Friday, April 18, 2008

Steno dan Notes



Sekolah itu sudah butut. Beberapa jendelanya bolong tanpa daun pintu. Pekarangannya tak begitu terpelihara. Kambing-kambing sering merumput di sana. Dari buntutnya bulatan-bulatan hitam kecil bertaburan, yang tak lain adalah kotoran hewan yang takut hujan itu.

Itu lah Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Negeri (SMEP Negeri) di kampung kami, Sarimatondang. Sekolah itu sudah lama punah. Gambaran tentang butut dan suramnya sekolah itu saya gali dari memori saya 30-an tahun lalu. Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya dan teman sebaya kerap ‘je-je-es’ (jalan-jalan sore) ke lapangan sepak bola di depan sekolah itu. Kadang-kadang kami mendekat ke ruang-ruang kelasnya, melompat dan berjingkrak mengintip lewat jendela, untuk mengetahui apa saja yang tertera di papan tulis di dalam ruangan.

SMEP itu bukan sekolah favorit di kampung kami. Paling tidak dibandingkan dengan SMP Negeri yang berada hanya 50 meter di sampingnya. Para orang tua Batak umumnya bercita-cita menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Dan, SMEP agaknya dipandang sebagai antiklimaks dari cita-cita semacam itu. Sebab, mendaftarkan anak ke SMEP berarti mencukupkan pendidikannya hanya sampai di sana. Setelah itu si anak diharapkan sudah siap untuk melamar pekerjaan. Entah jadi pegawai administrasi di kantor X, atau kerani di badan usaha Y.

Ada lagi pikiran lain para orang tua yang menyebabkan SMEP bukan sekolah pilihan mereka. Bersekolah di SMEP berarti juga seseorang sudah harus siap untuk mempersempit rentang masa depannya. Anak-anak yang belajar di sekolah itu dibayangkan akan tenggelam dalam pelajaran semisal bagaimana membuat pembukuan, mengarsip dokumen, belajar surat-menurat dan banyak lagi tetek-bengek administrasi perusahaan lainnya. Padahal, para orang tua itu menyimpan segudang harapan pada anak-anaknya. Untuk suatu saat jadi dokter lah, jadi tentara lah, jadi profesor lah, jadi pejabat lah dan banyak lagi. SMEP tentu saja tidak dipandang akan memberi kesempatan untuk itu.

Tak mengherankan bila SMEP menjelma sebagai semacam sekolah alternatif, kalau bukan sebagai sekolah cadangan. Yang masuk ke sekolah itu biasanya adalah anak-anak perempuan, yang dalam budaya Batak selalu dikonotasikan bahwa suatu saat kelak akan ‘ikut suami.’ Jika ada anak laki-laki yang masuk ke sekolah itu, umumnya karena ia harus ’mengalah’ kepada abang-abangnya yang sudah bersekolah di sekolah umum, dan itu berarti butuh biaya yang tidak sedikit. Tentu, ada juga satu-dua yang sedari awal sudah membulatkan tekad bersekolah disitu. Biasanya mereka ini sudah punya suntikan ‘wawasan’ entah dari Omnya di kota atau Paman di perusahaan Z, yang menjanjikan bahwa selepas dari sekolah itu kelak ia akan diberi pekerjaan bagus.



***
Salah seorang siswi SMEP tinggal di rumah kakek, persis di sebelah rumah kami. Dia itu Pariban bagi saya. Yakni putri paman, yang oleh adat Batak, dianggap sebagai seseorang yang dapat dan patut dijadikan pacar atau istri. Tentu saja tidak untuk segala hal aturan adat itu berlaku. Pariban yang satu ini, misalnya, jauh lebih tua dari saya. Ia sudah di kelas satu SMEP kala itu sementara saya masih di kelas tiga SD. Jadi bagi dia, saya ini lebih pantas jadi adik. Sehingga ia senang dan merasa tidak berbahaya kala saya sering mengganggunya ketika ia belajar, seraya mencomot sedikit-demi sedikit singkong rebus atau nenas kupas yang menemaninya memelototi buku-bukunya.

Waktu itu saya sudah tahu serba sedikit perihal kedudukan inferior SMEP dibanding SMP. Itu sebabnya, saya juga termasuk orang yang sering ikut meledek si Pariban dan sekolahnya. Apalagi sang Pariban berasal dari sebuah desa yang lebih udik dari kampung kami yang menyebabkan hanya tiap liburan kwartal (dulu belum sistem semester) saja dia pulang ke kampung halamannya. Seperti juga siswa-siswi SMEP lainnya, Ia sering diledek sebagai orang yang lain sendiri. Buku-bukunya lain sendiri. Pelajarannya lain sendiri. Sekolahnya pun lain sendiri. Tetapi ia tertawa saja jika kami meledeknya demikian. Tampaknya dia justru menikmati betul keunikan pendidikan yang ia tempuh itu.

Suatu kali saya melihat dia begitu serius dengan pe-ernya. Ia tak bergeming ketika saya mendekati mejanya dan melihat dari dekat apa yang dituliskannya. Buku tempatnya menulis itu mirip buku ‘garis tiga’ yang oleh kami murid SD, dipakai untuk menulis halus kasar (orang Jakarta menyebutnya, menulis tipis-tebal). Saya ingin saja dengan cepat-cepat menggodanya dengan mengatakan, ‘Eh, sekolahnya sudah gede, tapi kok masih punya pe-er menulis halus kasar,’ tetapi niat itu segera saya urungkan. Sebab yang ia tulis di buku itu tak satu pun dapat saya baca. Sepintas itu memang seperti ‘tulisan bersambung,’ namun huruf-huruf yang ia gunakan tak satu pun yang saya kenali.

“Apa itu Kak? Kok tulisannya seperti cacing-cacing panjang-panjang?,” saya bertanya.

“Ini tulisan steno,” katanya singkat. Ia masih serius dengan pe-ernya, seperti pelukis yang tengah tak mau diganggu dari pekerjaannya. Namun hanya sebentar saja ia begitu. Sebab setelahnya, dengan antusias ia mempertunjukkan seperti apa tulisan steno. Walau saya tak begitu mengerti dan akhirnya juga tidak tertarik, ia tetap saja menerangkan kepada saya arti huruf demi huruf dari steno itu.

Stenografi, seperti yang dapat kita baca di kamus Webster, didefenisikan sebagai seni tulis tangan secara cepat dengan menggunakan singkatan atau karakter untuk seluruh kata. Dengan kata lain, steno adalah metode tulisan tangan dengan mempergunakan singkatan atau simbol-simbol dengan tujuan untuk bisa menulis dengan cepat. Simbol-simbol tertentu itu digunakan untuk mewakili kata sehingga seseorang yang mahir menulis dengan steno akan dapat menulis secepat orang bicara.



***
Belasan tahun berlalu setelah memori steno yang tak terlalu berkesan itu. Tapi suatu hari muncul lagi, ketika kami, serombongan wartawan muda dikumpulkan di sebuah ruangan. Semuanya masih fresh graduate, hijau dalam segala tetek-bengek pekerjaan ini dan sebagian besar lebih suka menggunakan istilah terdampar (dan bahkan terperangkap) menjadi wartawan. Di depan sana ada wartawan senior yang akan bercerita dan membagikan pengalamannya. Nama keren forum seperti ini adalah pelatihan. Tetapi dalam banyak hal, ia seperti ajang nostalgia saja. Maksud saya, si wartawan senior membagikan pengalamannya untuk jadi bekal bagi para wartawan muda. Dan kami yang duduk sambil sesekali ikut tertawa oleh banyolan si wartawan senior, diharapkan makin termotivasi untuk menyelami profesi jurnalis, salah satu ‘profesi yang paling dibenci dan diremehkan di dunia,’ tetapi sering dielus-elus sebagai pilar keempat demokrasi.

Senior mana pun kala bicara diantara junior-juniornya pasti akan melihat masa-masa mudanya sebagai masa-masa yang ‘lebih’ dari masa-masa saat ini. Wartawan senior yang di hadapan kami itu pun begitu. Kalimat-kalimat seperti berikut ini berhamburan dari dia dalam pelatihan sepanjang 90 menit itu; “Di zaman kami, jadi wartawan lebih sulit dari kalian….” Atau, “Di zaman dulu rasanya tidak ada berita yang dibikin seperti cara kalian membikinnya….” Atau, “Di zaman saya, belum ada ini itu, tetapi kami sudah bisa bikin ini itu,” dan banyak lagi cerita tentang “di zaman saya….” lainnya. (Kalau ingat ini, saya jadi tersadar, bahwa ketika menasihati putri saya di rumah, saya juga sering memulainya dengan kata-kata… “Di zaman Papa dulu…..”)

Si Senior itu memang punya cara yang asyik bila bercerita. Sehingga masa 90 menit yang sebagian besar ia habiskan dengan cerita “Di zaman saya dulu…” tersebut mengalir nyaman seperti tegukan es teler di tengah hari bolong yang terik. Nyusss mulus, tetapi terkadang kita tersedak dan tertegun mendapati potongan-potongan nangka, alpukat atau nenas yang nyantol di lidah untuk segera kita lahap habis. Tuturan pengalaman si wartawan senior itu juga begitu. Dibuainya kita dengan kisah-kisah seru pekerjaannya sebagai wartawan. Tetapi pada saat-saat tertentu yang tak kita duga, ia lontarkan juga intermezzo yang mengharuskan kita mengernyitkan kening karena ketidakmampuan memberikan respon.

“Siapa diantara kalian yang bisa menulis steno?” tanya si Senior tiba-tiba setelah ia bercerita panjang lebar tentang bagaimana serunya acara konperensi pers tempo dulu.

Semua yang ada di ruangan itu berpandangan satu sama lain. Tak ada yang angkat tangan.

“Nah, di zaman kami dulu wartawan harus bisa steno,” kata si Senior. “Harus bisa menulis dengan cepat. Itu sebabnya, orang juga sering menanyakan berapa kecepatan steno kita,” kata dia lagi. Pandangannya tajam, seperti burung elang yang siap mencari mangsa. Tatkala saya membaca CV-nya, ia termasuk dedengkot wartawan di zamannya.

Mendengar cerita si Senior, nyali saya jadi ciut. Wajah gelisah juga saya saksikan muncul dari kawan-kawan lain di ruangan itu. Timbul kekhawatiran dalam benak, jangan-jangan kami para wartawan yang masih hijau itu bakal diwajibkan belajar steno. Seorang teman dari belakang nyeletuk setengah berbisik, “Disuruh ikut pelatihan gini aja selama seminggu rasanya pantat sudah tepos. Apalagi kalau disuruh belajar steno….”

Sang Senior rupanya menangkap kehawatiran kami. Ia tersenyum sambil berkata, “Kalian lebih beruntung sekarang. Tidak perlu belajar steno. Masing-masing kalian sudah punya tape recorder. Bisa merekam apa yang dikatakan narasumber. Kalau kelupaan mencatat, masih bisa mengeceknya ke tape recorder. Tidak seperti zaman kami dulu….”

Kami semua tersenyum lega.

Namun, si Senior kemudian menekankan bahwa bagaimana pun seorang wartawan tak boleh lupa untuk mencatat dalam setiap wawancara atau bicara dengan narasumber. Jangan sampai tergantung pada alat yang bernama tape recorder itu. Sebab bila hanya mengandalkan tape, akan makan waktu lebih lama lagi untuk mendengarkan ulang dan menuliskannya. Selain itu, nuansa yang muncul selama wawancara mungkin tak tertampung dalam rekaman tape. Justru catatan-catatan lah yang bisa memunculkan hal-hal istimewa sepanjang wawancara.

Si Senior melanjutkan, walau pun tidak bisa menulis secara steno yang sesungguhnya, tiap wartawan harus berusaha membuat steno versi dirinya sendiri. Yakni semacam cara menulis cepat yang mungkin hasilnya amburadul tetapi si penulisnya masih bisa membacanya sampai kapan pun. Mungkin dapat dibandingkan dengan ketika kita berSMS di zaman sekarang. Demi menghemat ruang, menghemat waktu dan menghemat pulsa, kita sering membuat singkatan-singkatan tertentu yang hanya bisa dibaca bila sesuai dengan konteksnya. Semisal, Oc d, yang berarti Oke deh. Atau, oic, yang berarti Oh, I See. Atau seperti balasan SMS dari seorang teman yang saya minta untuk membaca sebuah naskah: Ok, hr ni sy akn krm blk via imel. Hr ni sy tdk msk ktr jd sy krm via warnt (Dibaca: Hari ini saya akan kirim balik via email. Hari ini saya tidak masuk kantor, jadi saya kirim via warnet).





***

Bicara tentang steno, ada satu benda yang jadi pasangan abadi-nya dalam profesi wartawan. Bentuknya seperti buku kecil. Orang sering menyebutnya notes. (Huruf e di sini dibaca seperti e pada es). Yakni blocknote mini seukuran saku. Yang paling lazim sampulnya berwarna coklat. Di bagian atasnya ada logo koran, majalah atau media tempat si empunya notes bekerja.

Notes
jadi pasangan abadi tulisan steno dalam hidup wartawan karena di notes itu lah dia biasanya menulis secara cepat apa-apa yang akan jadi bahan tulisannya. Notes itu begitu praktisnya sehingga ia bisa masuk ke kantong, sekecil apa pun kantong itu. Ada juga wartawan yang menyelipkannya di pangkal celana di pinggang belakang.

Menulis pada notes tak memerlukan meja. Ia cukup diletakkan dalam genggaman tangan, kita sudah bisa menggunakannya. Sambil duduk, oke. Sambil berdiri oke. Sambil berjalan juga tidak ada masalah.

Dan bagi saya notes makin istimewa karena ia lah perangkap awal yang membuat saya terjerat pada pekerjaan ini. Seperti pernah saya ceritakan di blog ini, dulu saya tak pernah melihat apa menariknya pekerjaan sebagai wartawan, yang ditekuni oleh ayah secara amatiran. Dari cara dia sibuk tak tik tuk menggunakan mesin ketiknya, memotret peristiwa mau pun tokoh, menemui orang yang ingin diwawancarainya, ada kesan betapa membosankannya pekerjaan itu.

Sampai suatu saat tatkala ia mengajak saya mewawancarai orang lalu menyaksikan bagaimana ia mencorat-coretkan penanya di blocknote mini-nya. Dari caranya mencatat apa yang dibicarakan orang itu dengan mata tetap tertuju kepada lawan bicaranya sembari tangannya terus bergerak tanpa henti, saya mulai mengagumi gaya mencatat yang demikian itu. Walau apa yang dituliskannya samasekali tak dapat saya baca (rupanya ayah punya tulisan steno sendiri), diam-diam saya menyimpan kesan dalam hati… oh, begitu toh cara kerja wartawan. Enak kali ya, mencobanya….
(lihat juga, buah jatuh tak jauh dari pohonnya)
Bertahun-tahun setelah menjadi wartawan –bahkan sampai kini—saya masih dapat merasakan ‘nikmatnya’ mencorat-coret dengan cepat di blocknote mini berlogo itu. Kepuasan yang sering saya lihat di wajah para petani tatkala usai mencangkul lahan untuk kelak ditanami padi. Sebuah pekerjaan tahap dini yang masih jauh dari selesai, tetapi pekerjaan kolosal itu tak kan pernah rampung kalau tahap dini itu tidak dilewati. Seperti seorang wartawan yang bisa berjam-jam melongo di depan mesin tik (atau komputer), tak tahu harus berbuat apa gara-gara blocknote-nya tertinggal di tempat wawancara atau malah lenyap begitu saja karena oleh istri dibuang ke tempat sampah karena disangka catatan kumuh yang tak berguna lagi. (Sesekali pernah juga mengalami hal seperti ini).

Anehnya, menulis secara steno begitu hanya dapat saya nikmati bila membubuhkannya di blocknote mini yang khas itu. Bila tidak…..wah, rasanya jemari ini seperti tak bisa digerakkan. Tak dapat dipungkiri, blocknote mini itu sudah jadi bagian dari pribadi para wartawan. Ia jadi gadget yang harus ada dan ikut serta. Tak lengkap rasanya tanpa mengantonginya. Bahkan bagi beberapa wartawan perokok yang saya kenal, lebih baik tak membawa rokok daripada tak membawa notes. Rokok bisa dibeli. Tetapi notes mini yang khas itu? Mana ada warung yang menjualnya?

Masih ingat juga saya nasihat yang pertama kali saya dengar dari seorang senior yang memberikan penugasan kepada saya untuk pertama kali.(Saya berterimakasih untuk nasihat itu, yang kadang-kadang saya lupa juga). Katanya: “Kalau petani harus bekerja dengan cangkul, lu harus ngerti wartawan kerja dengan apa. Dengan pena dan kertas kan? Nah, jangan sampai lupa bawa bolpen sama notes kemana pun lu pergi. Kasarnya, dibangunkan jam berapa pun, lu harus dengan cepat bisa tunjukkan dimana bolpen dan notes lu…”

Pasti lah bukan hanya saya yang menganggap notes sebagai gadget. Banyak teman lain yang juga beranggapan serupa. Buktinya beberapa wartawan bahkan seperti anak kehilangan induk bila menyadari blocknote-nya tertinggal entah dimana. Ada juga teman yang berusaha mengoleksi blocknote-blocknote itu. Tiap ketemu wartawan dari media mana pun, tak lupa ia bertanya, “punya blocknote kosong nggak? Bagi dong…..” Sekali waktu ketika saya mewawancarai seorang wanita pengusaha, di akhir pertemuan ia meminta saya agar sudi membagi blocknote untuknya. Rupanya ia naksir berat pada notes yang saya genggam. Permintaan yang dengan senang hati saya layani karena kebetulan saya punya cadangannya.

Blocknote mini itu dalam saat-saat tertentu bahkan bisa memberi arti yang lebih dalam dari sekadar corat-coret seorang wartawan. Apalagi bila itu menyangkut sebuah pertaruhan hidup-mati dalam profesi, jatuh-bangun dalam memperjuangkan apa yang kita anggap kebenaran –serelatif apa pun kebenaran itu. Notes berdebu, yang tercecer di lantai tanpa ada lagi yang tahu siapa yang empunya bisa melahirkan rasa haru tetapi juga sekaligus kekuatan untuk berjuang. Seperti yang bisa kita baca, dalam pengantar oleh Goenawan Mohamad (GM), mantan pemimpin redaksi majalah Tempo dalam buk karyanya sendiri berjudul Catatan Pinggir 4

“Beberapa pekan setelah pembredelan, saya masih tetap merasa ada luka yang tergores bila melihat sebuah buku notes wartawan Tempo –separuh terisi—tergeletak di lantai kantor yang kini kosong seperti sebuah makam tua: sisa kesaksian bahwa dulu kami, bertahun-tahun lamanya, bekerja. Saya masih tergetar melihat disket-disket bekas, dengan sejumlah naskah tersimpan di dalamnya, di laci gedung biro di daerah; peninggalan dari sebuah jerih payah dan harapan yang pernah kuat, untuk berguna bagi orang banyak, bagi pembaca.”



Catatan Pinggir 4
adalah buku kumpulan tulisan GM di majalah Tempo selama kurun waktu 1990 hingga 1994. Tahun yang disebut belakangan ini adalah awal dari masa dimana Tempo dibredel dalam waktu yang cukup lama, hingga bisa terbit kembali di era reformasi. Ketika GM menulis pengantar itu, tidak ada seorang pun yang tahu apakah Tempo masih akan bisa terbit kembali.

Bila di kemudian hari majalah itu tak kunjung ‘mati,’ bahkan hidup lagi dalam keadaan sehat dan lebih dinamis seperti sekarang, dugaan saya itu adalah juga buah perjuangan dari hal-hal tak terlihat yang bersifat tetek-bengek seperti ‘memori’ akan notes berdebu dan disket-disket bekas. Pada tetek-bengek seperti itu lah tersimpan api semangat nan tak kunjung padam.

3 comments:

  1. Fajar S Pramono3:10 AM

    Bang, baca tentang steno, aku jadi inget my lovely mother, almarhumah...
    Tapi yang jelas, beliau bukan wartawai senior itu. :) Beliau 'hanyalah' guru steno di SMEP dan SMEA.
    Aku sendiri sempet pingin belajar, tapi begitu melihat 'kerumitan'nya, akhirnya mimpi itu hanya sampe pada taraf kepingin.. :)

    Tentang steno yang menurut Bang Eben merupakan pasangan abadi notes, jangan-jangan karena huruf-huruf pembentuknya sama ya, Bang? Hehe...

    Tapi, lepas dari semuanya, posting Bang Eben membuat aku meloncat ke sebuah dunia yang dulu aku justru sangat ingin "terdampar" ataupun "terperangkap" di dalamnya : dunia wartawan!

    Ah!

    ReplyDelete
  2. aku penasaran pengen bisa nulis steno,,hehe..ada buku ato kamus agar bisa lebih mudah mempelajarinya ga?
    thx..

    -tya-

    ReplyDelete
  3. Terima kasih untuk artikel ini, sangat berguna bagi saya. Sekian puluh tahun saya dengar tentang STENO ini, dan dulu pernah ada teman yang meminjami buku 'Belajar Steno', tapi kuhilangkan (hi hi hi)... dan ditengah gempuran jaman serba elektronik dan digital ini, saya koq malah tertantang pengin belajar STENO, biarpun usia udah 42 tahun. Oh ya, saya juga mengumpulkan blog2 tentang DESA KELAHIRAN kita, maka saya akan cantumkan blog ini di blog saya http://ngunuttulungagungjawatimur.blogspot.com/ - tentang desa kelahiran saya di Jawa Timur! Sukses buat Anda, dan terus menulis dan mengisi blog-blog kita, sebab kelak akan berguna bagi anak-cucu kita semua!

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...