Sunday, February 17, 2008

Kalau Kerbau dapat Bicara....



Andai kerbau-kerbau dapat bicara, salah satu memoar mereka mungkin akan seperti ini….



“Panggil saya Sinanggalutu. Itu nama saya. Jangan tanya nama itu diambil darimana. Dan jangan tanya kenapa. Jangan tanya bagaimana mulanya. Dan jangan tanya apa artinya. Saya samasekali tak tahu. Saya hanya seekor kerbau. Hidup di tahun 1400-an. Di sebuah wilayah di Simalungun, Sumatera Utara.

Majikan yang empunya saya bernama Pinang Sori. Atau Si Pinang Sori. Ia sangat sayang kepada saya. Ia gembala saya tetapi sekaligus juga sohib. Sepanjang hidup saya kami tidak pernah berpisah. Saya bersamanya ketika ia masih bocah. Dan saya berharap ia tetap setia hingga saya mati nanti (hm… saya tak berani menyebut berpulang. Berpulang hanya untuk manusia, bukan?). Untuk itu lah tulisan ini saya buat. Untuk menceritakan majikan yang menyenangkan itu. Sebagai tanda cinta dan tanda hormat bagi dia yang penyayang dan pemurah.

Majikan saya itu bukan orang sembarangan. Ia putra sulung raja. Ayahnya Raja Aji Nembah. Raja yang berkuasa di Aji Nembah, sebuah tempat di wilayah Tanah Karo.

Pinang Sori atau Tuan Pinang Sori –sebutan formalnya sebagai putra raja-- sejak bocah sudah jadi anak yang rajin. Ia rajin menggembala kerbau. Kerbaunya banyak, tetapi saya lah yang paling ia sayangi. Itu bukan rahasia. Kepada siapa pun ia selalu mengatakan, kerbau kesayangannya adalah saya, Sinanggalutu. Saya lah yang jadi kerbau tunggangannya kemana pun dia pergi. Di kala sedih, tak segan-segan ia menceritakan apa saja yang mengganjal di hatinya. Tak ada yang disembunyikannya dari hadapan saya. Sebab, siapa lagi yang dapat dia percaya?

Bukan sombong atau membanggakan diri. Saya memang kerbau yang istimewa. Paling tidak di mata orang-orang yang pernah melihat saya. Mungkin karena perawakan saya yang besar. Ada yang berkata punggung saya demikian lebarnya sehingga cukup untuk memuat empat orang duduk bersila. Yang lain berkata bekas jejak kaki saya dapat memuat sebutir kelapa. Tetapi dugaan saya, Pinang Sori lebih sayang dan lebih percaya lagi kepada saya karena saya seekor kerbau, yang patuh dan tak pernah membantah keinginannya. Saya kan bukan manusia yang punya intrik dan ambisi, seperti orang-orang di sekitar istana ayahnya?.

Ketika Pinang Sori berusia 10 tahun, sebuah peristiwa terjadi. Ini lah peristiwa yang mengubah sejarah dia, dan juga hidup saya. Peristiwa yang melemparkan kami kepada petualangan besar. Petualangan yang belakangan hari saya yakin akan menciptakan sejarah lahirnya kerajaan baru. Yang lebih besar dan lebih dikenang. Petualangan yang menjadikan saya kerbau istimewa.

Peristiwa itu bermula ketika Pinang Sori berusia 10 tahun. Pada suatu hari, seperti biasa ia melakukan kegemarannya menggembalakan kami, kerbau-kerbaunya ke padang penggembalaan. Dan, kalau sudah begitu, Pinang Sori akan terlihat begitu gembira. Kami bisa merasakan itu. Padang penggembalaan adalah hiburan baginya, sama seperti kami, kerbau-kerbaunya, yang juga menggembirakannya dengan tingkah kami yang dungu-dungu lucu.

Ketika matahari sudah mulai tinggi, Pinang Sori berniat pulang untuk bersantap siang bersama ayahnya di istana. Namun, baru saja ia berberes-beres, seorang hulubalang raja tiba di tempat kami, di padang penggembalaan itu. Hulubalang itu berkata bahwa ia diperintahkan raja untuk menyampaikan pesan agar Pinang Sori meneruskan penggembalaannya ke padang yang lebih jauh lagi. “Raja berkata agar Tuan pergi menggembala lebih jauh lagi, karena beliau ingin bersantap,” begitu lah hulubalang itu berkata.

Pinang Sori menurut saja.

Keesokan harinya ketika tiba waktunya makan siang, Pinang Sori kembali bersiap untuk pulang. Namun, kejadian kemarin terulang. Hulubalang muncul dan berkata bahwa raja menginginkan Pinang Sori menggembala lebih jauh, sebab raja ingin bersantap siang.

Kejadian seperti itu terjadi sampai enam kali. Dan, siapa pun di posisi seperti majikan saya pasti akan bertanya-tanya. Kenapa gerangan tiap kali tiba waktu makan siang, ayahnya justru menyuruh dia untuk menggembala lebih jauh lagi? Apakah sang ayah tak menginginkannya menemaninya makan siang? Apakah kehadirannya sudah tak diperlukan?

Saya melihat majikan saya sedih dan kecewa. Berkali-kali ia bertanya kepada saya apa kira-kira maksud ayahnya untuk menyuruhnya pergi lebih jauh lagi. Saya tak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa melenguh panjang pertanda turut bersimpati. Terus terang, lika-liku pikiran manusia tak terjangkau oleh pikiran saya. Apalagi ini menyangkut politik istana yang ribet dan berbelit.

Akibat kejadian itu Pinang Sori tak berani pulang. Ia menghabiskan hari-harinya di padang penggembalaan. Kami, kerbau-kerbaunya juga tak pernah lagi menginjakkan kaki ke kampung halaman Pinang Sori.

Suatu hari kami melihat Permaisuri muncul di padang penggembalaan. Ia rupanya mengajak Pinang Sori untuk kembali ke istana. Permaisuri mempertanyakan mengapa Pinang Sori tak juga pulang, padahal raja sudah berulang kali meminta hulubalang menjemput dia.

Melihat kedatangan ibunya, Pinang Sori justru bertambah kecewa. Ia berpikir memang benarlah ayahnya tak lagi menginginkan dirinya. Buktinya ia hanya mengutus ibunya untuk menjemputnya. Itu berarti hanya ibunya lah yang merindukannya. Ayahnya tidak. Dan karena itu Pinang Sori menolak untuk pulang.

Saya melihat permaisuri menangis menyadari Pinang Sori menolak ajakan pulang. Pinang Sori juga begitu. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Tetapi apa mau dikata. Pinang Sori tetap memilih tinggal di padang penggembalaan. Dalam hemat dia, tidak ada gunanya lagi ia berada di istana. Ia tidak lagi dianggap ada.

(Di kemudian hari, kami tahu Pinang Sori hanya lah korban dari intrik istana. Tidak betul kalau ayahnya tak menginginkannya lagi. Sesungguhnya, setiap kali tiba waktu makan siang, raja mengutus hulubalang untuk menjemputnya. Tetapi hulubalang itu justru memutarbalikkan perintah. Alih-alih menyampaikan ajakan raja, hulubalang justru menyuruh Pinang Sori menggembala lebih jauh lagi. Tetapi apa daya, info ini diketahui Pinang Sori setelah ‘nasi sudah jadi bubur.’)

Setelah beberapa waktu tinggal di padang penggembalaan, saya melihat Pinang Sori bersiap-siap seperti hendak bepergian jauh. Ia pergi ke sungai dan memenuhi tatabunya (tatabu = tabung terbuat dari bambu, dijadikan tempat menyimpan air) dengan air. Tak berapa lama, kami kerbau-kerbaunya juga ia persiapkan. Rupanya memang benar, kami akan bepergian jauh. Ia naik di punggung saya. Di belakang kami kerbau-kerbau lainnya berjalan beriring. Juga enam orang anak buah Pinang Sori turut serta. Kami berjalan ke arah sebuah desa bernama Garingging, yang tergolong masih berada di wilayah kerajaan Aji Nembah. Dan kemudian, kami menetap di desa ini.

Enam tahun lamanya Pinang Sori menjadi warga Garingging. Setelah berusia 16 tahun ia merasa saatnya untuk berpetualang lagi. Kami pun mempersiapkan diri. Tatabu yang berisi air dari Ajinembah dulu masih tetap utuh dan turut serta dibawa dalam petualangan ini. Seperti biasa, Pinang Sori berada di atas punggung saya di depan, diiringi oleh anak buahnya beserta kerbau-kerbau yang lain. Kami menuju ke arah Timur memasuki wilayah Kerajaan Nagur, wilayah yang dewasa ini dikenal sebagai Kabupaten Simalungun. Di sini kami menemukan sebuah kawasan hutan lebat.

Pinang Sori ternyata menyukai tempat itu. Saya mengatakan begitu karena tak lama kemudian ia sudah mempersiapkan saya untuk dia tunggangi. Dia mengarahkan perjalanan kami ke istana Raja Nagur. Rupanya ia menghadap untuk meminta izin agar diberi kesempatan mengerjakan hutan lebat itu. Raja Nagur ternyata mengabulkannya. Pinang Sori pun segera bekerja membuka perladangan di hutan lebat itu. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, majikan saya ini selain gembala yang rajin juga petani yang ulet. Kami kerbau-kerbaunya senang-senang saja membantunya bekerja.

Suatu hari saya melihat Pinang Sori duduk menyendiri. Sepertinya ada banyak yang dia pikirkan. Lalu dia bicara sendiri, berjalan ke sana ke mari di sekitar saya. Ia sepertinya ingin memecahkan suatu teka-teki dan seolah-olah mengajak saya bertukar pikiran meminta saran. Dari apa yang ia ceritakan saya akhirnya mengerti bahwa ia baru saja bermimpi. Dalam mimpi itu ia melihat seorang raja datang menemuinya. Raja itu memerintahkan Pinang Sori mengubah hutan yang kami tempati itu menjadi sebuah desa. Ia juga diminta memberi nama Raya Simbolon kepada desa itu.

Masih dalam mimpinya, sang raja juga meminta Pinang Sori mengambil dan menanamkan temburak kotoran saya di lahan yang tengah dikerjakannya.(temburak= tahi atau kotoran yang telah membusuk dan mengering bercampur dengan tanah). Demikian juga dengan air dalam tatabu yang dibawa dari Ajinembah, diminta agar dituangkan ke tempat air yang biasa digunakan Pinang Sori untuk mandi. (Kelak, saya dapat melihat bahwa ternyata hal ini berguna membantunya manakala diminta membuktikan diri sebagai pemilik desa yang didirikannya itu.)

Namun berbeda dengan sebelumnya, setelah dia selesai menceritakan mimpi itu, Pinang Sori saya lihat seperti merasa lepas. Ia terkesan telah mengerti dan mendapatkan sesuatu. Wajahnya terlihat cerah. Matanya berbinar-binar.

Hari-hari setelah itu, saya dapat melihat gairahnya bekerja lebih besar lagi. Rupanya mimpi itu memacu semangatnya. Ia tampaknya yakin perintah sang Raja untuk membuat hutan itu jadi sebuah desa adalah perintah Tuhan kepadanya. Setiap hari ia bekerja bersama para anak buahnya dan kami, kerbau-kerbaunya. Selain membuka lahan dan mengolahnya, Pinang Sori juga rajin berburu, terutama menembak burung memakai ultop. Ini bukan sekadar untuk mendapatkan daging sebagai lauk. Padi-padian dari tembolok burung-burung hasil buruannya, diperlukan sebagai benih untuk ditanam di ladangnya.

Begitu lah, Pinang Sori akhirnya berhasil membuka hutan itu jadi ladang yang subur. Dari tahun ke tahun lahan yang dikerjakan Pinang Sori makin memberi hasil. Padi, jagung dan umbi-umbian makin berlimpah dihasilkannya. Hal ini mendorong banyak orang mendatangi tempat kami dan meminta hasil ladang dari Pinang Sori. Rupanya, di daerah sekitar itu sebelumnya belum pernah ada ladang yang memberi hasil sebanyak itu.

Selain giat dan rajin, majikan saya orangnya pemurah. Tidak ditolaknya orang-orang yang datang meminta hasil bumi kepadanya. Sebaliknya ia memberikannya, yang membuat orang-orang terheran-heran. Pinang Sori memberikannya dengan cuma-cuma. Orang-orang yang pulang dari ladangnya dibanjirinya dengan hasil bumi, sampai-samapai mereka harus bersusah payah membawanya.

Hanya satu saja pesan Pinang Sori kepada orang-orang yang mendapatkan hasil bumninya. Yakni, apabila ada yang bertanya, dari siapa mereka mendapatkan rezeki itu, jawabnya: dari Raja Raya.

Syarat yang ringan itu tentu mereka terima dengan senang hati. Buktinya, makin hari makin banyak orang yang datang karena mendengar kabar ada Raja Raya yang pemurah di tempat kami. Rupanya orang-orang yang dalam perjalanan menuju pulang, tatkala ditanyai oleh yang berpapasan dengan mereka, segera menjawab bahwa hasil bumi itu didapat dari Raja Raya. Pinang Sori pun makin terkenal sebagai Raja Raya.

Berita tentang telah munculnya Raja Raya akhirnya sampai ke telinga Raja Nagur. Konon, Raja Nagur kaget kok bisa-bisanya muncul raja di daerah kekuasaannya tanpa sepengetahuannya. Itu lah barangkali sebabnya suatu hari Raja Nagur tiba-tiba saja sudah ada di tempat kami. Rupanya ia ingin menyelidiki kebenaran informasi tentang adanya Raja Raya tersebut. Ia menemui Pinang Sori di ladang dan langsung menanyakan, darimana ia mendapat kuasa sehingga berani mengklaim bahwa itu adalah kerajaannya.

“Saya mendapatkannya dari Tuhan (Naibata, red), “ kata Pinang Sori, menjawab pertanyaan itu.

“Apakah kamu berani bersumpah atas apa yang kamu katakan itu?” Raja Nagur bertanya lagi.

“Berani,” kata Pinang Sori.

Di zaman itu, bersumpah atau dalam Bahasa Simalungun, marbija, adalah sebuah cara untuk membuktikan kebenaran manakala ada dua pihak yang berkonflik. Pihak yang berbohong dipercaya akan ‘termakan sumpah.’ Ia akan mendapat celaka oleh sumpahnya itu sendiri.

(Catatan editor: Di kemudian hari ketika Kerajaan Simalungun sudah makin lengkap perangkatnya, ritual bersumpah (marbija) dilaksanakan di Rumah Bolon Adat, yang berperan sebagai tempa pengadilan tradisional Simalungun. Kedua belah pihak yang berkonflik dihadapkan kepada raja. Raja berfungsi sebagai pewawancara untuk menggali fakta, menurut versi masing-masing yang berkonflik.

Untuk membuktikan siapa yang benar, kedua belah pihak dihadapkan ke Tiang Nanggar. Ini adalah sebuah tiang di tengah-tengah Rumah Bolon Adat, lengkap dengan patung dan ukiran. Fungsi tiang adalah sebagai alat pendeteksi siapa yang benar dan siapa yang salah.

Kemudian raja akan mempersilakan siapa yang merasa dirinya benar, agar menjilat tiang nanggar. Konon, yang merasa bersalah tidak berani menjilat tiang itu dan langsung membeberkan konflik apa adanya kepada raja. Atau kala lain, manakala kedua belah pihak berani menjilat Tiang Nanggar, salah satunya langsung meninggal.

Kala lain, kalau pun upacara menjilat Tiang Nanggar tidak menghasilkan keputusan apa-apa, orang percaya mereka yang bersalah pada saatnya nanti akan mendapatkan hukuman dari Tuhan
–Disarikan dari Pandangan Orang Simalungun terhadap Konflik melalui Pendekatan Kesusastraan, Drs. R. Maradja Sitompul, Buletin Pemuda GKPS Yogyakarta, Sinalsal, edisi 7 Nov 1996)


Maka karena Pinang Sori sudah mengatakan berani bersumpah, ia dipersilakan melaksanakannya. Ia diminta bersumpah bahwa tanah yang ia klaim sebagai kerajaannya datangnya dari Tuhannya.

Saya sebenarnya agak heran. Mengapa Pinang Sori terlihat tidak takut sedikit pun? Bukankah kalau ia mengaku bahwa tanah itu adalah tanahnya, ia berarti berbohong. Sebab, bukankah tanah yang mereka kerjakan itu adalah hutan yang termasuk dalam wilayah kerajaan Nagur?

Ternyata majikan saya itu memang cerdik. Belakangan, saya mendengar ia bercerita kepada teman-temannya bahwa ia tak takut bersumpah karena ia ingat lagi perintah raja yang datang dalam mimpinya. Ia ingat perintah raja dalam mimpi yang mengatakan agar ia menanamkan temburak kotoran saya di ladang yang dikerjakannya itu dan menyimpan air dalam tatabu ke tempat air pemandian yang biasa dia gunakan. Karena tanah temburak itu memang benar adalah miliknya dan air dari tatabu itu memang juga adalah air miliknya yang dibawanya dari Ajinembah, maka Pinang Sori tak perlu termakan sumpah bila ia mengakui tanah yang dikerjakannya itu adalah tanahnya.

Itu lah sebabnya ia berani duduk di tengah ladangnya, di atas tanah tempat ia menanam temburak itu seraya berkata:

“Kalau tidak benar tanah ini tanah saya, dan air ini air saya, yang diberikan oleh Tuhan kepada saya, saya akan terkena kutuk. Tuhan mendengar sumpah saya ini.”

Setelah Raja Nagur melihat keberanian Pinang Sori dan mendengar sumpahnya, ia pun jadi percaya dan mengakui Pinang Sori sebagai pemilik daerah itu. Beberapa waktu kemudian Pinang Sori bahkan menikah dengan putri tunggal Raja Nagur. Hasil pernikahan itu seorang putra, diberi nama Lajang Raya, yang lahir dua tahun kemudian.

Hari-hari selanjutnya dilalui Pinang Sori dengan menjadi menantu Nagur sekaligus juga menjadi panglima kepercayaannya. Pinang Sori banyak membantu sang mertua mengatasi pemberontakan di wilayah kerajaannya mau pun dalam menambah wilayah kerajaan melalui penaklukan-penaklukan baru. Pinang Sori juga membantu Raja Nagur memerangi musuh-musuh baru yang ingin merebut wilayah kerajaan Nagur. Pinang Sori menjadi menantu yang dipercaya oleh Raja Nagur.

Hari-hari Pinang Sori selalu ia lewatkan bersama saya. Tidak ada pertempuran yang dipimpinnya tanpa mengajak saya. Selalu saya bersama dia. Dari satu desa ke desa lain. Dari satu penaklukan ke penaklulan lain.

Setelah melalui banyak suka-duka mendampinginya, pengabdian saya kepada Pinang Sori berakhir oleh sebuah peristiwa yang tak kan pernah bisa saya lupakan. Itu terjadi di sebuah tempat tak jauh dari Padang Bolag.

Ketika itu, seperti biasanya, saya membawa Pinang Sori berperang melawan musuh. Dalam perang itu terjadi lah apa yang selama ini belum pernah terjadi. Tanpa saya sadari saya telah terluka. Mungkin terkena senjata musuh. Mungkin juga kesabet tandukan kerbau tunggangan lawan. Yang jelas saya terluka sangat parah. Pinang Sori tampaknya tak sempat lagi melindungi saya waktu itu.

Lebih jauh, Pinang Sori pun tampaknya sudah kewalahan. Makin lama pasukannya terdesak. Akibatnya, ia memutuskan untuk mudur. Ada dua pilihannya, pertama, mundur ke arah Raya Simbolon, kerajaan yang dirintisnya paling awal Atau kedua, mundur ke Ajinembah, kerajaan ayahnya yang juga tanah kelahirannya.

Dalam perjalanan mundur itu, saya merasakan kesakitan dan kelelahan yang amat sangat. Baru kali ini saya mengalami sakit dan lemah se-luar biasa itu. Waktu rasanya berjalan lambat. Sementara itu, saya belum melihat Pinang Sori memberi tanda-tanda kami bakal berhenti. Akhirnya, di sebuah jurang di Dolog Lubuk Raya, saya benar-benar menyerah. Saya samasekali tak dapat berjalan lagi. Saya tergeletak begitu saja. Tak mampu bergerak.

Saya melihat Pinang Sori masih berusaha membantu saya berdiri. Tetapi akhirnya ia tampaknya menyadari keadaan saya yang tak mungkin bangkit lagi. Wajahnya tampak sedih. Sampai-sampai ia tak mau jauh-jauh dari saya. Yang mengharukan dan sangat menyentuh animality ( perikehewanan, lawan dari humanity, pen) saya adalah tindakan Pinang Sori selanjutnya. Ia tidak membiarkan saya tinggal sendirian di jurang itu. Ia justru memutuskan agar kami beserta seluruh pasukannya berhenti sementara, sambil menunggu saya sembuh. Bahkan selanjutnya saya mendengar Pinang Sori memerintahkan pasukannya membuka daerah itu untuk dijadikan tempat mereka menetap. Di kemudian hari desa itu dinamai Sipinangsori.

Sayangnya, luka yang saya derita ternyata tak bisa tersembuhkan. Bahkan makin parah. Makin hari saya bertambah lemah. Pinang Sori sudah berusaha melakukan aneka pengobatan. Namun, tampaknya tak ada lagi gunanya. Ketika saya menulis memoir ini, saya mungkin tengah berada pada hari-hari terakhir saya. Ketika orang membaca tulisan ini, saya sangat pasti ini lah tulisan terakhir yang bisa saya buat untuk majikan saya, Pinang Sori yang saya cintai.

Mungkin ia sedih. Mungkin ia kecewa. Saya pun begitu. Seandainya diberi kesempatan, saya masih ingin mengulang masa-masa indah bersamanya. Sejujurnya saya ingin mengatakan kepadanya, saya sangat berbahagia di akhir hidup saya ini. Bahagia karena pernah mengalami masa-masa yang istimewa sebagai kerbau yang istimewa, bersama seorang majikan yang istimewa, Pinang Sori. Ia pemurah, penyayang dan begitu setianya pada saya. Ia bahkan berjanji jika kelak saya mengembuskan nafas penghabisan di desa Sipinangsori ini, ia pun tak kan pernah beranjak dari sana. Ia ingin menghabiskan sisa hidup tak jauh-jauh dari saya.

Terimakasih, Tuan Pinang Sori. Diatei tupa ma."


***


Post Script


Pinang Sori dan kerbaunya, Sinanggalutu, dipercaya adalah tokoh historis. Tetapi dongeng-dongeng tentang pergaulan sang Tuan dan peliharaannya itu ada dalam bermacam versi. Itu tak mengherankan, karena legenda sudah menjadi bagian wajar yang melingkupi hidup raja-raja zaman dahulu –bahkan zaman sekarang. Tulisan di atas adalah salah satu versi interpretasi ulang dari salah satu dongeng tentang hubungan Pinang Sori dan Sinanggalutu.

Pinangsori dipercaya hidup pada periode tahun 1400-an. Ia dipercaya merupakan perintis Kerajaan Raya, salah satu kerajaan di wilayah Simalungun yang masih ada hingga ‘revolusi sosial’ melenyapkannya pada 1947.

Urutan raja-raja Raya sejak Pinang Sori adalah sebagai berikut:
1. Tuan Si Pinang Sori
2. Raja Raya, Tuan Lajang Raya
3. Raja Raya Simbolon(Namanya memakai nama wilayah kerajaannya, sebab tidak diketahui lagi siapa nama aslinya)
4. Raja Gukguk
5. Raja Unduk
6. Raja Denggat
7. Raja Minggol
8. Raja Poso
9. Raja Nengel
10. Raja Bolon
11. Raja Martuah
12. Raja Raya Tuan Morahkalim
13. Raja Raya Tuan Jimmahadim, Tuan Huta Dolog
14. Raja Raya Tuan Rondahaim
15. Raja Raya Tuan Sumayan (Kapoltakan)
16. Raja Raya Tuan Gomok (Bajaraya)
17. Tuan Yan Kaduk Saragih Garingging

Perihal Pinang Sori, Berbeda dengan kisah dalam dongeng yang mengatakan ia terusir dari kerajaan Aji Nembah karena ‘tidak diajak makan siang’ oleh ayahnya, kepergian Pinang Sori dari tanah kelahirannya diduga karena adanya perseteruan internal diantara keluarga penguasa Aji Nembah. Perseteruan itu diperparah oleh campur tangan pihak luar Aji Nembah, membuat banyak warganya yang melarikan diri dari kerajaan tersebut. Ketika itu lah Pinang Sori yang tengah menggembalakan kerbaunya di desa Garingging, memutuskan hengkang, bersama kerbau-kerbaunya ke arah hilir desa itu. Dalam rombongannya, termasuk beberapa orang saudaranya yang sekubu dengannya, berikut sejumlah pegawai kerajaan. Ada sekitar 100 orang anggota rombongan itu.

Diperkirakan ‘hijrah’ Pinang Sori terjadi pada tahun 1927. Dari Garingging rombongannya pergi ke Tikkos sambil mengajak kerabat mereka yang sudi ikut. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Purba Tua, lalu ke Hinalang hingga setelah satu tahun dalam perjalanan mereka tiba di Raya Simbolon.

Tak lama setelah Pinang Sori bermukim di Raya Simbolon, utusan Raja Nagur mendatangin dan memintanya menghadap ke Rumah Bolon Nagur di Raya Usang. Di sana, Raja Nagur mengajak Pinang Sori bekerjasama untuk mengusir musuh-musuh kerajaan Nagur. Musuh-musuh itu antara lain para pendatang dari pesisir pantai selain para penghulu-penghulu dusun yang memberontak.

Pada saat itu lah Pinang Sori bersumpah membela Raja Nagur. Tak lama kemudian, ia menikah dengan putri tunggal raja itu. Sang putri memberinya seorang putra yang diberi nama Lajang Raya. Sebagai menantu, Pinang Sori membantu Raja Nagur dalam menghadapi musuh-musuh kerajaan. Bersama dengan dia, tidak pernah absen peranan Sinanggalutu sebagai kerbau tunggangannya.

Tentang akhir hidup Sinanggalutu ada berbagai versi. Selain versi di atas, ada yang mengatakan Sinanggalutu menghabiskan hidupnya di daerah Padang Lawas. Itu terjadi setelah ia membawa tuannya, Pinang Sori ke kampung pamannya di Bondailing. Pinang Sori berpulang di di sana sementara Sinanggalutu dikisahkan pergi ke Padang Lawas.

Versi lain mengatakan Sinanggalutu terluka bukan dalam perang melainkan karena kalah dalam adu kerbau. Kerbau yang mengalahkannya konon hanya kerbau ‘junior,’ alias kerbau anak-anak.

***

Bacaan:

1. G.W.S., Pasal asal osoel ni Radja pakon haradjaon Raja, Majalah Sinalsal, Edisi Extra Summer, September 1933. khususnya tentang dongeng Pinang Sori dan Sinanggalutu.
2. R. Maraja H. Sitompul, Pandangan Orang Simalungun terhadap Konflik melalui Pendekatan Kesusastraan dalam , Buletin Pemuda GKPS Yogyakarta, Sinalsal, November 1996, khususnya tentang Tiang Naggar dalam tradisi marbija (bersumpah)
3. Taralamsyah Garingging, Saragih Garingging, Bina Budaya Simalungun, Oktober 1981

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...