Sunday, July 06, 2008

Anak-anak Dorkas



Terpisah dari ayah-ibu dan jauh dari rumah pasti lah mimpi buruk bagi kebanyakan anak-anak. Rumah adalah tempat perteduhan yang terindah. Di sana ia direriungi orang-orang terkasih yang ia akrabi. Tempat dirinya dapat diterima seutuhnya-- dengan segala kelucuan dan kebengalan kanak-kanaknya. Jauh dari rumah, jauh dari sanak-keluarga yang serba mau mengerti itu, pasti tak pernah terbayangkan oleh setiap anak kecil.

Tetapi anak-anak kecil sering terlalu lemah untuk dapat memilih yang diinginkannya. Dan karena itu banyak anak-anak di dunia ini harus juga menghadapi mimpi buruk semacam itu. Bukan hanya karena keadaan yang memaksa, misalnya karena mereka anak terlantar yang sebatang kara di bawah jembatan, atau anak-anak yatim piatu oleh satu dan lain sebab, atau mereka yang berlatar-belakang keluarga retak dan karena itu harus terpaksa 'mandiri' di usia dini. Ada juga yang justru dalam keadaan yang berkecukupannya seorang anak harus terpisah dari kedua ayah-ibunya. Perjalanan mengarungi mimpi buruk itu justru dengan sengaja dipilihkan buat dia sebagai cara untuk mendewasakan.



Pada suatu pagi di tahun 1957, usia Pangeran Charles baru sembilan tahun ketika ia harus meninggalkan Kastil Balmoral. Bagi keluarga Kerajaan Inggris, ada empat istana yang bisa disebut sebagai rumah; Istana Buckingham, Kastil Windsor, Sandringham House di Norfolk dan Balmoral di Skotlandia. Yang disebut terakhir adalah tempat keluarga Kerajaan secara rutin menghabiskan musim panas. Dan pagi itu dari sana lah sang Pangeran harus berkemas-kemas. 'Pergi' dan harus terpisah dari sanak-saudara. Ke sebuah tempat dimana ia diharapkan dididik jadi orang mandiri.

Tempat yang ditujunya bernama Cheam. Ini adalah sebuah sekolah elit di kawasan Berkshire, 20 mil sebelah Utara London. Setelah melalui pertimbangan beberapa bulan, sekolah Cheam dipilihkan kedua orang tuanya bagi Pangeran, mengikuti jejak ayahnya yang dulu semasa kanak-kanak juga dididik di sini. Di sekolah ini Charles akan bergabung dengan 85 orang anak-anak berusia delapan hingga 14 tahun, tinggal di asrama dengan disiplin dan keamanan yang ketat.

Cheam adalah sebuah sekolah tua, mahal dan terhormat. Didirikan di abad 17 ia memang benar-benar ditujukan 'for education of the sons of nobleman and gentry.’ Anak-anak keluarga ningrat dari seantero dunia banyak yang merupakan jebolan sekolah ini. Tak heran bila Cheam kerap juga dijuluki The Little House of the Lords. Pada tahun 1930, seorang pangeran Yunani berumur sembilan tahun dan hidup di pengasingan di Paris, dikirim untuk dididik di sekolah ini. Pangeran itu kelak bernama Prince of Philips, yang tak lain dari ayah Charles sendiri.

Pangeran Philips sendiri lah yang tampaknya bersikeras agar Charles menempuh pendidikan di almamaternya itu. Sebagaimana Philips mengatakannya di kemudian hari, bahwa Cheam adalah sekolah yang tepat bagi sang Pangeran meskipun banyak orang menyoroti eksentriknya sistem di sekolah itu. ”Di rumah anak-anak jadi manja,” kata Philips, “sedangkan sekolah (Cheam) mengajarkan mereka disiplin secara spartan dalam mengembangkan diri untuk bisa mengontrol diri sendiri (self control), bijak dan mandiri.”

Di hari pertama memasuki sekolahnya, Charles tiba pukul 06:15 dengan diantarkan kedua orang tuanya, Ratu Elizabeth dan Pangeran Philips. Di pintu gerbang utama sudah banyak orang berkerumun sejak dini hari untuk menyaksikan dari dekat pewaris tahta Inggris itu memulai harinya sebagai anak sekolah. Dengan didampingi kepala sekolah, ayah-ibu Pangeran Charles diantar berkeliling sekolah itu, termasuk melihat dan menjenguk kamar yang disediakan bagi sang Pangeran menghabiskan masa 'sekolah dasar'nya. Setelah itu, Ratu dan Pangeran Philips mohon diri dan meninggalkan Charles memulai hidup 'mandiri'-nya.

Dan, mimpi buruk itu pun dimulai lah. Bagaimana pun seorang pangeran adalah juga manusia. Punya rasa sedih bila tercerabut dari orang-orang yang disayanginya. Dan tidak lah mengherankan bila di hari pertama itu air mata Charles berlinang menyadari kesendiriannya. Sambil mengeluarkan satu per satu pakaian dari kopernya dan meletakkannya di satu dari tujuh ranjang besi di kamar asrama yang dingin dan besar itu, sulit baginya untuk tak merasakan rindu rumah.

Bukan hanya hari pertama itu hari tersulit bagi Charles. Dengan hanya boneka Teddy Bear yang bisa dijadikannya sohib akrabnya, bantal tempat ia merebahkan kepalanya kerap masih basah di pagi hari oleh bekas air mata kesedihannya. Disiplin di sekolah Cheam itu sebenarnya bukan hal asing bagi Charles. Di Istana pun, ia sudah terbiasa dengan disiplin pengendalian diri; untuk tidak menunjukkan emosi, selalu sopan dan ramah. Namun tetap saja ia tak dapat menyembunyikan perasaannya.

Charles yang intovert, sering menemukan kesulitan untuk bisa bercengkerama dengan kawan-kawannya sesama 'anak-anak Cheam'. Pada suatu hari, guru Matematika-nya menemukan Charles terduduk sendirian, sedangkan murid-murid lain pergi bermain dengan geng-nya masing-masing. Charles merasa terasing, diacuhkan dan dikucilkan. Dan, di kemudian hari ketika ia ditanyai mengenai kejadian itu, Pangeran itu tak ingin menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. “I'm not a gregarious person so I've always had a horror of gangs..... I have always preferred my own company or just a one to one.”

Lima tahun Charles tinggal di Cheam dan menjadi bagian dari anak-anak Cheam. Di tahun terakhir, ia terpilih menjadi ketua para siswa. Setelah melewati masa-masa sulit, rupanya Charles banyak mengalami kemajuan. Ia terpilih menjadi ketua, bukan saja karena telah menunjukkan talenta akademis yang luar biasa –di bidang olah raga mau sebagai pemimpin potensial-- tetapi juga karena kualitas karakternya yang sangat mengesankan staf sekolah tersebut. Walau ia agak kesulitan dalam Matematika, ia hebat dalam Bahasa dan Sastra Inggris, sport dan main teater. Ia ikut dalam tim sepak bola dan cricket. Aktingnya sebagai Duke of Gloucester dalam lakon The Last Baron dipuji oleh kritikus seni di surat kabar. Ia juga berhasil membuat pertemanan sejati dan langgeng sampai ia dewasa.

Tahun-tahun terakhir yang menorehkan beberapa catatan manis itu mungkin menjadi pertanda bahwa hari-hari Pangeran Charles di Cheam tak sepenuhnya mimpi buruk. Namun itu tak bisa menutupi kenyataan bahwa 'hati' sang Pangeran tidak pernah di sana.’ Bagi orang-orang yang mengenal dekat dirinya, sangat jelas bahwa hati sang Pangeran selalu berada di 'rumah.' Ratu Elizabeth tahu. Teman-temannya pun tahu. Seperti dituturkan oleh seorang kepercayaannya, sang Ratu sejak awal mengerti 'bahwa tahun-tahun awal di Cheam adalah masa-masa yang penuh sengsara bagi Pangeran.' Seorang sahabat Charles bahkan lebih ekstrim berkomentar, bahwa sang Pangeran hanya buang-buang waktu saja di Cheam.


***


Hati yang selalu berada di rumah,’ darimanakah sesungguhnya manusia menemukan perasaan semacam itu?

Saya selalu tergoda mempertanyakannya setiap kali ingat secuplik kisah yang pernah saya baca pada biografi Pangeran Charles yang setebal bantal itu (746 halaman, karya Jonathan Dimbleby, 1994). Saya sering berpikir-pikir, apakah ‘hati yang selalu ingin berada di rumah’ itu merupakan sifat alamiah manusia yang sudah ada sejak ia ada, atau itu diperolehnya karena tempaan peradaban?

Dulu sekali guru sejarah pernah mengajarkan bahwa ‘nenek moyang kita,’ yakni para manusia purba, hidupnya berpindah-pindah. Cari makan dari berburu. Tinggal dari satu gua ke gua lainnya. Nah, bila anak-cucunya di kemudian hari –yakni kita-kita ini-- selalu punya ‘hati yang selalu ingin berada di rumah,’ darimanakah datangnya keinginan itu? Apa atau siapa yang membawa perasaan itu kepadanya?

Atau jangan-jangan saya lah yang berbeda membayangkan rumah dalam hal ini. Jangan-jangan memang manusia sudah sejak ia ada punya ide tentang ‘rumah’, yakni sesuatu dimana kita merasa aman, nyaman, diterima, direriungi oleh orang-orang terkasih, yang mengerti kita seutuhnya. Dan karena itu rumah dalam pengertian ini bisa mengambil rupa bermacam-macam; mulai dari rahim seorang ibu tempat janin merasa aman dan nyaman, rumah kardus di tepi kali yang hitam kental dan bau, rumah minimalis yang minimal segala-galanya, sehingga untuk menjemur pakaian pun tiada tempat, atau real estate bertipe hacienda yang bisa melangsungkan pesta kawinan dengan undangan 500 orang, hingga istana megah seperti Balmoral yang hanya sibuk dan riuh di musim panas.

Pertanyaan ini bersiliweran kembali di benak saya karena Minggu, 29 Juni lalu, saya mendapatkan sebuah buku secara cuma-cuma. Di awal ibadah di GKI Kwitang, terdengar pengumuman dari mimbar bahwa siapa saja yang berminat bisa memperoleh sebuah buku yang baru terbit secara gratis. Nanti ketika ibadah rampung, buku itu dapat diperoleh di pintu keluar. Nah, saya yang punya hobi amatiran mengoleksi buku-buku apa saja, tentu menyambutnya secara antusias. Dan, tanpa bisa menyembunyikan sifat norak ala anak Sarimatondang, semenit setelah kebaktian usai, saya berlari menuju pintu keluar. Tak lama kemudian sebuah buku bersampul hijau sudah di tangan saya. Judulnya: peliharalah apa yang telah dipercayakan padamu (ya, tidak ada yang salah dalam judul itu, memang semuanya berhuruf kecil).

Buku itu diterbitkan dalam rangka 120 tahun DORKAS. Sebagian besar isinya bercerita tentang DORKAS. Dan, bila bicara DORKAS, tak boleh tidak, saya selalu tak bisa menghindar dari merenung-renung tentang hakekat sebuah ‘rumah.’ Sebab DORKAS memang adalah sebuah rumah.

DORKAS adalah sebuah Panti Asuhan. Berdiri tahun 1888, mulanya ia diprakarsai oleh ibu-ibu aktivis Gereformeerde Kerk in Batavia (cikal bakal GKI Kwitang). Tujuan awal pendiriannya adalah untuk menolong keluarga-keluarga Indo-Eropa yang hidup miskin di kampung-kampung. Saat itu banyak anak Indo yang terlantar karena ditinggalkan oleh ayahnya yang kembali ke Eropa. Pada perjalanannya selanjutnya DORKAS memberi priortas pelayanan kepada anak-anak yatim piatu dan terlantar, anak-anak yatim atau piatu, dan juga anak-anak dari keluarga bermasalah. Saat ini di umurnya yang sudah 120 tahun, DORKAS menampung sekitar 50 anak putri dari tingkat TK sampai dengan kelas III SMK. Anak yang dapat diterima di panti ini dibatasi mulai dari umur empat hingga sembilan tahun.

Di usianya yang sudah setua itu, telah banyak yang dicapai panti ini. Walau pun ia tak pernah berhenti bergumul dengan banyak persoalan, termasuk bagaimana membiayai kegiatan-kegiatannya sehari-hari yang masih sangat tergantung dari para donatur, DORKAS tetap survive bahkan menjadi contoh bagi panti lain. Dalam buku tentang DORKAS itu, ada banyak catatan yang menunjukkan bagaimana panti itu kerap menjadi pelopor dalam program pelatihan mau pun proyek percontohan pengelolaan panti asuhan. Termasuk ketika di panti ini lah diperkenalkan group system atau sistem asuhan kelompok, dimana anak besar ‘mengasuh’ adik-adiknya. Sistem ini di kemudian hari diperkenalkan dan diterapkan di panti-panti lain. Sepanjang 1970-1973, DORKAS merupakan mitra kerja Badan Kerjasama Panti-panti Asuhan (BKSPA) dalam berbagai proyek-proyek yang bersifat try out.

DORKAS dalam benak saya bukan terutama oleh rinciannya yang panjang dan menyejarah itu. Seandainya ada semacam kuis dengan pertanyaan, ‘apa yang Anda ingat pertama kali bila mendengar kata DORKAS?’ maka yang pasti segera muncul dalam pikiran saya adalah wajah-wajah sekumpulan anak-anak dan remaja perempuan, dengan seragam mereka berwarna krem lembut –sebagian ada yang sudah kusam—berdiri dan berbaris, lalu dalam paduan suara mereka bernyanyi di hadapan jemaat GK Kwitang, dengan nada-nada yang kadang sulit tapi kadang juga jenaka penuh improvisasi, dan selalu lah paduan suara mereka berhasil memberi warna pada ibadah ala gereja Calvinist yang hening dan serba tertata itu. Paduan suara anak-anak DORKAS itu jelas lah bukan sekadar paduan suara. Dari cara mereka membawakan lagu-lagu yang sederhana mau pun sulit, siapa pun akan mendapat kesan bahwa suara yang yang mereka lantunkan itu pasti lah hasil tempaan latihan yang serius.

DORKAS makin ‘mencuri’ perhatian keluarga kami karena beberapa diantara anak-anak penghuni panti asuhan itu adalah teman sekelas putri kami di Sekolah Minggu. Sekali-dua kali, putri kami itu bercerita tentang teman-teman sekolah minggunya. Termasuk teman-teman ‘anak DORKAS’—nya. Dalam perjalanan waktu, kami bahkan menjadikan ‘anak-anak DORKAS’ itu sebagai semacam benchmark. Kami yang tinggal di Ciputat dan harus menghabiskan waktu setidaknya satu jam perjalanan menuju gereja itu, sering kali merasa was-was apakah kami sudah terlambat tiba. Tetapi putri kami akan segera merasa lega, bila melihat bahwa anak-anak DORKAS masih berada di luar ruang kelas. Itu pertanda bahwa sekolah minggu belum dimulai. Sebab, putri kami sudah tahu bahwa biasanya anak-anak DORKAS lah yang paling awal tiba. Jika mereka masih berada di luar kelas, berarti masih banyak lagi anak sekolah minggu yang belum hadir.

Karena kami sering juga tiba kepagian, beberapa kali saya sempat memperhatikan bagaimana ‘anak-anak DORKAS’ itu datang beramai-ramai ke Sekolah Minggu. Panti Asuhan DORKAS terletak di Jl. Wahid Hasyim, kurang lebih 1 km dari gereja. Dan biasanya rombongan anak-anak DORKAS tiba dengan menumpang dua sampai tiga bajaj. Ketika bajaj itu berhenti di tepi jalan raya di depan gerbang Sekolah Minggu, satu per satu mereka turun. Dalam tiap bajaj termuat tiga sampai empat anak. Umumnya di tiap bajaj ada seseorang yang lebih ‘senior’ dan dia lah yang kerap menjadi pembimbing sekaligus memastikan apakah semua anak-anak sudah turun dengan tidak kurang suatu apa.

Di saat-saat tertentu, pernah juga kami melihat anak-anak DORKAS itu pulang dari Sekolah Minggu dengan berjalan kaki. Dari kejauhan kami dapat menyaksikan wajah-wajah polos tetapi ceria mereka, kadang-kadang sambil bergandeng tangan tetapi sering juga saling dorong dan bercengkerama. Menyaksikan pemandangan yang demikian itu, tak bisa tidak, pikiran segera tergoda untuk bertanya-tanya, apa sebenarnya arti pulang bagi anak-anak itu? Apakah pulang bagi mereka punya pengertian sama dengan anak-anak lain, yakni kembali ke rumah, tempat orang-orang terkasih telah menunggu kehadiran mereka, atau pengertian semacam itu justru jadi mimpi buruk bagi mereka?



***


Pernah saya membaca sebuah buku berjudul Surat untuk Mama. Buku itu ditulis oleh Dra V. Dwiyani (Elexmedia Komputindo, 2003), merupakan himpunan dari kurang lebih 70 surat dari anak kepada ibunya. Ada satu surat yang unik, bila ditilik dari masalah yang digambarkannya. Surat itu datang dari seorang anak bernama Indah.

Buat Mama Kandungku yang Tidak Aku Kenal!
Papa, Mama, aku ngerti sebenarnya Papa dan Mama masih hidup. Walau pun saya tidak tahu Mama dan Papa ada dimana. Tapi saya tahu Mama dan Papa sudah berpisah. Aku tau kok, Nenek banyak cerita (…)

Mungkin memang saya harus terlahir menderita ya Ma? Tapi ijinkan saya bertanya, mengapa saat aya lahir saya diberikan kepada Nenek? Lalu pada umur 7 tahun saya dijual kepada orang lain? Lalu orang itu menjual saya lagi, demikian seterusnya sampai akhirnya saya bertemu dengan orang tua saya yang sekarang. Orang tua saya sekarang ini lebih menghargai kehidupan saya di dunia. Meski hari-hari kulalui dengan penderitaan, rotan yang selalu melukai tubuh ini, tetapi selalu saya terima dengan lapang dada.

Mama, mengapa ketika saya kelas V SD, Mama datang dan membuka album kenangan di dalam memori hatiku? Mengapa Mama muncul di kehidupanku ini padahal sudah berusaha kubuang jauh-jauh semua tentang dirimu? (…) Tapi Ma, kini aku bukan milikmu lagi, memang akulah darah dagingmu tetapi engkau telah membuat goresan besar di hati kecilku.

Mama, sungguh berat berpisah denganmu. Sekarang kau pergi meninggalkanku untuk kedua kalinya, bagaimanapun aku harus berani tetap tinggal bersama orang tua angkat yang pasti menyayangiku walau dengan cambukan rotan di seluruh tubuhku. Menurut saya, cambukan rotan masih bisa disembuhkan daripada luka besar di hatiku karena telah kau terlantarkan di sepanjang hidupku (…)

Mama, sebenarnya di dalam hatiku yang paling dalam ingin kuucapkan tiga kata untukmu. Namun aku selalu malu jika mengucapkan itu dan tiga kata itu adalah ‘aku sayang padamu’ walau pun mama telah menolakku di kehidupanmu. Aku hanya bisa berdoa dan memohon, semoga kau di sana, entah dimana, selalu bahagia.

Dari putrimu yang menyayangimu,
Indah.
(Surat untuk Mama, hal 211-213)


Dalam buku peringatan 120 Tahun DORKAS itu pun, ada beberapa kisah yang menggugah, (selain tulisan ilmiah yang berkaitan dengan pengelolaan panti asuhan) yang mirip-mirip dengan kisah Indah. Diantaranya bercerita tentang anak-anak yang terlahir dari keluarga tidak mampu dan kemudian tinggal di DORKAS. Di satu sisi mereka mungkin tetap merindukan rumah dan kehangatan sebuah keluarga. Namun ketika mereka ‘pulang’ seringkali kenyataan yang ditemukan berbeda dari yang dibayangkan.

“bagaimana jika yang terjadi adalah munculnya perasaan asing ketika tiba di rumah, ditambah lagi melihat kondisi rumah hanya sepanjang kaki orang dewasa, berdiri tepat di atas selokan?… Rumah baginya bukan lagi istana, melainkan salah satu tempat yang harus dihindari. Jauh berbeda dengan tempat tinggalnya sekarang, Panti Asuhan DORKAS.

Dari usia kanak-kanak mereka ditaruh di tempat yang tidak dikenal sama sekali. Di dalam panti, di sini lah hari-hari anak dilalui.

Walau pun diawali dengan tangisan dan perasaan terasing, pada akhirnya anak akan menyesuaikan diri. … Dari kanak-kanak sampai dengan remaja, hidupnya terjamin. Tempat-tempat rekreasi rutin dikunjungi, bertemu banyak orang, bermain dan belajar…..

Anak yang dibawa ke panti memiliki berbagai latar belakang keluarga; keluarga miskin, anak yatim, anak piatu, yatim piatu, keluarga retak. Tidak dipungkiri bahwa kondisi yang serba kekurangan seringkali memicu seseorang atau sekelompok orang menjadi lebih tidak terkendali secara emosi. Dan hal ini lah yang seringkali dihadapi anak ketika mereka kembali dan berinteraksi di lingkungan keluarga, hal yang seringkali membuat anak tidak betah tinggal berlama-lama di rumah.”
(peliharalah apa yang telah diperayakan kepadamu, hal 151-153)


Merry, sejak umur 6 tahun sudah tinggal di DORKAS sampai kemudian ia lulus dari SMK. Ia mengenang DORKAS sebagai tempat dimana, ‘ketegasan dan kebijaksanaan serta kasih yang tulus kami dapati dari para pengasuh (Tuhan Memberkati Mereka.)’ Barangkali itu lah yang membuatnya bisa berkata, bahwa, ‘pada saat kami bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah, tak sedikit pun kami merasa minder, malahan kami semuanya berprestasi,’ Apalagi diantara sesama teman se-Panti Asuhan, ada perasaan senasib dan sepenanggungan, yang menyebabkan, ‘sifat saling menjaga itu sangat terasa ketika ada teman yang menggangu kami. Kawan-kawan pria secara spontan langsung melindungi kami, bahkan membela kami. Memang kami tidak sedarah, namun kami menjadi satu ketika kami tinggal di rumah DORKAS.’

Justru ketika kembali ke lingkungan keluarga lah, Merry merasa gamang.‘Kami mengulangi segalanya dari awal lagi.’ Kenyamanan di panti yang antara lain ditandai oleh pergaulan dengan kawan-kawan yang seumuran, tak lagi ditemukannya. ‘Di rumah kami harus bisa beradaptasi dengan tetangga, bahkan dengan mama kandung kami sendiri. Saya harus bisa mengerti dan memaafkan dia, dengan segala kekurangannya.'

Ternyata hidup di luar tidak segampang di DORKAS. Kami harus berhati-hati agar tidak menyakiti satu dengan yang lainnya, harus bisa mengerti jalan pikiran orang tua kami yang tidak kami jumpai bertahun-tahun, belum lagi teman-teman yang baru di sekitar kami… Rasanya hidup lebih rumit ketika kami berada di rumah kami yang sesungguhnya…..

Untungnya, kerumitan itu dapat dilalui, meskipun tak selalu dengan jalan mulus. ‘Masalah tidak pernah putus, namun kami yakin bahwa segalanya Tuhan sudah atur dan Ia jadikan segalanya indah pada waktu-Nya…. Harapan kami adalah rumah keluarga kami. Kami menginginkan keluarga yang harmonis dan bahagia, yang sampai saat ini masih kami coba wujudkan walau pun tidak gampang.’

Pada waktunya, Merry kemudian bekerja. Dimulai dengan pekerjaan dengan gaji yang –menurut dia—‘hanya’ Rp450 ribu, hingga kemudian sempat berpindah-pindah pekerjaan mulai dari staf administrasi, sekretaris dan kini menjadi sales eksekutif sebuah perusahaan terbesar di Tanah Air. ‘Sibuk sih sudah pasti, namun sebisa mungkin ketika ada berkat, saya teringat akan DORKAS. Mungkin pemberian saya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah diberikan DORKAS kepada saya, namun ada rasa indah ketika saya mampu berbagi…..’

Pernah terlintas di pikiran Merry kenapa ada orang yang begitu kejam, seperti orang-tuanya yang menempatkannya di panti asuhan. Tetapi ia tampaknya telah menemukan jawabannya. Dan jawaban itu ditemukannya di DORKAS. Di DORKAS ia diajari tentang kasih dan dibawa kepada Sang Mahakasih itu. Dan itu lah jawaban atas protesnya selama ini. ‘Mungkin kami tidak akan pernah mengenal arti kasih jika kami tidak berada di sana. Terimakasih DORKAS.”

***


Adakalanya saya beruntung, kebagian tempat duduk di depan ketika beribadah di GKI Kwitang dan bisa menyaksikan dari dekat paduan suara DORKAS bernyanyi. Di saat-saat seperti itu, selalu tak terhindarkan munculnya perasaan bersalah, tatkala mengingat-ingat 10 orang keponakan di kampung halaman yang sudah ditinggal ayah mereka sejak kecil. Mereka semua sudah tumbuh remaja, bahkan ada yang sudah dewasa. Hidup mereka tak bisa dikatakan mudah. Beberapa diantaranya terkenal bandel dan sering kena damprat. Dan saya belum berbuat apa-apa untuk mereka. Tetapi selalu ada alasan untuk bersyukur. Bahwa mereka masih direriungi oleh orang-orang terkasih, nun jauh di kampung halaman, di Sarimatondang. Sehingga mereka ‘mempunyai hati yang selalu berada di rumah,’ seperti juga yang selalu diupayakan DORKAS kepada anak-anak asuhnya.

Ciputat, 6 Juli, 2008


Catatan:
1. Bacaan dan Sumber Kutipan:
The Prince of Wales, a Biography, Jonathan Dimbleby, Warner Books, 1994.
peliharalah apa yang telah dipercayakan padamu, 120 Tahun DORKAS, Panti Asuhan DORKAS, 2008
Migrasi, Kolonisasi, Perubahan Sosial, Fikata, 1988
Surat untuk Mama, Dra. V. Dwiyani, Elexmedia Komputindo, 2003

2. Terimakasih kepada GKI Kwitang atas bagi-bagi buku gratisnya.
3. Panti Asuhan DORKAS beralamat di:
Jl. K.H. Wahid Hasyim No 24, Jakarta Pusat 10340
Telp. (021) 31923478; email: panti_dorkas@yahoo.com
Bagi yang tergerak membantu, dapat menyalurkannya melalui:
Bank Niaga Cab. Thamrin, rek no 008.0124278.006 a/n Perkumpulan Dorkas (Panti Asuhan).
4.Tulisan saya yang terkait dengan topik ini:
nyanyian haru di elim

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...