Friday, July 25, 2008

Only in Indonesia

(Sebuah Esai Foto)
Sudah lupa persisnya kapan gambar-gambar itu saya terima via email. Dan pasti pula bukan cuma saya yang telah mendapatkannya. Sebab gambar-gambar unik dan lucu itu tampaknya telah menyebar sedemikan luas. Di-forward (terus)- kan oleh orang yang mendapatkan forward (terusan) dari seseorang yang mendapatkan forward dari seseorang yang mendapatkan forward dari seseorang yang mendapatkan forward..... dst

Gambar yang saya maksud adalah serentetan foto dengan tema Only in......., yang memunculkan aneka peristiwa khas di berbagai negara. Boleh dikata, hampir semua foto itu menyehatkan, dalam arti mengundang senyum dikulum yang membuat kita merasa segar oleh humor yang dimunculkannya.

Sebagai contoh adalah foto yang menggambarkan Only in....Mexico.
Saya kira tak perlu banyak komentar lagi. Pasti foto ini memunculkan senyum di kulum bagi siapa saja, terutama kaum perempuan. Hanya orang-orang puritan seperti ibu saya di kampung halaman saja yang mungkin secara refleks segera mendekapkan telapak tangannya ke kedua belah mata putrinya (yang masih kecil, tentu) agar tak menyaksikan gambar yang subyek utamanya sesungguhnya adalah dua buah topi; berukuran raksasa dan berukuran mini. Bukan kah karena topi itu lah maka judul fotonya Only in Mexico?

Bersama foto Only in Mexico itu, ada juga beberapa foto lain dengan tema serupa (tidak ditampilkan di sini), semisal Only in India, Only in Hawaii, Only in Texas dan sebagainya. Termasuk foto dengan tema Only in Indonesia berikut ini.
Untuk yang terakhir ini, walau tetap mengundang tawa, entah kenapa terasa juga nada getir dalam kritik yang dimunculkannya. Trembelane tenan, kata orang Jawa, Palobihon, kata orang Batak, atau keterlaluan kata kite-kite. Kok tega-teganya sih Indonesia dilihat dari sisi yang seperti ini?

Anjlok Lagi
Memang ada nada hiperbolik dalam menggambarkan Only in Indonesia pada foto itu. Namun bagi para komuter pengguna jasa kereta Jabodetabek pemandangan semacam itu sebetulnya bukan hal aneh. Misalnya, foto berikut ini adalah hasil jepretan saya beberapa pekan lalu ketika kereta penumpang Rangkas Bitung-Tanah Abang anjlok di suatu tempat antara stasiun Sudimara-Pondok Ranji.

Kereta itu mogok. Dan anehnya, baru 15 menit kemudian para penumpang tahu bahwa ia benar-benar mogok. Itu pun bukan karena ada pemberitahuan, melainkan karena satu demi satu penumpang turun karena kepanasan. Semula para penumpang menduga kereta itu berhenti karena alasan rutin, semisal menunggu kereta dari arah sebaliknya akan lewat. Dan bila kereta mogok di tempat yang samasekali tak ada alternatif angkutan lain, para penumpang yang terlantar itu terpaksa duduk-duduk di atas rel seperti tunawisma yang menunggu datangnya malam. Untung saja ketika itu kereta pengganti segera (30 menit kemudian) tiba.


Di Wajahmu Kulihat Bulan

Kereta api Jabodetabek juga adalah tempat paling ideal untuk menguji relijiusitas setiap orang. Coba bayangkan. Di tengah berjubelnya penumpang dengan keringat yang beraneka aroma, lagi-lagi kita harus dipaksa 'bersyukur' bahwa ini adalah Only in Indonesia. Ketika kita merasa sudah menjadi orang paling malang sedunia karena berdesak-desakan di atas kereta, toh masih ada juga sejoli yang berdendang ria 'Di wajahmu, kulihat bulan....' Dan mereka itu memang benar-benar bernyanyi dengan hanya mengandalkan mata hati. Mereka berjalan saling tuntun dan tetap saja bisa lolos di tengah himpitan para penumpang, yang secara sporadis menyumbangkan Rp1000-Rp2000 ke kantong bekas permen yang mereka sodorkan. Nah, rohaniawan mana pun saya kira tak ada yang bisa mengimbangi 'khotbah hidup' yang dipertunjukkan pasangan ini, sepanjang menyangkut ketabahan dan bersyukur....

Motor Seperti Ikan Rebus
Bukan hanya berjubelnya kereta yang menggambarkan betapa masalah transportasi sudah cukup gawat di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sepeda motor, adalah indikator lain. Misalnya, para pengguna motor pasti sudah akrab dengan pengalaman 'dianak-tirikan' dalam perkara parkir di mal. Parkir motor selalu berada di tempat yang tidak nyaman.
Makin berjubelnya pengguna motor menyebabkan para pegawai perparkiran, dalam hemat saya, adalah pahlawan-pahlawan yang harus terus-menerus diuji kreatifitasnya, agar bisa mengatur dan menyusun deretan motor itu serapi dan sepadat mungkin. Kalau bisa, berlapis-lapis seperti ikan rebus di dalam keranjang....Foto ini saya ambil kira-kira setahun lalu, di mal Ambasador, Kuningan, Jakarta.

Harus Turun
Di Surabaya, ada pula peraturan lain yang harus secara cermat dipatuhi para pengendara motor kalau tak mau babak belur.
Di mulut gang di berbagai kawasan pemukiman di kota itu, selalu ada tulisan berbunyi: 'HARUS TURUN'. Tulisan ini tidak bernada politis seperti yang ditujukan oleh para pengunjuk rasa kepada pejabat yang korup, atau terhadap harga BBM yang seolah terbang, melainkan 'perintah' kepada pengendara motor agar mematikan mesin dan turun dari motor bila melewati gang itu. Motor harus dituntun kalau tidak ingin dipelototi atau malah ditempeleng(?). Foto ini saya ambil beberapa bulan lalu.

Motor Disayang-sayang

Untuk menggambarkan keadilan dalam hidup, orang sering mengumpamakannya dengan roda pedati. Ah, sekarang motor pun bisa kita gunakan menjadi ilustrasi. Motor yang selalu berkedudukan paling rendah, ditunggangi kemana-mana dan harus mau diajak menembus becek mau pun melibas jalan berlubang, sesekali harus juga diberi kesempatan 'bermanja-ria.' Kalau biasanya ia selalu berada di bawah, kali ini ia berada di atas. Semisal tatkala banjir badang melanda Jakarta, tempo hari. Banjir sepinggang orang dewasa menutupi sepotong jalan di dekat pemakaman umum Tanah Kusir. Akibatnya motor tak dapat melintas. Lalu gerobak yang oleh para pemulung biasanya digunakan sebagai tempat barang rongsokan,berganti fungsi menjadi ferry untuk menyeberangkan motor-motor itu. Motor dielus-elus dan dinaikkan ke atas gerobak. Rp20 ribu per motor kala banjir masih pada peaknya. Turun jadi Rp10 ribu per motor manakala banjir mulai surut. Sekali lagi, Tuhan maha adil. Di tengah banjir sekali pun, tetap ada yang panen dengan omzet berpuluh kali lipat dibanding masa normal....

Pengadilan yang Kocak
Masih menyangkut tetek-bengek soal motor, berbahagia lah mereka yang tak pernah berurusan dengan polisi. Baik karena memilih damai ketika ditilang, mau pun karena selalu mematuhi peraturan lalu-lintas. Sebab jika tidak, mereka harus mau membuang waktu menyambangi kantor pengadilan di wilayah mana ia melanggar rambu. Sidang atas pelanggaran itu biasanya berlangsung lama. Bukan karena sidangnya yang bertele-tele (interogasi dan pembacaan vonisnya sih, cuma satu menitan) melainkan karena antrian 'terdakwa' yang sangat panjang. Kadang-kadang tak jelas pula kapan akan dimulainya sidang. Di saat begitu tak kurang jumlah 'orang-orang baik' yang menawarkan jasa untuk bisa lolos lewat jalan belakang. Tentu dengan tarif VIP.

Bagi yang belum pernah membayangkan bagaimana suasana sidang, foto ini hanya salah satu scene saja. Satu hal yang ingin saya pesankan, walau kelihatannya rada 'seram' oleh baju toga Pak Hakim, percaya lah, sidang-sidang di sini tidak setegang sidang Arltayta Suryani atau sidang-sidang kasus korupsi lainnya. Bahkan kocak. Kalau punya waktu leha-leha, sidang pelanggaran lalu lintas ini malah bisa jadi salah satu cara untuk down to the earth. Kita akan menyaksikan bagaimana kawan-kawan kita supir disidang ketika mewakili bosnya. Coba, kapan lagi sang supir itu bisa berlagak sebagai pemilik Lexus, kalau bukan di saat seperti ini?

Only for Sarimatondang Peoples
Nah kalau foto yang ini, jangan ditiru.(Sebab, kalau semua orang bertindak begini, food court di Bandara bisa gulung tikar...hehehe) Ini adalah kelakuan orang-orang udik van Sarimatondang. Sebetulnya alasannya demi menghemat, tetapi diciptakan lah alasan yang lebih luhur yakni demi kebersamaan. Mereka pun melampiaskan mangan ora mangan, ngumpul-nya di bandara Soekarno-Hatta sambil menunggu keberangkatan pesawat.


Mereka adalah keluarga saya dan foto ini saya jepret sekitar dua tahun lalu. Panjang ceritanya, tapi akan saya bikin singkat (kan, foto mewakili sejuta kata?). Waktu itu Bapak dan Omak (panggilan sayang kami kepada ibu) terbang dari Medan untuk menyambut kelahiran cucunya di Kalimantan. Karena pesawatnya transit di Jakarta, maka mereka memesankan agar kami sudi mangalo-alo (menyambut) mereka di Bandara Soekarno-Hatta, sekadar melepas rindu sejam-dua jam. Jadi lah kami membawa bekal dari rumah selengkap-lengkapnya.

Ketika mereka tiba di Soekarno-Hatta, pertemuan itu pun berlangsung dengan riuh-rendahnya. Riuh oleh suara hilir-mudik pesawat terbang. Riuh oleh obrolan ngalor-ngidul. Riuh juga oleh suara putri saya dan keponakan-keponakan lain karena pedasnya ikan teri yang jadi lauk makan siang yang kesorean itu. (Dalam foto, Bapak dan Omak nomor satu dan dua dari kanan. Saya tak tampak, karena menjepretkan kamera)

Welcome to Banda Aceh
Foto yang berikut ini juga masih bercerita tentang Bandara. Tapi jangan salah kira.

Mereka yang mengangkat kertas-kertas putih itu bukan para demonstran yang sedang menyuarakan ketidakpuasan. Mereka itu adalah para penjemput di Bandara di Aceh (lupa nama Bandara-nya). Sebagai gambaran, bandara di Banda Aceh itu lebih mirip sebagai lapangan terbuka yang luas. Para penjemput kadang-kadang bisa langsung datang mendekat ke pesawat. Adakalanya, orang-orang yang hendak bepergian melalui bandara ini, duduk-duduk dulu di lepau tak jauh dari bandara sambil menunggu keberangkatan. Sebab dari jauh pun, kita bisa menyaksikan pesawat yang datang dan pergi. Apalagi frekuensi penerbangan ke sini masih agak jarang. Foto ini saya ambil tahun lalu, ketika ada kesempatan mengunjungi kota itu.

Bukan Berebut Makanan, melainkan...
Untuk mengakhiri posting ini, saya ingin memilihkan sebuah foto yang bukan hanya Only in Indonesia, tetapi juga Only in Batak Peoples.

Sepintas, kalau kita sangat dipengaruhi oleh prasangka tentang betapa sulitnya perekonomian saat ini dan makin banyak orang yang kelaparan, bisa-bisa foto ini dikira barisan orang-orang yang tengah berebut makanan. Tentu saja salah, bahkan salah total. Foto ini justru menggambarkan suasana gembira dan suasana saling hormat-menghormati. Ini adalah gambar pada sebuah pesta bona taon marga Siadari. Di puncak acara, pihak boru menghidangkan makanan paripurna kepada pihak hula-hula. Dan semua pihak yang menyerahkan dan menerima, berdiri di sekeliling makanan itu. Mereka saling mengulurkan tangan, simbol telah diserahkan dan diterimanya hidangan. Pihak hula-hula –tak terkecuali siapa pun, sepanjang tempat masih memungkinkan-- harus turut menerimanya. Kalau tangan tak sampai lagi menjangkau nampan tempat makanan, boleh saling sentuh dengan sesama hula-hula di sebelah kita. Tindakan menerima secara bersama-sama ini, adalah cerminan persatuan dan kebersamaan. Only in Indonesia....lho.

3 comments:

  1. wekekekekkkkk.... ide yang mantap bang... :D

    ReplyDelete
  2. hahaha....ada yang membanggakan, ada yang bikin miris juga...anyway, saya cinta negeri ini sampai mati.

    ReplyDelete
  3. sudut pandang kamera dan angle yang pas. Namun lebih menarik lagi ide dari semangat foto2 ini. Only in Indonesia...

    makasih bang udah menyambangi gubuk saya, menarik sekali dan saya juga tertarik untuk mengalirkan ide2 blog ini ke tempat saya... jadi biar saya tidak ling-lung, saya link saja ya ... :D
    HOras dari jauh...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...