Saturday, May 24, 2008

Perempuan-perempuan Batak Perkasa



“Kita tidak sedang bicara tentang perempuan-perempuan seperti Miranda Goeltom atau Elvira Rosa Nasution atau Rosiana Silalahi. Memang betul, mereka adalah juga wanita-wanita perkasa di bidangnya dan di zamannya. Miranda kita kenal sebagai wanita (Batak) pertama yang jadi deputi senior gubernur Bank Indonesia sepanjang sejarah. Elvira perenang tangguh yang hingga kini belum ada tandingannya di Tanah Air. Rosiana Silalahi adalah wartawan televisi berdarah Batak yang……”

“Jadi kalau begitu, kita bicara tentang siapa, Amang?” pria setengah baya itu dengan cepat memotong lawan bicaranya. Kentara juga dari raut wajahnya nada kecewa, sebab ia merasa tak kan ada menariknya cerita tentang keperkasaan wanita bila bukan sekaliber nama-nama yang telah disebutkan tadi.

“Oh, kita mundur dulu sebentar ke masa-masa dimana kakek dan nenekmu mungkin belum lahir. Di masa-masa fakta dan mitos hanya dipisahkan oleh tirai serambut dibelah tujuh. Tatkala jiwa demikian pentingnya sebagai penerus silsilah, dan tidak ada yang lebih kental daripada hubungan darah dan kekerabatan. ”

“Ah, Amang pasti akan berkhotbah tentang tarombo, adat istiadat. Tak sampe lagi hali-hali ku ke sana,” si pria setengah baya berujar, sambil berdiri hendak meninggalkan si Amang yang duduk di seberang meja.

Tapi tangan pria itu tertahan oleh genggaman tangan putrinya. Gadis itu mungkin di pertengahan usia 20-an. Rambutnya dicat berwarna merah marun. Kulit lembut kuning langsat di wajah berpori-pori halus itu khas mewakili sebuah generasi pribumi yang tak lagi menjadikan nasi sebagai pembuka sarapan paginya. Namun tulang pipinya terlalu menonjol untuk bisa menymbunyikan titisan wajah Batak ayahnya. Dan genggaman tangannya berhasil memaksa si ayah untuk duduk kembali. “ Ayo lah, Pa. Jarang-jarang kita bisa ngedate kayak gini. Siapa tahu memang betul ada wanita Batak perkasa yang belum pernah kita kenal,” si gadis berkata kepada ayahnya.

Sementara si pria setengah baya itu menyandarkan punggungnya di sofa coklat itu, orang tua yang dipanggil Amang tersenyum memandang wanita belia seumur cucunya. Ia merasa punya teman kini. Rambut, cambang dan kumisnya putih semua menandakan usianya yang tua dan mungkin makin kesepian. Sesekali ia mendekapkan tangan menahan dingin lobi hotel yang makin ramai malam itu.

Cuaca buruk menyebabkan pesawat yang akan Amang tumpangi membatalkan keberangkatan. Padahal seharusnya penerbangan mereka dijadwalkan hanya transit di kota San Fransisco ini. Semua itu membuat ia terdampar di hotel yang, untungnya, telah dengan cepat dapat disediakan United Airlines, maskapai penerbangan yang ditumpanginya. Dan si Amang yang dalam perjalanan menjenguk anak dan cucunya di Washington, menemukan ‘takdirnya’ harus bertemu dengan si pria setengah baya dan putrinya. Yang disebut terakhir ini adalah dua orang Batak yang juga dalam perjalanan menjenguk istri dan ibu mereka yang sedang tugas belajar di negeri Paman Sam itu.

“Memang begitu lah Ito,” kata si Amang menatap gadis belia itu. “Kita ini sering hanya menyediakan diri mendengar apa yang ingin kita dengarkan. Padahal banyak yang kita perlukan justru dari omongan yang tidak ingin kita dengarkan.” Wajah si Amang masih menyimpan senyum. Tampaknya kata-kata itu tak benar-benar ditujukan kepada si gadis belia.

“Cerita lah. Kami mendengar,” si gadis belia akhirnya bicara. Ia menoleh sejenak kepada ayahnya, seolah minta persetujuan. Lagipula, berbincang seperti ini di di saat seperti di tempat yang tidak diharapkan seperti hotel ini bukan lah pilihan jelek.





***


Malam sudah larut ketika perempuan itu berteriak di gerbang desa. Ia tahu kedatangannya tidak diharapkan. Ia wanita sampah, telah dianggap terbuang dan tak pernah ada. Lebih dari itu ia pengkhianat. Sekali waktu nanti ia akan menerima hukuman.

Tetapi perempuan itu tak mau beranjak. Ia terus berteriak. Ia minta dibukakan pintu. Sebab ia ingin bicara. Sesuatu ingin disampaikannya. Ia tampak merunduk seperti membawa beban berat. Ia sedang menggendong sesuatu.

“Apa maumu, hai perempuan penghianat?” akhirnya terdengar suara penjaga gerbang. Di bawah terang suluh di gelap gulita malam, akhirnya penjaga itu mengenali juga sang tamu tak diundang. Dia wanita tak tahu diri, pembawa aib bagi kaum dan marga. Musuh yang suatu saat akan dilenyapkan.

“Saya membawa sesuatu yang sangat penting untuk kalian. Buka kan lah pintu,” wanita itu terus mendesak.

Penjaga setengah jijik setengah benci menatap perempuan yang tengah berdiri kaku. Pikiran mereka terbawa ke suasana beberapa tahun sebelumnya. Ketika wanita itu membuat heboh seantero desa dengan tindakannya yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Berani-beraninya perempuan ini datang lagi. Tak tahukah ia bahwa dendam masih membara di hati seantero kaum dan seantero marga, yang sewaktu-waktu bisa terlampiaskan merenggut jiwanya?

Ya, perempuan itu memang patut dienyahkan. Beberapa tahun lalu ia telah kehilangan suami. Mati. Suatu hari musuh dari desa tetangga mengumumkan perang. Sang suami mengajak saudara-saudaranya untuk melawan. Tetapi pada kenyataannya suaminya hanya sendirian yang angkat senjata. Dan ia kalah. Ia ditangkap dan ditawan. Kepalanya dipancung. Ditanamkan di bawah tangga batu rumah kepala suku pemenang.

Tetapi perempuan yang menjanda itu ternyata tak tahu diri. Tak berapa lama setelah tragedi yang menimpa suaminya, ia justru menyediakan diri untuk dipacari sang kepala suku pemenang. Mereka bercinta. Dan mereka kawin. Membentuk mahligai rumah tangga. Ia mempersuamikan pembunuh suaminya. Ia ikut boyong ke desa tetangga. Pengkhianatan apa lagi yang lebih kejam dari itu?

Kini perempuan itu masih tetap berdiri. Menunggu pintu dibukakan. Para penjaga itu makin gusar. Apa gerangan yang membuat dia masih berani menongolkan muka? Apakah tak sampai kabar kepada perempuan ini bahwa ia telah dijadikan sasaran dendam yang tak kan bisa dipuaskan sebelum nyawanya melayang? Keluarga almarhum suaminya yang jadi penguasa desa telah bulat sepakat. Mempersiapkan diri untuk menunggu waktu yang tepat. Mengerahkan apa pun yang mereka punya untuk membeli kembali kehormatan yang tergadai. Oleh perempuan yang tak tahu diri seperti orang yang kini berdiri di pintu gerbang desa.

“Hei perempuan tak tahu diri. Pulang lah. Kau tak kami perlukan di sini. Tunggu lah pembalasan kami,” si penjaga membentak.

Perempuan itu bergeming. Tak selangkah pun ia surut. “Izinkan lah saya masuk menemui para tetua kalian. Ada yang ingin saya sampaikan, “ kata dia. “Saya tak kan mau pulang sampai kapan pun sebelum saya diizinkan masuk dan berbicara. Tetapi apabila saya telah diberi kesempatan, saya pasrah menerima hukuman apa pun yang akan ditimpakan,” perempuan itu berbicara dengan sorot mata menyala-nyala.

Penjaga kehabisan akal menghadapi perempuan kepala batu itu. Mereka kemudian masuk dan menemui para tetua adat untuk menyampaikan permohonannya.

Tatkala para penjaga menghilang di balik gerbang, perempuan itu merasa sekujur tubuhnya menggigil. Angin dingin di desa pegunungan itu merayapi tubuhnya. Ia pandangi lagi pintu gerbang yang tertutup itu. Sudah berapa lama ia menjauh dari sini? Semula samar, tetapi lamat-lamat makin jelas ia teringat pada masa-masa ketika bersama almarhum suaminya di desa ini. Mengabdikan diri sebagai istri yang patuh. Hingga terjadinya pertempuran jahanam itu. Air matanya menitik. Apa kah memang masih ada kesempatan baginya kembali ke desa tempat pertama kali ia melabuhkan hati pada seorang pria?

Sejenak ia memikirkan dirinya sendiri. Betapa malang dan betapa sendiri. Dimana ia berdiri kini? Siapa yang mungkin berani berada di pihaknya dengan semua yang telah dijalaninya? Dirinya yang melanggar tabu. Dirinya yang tidak setia. Dirinya yang penghianat. Gerangan apa hukuman yang patut baginya dari para tetua yang akan ia temui itu?

Pintu itu akhirnya terbuka. Rupanya para tetua menyediakan diri untuk menerima kedatangannya. Penjaga itu setengah menghardik mempersilakannya masuk.

Perempuan itu makin merasakan dingin angin malam. Ia menapaki jalan menuju rumah adat yang besar di kejauhan. Pohon hariara di pembatas desa, semak-semak bambu di bawahnya, batu-batu besar, tanah kering yang menyambut tiap jejak telapak kakinya, semua mengingatkan dirinya bahwa kini ia ‘pulang.’ Ke tempat seharusnya ia berada. Tetapi apakah artinya pulang kali ini benar-benar pulang yang sesungguhnya?

Sambil berjalan menuju rumah besar, dengan langkah yang letih tetapi cepat, ia pandangi lagi sekitar desa yang ia rindukan itu. Tak banyak berubah, pikirnya. Kecuali mungkin pandangan mereka terhadap dirinya. Dendam, ya dendam, pasti lah ganjaran bagi apa yang telah ia perbuat. Dan hukuman…..

Kaki perempuan itu menjejak satu demi satu anak tangga menuju rumah adat. Suluh di dalam rumah yang tampaknya sudah dinyalakan semakin memperjelas penglihatan wanita itu akan siapa saja yang kini menunggu kedatangannya. Makin dekat sudah penentuan nasibnya. Perempuan itu mencoba duduk, bersimpuh, dan meletakkan apa yang sedari tadi digendongnya.

“Bicaralah sebelum kami membuat perhitungan. Apa yang hendak engkau sampaikan,” terdengar suara seorang tetua, setelah sebelumnya mengucap satu dua umpasa.

Perempuan itu tertunduk. Ada ragu dan takut di hatinya. Tetapi segera ia tepis tatkala matanya tertumbuk pada bungkusan yang kini telah tergeletak di lantai.

Sattabi, Amang,” suara perempuan itu terdengar penuh takzim. “Malam ini saya datang membawa kembali apa yang selama ini hilang. Malam ini saya datang membawa dan menebus kembali kehormatan kaum mu yang selama ini tergadai.” Suara perempuan itu kini terdengar tak mengandung takut lagi.

Perempuan itu membuka bungkusan di hadapannya. Ada dua isinya. Satu berbalut ulos. Satu berbalut tikar. Yang berbalut ulos adalah sebuah tengkorak. Tengkorak kepala suaminya yang dulu terpancung dan ditanamkan di bawah tangga batu rumah kepala suku desa sebelah. Satunya lagi, yang dibalut dengan tikar adalah sebongkah kepala manusia. Lehernya sudah terpenggal. Darah masih melumurinya. Dan itu adalah kepala dari orang yang selama ini jadi target operasi orang sedesa. Yakni kepala desa sebelah, orang yang dulu pernah membunuh suami perempuan itu. Dan yang juga telah dipersuamikan nya.

Para tetua terperanjat. Sejenak terdengar riuh suara. Satu sama lain berpandangan. Mungkin mereka tak terlalu siap menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka.

“Ini lah leluhur kalian yang telah saya tebus,” kata perempuan itu sambil menunjuk tengkorak itu. “Ia telah kembali. Dan kehormatannya telah saya bayar lunas,” katanya lagi, “dengan ini.” Sembari mengatakan itu, perempuan itu menunjuk kepala yang masih berlumur darah.

Wajah perempuan itu tampak lelah, tetapi tidak dengan sorot matanya. Ia belum mau berhenti. Ia lampiaskan apa yang selama ini membenam dihatinya. Katanya, “Kini kalian bebas untuk menentukan apa yang akan jadi hukuman bagi saya. Saya telah membawa apa yang selama ini kalian cari. Ini saya lakukan demi menunjukkan keikhlasan dan kesetiaan saya. Apakah saya penghianat atau istri yang mengabdi, kalian lah yang menentukan….”

Para tetua itu terdiam. Sebagian tak kuasa membendung air mata.

Perempuan itu pun begitu. Kini ia menunduk, membisu. Dan, ia menangis dalam kebisuannya. Dari sela-sela dinding kayu masih ia rasakan tiupan angin danau. Tetapi kelelahan membuat dirinya berpeluh. Peluh di wajah dan pipinya yang berbaur dengan linangan air matanya.

Perempuan itu berusaha tak kehilangan kendali. Ia ingat kini. Satu hari yang melelahkan telah ia lewati. Hari yang ia tunggu-tunggu. Hari yang telah ia rencanakan sebegitu lama, dalam sadar mau pun bawah sadarnya.

Ia ingat, pagi tadi ia bangun dengan kesegaran seorang perempuan yang tengah mengandung janin yang masih muda. Dan seperti biasa ia menanak nasi. Mempersiapkan keberangkatan suaminya pergi ke hutan, berburu dan membawa hasil bumi untuk dimakan. Sudah sekian lama selalu begitu pagi yang dilakoninya. Siang hari ia bertenun sambil menanti pulangnya sang suami. Menenun kain yang indah-indah. Paling indah dibandingkan tenunan perempuan mana pun di kampung suaminya itu.

Dan sore tadi, selepas suaminya bersih-bersih sepulang dari hutan, mereka lewatkan juga sore menjelang senja layaknya pasangan yang menikmati masa-masa muda mahligai rumah tangga mereka. Perempuan itu duduk bertenun. Sedangkan sang suami ikut membantunya meramu bahan-bahan yang jadi pewarna bagi kain tenun.

Dan seperti yang sudah selalu berjalan sekian lama, sang lelaki itu akan merasa lelah. Lalu merebahkan diri di pangkuannya. Di pangkuan perempuan yang ia peroleh dengan membunuh suaminya. Perempuan itu mengelus. Membisikkan kata-kata mesra. Yang dinikmati oleh lelaki itu dengan penuh rasa. Yang membuatnya terbuai. Tertidur…..

Lalu dengan lembut perempuan itu mengalihkan tangannya dari rambut suaminya. Tangan itu kini berpindah ke bawah tikar, menyelinap dan mengambil apa yang sejak sore tadi telah ia sembunyikan di sana. Sebilah pedang. Ya, sebilah pedang. Dengan cepat pedang itu kini telah terhunus di tangannya. Dan tanpa menunggu banyak waktu, pedang itu diayunkan menuju batang leher pria yang tengah mendengkur itu. Sekali, dua kali dan terus, hingga kepala itu terpisah dari badannya. Darah muncrat dan menggenangi lantai. Tetapi itu hanya sebagian dari rencana.

Ia kemudian berlari mengambil ulos ragi idup. Lalu berlari ke luar menuju tangga batu di depan rumah. Ia gali tanah di bawahnya. Ia temukan tengkorak almarhum suaminya yang dulu ditanamkan di situ sebagai upah kalah perang. Ia bawa tengkorak itu ke dalam rumah dan ia bungkus dengan ulos ragi idup tadi.

Lalu ia menatap kepala yang terpenggal dan berlumur darah. Hatinya sekelebat ragu. Apakah ia sesungguhnya pernah benar-benar mencintai pria ini? Atau dendamkah yang menyalakan tekadnya hingga sekian lama dapat berkasih-kasihan, tidur sepembaringan, hingga janin yang dikandungnya kini tinggal menunggu waktu melihat dunia? Ah, tak banyak waktu bagi perempuan itu untuk berpikir. Ia bungkus kepala itu dengan tikar. Dua kepala yang kini berbeda wujud –satu tengkorak dan satu kepala yang masih segar--, ia bungkus dan ia gendong. Ia keluar rumah di kegelapan malam itu. Menuju kampung halaman almarhum suami tempat pertama kali ia labuhkan hatinya.

Sekarang perempuan itu terduduk di sini. Di hadapan para tetua yang akan memutuskan nasibnya. Kemungkinan terburuk apa gerangan yang akan diterimanya?

Tidak. Nasib berpihak padanya. Perempuan yang telah dengan perkasa menebus kepala suaminya, dengan menebas kepala pembunuh suaminya, yang juga dipersuamikannya. Sebab, para tetua itu akhirnya berbulat kata. Mereka dapat menyelami perjuangan perempuan yang dulu mereka cap penghianat itu. Kini kebencian telah berubah jadi simpati, kagum dan hormat. Sebab, lelaki mana yang sanggup menahankan beban, mengorbankan perasaan dan menjalankan rencana pembalasan, sendirian, seperti yang telah dilakukan perempuan itu?

“Engkau telah membayar lunas dendam kami. Engkau telah memulihkan kehormatan kaum, marga dan desa kita, sama seperti engkau telah memulihkan kehormatanmu. Justru kami lah yang kini menanggung utang kepadamu. Katakan lah. Apa yang engkau inginkan dari kami,” seorang tetua berkata.

Perempuan itu masih saja tertunduk. Tak ia bayangkan dirinya akan mendapat kehormatan seperti ini. Bahkan ia selalu merasa dirinya sebagai orang yang patut diasingkan, dibuang, mengingat telah begitu banyak pelanggaran yang ia lakukan. Satu-satunya yang mengganjal di hatinya kini adalah janin yang dikandungnya. Ya, janin yang beberapa bulan lagi mungkin akan melihat dunia yang penuh kejutan ini. Siapa gerangan yang kelak akan menjadi ayahnya? Marga siapa kah yang kelak disandangnya? Leluhur mana yang nanti akan menjadi junjungannya?

“Jika saya masih diizinkan meminta, hanya satu yang saya mohonkan. Kiranya janin yang kini saya kandung, kelak bila lahir, sudilah diterima dan diperanakkan oleh marga. Hanya ini lah yang saya inginkan. Agar suatu waktu bila ajal tiba, saya bebas lepas,” perempuan itu mengucap dengan menghiba.

Permintaan itu dikabulkan. Bahkan lebih dari itu, para tetua desa menilai apa yang telah diperbuat perempuan itu dapat disetarakan dengan perbuatan para pahlawan-pahlawan marga yang pernah ada. Sehingga kedudukan perempuan itu pun dipulihkan dalam marga.



***

Si Amang terbatuk-batuk kini. Ia teguk air putih dari gelas yang ada di hadapannya. Kisah yang baru saja diceritakannya tampaknya banyak menguras energinya, begitu juga dengan gadis berambut merah marun di sampingnya. Perempuan belia itu tampak tercenung. Telapak tangannya menopang dagunya seolah masih sulit mencerna apa yang baru saja didengarnya. Ayah si gadis di seberang meja, juga tak bisa menutupi kabut di wajahnya. Agaknya ayah dan anak itu masih bingung menerima kisah keperkasaan perempuan yang seperti itu.

“Ehm. Kalau keperkasaan seorang wanita diukur dengan seberapa berani ia membayar kepala dengan kepala, kayaknya nggak zamannya lagi deh…..” si rambut merah marun akhirnya memberi komentar. “ Ya, kan Pap?” katanya kepada ayahnya, seolah ingin cari teman mendapatkan dukungan.

Si Ayah terperangah disodori pertanyaan yang mengejutkan itu. Tetapi segera ia menguasai dirinya. “Iya ialah. Tak zamannya lagi kepala ganti kepala. Kayak di hutan saja,” katanya sambil mengarahkan wajah kepada si Amang..

Si Amang ikut tersenyum menyaksikan reaksi kedua pendengarnya. Walau ia tahu ada nada kritik pada komentar mereka, ia sudah cukup bahagia melihat keduanya menyimak kisah yang telah dituturkannya. “Kalian boleh memberi tafsiran sendiri-sendiri tentang apa arti keperkasaan perempuan. Juga dalam cerita yang baru saja kalian dengar. Tetapi, ada satu alasan lagi kenapa kisah itu saya pergunakan untuk menggambarkan keperkasaan wanita,” kata si Amang.

“Silakan, teruskan lah bercerita….” Serentak saja pria setengah baya dan si rambut merah marun membalas.

Lagi-lagi si Amang tersenyum, meneguk air putih dari gelas yang seperempat penuh. Dan, kali ini, ia agaknya sudah lebih rileks untuk melanjutkan ‘kuliah budaya’ di tengah malam di ‘negeri orang’ itu.



***


Dalam silsilah Batak, umumnya marga seorang ibu tidak pernah disebut. Silsilah Batak adalah kisah tentang para pria. Garis keturunan ditentukan oleh laki-laki. Anak perempuan, menurut adat, kawin dan kemudian menjadi bagian dari keluarga suami. Marga laki-laki lah yang akan diturunkan kepada generasi selanjutnya, sementara marga ibunya jarang disebut.

Maka tidak perlu diherankan bila pria Batak selalu mendambakan anak laki-laki. Tak sempurna rasanya bila tidak memiliki generasi penerus. Bahkan ada sebagian orang menganggapnya aib. Mereka yang tak mempunyai anak laki-laki tak wajib memelihara silsilah bahkan tak berhak membuatnya. Pada banyak kasus, sering kali seorang pria menikah lagi dengan alasan untuk memiliki anak laki-laki.

Namun, sebagaimana juga pada semua hal di dunia ini, sering kali ada penyimpangan. Ada belokan-belokannya yang sering mengherankan. Sejarah rupanya tidak selalu merupakan jalan buntu. Ia bisa juga menyediakan jalan keluar yang tak pernah terduga sebelumnya. Dan, itu lah yang terjadi pada kisah perempuan yang baru saja dikisahkan.

Perempuan itu dikenal sebagai Boru Sangkar Sodalahi. Suaminya yang telah ia tebus kehormatannya dengan memenggal kepala orang yang membunuhnya, bernama Tuan Sipallat. Tuan Sipallat adalah putra ketiga dari Ompu Tuan Situmorang, yang namanya hingga saat ini diabadikan dan secara turun-temurun sebagai marga Situmorang. Leluhur mereka dipercaya hidup di negeri Urat di Pulau Samosir, di suatu waktu di suatu masa.

Syahdan, setelah insiden penggal-memenggal kepala itu, tiba lah waktunya bagi Boru Sangkar Sodalahi melahirkan janin yang dikandungnya. Dan ternyata bayi laki-laki, yang diberi nama Marsaitan. Bayi itu sesungguhnya adalah hasil dari perkawinan perempuan itu dengan kepala suku yang membunuh suaminya. Namun karena perempuan itu telah kembali ke tengah marga, dan para tetua adat telah berjanji menerima bayi itu sebagai anak mereka, diadakan lah upacara peneguhan marga bagi Marsaitan. Ia diterima sebagai bagian dari Situmorang.

Uniknya, oleh para generasi penerusnya di kemudian hari, bukan hanya Marsaitan yang diabadikan dalam urutan silsilah. Perempuan perkasa itu, si Boru Sangkar Sodalahi pun ikut tercatat sebagai leluhur agung. Si Boru Sangkar Sodalahi diberi gelar Si Ulubalang Soba, yang yang dianggap ikut menduduki tempat tertinggi bersama dewa-dewa hidup kekal, yang ikut mengatur nasib para keturuananya di bumi ini untuk selama-lamanya.

Sebenarnya, si Boru Sangkar Sodalahi dengan gelar Si Ulubalang Soba bukan lah satu-satunya perempuan yang tercatat dalam silsilah Batak. Ada beberapa nama lagi yang selalu disebut manakala merujuk satu silsilah marga tertentu. Artinya, dalam silsilah Batak yang seringkali diidentikkan dengan monopoli kaum pria, terselip juga perempuan-perempuan yang ‘berhasil’ mengabadikan namanya.

“Dan, pesan itu lah yang ingin saya sampaikan kepada kalian, yang lebih muda di zaman modern ini,” kata si Amang sambil mengarahkan pandangan kepada si pria setengah baya dan si rambut merah marun. “Di zaman dahulu pun perempuan sudah bisa menunjukkan keperkasaannya. Sekarang, ketika pandangan mengenai kedudukan pria-wanita sudah banyak berubah dan makin baik, tentu akan lebih banyak lagi kesempatan bagi perempuan menunjukkan keperkasaannya, memperjuangkan agar namanya kelak diingat dalam silsilah. Mungkin bukan pekerjaan ringan. Tetapi selalu ada jalan,” kata si Amang, mengakhiri ceritanya.

Si rambut merah marun kali ini manggut-manggut. Ia menatap ayahnya dengan manja seraya berkata, ‘Nah, Pap, sudah dengar kan? Makanya jangan suka beda-bedain anak laki sama perempuan dengan alasan tradisi. Apa saya harus penggal dulu kepala orang, baru diberi kesempatan?” katanya sambil menncibirkan bibirnya ke arah ayahnya. Ayahnya nyengir kuda saja. Ia tahu, ia tidak pernah bisa berkata tidak kepada putri semata wayangnya itu.

Malam makin larut di San Fransisco.


Ciputat, 24 Mei 2008

Catatan: (1) Kisah Si Boru Sangkar Sodalahi ini digubah dan direwrite dari otobiografi Sitor Situmorang, Sitor Situmorang, Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba, penerbit SH, 1981. Dalam buku itu, Sitor Situmorang mengaku sebagai keturunan generasi ke 13 Marsaitan.
(2) Di sana-sini sangat mungkin ada kesalahan penafsiran dan visualisasi dalam rewriting kisah ini. Mohon maaf, dan bila ada masukan, diterima dengan tangan terbuka
(3) foto diambil dari http://ronnysiagian.files.wordpress.com/2008/02/bah.jpg, setelah googling dengan kata batak's woman

Glossary:
Amang: bapak, ayah, sapaan hormat kepada seseorang yang seumur dengan ayah kita.
Tarombo: silsilah
Hali-hali: perhitungan, akal, nalar, contoh: Tak sampai hali-halikku, artinya, tak sampai otakku, tak sampai nalarku.
Ito: sapaan seorang laki-laki kepada perempuan yang sepantaran. Namun seringkali juga Ito dipergunakan untuk menyapa perempuan yang baru kita kenal.
Umpasa: peribahasa, pepatah-petitih Batak. Sering digunakan dalam percakapan formal, sebagai pendahuluan dari penyampaian maksud dan tujuan.
Sattabi: Maaf

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...