengan pendeta. Sama-sama berkhotbah, hanya saja wartawan berkhotbah lewat tulisan-tulisannya. Makanya, dia menasihati saya dalam nada meledek, agar saya menulis lah dengan benar, jangan cuma mengejar headline yang bombastis agar korannya laku bak kacang goreng.

Saya membalas sindirannya itu dengan mengatakan bahwa pendeta juga mengemban tugas sebagai wartawan, mewartakan sukacita. Karena itu saya melancarkan kritik balik agar setiap pendeta kiranya kalau berkhotbah jangan melulu menghakimi apalagi menakut-nakuti. Melainkan selami dan kumpulkanlah fakta hidup masyarakat, berempati lah pada keras dan ganasnya realitas yang dihadapi jemaat, lalu dari sana pantulkan lewat khotbah. Dijamin, gereja akan ramai, kolekte makin banyak dan yang paling penting, para pendeta tak lagi hidup di menara gading atau bersembunyi di bawah tempurung. Dengan begitu bukan tondong (yang dalam Bahasa Simalungun berarti kerabat) melainkan gereja lah yang jadi andalan manusia sebagai tempat pangalopan tuah, gogoh pakon podah (tempat mendapatkan berkat, kekuatan dan nasihat).

Kami berdua lantas tertawa oleh banyolan kami itu.

Dulu ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar dan Om Eton di awal kuliahnya di Pematang Siantar, pada akhir pekan ia sering pulang kampung ke Sarimatondang. Lalu setiap pagi hari Jum'at dan Minggu, ia kebagian tugas menarik kereta dorong berisi beras dalam karung (goni) untuk di bawa ke kios Oppung (nenek), yang memang berjualan beras di pasar Sarimatondang. Seperti sudah kerap kali saya ceritakan, pasar di Sarimatondang tempo dulu hanya buka pada hari Jumat dan Minggu. Dari rumah Oppung, pasar itu berjarak kurang lebih setengah kilometer.

Maka pada pagi-pagi sekali, saya dan adik-adik akan turut membantunya untuk tugas rutin itu. Ia menarik kereta dorong di depan, kami para bocah-bocah mendorongnya dari belakang. Pekerjaan itu bisa berulang-ulang kami lakukan, mengingat hanya satu karung berkapasitas 200 kg lah yang bisa kami angkut sekali jalan.

Kami para keponakannya senang-senang saja membantunya. Selain karena kami akan mendapat bonus –naik di atas kereta dorong selepas menurunkan beras-- yang paling kami tunggu-tunggu adalah singgah di warung kopi seusai menuntaskan pekerjaan itu. Om Eton akan memesan teh manis atau teh susu untuk kami. Lengkap dengan berbagai cemilan, mulai dari pisang goreng, kue lapis hingga nasi ketan bertabur parutan kelapa gongseng dan gula pasir. Rasanya nyusss. Benar-benar made in Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) yakni si pemilik warung itu. Kami tak perlu membayar. Om Eton juga tak perlu membayar. Sebab semua jajan kami itu nanti akan diperhitungkan oleh Oppung. Si Pujakesuma pemilik warung itu memang selalu belanja beras dari kios Oppung.

Tak ada yang meragukan sikap supel dan luasnya pergaulan Om Eton. Sejak ia masih mahasiswa hingga menjelang akhir hidupnya, ia punya banyak teman, dikenal sebagai orang yang piawai 'menghidupkan suasana.' Ini bukan kesaksian subjektif saya. Tetapi diceritakan oleh banyak orang yang pernah mengenal dan bersosialisasi dengannya. Termasuk oleh orang-orang yang melayat jasadnya.

Tatkala masih mahasiswa, dia pernah tinggal di asrama STT Pematang Siantar yang terkenal 'sangar', sama seperti asrama-asrama mahasiswa mana pun di dunia. Saya pernah sambil lalu diajaknya singgah ke asramanya itu. Dan saya bisa menyaksikan betapa gaulnya Om yang satu ini. Kamarnya tak henti-hentinya didatangi kawan-kawannya. Kamar itu adalah tempat diskusi yang ramai, tetapi sekaligusnya juga pemondokan yang siang-malam dihuni silih berganti oleh teman-temannya. Ia aktivis gerakan mahasiswa, yang menyebabkan ia pernah terbang ke Jakarta akibat aktivtiasnya itu. Di sisi lain, aktivitas itu pula yang menyebabkan dia menyelesaikan studi dalam tempo yang lebih lama.

Kamar tidurnya di Sarimatondang tak kalah semrawut dan juga ramainya, manakala ia pulang kampung. Ladang nenas di belakang rumah Oppung, adalah salah satu ajang bagi dia mengajak kawan-kawannya dari Siantar untuk bercengkerama sekaligus berdebat. Sambil begitu, saya sering curi-curi dengar apa saja yang mereka diskusikan. Salah satunya yang pernah membuat saya penasaran, adalah ketika mereka menyebut-nyebut sebuah judul buku, Telah Kudengar dari Ayahku. Karena demikian bersemangatnya mereka mendiskusikannya, dalam hati kanak-kanak saya, saya bertekad suatu saat akan melalap habis membaca buku itu. Tekad ini tak pernah saya wujudkan, kecuali setelah kelak di Jakarta, saya baru tahu bahwa buku Telah Kudengar dari Ayahku itu ternyata buku teologia (bukan novel seperti yang saya duga) (Dan dunia ternyata sempit. Dalam perjalanan dari Banda Aceh ke Jakarta beberapa bulan lalu, di atas pesawat persis di sebelah kanan saya, duduk seorang bule yang mengaku bermarga Panggabean. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan saya katakan saya menempuh SMA di SMA Nommensen P. Siantar, dia kemudian mengaku bahwa dia juga dulunya pernah di P. Siantar sebab ayahnya dulu dosen di STT. Si bule itu ternyata adalah Klaus H. Schreiner, PhD. Ayahnya lah dulu yang menulis buku Telah Kudengar dari Ayahku itu. Menurut dia, judul asli buku itu dalam Bahasa Jerman adalah Agama dan Budaya, menceritakan studi tentang hubungan adat dan agama dalam budaya Batak).

Tatkala saya duduk di kelas satu SMA di Pematang Siantar, suatu sore tiba-tiba Om Eton atau Om Jamerson muncul di pemondokan saya, yang tak lain adalah juga rumah tante (adik ibu nomor tiga). Ia singgah dari tempatnya bertugas entah dimana. Ia tampak agak sibuk dan karena itu kami tidak sempat mengobrol panjang. Hanya saja, pada pagi hari keesokan harinya ketika saya akan berangkat ke sekolah, ia meminta saya menunggu sebab ia juga ingin pergi bersama-sama. Kami pun berjalan kaki menyusuri jalan di kawasan pabrik rokok BDB, di P. Siantar, itu menuju sekolah saya. Selintas pintas ia menanyai saya tentang pelajaran, dengan nada bertanya yang agak serius. Tanpa bisa direm, saya pun lantas curhat kepadanya , antara lain saya bercerita tentang lemah dan sulitnya otak saya mengikuti pelajaran Bahasa Inggris.

Lama ia terdiam, untuk kemudian berujar, “Palpal ma torus marlajar. Akkin dapot ho do holi. Lang dong ambia parlajaran na sussah.” (artinya: Bantai lah terus belajar. Nanti juga kamu akan mampu. Tidak ada pelajaran yang sulit). Sampai hari ini, kata 'palpal' itu masih tak pernah bisa saya lupakan. Palpal, yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia secara harfiah, adalah membanting, membantai, mirip kalau kita membantai atau membanting kasur agar debu-debunya lenyap. Namun kalau digunakan untuk menggambarkan usaha untuk mendapatkan hasil, palpal juga berarti kerja keras tak bosan-bosan, ngotot dan tak kenal kata menyerah.

Dalam bayangan kanak-kanak, kerap kali kita punya gambaran khas tentang pekerjaan-pekerjaan tertentu. Misalnya tentang pekerjaan sebagai pendeta. Di masa kecil, saya selalu membayangkan hebat-tidaknya seorang pendeta dari menarik tidaknya khotbahnya ketika ia berada di mimbar. Saya selalu dicengangkan oleh gaya dan pilihan kata para Pendeta ketika ‘menyihir’ audiensnya.

Tetapi ketika saya mahasiswa gambaran itu sedikit banyak berubah. Atau paling tidak, makin kaya warna. Saya mulai membayangkan tugas pendeta lebih dari sekadar berkhotbah. Penyebabnya adalah ketika saya makin banyak bergaul dengan kawan-kawan katolik dan terpengaruh melihat betapa luas dan aneka ragamnya peran yang dikerjakan oleh seorang pastor. Para pastor itu bukan hanya piawai dalam retorika dan filsafat, tetapi juga menjadi penggerak masyarakatnya, atau dalam analogi yang kerap digunakan dalam kitab suci, menjadi ‘garam dunia.’

Khasanah katolik banyak memberikan teladan-teladan dalam hal ini. Mulai dari tokoh yang mendunia seperti Mother Theresia, ‘tokoh nasional’ seperti Romo Mangun yang jadi pahlawan kali Code, sampai pada teman saya, Pukka Agustinus Situmorang –alumni seminari yang urung jadi pastor tetapi tetap jadi ‘garam dunia’ di asrama kami yang legendaris di Bandung (lihat juga tulisan di blog ini, Pukka yang Selalu Lebih Tua dari Usianya). Semua mereka adalah gambaran tentang rohaniawan yang tidak hanya bergerak di alam rohani tetapi berani berlumpur dan masuk ke dunia awam.

Gambaran semacam ini lah yang saya bayangkan pada Om Jamerson, ketika pada perjalanan kariernya sebagai pendeta di kemudian hari, puluhan tahun ia habiskan di desa-desa kecil. Setelah sempat menikmati penempatan di kota-kota yang ramai dan nyaman –antara lain di Medan, P. Siantar dan Seribudolok—tiba saatnya ia ‘mengabdi’ di jemaat-jemaat yang berada di pelosok, yang mungkin masih belum tercantum di peta. Ia mengabdi di Gunung Monaco, sebuah desa dengan jemaat kecil yang bila menilik namanya bernuansa ‘internasional,’ tetapi dari gambaran yang pernah saya dengar desa ini tak lain dari sebuah wilayah yang masih muda. Om Jamerson juga pernah melayani di Kotarih, Singgalang, sebuah desa yang juga tak terlalu populer di telinga orang kebanyakan. Di Sibolga ia menghabiskan waktu beberapa tahun, meliputi wilayah pelayanan hingga ke Gunung Sitoli di pulau Nias. Yang paling lama, ia melayani di jemaat Sirpang Sigodang, sebuah desa yang tak berapa jauh dari Sarimatondang desa kelahirannya, dan udik dan noraknya, dugaan saya, tak jauh beda pula dengan kampung halaman kami itu.

Untuk sebagian orang, penempatan semacam ini barangkali dipandang sebagai semacam ‘plonco’ tetapi dalam hati kecil saya sendiri, saya bertepuk tangan. Sebab saya yakin, Om Jamerson pasti akan survive, pasti akan menikmati bahkan pasti akan banyak belajar dan semakin dewasa dari menghadapi tantangan-tantangan semacam itu. Satu-satunya yang sedikit merepotkan adalah bagaimana keluarganya harus terus-menerus beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi istrinya adalah dokter gigi yang berstatus pegawai negeri yang bekerja di Puskesmas. Tiap kali penempatan si Om berpindah, ia harus juga mengurus perpindahan tempat bekerja.

Ketika Om Jamerson berada di pelosok-pelosok ini, saya sudah berada di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Updating kabar tentang pelayanannya saya dapatkan dari kerabat mau pun sesekali dari kenalannya yang kebetulan berjumpa. Ternyata dugaan saya tak terlalu meleset. Om Jamerson tetap survive, hidup, dan sedikit banyak berusaha mewarnai tempat-tempat dimana ia melayani.

Ketika ia masih melayani di GKPS Sirpang Sigodang (mungkin 10 tahun lalu), ia datang ke Jakarta entah untuk urusan apa. Saya belum menikah kala itu. Lalu kami bertemu di sebuah kedai orang Batak, ngobrol ngalor ngidul sebelum akhirnya ia pulang ke tempat dia menginap, di rumah seorang kerabat. Tatkala ngobrol ngalor ngidul itu lah dia menitipi saya sebuah bungkusan bersampul putih di kantong plastik berwarna hitam. “Andon ambia, ibam ma on. Bagi-bagi hubani ise pe naitanda ho. Andohar marubah nasib ni halakanon,” kata dia dalam Bahasa Simalungun. Artinya: “Ini, Bung, saya memberikannya padamu. Bagi-bagikan lah kepada siapa saja yang kamu kenal. Semoga nasib orang-orang ini berubah.”

Ketika saya buka, bungkusan itu berisi kurang lebih 10 kaset. Di sampul kaset itu, terlihat foto sekelompok pemuda dengan seragam batik yang sederhana. Om Jamerson juga ikut dalam foto itu. Rupanya di tempat pelayanannya, ia mengorganisasikan sebuah grup vokal yang terdiri dari pemuda-pemuda desa. Di sampul belakang kaset, saya membaca susunan personil grup vokal itu dan Om Jamerson sebagai pembina. Saya sudah lupa nama grup vokal dimaksud. Yang pasti kesemua lagu-lagunya adalah lagu Simalungun ciptaan mereka sendiri!

Kaset itu, ketika saya coba dengarkan di kemudian hari, bukan lah kaset yang sempurna. Kualitas rekamannya jauh dari standar yang biasa kita dapatkan pada kaset-kaset rekaman secara komersial. Sebab agaknya ia direkam di studio lokal di P. Siantar dengan instrumen musik sekadarnya. Tetapi hal itu justru menambah keharuan dan rasa hormat saya pada si Om yang telah berusaha berbuat dengan apa yang ia bisa itu. Saya tak pernah bertanya kepadanya bagaimana kelanjutan proyek rekaman itu. Juga saya tak berani mencari tahu apakah ia telah berhasil mengubah hidup para pemuda yang ingin ia orbitkan lewat rekaman kaset. Sebab saya bisa menilai sendiri bahwa itu adalah sebuah proyek yang gagal bila dilihat dari sisi komersialnya. Om Jamerson samasekali tidak pintar bernyanyi, tidak bisa main musik. Tetapi jika saya membayangkan bagaimana hari-hari latihan para personil grup vokal itu, bagaimana mereka mengusahakan seragam batik yang necis menurut ukuran kampung, bagaimana mereka datang bersama-sama ke studio foto untuk diambil gambarnya dan kemudian dijadikan sebagai label layaknya sebuah kaset yang siap dipasarkan, bukankah itu sebuah gambaran ikhtiar yang ingin menerobos kebekuan inisiatif?. Maafkan lah saya Om. Sampai hari ini, tak satu pun dari kaset itu sempat saya bagi-bagikan kepada siapa pun. Juga saya tak lagi menyimpannya....

Barangkali karena pengalamannya di pelosok-pelosok itu, banyak orang mengingat Om Jamerson dari khotbah-khotbahnya yang faktual tentang hidup keseharian akar rumput Simalungun. Pekat dengan empati pada orang-orang biasa dengan cara hidup biasa, yang selanjutnya terpantul sebagai sebuah penghiburan, energi dan harapan. Saya baru sekali mendengar khotbahnya dalam pernikahan adik di GKPS Sarimatondang. Yang saya kagumi dari khotbah itu adalah Bahasa Simalungunnya yang mengalir, paduan antara bahasa percakapan dan bahasa teks, mengingatkan saya pada bahasa yang kerap dipergunakan oleh orang-orang Urung Panei dan Marubun (kampung halaman ayah dan ibunya) yang dulu sering memandu kami manakala berjiarah ke desa-desa itu.

Om Jamerson pintar membuat orang tertawa, kendati saya tahu, dalam hidup kesehariannya Om Jamerson sama seperti kita juga, acap dilanda masalah pelik seperti juga peliknya persoalan yang dihadapi keluarga-keluarga jemaatnya. Di lingkungan keluarga, Om Jamerson adalah penghibur, motivator dan sumber cerita-cerita lucu yang tiada habisnya. Dari Om Jamerson kami banyak mendengar kelucuan dan kenaifan orang-orang Simalungun di tempat-tempat mana ia pernah ditempatkan. Dari beliau lah saya banyak mendapat info tentang betapa kaya warnanya orang Simalungun dan betapa orang Simalungun dari Sarimatondang belum apa-apa dibandingkan dengan orang Simalungun dari wilayah lainnya; baik dalam hal norak bin udiknya tetapi juga sekaligus dalam soal keluhuran dan kesantunan budayanya.

Namun, dibalik keceriaan pembawaannya, dibalik kemampuannya menghidupkan suasana, Om Jamerson sesungguhnya adalah pribadi yang rapuh dalam arti gampang terharu, gampang luluh dan gampang menangis. Ini bukan rahasia, tetapi hampir semua keluarga tahu hal ini. Tak mengherankan bila ada yang berspekulasi bahwa kedua orang tuanya dulu memberi nama tengah Hasiholan kepadanya –yang berarti kerinduan atau seseorang yang selalu dirindukan—tak lain karena menyimak sifat lembek dan melankolisnya. Dua Om lainnya yang merupakan kakak dan adik lelakinya, diberi nama tengah yang lebih macho. Sang kakak diberi nama tengah Hamonangan (kemenangan) dan si adik diberi nama tengah Hasintongan (kebenaran).

Kelembekan dan kerapuhannya akan sangat terlihat manakala ia datang ke Jakarta. Oleh karena tugas, beberapa tahun terakhir ia beberapa kali datang ke Jakarta. Dan sangat jelas terlihat ia kikuk, frustrasi dan kapok melihat ruwet, macet dan bergegasnya kota Jakarta. “Sondia do lea, ibahen hanima ase boi manggoluh i Jakarta on....”katanya suatu kali. (Artinya: Bagaimana sih kok kalian bisa hidup di Jakarta?) Seorang paman yang menjemputnya dengan taksi dari Bandara, bercerita bagaimana Om Jamerson pada setiap perempatan lampu merah tak henti-hentinya bertanya: ” Kok kita nggak sampai-sampai? Masih jauhkah perjalanan kita?”

Kalau dia sudah kikuk dan merasa bahwa Jakarta bukan lah habitatnya, saya selalu tertawa dan memperolok-olokkan Om Jamerson. Lalu di sana-sini saya mendramatisasi cerita. Saya berkata, di Jakarta ini orang harus membiasakan diri untuk dapat tidur sambil berdiri di atas kereta mau pun bis, menuju dan pulang dari kerja. Sebab orang-orang biasanya berangkat pada subuh dan pulang pada larut senja. Setengah percaya setengah heran, ia lantas menyelutuk, “Bam ma Jakarta nima in, seng apot au in. Rahananma totap parhuta-huta au, anggo sonin do hape dalan ase boi mulgap i Jakarta on "( Kalau begitu, untukmu saja lah Jakarta itu. Tak ada seleraku melihatnya. Lebih baiklah aku tetap jadi orang udik, kalau hanya demikianlah cara untuk bisa tetap bertahan di Jakarta…)

Jakarta rupanya banyak menyisakan pengalaman tak mengenakkan baginya. Dulu ketika ia masih mahasiswa, ia pernah menjadi utusan organisasi mahasiswa untuk mengikuti kongres di Jakarta. Dan, apa yang ia dapatkan? Selama berjam-jam ia terlantar di Bandara Kemayoran (ketika itu bandara di Jakarta belum pindah ke Soekarno-Hatta) karena penjemput yang dijanjikan tidak kunjung datang. Menurut cerita dia, ia terduduk di lantai, bersandar pada pilar-pilar bandara sambil celingak-celinguk setengah putus asa. Sendirian di tengah keramaian. Untung saja, tanpa yang ia sangka-sangka, ada orang eks Sarimatondang yang saat itu tengah menjemput orang tuanya yang hari itu tiba dari Medan. Si orang itu mengenal Om Jamerson, dan setelah mengetahui duduk-perkaranya, si orang Sarimatondang lah yang kemudian mengantarkan si Om ke tempat tujuannya.

Kala lain, Om Jamerson pernah menangis tersedu-sedu –juga ketika ia masih mahasiswa—sepulang dari Jakarta mengikuti aktivitas organisasi kemahasiswaannya. Saya yang kala itu masih bocah terheran-heran melihat ia menangis dan menelusupkan kepalanya ke pangkuan nenek. “Sampai kapan pun saya tak akan ke Jakarta lagi….,” katanya seperti bersumpah dalam tangisnya. Usut punya usut, ternyata dalam perjalanan menuju Jakarta dengan menggunakan kapal laut (Tampomas?), kapal itu sempat rusak di tengah laut. Beberapa hari mereka terkatung-katung, menyebabkan si Om Jamerson hampir putus harapan.

Sifat melankolis dan mudah luluhnya itu lah, tampaknya yang menyebabkan ada semacam kesepakatan tidak tertulis di kalangan keluarga agar si Om Jamerson lah si ‘penjaga tanah kelahiran.’ Om Jamerson tak diizinkan pergi jauh-jauh. Om-om yang lain boleh pergi merantau kemana saja, ke Jakarta atau ke Kalimantan, tapi Om Jamerson tetaplah sebagai Jamerson dengan gelar Hasiholan (orang yang dirindukan). Keceriaannya tetapi sekaligus sifat mellownya, menjadi pengobat rindu sekaligus yang selalu dirindukan.

Seperti kebanyakan kita, Om Jamerson juga pernah mengalami masa suram dalam hidup dan kariernya. Beberapa tahun lalu ia terkena stroke menyebabkan dirinya berbulan-bulan terbaring di rumah sakit. Sebelumnya, sebagai pendeta ia juga pernah mendapat ‘penggembalaan,’ kata lain dari mendapat teguran. Sifat tak mau diamnya pada lingkungan sekitarnya, rupanya menyebabkan ia pernah aktif pada pendirian partai lokal di area pelayanannya dan agaknya itu menjadi salah satu sorotan.

Menghadapi ketidakberdayaan dalam derita strokenya itu, hampir seluruh keluarga sudah pasrah. Kalau pun ajal memanggilnya kala itu, tak ada lagi orang yang tidak rela. Tetapi, seperti kearifan yang sudah berulang-ulang kita dengar, bahwa ajal tak pernah dapat diramalkan, kenyataan justru bertutur lain. Dengan dukungan istrinya dan riuhnya empat orang putra-putrinya, lambat laun Om Jamerson bisa pulih. Sehat seperti sediakala. Aktif lagi. Apalagi kemudian berkah lain datang padanya. Ia mendapatkan penempatan sebagai sekretaris Badan Diakonia Sosial (BDS) pada GKPS. Ia ditempatkan di Pematang Siantar, kota yang tak begitu jauh dari Sarimatondang dan kota yang sudah begitu ia kenal sejak masih kuliah dulu. Penugasan ini juga menyebabkan dia bisa lebih luas lagi mengeksplorasi keprihatin dan kegemarannya terlibat langsung dalam kemasyarakatan.

Setelah ia sembuh itu, Om Jamerson kembali menjadi sosok yang paling menyenangkan yang pernah saya bayangkan. Terakhir kali kami bertemu semasa ia hidup, adalah dalam kedudukannya sebagai sekretaris BDS itu dan ia mengikuti kursus singkat manajemen Institut Pembinaan dan Pengembangan Manajemen (IPPM) di Jakarta. Karena sedikit banyak sudah kenal dengan ‘ketergesaan’ hidup di Jakarta, maka ia memilih tinggal di penginapan yang tak jauh dari IPPM di kawasan Menteng. Sebuah penginapan murah, agar bisa terjangkau oleh budgetnya, tetapi yang terlebih lagi supaya ia bisa sewaktu-waktu dapat menemukan makanan pinggiran yang cocok di lidahnya. Setelah saya mengantarkannya ke penginapannya dan akan meninggalkannya, sejenak ia menarik tangan saya dan menyuruh saya duduk kembali. “Ada yang kau kelupaan. Bikin dulu peta dari tempat ini menuju IPPM. Jalan mana yang sebaiknya aku tempuh,” kata dia. Ternyata peta itu memang sangat vital baginya, karena setiap hari selama kursus singkatnya itu, ia berjalan kaki pulang pergi dari penginapannya ke tempat kursus. Cukup jauh jarak itu bagi ukuran orang Jakarta, tapi hanya sepenggal saja bagi ukuran pendeta kampung seperti dia…

Selama kursus itu pula, saya dapat melihat begitu terpesonanya ia pada ‘Manajemen’ dan makin kurang tertarik untuk saya ajak diskusi tentang teologia. Sambil berbincang-bicang sore hari di penginapannya itu, ia menceritakan topik-topik yang mereka diskusikan selama mengikuti kursus. Tentang bagaimana menerjemahkan visi dan nilai-nilai ke dalam sistem dan praktik sehari-hari. Tentang bagaimana menerapkan disiplin dalam terang kasih dan persaudaraan kristiani.

Ketika keesokan harinya ia meminta saya mengantarkannya menemui seorang kawan sebanyanya ketika SMA dan sudah menjadi saudagar yang sukses di Jakarta, ia mendapat sangu beberapa helai kemeja dan angpau di dalam amplop. Setelah ngalor-ngidul berdiskusi bersama teman sebayanya itu –termasuk menceritakan kenakalan-kenakalan mereka ketika masih SMA di Pematang Raya—kami pun mohon diri. Lalu Om Jamerson meminta saya untuk membawanya ke toko buku terdekat, yang berarti adalah toko buku Gramedia di Cempaka Mas. Dan sesampainya di toko buku itu, si Om bergegas ke sesi buku-buku manajemen. Sangu dari teman sebayanya itu dia pergunakan untuk membeli tak kurang dari lima buku manajemen yang tebal-tebal.

Karena ia bermukim di P.Siantar yang berarti juga makin dekat kemana-mana di Kabupaten Simalungun, peranannya sebagai ‘penjaga kampung’ menyebabkan ia direpotkan oleh urusan adat keluarga besar. Kakak dan adik lelakinya yang dua-duanya tinggal dan bekerja di Jakarta, mewakilkan semua urusan adat kepadanya, yang menyebabkan Om Jamerson kerap berkeliling kabupaten Simalungun menyambangi handai tolan. Urung Panei, Seribudolok, Pematang Raya adalah sebagian desa yang ia singgahi untuk menghadiri hajatan keluarga yang menyelengarakan perkawinan, berduka ditinggal orang terkasih, membaptiskan anak, memasuki rumah baru dan sebagainya.

Dan begitu lah. Di tengah kegembiraan yang selalu ia tebarkan, diantara keluarga yang kian hari menyayangi dan mengandalkannya, ajal menjemputnya, seperti pencuri yang tak pernah kita undang. Saya tengah memasang kerangka besi untuk dijadikan rak buku ketika mendapatkan kabar menyedihkan itu, Sabtu sore, 1 Desember. Hanya sebutir air mata yang mengalir di pipi saya pada detik pertama menyadari beliau telah pergi. Tetapi isak pilu yang tersendat tak dapat saya tahan ketika mendengar doa dipanjatkan meminta Tuhan memberi kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Ya, siapa yang tak sedih, membayangkan Mona, Melissa, Olga dan Joel, yang kesemuanya masih remaja dan kanak-kanak, sudah ditinggalkan ayahanda mereka yang penyayang dan tak pernah membuat susah itu?

Di rumah duka di kompleks kantor pusat GKPS di Pematang Siantar, ucapan dukacita mengalir terus sepanjang tiga hari jenazah Om Jamerson disemayamkan. Papan kembang dan rangkaian bunga dijejerkan di halaman. Tangis dan jerit histeris bergantian muncul dari rombongan yang melayat. Sebagian saya kenali. Lebih banyak lagi yang saya samasekali tidak tahu. Namun, seusai tangis, sedu-sedan dan ucapan belasungkawa itu, selalu terlontar penghiburan yang menguatkan. Bahwa pada akhirnya, semua orang akan pergi ke sono itu. Dan karena itu kita semua harus merelakannya.

Salah satu rombongan pelayat adalah siswa-siswi SD RK, tempat Joel bersekolah. Puluhan bahkan mungkin ratusan jumlah mereka. Mereka melantunkan lagu penghiburan di depan jenazah. Dan di akhir layatan, salah seorang siswi, bernama Bonarta, menyampaikan kata-kata penghiburan sebelum akhirnya ditutup oleh Ibu Kepala sekolahnya. Saya mencatat kata penghiburan singkat yang disampaikan Bonarta itu, seperti ini:

Yang kami hormati, seluruh keluarga yang berduka, terutama Joel teman kami.
Joel, di sini kami semua teman-temanmu datang untuk menyampaikan rasa turut berdukacita kami yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya bapak yang kita cintai ini.

Joel, semangatmu selama ini, sangat kami banggakan. Dalam semua hal kau bisa. Jadi Joel, kami minta kepadamu janganlah terlalu lama dalam kesedihan ini. Teruskanlah cita-citamu. Hiburlah mama kita ini. Kami yakin kau pasti bisa.

Sekali lagi, kami ucapkan turut berdukacita.


Lalu ketika menuju Sarimatondang tempat Om Jamerson akan dimakamkan, di atas mobil yang mengangkut kami sepanjang 45 menit perjalanan itu, terngiang-ngiang lagi di telinga saya nats khotbah yang disampaikan Ephorus di depan jasad si Om ketika disemayamkan di gereja; Mazmur 23:
Tuhan adalah gembalaku; takkan kekurangan aku,
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ia membimbing aku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku….


Sambil menikmati pemandangan sawah-sawah hijau di kiri-kanan jalan, dan merasakan angin dingin Simalungun yang berembus dari jendela bis yang dibiarkan terbuka, saya mengulang lagi dalam benak khotbah Ephorus itu. Yang berkata bahwa kepergian Om Jamerson bukan akhir dari segalanya. Di hadapan kita, terbentang perjalanan yang masih panjang. Keluarganya terutama; Istrinya, Mona, Melissa, Olga dan Joel, pastilah merasakan kehilangan yang sangat dalam. Tetapi, kata Ephorus, itu tak boleh membuat larut apalagi membuat takut. Sebab telah dijanjikanNya ada padang yang berumput hijau dan ada air tenang yang menyegarkan jiwa. Di sini di bumi ini, bagi yang ditinggalkan oleh Om Jamerson. Sama seperti rumput hijau dan air tenang penyegar jiwa yang abadi yang mungkin juga kini telah menjadi kediaman Om Jamerson itu.

|+|+|+|+|+|+|

Di Jakarta, di perjalanan pulang dari rumah Ibu Mertua ke rumah kami di Ciputat seusai acara tahlilan Bu Kustiyah, kami terdiam menyusuri jalan tol yang lengang. Malam telah mulai. Di samping saya, istri saya duduk bersandar kelelahan. Matanya masih sedikit bengkak. Sedih, sunyi dan kosong benar-benar terasa, membayangkan orang-orang yang telah pergi: Om Jamerson di Sarimatondang dan Bu Kustiyah di Jakarta.

Tapi untunglah kemudian putri semata wayang saya berbisik pelan memecah keheningan. Dari jok belakang ia berkata, “Pa, boleh gak aku tiduran sebentaaar, aja. Tapi kalau udah sampai di rumah nanti tolong bangunin aku ya. Aku masih harus nyusun buku dan belajar. Besok ada ujian.”

Saya tersentak dan mengangguk. Seolah disadarkan bahwa hidup harus terus berjalan. Putri saya besok menghadapi ujian. Hari ini dan kemarinnya lagi, kami juga baru menjalani ujian dengan kepergian orang-orang tercinta. Dan banyak lagi ujian lain di hadapan.

Selamat jalan Bu Kustiyah dan Om Jamerson…

Post Script
Atas nama saya sendiridan seluruh keluarga, saya memberanikan diri mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah turut berperan sehingga lancarnya acara pemakaman Bu Kustiyah di Jakarta. Mohon pintu maaf dibukakan apabila ada kekurangan kesalahan selama acara pemakaman dan juga selama hidup beliau.

Terimakasih yang sama saya ucapkan juga kepada semua pihak yang telah ikut berperan serta dalam pemakaman Om Jamerson, sejak dari disemayamkan di rumah duka di P. Siantar hingga dimakamkan di Sarimatondang. Terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah menyampaikan ucapan dukacita dan simpati. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan selama acara berlangsung dan juga mohon kerelaan memaafkan Om Jamerson bila semasa hidupnya berbuat kesalahan. Khusus kepada rekan dan handai tolan di Sarimatondang, teman-teman sebaya dan muda-mudinya, yang telah bersusah payah mempersiapkan jalan ke pemakaman, termasuk menggali dan menutupnya kembali di tengah hujan, terimakasih yang tak terhingga saya sampaikan. Selalu tak dapat saya gambarkan bagaimana bangganya hati ini sebagai orang Sarimatondang
.

4 comments:

  1. Anonymous7:16 PM

    Mas, ikut berdukacita atas telah perginya orang-orang tercinta. Ikut berdoa mudah-mudahan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan. Aku juga sangat yakin, lembah berumput hijau dan air yang menyegarkan itu adalah juga kepunyaan orang-orang yang tabah dan tekun.

    Risma

    ReplyDelete
  2. Anonymous7:21 PM

    moga-moga diterima di sisiNYa dan yang ditinggal tabah serta kuat. salam dari rangkas.

    ondi

    ReplyDelete
  3. Horas Tulang, saya juga turut berduka cita atas kepergian orang-rang tercinta, dan saya juga yakin bahwa Tuhan punya rencana yang indah buat keluarga yang ditinggalkan.

    Sekedar informasi tulang, saya juga berasal dari daerah sidamanik (Tobasari)mudah2an kita bisa saling tukar informasi ya. Thanks

    ReplyDelete
  4. Anonymous2:41 AM

    such a touching story indeed, sanina. riap martonggo ma hita janah podas ma namin tarapoh ganup natading.salam dari papua

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...