Thursday, April 17, 2008

Catatan-Catatan Pengusir Bosan




Bekerja sebagai jurnalis berarti juga perlawanan tak henti terhadap rasa bosan. Bukan saya yang mengatakan ini, tetapi Geoff Murray. Ia seorang Wales, wartawan senior yang jadi instruktur pelatihan kami di suatu waktu di suatu tempat, di Cardiff, 14 tahun lalu.

Kata Murray, film-film yang menggambarkan bagaimana wartawan bekerja sering kali ‘lebih indah dari aslinya.’ Ia mencontohkan All the President’s Man yang dibintangi Robert Redford dan Dustin Hoffman, film yang menceritakan investigasi dua wartawan Washington Post atas keterlibatan Presiden Nixon dalam skandal Watergate. Menurut Murray, film itu hanya menggambarkan sisi-sisi menarik dari pekerjaan wartawan. Sisi-sisi heroiknya ditonjolkan. Padahal, menurut Murray, sebuah investigasi sarat dengan pekerjaan-pekerjaan membosankan. Semisal berkali-kali harus bertemu dengan orang yang sama menanyakan hal yang sama. Seringkali ditolak untuk bertemu, tetapi harus datang lagi, ditolak lagi, datang lagi. Tidak jarang harus mengobok-obok arsip dan menelitinya satu per satu. Mengulangnya lagi dan lagi. Berbicara lewat telepon umum sambil menahan dingin dengan orang yang tidak terlalu antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Dan sebagainya dan sebagainya.

Seorang pakar sejarah Amerika pernah bercerita, pasca pengungkapan skandal Watergate, minat anak-anak muda Amerika untuk jadi wartawan melambung tinggi. Agaknya mereka terkesima dengan citra heroik yang dimunculkan oleh kisah investigasi itu. Mungkin bermiripan dengan minat tinggi para lulusan SMU kita dewasa ini untuk menuntut ilmu di bidang komunikasi. Dugaan saya mereka terpesona oleh necis dan klimisnya penampilan para presenter-presenter televisi. Padahal indah dan cemerlangnya penampilan di layar kaca itu sebetulnya hanya setengah dari keseluruhan cerita. Di balik itu ada rangkaian aktivitas yang benar-benar membutuhkan perjuangan mengusir kantuk karena kelamaan duduk di lobi menunggu meeting para petinggi usai. Melawan bosan karena ketemu dengan orang yang itu-itu juga. Dan kadang-kadang merasa kehormatan diri tergadai karena diusir-usir seperti nyamuk-nyamuk (mungkin dari sana kah istilah nyamuk-nyamuk pers?) penghisap darah.

Kata orang-orang bijak, bila hal-hal yang tidak kita sukai itu datang secara ajek dan kita tak kuasa menghindarinya, maka saatnya lah berdamai dengannya. Ketimbang melawannya terus-menerus, lebih baik kita mengakrabinya. Ketimbang bersembunyi tak berkesudahan, lebih baik memeluknya dan bersahabat dengannya.

Misalnya, terhadap flu yang sering menyerangnya, Umar Kayam, penulis favorit saya itu, tak lagi mangkel apalagi berusaha melawan. Ia bahkan menjuluki penyakit itu ‘Saudara Flu,’ lambang keakraban dan keintiman. Dengan tidur cukup dan makan secukupnya, toh Saudara Flu itu akan pergi dengan sendirinya.

Ketika pada suatu hari dokter mengatakan bahwa putri saya menderita gejala asma, saya berusaha berontak dan membenci setengah mati pada semua hal yang berhubungan dengan penyakit itu. Sampai kemudian saya menemukan artikel yang mengatakan bahwa penyakit itu harus diakrabi. Harus mengenalinya lebih dekat dan bersahabat dengannya. Dan, karena itu, tiap kali si asma menyerang, kita harus memberanikan diri untuk mengatakan, “Well, Nak, sahabat kita si asma telah datang, siap-siap lah dengan obat yang biasa dan istirahat yang banyak. Toh nanti dia juga akan pergi sendiri….”.

Ajaib. Kini si asma sudah jarang menjenguk. Kalau pun ia tiba, kami tak lagi sepanik dulu….((lihat juga, surat cinta untuk marty)




***
Salah satu penyebab rasa bosan yang sering menghinggapi jurnalis seperti saya adalah kala menunggu untuk dapat bertemu dengan orang yang akan diwawancarai. Dan, harus cepat-cepat saya katakan, ini bukan sepenuhnya salah orang yang akan saya temui itu. Seringkali saya lah yang salah karena datang terlalu awal. Maklum, lalu-lintas Jakarta yang makin tak terprediksi menyebabkan kita kerap merasa perlu mengantisipasi kemacetan plus menyisihkan waktu untuk nyasar. Jadi harus berangkat lebih awal.

Terimakasih untuk telepon genggam, yang dewasa ini jadi alat yang paling ampuh untuk berintim ria dengan rasa bosan. Sebab dengan gadget mungil itu, kini kita bisa mencatat apa saja yang menarik perhatian untuk mengusir (atau mengakrabi) rasa itu.

Suatu hari, misalnya, seorang businessman berjanji menyediakan waktu untuk saya temui di Alun-alun Indonesia, yakni pusat perbelanjaan megah dan dahsyat yang dibangun di eks Hotel Indonesia. Terus terang, baru kali itu saya mengunjungi tempat itu dengan wajahnya yang sama sekali lain dibanding tatkala HI masih berdiri.

Saya sampai di sana 30 menit lebih awal daripada yang dijanjikan. Maka tempat duduk di sebuah pojok tampaknya ideal untuk saya duduki sambil menunggu. Pojok itu lengang karena pusat perbelanjaan ini sebenarnya masih ‘tigaperempat’ rampung. Beberapa gerainya masih dalam tahap finishing. Banyak tenantnya yang baru akan coming soon, seperti deklarasi yang terbaca dari sebuah billboard besar di sana.

Saya kemudian mengamati billboard itu, dan dalam hati berkata, para ‘penulis-penulis’ hebat ternyata tak hanya bisa kita temukan pada novel-novel besar atau di komunitas-komunitas sastrawan. Di billboard-billboard mengkilap itu, dapat juga kita cicipi rangkaian ‘karya’ mereka yang penuh taste, dalam reklame yang menggambarkan paduan rasa percaya diri, keanggunan, tetapi juga bujukan.

Rasa bosan itu pun lenyap, seiring dengan tenggelamnya saya dalam mencatat apa yang tercantum dalam billboard itu ke dalam ponsel.

Harvey Nichols Jakarta

London’s premier fashion retailer is coming to Grand Indonesia shopping town. A place of pilgrimage of those seeking shopping nirvana, Harvey Nichols is much more than just a department store—it’s a fashion destination in it own right.

With an unrivalled selection of the world’s most exclusive brands in not only fashion, but also beauty, home and food.

Harvey Nichols is a one stop shop for those who like to stay ahead of the pack. In addition to its five UK stores, in recent years it has expanded globally opening stores in Riyadh, Hong Kong, Dublin, Dubai and Istanbul.


Membaca apa yang disebutkan billboard itu, saya coba menduga-duga, berapa banyak kah kira-kira orang yang akan terbujuk untuk jadi orang yang stay ahead of the pack di Indonesia ini? Siapa gerangan mereka yang ternanti-nanti untuk menyinggahi a place of pilgrimage of shopping nirvana, untuk membeli (atau sekadar melihat-lihat?) an unrivaled selection of the world’s most exclusive brands in fashion, beauty, home and food…?

Pernah juga saya terlunta-lunta di sebuah kawasan di Utara Jakarta. Janji wawancara dengan sang narasumber mendadak dibatalkan sebab ia ada urusan lain. Padahal saya sudah sempat tiba di tempat yang dijanjikan. Lapar dan dahaga di siang itu menyebabkan kaki membawa saya ke sebuah warung bakso yang lumayan besar. Di sebuah perempatan yang lengang, tetapi anehnya, motor yang diparkir di halaman warung begitu ramainya. Dan, benar, di dalam warung pengunjung memang lumayan padat. Enam meja besar berjejer dua-dua, hampir penuh. Patut lah saya menduga rasa baksonya enak.

Tatkala baru saja saya duduk, pandangan langsung terekspos pada taplak plastik yang menutupi meja. Ia bertuliskan aneka defenisi lucu-lucuan tentang ‘makan.’

Sambil menunggu pesanan datang, saya mencatat teks di taplak meja itu. Lumayan untuk jadi bahan senyum di kulum. Dan siapa tahu ada juga yang akan terhibur olehnya. Begini sebagian diantaranya:

Makan kaki lawan:
Siapkan sepotong kesengajaan, iris tipis2, oles dengan tipuan, sajikan dengan tendangan menyamping.

Makan rejeki orang:
Jenis makanan yang merupakan kegemaran para calo tenaga kerja.

Makan tempat:
Pinggul besar seberat 90 kg, sandingkan dalam angkot sambil kakinya diselonjorkan.

Makan gaji buta:
Sejumput kemalasan, secangkir bolos kerja, kocok sampai pulang cepat, jangan ambil kerjaannya dan tidak perlu dipertanggungjawabkan.

Makan waktu:
Jagung rebus yang dimakan butir demi butir pakai tangan.

Makan asam garam:
Segenggam bubuk pengetahuan, dua jumput kebijaksanaan, digoreng dengan minyak pengalaman.

Makan teman:
Dua sendok iri hati dituang dalam wajan penghianatan, ditumis dengan perebutan kepentingan yang sudah dibuang lapisan kepercayaannya.

Makan angin:
Dinas luar dengan bos dari pagi sampai jam 5 sore lengkap dengan suguhan ketidaksabaran, kemenangsendirian, arogansi, chauvinisme, sambil borong semua percakapan.

Makan rayuan gombal:
Sejenismakan umpan, tetapi tambahkan minyak rayuan pulau kelapa.

Makan (uang) Suap:
Seraut muka (yang) direndam dalam perasaan kerakusan, dihidangkan panas-panas dengan ditaburi komisi parut. Kadangkala dinikmati bersamaan dengan birokrasi yang kental.

Makan Ati:
Kegeraman yang sudah dipenuhi rasa kesal, ditumbuk sampai membatin, diambil sarinya dan diaduk dalam kegemasan yang memuncak.

Makan pikiran:
Rebusan sebutir telur dari ayam hitam yang masih muda yang kalau sudah matang beratnya harus pas 45,6789 gram (jangan lebih atau kurang).


Kala lain, kawan-kawan dan saya mendapat kesempatan bertemu dengan seorang narasumber di sebuah restoran bernuansa historis bernama Shanghai Blue 1920 di kawasan Kebon Sirih, Jakarta. Sekilas saja menyaksikannya, sudah dapat diduga ia pasti restoran yang unik, lain daripada yang lain. Bukan hanya dari luar bangunannya tampak klasik bernuansa tempo doeloe, interiornya pun disusun dengan setting zaman kolonial.

Rasa penasaran akan konsep resto itu terjawab, tatkala sambil duduk menunggu orang yang akan kami temui, dalam buku menu yang disodorkan waitressnya tertera serba sedikit sejarah resto itu. Lagi-lagi rasa bosan itu lenyap, oleh keasyikan mencatatnya ke dalam ponsel:

Waroeng Shanghai Blue 1920 didirikan di Jakarta untuk mengenang Waroeng Shanghai Sunda Kelapa dan pendirinya seorang perempuan Betawi Mpok Siti Djaenab yang seumur hidupnya mengabdikan diri untuk mengembangkan cullinaire Babah & Betawi.

Babah Chan membuka Waroeng Shanghai sekitar abad 20. Bermula dari warung Batavia yang reyot dan terbuat dari gedek, menjual the dan barang-barang kelontong saja.

Setelah warung ini berkembang, pasangan keluarga babah dan perempuan Betawi ini merenovasinya dan mulai menjual makanan Babah, makanan Betawi. Di dalam Waroeng Shanghai tersebut para tamu yang kebanyakan para pelaut luar negeri yang berlabuh di Sunda Kelapa dapat menjahitkan pakaian, mengesol sepatu, mencukur rambut, mengisap candu, minum-minum di bar, dansa-dansi di bawah iringan musik jazz dan tanjidor.

Sekitar tahun 1940 warung ini ditutup tanpa diketahui sebabnya. Ketika warung ini ditutup salah seorang ahli warisnya membongkar seluruh bangunannya dan menyimpannya mulai dari atap genteng, tiang besi penyangga, pintu-pintu, koran-koran lama tahun 1930-an, kursi cukur, alat penghisap candu, komik tahun 1920-an, mesin jahit, mesin sol sepatu merek-merek toko dll.

Seluruh bangunan dan peralatan tersebut diatas didirikan kembali di areha Hotel Tugu Malang sama seperti aslinya di tahun 1920-an dan telah menjadi bagian dari sejarah Hotel Tugu.

Waroeng Shanghai Blue 1920 di Jalan Kebon Sirih ini adalah untuk mengenang warung tersebut. Sebuah sisi romantis dari kehidupan sederhana di salah satu sudut Batavia tahun 1920.

Interior dan atmosfir warung ini bertemakan the beauty of shanghai art deco yang ada di Shanghai di tahun-tahun awal 20-an. Sedang menunya adalah mostly about Indonesian cuisine cullinaire.

Jadi waroeng Shanghai Blue adalah perpaduan interior art deco Shanghai 1920 dan menu Indonesia di tahun 1920 melambangkan pernikahan campur antara seorang Babah Tanah Jawa bernenek moyang Shanghai dengan seorang wanita pribumi Betawi.


Diantara menu yang ditawarkan adalah ini:

Siomay 1920
The famous dumpings of shanghai freshly made a la minute based on the original recipe in early 20th century.

Kue tiga macam
Street dumplings in old Shanghai. You can choose either vegetable or shrimp or chicken filling. Every must try.

Sop pangsit mama hardoon 1910
Soup of homade shrimp wontons


Di dinding resto itu berbagai potongan koran tempo dulu terpajang dengan unik. Salah satu yang menarik adalah kutipan syair (?) berikut ini


Miss Shanghai

Me no worry
Me no care
Me go marry
Millionaire

If he die
Me no cry
Me go marry
Other guy


Rasa bosan menunggu kereta yang akan membawa saya pulang dari tempat kerja, adalah jenis rasa bosan lainnya yang harus diakrabi. Dan itu saya lakukan dengan mencatat apa saja yang dapat dicatat di stasiun itu. Misalnya, jadwal kereta yang auzubillah banyaknya, tetapi kita tidak terlalu berharap akan ketepatannya.

Jadwal kereta Sudimara-Tn Abang:
5:25; 5:40; 5:54ace; 6:09krl; 6:20; 6:30ac; 6:38ac(depok); 6:50; 7:18ac; 7:29ace;7:50;8:09krl; 8:37ac;9:09ace; 9:51ac; 10:09; 10:51ekac;11:53;13:28;16:19;17:12; 18:28; 18:44

Jadwal kereta Tanah Abang-Sudimara:
07:00; 07:15ac; 8:05ekac; 8:45ac; 9:00; 11:00; 11:40 (rkb); 12:30; 13:40 (merak); 15:30ac; 16:05; 16:30ac; 17:40ac; 17:47ac; 18:15; 18:20ac; 18:35ac; 19:15ekac; 20:15 rkb; 7:58; 8:21; 9:27;11:40; 13:40; 15:40; 16:37; 17:57ac; 18:42; 19:15 ekac; 19:48; 20:05; 20:15

keterangan: ac= kereta api AC. ace: kereta ac ekonomi. Krl: kereta rel listrik ekonomi.



Lalu di pesta perkawinan orang Batak, sudah merupakan hal biasa menghadapi rasa bosan yang memuncak karena tahap-tahapannya yang panjang dan bertele-tele. Orang yang pertama kali menyaksikannya mungkin bisa mengalami stres berhari-hari plus gangguan pada pendengaran, mengingat betapa keras-kerasnya semua orang bicara.

Tetapi orang norak seperti saya makin lama makin bisa menemukan kiat mengusir rasa bosan di kala seperti itu. Antara lain dengan menyimak hal-hal baru yang diucapkan oleh para pemuka-pemuka adat yang jadi pemimpin acara. Satu-dua pepatah (Umpasa) Batak biasanya terlontar, yang sering menggoda untuk dicatat, seperti pepatah yang satu ini:

Tabo do sibahut, tonggi do pora-pora
Sude boi do saut, molo mardos ni roha

(Enak (ikan) lele, gurih (ikan) pora-pora
Semua hal bisa terlaksana, asalkan semua sehati)

(Lazimnya, umpasa yang bernada serupa yang sering saya dengar, berbunyi begini:
Aek godang tu aek laut
Dos ni roha sibaen na saut)





***
Dan, akhirnya, sebuah catatan pengusir rasa bosan menyalakan lagi semangat saya untuk ngeblog, menulis demi menyegarkan pikiran sekaligus berharap ada orang yang terhibur dari membacanya.

Catatan itu saya dapatkan ketika suatu hari mengunjungi Rumah Sakit PGI Cikini. Di sana, sambil menemani kerabat yang istrinya tengah menjalani operasi, saya membaca dan mencatat motto rumah sakit itu, yang berbunyi:


Sedare dolorem oous divinum est. Meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi.


Mungkin terlalu ge-er bila mengatakan bahwa ngeblog lewat the beautiful sarimatondang merupakan pekerjaan Ilahi. Terlalu ambisius bila lewat blog orang berharap akan dapat meringankan penderitaan orang lain. Namun, tiap kali ada pembaca blog ini yang merasa tergugah untuk ‘pulang’ ke kampung halaman, untuk berbuat sesuatu bagi tanah yang telah membesarkan dan memberangkatkannya itu, untuk sujud kepada orang-orang terkasih yang sudah lama tak berjumpa, saya merasa telah menemukan dan meneguhkan lagi apa makna ngeblog lewat the beautiful sarimatondang. Sesuatu yang mungkin mirip-mirip dengan apa yang saya catat itu. Menulis sebagai menghibur diri sendiri. Menghibur orang lain. Dan, Sedare dolorem oous divinum est.

***

1 comment:

  1. "Sedare dolorem oous divinum est." (Meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi). Aku suka kutipan ini. Thanks.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...