Saturday, May 10, 2008

Aceh juga, Batak juga


Hidup ini, kata orang Jawa, adalah sawang-sinawang. Ah, maafkan lah saya yang sok tahu ini. Berani-beraninya mengutip kata-kata yang saya tak mengerti benar apa artinya secara mendalam. Sekali lagi maafkanlah bila pengertian saya tak terlalu akurat perihal ini. Yang saya tahu, secara harfiah makna sawang-sinawang adalah saling pandang. Bahwa hidup manusia dengan sesamanya adalah perjuangan terus-menerus untuk dipandang baik oleh sesama. Dengan saling menghargai, saling menghormati, saling meraba dan mengukur pandangan orang lain terhadap diri sendiri, begitu pula sebaliknya. Dan, usaha agar dipandang baik itu sama sekali lain dengan urusan ja’im (jaga image) seperti kata anak-anak muda zaman sekarang. Sawang-sinawang bukan proyek memelihara citra yang bersifat ad-hoc. Bukan urusan setahun-dua tahun seperti kampanye para pejabat dalam menaikkan pamor agar terpilih. Melainkan perjuangan berkesinambungan yang tiada henti.

Mungkin kah dari sawang-sinawang itu asal julukan ‘orang terpandang’ yang disematkan kepada mereka-mereka yang patut dihormati, ditiru, diteladani dan –dalam arti baik—dicemburui?. Saya tidak tahu. Yang saya yakin dan pasti, semua orang ingin jadi orang terpandang. Dan kalau bisa, status terpandang itu dapat dipelihara secara turun-temurun. Baik dengan cara membekali anak-anak dengan pendidikan yang berkualitas dan harta warisan yang cukup, mau pun lewat upaya agar ia kelak bergaul dan membentuk rumah tangga dengan jodoh yang bibit, bobot dan bebetnya terpilih.

Ups, jangan langsung menyergah dulu. Saya tahu, banyak yang tidak setuju dengan makna sawang-sinawang seperti itu. Sebab jika hanya begitu cara menafsirkannya, dengan cepat kita bisa terjerumus mengerangkengnya pada makna yang sempit dan bersifat selfish. Seolah hidup dengan sesama adalah sebuah adu balap menjangkau langit tempat status terpandang itu tergantung tinggi-tinggi. Seolah sawang-sinawang adalah perjuangan untuk menimbun kehormatan memuaskan diri sendiri. Seolah hidup adalah papan skor pertandingan basket, yang angka-angkanya bergerak tiada henti-henti tiap kali bola dilemparkan menembus keranjang.

Bukan, bukan hanya dalam pengertian begitu, saya kira, sawang sinawang itu. Dari pengalaman ngeblog selama tiga tahun terakhir ini, dari bersilancar dan blogwalking mengunjungi blog para blogger yang katanya jumlahnya sudah ribuan di Indonesia, saya merasa menemukan juga kekayaan makna sawang-sinawang. Dari membaca kisah-kisah hidup dan celoteh para blogger di blog mereka, oleh tokoh yang receh mau pun yang raksasa, dari kalangan kelas kambing mau pun kelas premium, sawang-sinawang dalam hemat saya adalah juga usaha untuk saling belajar, saling memahami, saling memperoleh dan karena itu juga adalah saling memberi dari hidup sesama. Bahwa pada hidup orang lain yang kita baca lewat blognya, ternyata seringkali kita menemukan juga wajah kita sendiri. Dari pahit getir, manis legitnya kisah hidup orang lain, kita temukan juga resah frustrasi, canda tawa yang kita alami sendiri.

Jika hidup diibaratkan terdiri dari potongan-potongan puzzle, lewat ngeblog kita jadi tahu dan disadarkan bahwa kerap kali potongan-potongan puzzle hidup orang lain adalah juga potongan puzzle hidup kita. Teka-teki yang ingin dipecahkan oleh si X adalah juga pertanyaan rumit yang ingin kita jawab. Bahwa kegelisahan Miss Y, adalah juga keresahan yang dihadapi oleh Mr Z. Dan dengan demikian kita menemukan lagi kebijaksanaan klasik yang dikemas oleh grup rocker Candil dari grup Seurieus dalam lagunya ‘Rocker juga Manusia.’ Bahwa di bawah langit ini semua manusia sama, dengan semua tetek-bengek empedu dan madu hidup mereka….


***

Beberapa waktu lalu seorang dara dari Aceh mengunjungi blog
the beautiful sarimatondang ini. Dan, rupanya ia menyempatkan diri membaca
Tertawa bersama Marga-marga Orang Batak, salah satu posting di blog ini. Lalu ia membubuhkan komentarnya yang riang, ringan, ringkas tetapi bernas. Komentarnya itu semacam pertanyaan retoris tetapi juga mengandung teka-teki. Sebuah pencarian puzzle hidup yang banyak orang mungkin ingin ikut mengeksplorasi jawabannya. Dan karena itu lah saya jadi ingat perihal sawang-sinawang itu.

Gadis itu bernama Milda (lihat foto). Komentarnya itu berbunyi begini.

Om, kenalkan namaku Milda Siregar. Tapi sejak lahir sudah di Aceh. Karena Ibu juga orang Aceh dan di sebelah ayahku turun-temurun sudah lahir di Aceh, jadilah aku hanya punya nama tanpa pernah tahu bahasa, adat, bahkan tanah leluhur. Anehnya pula, aku juga kaku berbahasa Aceh, akibatnya, ada pergolakan dalam diriku, tidak Batak, tidak juga Aceh. Jadi pusing sendiri. Hahaha. Tapi, nama itu tetap ada kupakai. Sekarang sedang ingin mempelajari bahasa maindailing. Kan, katanya tidak ada kata terlambat. Hahahaha.... Biarlah aku ini bukan BTL, tapi setidaknya aku dua-duanya...Batak dan Aceh, Aceh dan Batak---(apa sebutan untuk itu Om??).

Oke, terima kasih untuk blog ini, menggugah rasa di hati terdalamku....



Membaca komentar Milda, saya seolah disodori cermin untuk melihat diri sendiri ( dan mungkin juga diri banyak orang lain). Walau hanya 108 kata dan 605 karakter yang ia pergunakan, dugaan saya, Milda sesungguhnya telah mengungkapkan novel bahkan roman hidup ribuan bahkan jutaan orang Indonesia lainnya, yang berlatar belakang keluarga campuran, seperti dirinya --dan juga seperti diri saya.

Ayah saya seorang (Batak) Toba bermarga Siadari. Ibu seorang (Batak) Simalungun bermarga Damanik. Di kampung halaman kami, Sarimatondang, etnik Toba dan Simalungun sesungguhnya tak pernah begitu berbeda. Para muda-mudinya kawin-mawin tanpa banyak persoalan. Pria Toba mempersunting putri Simalungun, atau gadis Toba melabuhkan hati pada pria Simalungun. Kadang-kadang memang ada keruwetan kecil-kecilan. Semisal, apakah upacara pada pesta perkawinan akan mengikuti adat Toba atau Simalungun. Tetapi lagi-lagi selalu ada jalan keluar dalam soal-soal semacam itu. Para tetua adat di kampung kami cukup jenius untuk mencampur-adukkannya, menutup celah dengan mencari persamaan-persamaan di kedua budaya yang agak berbeda itu. Dan seperti sudah berulang kali sejak puluhan tahun lalu, tak pernah ada pesta perkawinan yang ricuh gara-gara perbedaan persepsi soal adat.

Umumnya orang yang terlahir dari keluarga ayah Toba-ibu Simalungun seperti saya menyebut dirinya orang Batak. Secara patrilineal orang-orang yang demikian itu memang akan menyandang marga ayah yang notabene adalah Toba. Secara formal memang begitu. Secara hukum juga begitu. Namun, semua kita pasti mengakui bahwa substansi kehidupan justru sering jauh lebih dalam dari sekadar formalitas dan urusan hukum. Dan karena itu, di lubuk hati mereka yang datang dari keluarga campuran pasti lah tidak ingin lagi mengkotak-kotakkan dirinya kepada salah satu dari dua suku yang melatarbelakangi orang tua mereka. Sama seperi ayah-ibu yang telah meleburkan diri membentuk mahligai rumah tangga, para keturunannya juga ingin mengabadikan kedua latar belakang itu ke dalam dirinya. Dan, karena itu jika disodori pilihan apakah saya ini Toba atau Simalungun, saya justru akan ikut sikap Milda, yang 'Aceh juga, Batak juga.'



***

Sayangnya tak semua orang bisa mengerti dan bisa memahami itu, rupanya. Saya pernah sedih luar biasa –dan ini bukan untuk mendramatisir-- ketika merasa tidak diterima sebagai orang Simalungun. Marga saya yang Siadari itu telah dianggap cukup untuk mengurung saya sebagai orang Toba saja –dan bukan orang Simalungun.

Orang Simalungun memang mengenal pepatah,
Sin Raya Sin Purba
Sin Dolog Sin Panei
Na ija pe lang muba
Asalma marholong ni ate,

yang pesan moralnya kira-kira; tak perlu kita menpersoalkan asal-usul seseorang, sepanjang ia baik, dan pengasih, ia adalah 'orang kita.' Tetapi kekuatan petuah itu agaknya tak cukup mempan lagi mengetuk pintu hati segelintir orang.

Memang tak perlu ada yang disalahkan dalam hal ini. Bangkitnya kesadaran etnis seiring dengan gairah otonomi daerah membuat tembok-tembok etnisitas ditegakkan kembali.Lalu luka sejarah yang pernah melahirkan ketegangan hubungan Toba-Simalungun seolah diputar ulang menjadi asesoris untuk mempertebal tembok-tembok yang baru tegak itu. Ketegangan yang sebetulnya sudah lama mencair tetapi kadang-kadang masih terusik juga. Dan sebagai generasi yang terlahir dari keluarga campuran itu, saya dan banyak orang 'senasib' mungkin harus menerimanya sebagai pertalian love and hate. Benci tapi rindu. Sayang tapi sebel. Butuh tapi angkuh. Dan sederet kata-kata berpasangan lainnya bisa kita sebut. Sekadar menghibur diri. Tetapi juga untuk mencairkan suasana.

Dunia yang sudah tua ini memang selalu disibukkan oleh pertanyaan dan pencarian tentang kemurnian. Susu murni adalah yang terbaik bagi kesehatan. Emas murni selalu dicari sebagai perhiasan mau pun investasi. Begitu juga soal asal-usul. Selalu ada godaan untuk menjaga kemurnian. Dan barangkali demi menjaga kemurnian 'darah' dan silsilah itu lah salah satu sebab, mengapa pria Batak zaman dahulu bila mencari jodoh selalu dianjurkan untuk mengutamakan putri dari Paman. Yakni pariban, atau putri dari adik/kakak dari ibu kandung si pria. Sebab dengan begitu, silsilah bisa terjaga. Singgasana kerajaan tak terbagi pada orang yang tak dikenal. Harta warisan tak lari kemana-mana.

Namun seperti reaksi kimia yang tak pernah terduga (meminjam analogi M.A.W. Brower dalam salah satu tulisannya), jodoh juga punya logika dan lompatan-lompatannya sendiri. Sudah tak terhitung novel fiksi dan kisah nyata yang menggambarkan bahwa manusia tak pernah kuasa menolak kata hatinya ketika menyukai belahan jiwanya. Bahwa anak manusia tak pernah bisa memilih dilahirkan dari ayah-ibu yang diinginkannya. Dan karena itu lah dunia jadi berwarna dan cerah-ceria. Pelangi bukan pelangi bila hanya satu warna. Alangkah sederhananya minum es teler bila tanpa tetelan compang-camping nangka, durian mengkal dan alpukat setengah matangnya.

Asam di gunung, ikan di laut bertemu dalam kuali, kata pepatah. Dan karena itu lah, misalnya, Indonesia mengenal dua Sjahrir yang sama-sama Minang dan sama-sama jenius, sama-sama menempuh keunikan sendiri menemukan jodoh. Pak Sjahrir mungil dari zaman kemerdekaan mempersunting orang Belanda dan kemudian Jawa. Pak Sjahrir gendut tokoh Malari ahli ekonomi mempersunting orang Batak. Sederet tokoh lain masih bisa kita sebut. Dan, hampir bisa kita pastikan, anak-anak mereka mungkin tak lagi mau dikotak-kotakkan oleh pertanyaan,” Belanda kah saya? Minang kah saya? Jawa kah saya? Batak kah saya?” Dugaan saya sama seperti Milda, mereka juga lebih memilih mengatakan: saya ini Aceh juga, Batak juga.

Terimakasih banyak dear Milda, untuk komentarnya yang menarik. Yang telah menggugah kesadaran untuk merayakan warna-warni latar di belakang kita. Kadang-kadang saya suka usil (dan Milda juga dapat mencoba dengan caramu sendiri) ketika menghadiri arisan atau pesta-pesta orang Batak di Jakarta ini. Saya mencoba menghitung-hitung berapa banyak diantara undangan yang hadir itu adalah merupakan pasangan gado-gado. Gado-gado Batak-Jawa, Batak-Manado, Batak-Sunda, Batak-Ambon bahkan Batak-Bule (kalau yang ini mungkin namanya bukan pasangan gado-gado, tapi pasangan sandwich, hehehe). Saya sering tertawa dalam hati ketika menyadari, ternyata banyak juga, lho jumlah mereka. Dan bertambah lucu lagi bila membayangkan bagaimana tatkala putra-putri mereka saling berkenalan. Saling bertukar cerita dan saling bertukar kebiasaan. Saya pernah mencuri dengar tentang selera makan mereka. Wah, rame lho. Chasing mereka memang sama-sama Batak, tetapi di dalamnya ternyata jauh lebih berwarna-warni.

Mungkin ini lah yang kita sebut generasi pasca, meminjam istilah yang pernah diperkenalkan oleh Martin Sinaga, seorang teolog yang dibanggakan oleh orang Simalungun, dalam sebuah perbincangan tentang etnisitas beberapa waktu lalu. Kata dia, sia-sia lah kita bila masih sibuk untuk mencari kemurnian karena sesungguhnya tidak ada yang murni di belakang kita. Lebih dari itu, mengandalkan derajat keaslian saja bukan lagi bekal yang cukup untuk mengarungi masa depan yang penuh warna.

Lebih baik membangun diri sebagai generasi pasca, seperti makna yang kita temukan dalam istilah pasca sarjana. Masih tetap sarjana tetapi sarjana yang pasca. Sarjana yang beyond. Dan demikian pula lah barangkali identitas Milda yang Batak juga dan Aceh juga itu. Batak yang pasca, Aceh yang pasca juga. Dan Indonesia yang pasca juga. Mungkin di tangan generasi seperti itu lah masa depan Indonesia. Mereka masih tetap Batak. Mereka masih tetap Aceh. Mereka masih tetap Jawa. Tetapi Batak yang pasca, Aceh yang pasca, Jawa yang pasca dan Indonesia yang pasca. Dengan kata lain, Batak, Aceh, Jawa dan lain-lainnya di belakang mereka, bukan jadi sekat-sekat yang tidak perlu. Melainkan jadi landasan membangun bibit-bibit hibrida yang unggul.

Beberapa kali saya hendak berangkat kerja, seselintas saya melihat spanduk sebuah sekolah modern yang ada di pinggir jalan di kawasan Bintaro. Saya sudah lupa persis bunyinya seperti apa, tetapi kira-kira berkata begini: Holding the future without losing the roots. Saya tahu, banyak sekolah yang lebih keren reklamenya daripada isinya. Tetapi membaca spanduk itu, dalam hati saya mengiyakan, mungkin begitu lah generasi pasca yang kita idamkan itu. Mereka yang jadi manusia-manusia masa depan, manusia-manusia baru dan beyond. Yang menjadikan 'akar' bukan sebagai pengekang melainkan batu penjuru menggapai masa depan.

Khotbah ini kepanjangan, kali ya?
(zudah zapek nih ngetiknya bah....)


Catatan:
1.Istilah sawang-sinawang pertama kali saya tahu dari tulisan Umar Kayam pada buku, Mangan Ora Mangan, Kumpul, Grafiti Pers, 1998
2.Tulisan M.A.W. Brower ada pada Bapak, Ibu, Dengarlah, Gramedia, 1975
3.Kisah Barack Obama yang terlahir dari pasangan gado-gado, ikut menginspirasi tulisan ini,dapat dibaca di sini
4.Percikan permenungan tentang Martin Sinaga dapat
dibaca di sini
5. Foto Milda diambil dari blog Milda, hatiku dalam sekelebat hidup

1 comment:

  1. Wah, milda sampai kaget, tulisan tentang diriku? Memang benar sekali, tentang pergolakan2 itu, tentang semua pembahasan tentang itu...Hari ini rasanya ada sesuatu yang menemukan ketenangan di dalam hati dan pikiran, walaupun penerimaan dari orang lain akan terus menjadi PR yang manis.... Terima kasih sudah mengangkat sebuah komen menjadi tulisan yang bagus, perfecto dan menyatakan pada banyak orang lain yang seperti kita, you are not alone..... Horas, Bah! (^_^)v (mulai hari ini, tidak lagi sendirian.....)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...