Sunday, July 20, 2008

Sebuah Lapangan yang Hilang


Tak banyak yang dapat dibanggakan pada rumah kami. Seperti halnya rumah-rumah di kompleks pemukiman para pekerja, ia benar-benar minimalis hampir dalam segala soal. Ada yang menggunakan julukan rumah mungil untuknya. Itu tentu sebuah penjelasan yang bersifat kosmetik sekaligus menghibur untuk sebuah rumah kecil, sempit dan dekat kemana-mana –dekat ke kamar mandi, dekat ke kamar tidur, dekat ke ruang tamu.

Betapa kecilnya rumah itu, makin saya sadari ketika suatu hari karena kemacetan yang demikian parahnya, saya terjebak di dekat Hotel Mandarin, di Jalan Sudirman, Jakarta. Persis di depan sana, ada sebuah papan reklame (billboard) bergambar notebook. Sambil menatap ke arah papan reklame itu, hati saya mengguman, ya ampun, kalau papan reklame ini dibaringkan, luas rumah kami tak sampai setengahnya. Dan seumpama ini saya ceritakan kepada teman-teman semasa kecil di kampung halaman, pasti mereka akan terpingkal-pingkal setengah tidak percaya mendengar rumah yang luasnya setengah papan reklame....

Tetapi sejak kecil kita diajar untuk berfikir positif. Untuk selalu mencari ‘bagaimana baiknya.’ Maka lagu Achmad Albar cocok jadi pengobat lara ketika ada godaan untuk berkeluh-kesah betapa mungil dan dekat kemana-mana-nya rumah kami. Kan, penyanyi berambut kribo itu sudah bilang, Lebih baik di sini, rumah kita sendiri…

Sewaktu kami baru menempati rumah itu dulu, ayah berbicara lewat telepon dari kampung . Nada bicaranya curious dan rada-rada tak percaya akan kemampuan saya menjangkau rumah yang layak. Sedari dulu ia memang memprihatinkan anak sulungnya ini dalam soal mencari uang. Ia juga khawatir, paling-paling yang mampu saya sediakan adalah rumah pinggiran bekas apkiran orang-orang. Dan ia sangat mecemaskan apakah rumah kami bakal terkena banjir atau tidak. Tayangan televisi tentang bencana rutin yang melanda Jakarta sangat mempengaruhi pandangannya tentang Ibukota.

Untuk meyakinkan dia, saya pun berusaha keras untuk membual dengan mengatakan saya telah melakukan survei ke delapan penjuru angin sebelum akhirnya menemukan rumah yang kini kami huni itu. Ia agaknya mulai sedikit lega. Apalagi kemudian saya berkata bahwa rumah kami itu benar-benar merupakan ‘fotokopi’ dari rumah ayah di kampung halaman. Saya yakinkan beliau bahwa ditilik dari nama wilayah, lokasi dan lingkungannya, rumah kami itu benar-benar mirip-mirip dengan rumah di Sarimatondang, kampung tempat kelahiran saya.

OK, mungkin tak persis. Tapi, tak ada salahnya kan berusaha membesarkan hati orang tua?

Rumah kami di Ciputat berada di sebuah desa bernama Sarua. Nah, lihat lah. Tiga huruf awalnya –Sar—sudah memper-memper dengan nama desa tempat lahir saya, Sarimatondang. Bagi orang lain mungkin persamaan tiga huruf itu tak terlalu berarti. Tetapi bagi saya yang sedang berusaha mempromosikan kampung halaman kedua di negeri rantau, plus mempraktikkan the law of attraction yang kondang itu, tentu lah ini sebuah kebetulan yang penting untuk berharap agar kelak mendatangkan berbagai kemujuran.

Di Sarimatondang, rumah tempat saya dibesarkan dan tempat adik-adik dilahirkan, berada di tepi jalan besar yang menanjak. Bila berkendaraan dari arah P. Siantar, tanjakan itu hampir sejauh 200 meter sebelum mencapai rumah, menyebabkan bis atau motor harus masuk gigi dua bila tak ingin terseok-seok. Ini kemiripan yang patut dicatat dengan rumah mungil kami di Sarua. Rumah itu pun berada di tepi jalan yang agak besar. Juga di jalan yang menanjak.

Ada lagi kemiripan yang lain. Bila datang dari arah Bumi Serpong Damai (BSD), perjalanan selama 10 menit menuju ‘rumah Sarua’ kami akan melewati jalan yang berkelak-kelok. Sebelum akhirnya tiba pada persimpangan menuju perumahan, ada sebuah jalan menurun melewati jembatan Kali Angke. Jembatan itu berpagar tembok dan besi di kanan-kiri, dan ini selalu mengingatkan saya pada jembatan legendaris yang ada di kampung halaman. Jembatan itu menghubungkan dua sisi sungai yang sangat besar di Tigabolon, beberapa menit sebelum tiba di rumah ayah di Sarimatondang. Orang Sarimatondang menyebutnya, Titi Tigabolon. Makin tak terbantahkan lagi kan, kemiripan rumah Sarua dan rumah Sarimatondang?


Tetapi kemiripan lain yang paling berkesan adalah sebuah lapangan bola yang letaknya tak jauh dari rumah kami di Sarua. Lapangan itu berada di pinggir jalan dan kerap diramaikan oleh anak-anak. Di kala bulan puasa, ia jadi tempat ngabuburit yang ramai. Menjelang 17 Agustus, ia jadi ajang pertandingan sepak bola. Bila sedang begitu, di pinggir lapangan sudah ada sound system besar. Ketika pertandingan berlangsung, salah seorang dari pemuda di sana pasti akan bertindak sebagai reporter yang melaporkan langsung jalannya pertandingan lewat pengeras suara. Di saat istirahat, sound system itu kadang-kadang melantunkan lagu ‘Goyang Dombret’ tetapi juga We are the champion.

Sore-sore hari Sabtu pada saat seperti itu merupakan waktu yang tak bisa saya lewatkan untuk bersegera ke sana dan duduk bersila di tepi lapangan itu. Saya menikmati betul menyaksikan Beckham-Beckham Banten unjuk kemampuan. Sambil begitu, seselintas terbayang juga lapangan sepak bola di Sarimatondang, yang di kala menjelang 17-an ramainya juga tak kalah dengan Sarua…..


(^_^) (^_^) (^_^)


Lapangan Sarimatondang hanya kurang lebih 50 meter dari rumah tempat saya dibesarkan. Jika di kota-kota pulau Jawa selalu ada yang disebut alun-alun, lapangan bola Sarimatondang semestinya cocok juga menyandang sebutan serupa. Letaknya strategis. Berada di pinggir jalan. Diapit oleh pasar, sekolah, gereja dan rumah-rumah penduduk. Semua orang sekecamatan pasti tahu lapangan bola itu.

Tak perlu dipertanyakan lagi bila Lapangan Sarimatondang kerap jadi pusat kegiatan, terutama olah-raga. Sore di hari Sabtu dan Minggu, anak-anak dan pemuda biasanya bermain sepak bola di sana. Di Sumatera Utara dulu tumbuh subur kesebelasan kiyam dan bahkan ada kompetisi antar klubnya. Kiyam di sini adalah singkatan dari ‘kaki ayam’ alias tanpa sepatu. Klub kiyam adalah kesebelasan yang bermain dan bertanding sepak bola tanpa sepatu. Jangan remehkan kemampuan mereka. Klub-klub kiyam ini lah yang menjadi sumber perekrutan pemain klub. Umumnya klub kiyam memang diisi oleh remaja-remaja tanggung.

Di Lapangan Sarimatondang umumnya anak-anak dan remaja bermain sepak bola ala kiyam. Seingat saya, baru di sekitar tahun 1980-an orang Sarimatondang makin terbiasa bermain sepak bola memakai sepatu. Itu juga kalau ada pertandingan resmi. Selebihnya, jika cuma untuk bermain sebagai latihan, apalagi untuk melewatkan waktu, sepak bola dengan kaki ayam lah yang lazim. Jangankan untuk bermain sepak bola, hingga kelas III SD pun, seingat saya kami masih sering ber-kiyam ria ke sekolah. Hanya satu dua siswa yang bersandal jepit. Bahkan ketika di kelas V SD, pernah saya benar-benar tanpa alas kaki mengikuti cerdas tangkas di lapangan sekolah. Soalnya sandal jepit saya putus, dan terpaksa saya tinggalkan di dalam kelas.

Lapangan Sarimatondang itu sesungguhnya banyak kekurangannya. Bila dibandingkan dengan lapangan lain di lingkungan kecamatan, jelas lah ia bukan lapangan yang ideal. Misalnya, Lapangan Sarimatondang itu kalah jauh dengan lapangan sepak bola di Bah Butong, yang terletak di dalam kawasan perkebunan teh dengan nama serupa. Rumput di lapangan Bah Butong selalu dipelihara. Ia juga sudah menjelma seperti layaknya sebuah stadion. Sudah memiliki tribun untuk penonton.

Lapangan lain, yakni di emplasemen Sidamanik, juga berada di wilayah perkebunan. Ia juga adalah lapangan yang terpelihara. Rumputnya tak pernah tumbuh liar. Tak ada kerbau yang berani mencari makan dan golek-golek di sana. Gawang di kedua ujung lapangan selalu terlihat dicat putih bersih, tidak seperti gawang di lapangan kampung kami yang kerap hilang entah diambil oleh siapa. Perkebunan teh sebagai penghasil devisa tentu ikut berperan atas hal ini. Bagaimana pun, budget mereka lebih dari cukup untuk sekadar memelihara lapangan sepak bola berikut assesorisnya. Sedangkan untuk Sarimatondang, darimana uang untuk mengurusi itu?

Tidak mengherankan bila kualitas klub sepak bola perkebunan tersebut jauh di atas pemain sepak bola Sarimatondang. Well, dulu memang ada Persesa 80, sebuah klub sepak bola yang diprakarsai oleh anak-anak Sarimatondang. Untuk ukuran antar desa, mereka memang jago-nya, bahkan pernah menaklukkan sebuah klub sepak bola (setingkat desa juga) asal Pematang Siantar. Tetapi bila dibandingkan dengan kesebelasan-kesebelasan perkebunan itu, Sarimatondang jelas lah bukan lawan yang sepadan.

Pembinaan klub di perkebunan sudah terprogram. Para pemain-pemainnya kebanyakan bekerja di perkebunan itu. Bandingkan dengan pemain-pemain sepak bola Sarimatondang. Beberapa pemainnya masih bersekolah di salah satu SMA Siantar. Kelak jika ia lulus dan melanjutkan kuliah di Medan atau Jakarta, yah.... habis lah kariernya sebagai pemain bola. Klub nya pun tak bisa menahannya. Siapa yang bisa menghentikan orang untuk mengejar masa depan yang lebih baik?

Dengan segala kekurangannya ini, tak berarti Lapangan Sarimatondang dapat diabaikan apalagi dilupakan. Setidaknya bagi kami, anak-anak Sarimatondang. Sampai kini, di benak kami ia tetap lapangan yang legendaris dan selalu dibanggakan kemana-mana. Tak sedetik pun cinta orang-orang sekampung luntur kepadanya. Ia selalu menjadi pilihan serbaguna. Untuk melangsungkan keramaian, Lapangan Sarimatondang adalah tempat paling strategis, praktis dan murah. Yang paling nyata adalah untuk perayaan 17 Agustus.
Sebuah pojok di lapangan bola Sarimatondang
Di bulan-bulan Agustus lapangan Sarimatondang akan selalu dibenahi. Rumputnya dipotong. Kerbau-kerbau yang biasa mencari makan di sana, untuk sementara diamankan dan diungsikan ke lapangan-lapangan lain di sekitar desa itu. Para ambtenaar-ambtenaar kecamatan sibuk ke sana kemari memeriksa lapangan itu dan memberi perintah kepada para pekerja.

Ada pengalaman yang tak bisa saya lupakan. Waktu itu saya dan beberapa orang teman tengah bermain-main, ketika para ambtenaar itu saya saksikan demikian repot membersihkan lapangan. Tak berapa lama kemudian, Pak Camat datang. Para ambtenaar itu berlarian menyongsong Pak Camat, yang berbaju safari lengkap dengan lencana ‘parabola’ menempel di saku kemeja.

Tak berapa lama telah terbentuk barisan setengah lingkaran diantara para ambtenaar itu, dengan Pak Camat berada di hadapan mereka. Satu per satu bawahannya itu melaporkan apa yang telah mereka persiapkan. Pak Camat manggut-manggut mendengar. Kami para anak-anak yang berdiri tak berapa jauh, berusaha menguping apa yang mereka bicarakan.

Setelah semua laporan disampaikan, saya melihat Pak Camat seperti belum puas. Berpikir keras, seolah masih ada yang terlewatkan. Betul saja. “Seksi hujan….., Seksi hujan. Sudah ada seksi hujan yang kalian siapkan? Itu penting. Tolong disiapkan,” kata dia. Lalu ia bergegas sambil mengambil secarik kertas. Ia menuliskan sesuatu di kertas itu dan menyerahkannya kepada bawahannya. Mungkin itu lah nama personil seksi hujan yang dia maksudkan. Seksi hujan adalah istilah untuk pawang hujan, yang diharapkan bisa mencegah turunnya hujan di kala nanti perayaan itu berlangsung.

Pada hari H, Lapangan Sarimatondang akan jadi pusat semua aktivitas. Akan ada panggung tempat para pembesar berpidato. Di tengah lapangan itu juga didirikan lah tiang bendera yang sangat tiiiiiinggi. Di tepi lapangan akan berbaris lapak-lapak penjual makanan. Mulai dari mi gomak, lontong sayur, pecal, tiwul, gado-gado, nanas potong, ketan campur, es doger, es kelapa, limun, cendol, ah, perlu kamus besar nih untuk mendaftarkan jajanan murah ala Sarimatondang.

Tahun lalu, sore-sore persis pada tanggal 17 Agustus, telepon di rumah kami di Sarua berdering. Suara ayah terdengar di ujung sana. Setelah bertanya apa kabar dan sebagainya, dengan tak sabar dan penuh semangat ia mengabarkan tentang perayaan 17 Agustus di kampung halaman itu. “Wah, rame kali, bah….Maccam-maccam orang berdatangan ke kampung kita ini. Tak muat jalan ini menampung orang-orang berbaris-baris,” kata dia dengan nada bangga.

“Memang selalu begitu, kan?” jawab saya, tak terlalu heran.

“Oh, sekarang ini lain,” kata dia, mencoba menggugah agar saya tak cepat-cepat mengakhiri pembicaraan. Rupanya memang ada yang istimewa pada perayaan kali itu. Ternyata perayaan 17 Agustus se-Kabupaten dipusatkan di Sarimatondang. Lapangan Sarimatondang itu pun jadi lebih ramai dari 17-an biasanya. Pak Bupati datang. Sekolah-sekolah dari seantero kabupaten pun mengirimkan tim. Untuk berbaris, untuk berpawai, untuk bernyanyi dan banyak lagi.

Saya membayangkan, rumah kami di Sarimatondang pun pasti lah kedatangan bejibun pengunjung. Saudara-saudara dari lain desa pasti memanfaatkan kesempatan itu untuk bersilaturahmi. Anak-anak kerabat dari desa-desa yang jauh, pasti sudah dipesankan orang tuanya agar singgah di rumah kami. Sekadar bertukar kabar dan mengaso setelah lelah berpawai seharian. Sore-sore sebelum pulang, mereka pasti akan mandi di rumah.

Warna-warni pertunjukan biasanya akan muncul pada perayaan 17-an itu. Di zaman dulu, selalu saya tak bisa menahan kesabaran menantikan pawai yang diikuti tim reog yang seram tapi mengundang rasa penasaran. Peserta reog itu adalah kaum pekerja di perkebunan, kawan-kawan dari suku Jawa yang wajah ‘pribumi-nya’ tak kalah dengan Mas Tukul mau pun Pak Timbul. Mereka berpawai, berjalan oleng dan kadang-kadang pria yang menunggangi kuda lumping berpura-pura ingin menyeruduk para genuine lady van Sarimatondang yang sedang menonton di pinggir jalan. Kala begitu akan terlihat segar lah suasana. Nona-nona itu, yang sekilas tampak pada mirip dengan Jennifer Lopez oleh tulang pipi menonjol di wajah kotak marsuhi-suhi (bersegi-segi), acap bersitegang dengan si kuda lumping berwajah wayang. Hehehehe, ini di Sarimatondang apa di Extravaganza, sih?

Berbagai gaya fesyen para penonton akan tampak pada perayaan 17-an. Dulu ada seorang tua yang oleh kami kanak-kanak dijuluki si Tudos. Berambut dan bermisai panjang, ia selalu datang dengan berjalan kaki dari desanya yang berjarak lebih kurang lima kilometer. Gaya pakaiannya antik: baju, celana dan topinya merah dengan anasir putih. Kalau perutnya gendut, ia sudah bakal persis seperti Santa Claus. Apalagi rambut dan misainya sudah putih semua. Ia juga selalu membawa tongkat. Bedanya, kalau Santa Claus biasanya akan diakrabi anak-anak, si Tudos justru berusaha dijauhi sambil berbisik-bisik. Sebab kata orang-orang, ia punya keahlian supranatural. Antara lain bisa mencegah atau menurunkan hujan. Mendatangkan badai pun konon bisa, kalau hatinya sedang disakiti.

Kanak-kanak kawan sebaya dari desa-desa yang jauh, pertama kali akan dicirikan oleh rambutnya yang mengilap dengan sisiran ala Mafioso. Pasti lah minyak goreng dari dapur digunakan untuk menciptakan efek lurus dan bersinar pada rambut hitam dipanggang mata hari itu. Kalau diperhatikan, kaki mereka juga tak kalah licin. Ah....saya juga hafal dengan kaki yang begitu. Sebab saya juga melakukannya. Yakni mengoleskan minyak goreng ke sekujur kaki untuk melembutkan kaki bersisik yang acap ditemui pada kaki-kaki anak-anak Sarimatondang. Tak ada lotion. Bukan hanya mahal, lotion adalan benda aneh yang baru kami dengar puluhan tahun kemudian.

Lalu siulan yang bersuit-suitan akan muncul sambung-menyambung manakala tiba waktunya rombongan wajah-wajah ala Dian Sastrowardoyo memamerkan kebolehannya. Alis mata mereka umumnya lentik. Bulat telur wajah sawo matang itu berhias rambut panjang dikepang kuda dengan pita warna-warni. Mereka adalah grup drum band dari sekolah-sekolah di perkebunan. Melihat lenggak-lenggok mereka, dari alam baka sana nenek moyang mereka yang dulu umumnya adalah migran Jawa dan datang ke Sumatera sebagai ‘kuli kontrak’ mungkin tersenyum; cucu-cucunya kini tumbuh sebagai srikandi yang trengginas dan ayu di tanah sabrang.

Atraksi mereka akan mengundang decak dan kagum. Para mayoretnya sigap dan tangkas berjalan ke sana kemari memastikan agar barisan tetap rapi. Mimik muka mereka demikian seriusnya. Tetapi sesekali pasti lah tak bisa menahan senyum malu-malu manakala tersangkut pada kerling satu-dua penonton, yakni para remaja-remaja Sarimatondang yang tak mau kalah aksi. Bukan cerita aneh jika nanti sehabis pawai, senyum malu-malu dan kerling mata menggoda itu mewujud dalam kencan dua sejoli di kebun nanas. Si Batak Sarimatondang mencoba melontarkan rayuan gombal sedunia ke hadapan Srikandi yang determinasi bicaranya tak kalah dengan wanita-wanita Sumatra pada umumnya. Kelak, mereka dikenang sebagai generasi pembuka bagi munculnya keluarga-keluarga Pejabat (Peranakan Jawa Batak), berdampingan dengan keluarga-keluarga Pujakesuma (Putra/I Jawa Kelahiran Sumatera).

(^_^) (^_^) (^_^)





Kini lapangan itu sudah lenyap. Tak lagi terlihat bekas-bekasnya sebagai ajang keramaian seperti tempo dulu. Lapangan itu kini berubah jadi sebuah pintu gerbang yang megah, bagi sebuah kompleks perumahan yang pengerjaannya sedang dilangsukan siang dan malam.

Bukan, bukan Lapangan Sarimatondang yang lenyap, melainkan lapangan di desa Sarua, yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari kompleks perumahan kami. Agaknya lapangan itu dulunya memang bukan milik publik, melainkan milik pribadi yang dibiarkan jadi lapangan, menunggu ada pembeli yang mau menawar dengan harga tinggi. Dan, beberapa bulan lalu lapangan itu dibersihkan. Pohon-pohon pisang yang mengelilinginya ditebang habis. Buldoser didatangkan. Buruh-buruh bangunan berpuluh-puluh diturunkan. Sebuah perubahan besar telah dimulai. Lapangan itu terjual dan akan disulap jadi sebuah perumahan.

Kawasan yang dulunya lapangan bola berumput hijau kini menjelma jadi aspal. Rumah-rumah penduduk yang tidak ikut tergusur bersolek, menjadi warung-warung dan toko. Tak berapa lama kemudian, kantor pemasaran kompleks pun berdiri. Dengan arsitektur kontemporer, warna-warni cat teduhnya menjadi pemandangan unik di tengah rumah-rumah desa beratap genteng. Ada air mancur dibangun menghiasi bundaran di tengah gerbang. Di sana lah pada malam hari, para buruh terlihat beristirahat dan bercengkrama, di bawah cahaya listrik lampu jalan dan sinar bulan purnama. Satu-dua diantara buruh-buruh yang masih perjaka itu, kelak mungkin bakal kecantol dengan bedinde-bedinde di perumahan kami.Jika para sosiolog selalu gandrung pada perubahan sosial, daerah tempat kami tinggal ini mungkin adalah sebuah laboratorium yang eksotis untuk dieksplorasi.

Kadang-kadang ada perasaan terbelah manakala melintas di bekas lapangan bola itu. 'Hati dari masa kecil' seolah menangis mendayu-dayu mengingat telah lenyapnya sebuah arena yang mengingatkan diri pada masa lalu. Namun 'hati dari masa kini' yang sudah terkontaminasi dengan naluri rantau berkata sebaliknya. Bahwa lenyapnya lapangan itu adalah keniscayaan perubahan. Keniscayaan dari hukum permintaan dan penawaran. Karena makin banyak orang yang terinspirasi dari lagu Achmad Albar 'lebih baik di sini, rumah kita sendiri...', maka makin diburu orang lah rumah-rumah hingga ke ujung kota.

Beberapa tahun lalu, kita dikejutkan oleh berita tentang seorang konglomerat Inggris bernama Richard Branson yang memutuskan ikut dalam penerbangan ulang-alik luar Angkasa Rusia, Soyuz. Banyak spekulasi di balik keputusannya yang menelan dana pribadinya hingga US$20 juta. Tak mungkin jika tokoh sekaliber dia mau buang-buang uang sedemikian banyak jika hanya ingin melampiaskan hobi nyentrik atau demi aktualisasi diri. Pasti ada motivasi yang lain.

Mungkin kah dia sudah bosan di bumi, yang makin lama makin sempit-- lepas pantainya yang ditambang untuk mencari minyak, lahan-lahan hijaunya digusur untuk bikin resort, hutan bakaunya yang dialihfungsikan? Mungkinkah ia rela berjudi nyawa dalam ekspedisi antariksa itu untuk melihat dan mendapat inspirasi berbagai kemungkinan di alam ‘atas’ sana? Siapa tahu ada ‘bumi lain,’ yang masih kosong dan sangat luas bagi manusia untuk kelak jadi objek menantang untuk melampiaskan naluri menjelajah?

Wallahualam. Yang saya cukup pasti, orang Sarimatondang hanya sederhana permintaannya. Semoga Lapangan Sarimatondang tetap sebagai lapangan. Tempat berjuta kenangan masih bisa dijiarahi.

Ciputat, 20 Juli 2008

Catatan:
(01) Tulisan ini dipersembahkan untuk Ipiet_chan, pengunjung blog ini. Ia mengaku orang Baharen, sebuah kawasan perkebunan tak jauh dari rumah kami di Sarimatondang. Ia kasih usul agar saya bercerita tentang kegiatan 17 Agustusan di kampung kami, yang selalu meriah. Blog Ipiet_chan baca di sini
(02) Tulisan lain tentang 17 Agustus-an di Sarimatondang dapat dibaca di sini
(03) Tulisan lain tentang lapangan Sarimatondang dapat dibaca di sini

9 comments:

  1. wahhh...serasa pulang kampung nih,hiks..hiks...jadi terharu,bang eben! ajarin saya nulis donk?? he..he..he..walau merantau jauh ke negri jiran,terasa begitu dekat dengan kampung halaman.boleh kan sarimatondang jadi kampung halaman saya juga,walaupun saya hanya pujakesuma(putri jawa keluyuran di sumatra)oh iya bang, bang eben pernah main ke air terjun bahbiak gak? tempat nya gak kala cantik sama aek simata huting loh.

    ReplyDelete
  2. dik ipiet, semua orang sidamanik berhak kok jadi orang sarimatondang.kan sarimatondang itu ibukota kecamatannya (ceilee, ibu kota nih ye...), makanya itu sarimatondang kota kita sama-sama.... hehehehe.

    wah, ke bah biak blum pernah tuh. dik ipiet punya fotonya gak? kalau ada, kita dibagi ya....juga kalau nanti sempat mudik ke baharen, boleh saya dikirimi foto2 di kebun teh ya. dulu selalu saya bilang sama orang bandung bahwa kebun teh sidamanik itu lebih hebat daripada kebun teh di puncak. tapi nggak ada yang percaya.

    selamat bekerja dan merantau. ingat pulang lho....

    horas pujakesuma hehehe
    e.e.siadari

    ReplyDelete
  3. nanti lah klo ipit pulang kampung ipit ambil foto2 kebun teh yang bagus2.tapi dgr2 katanya kebun teh disana mo di ganti komoditas lain,kelapa sawit klo gak salah.semoga ja masih kebun teh bukan kebun sawit. biar bang eben bisa buat cerita yg hebat dan buat kampung kita jadi terkenal. he..he..he..kan seru nih klo akhir nya banyak org kota yang berkunjung ke sarimatondang, apa lagi klo wartawan sejkt yang datang meliput,yg lebih seru lagi nih, klo manusia2 bermata biru yang rame berkunjung.org bandung gak bisa nyombongin puncaknya lagi,dah punya saingan THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG he..he..ate bang eben! wahhhh...yang paling seru,n TOP BGT nih klo pendapatan perkapita warga sarimatondang meningkat drastis karena hal ini, warta bisnis bakalan punya berita hebat he..he..he..sabar ya bang eben, kemungkinan besar ipit pulang ke medan bulan 12 atau bln 1.tak sempat2kan lah ke baharen.
    boras... parsidamanik
    ehh.. salah...
    horas... sarimatondang he..he..he..
    batak kali aku bah.

    ReplyDelete
  4. mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
    www.kumpulblogger.com

    ReplyDelete
  5. hahahha
    sekarang dah gak lagi bang...
    kami latihan dah pakai sepatu, tapi dah satu tahun terakhir aku dah ga pernah lagi main bola disana...Ya maklumlah dah biasa main dilapangan yang bersih alias futsal ya jadi ketagihan dah, tapi aku jadi kangen juga nih main bola ma kawan2 dikampung..
    tahun lalu kami baru menang liga dikampung, nama klub kami PERSEMA (Persatuan Sepakbola Sarimatondang) kerenkan bang!?!?!? :p
    tapi seperti biasa selalu ada klub yang keberatan...makanya tipa tahun selalu ada peperangan antar kampung heheheh

    Trus satu lagi bang cewe2 sidamanik dah cantik-canti dah ga marsuhi-suhi lagi tapi dah berseri-seri.heheheh....tapi dikit

    Pertama aku buka kirain ab cerita tentang lapangan Sarimatondang yang hilang hehehee. jadi penasaran aku, makanya kubaca sampe abz...

    Ab masih kenalkan ma aku???!!!

    Aq mau pulang nih minggu depan ada titpin gak???

    ReplyDelete
  6. horas, erick. nama kau keren kali.... simare-mare kan? salam sama bapauda dan inanguda ya? kirim-kirimlah ikan teri dari medan.... hehehehe.

    syukurlah kalau kau sering-sering pulang. tapi soal 'marsuhi-suhi' itu, jangan kau berkecil hati. tak berarti kalau marsuhi-suhi tak canteeek. jennifer lopez itu kan marsuhi-suhi, tetapi manis lah tetap dia, kalau lagi cemberut dan shy-shy cat (malu-malu kucing kata tukul, hehehe).

    nah, sekarang aku kasih pe-er. mumpung kau pulang, tolong ambil foto-foto kebun teh ya... nanti tolong kirim via email ke saya. tahu kan alamat emailku? awas kalau kau nggak kirim. tak kuterge lagi nanti kau sebagai orang sidamanik hahaha.

    horas.
    (penunggu the beautiful sarimatondang)

    btw: foto kau di blog mu keren kali
    nama persema untuk klub kalian tolong cepat2 diganti. nanti bisa marah-marah orang se-jawa timur (malang) karena kalian nyontek nama mereka.

    ReplyDelete
  7. Horas.......
    kan ga ada orang sidamanik yang ga keren bang, kecuali abang.hahahaha

    Masa sih kota medan aja ga tw,heheheh

    ntar kita jalan2 sama di medan,ok bang!!!

    Medan gak seperti yang kau bayangkan dulu bang malah sebaliknya...

    Buat aku malah tambah pusing, ya tapi apapun itu hidup harus dijalani, biar ntar ga ada lagi orang kampung kita yang dijuluki be-te-el.hahahhaha

    Aku dah ada photonya bang tapi ga gitu bagus, karena kmrn hapeku masih yang danga-danga alias jadul,hehhe...
    sekarang ya dah lumayanlah, biarpun hanya beda tipis aja...
    Tapi tenang aja bang ntar aku kirimin ke e-mail abang. Masih ada koq di e-mail aku kusimpan....

    Kalau soal nama PERSEMA sih ga bisa lagi bang karena Nama SARIMATONDANG ga boleh hilang, lagi pula orang2 PERSESA 80 dah ga ada lagi, kemarin sempat juga sih kami buat namanya GLORA PERSESA tapi karena masalah nama itu dan orang2 PERSESA 80 banyak yang keberatan ya kami ganti deh jadi PERSEMA....
    Tapi apalah arti sebuah nama.heheheh.

    ntar salamnya aku sampein ama ma/pa bg....
    tapi kalau bisa ikan teri dikirim lewat e-mail pastilah aku kirim bang.heeeee

    ReplyDelete
  8. horas bang, klo aku par sidamanik juga, orang sarimatondang 2, depan pekan itu, dan rasanya sperti pulang kerumah ngeliat blog abang ini lah.
    Senang kali bah,

    ReplyDelete
  9. Horasss.......

    Sebagai mantan pemain PERSESA 80 /GELORA PERSESA Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada Lapangan kebanggaan Parsidamanik.
    Cuma mau nanya....Apa benar lapangan tu gak ada lagi..???

    katanya masih ada yang latihan di sana...???

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...