Friday, January 11, 2008

Martaon Baru

(Up, Close and Personal with Si Singamangaraja XII)




1 Januari 2008. Pukul 11 pagi, seusai ibadah dan antri berjabat tangan dengan Pak Pendeta, buru-buru kami menuju tempat parkir. Lalu segera meluncur ke kawasan KLE, Jakarta Timur. Tempat yang kami tuju adalah kediaman si Om dan si Tante, salah satu keluarga yang paling berjasa dalam hidup saya. Seperti selalu saya ceritakan kepada anak dan istri saya, berulang-ulang bahkan sampai mereka bosan, bahwa dulu semasa saya masih SMA di Jakarta dan kemudian kuliah di Bandung (5 tahun), keluarga itu lah yang membiayai seluruh –ya, seluruhnya, sen demi sen-- hidup saya. Dan, rasanya tak ada yang akan bisa membayarnya.

Bila pun setiap tahun baru saya berusaha mengunjungi keluarga itu, mengucapkan salam Tahun Baru, samasekali bukan bermaksud untuk berusaha mencicil utang budi yang tak kan terbayar itu. Melainkan meminta ampun, atas kesalahan apa pun yang pernah saya buat dan terutama atas makin jarangnya saya menyambangi mereka. Juga meminta doa restu, memohon agar mereka memintakan lagi berkah dariNya untuk saya dan keluarga. Mengharap agar saya dan keluarga tetap dalam jangkauan doa mereka. Sehingga genap lah apa yang dikatakan umpasa (pepatah) Simalungun,

Laklakni tambatua
hoppa mambuat kuah
pasangap orangtua
tong-tong dapotan tuah.


Perjalanan menuju KLE itu ditingkahi juga oleh celoteh dan komentar anak-istri tentang jalan yang kami lalui. Saya sesekali menanggapinya. Tetapi pikiran saya kadang-kadang melayang jauh, melirik ke kiri kanan jalan sambil membayangkan betapa cepatnya berubah kawasan yang kami lalui. Dulu, 23 tahun lalu, jalan I G N R itu adalah 'makanan' saya sehari-hari. Setiap pagi saya sudah berada di tepian jalannya, menyetop Metro Mini untuk saya tumpangi menuju SMA saya di kawasan CIP. Dulu Metromini―dengan ongkos Rp35 sekali jalan-- itu kadang-kadang masih harus bersaing dengan becak dan gerobak penjaja minyak tanah dan es batu di jalanan sepagi itu. Sekarang di hari-hari kerja, Metromini kian terjepit diantara lalu lalang kendaraan pribadi, motor dan tukang ojek. Untung saja liburan tahun baru menjadi ajang bagi orang Jakarta untuk retreat, mengasingkan diri ke luar kota. Sehingga perjalanan kami menuju KLE terasa lancar. Bakpao dan kue cucur yang kami beli di depan gereja tadi, terasa nikmat juga.

Betapa berwarnanya tahun baru ini. Sesepintas, jadi ingat juga kampung halaman....


***


Di Sarimatondang tempo dulu, Tahun Baru adalah puncak dari segala perayaan. Semua orang berpakaian baru. Dua minggu sebelum hari H, orang-orang sudah sibuk bikin kue. Dodol, kembang goyang, kue bakar, kue semprit, kue bawang, wajik, lemang dan macam-macam jenis kue lainnya adalah hidangan bikinan sendiri yang siap tersaji manakala kita mengunjungi rumah demi rumah. (Kami orang Batak menyebut semua cemilan itu kue. Tetapi kadang-kadang juga menyebutnya roti. Sering tidak bisa kami bedakan, antara kue dan roti. Itu sebabnya, kami menyebut roti kaleng untuk kue-kue kecil dalam kaleng.)

Tak kenal kata 'krisis' dalam soal ini. Seterpuruk-terpuruknya keadaan ekonomi sebuah keluarga, dua atau tiga jenis kue pasti diusahakan tersaji dengan membikinnya sendiri. Kue-kue itu biasanya ditemani oleh sirop-- atau strup kata orang sana. Warna dan rasa sirup itu macam-macam. Sirup markisa adalah yang paling populer. Ada juga rasa jeruk. Strup lain yang seingat saya juga populer berwarna merah jambu. Lupa saya rasa apa itu, sebab saya samasekali tidak suka. Mungkin campuran antara rasa strawberry dan susu.

Yang percaya dan mau mensyukuri Keajaiban, saya kira akan menjadikan perayaan Tahun Baru ini sebagai salah satu contoh Keajaiban Tahun Baru. Dan memang betul. Bukankah sebuah Keajaiban, jika Sarimatondang tempo dulu itu, di dua minggu di akhir tahun mendadak menjadi kampung bakery massal yang dipenuhi orang-orang yang bekerja riang-gembira menyongsong datangnya tahun yang baru? Masing-masing rumah sibuk dengan acara bikin kue. Dapur demi dapur dipenuhi oleh orang-orang. Sambil begitu, terjadi pula saling pinjam-meminjamkan peralatan bikin kue. Apalagi dengan belanga besar (biasanya milik serikat perkumpulan desa) tempat bikin dodol. Pastilah sudah harus dijadwal sejak jauh-jauh hari, siapa memakainya pada hari apa. Karena memang langka lah belanga yang demikian. Agar lebih cepat dan hemat, dua atau tiga keluarga biasanya saling urunan untuk secara bersama-sama membuat dodol. Jadi sambil bekerja bersama tersebut, terjadilah kegiatan ngerumpi dan bahkan saling mencomblangkan. Banyak jodoh yang terpaut justru di kala tahun baru menjelang.

Semua aktivitas ini tak lain dari cermin optimisme menyambut masa-masa di hadapan.

Orang Sarimatondang –dan orang Batak pada umumnya-- mengenal kata Martaon Baru. Dalam Bahasa Indonesia, istilah ini bisa diterjemahkan secara langsung menjadi Bertahun-Baru. Artinya, merayakan Tahun Baru, yang dalam praktiknya adalah pergi bersilaturahmi kepada tetangga, kerabat, handai tolan dan .....ya, semua orang. Bersilaturahmi dalam hal ini juga ditekankan sebagai acara bermaaf-maafan. Saling menghapus dan melupakan kesalahan. Dan soal maaf-maafan ini bukan hanya berupa niat dalam hati. Tetapi diucapkan secara eksplisit. “Maafkan aku bila ada kesalahanku selama ini ya....” itu adalah kata-kata yang umum terdengar di acara Martaon Baru. Mirip-mirip dengan orang yang berlebaran.

Agaknya―nah, ini adalah tafsiran saya belaka-- orang Sarimatondang dan mungkin orang Batak Nasrani pada umumnya, menjalankan tradisi Martaon Baru itu sebagai kelanjutan dari perayaan Natal atau Marari Natal. Di masa-masa Natal, kesibukan orang Sarimatondang juga tak kalah luar biasa dibanding pada kesibukan menyambut Tahun Baru. Tetapi nuansanya berbeda. Kesibukan menyongsong Natal lebih banyak diisi oleh aktivitas spiritual dan ritual. Mulai dari ibadah Natal untuk Sekolah Minggu, Kaum Ibu, Kaum Bapak, Komisi Pemuda dan seterusnya. Dan semua ibadah atau perayaan itu lebih menonjolkan ucapan syukur dan pengakuan bahwa manusia telah ditebus dari dosa.

Dapatlah dikatakan –dan lagi-lagi ini penafsiran saya belaka-- dalam merayakan Natal orang-orang Sarimatondang lebih mengarahkan perhatiannya pada hubungan antara dirinya –dan keluarganya-- dengan sang Pencipta. Hubungan yang dihayati sebagai pertalian anugerah dan kasih. Antara manusia yang terlempar ke dunia yang hampir saja tidak bernilai samasekali, tetapi oleh kasih –dan juga oleh kesetiaanNya-- diangkat kembali menjadi manusia yang utuh, bernilai dan karena itu, harus penuh kasih pula.

Penghayatan sebagai manusia yang telah diangkat, bernilai dan harus penuh kasih dalam peristiwa Natal, kemudian menjelma jadi tindakan dalam Martaon Baru. Manusia yang sudah dikasihi itu, manusia yang mendapat limpahan anugerah itu, kemudian mewujudkan rasa syukurnya dalam bentuk mengasihi sesamanya. Dengan memaafkan tetapi sekaligus juga dengan memohon ampunan dari sesama. Dengan melupakan yang sudah-sudah dan membuka lembaran baru. Aksi kasih-mengasihi dalam Martaon Baru itu mewujud dalam kunjung-mengunjungi, makan-memakan kue-kue bikinan masing-masing, saling berbagi lelucon dan petuah dan banyak lagi kemeriahan pada perayaan awal Tahun. Dengan harapan, masa-masa suram di belakang segera terlupakan dan masa mendatang akan lebih cerah dan bersinar. Seperti sepenggal umpasa dari Batak Toba,

Hariara madungdung
Pilo-pilo na maragar
Sai tading ma nalungun
Ro ma najagar


Sepanjang Januari di Sarimatondang adalah perayaan Tahun Baru. Dan, untuk kesekian kali, Keajaiban Tahun Baru itu pun hadir lagi.



***

Di Jakarta, sejauh pengamatan saya, sudah agak berkurang tradisi Martaon Baru. Sudah makin banyak orang Batak Jakarta menghabiskan malam pergantian tahun dengan bepergian ke luar kota. Seringkali kita kecewa manakala akan mengunjung keluarga tertentu di hari Tahun Baru, tak dinyana yang kita temui hanya si Mbok yang berdiri di belakang pintu pagar terkunci dengan tatapan curiga. Sang tuan rumah sedang bertamasya ke Puncak atau ke Hong Kong atau ke Bali pada hari-hari Tahun Baru itu. Kalau pun tak bertamasya ke luar kota, banyak keluarga Batak Jakarta yang memilih merayakan Tahun Baru dengan pulang ke kampung halaman. Lagi-lagi tradisi Martaon Baru dikukuhkan di tanah kelahiran, bukan di Jakarta.

Barangkali sebagai pengganti dari tradisi Martaon Baru, di kalangan perkumpulan marga mau pun perkumpulan kedaerahan di Jakarta, muncul tradisi menyelenggarakan Pesta Bona Taon. Kadang-kadang disebut juga Partangiangan (Memanjatkan Doa Bersama) Bona Taon. Bona Taon dalam hal ini berarti awal tahun. Dengan begitu Pesta Bona Taon adalah pesta awal tahun, semacam silaturahmi tahun baru beramai-ramai diantara para anggota komunitas perkumpulan tersebut.

Walau tak tepat lagi pada hari H tahun baru –bahkan banyak juga Pesta Bona Taon diselenggarakan hingga pada bulan Maret-- tetap saja nuansa Martaon Baru ada pada Pesta Bona Taon itu. Harus kita maklumi bahwa di Jakarta yang bertambah lama bertambah luas tetapi juga bertambah sesak dan bertambah macet, sulit lah mencari waktu yang memberi kesempatan untuk dapat bersilaturahmi dengan banyak orang dalam waktu singkat. Maka Pesta Bona Taon menjadi ajang untuk itu. Silaturahmi, melepas kangen, bermaaf-maafan dan tentu saja.... bernostalgia. Sebab selalu ada keyakinan diantara komunitas yang dipertautkan darah, silsilah, puak, marga dan kampung halaman itu, bahwa walau secara fisik berjauhan, ingatan dan kenangan tetap saling berdekapan;

Napuran tano-tano
Rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao,
tondita i marsigomgoman.


Lagi-lagi, Keajaiban Tahun Baru pun hadir ....



***

Jarum jam belum menunjuk angka 12:00, ketika kami tiba di rumah yang kami tuju. Pintu pagar tertutup, tetapi tidak terkunci. Di garasi tak ada mobil yang terparkir membuat istri saya was-was jangan-jangan Tuan Rumah sedang bepergian. Kekhawatiran itu segera terjawab oleh penjelasan si Mbok yang segera datang membukakan pintu pagar. Bahwa Om dan Tante dan seluruh keluarga memang sedang pergi menyambangi Mertua di Kawasan KLG. Tetapi sudah akan tiba nanti di rumah pukul 13:00. Karena itu kami dipersilakan masuk dan menunggu di dalam rumah.

Memasuki rumah itu, lagi-lagi saya disadarkan betapa makin jarangnya saya mengunjungi tempat ini. Sudah banyak yang berubah di rumah ini, termasuk perabotan dan tata letaknya. Foto-foto yang menggantung di ruang tamu juga kini makin penuh warna. Ada banyak cindera mata dari seantero Indonesia dan dunia. Foto-foto lama dan baru makin banyak menggantung. Dulu ketika saya pertama kali tinggal dan mondok di rumah itu, foto-foto anak-anaknya yang masih berusia balita lah yang dominan jadi pemandangan. Kini foto-foto yang menempel berderet-deret adalah gambar perkawinan salah seorang putrinya, lalu foto putranya yang ketika diwisuda, foto-foto ketika liburan keluarga mereka di beberapa tempat dan... foto si Om ketika bersalaman dengan Presiden RI yang kini sudah jadi mantan.

Walau telah banyak yang berubah di rumah itu, tetap saja tak bisa mengubah perasaan dekat dan akrab di hati saya pada suasananya. Mungkin keramik yang kini menghiasi lantai rumah itu bukan lagi lantai yang dahulu kala kerap saya sapu setiap sore. Mungkin pintu pagar yang tinggi dan bersuara mulus itu bukan lagi pintu pagar yang dulu selalu siap sedia saya bukakan-- dengan derit suaranya yang memekakkan telinga-- manakala mendengar mobil si Om sudah mendekati rumah. Kamar tidur yang dulu tempat saya belajar hingga dini hari dengan bertelanjang dada karena kipas angin tak cukup untuk medinginkan hawa panas di kamar sempit itu, kini sudah lenyap. Dibongkar demi mendapatkan ruang yang lebih luas. Kamar mandi yang kini lengkap dengan shower dan air hangatnya, bukan lagi kamar mandi yang dulu kami pakai secara berebut pada pagi hari ketika berangkat sekolah. Tetapi tetek-bengek yang berubah itu rasanya tak bisa mengganti, apalagi menghapuskan rasa berterimakasih sekaligus rasa berutang saya, kepada rumah dan penghuninya yang telah turut menopang dan mewarnai hidup saya.

Sambil memikir-mikirkan hal itu, saya duduk di sofa ruang tamu. Putri dan istri saya sudah berada di dapur, membuka lemari es mencari cemilan dan minuman dingin. Sesekali saya mendengar mereka berbincang akrab dengan dua pembantu yang bekerja di rumah itu.

Lalu pandangan saya arahkan pada rak buku berpintu kaca yang ada di ruang tamu. Buku-buku di sana tersusun rapih. Beberapa di dalamnya buku tua, tetapi yang mendominasi adalah buku-buku mutakhir, termasuk diantaranya buku karya Karen Amstrong yang berjudul Muhammad. Saya tahu, lemari buku di ruang tamu ini hanya lah sebagian dari lemari buku si Om. Yang lain, yang berisi buku-buku lama pasti sudah ia tempatkan di bagian lain rumah itu.

Harus saya akui, walau si Om berasal dari sebuah kampung bernama AMB, di belahan Timur Sumatera Utara, yang dalam soal udik bin noraknya jauh mengalahkan Sarimatondang kampung halaman saya, tetapi dalam soal selera terhadap buku ia patut diacungi jempol. Buku-buku di lemari kaca itu adalah buku-buku pilihan yang kerap membuat saya iri dan ingin mencurinya diam-diam. Dan saya memang punya story tentang mencuri buku si Om 'secara diam-diam'.

Begini.

Setelah dulu lulus SMA di Jakarta dan kemudian kuliah di Bandung, tak lantas hubungan saya terputus dengan rumah si Om. Rumah itu tetap lah menjadi home base bagi saya setiap liburan. Kesempatan seperti itu selalu saya pergunakan untuk 'pulang' ke rumah si Om, untuk menikmati suasana rumah sebagaimana layaknya rumah, sekaligus refreshing dari suasana sumpek dan membosankannya tinggal di asrama di Bandung. Yang lebih penting lagi: meminta uang belanja dan uang kos saya.

Pada saat-saat semacam itu, saya selalu menyempatkan diri mengintip isi lemari buku si Om. Bukan apa-apa. Si Om adalah lulusan FE-UI. Lalu gelar S2-nya ia raih dari salah satu universitas terkemuka di AS, yang banyak menelorkan birokrat-birokrat top di Tanah Air. Karena saya belajar ekonomi juga, maka lemari buku si Om adalah alternatif yang lumayan, apalagi bila dibandingkan dengan perpustakaan kampus kami yang selain lebih didominasi buku tua, juga antrian untuk meminjamnya panjang.

Pada suatu kesempatan, saya tersentak ketika melihat di lemari buku si Om ada buku karya Michael P. Todaro yang berjudul Economic Development in the Third World. Ini adalah buku yang sangat istimewa kala itu dan mungkin juga sampai sekarang. Sebagai gambaran bagi yang bukan berlatarbelakang ilmu ini, Todaro adalah satu dari hanya beberapa ekonom kelas dunia yang diacu pendapatnya tentang ekonomi pembangunan di negara sedang berkembang. Tak mengherankan bila buku karyanya itu, jadi buku wajib di hampir seluruh fakultas ekonomi di mana pun di dunia dari dulu hingga kini. Buku itu juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Melihat buku itu, tak bisa saya menahan diri untuk tak menjamah dan menimang-nimangnya. Terasa beda betul dengan buku yang saya gunakan di bangku kuliah. Oh ya, saya memang telah membaca sebagian dari isi buku itu, lewat fotokopian dari Pak Dosen yang mengajarkannya. Tetapi fotokopian itu biasanya bab demi bab. Tidak utuh. Kala lain, saya pernah juga menimang buku yang bentuknya sama, tetapi edisi bajakan, dengan kertas yang lebih tebal dan jahitannya yang kasar. Sementara yang di tangan saya itu benar-benar edisi orisinil. Mengkilat sampulnya. Lentur kertasnya. Dan kalau sudah begini, saya mau numpang tanya, mahasiswa fakultas ekonomi mana yang tak tergiur olehnya, apalagi kala itu di kampus kami tengah getol-getolnya orang menenteng buku-buku tebal orisinil kemana-mana?

Maka ketika beberapa hari kemudian saya kembali ke Bandung, diam-diam saya masukkan buku itu ke dalam ransel saya. Dalam hati saya berharap si Om sudah tamat membaca buku itu dan karena itu tidak apa-apa bila kini bukunya berpindah tempat dari Jakarta ke Bandung. Bahwa saya tak memintakan izinnya untuk membawanya, saya rumuskan lah dalam hati alasannya yang cukup kuat―setidaknya untuk mewajarkan landasan tindakan saya mengambilnya. Yakni si Om pasti tidak akan sudi meminjamkannya bila saya minta dengan baik-baik!

Pendek cerita, buku tersebut bertengger dengan selamat di lemari buku di asrama tempat saya tinggal di Bandung.

Yang tak saya duga –dan saya tak sempat membuat persiapan-- adalah ketika beberapa bulan kemudian si Om dari kantornya mendapat tugas ke Bandung. Maka di sela-sela waktu kerjanya itu, ia menyempatkan diri menyambangi saya di asrama. Mulanya kami ngobrol di ruang tamu asrama itu. Tetapi karena ia merasa masih punya banyak waktu dan mungkin ia menganggap mengobrol –atau lebih tepatnya berceramah-- dengan saya tidak ubahnya dengan memberi kuliah kepada mahasiswanya (oh ya, si Om juga mengajar di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta), maka ia merasa obrolan kami masih harus dilanjutkan lagi.

Agar tamu-tamu lain di asrama itu tak merasa kami memonopoli ruang tamu itu, lalu saya mengajak si Om mengobrol di kamar saya. Obrolan kami pun berlanjut di kamar yang berantakan, yang berfungsi sebagai kamar tidur sekaligus kamar belajar. Si Om duduk persis di kursi yang sehari-hari saya pakai untuk belajar, menghadap ke rak buku mini di atas meja. Sementara saya duduk di sisi lain meja itu.

Kala ia becerita panjang lebar, tentang adat-istiadat batak yang jadi kegemarannya, tentang Adam Smith hingga Rostow dari khasanah Ilmu Ekonomi, tentang Namboru dan Bapauda di kampung dengan tetek-bengek masalahnya masing-masing, tiba-tiba saja ia berhenti bicara dan pandangannya tertuju kepada rak buku mini di hadapannya. Matanya melotot. Dan, ia tampaknya memang telah melihat buku karya Michael P. Todaro yang terpampang di sana. “Lho, kau punya buku kayak ini juga ya?. Bagus lah. Sewaktu aku di Amerika, buku ini juga yang wajib kami baca,” kata dia, serius. Ia kemudian mengambil buku itu.

Dalam hati saya berkata: Mati aku. Pasti lah sebentar lagi si Om akan melihat tanda tangannya di lembar pertama buku itu. Dan, benar saja. Ia tampak terperanjat, berkata, “Lho... ini kan buku ku.....”

Saya tersenyum malu. Ia juga tersenyum. Saya kira ia akan marah, tetapi ternyata tidak. Ia malah mengembalikan buku itu ke rak seperti semula. “Pelajarilah buku itu dengan baik. Nanti akan makin jelas kau lihat masalah apa yang dihadapi negaramu ini,” kata dia. Setelah itu, ia masih terus melanjutkan ‘ceramah’ dan ‘khotbah’ filsafatnya kepada saya.

***

Sekarang di rumah ini, sambil terus mengamat-amati lemari buku si Om, story itu melintas lagi di benak saya. Lagi-lagi saya diingatkan tentang betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin sore si Om dan si Tante bersama anak-anaknya yang masih kecil, berdiri di depan aula UNPAD menyaksikan saya untuk pertama kalinya akan mengikuti OPSPEK sebagai mahasiswa baru di bumi Parahyangan. Tetapi kini saya sudah harus menemukan kenyataan betapa anak-anak itu telah pada dewasa, bahkan ada yang sudah menikah. Seakan saya diingatkan lagi pada sebuah pepatah Simalungun yang berkata bahwa kerapkali usia dan umur kita saja yang terus bertambah, tetapi kebijaksanaan dan kebajikan seolah masih begitu-begitu saja:

Lampuyang sakaranjang
Bulungni seng sadiha
Akkula do marganjang
Uhur seng opei sadiha


Karena merasa bahwa si Om masih akan lama lagi tiba, maka saya mencoba memusatkan pikiran untuk memilih buku mana yang akan saya baca mengisi waktu. Kemudian saya melihat di dalam lemari buku itu ada sebuah buku yang seingat saya dulu cukup populer juga di kalangan mahasiswa Batak. Judulnya, Ahu Sisingamangaraja, karya Prof. Dr. W.B. Sijabat. Terbit tahun 1982, buku ini tentang biografi sekaligus perjuangan Sisingamangaraja, pahlawan nasional dari Tapanuli. Saya comot buku itu.

Sambil menyamankan diri di sofa ruang tamu itu, menjumput kacang di dalam stoples di hadapan seraya menyeruput air putih yang tadi sudah disajikan si Mbok, saya membolak-balik buku itu. Sesungguhnya agak melelahkan juga membaca buku sejarah yang sangat serius di tengah suasana liburan tahun baru seperti ini. Tetapi itu lebih baik untuk memaksa saya tetap terjaga. Sebab pamali lah bila nanti saya terlihat terkantuk-kantuk kala si Om dan si Tante tiba di rumah ini.

Ternyata baru beberapa halaman saja saya baca –dengan menaruh perhatian yang cukup lama pada daftar isi dan foto-foto hitam putih yang besar-besar―buku itu segera saya letakkan di atas meja karena mendengar suara klakson di luar pagar. Si Om dan si Tante sudah tiba. Saya dan istri bersama putri saya segera berebut menuju pintu. Terdengar keriuhan sejenak ketika mobil dimasukkan ke garasi dan barang-barang bawaan mereka diturunkan. Setelahnya, kami berjabat tangan, berpelukan dan saling bertukar kabar. Kami mengiringi mereka masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa.

Di ruang tamu itu pun terjadi lah apa lazimnya yang terjadi pada silaturahmi Tahun Baru sejak bertahun-tahun lalu. Kami mengobrol ngalor-ngidul dengan –seperti yang sudah-sudah-- si Om yang memborong semua peran: dia story tellernya, dia widyaswaranya, dia moderatornya, kadang-kadang dia yang jadi devil's advocatenya, dan yang paling pokok, dia lah godfather. Kata akhir selalu dari dia.

Begitulah. Kami memperbicangkan dari a hingga z keadaan negara ini. Kami mengobrolkan dari 0 sampai tak terhingga perihal fenomena keseharian orang Batak, di kampung halaman mau pun di Jakarta ini. Tak ketinggalan ia memberikan metafora, petuah, jokes bahkan 'fatwa' tentang sesuatu masalah perihal tetek-bengek falsafah Batak. Dan di sela-sela kami mengobrol itu, sang Tante dan istri saya undur pergi ke dapur. Seperti biasa, saya berani bertaruh si Tante pasti akan menyiapkan makan siang yang fresh. Entah itu nasi gorengnya yang sudah terkenal seantero keluarga besar kami, atau capcainya yang berkuah kental, bihun gorengnya yang lembut hingga helai yang penghabisan dan juga yang jangan dilupakan, bakut sayur asinnya yang asyik.

Walau sudah termasuk manusia kosmpolitan bila ditilik dari pengalaman karier dan latar belakang pendidikannya, si Om termasuk orang yang konservatif dalam hal prinsip mengenai tradisi dan adat-istiadat. Misalnya, dalam hal panggilan atau sapaan dalam berkomunikasi antarkerabat. Menurut dia sapaan berdasarkan tradisi harus dipertahankan –paling tidak harus diajarkan-- sehingga tidak lenyap. Ambil contoh dua orang kakak-beradik. Misalkan dalam perjalanan waktu si adik lebih dulu menikah dan lebih dulu pula punya anak. Lalu karena anak si adik lebih tua daripada anak si kakak, tidak lantas anak si adik boleh memanggil adik (anggi) kepada anak si kakak tadi. Sebab panggilan Abang (haha) atau adik (anggi) tidak ditentukan oleh umur, melainkan oleh kedudukan silsilah.

Itu lah antara lain cermin sikap konservatif si Om, diantara banyak sikap konservatifnya yang lain.

Pada perbincangan di hari Tahun Baru itu, kembali lagi si Om menceritakan salah satu prinsip dalam hubungan kekerabatan dalam tradisi Batak yang sesungguhnya sudah berulang kali saya dengar. Bahwa pertalian kekerabatan yang dipertautkan oleh darah, marga dan silsilah, tak ubahnya seperti tappulon aek. Secara harfiah, tappulon aek berarti, seperti memotong atau membelah air. Sebagai contoh, air yang mengalir dari pancuran, seberapa kencang pun kita memotong atau membelahnya, aliran air itu akan selalu kembali bersatu, kembali sambung-menyambung.

Nah, kata si Om. Begitu lah pertalian darah, marga dan silsilah dalam tradisi Batak. Boleh saja dalam sebuah keluarga, dalam sebuah kaum bahkan dalam satu kelompok satu tanah kelahiran, pertalian silaturahmi terputus oleh beberapa hal –sepele atau substansial. Tetapi seperti halnya air mengalir yang tak kan bisa terputus, demikian pula pertalian silaturahmi tadi. Tak kan bisa terputus secara abadi. Sebab akan selalu ada alasan untuk menyambungnya.

Dalam hati saya kembali menyimpan petuah itu dalam-dalam. Saya jadi ingat lagi petuah yang sama ketika dulu pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Ketika pertama kali saya berkenalan dengan si Om dan si Tante untuk kemudian menerima saya sebagai 'anak asuh'nya di rumah ini. Si Om kala itu menasihatkan kepada saya agar saya terutama pintar-pintar 'mengambil hati' si Tante. Sebab, menurut dia, hubungan saya dengan si Om sudah otomatis seperti tappulon aek tadi. Takkan bisa terputus oleh sebab apa pun. Beda halnya dengan hubungan saya dengan si Tante, yang memang berlatarbelakang non-Batak. Pertalian saya kepadanya lebih karena dihubungkan oleh kehadiran si Om sebagai kerabat saya. Karena itu saya harus peka, harus bekerja dua kali lebih keras untuk mengambil hati si Tante daripada mengambil hati si Om. Begitu lah nasihat si Om dulu.

Menjelang pukul 14:00 hidangan sudah siap. Kami segera bersantap. Seperti dulu-dulu juga, ini adalah makan siang yang istimewa. Melebihi empat sehat lima sempurna. Sebab lauk-pauk yang sudah beraneka ragam itu, masih diimbuhi juga suguhan cake yang legit dan berlemak, ditambah pula dengan bir dan vodka (oleh-oleh dari seorang kerabat dari luar negeri).

Obrolan masih terus berlanjut seusai makan siang. Apalagi anggota keluarga yang hadir makin lama makin ramai. Setelah angin sore mulai terasa berembus lewat pintu besar yang dibiarkan terbuka, kami berpamitan pulang. Sambil begitu, si Om tak lupa membagi-bagi angpau kepada siapa saja yang hadir, sepanjang ia belum berkeluarga. Putri saya termasuk satu diantaranya, yang mendapatkan satu lembaran berwarna merah.

Tatkala mau berpamitan itu pula, dengan harap-harap cemas saya mendekati si Om untuk memintakan izin meminjam buku Ahu Sisingamangaraja yang tadi belum selesai saya baca. Saya harap-harap cemas karena kurang yakin apakah ia akan sudi meminjamkannya. Ternyata wajahnya cerah ketika saya mengemukakan permintaan. “Kenapa tidak boleh?” katanya balik bertanya, ketika saya memohon dengan bertanya, “Bolehkah buku ini saya pinjam?”

“Bawa saja. Yang penting, kau ingat buku apa yang kau pinjam. Sebab saya sendiri tidak akan ingat buku apa saja yang telah dipinjam orang dari saya. Kalau buku itu disimpan di tempat yang tepat, masih baik. Yang saya takutkan, orang pinjam buku tetapi ujung-ujungnya buku itu tidak tahu entah dimana.”

Saya mengangguk. Dalam hati saya girang bukan main. Segera kami berlalu dengan oleh-oleh yang banyak: perut kenyang, angpau untuk putri saya, dan buku Ahu Sisingamangaraja untuk saya.

Lagi-lagi sebuah Tahun Baru yang mengesankan, seperti pepatah Simalungun,

Rage anakni bintang
rage so haputikan
buei do hata namantin
paima tangan dapotan.



***
Di rumah, menjelang malam seusai mandi, saya berencana melanjutkan bacaan yang tadi siang tertunda. Setelah merasa segar, dan dengan dengan 'pakaian kebesaran' di sore-sore begitu-- kaos oblong dan celana pendek-- saya merebahkan diri di sofa belel kami satu-satunya. Tetapi hanya sekejap saja begitu, sebab kemudian saya menyadari bahwa buku yang akan saya baca tak lagi ada di atas meja.

Saya coba cari ke berbagai sudut, tidak ketemu juga, hingga kemudian kaki membawa saya memasuki kamar tidur. Tak dinyana, di sana istri saya tengah asyik membolak-balik buku Ahu Sisingamangaraja itu sambil rebahan di kasur. Agak kesal juga hati saya melihat dia cuek seolah tak bersalah, padahal saya sudah kesana-kemari mencari buku yang sedang dibacanya. Untungnya rasa kesal itu berganti menjadi keheranan manakala tanpa menoleh sedikit pun kepada saya, dia nyelutuk, “Wah, seru juga ternyata perjuangan Si Singamangaraja , ya....”.

Wow. Nggak salah nih? Istri saya yang orang Jawa kelahiran Jakarta, yang setahu saya tak pernah mau menenggelamkan diri dalam bacaan kecuali oleh novel picisan karya Sidney Sheldon dan buku resep masak-memasak ala tabloid Saji, kini kok bisa-bisanya lho, terpukau oleh buku sejarah seperti Ahu Sisingamangaraja. Buku yang penuh ungkapan-ungkapan berbahasa Batak, selain dibumbui oleh terminologi sosiologi, histori, teologi, dan lengkap pula dengan berpuluh, bahkan beratus catatan kaki di tiap babnya. Mimpi apa saya semalam ya? Berkah Tahun Baru kah ini?

“Rupanya Sisingamangaraja itu dahulu kala sudah melanglang buana kemana-mana,” ia berceloteh. “Aku kira dulu Sisingamangaraja itu hanya berputar-putar di Tanah Batak saja. Tidak bergaul dan terisolasi dengan orang-orang sesama Batak. Dan memang begitulah pandangan orang terhadap orang Batak selama ini. Kuper. Persis seperti lu sewaktu gue kenal pertama kali. Kuper dan cuma mau dekat-dekat dengan orang Batak saja,” istri saya masih terus bicara. Matanya masih terpaku pada buku yang dibacanya. Samasekali tak menoleh kepada saya.

Melihat dia masih demikian seriusnya membaca buku itu, saya membiarkannya dengan keasyikannya itu. Keheranan saya belum habis, karena dalam hemat saya sendiri, buku itu agak berat dan perlu pemahaman yang mendalam tentang konteks sejarah perjuangan kemerdekaan di Sumatera Timur. Kok dia bisa asyik sih dengan buku yang demikian itu?

Ketika hal ini kemudian saya tanyakan padanya, jawabannya ternyata masuk akal. Memang tak percuma selama ini ia gemar membaca novel-novelnya Sidney Sheldon yang penuh misteri, dimana jawaban dari rasa penasaran kita selalu terselip di bagian-bagian tertentu bab-babnya. Begitu pula lah istri saya memperlakukan buku Ahu Sisingamangaraja itu.

Gue kan baca buku nggak kayak lo, harus halaman demi halaman.
Gue sih bacanya loncat-loncat. (Saya meledeknya dengan berkata, kalau bacanya loncat-loncat, cape deh...., tetapi dia tidak menanggapinya). Dan dari belakangnya dulu. Sebab di sana lah biasanya yang paling menarik. Gue gak perlu baca sedetil-detilnya, kayak lu, sampai harus hafal tahun dan tanggal kejadiannya. Gue pengen tahu garis besarnya saja. Dan ternyata memang Sisingamangaraja itu seru berat perjuangannya,” kata istri saya.

Agak panas juga hati saya di -lu-lu in begitu dan di enye dengan cueknya, tanpa mengarahkan pandangan ke saya. Tetapi rasa penasaran saya tentang keasyikannya pada buku itu menyebabkan saya bersabar untuk tahu lebih jauh.

Emang lu dulu mikirnya bagaimana perjuangan Sisingamangaraja itu?” saya mencoba bertanya. Sekalian saja dia saya lu-lu in.

Dia bangkit dari tidurnya. Lalu istri saya itu menunjukkan buku Ahu Sisingamangaraja yang telah terbuka itu kepada saya. Katanya: “Kayak gini nih. Gue dulu persis seperti yang ditulis oleh pengarang buku ini lah, dalam memandang orang Batak,” kata dia.

Bagian yang ditunjukkannya itu berbunyi begini:

Berbagai penulis tentang perkembangan di Sumatra Utara mengatakan bahwa “orang Batak hingga abad XIX hidup dalam splendid isolation. Dengan ini dimaksudkan bahwa penduduk Sumatera Utara yang terkenal kuat dengan adatnya itu seolah-olah tak mempunyai hubungan dengan kalangan luar di Nusantara sendiri, apalagi dengan orang dari luar negeri.
((Ahu Si Singamangaraja, Hal, 31)


“Jadi setelah baca buku itu, kamu bisa diyakinkan bahwa dulunya Si Singamangaraja sudah bergaul dengan seantero Nusantara?” saya bertanya.

“Ya ialah. Dari caranya melawan Belanda, dari caranya memanggil bantuan dari Kerajaan Aceh, dari lambang-lambang kerajaan yang dipergunakannya, sudah jelas itu. Foto-fotonya juga ada di buku ini,” kata dia.

Meskipun demikian, ada juga lah yang mengganjal dalam hatinya tentang buku ini.“Kok foto Si Singamangaraja sendiri malah nggak ada di buku ini, ya. Padahal, sejak SD aku sudah ditunjukkan dengan wajahnya yang seram, brewokan dengan mata bulat tajam melotot. Aku nggak yakin kalau penulis buku ini kelupaan mencantumkannya. Jangan-jangan karena Si Singamangaraja begitu misteriusnya, sehingga Belanda tak pernah sempat memotretnya?,” istri saya mencoba membuat tafsiran seolah-olah ia sedang diminta membedah buku itu.

Karena saya melihat ia masih asyik untuk membacanya, saya meninggalkannya. Dalam hati saya berkata, ada juga gunanya saya pinjam buku itu. Sehingga istri saya bisa lebih dalam kenal dengan perjuangan Si Singamangaraja.

Tuat si puti
nakkok sideak
ia i naummuli
ima tapareak


***
Orang-orang Batak yang hidup di kampung dan di masa kecilnya masih mengenal Opera Batak, pasti punya imajinasi yang hidup tentang Si Singamangaraja XII. Soalnya tokoh ini tak hanya mereka kenal lewat pelajaran sejarah di sekolah, tetapi lebih nyata dan atraktif melalui panggung sandiwara Opera Batak tadi.

Opera Batak yang merupakan panggung sandiwara Batak yang pentas dari satu desa ke desa lain secara berpindah-pindah, hampir tak pernah lupa untuk menampilkan kisah perjuangan Si Singamangaraja XII tiap kali manggung di suatu desa. Kadang-kadang kisah itu ditampilkan secara berseri, sehingga butuh beberapa hari untuk menuntaskan kisahnya. Kisah perjuangan Pahlawan Nasional itu selalu pula jadi salah satu Box Office mereka, di luar kisah-kisah populer lainnya, semisal, Sampuraga (tentang anak durhaka), Si Boru Pareme dan kisah-kisah tradisi lainnya.

Di kalangan orang Batak Si Singamangaraja bukan hanya seorang Raja, melainkan juga Datu yang berselimutkan kisah-kisah mistis. Tak heran bila persiapan pementasan kisahnya selalu lebih istimewa daripada kisah-kisah lainnya. Banyak cerita-cerita yang beredar tentang bagaimana para personil Opera itu harus mempersiapkan diri sebelum manggung. Termasuk tentang pemeran utamanya yang harus mandi sedemikian rupa dengan ritual tertentu. Juga di puncak panggung Opera, selalu dikibarkan bendera Merah Putih manakala cerita Si Singamangaraja XII dipentaskan.

Bagi saya yang ketika itu masih kanak-kanak, cerita-cerita di seputar pementasan Opera tentang Si Singamangaraja, plus gambaran tokoh itu di panggung, ikut membekas dan bahkan mungkin membentuk gambaran saya tentang sang Raja. 'Pelajaran' tentang Si Singamangaraja XII dari Opera, bahkan seolah menempati kamar tersendiri di otak saya, bersebelahan dengan kamar lain yang berisi pelajaran tentang Si Singamangaraja XII dari sekolah.

Di pentas Opera, Si Singamangaraja XII selalu digambarkan dengan kecekatan dan kejantanannya. Macho menjurus galak, hobi perang,kuat dan tidak pernah capek, justru mengundang simpati karena dicitrakan bahwa ia memang selalu membela yang lemah dan ditindas. Ia juga digambarkan sakti dan gaib. Sehingga dalam gambaran otak anak-anak saya, ia itu lebih sebagai manusia di atas manusia, di persimpangan antara alam nyata dan alam sono. Ia ada di dunia ini tetapi seolah ia bukan dari dunia ini.

Salah satu yang dengan mantap selalu digambarkan dan ditanamkan oleh Opera yang mementasan Si Singamangaraja XII adalah kesaktiannya sehingga ia tak pernah bisa tertembak. Ia bisa menghilang. Dan, tidak seperti menghilangnya David Copperfiled yang terjadi berkat kecanggihan rekayasa teknologi sulapnya yang canggih, kemampuan Si Singamangaraja melenyapkan dirinya itu benar-benar dipercaya sebagai kekuatan gaib yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Kesaktian untuk menghilangkan diri ini pula yang menyebabkan Belanda kesulitan menangkapnya.

Jika pun kemudian Si Singamangaraja tewas oleh peluru Belanda, yang kemudian mengakhiri perjuangannya, sama sekali itu tak membuat pikiran kanak-kanak kami mencoba mengkritisi perihal kesaktian sang Pahlawan. Sebab, dengan meyakinkan pula Opera Batak itu selalu mempertontonkan bahwa tertembaknya Si Singamangaraja adalah karena putrinya, Lopian, telah lebih dulu terkena tembakan dan terluka parah. Si Singamangaraja XII yang kala itu mendekap dan memeluk putri yang malang itu, akhirnya ikut kuyup oleh darah sang putri. Dan karena kekuasaan gaib Si Singamangaraja mengharamkan dirinya bersentuhan dengan darah, maka hilanglah kesaktiannya karena terkena darah sang putri.

Begitulah gambaran Si Singamangaraja dalam memori kanak-kanak saya.

Maka ketika membaca buku Ahu Sisingamangaraja ini, saya kemudian merasa mendapatkan 'penemuan' baru karena lewat buku ini sang Pahlawan dikembalikan kepada jatidirinya sebagai manusia. Perlawananya yang panjang, sampai-sampai menyebabkan Belanda hampir frustrasi karena sulitnya menemukan persembunyiannya, tidak digambarkan sebagai akibat dari kegaiban dan kesaktian Si Singamangaraja. Melainkan justru keuletan, semangat pantang menyerah dan kemampuannya menguasai medan perang yang sulit itu.

Hal semacam ini makin jelas tatkala kita membaca komentar Prof Dr. I.P. Simandjuntak tentang buku itu, yang dimuat di sampul belakang buku. Katanya begini.

“ Banyak lagi 'cerita' tentang kemampuan Si Singamangaraja menunjukkan tindakan gaib menurut versi rakyat yang mengidolisasi dia, tetapi berdasarkan naskah buku ini, gambaran demikian –yang pada hakikatnya membenarkan versi Belanda tentang Si Singamangaraja sebagai priester vorst-- diganti dengan gambaran Si Singamangaraja sebagai 'raja' yang adalah manusia biasa dan berusaha menghambat, dan kalau mungkin mengenyahkan Belanda dari wilayah kekuasannya.”


Rupanya, bukan hanya Rocker juga Manusia, meminjam judul lagu Grup Seurius, melainkan Si Singamangaraja XII Juga Manusia. Ia memang dipercaya sangat sakti, bisa mendatangkan dan menghentikan hujan, bisa menciptakan mata air dan tak mempan ditembus peluru dan pedang. Pedang kebanggaan yang jadi lambang kerajaannya, GajaDompak, dipercaya merupakan senjata yang diberkati oleh Mulajadi Nabolon. Sama seperti Si Singamangaraja yang juga dipercaya merupakan titisan sang Awal yang Maha itu.

Tetapi, seperti kemudian ditunjukkan oleh buku ini, sejarah telah membawa kembali jatidiri Si Singamangaraja untuk berpijak di bumi. Si Singamangaraja juga Manusia, yang bisa terluka kena tembakan. Bahkan ia kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tragis dan mengenaskan.

Buku ini menceritakan, Belanda yang dari segi persenjataan dan pasukan jauh lebih kuat, akhirnya mampu juga menaklukkan Si Singamangaraja XII, walau dengan perjuangan bertahun-tahun. Dengan gamblang digambarkan bagaimana perjalanan waktu membawa Si Singamangaraja kepada keadaan terdesak. Sampai-sampai secara harfiah, di detik-detik terakhir perjuanagannya Si Singamangaraja harus berdiri berhadap-hadapan, face to face dengan tentara yang mengejarnya, Hamisi, si tentara bayaran Belanda berdarah Halmahera. Pada saat itu lah Hamisi meminta Si Singamangaraja menyerah dan melepaskan pedang di tangannya. Belum sempat (atau tidak sudi?) Si Singamangaraja menyerah, Hamisi kemudian menembaknya tepat di ulu hati. Hamisi tidak membiarkan Si Singamangaraja tertangkap hidup-hidup karena ia menyangka Si Singamangaraja akan melawan karena tak kunjung menyerahkan pedangnya.

***

Walau bagian yang menggambarkan tertembaknya Si Singamangaraja itu cukup menegangkan, yang paling mengesankan dan menguras perhatian, bagi saya, bukan lah itu. Melainkan justru di momen-momen sebelum itu, beberapa bulan sebelum akhirnya Si Singamangaraja menemui ajal. Di sana Si Singamangaraja XII digambarkan dari sisinya yang lain, yakni sisinya yang manusiawi, lemah lembut dan kebapakan.

Dikisahkan, tatkala kekuatan pasukan Si Singamangaraja XII makin lama makin lemah, setelah puluhan tahun dikejar-kejar Belanda dengan berpindah dari satu desa ke desa lain, ia kemudian harus membuat perhitungan pada pasukannya dan dirinya sendiri. Perang panjang itu telah menyebabkan dirinya, keluarganya, panglima-panglimanya dan para pengikutnya sempat harus mengungsi jauh dari kampung halamannya. Kini sang Raja yang kelelahan itu tiba pada bagian paling krusial dalam hidup dan perjuangannya. Dan untuk itu dia harus membuat perhitungan.

Betapa tidak. Satu demi satu anggota keluarganya tewas dalam perjuangan itu. Yang masih hidup, juga tak kalah menderitanya. Kadang mereka kurang makan-minum dan sakit tanpa pengobatan yang memadai. Walau pun bahan makanan tersedia, seringkali mereka tak bisa memasaknya karena tak berani menyalakan api. Asapnya bisa membuat Belanda mengetahui persembunyian mereka. Keluarga dan pasukannya itu capai luar biasa karena harus berpindah-pindah melewati medan yang sangat tidak bersahabat. Tidak sedikit diantara anggota rombongannya itu adalah perempuan, termasuk ibundanya dan istri-istri serta putri-putrinya.

Maka setelah menghitung kekuatan dan kelemahan dirinya dan pasukannya, Si Singamangaraja XII beserta putra-putri dan panglimanya kemudian berunding. Lantas ia memanggil Patuan Anggi, putranya, yang ikut berjuang bersama dirinya, dan menanyakan apakah tidak sebaiknya anak-anak yang masih kecil (adik-adik dari Patuan Anggi) dititipkan saja kepada penduduk yang masih setia kepada Si Singamangaraja. Mengikutkan mereka pastilah tak menguntungkan baik bagi anak-anak itu juga bagi perjuangan Si Singamangaraja.

Pada awalnya Patuan Anggi menginginkan agar adik-adiknya tetap ikut. Namun setelah sebagian besar orang dalam pasukan Si Singamangaraja berkata sebaliknya, akhirnya ia seia dengan keputusan musyawarah itu.Para penduduk yang akan dipercayakan sebagai tempat penitipan anak-anak itu dipanggil dan diminta mengikrarkan kesetiaan mereka kepada Si Singamangaraja.

Selanjutnya Si Singamangaraja menginginkan sebuah upacara perpisahan. Sebuah upacara perpisahan pribadi, antara dirinya dengan anggota keluarganya yang akan ia tinggalkan. Upacara itu digambarkan sangat sendu, muram dan penuh air mata. Seolah sebuah perjamuan mengantarkan seseorang yang ajalnya akan mendekat, walau pun kata-kata yang terujar justru sebaliknya; menginginkan agar sang Maha Kuasa melindungi dan memberkahi hidup.

Dalam upacara itu, digambarkan betapa Si Singamangaraja sedih luar biasa. Ia menangis. Ia menangis karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Ia menangis ketika Sunting Mariam, salah seorang putrinya, menyuapkan nasi ke mulut sang ayah, sebagai bagian dari upacara perpisahan itu. Sunting Mariam pun tak dapat menahan air matanya. Hati sang putri menolak untuk berpisah dengan ayahnya, seperti tercermin dari keengganannya pada awalnya untuk melaksanakan perpisahan itu. Tetapi tidak ada pilihan yang enak di tengah situasi seperti itu.

Mungkin saya akan dicap terlalu melankolis karena hanya menonjolkan secuil kisah ini dari keseluruhan buku setebal hampir 500 halaman itu. Tetapi bagaimana mungkin saya bisa mengabaikan perasaan ikut sedih membayangkan seseorang seperti Si Singamangaraja yang harus berpisah dari sanak-keluarganya, yang sesungguhnya merupakan sumber kekuatannya?

Dari bagaimana ia berjuang dan mengorganisasikan perlawanan, saya dapat menduga bahwa Si Singamangaraja adalah ayah yang penyayang pada anak-anak dan keluarganya. Bahkan dalam bayangan saya, bukan jimat, bukan pedang, bukan panglima-panglimanya, yang jadi kekuatannya. Melainkan keluarga lah yang jadi mata air energi dan inspirasinya, sehingga ia mampu berjuang dekade demi dekade. Ibunya, istri-istrinya dan juga putra-putrinya, bukan hanya anggota keluarga yang manut sebagai anggota keluarga, tetapi mereka mendukung sang ayah karena mereka mengagumi dan mengidolakannya sekaligus. Itu terbukti ketika di kemudian hari satu demi satu anggota kelaurga itu tertangkap, kesetiaan mereka menyimpan rahasia perjuangan ayahnya sangat mengagumkan, bahkan di tengah ganasnya cara Belanda menginterogasi mereka.

Ini pula yang saya katakan tadi, sebuah 'penemuan' dari membaca Ahu Si Singamangaraja. Kita diajak menyadari bahwa Si Singamangaraja itu juga Manusia, yang bisa lemah, bisa tewas. Tetapi justru dengan menyadari itu, yang tergali dari kesadaran kita adalah rasa hormat yang menebal. Bahwa betapa beratnya perjuangannya sebagai raja yang juga manusia. Betapa banyak yang ia korbankan. Betapa banyak yang ia lepaskan. Betapa banyak yang tak sempat ia nikmati. Demi satu hal yang mungkin bagi banyak orang adalah hal remeh-temeh, tetapi baginya adalah segalanya, yakni Kehormatan.

Ya, Kehormatan lah tampaknya yang paling inti dari perjuangan Si Singamangaraja itu sehingga selama puluhan tahun ia hidup menderita. Kehormatan yang menurut dirinya sendiri telah dilecehkan oleh Belanda, si Gumpeni, yang dengan rakus merangsek wilayah yang bagi S Singamangaraja adalah titisan sang Mahakuasa kepada dirinya. Dan itu harus dipertahankan.

Dalam sepotong doa Si Singamangaraja XII yang sering dipanjatkannya sepanjang perang gerilya dan jika mengadakan upacara pentahiran, tergambar spirit sekaligus motivasi perjuangan Si Singamangaraja, yang oleh Belanda digelari sebagai priesterkoning (raja-imam) itu.

Ya Ompung Debata, tengoklah akan kami ini. Inilah pentahiran kami minum. Semoga ini menjadi pemberi tenaga dan kesehatan bagi kami yang kelaparan ini. Bukan karena hutang nenekku, atau hutang ayahku atau hutangku hingga kami mengalami penderitaan seperti ini. Selain daripada itu kami tidak dapat tinggal di huta karena kompeni. Hanya karena kehormatan daripada Mu lah ya Ompung maka demikian halnya.

(Ahu Si Singamangaraja, hal 380).


Saya berkata dalam hati, betapa jeniusnya Si Singamangaraja telah menjadikan semangat ini sebagai sumber energi untuk dirinya dan pasukannya untuk terus berjuang. Mungkin ia tahu bahwa lambat atau cepat sebagian dari pasukannya bisa lemah, menyerah dan bahkan berkhianat. Belanda bisa mengiming-imingi hampir apa saja yang dibutuhkan oleh pasukan dan anggota keluarganya. Dan tak ada kekuatannya untuk mencegah hal itu, kecuali dengan memompa semangat, harga diri, bahwa perjuangan mereka adalah demi kehormatan.

Dan di malam-malam pergantian tahun, ketika kita mencoba berintrospeksi pada perjalanan hidup, ketika mencoba membuat resolusi pribadi, bukan kah, diakui atau tidak, demi Kehormatan itu juga lah yang sesungguhnya kita hidup dari tahun ke tahun, walau pun dalam banyak hal kita sering tak kuasa mempertahankannya? Di hari-hari Tahun Baru seperti ini, bukankah perihal Kehormatan seperti yang diperjuangkan Si Singamangaraja itu yang seharusnya kita renungkan?



***

Tatkala akhirnya istri saya usai –lebih tepatnya memutuskan untuk berhenti-- membaca Ahu Si Singamangaraja, ia mendatangi saya yang duduk menonton televisi. Sambil menyerahkan buku itu, ia tampaknya mulai ingin membuka front ngeyel-ngeyelan dengan saya. Tak tanggung-tanggung, yang jadi sasaran serangannya kali ini adalah kampung halaman saya. Buktinya, ia membuka perbincangan dengan begini.

“Hm.... bagus isi buku ini. Lengkap. Gue bacanya sampai seolah-olah di bawa pergi ke Tanah Batak sono. Soalnya banyak nama-nama kota dan daerah yang disebutkan di situ. Ada Simalungun, ada Siantar, ada Medan, ada Tanah Jawa, ada Tarutung, Balige dan Danau Toba. Tapi yang gue heran, kok nama kampung lu, Sidamanik atau pun Sarimatondang, kok nggak disebut-sebut ya?”

Sebetulnya panas juga kuping saya mendapat 'serangan' seperti itu tanpa saya sempat membuat persiapan. Untungnya, saya sudah ada senjata pamungkas yang membuat saya bisa menangkis serangannya. Soalnya, secara sepintas saya sudah baca riwayat hidup Prof. W.B. Sijabat yang menulis buku itu. Di halaman terakhir buku itu sangat jelas tertulis perjalanan kariernya. Dan, jika istri saya membacanya, pasti lah ia akan tahu kehebatan kampung halaman saya.

Itu sebabnya, dengan tak kalah gertak, saya membalas 'serangannya' dengan berkata:“Kampung halaman gue memang nggak disebut-sebut di buku itu. Tapi coba dong lihat siapa yang nulis buku itu.”

Istri saya segera merebut buku itu dari tangan saya. Lantas segera membuka halaman terakhir tempat riwayat hidup penulis buku dicantumkan. Ketika membacanya, saya dapat melihat raut wajahnya yang unik dan aneh. Sebab sangat nyata lah di sana tertulis:

Walter Bonar Sidjabat, lahir di Tigaras (tepi Danau Toba) Sumatra utara 19 Oktober 1931. Tamat Sekolah Rakyat pada masa penjajahan Belanda tahun 1939 di Sidamanik
.

Dan Sidamanik adalah tanah kelahiran saya juga.

“Sialan,” kata istri saya, setelah membaca bahwa ternyata ada juga tertulis nama kampung halaman saya di buku itu, kendati pun hanya di riwayat hidup penulisnya. Jika Umar Kayam ditanya apa kata yang tepat menggambarkan reaksi wajah istri saya di kala itu, pasti lah ia menggunakan sebuah kata dari Bahasa Perancis, yakni, Touche. Kena Lu....

Dengan ini pula, saya dan keluarga menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2008, sukses selalu, seperti kata pepatah Toba:

Bona ni pinasa
hasakkotan ni jomuran
tung aha pe ta jama
sai tong ma dalan ni pasu-pasu


dan pepatah Simalungun

boras sabur-saburan
iboban i pinggan pasu
horas hita ganupan
sai jumpahan pasu-pasu


-selesai-


Catatan:
Mohon maaf kepada mereka yang tidak menyukai tulisan-tulisan panjang karena blog ini belum dapat memenuhi keinginan mereka.
Sumber-sumber tulisan:
Ahu Sisingamangaraja, Prof.Dr. W.B. Sidjabat, Sinar Harapan, 1982
Umpasa Simalungun dikutip dari kumpulan catatan Rosenman Manihuruk.
Umpasa Toba dikutip dari beberapa situs budaya Batak.

3 comments:

  1. Anonymous9:50 PM

    tau gak bang, di lemari bokap juga udah lama itu buku ada. gak ada minat gw tuk baca :-)))). secara sampulnya jadul bangat. eh setelah baca crita ini, jadi pengen tuh bacanya.

    tapi opera batak itu apa sih? emang ada?

    lin

    ReplyDelete
  2. terus terang ketika saya menemukan blog nya bang eben saya senang kali . ternyata kita sahuta bang.he..he..he..saya orang baharen, sayang nya bang eben gak mau cerita banyak tentang sejarah perkebunan teh di kampung kita.aku banyak belajar sejarah dari tulisan nya bang eben loh. bang eben pasti pernahkan merasakan 17 agustusan di sidamanik,dan liat pawai nya yang ruamee kali,tulis lah bang ceritanya,he..he..he..

    ReplyDelete
  3. @ lin dan @ipiet_chan.
    terimakasih udah singgah di blog ini. @ ipiet chan, cerita tentang pawai 17-an di sidamanik udah sy tulis dikit2. besok2 akan sy tambah deh...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...