Sunday, June 08, 2008

Noa dan Abed




Oleh account Yahoo, surat itu digolongkan SPAM. Dan karena itu diteruskannya lah dia ke folder SPAM di akun surat-e saya. Tetapi menyimak nama pengirimnya yang terdengar keren, Common Ground News Service (CGNews), goyah juga pikiran ini untuk segera men-delete-nya. Dan, untung lah. Sebab, rupanya tak semua yang dikategorikan SPAM itu otomatis surat sampah. Ada juga 'berlian'. Seperti yang dari CGNews itu. Dengan surat itu, saya jadi tahu bahwa CGNews adalah kantor berita yang patut dipromosikan. Sebab tujuannya luhur; mempromosikan pandangan konstruktif dan dialog tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-Israel & Muslim-Barat. Disebutkan pula, CGNews tersedia dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, Yahudi, Indonesia, dan Urdu. Sedap kan?

Salah satu artikelnya yang tampaknya relevan untuk orang-orang di kampung halaman saya, Sarimatondang, dewasa ini (mungkinkah di kampung Anda juga?) adalah artikel yang secara bersama-sama ditulis oleh Noa Epstein dan Abed Eriqat. Noa adalah seorang pelajar Israel, dan Abed, seorang pengacara Palestina. Keduanya bercerita tentang bagaimana persahabatan mereka selama lima tahun semakin kuat saat mereka berada di AS, bepergian bersama sambil mempromosikan program dialog Israel-Palestina. Asyik kali ya?

Yuk, kita simak tulisan mereka, yang dilansir CGNews, 3 Juni 2008.

-Pandangan Kaum Muda- Menit-menit Berlalu dan Dunia Terberai
Oleh Noa Epstein dan Abed Eriqat

Tel Aviv/West Bank – Ketika Anda tinggal di tempat yang berjarak sepuluh menit – tapi di dunia yang berbeda – satu sama lain, Anda masih bisa belajar hal-hal penting tentang masing-masing, bahkan setelah persahabatan selama lima tahun dan tak terhitung jumlah jam yang dilalui bersama.

Saya dan Abed bepergian bersama selama seminggu lebih di AS untuk mempromosikan program dialog Israel-Palestina kami kepada masyarakat Amerika. Selama itu kami menemukan banyak hal baru tentang masing-masing, serta tentang konflik yang mempengaruhi keseharian kami. Di atas semuanya, kami menemukan bahwa dialog – bahkan di antara aktivis perdamaian yang berkomitmen seperti kami sendiri – dapat memperkuat persamaan kami dan keyakinan kami tentang kelangsungan perdamaian antara negara kami.

Kami bertemu lima tahun yang lalu di kemah musim panas di AS yang mengumpulkan anak-anak Arab dan Yahudi untuk belajar tentang masing-masing dan tentang perdamaian. Setelah kemah selesai, persahabatan kami terus berlanjut dan dua tahun lalu kami membuat program dialog Israel-Palestina bagi profesional muda.

Kami menghabiskan waktu puluhan jam untuk membuat perencanaan dan mengorganisir seminar-seminar intensif bagi pelajar Israel dan Palestina. Kami mendiskusikan politik sambil minum cappucino di Israel dan sambil menyesap kopi cardamom Arab di West Bank. Kami membantu para pelajar Israel dan Palestina membuat draft rekomendasi untuk para negosiator perdamaian dan mengorganisir rapat gabungan. Kami terus mendapatkan wawasan baru dan menikmati percakapan ekstensif kami sambil bepergian melintasi Amerika Serikat.

Saya, Noa, tergerak ketika mendengar teman Palestina saya, Abed, menjelaskan bahwa baginya, bekerja dengan orang Israel seperti saya untuk menyokong perdamaian merupakan bentuk “resistansi” terhadap pendudukan West Bank oleh Israel.

Abed tumbuh sambil melemparkan batu kepada tentara Israel di desa kecil Abu Dis di West Bank—hanya beberapa menit dari rumah saya di Yerusalem Barat. Itu merupakan bentuk resistansi yang dihargai oleh teman-temannya, dan ketika dia terlibat dalam dialog dengan orang-orang Israel, sebagian teman-temannya menjauhi dirinya. Di kampus, aktivis Hamas memasang plakat yang menggambarkan dia sebagai penghianat yang menormalkan hubungan dengan orang-orang Israel secara prematur. Tapi bagi Abed, seorang patriot Palestina, berhubungan dengan mitra Israel untuk perdamaian adalah bentuk perlawanan yang lebih konstruktif.

Bagi saya, Abed, melakukan perjalanan ini bersama Noa memperkuat anggapan bahwa empati dan kasih sayangnya bagi orang-orang Palestina tidak perlu dibingungkan dengan tekadnya bahwa Israel tetaplah negara demokratis Yahudi, yang tidak bisa mengijinkan kembalinya para pengungsi Palestina dalam jumlah tak terbatas. Noa adalah warga Israel yang setia, dan dia ingin membangun rumah di Israel yang aman dan kuat – baik dalam arti fisik maupun moral. Saya percaya dengan hak moral warga Palestina untuk kembali ke rumah-rumah mereka, terutama mereka yang terlantar akibat didirikannya Israel pada 1948. Namun saya mengakui bahwa implementasi penuh dari hak ini tidak realistis, dan berkeras untuk hal itu merupakan resep bagi konflik yang berkepanjangan.

Perjalanan ini menginspirasi kami berdua, dan kami tersentuh oleh dukungan kuat Amerika bagi pesan menang-menang kami. Sebagian kaget dengan gagasan bahwa warga Israel memiliki kepentingan keamanan nasional untuk mengamankan berdirinya negara Palestina yang merdeka, dan orang-orang Palestina memiliki kepentingan kolektif yang sama terhadap negara Israel yang percaya diri dan aman. Faktanya adalah bahwa kesejahteraan kami di masa depan, penantian kami akan kenormalan, martabat dan kebahagiaan, saling menjalin. Bagi masing-masing dari kami, masa depan kami tergantung pada mempertahankan kepentingan vital negara kami sambil tidak memuaskan kegelisahan kolektif tetangga kami.

Saya, Noa, senang menerima undangan dari Abed untuk menghadiri pernikahannya musim panas ini. Sulit dipercaya bahwa pria muda yang saya temui sebagai remaja bertahun-tahun yang lalu kini memulai keluarga. Saya berbahagia untuknya. Namun, saya tahu bahwa ketika saya melintasi dinding batu yang memisahkan Yerusalem dari Abu Dis dalam perjalanan saya ke pernikahan itu, saya akan memikirkan tentang realitas di mana anak-anak Abed, dan anak-anak saya, akan tumbuh besar. Apakah mereka akan terhisap ke dalam konflik kejam berkepanjangan ini? Atau apakah mereka juga akan berusaha untuk mengumpulkan teman-teman mereka – seperti kami – untuk menciptakan konstituen bagi perdamaian?

Kami berharap anak-anak kami tak perlu melakukan keduanya. Program dialog kami untuk aktivis politik – sederhana saja – mendorong pemuda untuk menuntut dan mempertahankan perjanjian damai masa depan antara negara kami. Dengan memperluas program ini (kami sudah punya daftar tunggu yang panjang untuk sesi dialog mendatang), kami mungkin memberikan anak-anak kami sebuah lingkungan baru di mana persahabatan merupakan hasil dari perdamaian, bukan alat untuk mencapainya.

###


* Noa Epstein, seorang pelajar Israel, dan Abed Eriqat, seorang pengacara Palestina, merupakan mitra-direktur program Dialog Pemuda Peace Now. Peace Now adalah gerakan perdamaian Israel yang tertua dan terbesar. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...