Monday, July 14, 2008

Batak Tembak Langsung

(warning: tulisan sangat panjang. lewatkan jika tidak berkenan)



Satu alasan lagi mengapa saya selalu merasa sebagai orang Batak norak dan ketinggalan zaman adalah bila ada percakapan tentang kota Medan. Tak banyak yang saya tahu tentang kota itu. Medan tak pernah terasa dekat, apalagi akrab. Ia selalu terbayang sebagai kota elit. Orang-orang Batak yang hidup dan bermukim di sana, dalam pikiran saya adalah orang Batak modern, mapan dan beradab.

Pernah sekali waktu kami serombongan wartawan dari Jakarta mengunjungi Medan dalam rangka peresmian rute penerbangan sebuah maskapai yang baru membuka operasinya di Tanah Air. Di waktu luang, rombongan kami mendapat kesempatan bepergian naik bis dari hotel tempat kami menginap dengan tujuan ke Berastagi dan Gundaling di Tanah Karo.

Tatkala bis yang kami tumpangi berkeliling kota, si pemandu wisata bertanya, siapa diantara kami yang berasal dari kota Medan. Beberapa teman wartawan langsung menunjuk ke arah saya, satu-satunya orang Batak dalam rombongan. Menyadari hal itu, si pemandu wisata segera meminta saya membantunya memandu perjalanan itu untuk menjelaskan apa saja yang dapat disaksikan dari atas bis. Saya malu sekali. Sebab ketidaktahuan saya tentang kota Medan terekspos begitu rupa. Saya tergugup-gugup ketika bis melintasi Istana Maimun dan si pemandu wisata menoleh kepada saya seraya berkata, “Itu istana Maimun kan, Pak Siadari?” Segera saya mengiyakan, walau saya tak begitu yakin. Untung saja kota Medan dengan cepat berlalu, dan bis itu melaju meninggalkan perbatasan. Saya pura-pura tertidur sepanjang perjalanan.

Bukan salah kota Medan jika ia menjadi asing bagi saya, orang Sarimatondang yang agak kuper ini. Pengalaman masa kecil lah yang mungkin penyebabnya. Di kala itu, Medan terasa begitu jauh karena alasan transportasi. Dari Sarimatondang, ia hanya bisa ditempuh dengan terlebih dahulu ke kota kabupaten terdekat, P. Siantar. Jika di zaman sekarang kota Siantar mungkin bisa dicapai hanya dalam setengah perjalanan, dulu, bisa makan waktu satu jam (kalau bisnya tidak ngetem dulu atau mogok di tengah jalan). Belum lagi jadwal perjalanan bis ke Siantar mirip-mirip dengan frekuensi makan obat (3 x sehari).Lalu, dari P. Siantar ke kota Medan masih makan waktu empat jam atau lima jam lagi. Artinya, untuk perjalanan pulang-pergi saja, bisa seharian di atas bis dan di halte. Tentu itu bukan alasan yang praktis untuk menjadikan kota Medan sebagai tujuan perjalanan, bila tak penting-penting betul.

Ada alasan lagi yang membuat Medan jadi terasa elit. Ia selalu jadi kota tujuan wisata bagi siswa-siswa SD mau pun SMP yang telah menamatkan studinya. Bagi saya dan mungkin juga kebanyakan kawan-kawan seusia, itu berarti selalu sebuah penantian panjang. Lamat-lamat saya masih ingat tatkala di kelas tiga SD, kami para anak-anak kampung berduyun-duyun pergi ke lapangan sepak bola tak jauh dari rumah kami. Di jalan besar di dekat lapangan itu, telah berbaris lima sampai enam bis, yang akan membawa anak-anak kelas enam SD dan kelas III SMP berdarmawisata karena telah menamatkan pelajaran mereka. Umumnya tujuan perjalanan adalah ke Parapat di tepi Danau Toba, Berastagi di Tanah Karo dan….. tentu saja, kota Medan.

Seraya takjub melihat begitu banyaknya bis pada hari itu (dan bis yang mereka tumpangi bukan lah bis yang biasa bersiliweran di Sarimatondang, melainkan bis dari kota dengan nama-nama keren, semisal, Medan Raya Tour, Siantar Express, Sepadan), dalam hati ada gejolak yang tak terucapkan. Yakni perasaan tak sabar, kapan diri ini akan segera lulus SD dan bisa berdarmawisata, seperti yang akan dinikmati oleh siswa-siswi yang kami antarkan pagi itu.

Beberapa hari sebelumnya, kerepotan-kerepotan mempersiapkan diri untuk berdarmawisata ke ‘Medan’ itu sudah terasa di tiap-tiap rumah siswa yang akan berangkat. Pakaian terbaik telah jauh-jauh hari disiapkan. Bagi anak laki-laki, ini lah kesempatan yang ditunggu-tunggu untuk bisa bercelana panjang, sebab dalam darmawisata ini tidak ada kewajiban memakai seragam sekolah. Uang jajan yang lumayan besar sudah pasti akan tersedia. Bahkan tabungan yang terbuat dari bambu pun, boleh dibobol untuk kepentingan darmawisata itu. Orang tua siswa tak kalah sibuknya. Seraya dengan sikap siaga satu looking forward akan perjalanan yang ‘bersejarah’ itu, di hari pekan mereka ke pasar untuk membeli rantang baru, tempat bekal bagi anak-anak yang akan berangkat.

Barangkali kerepotan-kerepotan semacam itu lah yang turut menancapkan kesan ‘wah’ dan megahnya kota Medan di benak saya. Ke kota Medan tak boleh main-main, begitu lah pikiran kanak-kanak saya berkata. Ke kota Medan harus dengan pakaian yang necis. Jangan sampai ketahuan bahwa kita ini orang udik. Persiapannya harus jauh-jauh hari. Berangkatnya pun pagi-pagi sekali.

Di benak kanak-kanak kami, Medan memang demikian berbeda, paling tidak dibanding kota-kota lain di Sumatera Utara. Di Medan ada lapangan terbangnya, yakni Polonia. Dan, itu lah yang selalu jadi iming-iming (atau acaman?) tiap kali kita rada-rada malas belajar di malam hari. Orang tua kita akan berkata, kalau malas belajar, nanti tidak akan lulus. Dan kalau tidak lulus, tidak bisa ikut darmawisata. Dan kalau tidak ikut, tidak akan pernah lagi punya kesempatan melihat Medan yang ada lapangan terbangnya….

Betul saja.... Tatkala waktunya tiba menamatkan pelajaran SD, tak terkira rasa gembiranya ketika sudah duduk di atas bis yang akan membawa kami berdarmawisata. Kala menoleh lewat jendela, terlihat betapa ramainya orang-orang sekampung berkerumun menunggu bis kami diberangkatkan. Rasanya diri ini jadi orang paling beruntung sedunia, sebab sebentar lagi akan menorehkan sejarah, melihat lapangan terbang sekaligus pesawat terbangnya. Antimo sudah sejak pagi saya telan, karena –seperti kebanyakan anak kampung lainnya—mabuk di perjalanan adalah penyakit yang akrab (dan bikin malu juga, sebenarnya). Lalu ketika bis bergerak, diiringi sorak-sorai orang sekampung yang mengantar dan melambaikan tangan, alangkah leganya hati ini. Dalam diam, serasa ada suara yang berkata, Selamat tinggal Sarimatondang yang udik, selamat datang Medan yang hebat.

Hujan rintik-rintik di senja menjelang malam, menyambut kedatangan kami ketika bis memasuki Medan setelah singgah di Parapat, Tongging dan Berastagi. Bis itu segera diarahkan menuju Bandara Polonia. Tak kami hiraukan lagi hujan yang makin deras ketika kami berlarian turun dari bis menuju pintu bandara. Tak berapa lama kemudian, guru-guru dan petugas bandara itu membawa rombongan kami menuju ruang tunggu berdinding kaca. Dari balik kaca yang lembab dan berbintik-bintik terkena tempias hujan, kami dapat menyaksikan satu-dua pesawat terbang yang tengah bersiap-siap take off. Oh, begini lah ternyata pesawat terbang, si burung baja raksasa yang kala siang-siang ketika kami mencangkul di ladang belakang rumah di Sarimatondang, terlihat hanya sejengkal di langit biru sana…

Dari bandara, bis kemudian membawa kami ke arena Medan Fair, yang popularitasnya selalu tak ada bandingannya sebagai tujuan darmawisata siswa-siswa di kampung kami. Seraya membuka dan menikmati rantang bekal di atas bis, kami sudah tak sabar untuk segera tiba. Lagi-lagi hati ini dipenuhi rasa kagum. Pekan Raya Medan itu memang benar-benar pekan yang sangat besar, berpuluh-puluh kali lebih besar dibanding pekan (pasar) di kampung halaman yang kala itu hanya ramai pada Jumat dan Minggu. Banyak orang, banyak yang jual jajanan, banyak toko dan yang paling menarik, banyak juga atraksi di dalamnya. Yang paling saya ingat kala itu adalah pertunjukan orang-orang super-pendek seperti Ucok Baba, yang berguling-guling dan bergelantungan di atas semacam jejaring. Mereka jadi mascot sebuah produk batrei. Tak henti-hentinya kami tertawa melihat polah mereka. Itu lah pertama kali saya melihat ada orang yang demikian pendek tetapi sempurna dan cerdas sebagai manusia.

Demikianlah, kenangan di masa kanak-kanak tentang Medan yang elit, modern dan meriah itu terbawa hingga kini. Apalagi hingga usia saya sudah setua ini, kunjugan saya ke kota Medan bisa dihitung dengan jari. Tak pernah pula menginap lebih dari satu malam. Tatkala di pertengahan 1990-an saya menginjakkan kaki di kota itu untuk pertama kalinya setelah dewasa, saya hanya bisa ngendon di tempat kos adik-adik yang kuliah di kota itu. Saya benar-benar tak berani keluar karena takut bakal nyasar di tengah kota Medan yang besar dan megah, kesan di masa kanak-kanak yang masih belum lekang juga.

Untuk menghibur abangnya yang kampungan ini, adik-adik itu memang membawa saya juga ke beberapa plaza di kota itu (orang Medan melafalkannya plaja, bukan plasa, seperti orang Jakarta). Tetapi yang paling berkesan justru tatkala mereka mencoba memberi kejutan dengan mengarahkan perjalanan ke Monza (Monginsidi Plaza). Dan saya memang benar-benar terkejut, sebab ini bukan plaza sebagaimana lazimnya. Ini adalah sederetan pedagang baju bekas di pinggir jalan Moginsidi, mirip SOGO jongkok di Jakarta. Konon di sini banyak dijual baju-baju bermerek bekas artis. Sayangnya tak satu pun yang jadi saya beli. Bukan karena tak selera, melainkan karena ukurannya umumnya besar-besar.




(^_^) (^_^) (^_^)



Rasa takjub bercampur minder kepada Medan (dan orang Batak asal Medan) ternyata tak kian surut walau di kemudian hari kaki ini menginjak Jakarta, ibu dari segala kota, tempat emas Monas sebesar kepala kerbau tidak hilang dimaling orang walau dibiarkan teronggok menganggur di lapangan besar dekat Istana Negara. Rasa takjub dan minder itu muncul oleh sebuah julukan yang kadang-kadang dengan nada bercanda tetapi sering juga dimaksudkan meledek, diarahkan kepada orang-orang Batak seperti saya. Julukan itu adalah: Batak Tembak Langsung yang lebih populer dengan singkatannya, BTL ( Baca: Be-Te-eL, huruf e seperti dalam lafal besok).

Julukan BTL disematkan kepada orang-orang Batak yang merantau langsung ke Jakarta tanpa melewati Medan. Kaum BTL umumnya memang berasal dari desa-desa udik di pegunungan yang hanya senoktah di dalam peta, dan langsung merantau ke Jakarta tanpa pernah bermukim atau ‘cari pengalaman’ di Medan. Banyak diantara BTL itu berasal dari desa-desa yang belum tersentuh oleh listrik (kala itu). Sarana transportasinya minim bahkan harus berjalan kaki dulu beberapa kilometer sebelum tiba pada pemberhentian bis terdekat. Kedatangan para BTL ke Jakarta seringkali adalah hasil peras keringat mencangkul ladang dan kebun, plus menjual kerbau atau menggadaikan sawah.

Tentu ini merupakan kontras dari orang Batak kelahiran Medan. Batak Medan adalah orang-orang yang dipandang sudah lebih beradab dan gaul. Mereka sudah lebih terekspos kepada kehidupan kota, sudah terbiasa pada keanekaragaman budaya, sudah akrab dengan pergantian dan perubahan zaman. Karena itu mereka dianggap tidak mudah terheran-heran, tidak cepat kagok dan kagum pada macam-macam hal yang aneh tapi nyata.

Pertama kali ketika mendengar dan dijuluki sebagai BTL, ada semacam perasaan tidak terima di hati. Ada perasaan tidak rela, bahkan seperti dilecehkan. Keterlaluan benar orang Jakarta (Dan, orang Jakarta di sini termasuk juga orang Batak Jakarta, karena julukan BTL itu jangan-jangan datangnya juga dari sesama kalangan Batak). Kenapa sih orang Batak rantau masih harus dibeda-bedakan lagi, serasa ada kasta Batak Medan dan ada Batak udik?

Lagipula, walau pun kami para BTL ini datang dari berbagai pelosok yang tersembunyi, toh tak berarti kita-kita ini samasekali tak tersentuh peradaban. Sedikit banyak kita sudah makan sekolahan hingga sekolah lanjutan atas. Dan, itu berarti sudah pula mengalami polesan ‘peradaban modern’ paling tidak dari kota-kota kecil di kabupaten tempat menempuh studi lanjutan atas itu. Sebut lah misalnya kota-kota seperti P. Siantar, Tarutung, Porsea, Pangururan, Pematang Raya, Sidikalang, Padang Sidempuan, Sibolga, dan sebagainya. Jadi apa hebatnya kota Medan, sehingga ia harus menjadi anak tangga awal yang harus dijejaki sebelum ke Jakarta, jika tidak ingin disebut BTL? Apa rupanya luar biasanya kota Medan sehingga ia harus jadi ‘kawah candradimuka’ sebelum tembus kemana-mana?

Pertanyaan yang sudah lama mengganggu ini sedikit banyak terjawab tatkala suatu hari secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku rombeng, karya Bill Dalton, berjudul Indonesia Handbook. Buku yang ada pada saya itu adalah edisi kedua, tahun 1980. Di cover belakangnya ada tulisan: Not for Sale in Indonesia, yang berarti buku ini agaknya memang sengaja diterbitkan untuk pembaca non-Indonesia.

Dalam buku yang lebih ditujukan sebagai panduan wisata ke Indonesia ini, Dalton menggambarkan bagaimana unik dan strategisnya posisi kota Medan sebagai ‘kawah candradimuka’ bagi siapa saja orang Sumatera Utara yang ingin menaklukkan dunia. Ini lah tampaknya penjelasan atas anggapan Batak yang sudah lahir atau dibesarkan dalam pergaulan di kota ini setingkat lebih gaul dibanding BTL.

Menurut Dalton, Medan sudah strategis semenjak dahulu kala. Asal mula nama ‘Medan’ sendiri sudah bercerita tentang posisinya yang semacam itu: Medan berarti arena pertempuran yang selalu menjadi rebutan. Menurut cerita, di area Medan ini lah dulunya pertarungan kerap terjadi antara Sultan-sultan Deli dan Aceh. Mulanya hanya sebuah desa kecil, Belanda menjadikannya sebagai ibukota Sumatera Utara pada 1886. Medan kemudian berkembang jadi kota perdagangan karena letaknya yang strategis itu. Ia jadi tempat pengiriman komoditas ekspor dari perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara seperti tembakau, karet dan…. teh (jangan pernah lupa pada komoditas yang terakhir ini.... dari kampung saya lho…)

Karena peranannya yang strategis, Medan jadi kota yang hiruk-pikuk, tempat persinggahan sekaligus perantauan banyak orang dengan banyak latarbelakang. Sejak dulu hampir segala ras dan golongan telah berkonvergensi di Medan. Orang Jawa, Aceh, Arab, Tionghoa, Tamil, Minang, Batak disamping orang-orang Melayu dapat kita temukan dengan mudah di kota ini. ‘Each group is strongly represented,’ tulis Dalton, menggambarkan betapa berwarnanya kota Medan.

Warna-warni dan gado-gado penduduknya itu membawa suasana kehidupan di kota ini terkesan sangat ‘pragmatis,’ tanpa basa-basi dan.....pokoknya, Ini Medan Bung! (bukan Bang, Mas, atau Pak). SUMUT sering dipelesetkan dengan Semua Urusan Musti Uang Tunai, dan agaknya plesetan ini tak banyak membuat orang Medan berkeberatan karena jangan-jangan ia memang muncul dari pengalaman kolektif masyarakatnya. Semangat egaliter dalam perhubungan antar-individu dengan mudah dapat ditemukan di kedai-kedai yang bertebaran di hampir tiap persimpangan. Kedai adalah tempat kongkow-kongkow yang melegakan, bisa duduk lama-lama walau dengan isi kantong yang cekak. Dan yang paling penting, perbincangan dengan cepat bisa begitu intens-nya, bahkan dengan orang yang baru kita kenal tanpa perlu perkenalan siapa dia siapa kita terlebih dulu. Di kedai, semua orang langsung tune in di frekuensi yang sama mengobrolkan apa saja tetapi juga bertransaksi apa saja. Calon anggota legislatif jamak melancarkan ’kampanye pendahuluan’ lewat kedai, tetapi urusan ‘mengegolkan’ keponakan agar dapat diterima bekerja di sebuah instansi pun kerap dirancang bahkan difinalkan di kedai-kedai ini.

Di Medan pula kita dapat menyelami suasana kota yang benar-benar Indonesia, bila yang dimaksud dalam hal itu adalah dipergunakannya Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Menurut Benedict Anderson, selain Jakarta, tidak ada kota-kota besar lain di Indonesia dimana Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa percakapan informal, selain formal. “….only in Djakarta and Medan among the larger Indonesian cities is the Indonesian language the normal vehicle of communication outside official channels.” Tulis Anderson dalam artikelnya, The Languages of Indonesian Politics, pada jurnal Indonesia, April 1966. Hanya di Medan pula di zaman kekuasaan Jepang, balatentara Negeri Matahari Terbit itu mewajibkan penggunaan Bahasa Indonesia pada administrasi Pemerintahan. Bahkan di Medan kala itu sempat terbentuk panitia yang diisi antara lain oleh Adinegoro dan Dr. Mansur, yang tugasnya adalah membuat istilah-istilah Bahasa Indonesia menggantikan istilah Bahasa Belanda dalam pelaksanaan Pemerintahan. Ada berbagai singkatan-singkatan yang khas yang hanya kita temukan di koran-koran Medan. Misalnya, ketimbang berpanjang-panjang dengan Gubernur Sumut, koran lebih suka menyingkatnya dengan Gubsu.

Dengan latar belakang yang demikian itu, wajar bila ada pendapat yang menganggap siapa saja yang bisa lolos dari kawah candradimuka Medan, akan selamat pula di mana saja di belahan dunia ini.Orang Batak yang umumnya dinilai agresif, lugas dan cenderung dominan, di satu sisi merupakan sifat yang cocok dengan suasana dan sifat egaliter Medan yang menyebabkan mereka terekspos pada suasana persaingan yang keras dan tanpa ewuh-pakewuh. Namun di sisi lain keanekaragaman latar-belakang penduduk Medan yang unik itu membutuhkan kepiawaian bertenggang-rasa dan berdiplomasi. Dua kombinasi ini tak sembarangan orang bisa memenuhinya yang berarti tak sembarang orang Batak pula mampu melampauinya. Tak berlebihan bila dalam bukunya Dalton mengutip keyakinan orang-orang Medan, bahwa jika seseorang bisa survive menjadi politisi di kota itu, ia juga akan bisa menaklukkan dunia. ‘No other city in Indonesia is like it and they say that if you can make as a politician in Medan, you can make it anywhere in the world.” (Dalton, 1980)




(^_^) (^_^) (^_^)


Syahdan di suatu masa di tahun 1980-an, di tempat-tempat kos mahasiswa di kawasan Padang Bulan Medan, pernah tertempel reklame tempat kos yang bernada diskriminatif terhadap para BTL. Bunyinya:

Menerima Kos,
Kecuali Anak Siantar


Anak Siantar
yang dimaksud dalam reklame tadi jelas lah mengacu kepada orang Batak Siantar. Namun tatkala beberapa orang Siantar saya tanya perihal ini, mereka berpendapat ada kemungkinan yang dimaksud dengan Anak Siantar bukan cuma orang Batak Siantar. Melainkan juga orang-orang Batak dari luar Medan, yang demi mudah dan praktisnya, mengidentifikasi diri dengan Siantar. Ke dalam hal ini termasuk lah desa-desa yang berdekatan dengan Siantar, semisal, Tano Jawa, Balata, Perdagangan dan..... yah, Sarimatondang kampung halaman saya. Bila ditilik dari kacamata Jakarta, tak bisa tidak, Anak Siantar yang dimaksudkan dalam reklame diskriminatif itu pasti lah bagian dari BTL.

Kisah tentang reklame ini sudah berulang kali saya dengar dari para orang-orang Batak yang pernah menempuh studi di Medan, meskipun saya belum pernah menemukannya sebagai sebuah kisah yang bisa dicek kebenarannya. Kisah ini kerap diperbincangkan dalam ajang nostalgia, dengan nada setengah bangga tetapi juga setengah meledek. Beberapa orang mengakui pernah melihat sendiri reklame seperti itu. Tetapi ada juga yang menganggapnya hanya cerita rekaan belaka. Sekadar bahan lelucon dan otokritik sesama orang Batak, sebab ada dugaan cerita ini diciptakan sendiri oleh orang Batak.

Bagian paling penting dari cerita reklame diskriminatif itu tentu lah alasan mengapa Anak Siantar dikecualikan. Mengapa tempat-tempat kos di Padang Bulan –yang notabene banyak juga diusahakan oleh orang-orang Batak Medan―sampai-sampai bisa demikian tega tidak menerima orang Siantar. Jawabnya adalah sebuh penjelasan yang bisa mengundang rasa sebal bila ditilik dari sudut pandang bisnis kos-kosan, tetapi mendatangkan rasa haru dan empati dari sudut pandang perjuangan mencapai cita-cita.

“Tempat-tempat kos itu tidak menerima Anak Siantar, karena yang bayar kos cuma dua orang, tetapi yang tinggal di dalamnya tujuh orang,” kata seorang pria bermarga Simangunsong kelahiran Siantar, yang duduk semeja dengan saya sambil minum tuak (arak) di sebuah lepau di kawasan Pamulang. Simangunsong saya temukan di sana karena seorang sahabat mengajak saya menemui dia untuk urusan yang tidak terlalu serius. Dan karena ia tahu saya dari Sarimatondang --nota bene dekat dengan Siantar-- dan ia berasal dari Siantar, jadilah kami ngalor ngidul tentang macam-macam soal mengenai anak Siantar.

Rupanya, seperti halnya kawan-kawan orang Jawa, BTL dari Siantar juga punya prinsip Mangan ora Mangan, Ngumpul. Bedanya, jika prinsip Mangan ora Mangan ini di kalangan Jawa sering ditafsirkan sebagai keengganan untuk pergi merantau dan lebih memilih hidup berkekurangan asal tetap ngumpul, di kalangan Anak Siantar Mangan ora Mangan tadi justru adalah gaya hidup di tanah rantau.

“Biasa lah lae, uang belanja dari kampung pas-pasan (se)kali. Kadang-kadang kita hanya diberangkatkan dengan setengah karung beras. Itu lah bekal kita kuliah di Medan. Apa boleh buat, satu kamar kos terpaksa ditempati tujuh orang. Yang terdaftar dan bayar cuma dua orang. Dan kepada mereka lah kita minta numpang. Beras untuk makan dari kita, sekaligus kita yang memasakkannya. Sementara dia lah yang bayar uang kos,” kata Simangunsong lulusan sebuah institut keguruan di Medan yang kini mengajar di sebuah sekolah swasta di Jakarta, menjelaskan alasan dibalik ‘bayar dua, masuk tujuh’ itu.

Sudah bisa dipastikan bila keadaan seperti ini dibiarkan, bisnis kos-kosan akan bangkrut. Apalagi Anak-anak Siantar itu punya kebiasaan lain yang lambat laun bisa mengganggu iklim perkos-kos-an. Mereka sering kali ngendon di kamar berhari-hari, keluar hanya jika perlu ke kamar mandi. Ketika ditanya, sedang apa, jawabnya, Manjaha (membaca). Memang benar mereka sedang membaca, yakni membaca kartu-kartu remi yang sedang mereka mainkan. Menurut Simangunsong, itu lah satu-satunya hiburan bagi Anak-anak Siantar itu untuk melewatkan waktu. Sebab untuk keluar jalan-jalan, ongkos tak punya. Sementara kalau mau bertandang ke rumah kerabat di Medan, ada rasa segan. “Batak Medan lain dengan Batak kampung. Bagi mereka, kadang-kadang berlaku prinsip, Ini Medan Bung,” kata Simangunsong. Dan ini lah penyebab munculnya reklame yang terkesan diskriminatif itu.

Cerita tentang reklame ini adalah satu lagi gambaran betapa kerasnya Medan sebagai kawah candradimuka, sehingga seorang Batak yang sudah bisa ‘menembus’nya, akan bisa ‘terapung’ di laut mana pun. Di lapangan politik di zaman revolusi, Medan sebagai kawah candradimuka telah pula menunjukkan wajahnya.

Pada tahun 1946, setelah terjadi ‘Revolusi Sosial’ yang memakan korban sejumlah keluarga kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur, ada usaha untuk mendirikan Negara Sumatera Timur (NST). Menurut Michael van Langenberg (1982) rencana mendirikan negara ini datang atas inisiatif para sultan dan raja dengan meminta bantuan Kerajaan Belanda yang ingin ‘kembali’ berkuasa setelah Jepang menyerah.

Dari kaca mata para BTL, inisiatif ini dipandang merugikan karena kekuasaan yang sedang dirancang itu hanya mengakomodasi ‘orang asli.’ Dalam sidang Komite Daerah Istimewa Sumatera Timur (KDIST) para elit politik yang jadi inisiatornya memandang penting agar kekuasaan berada di tangan ‘orang-orang asli,’ walau pun pihak Pemerintah Belanda yang mereka andalkan untuk memback-up mereka menghadapi Pemerintah Republik, justru mendesak agar pembagian kekuasaan itu dilakukan secara demokratis. Belanda menekan agar ada jaminan keterwakilan all non-Malay ethnic groups, sebab pada kenyataannya gado-gado etnik di Medan dan Sumatra Timur kala itu sudah terlihat dengan jelas.

Hal ini memang ingin diakomodasi oleh komite tersebut, tetapi dalam bentuk akomodasi yang terkesan kosmetik belaka. Sebab Komite dengan sangat saklak membentengi diri dengan kriteria penduduk 'asli' dan non asli.”Using Toba Bataks as an example, he differentiated between those who had live in East Sumatra for more than forty years, and consequently were culturally ‘integrated…” (Langenberg, 1982)

Rupanya kehadiran para BTL telah dipandang sebagai ancaman.

Many orang asli had long viewed the Toba Batak in East Sumatra as little more than an advance guard for ten of thousands of their compatriots over the border in Tapanuli who were waiting for an opportunity to descend upon and seize the riches of the east coast.” (Langenberg, 1982)


Tak dapat dihindarkan lagi ketegangan pun terjadi. Muncul pula aksi perlawanan dalam rupa pembentukan partai tandingan. Sekali lagi Medan sebagai kota yang penuh warna, kota yang jadi ‘kawah candradimuka,’ sebagai ‘kota semua bangsa,’ diuji. Dan ia memang
menunjukkan lagi kesaktiannya. Terbukti NST itu hanya seumur jagung, sebab ia rupanya dibangun di atas dasar yang sudah usang.

NST, dengan inisiatornya sekelompok elit yang dibentuk di atas dasar dominasi orang asli itu, tak lagi cocok dengan semangat kemerdekaan. Bagaimana pun, rakyat banyak ternyata lebih terpana pada janji kemerdekaan dari Pemerintah Republik, walau pun ia dan NST tergolong negara yang masih sama-sama masih 'bayi'. Para pendukung republik awalnya adalah para mereka yang merasa tidak terwakili di NST, terutama yang merasa bukan rakyat kerajaan. Mereka sangat menaruh harapan pada Pemerintah Republik.

“Javanese plantation laborers, Tapanuli Batak migrants, Karo and Simalungun Batak disaffected with their traditional rulers, all had material expectations of independence, which were in direct contradiction with the aims of those who led and supported NST” (Langenberg, 1982)


Dan selanjutnya, dukungan terhadap Republik makin besar, sebab kekacauan demi kekacauan telah terjadi di bawah pemerintahan NST.

“After 1947, the squatter settlements were scenes of frequent volence. In Deli groups of militant Malay youth began attacking and attempting to evict non Malay farmers, both Javanese and Karo, from land the regarded as traditionally Malay. These attacks led to a widening incidence of violent clashes between Malay and non Malay farmers. One effect of this violence was further diminish support for the NST among the non-Malay orang asli. Not only Javanese and Toba, but alos Karo and Simalungun peasant farmers responded more and more favorably to calls form Republican activis to resist the reimposition of Dutch colonialism and Malay feudalism.” (Langenberg, 1982)


Dalam keadaan begini, akan mengherankan lah jika NST bisa bertahan. Pada tahun 1950 riwayat NST praktis tamat ketika Dewan NST mensahkan unang-undang yang menyatakan bergabung ke negara Republik Indonesia.
Dan, cuplikan sejarah itu makin menandai telah panjangnya Medan sebagai kawah candradimuka bagi kalangan Batak. Makin sahih lah pandangan, bila seseorang bisa lolos dari ‘ujian’ Medan, lolos lah dia kemana pun.

Ini lah mungkin yang menjelaskan mengapa antusiasme orang Batak demikian tingginya kala di pesta-pesta perkawinan diputarkan lagu dari Lamtama Group yang berjudul 'Anak Medan.' Lagu ini demikian populer akhir-akhir ini. Lagu itu bercerita tentang bagaimana seseorang yang disebut Anak Medan bisa hidup dengan mengandalkan ‘pergaulan.’ Ia kadang-kadang harus berani nekad dan melanggar hukum (pasal 51 KUHP dan pasal 381 KUHP), demi survive dan demi persahabatan.

A
nak medan, Anak medan, Anak medan do au, kawan
Modal pergaulan boido mangolu au,
Tarlobi dipenampilan main cantik do au, kawan
Sonang manang susah happy do diau,

Nang pe 51, solot di gontinghi,
Siap bela kawan berpartisipasi,
378 Sattabi majo disi,
Ada harga diri mengantisipasi

(syair selengkapnya ada di akhir tulisan)





(^_^) (^_^) (^_^)


Jika cara survive ala Mangan ora Mangan para BTL di Medan digambarkan oleh taktik ‘Anak Siantar’ yang ‘bayar dua, masuk tujuh,’ di Jakarta semangat serupa dijalankan dalam rupa dan praktik yang berbeda. Walau pun Jakarta sering disebut lebih kejam daripada ibu tiri, rupanya Medan sebagai kawah candradimuka tampak lebih keras sebagai ajang adu nasib.

Menurut catatan para ahli, para BTL sudah datang ke Jakarta sejak awal 1900-an. Beberapa orang dari Tapanuli dibawa oleh Belanda sebagai pembantu dan pekerjanya di Jakarta yang kala itu bernama Batavia. Saat itu Batavia sudah menjadi tempat mencari pekerjaan yang populer dan menjadi tujuan perantauan orang-orang daerah. Salah satu diantara generasi BTL pertama yang datang ke Jakarta bernama Simon Hasibuan, seorang tamatan Seminari Pansurnapitu Tarutung yang tiba di Jakarta tahun 1907. (O.H.S. Purba, 1998)

Semenjak itu gelombang migrasi para BTL ke Jakarta makin kuat. Dan, ini tampaknya didorong oleh makin kuatnya magnet Jakarta menarik orang-orang dari luar pulau Jawa. Menurut Lance Castles, (Castles, 1967) walau para BTL datang agak belakangan disanding para imigran dari, misalnya, Indonesia Timur, jumlah imigran dari Sumut (dimana BTL termasuk di dalamnya) termasuk yang besar. Menurut sensus tahun 1961, 5,3 dari tiap 1000 imigran adalah orang Batak. Jumlah imigran terbesar datang dari Sumatera Barat (18,2), Maluku (8,2) dan Sulawesi Utara (6,7).

Menurut sensus tersebut, jumlah orang Batak menempati urutan keenam penduduk Jakarta kala itu. Berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah orang Sunda, 952,5 ribu orang (32,8%), Jawa, 737.700 orang (25,4%), Jakarta Asli 655 ribu orang (22,9%), Minang, 60,1 ribu orang (2,1%), Sumatera Selatan, 34,5 ribu orang (1,2%) dan Batak 28,9 ribu orang (2,1%).

Dari Sumatera Utara sendiri, sudah bisa dipastikan pendatang dari kalangan BTL ini lah yang paling besar jumlahnya. Castles memperkirakan 90% dari orang kelahiran Sumatera Utara di Jakarta, adalah orang Batak.

The other people of North Sumatra are mainly East Coast Malays and Javanese, who are found in Djakarta, though I would think in fairly small numbers. (Castle, 1967).


Para BTL itu ketika ketika tiba di Jakarta mempraktikkan Mangan ora Mangan dengan tinggal beramai-ramai, menumpang di rumah-rumah keluarga Batak yang sudah terlebih dulu tinggal di Jakarta. Misalnya, pada tahun 1917, seorang Batak bernama F. Harahap, telah memerankan diri sebagai sponsor bagi kedatangan para BTL-BTL itu. Harahap yang bekerja sebagai guru, menyediakan rumahnya di kawasan Sawah Besar untuk menerima kehadiran para BTL yang akan mengadu nasib ke Jakarta. Di sebuah majalah Mingguan bernama 'Surat Keliling Imanuel' terbitan Laguboti, Harahap menuliskan pemberitahuan yang berbunyi:

"Siapa saja dari antara bapak dan ibu yang akan memberangkatkan anaknya ke Batavia, untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan, agar lebih jelas datanglah ke alamat saya. Alamatku: F.Harahap, tinggal di perbatasan Sawah besar dan Kebun jeruk, no.18, Batavia" (O.H.S. Purba, 1998).


Pada periode 1960-an hingga 1970-an, keberadaan Jakarta sebagai tujuan rantau favorit di kalangan Batak tak terbantahkan lagi. Dan yang paling antusias dalam hal ini adalah para BTL itu. Dalam nada hiperbolik, Dalton bercerita tentang bagaimana dahsyatnya migrasi orang Batak itu bergerak bak gelombang dengan menumpang kapal Tampomas yang legendaris.

“Each week the ship Tampomas down to Jakarta is packed, but coming back is empty.” (Dalton, 1980).


Di kala itu sudah sangat terkenal –bahkan hingga ke pelosok tanah Batak –nama sejumlah tokoh Batak yang dengan tangan terbuka menerima para BTL-BTL ini. Salah satu bagian dari rumah mereka biasanya telah disulap jadi semacam rumah singgah. Siapa saja boleh datang dan pergi. Beras dan ikan asin selalu tersedia. Siapa saja yang lapar, boleh masak (sendiri). Kalau belum ada tempat tinggal menetap, boleh menginap dengan tidur dimana saja ada tempat kosong. Entah di sofa tua di beranda, di dapur dengan alas koran, di garasi atau entah dimana lagi.

Banyak diantara para BTL itu yang menjadi supir taksi sambil kuliah, sembari berpindah-pindah menumpang makan-tidur dari satu ‘rumah singgah’ ke ‘rumah singgah’ lainnya. Karena lowongan di Pemerintahan kala itu masih benar-benar ‘lowong’ dikarenakan tenaga terdidik belum mencukupi, maka banyak jua lah para BTL-BTL yang sudah tersentuh oleh pendidikan secukupnya di bona ni pasogit dapat diselip-selipkan untuk menjalankan roda birokrasi. Pada gilirannya, kabar tentang ‘selap-selip’ di birokrasi ini tersebar cepat ke kampung halaman dan menjadi berita harum yang makin merangsang gairah melanglang Jakarta.

Berbagai tokoh dari marga tertentu mencuat sebagai penampung para BTL itu. Manihuruk, Sirait, Simatupang, Panggabean, Silalahi, Sihaloho, Saragih, Purba dan banyak lagi menjadi ‘mantera’ yang serbaguna ketika itu. Dengan menyebut hubungan kekerabatan dengan salah satu marga, segera seseorang diketahui bagaimana kedudukannya dalam silsilah dan ia pun diterima untuk jadi bagian dari BTL ala Mangan ora Mangan itu. Silsilah dalam hal ini kadang-kadang tak lagi hanya dalam ukuran satu generasi. Hubungan kekerabatan dalam rentang dua sampai tiga generasi pun masih merupakan senjata yang sakti untuk dapat memperoleh tumpangan.

Menurut Catles, sejak dari generasi awal, para BTL tersebut sudah tinggal secara menyebar di seantero Jakarta, kendati konsentrasi mereka dapat ditemukan di beberapa wilayah yang tergolong elit. Yang paling banyak adalah di kawasan Kebayoran Baru dan Gambir. There was still a clustering of Toba Batak around their oldest church at Gang Kernolong, but most of them were scattered, especially through the newer residential secitons near the fringers of the city. (Castles, 1967)

Selain berkumpul di rumah-rumah para sesepuh atau pentolan marga, ibadah di gereja tentu menjadi salah satu event favorit untuk bisa bertemu sesama BTL di perantauan. Selanjutnya, forum arisan keluarga mau pun marga ikut mengambil peran sebagai pentas silaturahmi, melepas rindu, cari jodoh, cari lowongan pekerjaan dan cari channel lobby. Arisan dalam skala kecil mau pun besar, tak hanya merupakan forum untuk mengetahui who's who in the club, tetapi juga who's new in the town. Arisan tak hanya berperan sebagai show room tempat kita mengenal siapa saja pentolan suatu marga, melainkan juga jadi outlet untuk melihat siapa saja anggota marga yang baru tiba di Jakarta. Ke arisan lah para BTL pendatang baru datang memperkenalkan diri seraya menghimbau dan memohon, siapa tahu ada yang bisa memberikan bantuan apa saja, termasuk lowongan kerja atau peluang bisnis.

Sekali lagi, mangan ora mangan ala Anak Siantar itu dapat ditemukan di arisan demi arisan itu. Manjaha, yang merupakan eufemisme dari bermain kartu remi untuk melewatkan waktu, merupakan kebiasaan yang sudah muncul sejak dulu dan masih dapat ditemukan hingga sekarang. Ia menjadi bagian dari gaya hidup yang telah melahirkan banyak anekdot, kisah yang lucu mau pun yang tragis, bahkan sudah pula ada lagunya.

Walau di zaman kini sudah makin banyak BTL yang menduduki posisi terpandang dan secara ekonomi mungkin tak perlu lagi mempraktikkan mangan ora mangan, ngumpul, hingga kini simbol-simbol prinsip tersebut masih jua terlihat kental manakala para BTL ngumpul dalam acara pesta awal tahun (Bona Taon) mau pun arisan keluarga. Paling tidak dalam retorika-nya, selalu disebutkan bahwa makanan bukan lah faktor penting dalam acara seperti itu, melainkan silaturahminya. Tidak penting makanannya beraneka macam jika ada yang tidak kebagian. Sebaliknya, arisan itu akan sangat sempurna walau lauk-pauk ala kadarnya bila semua anggota bisa menikmatinya dengan tuntas. Peribahasa kontemporer yang diciptakan secara amatiran berbunyi, Ari Selasa tu Ari Kamis, I na tupa, i ma ta pahabis (Apa yang terhidang, itu lah kita santap) dapat lah dikatakan sebagai gambaran semangat Mangan ora Mangan versi BTL itu.



(^_^) (^_^) (^_^)


Kini masa-masa yang penuh warna itu mungkin sudah lewat. Generasi BTL yang baru berdatangan, sementara generasi BTL awal telah beranak-pinak di Jakarta. Persaingan hidup yang makin keras, plus keadaan perekonomian yang makin sulit, menyebabkan kemudahan-kemudahan yang dulu banyak memanjakan para BTL, tak lagi banyak tersedia. Makin tidak mudah mendapatkan 'rumah-rumah singgah' tempat para BTL dengan bebas datang dan pergi. Jika dulu dengan mengandalkan marga, keringat dan ketekunan akan bisa sukses di Jakarta, kini tuntutannya makin banyak.Keahlian,jejaring, dan banyak lagi adalah mantera baru di luar hubungan darah dan keluhuran sikap.

Di sisi lain, oleh kemajuan teknologi dan transportasi, urusan apakah BTL atau bukan tak terlalu persoalan lagi. Makin sulit menemukan perbedaan BTL dan yang bukan, sebab dunia kini sudah menjadi sebuah kampung yang besar. Kadang-kadang para Batak di kampung halaman justru sudah lebih gaul dibanding Batak di metropolitan. Jika generasi muda Batak di bona ni pasogit makin getol bermain play station dan di pesta perkawinan mereka menyanyikan Poco-poco, justru anak-anak muda Batak Jakarta lah yang kian serius bertanya apa itu tarombo lalu menenggelamkan diri membaca buku Jambar ni Hata.

Tatkala suatu hari menghadiri upacara adat seorang kerabat jauh yang meninggal dunia di Jakarta, saya dikejutkan oleh perbincangan dua orang tetua yang duduk di depan saya. Mereka berdua berdebat karena menurut salah seorang diantara mereka, di kampung halaman dahulu kala tata-cara yang benar bukan seperti yang sedang dijalankan itu. Lawan bicaranya kemudian membantah dengan mengatakan, 'Ah, adat dari kampung mana yang kau maksud. Justru orang dari bona ni pasogit lah sekarang yang belajar adat-istiadat ke Jakarta, karena jumlah orang Batak di Jakarta sudah lebih banyak daripada di sana,” kata dia.

Saya tidak tahu apakah perbicangan itu boleh dianggap serius atau tidak. Tetapi tampaknya ini bisa menggambarkan betapa dinamisnya nilai-nilai budaya itu kini. Jangan-jangan, bona ni pasogit yang telah lama lengang karena berbondong-bondongnya BTL menyerbu rantau, memang sudah harus mulai belajar tradisi ke Jakarta.

Ketika browsing di internet, saya banyak membaca interpretasi baru tentang BTL, justru dari Batak-batak kota dan terdidik yang mungkin makin menyadari arti penting nilai-nilai tradisi sebagai sumber pandangan hidup. Di mata mereka, BTL tak lagi sebuah pengertian sebagaimana dulu, yakni Batak udik yang tembak langsung tanpa melewati kota Medan sebagai kawah 'candradimuka,' melainkan pengertian lain yang lebih inspiratif. BTL kini dianggap sebagai cerminan dari ciri orang Batak yang sudah banyak dikenal, yakni Batak yang tanpa basa-basi, to the point atau Tembak Langsung.

Reninterpretasi semacam ini tentu membanggakan dan menggembirakan, tetapi bagi saya yang agak konservatif ini, juga harus dicermati supaya jangan menjelma menjadi semangat chauvinistic yang kesiangan. Sekali lagi sejarah harus jadi cermin. Ketika Negara Sumatera Timur (NST) itu dahulu menemukan ajalnya, bukan hanya para BTL yang merasa didiskriminasikan itu yang merayakannya. Hal itu juga dirayakan oleh kelompok etnis lain yang berbagi pengalaman serupa. Dan itu perlu dicatat, meskipun bukan itu yang terpenting. Yang terpenting adalah, makin banyk orang kala itu yang telah merasa menemukan sebuah ‘rumah baru’ yang lebih luas dan lebih besar, lebih lega dalam menampung semua dan lebih memberi harapan. Walau pun di sana-sini mungkin tampak masih terlalu sederhana, gambarannya sudah jelas, bahwa itu lah rumah yang berabad-abad diimpikan. Rumah itu lah yang kita kenal sebagai Indonesia, sebuah kata yang tidak datang dalam bentuknya yang sudah selesai melainkan sesuatu yang harus dirawat dan dipelihara. Di sana lah kita berada dan sepatutnya bangga, sebagai BTL atau pun sebagai etnik lain.

Dengan jitu walau pun penuh nuansa, Castles mengangkat kesimpulan dari secuplik sejarah yang buram tetapi berarti itu. Bahwa,

The ethnic and class conflict which gave birth to and helped destroy the NST were intimately connected to the questions of national identity. The politics of 1947-1950 in East Sumatra were to great extent about the definition, acceptance or rejection of an Indonesian national identity. In the process not only was East Sumatra finally incorporated into the Indonesian nation state, but the Indonesian nation-state itself began to be incorporated into the cultural worlds of East Sumatra. (Castle, 1982).


Maka dalam rumah Indonesia yang luas, besar dan lega itu, reinterpretasi terhadap semangat BTL pun harus menyesuaikan dirinya. Ia ditafsir ulang bukan lagi dalam hasrat untuk mencari dan menonjolkan perbedaan, apalagi merasa lebih tinggi dan hebat dibanding yang lain. Yang disegarkan dan ditafsirkan dari sana adalah semangatnya yang tahan banting dan pantang menyerah.

Bukan kebetulan jika prinsip yang banyak dikutip sejak awal tulisan ini adalah Mangan ora Mangan, Ngumpul dari khasanah Jawa. Sebab, semangat BTL yang menekankan keguyuban, rela 'Berakit-rakit ke hulu sebelum senang di kemudian' itu adalah juga semangat yang sangat Indonesia, dirasakan dan diselami oleh semua etnik Indonesia. Sama Indonesianya dengan imbauan untuk berani bersyukur dalam segala keadaan, dengan berkata, Ari Selasa tu ari Kamis, I na tupa, I ma tapahabis/ Sebuah nasihat untuk menikmati apa pun yang mampu kita sajikan,bukan menggerutu dan menuntut yang tidak-tidak.

(^_^) (^_^) (^_^)



Ciputat, 13 Juli 2008

Sumber Bacaan dan Kutipan

* Migran Batak Toba di Luar Tapanuli, Suatu Deskripsi, O.H.S. Purba dan Elvis F. Purba, Monora, 1998 (diakses lewat internet)

* Indonesia Handbook, Bill Dalton, Moon Publication, 1980

* Class and Ethnic Conflict in Indonesia’s Decolonization Process: A Study of East Sumatra, Michael van Langenberg, Indonesia, 33 (April), Cornell University, 1982

Internal Migration in Indonesia: Descriptive Notes, Geoffrey McNicoll, Indonesia, April, Cornell University, 1968

The Ethnic Profile of Djakarta, Lance Castles, Indonesia (3) April 1967, Cornell University

* Foto-foto Jakarta tempo dulu diunduh dari internet

* Catatan: Karena alasan sensitifitas dan memberikan kesempatan kepada pembaca melakukan interpretasinya sendiri, beberapa kutipan tidak diterjemahkan

* Syair selengkapnya lagu Anak Medan:

Anak Medan

Anak medan, Anak medan, Anak medan do au, kawan
Modal pergaulan boido mangolu au,
Tarlobi dipenampilan main cantik do au, kawan
Sonang manang susah happy do diau,

Nang pe 51, solot di gontinghi,
Siap bela kawan berpartisipasi,
378 Sattabi majo disi,
Ada harga diri mengantisipasi

Reff:
Horas......Pohon pinang tumbuh sendiri
Horas......Tumbuhlah menantang awan
Horas......Biar kambing di kampung sendiri
Horas......Tapi banteng di perantauan

Anak medan, Anak medan, Anak medan do au, kawan
Susah didonganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au, kawan
Hansur demi kawan, ido au kawan

3 comments:

  1. Horas!

    Ganjang nai puang, ai piga borngin mambahen tulisan on???

    Alai setuju do hami, Batak Tembak Langsung tu ate2 do memang :)

    Lam kenal ma sian hami lae na di Balige, anggo berkenan saling bertukar link ma hita

    ReplyDelete
  2. Horas Ito,
    Terima kasih udah sharing tentang budaya Batak dan perkembangannya.

    Saya terutama senang dengan artikel ini, membuat saya berasa 'kembali ke asal' :)

    Tentang artikel di gang Kernolong, itu bener banget. Ompungku dulu sempat tinggal di sana, dan sampai pindah ke tempat tinggalnya yang sekarang, banyak saudara2 dari hitaan yang menumpang di rumah sampai mendapatkan pekerjaan/tempat tinggal.

    Aku numpang baca2 the rest of blognya ya.. :)

    Mauliate godang :)

    ReplyDelete
  3. Ceritaku jugak kayak ini :(

    Makasih udah berbagi, pak..

    Salam,
    Ele Purba

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...