Tuesday, March 25, 2008

Petai yang Dulu Hilang, kini Kutemukan Kembali

(Rediscovery of Parkia Speciosa)



Kawan dari masa remaja tiba-tiba muncul dalam hidup saya lewat suaranya di telepon. Mengabarkan bahwa kini ia bertugas di sebuah kota kecil di Amerika. Katanya ia rindu pulang, supaya bisa makan petai sepuas-puasnya. Kami tertawa. Saya ingat, kampungnya yang kurang lebih satu jam perjalanan dari kampung saya, adalah penghasil petai yang subur. Maka agar kangennya pada petai terobati, saya turunkan lagi tulisan berikut yang sudah pernah saya posting di blog ini dua tahun lalu. Mudah-mudahan ia baca blog ini dan rindunya pada petai terlampiaskan. Atau malah tambah membuncah?

***


Petai pasti Anda tahu. Orang Jakarta mengucapkannya pete’. Orang (Batak) Toba menamainya pote. Orang (Batak) Simalungun menyebutnya potei. Bisa juga palia. Orang Inggris menyebutnya stink beans. Ada juga bahasa latinnya, Parkia speciosa. Rasanya? Hmm, sebentar ya? Saya seringkali tak terpikir tentang rasanya. Mungkin karena rasa bukan hal penting dalam menggambarkan petai. Melainkan baunya. Seorang Paman saya menjelaskan bau petai kepada kawannya yang bule dengan mengatakan, ‘the most horrible smell in the world.’ Bau paling mengerikan di dunia. Tapi bagi Anda yang belum pernah merasakannya, boleh saya mengatakan petai rasanya perpaduan antara pahit, pedas, dan sedikit manis.

Para penggemar petai bukannya tak sadar bahwa bau petai itu sangat mengerikan. Bau nafas mereka sehabis memakannya bisa jadi semacam polusi ketika berbincang-bincang. Tapi justru bau itu lah daya tarik petai. Dan dalam bau petai itu lah, dugaan saya, terkandung unsur penyedap, penambah nafsu makan kita.

Ada aneka ragam cara petai dihidangkan. Yang paling primitif, tapi sangat populer di kalangan Orang Batak dan juga Orang Sunda adalah dimakan mentah-mentah. Orang Sunda, menurut pengalaman saya, senang menjadikan petai sebagai bagian dari lalapan yang lain, seperti mentimun, kol dan daun kemangi. Petai yang sudah dikupas, dicocolkan ke dalam sambal lalu dimasukkan ke mulut. Petai menjadi pendamping makanan utama, yakni nasi dan lauk-pauk.

Orang Batak kebanyakan membayangkan memakan petai paling nikmat adalah manakala ia dimakan bersama ikan teri goreng yang disambal tomat. Di lepau di kampung kami dahulu, petai bahkan disajikan bersama ikan teri sambal tanpa nasi. Dan para Bapak-bapak yang nongkrong di lepau itu, memakannya begitu saja. Sambil minum tuak atau arak. Sambil bicara ngalor ngidul. Petai bersama ikan teri yang demikian kerap disebut tambul, yang berarti semacam cemilan. Mungkin seperti lemper atau nagasari bagi Orang Jawa ketika menikmati teh di sore hari, atau seperti pretzel yang jadi makanan sambilan Presiden George Bush ketika minum bir dan berbincang dengan penasihat-penasihatnya.

Selain dimakan mentah-mentah, petai yang masih dibungkus kulitnya sering juga digoreng dulu. Ada juga yang direbus. Barangkali tujuannya untuk lebih melunakkan petai. Tapi bisa juga dimaksudkan untuk mengurangi baunya yang sangat keras itu. Setelah dikupas, lalu petai itu dimakan sebagai penyedap hidangan.

Petai sering pula dicampur dengan masakan lain. Sayur lodeh dengan campuran petai yang dipotong-potong barangkali sudah sering Anda nikmati. Ikan teri, ikan asin dan ikan laut lainnya yang disambal bersama campuran potongan petai, Anda juga pasti sudah pernah melihatnya. Juga petai yang telah menjadi bagian dari bumbu pepes, apakah itu pepes ikan atau pepes ayam, saya kira bukan hal asing lagi. Juga nasi goreng petai, adalah makanan populer di Jakarta.

Saya tidak tahu sejak kapan saya diperkenalkan makan petai dan mencintai baunya yang amit-amit jabang bayi itu. Perkiraan saya mungkin sejak masih Sekolah Dasar atau bahkan sebelum itu. Untuk ini, saya tidak tahu harus bersyukur atau menyesal (tergantung dari sudut mana Anda melihat, apakah petai makanan yang Anda benci atau justru Anda suka).

Saya kira saya banyak dipengaruhi oleh menu makan di di rumah kami di Sarimatondang yang keseluruhan penghuninya adalah penggemar petai. Almarhum kakek saya, misalnya, ayah dari ayah saya, adalah penggemar petai yang fanatik. Ia tinggal bersama kami sejak saya masih kecil dan setiap kali ada petai tersaji di meja makan, jatah dia minimal satu papan atau lebih. Kakek saya juga punya cara makan petai yang unik. Ia gemar memakan petai bersama kulitnya (dan sampai sekarang, cara semacam itu juga sering saya ikuti). Konon, menurut dia, petai yang dimakan dengan cara itu akan menyebar bau yang tidak terlalu menyengat, disamping rasa pahit dan sepat kulitnya merupakan kenikmatan tersendiri. Saya kira kakek saya tidak sepenuhnya benar. Dimakan dengan kulitnya atau tidak, petai tetap saja menebar bau yang menyengat.

Ketika kakek sudah tambah berumur dan giginya mulai tak berfungsi dengan baik, nasi tak lagi jadi menu utama makannya, melainkan bubur. Tapi perihal petai, ia tetap tak mau ketinggalan. Agar petai tetap bisa ia nikmati, ia biasanya menyuruh saya untuk mengulek petai itu. Petai diulek bersama sedikit garam lalu ditaruh di piring kecil. Itu menjadi makanan penyedap bagi kakek.

Ayah saya juga adalah penggemar petai yang tidak kalah fanatiknya. Hanya saja, karena semasa mudanya ia sudah terbiasa hidup ‘tertib’ di asrama Sekolah Guru tingkat Atas (SGA), dia selalu mempertontonkan cara makan petai yang lebih ‘beradab.’ Petai dalam bentuk rangkaian biji-biji dalam kulitnya itu, biasanya sudah dibelah-belah sedemikian rupa sehingga ketika usai makan, kulit petai bekas makannya itu tidak berantakan.

Salah satu yang juga sering menarik perhatian saya dari cara makan petai ayah saya adalah ia kerap tak lupa menumpangkan sepapan atau dua papan petai ke atas nasi yang sudah hampir matang dan sedang dimasak di dalam periuk. Petai yang keluar dari periuk yang demikian itu, menurut dia, menebar aroma yang istimewa. Dan, bagi dia, memakan petai yang demikian selalu lebih nikmat daripada dimakan mentah. Kala lain, ia juga kerap ‘memanggang’ petai di tungku masak kami yang dulu masih menggunakan kayu bakar. Itu juga merupakan petai dengan cita rasa tinggi, kata dia.

Akan halnya saya, ah, yang mana pun jadi lah. Selama petai itu ada, dan selama lauk yang mendampinginya serasi –misalnya ikan teri sambel, ikan asin, ikan sampah (ini jenis campuran ikan-ikan kecil yang bentuknya sudah tak karuan) dan ikan gembung (ikan tongkol yang sudah diasinkan), oke saja lah. Selalu terasa lahap memakan nasi dengan menu yang demikian itu. Bisa nambah sampai dua-tiga kali. Plus bersendawa yang rada kencang. Dan terasa juga lah aroma yang dibenci oleh orang-orang di sekitar kita, tapi anehnya kita senang-senang saja.

Di Sarimatondang tak banyak petani yang kebunnya ditumbuhi petai. Petai ke Sarimatondang dipasok dari desa-desa di sekitarnya, semisal dari Ambarisan (sejauh kurang lebih 4 km dari Sarimatondang), Gorak dan Tambun Raya. Di desa-desa ini petai masih tumbuh subur. Dugaan saya, petai itu tumbuh sudah lama sekali, mungkin ditanam oleh para petani yang membuka desa-desa itu. Sudah sangat jarang orang menanam petai apalagi menjadikannya sebagai tanaman utama. Petai itu tumbuh di pinggir-pinggir kebun, di pinggir desa sebagai tanaman tua yang kelihatannya sudah beranak pinak dari dahulu kala.

Ketika masih kecil, saya sekali dua kali pergi juga menginap di desa-desa itu. Misalnya di Tambun Raya. Namboru( adik perempuan ayah) saya, tinggal di desa itu, desa di tepian Danau Toba, kurang lebih satu jam perjalanan dari Sarimatondang. Jalan menuju desa itu berlika-liku, diapit oleh pohon-pohon tusam yang jadi bahan baku pabrik panglong mau pun pabrik korek api. Hawanya dingin dan pertanian di daerah itu cukup subur. Jalan ke desa itu sudah beraspal dan lebar, tetapi seringkali rusak. Barangkali karena jalan aspal yang dibangun itu kurang kuat menyangga truk-truk besar dan panjang yang tak kira-kira memuat pohon tusam sebagai muatannya.

Di Tambun Raya saya punya pengalaman baru dalam memakan petai. Di belakang rumah Namboru ada pohon petai. Mungkin tiga sampai lima pohon. Manakala musim panen petai tiba, putra Namboru itu memanjatnya, menjatuhkannya ke bawah dan saya bersama satu dua bocah-bocah desa itu ikut berebut mengumpulkannya. Nah, pada saat itu lah saya berkenalan dengan apa yang disebut pudung, yakni cikal-bakal petai. Berwarna kuning muda, bentuknya bulat memanjang, seukuruan jari tengah orang dewasa. Jika dimakan, rasanya sepat dan sedikit pahit. Ada aroma petai, tetapi tidak sesengit petai.

Orang-orang desa itu memakannya mentah sebagai pendamping lauk ketika makan. Saya pun mencobanya, dan ternyata enak. Sejak saat itu, saya menganggap pudung adalah salah satu makanan pendamping makan yang yahud dan saya selalu menjadikannya favorit saya. Setiap kali saya berkunjung ke rumah Namboru, saya selalu berusaha mendapatkan pudung. Kadang kala berhasil, kadang kala tidak. Sebab, musim berbuah petai tidak lah setiap hari.

Pulang berlibur dari rumah Namboru kala itu, selalu melejitkan rasa sebagai orang paling beruntung dan paling hebat seantero dunia. Sebab saya merasa orang paling pertama mencicipi pudung dan memperkenalkannya kepada seisi rumah. (Belakangan baru saya tahu, ayah saya ketika kecil juga sudah tahu pudung. Tetapi dia tidak doyan).

***


Syahdan, suatu kali saya harus berhati-hati makan petai. Tahun 1984, oleh karena satu dan lain hal, saya dipindahkan dari SMA saya yang tak terlalu bonafid di Pematang Siantar ke salah satu SMA Negeri yang juga kurang bonafid di Jakarta. Lalu saya tinggal di rumah Om (Bapatua) di Jakarta. Om itu, yang marganya Siadari juga, sebenarnya penggemar petai. Tapi hanya dia saja yang menyenanginya di rumah itu. Sementara si Tante, istrinya, samasekali tak suka bahkan anti petai. Anak-anaknya yang masih kecil juga samasekali tak doyan petai.

Alhasil selama satu tahun di rumah itu, saya hampir tak pernah mau dan berani makan petai. Sekali-dua kali saya melihat Om makan petai juga. Tetapi itu hanya bila ia benar-benar ingin makan petai dan ia pesankan supaya dibeli oleh si Inem dari tukang sayur. Dia makan petai sama seperti orang-orang yang saya kenal di kampung halaman dahulu. Lahap dan nikmat. Tetapi sesudahnya, ia pasti kena omel Tante. Apalagi bila pada pagi hari tercium aroma yang ‘semerbak’ dari kamar mandi.

Tante adalah orang yang baik luar biasa, tak pernah memarahi saya, bahkan sampai sekarang. Ia selalu memperlakukan saya seperti anaknya sendiri dan menasihati dengan cara yang benar-benar membuat saya mengerti apa yang harus saya lakukan. Ia pintar memasak dan suka memasak, apalagi bila ia tahu kita menggemari masakannya. Salah satu yang saya suka dari masakan Tante yang berdarah Tionghoa itu adalah nasi goreng dan mi gorengnya. Yahud dan tak ada duanya. Lembut hingga helai terakhir.

Tante sering memasakkannya untuk kami semua pengisi rumah itu. Dulu ketika saya sudah kuliah di Bandung dan manakala mampir ke rumah itu setiap akhir bulan, jam berapa pun, selarut apa pun malam, ia akan dengan sebat pergi ke dapur. Menyalakan kompor dan memasakkan nasi goreng untuk saya, anak kos yang memang selalu kelaparan. Tidak terkira rasa utang budi kepada Om dan Tante beserta anak-anaknya , yang selain membiayai seluruh biaya hidup dan sekolah saya semasa SMA dan kuliah, yang terpenting adalah memberi arti penting keluarga bagi seorang anak numpang seperti saya. Benar-benar keluhuran yang tidak pernah terpikir, bahkan tatkala di bangku sekolah diajari tentang budi pekerti.

Karena itu sampai hari ini saya selalu terharu dan berdoa semoga Tuhan memanjangkan umur si Om, si Tante dan seluruh keluarganya, bila ingat semua apa yang mereka lakukan. Dengan susah-payah, dengan kesungguhan orang tua yang ingin melihat anaknya berhasil. Mulai dari SMA hingga perguruan tinggi. Kata Om waktu itu, selama saya bisa menempuh pendidikan di sekolah negeri, yang berarti sekolah ‘bermutu’ dengan biaya terjangkau, ia tak akan menyerah untuk membiayai. Dan ketika saya dengan otak kampong yang norak bin udik ini secara susah payah plus keberuntungan ternyata bisa sekolah di sekolah negeri, mereka tak lupa janjinya. Bahkan mereka seringkali memberi uang yang lebih dari yang saya butuhkan.

Karena rasa sayang dan hormat yang begitulah, sehingga ketika saya masih mondok di rumah itu, saya memantangkan petai, yang dibenci oleh Tante. Setergiur apa pun saya akan petai, saya tak pernah mau menyentuhnya. Sebab, saya pasti tak kan bisa menyembunyikannya. Soalnya, bagaimana mungkin saya bisa menyembunyikan bau petai itu. Pagi hari ketika keluar dari kamar mandi, pasti juga lah ketahuan kita baru saja melahap petai, dari aroma yang baru saja kita buang di kamar mandi itu. Dan karena hanya saya dan Om saya penggemar petai, bagaimana saya akan bisa berkelit?

Alhasil, selama setahun mondok di rumah Om dan Tante itu, saya mengharamkan petai.

Tetapi setelah kuliah di Bandung, dan tinggal di asrama yang semua tetek-bengek hidup kita urusi sendiri, saya mulai tergoda untuk mencoba-coba makan petai. Dan, pencarian akan petai bukan hal sulit di kota Bandung, yang penduduknya doyan pada lalap-lalapan itu. Di terminal Kebon Kelapa (dulu, sebelum dipindah) banyak sekali rumah makan yang menyediakan lalapan petai. Lalapan petai mentah mau pun petai yang sudah dimasak. Baik dalam bentuk sayur lodeh, mau pun dicampurkan pada lauk-pauk yang lain.

Seperti kawan yang sudah lama tak bersua, atau seperti mantan pacar yang dulu kita tinggalkan tanpa mengucapkan selamat berpisah, pertemuan kembali dengan petai itu alangkah indahnya. Mencomot satu per satu bijinya dari kulitnya, mencocolkannya ke sambal terasi Sunda yang khas itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut bersama comotan ikan mujahir goreng yang renyah, saya akhirnya tahu bahwa petai yang saya rindukan itu telah hadir kembali. Saya telah menemukan lagi kenikmatan lama yang sudah terpendam. Dan saya merasa penuh lagi sebagai orang Sarimatondang. Yang masih gemar pada bau-bau mengerikan. Menebar polusi kepada kawan kita berbincang. Bersendawa ringan mau pun berat akibat makan yang nambah berkali-kali. Orang kampung yang kampungan. Dan memelihara tradisi kampungannya itu di kota yang sudah modern.

Ah, kampungan?

Sesungguhnya saya dulu kerap menyimpan rasa malu dan minder untuk memakan petai dan membuka rahasia saya sebagai penggemar petai. Saya selalu menganggap petai adalah makanan kampungan dan tak beradab.

Sampai sekali waktu saya membaca di majalah Femina bahwa Anton Issudibyo, komponis yang dulu tenar dengan grup Geronimo-nya, ternyata adalah penggemar petai yang berat. Menurut penuturannya di majalah itu, tak ada hari tanpa sambal dan petai di meja makan di rumahnya. Dulu saya tak pernah percaya, karena saya berpikir petai tidak setiap hari bisa ditemukan di pasar di Sarimatondang. Petai mengenal musim. Tapi belakangan saya tahu, di Jakarta kita bisa menemukan petai setiap hari. Karena petai didatangkan dari banyak daerah, dimana musim petainya berselang-seling.

Dalam hati saya, ah, Anton Issudibyo tentu bukan orang yang kampungan. Dan dia doyan petai. Jadi, bolehkah selera terhadap petai itu disebut kampungan?

Lalu idola saya yang lain, Sheila Madjid, ternyata lebih parah lagi. Ia dalam rubric pokok dan tokoh Tempo mengaku penggemar petai yang bisa-bisa kita nilai keterlaluan. Ia bisa menghabiskan berpapan-papan petai sekali makan. Dan ia terkekeh-kekeh saja ketika wartawan yang mewawancarainya menanyakan apakah ia tak takut menebar bau yang sengit, sesudah memakan petai itu.

Dan akhirnya saya bertemu dengan pacar yang kemudian jadi istri. Ia juga penggemar petai. Sambil makan ayam goreng Mas Dikun di Ragunan, kami menikmati biji demi biji petai itu, seperti seorang anak kecil menikmati jilatan demi jilatan es krimnya. Bahkan kami pernah begitu seriusnya ingin makan dengan petai, sampai-sampai kami bertanya dulu kepada pelayan Mas Dikun itu apakah petainya masih ada. Sebab kalau petainya tidak ada, kami tak jadi makan. Untungnya, petai di Mas Dikun jarang sekali absen.

Maka sekarang saya sudah lebih percaya diri untuk membuka rahasia sebagai penggemar petai. Apalagi di sebuah website saya pernah pula membaca kutipan artikel yang mengetengahkan berbagai manfaat petai. Antara lain ia dikatakan sebagai lalapan yang mengandung protein tinggi. Ia juga memperlancar aliran darah yang menyebabkan syaraf bisa lebih segar dan bisa diajak berpikir lebih kencang sehingga tidak mengantuk. Wah, makin sayang saja saya pada si Petai, si the Most Horrible Smell in the World itu.

Maka di rumah kami, kini petai bukan hal aneh. Kami sudah lebih percaya diri menyajikannya bila ada sanak saudara mau pun tamu yang sudi bersantap di rumah. Putri saya yang masih kelas satu SD, memang belum ketularan pada kegemaran ayah ibunya. Dan saya tak hendak menganjurkan atau pun melarangnya. Biarkan ia kelak memutuskan apakah ia akan jadi penggemar petai atau tidak.

22 Januari 2006

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...