Sunday, March 16, 2008

“Andai Kutahu Lau Simomo, Aku Takkan Mencoba Bunuh Diri”



Minggu sore, suatu hari beberapa tahun lalu….

Sudah lebih dari 10 menit, tetapi istri saya tampaknya belum ada niat mengakhiri perbincangannya. Setahu saya, ketika pesawat telepon itu tadi berdering, dia agak ogah-ogahan mengangkatnya. Tetapi sekarang malah dia justru yang bersemangat berbicara.

“Percaya deh, orang Simalungun itu baik-baik kok. Malah kalau kamu dengar mereka ngomong, pasti makin kesengsem. Ngomongnya mendayu-dayu. Nyanyinyannya juga kayak ada cengkok-cengkoknya gitu deh…,” katanya, seolah-olah dia itu lah orang yang paling ngerti tentang orang Simalungun.

“Siapa sih?” saya bertanya ketika ia sudah meletakkan gagang telepon.

“Teman. Dulu junior gue waktu SMP. Sekarang dia lagi jatuh cinta sama orang Batak. Batak Simalungun lagi. Makanya dia tanya-tanya gue. Gimana orang Simalungun itu.”

Trus?”

“Ya, gue jawab aja semampu gue. Lu denger juga kan jawaban gue?”

Dalam hati saya tertawa. Istri saya yang orang Jawa itu memang sebelum menikah dengan saya terlebih dulu ‘ditahbiskan’ secara adat jadi boru (baca: marga) Damanik. Dan, Damanik adalah salah satu marga dari Batak Simalungun. Marga Damanik disematkan padanya karena itu lah marga ibu saya. Jadi lah dia orang Simalungun bermarga Damanik, kendati dengan status boru Damanik swasta yang disamakan. (Mudah-mudahan status itu dapat ia pertahankan, jangan sampai melorot jadi cuma ‘diakui,’ atau bahkan sekadar terdaftar. Hehehe).

Sebenarnya penjelasan istri saya tentang orang Simalungun yang kalau bicara mendayu-dayu dan nyanyian aslinya yang penuh cengkok (dalam Bahasa Simalungun cengkok itu disebut inggou) bukan lagi sesuatu yang baru. Penjelasan semacam itu sudah sangat standar. Siapa saja yang kita jumpai di Sumatera Utara dan kita tanya apa yang membedakan orang Simalungun dengan suku lain yang dikenal dalam rumpun suku Batak, jawabannya biasanya begitu.

Jawaban seperti itu tentu hanya setengahnya saja benar. Sebab jika kita makin rapat bergaul dengan orang Simalungun, kita akan makin menyadari bahwa tingkat kemendayu-dayuan bahasa tersebut memang ada gradasinya. Makin ke pesisir (Danau Toba) atau makin ke wilayah perbatasan, makin kurang lah mendayu-dayunya. Apalagi bila sudah tiba di desa seperti Sarimatondang, desa kelahiran saya yang norak bin udik itu, yang merupakan persimpangan wilayah yang berbahasa Batak Toba dan Simalungun. Akan makin terasa lah Bahasa Simalungun ‘pasar’ yang sudah dipengaruhi oleh banyak bahasa dan dialek. Mungkin mirip-mirip dengan Bahasa Jawa ngapak yang biasa disematkan kepada cara berbicara rekan-rekan kita orang Jawa yang lahir dan besar di Tegal.

Pada tahun 1937, Pemerintah Belanda pernah mengutus seorang ahli Bahasa Belanda untuk mempelajari Bahasa Simalungun. Nama sang ahli adalah Dr. P Voorhoeve. Ternyata ia memilih datang ke Pematang Raya, salah satu wilayah kerajaan dari tujuh kerajaan di wilayah yang berbahasa Simalungun.

Mengapa ia memilih datang ke tempat ini dan bukan ke kerajaan lainnya? Tak lain untuk mendapatkan Bahasa Simalungun yang benar-benar murni dan belum terpengaruh oleh dialek bahasa lainnya. Soalnya, dari tujuh ‘kerajaan’ Simalungun, hanya Raya lah yang samasekali tidak berbatasan dengan wilayah lain yang berbahasa bukan Simalungun. Raya diapit oleh lima kerajaan yang (kala itu) kesemuanya berbahasa Simalungun, yakni Panei, Padang Bedagai, Dolog Silou dan Purba. Kerajaan lain, seperti Tanoh Jawa, Siantar, Panei, Purba dan Silimakuta berbatasan dengan wilayah yang berbahasa Toba Sedangkan Silimahuta dan Dolog Silou berbatasan dengan wilayah yang berbahasa Karo. Begitu lah sedikit penjelasan sejarah perihal itu untuk mempertegas adanya gradasi 'kemurnian' Bahasa Simalungun.

Lanjut cerita, beberapa bulan setelah perbincangan telepon istri saya dengan si juniornya semasa di SMP itu, kami kedatangan kiriman berupa undangan menghadiri resepsi pernikahan. Ternyata Si Junior itu akhirnya jadi juga menikah dengan si orang Batak Simalungun. Dan kini mereka rukun dan damai sebagai bagian dari keluarga Pejabat seJabodetabek (baca: Pejabat = Perkawinan Jawa dan Batak). Si sulung mereka kini sudah berusia tiga tahun.

Di resepsi pernikahan mereka dulu, di sebuah gedung di Jakarta ini, saya masih ingat betapa lebarnya tawa si Batak Simalungun itu menyambut kami ketika menyalami mereka, kendati ia saya lihat agak kagok juga dengan blangkon di kepalanya dan keris di punggungnya. Di Jakarta memang resepsi pernikahan mereka dilangsungkan dalam adat Jawa Timuran sesuai dengan tradisi si Junior. Sebelumnya dilangsungkan pula pesta pernikahan dengan adat Simalungun di kampung halaman pengantin pria. Dugaan saya istrinya pasti juga lah gerah dengan kebaya yang harus dikenakan sehari penuh serta bulang Simalungun yang bertengger di kepalanya. Tetapi gerah seperti itu tak ada 'apa-apa'nya bukan di saat-saat kita berdua jadi raja-ratu sehari?

Sampai sekarang belum saya tahu apakah mereka ini ‘jadian’ karena terpengaruh oleh cerita istri saya tentang betapa mendayu-dayunya Bahasa Simalungun, atau karena si Batak Simalungun yang satu itu memang lagi lucky aja. Tapi buat apa pula tanya-tanya soal itu. mungkin hal itu memang sebaiknya jadi rahasia mereka berdua saja. Yang lebih penting adalah bagaimana agar Bahasa Simalungun yang mendayu-dayu itu tetap menyimpan pesona dan tak ditinggalkan, di zaman dimana kemendayu-dayuan kerap dianggap kontras dari ketergesaan, kecepatan dan daya tahan.....

***


Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu, sebuah majalah baru diterbitkan di Pematang Siantar. Tepatnya di bulan April 1931. Nama majalah itu Sinalsal. Ini adalah majalah bulanan berbahasa Simalungun pertama yang pernah diterbitkan sepanjang sejarah. Selain semua tulisan di dalamnya menggunakan Bahasa Simalungun (beberapa ada juga dalam Bahasa Belanda), majalah ini juga hanya memberitakan tentang apa, siapa, dan bagaimana orang Simalungun beserta peristiwa-peristiwa di wilayah Simalungun. Kala itu di luar majalah Sinalsal, sudah banyak beredar majalah berbahasa Batak (Toba) mau pun Batak (Karo), semisal majalah Pangoehalan yang terbit pertama kali di Sibolga tahun 1928, Sinondang Baroe (1928), Pandji Karo (1929), dan Soara Batak (1930). Kalau saya tidak salah, majalah Sinalsal bertahan cukup lama juga, setidaknya terbit secara teratur sejak 1931 hingga 1941

Secara harfiah, Sinalsal berarti terang-cemerlang. Ia agaknya dimaksudkan menggambarkan upaya orang Simalungun untuk ‘bersinar’ sehingga dipandang sejajar dengan suku bangsa lainnya. Perkembangan Bahasa Simalungun juga banyak dipengaruhi oleh majalah ini, selain oleh penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Simalungun, serta penggunaan bahasa tersebut dalam ibadah Gereja Kristen Protestan Simalungun.

Dari membaca Sinalsal, saya makin yakin bahwa bahasa yang hidup dan mencapai posisinya yang terhormat bukan lah bahasa yang ‘turun dari langit’ dan besar dengan sendirinya. Melainkan bahasa yang turut berjuang, disemai, ditanam dan dipupuk dengan penuh cinta.

Seperti juga Bahasa Indonesia yang turut berjuang dan Bukan Bahasa yang Turun dari Langit , untuk mencapai posisi terhormat mengimbangi Bahasa Belanda, Sinalsal sedikit banyak adalah cermin jatuh-bangun perjuangan Bahasa Simalungun untuk menunjukkan eksistensinya diantara bahasa-bahasa daerah lainnya yang hidup bersamaan dengannya.

Pahit-getir perjuangan menegakkan eksistensi Bahasa Simalungun tak kalah dengan pahit-getir sejarah Simalungun sebagai sebuah etnis. Kesaksian J.Wismar Saragih almarhum, salah seorang tokoh Simalungun yang gigih berjuang dalam hal ini, hanya lah salah satu contoh. Dalam draft otobiografinya (terimakasih untuk Om Mansen Purba SH, yang sudi membagikan kepada saya, naskah dalam ketikan yang belum diterbitkan) ia bercerita tentang berbagai tantangan yang harus dihadapinya dalam memperjuangkan penerbitan buku-buku dalam Bahasa Simalungun. Salah satunya adalah ‘anggapan remeh’ terhadap jumlah orang Simalungun, sehingga dimunculkan persepsi bahwa suku dengan jumlah penduduk sekecil itu tidak layak lah mempunyai bahasa tersendiri.

Sampai-sampai di surat kabar Deli Courant pada tahun 1938 pernah disebutkan bahwa jumlah orang Simalungun hanya 36 ribu jiwa. Padahal setelah J.W. Saragih mengadakan penelitian lebih mendalam, termasuk dengan mendata orang-orang Simalungun yang juga tinggal di daerah Padang Bedagai dan Serdang, diketahui lah bahwa jumlah orang Simalungun kala itu mencapai 103 ribu orang.

Tahun 1961, jumlah orang Simalungun diperkirakan sekitar 275 ribu orang. Sekarang? Saya tidak tahu. Mungkin 500 ribu orang? Dan, apakah semua bisa berbahasa Simalungun?

Beberapa bulan lalu di sebuah harian ibukota diberitakan tentang terancam punahnya sejumlah bahasa etnik di Tanah Air. Salah satunya adalah Bahasa Simalungun. Ini bukan berita baru sebab jauh sebelum itu sinyalemen seperti ini sudah banyak terlontar. Sebagai gambaran makin sedikitnya orang yang menggunakan Bahasa Simalungun, orang Simalungun yang lahir dan dibesarkan di Jakarta sering terkagum-kagum pada orang yang bisa berbahasa Simalungun karena ia sendiri tak mampu lagi menggunakan bahasa itu. Bahasa Simalungun kerap diperlakukan seperti benda museum. Dilongok manakala perlu atau kangen saja. Selebihnya disimpan dan dipajang sebagai kenang-kenangan.

Begitukah?

Barangkali itu hanya lah satu sudut pandang pesimistik. Saya sendiri makin hari makin melihat titik cerah, terutama bila mempertimbangkan aspek sejarah dari perjalanan dan perjuangan Bahasa Simalungun. Dan dengan membaca Sinalsal dari masa lalu itu, saya yakin, siapa pun akan dapat diyakinkan bahwa Bahasa Simalungun pernah berjuang dengan gigih untuk keluar dari keterpinggirannya. Dan ia survive. Hingga sekarang.

***


“Eh, ngomong-ngomong, bagaimana sih, Bahasa Simalungun yang mendayu-dayu itu?”

Saya sebenarnya sangat mengharapkan siapa saja yang membaca tulisan ini melontarkan pertanyaan itu. Sebab untuk menjawab itu lah saya membuat judul tulisan ini berpanjang-panjang seperti rangkaian gerbong kereta api. Agar pembaca sedikit terprovokasi dan sudi menyimak apa yang ingin saya ceritakan.

Judul tulisan ini secara tak sengaja saya temukan dari sepotong artikel dari majalah Sinalsal entah edisi ke berapa dan ditulis oleh siapa. Tulisan dalam fotokopian saya itu pun sudah tak utuh lagi, terpotong di bagian belakangnya. Namun, bila Anda dapat berbahasa Simalungun, coba lah baca isinya. Niscaya, akan tergambar betapa Bahasa Simalungun enak juga digunakan untuk melaporkan sesuatu dengan rinci. Tak kalah dengan bahasa lainnya di dunia ini. Dan bagi Anda yang tak mau berlelah-lelah membaca teks Bahasa Simalungun –sebenarnya hal ini tidak disarankan —bisa langsung lompat ke terjemahan bebas saya di bawahnya.

Berikut ini artikal dalam Bahasa Simalungun tersebut:

Ambit Hubotoh Lau Simomo


Ra haganup do hita na mambasa Sinalsal on mambotoh huta Lau Simomo. In ma huta ianan ni na gadamon i Tanoh Karou (Landschap Lingga), dohorni Kaban Jahei.

Sanggah roh hanami ijia hu Lau Simomo rap pakon Sibajak Lingga (Mei’26) ibontasi hanami ma na 5 huta ni sidea ijai. Pajumpah ma ahu pakon sada halak par Jaheijahei sin Dolok, ibalut ope ugahni boltokni, halani itobak bani i huta ni sidea. Dob husungkun atap mase itobak bani, nini: “aha be gunani manggoluh diri dahkam, anggo seng be boi marsaor pakon jolma, lang rahanan ma matei? Ambit hubotoh do dahkam sonon dong jenges ianan ni na gadamon, sedo na podoan ahu mantobak bani,” nini.

Ninuhurhu buei ope hita na so mangantusi pasal dear ni Lau Simomo, ai ma ase tubuh uhurhu patugahkon otik baritani.

Lima huta do ai, tangkas marrumah pulig dua barang sahalak sarumah. Haganup huta ni sidea ai, marpangulu do homa anjaha dong do na songon parbapaon ni sidea. Dear do idahon huta in, pansing homa. Sirsir dong partambaran. Sungkup dapot sipanganon sidea ibahen Pamarentah. Dong do parmingguan ijai, dong homa do sidea mangan horbou songon na pamalas uhur ni sidea ijai. Sirsir do ijai mardayok, dong do deba na martonun.

Pendekni sonang ma ai ianan ni na gadamon. Atap dong dihadihanta na gadamon, dearan ma na patugah bani puang, ase podas itongos hujai. Ase sonang ia ai lobi 400 halak hasomanni saparsaoran ijai.

Sonaha do mungkahni ianan ai, na ijia?

Maganjang do turi-turianni ai. Sonai pe pondok ma hupatugah ijon.
Dob ididah Tuan Pandita na i Kabanjahei buei ni halak na gadamon i tanoh Karou tubuh ma uhurni sihol manolong halak in, tapi seng ope ibotoh sonaha dalan bahenon.

Bani bulan Juni 1906 marborngin ma hu rumah ni Tuan Pandita in sada Nonnah, in ma kopala ni rumah sakit Cikini (Jawa) sonon homa Tuan Westenberg Assistant Resident na marianan I Saribudolok. Isahapkon pandita in pingkiran ni in bani sidea na dua in. Atap sonaha ibahen halak patorsahon na gadamon i Jawa, sonaha bahenon dalan ia I Simalungun pakon Karou. Dob ni marhumpul ma Raja Marompat I lobei ni Tuan Assistant Resident manriahkon ai. Jadi putus ma bahenon ma ai:

(1) Pindahan ma tanoh na dearhonsi ianan ni na gadamon.
(2) Dihadihani ma anggo mambahen soposopo (rumah) ni na gadamon in, pakon mansarihon tadahni.
(3) Tuan Assistant Resident ma na manguhurhon pangurupi pakon aturanni.

Dob dapot tanoh itontuhon ma bani ari 25 Agustus 1906 ulang lang itaruhkon sagala na gadamon hujai. Jadi saud ma roh tongon 18 halak lobei.

Pandita Kabanjahei pe laho ma homa hu Huta Salem, ase dipardiatei anjaha ipardimata sonaha pandalankon ni sidea patureihon halak na gadamon ijai na binobahon ni Tuan Steinsiek ijia.

Sanggah i Huta Salem ia roh do hu rumah ni Pandita i Kabanjahei Tuan Cremer (sidea na satangga, in ma Tuan na ongga Minister Kolonie. Dob ibogei pasal na gadamon ai, isidokahkon ma $2000 (f2800) hujai).

Terjemahan bebasnya:

Andai Kutahu Lau Simomo


Mungkin kita para pembaca Sinalsal mengenal wilayah bernama Lau Simomo. Yakni sebuah kawasan tempat penderita penyakit kusta di Tanah Karo (Landschap Lingga), dekat Kaban Jahe.

Tatkala dulu (Mei 1926) mengunjungi Lau Simomo bersama Sibayak Lingga (Sibayak = raja atau setingkat raja) kami melintasi lima desa yang ada di kawasan itu. Dan saya berjumpa dengan seorang penduduk Jahei-jahei asal Dolok. Perutnya berbalut kain karena rupanya dia sempat mencoba bunuh diri (dengan menikam perutnya) tatkala masih di kampung halamannya. Kemudian saya bertanya apa penyebab dirinya ingin menghabisi nyawanya sendiri, ia menjawab: “Apa lagi guna saya hidup jika tak bisa berbaur dengan sesama, bukankah lebih baik mati saja? Seandainya saja dulu saya tahu ada tempat (seperti di Lau Momo, pen) yang begitu indah bagi para penderita kusta, tentu saya tak nekad sampai mencoba bunuh diri.”

Saya kira banyak diantara kita yang belum mengetahui keindahan Lau Simomo. Maka saya merasa perlu menuliskan sedikit kisah tentangnya.

Lau Simomo terdiri dari lima desa, di isi oleh rumah-rumah yang terpisah satu sama lain. Masing-masing rumah dihni oleh satu atau dua orang. Tiap desa mempunyai penghulunya sendiri. Mereka juga mempunyai seseorang yang diangap sebagai pemimpin. Desa itu indah dan bersih. Ada balai pengobatan, makanan pun tercukupi oleh Pemerintah. Disediakan juga tempat ibadah setiap hari Minggu . Kadang-kadang mereka memotong kerbau untuk dijadikan lauk, salah satu cara untuk menciptakan suasana gembira. Untuk mengisi waktu, sebagian mereka beternak ayam, sebagian lagi bertenun.

Pendek kata Lau Simomo adalah tempat yang menyenangkan bagi penderita kusta. Jika diantara sanak saudara kita ada yang menderita penyakit demikian, ada baiknya kita menginformasikannya agar segera dikirimkan ke sana. Agar sanak kita itu berbahagia bersama kawan-kawan sependeritaan, sebab lebih dari 400 orang penderita kusta ada di Lau Simomo.

Bagaimana sebenarnya awal mula adanya Lau Simomo?

Amat lah panjang ceritanya. Tetapi saya akan menceritakannya secara singkat.

Setelah Pak Pendeta Kabanjahe menyaksikan betapa banyaknya orang yang menderita kusta di Tanah Karo, muncul niatnya memberikan pertolongan. Namun, ia belum tahu bagaimana caranya.

Hingga pada bulan Juni 1906 seorang Nonnah, kepala rumah sakit Cikini, datang berkunjung dan bermalam di rumah sang Pendeta. Bersamanya, turut pula Tuan Westenberg, Assistant Resident yang berkantor di Saribudolok. Pak Pendeta kemudian mendiskusikan ide (untuk menolong penderita kusta) dengan kedua orang tamunya. Ia antara lain ingin mengetahui bagaimana kiranya praktik perawatan penderita kusta di Jawa dan bagaimana sebaiknya mewujudkannya di Simalungun dan Karo.

Tak berapa lama sesudah itu Raja Nan Empat berkumpul di hadapan Tuan Assistant Resident untuk merundingkan ide tersebut. Perundingan itu memutuskan sbb:

(1) Segera akan dicari lahan yang layak bagi tempat para penderita kusta.
(2) Gubuk atau rumah tempat penderita kusta beserta makanannya disediakan oleh sanak saudara si penderita.
(3) Tuan Assistant Resident akan menyediakan pekerja berikut membuat peraturan yang berlaku di tempat penderita kusta tersebut.

Setelah lahan yang dibutuhkan tersedia, maka ditetapkan lah tanggal 25 Agustus sebagai hari permulaan penempatan penderita kusta di tempat tersebut. Rombongan pertama berjumlah 18 orang.

Setelah itu Pendeta Kabanjahe berangkat ke desa Salem untuk mendalami dan menyaksikan perawatan penderita kusta di sana yang kala itu dipimpin oleh Tuan Steinsiek.

Tatkala Pak Pendeta masih berada di Salem, datang pula mantan Minister Kolonie, Tuan Cremer --bersama keluarga. Setelah ia mendengar perihal perawatan penyakit kusta di Tanah Karo, ia mendermakan $2000 (f2800).


***

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...