Saturday, August 09, 2008

Selamat Jalan, Bung Ciil

28/07/08 09:49
Sjahrir Meninggal di Singapura
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sjahrir meninggal dunia di Singapura, Senin, sekitar pukul 09.00 waktu setempat.


Di pojok itu, 23 tahun lalu, mata ini tertambat. Terpikat pada majalah Prisma bersampul oranye. Terpajang di rak buku di warung serba ada milik koperasi karyawan kampus. Prisma adalah majalah ilmiah sosial populer bergengsi kala itu. Jarang-jarang sampulnya menampilkan foto tokoh, tapi kali itu, ada gambar Sjahrir di sudut kanan atas. Kecil seukuran pas foto, wajah khasnya yang padat berisi dengan rambut berombak, sudah cukup menghipnotis. Di bawah foto tertulis judul karya tulis Sjahrir. Sesuatu tentang politik kebutuhan pokok, kalau saya tak salah. Saya paksakan juga membelinya, dan untuk pertama kali seumur hidup, saya membeli majalah ilmiah.

Begitu absurd, sebetulnya, membayangkan bagaimana saya merogoh kocek membeli Prisma di saat seperti itu. Saya tak tahu apa-apa tentang ekonomi, ilmu yang muram dan membosankan itu. Saya baru beberapa hari diterima di Fakultas Ekonomi sebuah PTN di Bandung. Seragam SMA putih-abu-abu masih saya kenakan sebagai salah seorang peserta Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Pergi ke waserba milik kopkar itu juga sekadar mengisi waktu istirahat.

Jika saya berani-berani membuang uang untuk mendapatkan Prisma dengan risiko kantong kempes di akhir bulan,

pasti lah ada hubungannya dengan sifat norak dan udik anak kampung seperti saya. Foto Sjahrir itu begitu berkharisma. Samar-samar dalam ingatan, masih terekam
reputasinya sebagai demonstran yang sesekilas saya dengar dari pelajaran sejarah Pak J.T. di bangku SMA tempo hari. Bahwa Sjahrir berunjuk rasa membela rakyat. Dituduh terlibat dalam Malapetaka Januari 1974 (Malari). Sempat dipenjara. Kemudian bebas lalu menuntut ilmu di Universitas Harvard. Kini dari majalah Prisma saya jadi tahu ia kembali ke Indonesia menyandang gelar Ph.D. Belakangan ia dikenal sebagai kolumnis ekonomi yang banyak didengar.

Di hati remaja saya kala itu, ada rasa berkecamuk bila dihadapkan pada kisah-kisah tentang mahasiswa demonstran. Saya selalu ingat kakek, ketika dua tahun sebelumnya menyampaikan petuah sebagai bekal 'merantau' ke Jawa. Dengan sangat pasti kakek mengatakan jangan sekali-kali ikut-ikutan aktivitas politik mahasiswa. Ngerti politik, boleh. Tapi ikut? Sekali-kali jangan. Fokus lah pada kuliah dan pelajaran agar cepat lulus. Berpolitik sambil kuliah hanya akan membuang waktu. Dan belum tentu pula akan kebagian.

Kakek tak sekadar menakut-nakuti. Anak-anak kampung kami banyak yang bisa jadi bukti. Mereka diberangkatkan dari kampung halaman untuk menuntut ilmu di Jakarta, lantas di tengah perjalanan kuliahnya larut dalam berbagai aktivitas politik. Kuliah tak beres-beres. Cita-cita politik juga kandas. “Berapa banyak rupanya yang bisa seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara atau Bomer Pasaribu?” kakek melontarkan pertanyaan retoris.

Ingat pada nasihat kakek, dan dihadapkan pada wajah Sjahrir di sampul Prisma, muncul rasa was-was tetapi juga terpikat. Hati ini seolah berkata, orang seperti Sjahrir ini pasti 'berbahaya', sejenis manusia yang oleh kakek pasti lah akan dilarang untuk dekat-dekat apalagi dikagumi. Tetapi seperti gejolak jiwa remaja umumnya yang selalu ingin menembus batas, justru karena ingin menyerempet bahaya itu lah ada niat ingin mengenal sosok Sjahrir lebih jauh. Lagipula, dengan cepat saya dapat merasionalkan alasan untuk melanggar pesan kakek. Ah, saya kan cuma baca-baca buah pikirannya? Petuah kakek kan tak sampai melarang untuk tahu tentang pikiran-pikiran orang berbahaya? Begitu lah kata hati, menenteramkan diri dari rasa bersalah.

Sayangnya, majalah Prisma itu tak banyak membantu saya mengenal Sjahrir. Tulisan Sjahrir itu setengahnya pun tak bisa rampung saya baca. Bagaimana bisa. Otak SMA saya masih begitu ingusannya sehingga tak mampu mengunyah aneka konsep, seperti basic human needs dan semacamnya itu. Beberapa menit saja mata ini segera berair, tak kuat memelototi naskah panjang yang kalau saya tak salah, merupakan ringkasan dari thesis Ph.D Sjahrir.

Alhasil majalah itu jadi semacam jimat saja. Jimat untuk meyakin-yakinkan diri bahwa saya ini sudah mahasiswa fakultas ekonomi lho... Sudah harus membiasakan diri dengan analisis yang rumit dengan persamaan-persamaan melingkar-lingkar seperti cacing. Tak berbeda jauh dengan jimat berupa batu kerikil bulat dari dasar sungai Simatahuting di kampung, di masa kecil. Batu semacam itu lah yang oleh kakek selalu disarankan untuk kami kantongi manakala bepergian ke kota. Jimat itu berguna untuk menangkal mabuk di perjalanan di atas bis dan juga mencegah munculnya rasa kebelet pipis. Jimat itu biasanya bekerja dengan baik. Tiap kali ada rasa eneg ingin muntah, pikiran langsung tertuju pada batu di saku. Segera terbayang sebentuk batu hitam dan dingin. Selanjutnya seolah tervisualisasi segar dan dingin dasar kali Simatahuting. Ajaib. Rasa ingin muntah itu lenyap seketika.

Jimat berupa majalah Prisma itu tampaknya ada juga gunanya. Sebab, enam tahun kemudian saya benar-benar dapat bertemu dengan tokoh 'berbahaya' itu, tokoh yang telah memikat saya lewat sebentuk foto kecil di majalah yang telah saya ‘jadikan’ jimat itu. Face to face. Lebih dekat dari sekadar membaca fikiran-fikirannya lewat tulisan-tulisannya. Berjabat tangan, berbicara, bahkan bersenda gurau. Orang yang berbahaya itu, Sjahrir yang mantan demonstran, Sjahrir yang kolumnis top, sungguh-sungguh ada dalam jangkauan.

Agak menggelikan sebenarnya cerita pertemuan pertama dengan Sjahrir. Waktu itu, saya baru beberapa bulan bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah ekonomi tatkala mendapat tugas untuk menggantikan rekan yang sedang cuti. Tugas itu adalah mewawancarai mantan demonstran itu dan kemudian menuliskan wawancara sebagai kolom Komentar Ekonomi. Kolega itu sudah dua tahun terakhir menjalankan tugas itu. Kali ini ia cuti agak panjang, menyebabkan saya kebagian giliran. Kolom Komentar Ekonomi Sjahrir merupakan rubrik tetap di majalah itu.

Seperti pungguk yang merindukan bulan dan bulannya jatuh tepat di pangkuan, antusiasme membuncah dalam batin menyambut tugas yang bagi saya, sangat menantang. Apa lah yang lebih menantang bagi seorang anak udik yang dalam mimpi dan tidurnya ingin bertemu dengan tokoh-tokoh berbahaya, lalu ternyata pertemuan sekonyong-konyong benar-benar terwujud? Waktu wawancara sudah ditetapkan: pukul 19:00. Tempatnya: di kantor Yayasan Padi dan Kapas dimana Sjahrir sehari-hari bekerja. Persisnya di Jl. Teuku Cik Ditiro, 31. Tempat itu bisa ditempuh 15 menit perjalanan dari kantor kami.

Maka berangkat lah saya setengah jam sebelumnya. Menumpang bajaj dari kantor, tak lupa memperlengkapi diri dengan macam-macam ‘senjata’: secarik kertas alamat, notes untuk mencatat, tape recorder untuk merekam, berlembar-lembar kertas daftar pertanyaan dan sebuah ransel tempat semua barang-barang itu tersimpan. Rasanya tak pernah saya sesiap ini sebelumnya.

Ternyata ada satu hal yang tak saya sadari tetapi membuat runyam tugas sore itu; supir bajaj yang saya tumpangi sama tidak hafalnya jalan-jalan di Jakarta, seperti saya yang baru beberapa bulan mengenal kota besar ini. Saya sudah dengan jelas mengatakan kepada dia bahwa tujuan perjalanan adalah Jl. Teuku Cik Ditiro. Tetapi bajaj tetap saja berputar-putar di sekitar Menteng. Seperempat jam berlalu, tak ada tanda-tanda menemukan jalan itu. Setengah jam lewat, tak juga ada harapan. Sejam amblas, saya makin cemas. Kala itu belum ada telepon seluler untuk menghubungi kantor. Sekali lagi kami susuri jalan-jalan itu, tetapi agak sulit juga melihat papan nama jalan yang sering tertutup oleh ranting-ranting pohon besar.

Dengan setengah kecewa setengah takut, akhirnya saya putuskan kembali ke kantor dengan bajaj yang sama. Tiba di sana saya segera meraih telepon dan menghubungi atasan untuk melaporkan 'kegagalan' saya dan meminta maaf. Saya dimaafkan tetapi tetap harus mencari cara agar wawancara dapat terlaksana entah kapan. Baru saja pesawat telepon ditutup, sekretaris redaksi kami yang sudah pulang, menelepon ke kantor dari rumah dan ingin berbicara dengan saya. Sang sekretaris memberitahu bahwa setengah jam sebelumnya Sjahrir menelepon dan mengatakan wartawan yang ditunggu-tunggunya tak kunjung nongol. Karena itu, kata sang sekretaris, wawancara dibatalkan dan selanjutnya dijadwalkan esok hari pagi-pagi sekali. Saya lega tapi juga khawatir. Soalnya sang sekretaris mewanti-wanti agar besok datang tepat waktu dan siap-siap lah dimarahi Sjahrir. Tak lupa pula ia menyarankan (sebetulnya sih, memerintahkan) agar sebelum pergi, saya membiasakan diri melongok peta Jakarta sebesar pintu di dekat meja sekretaris kamiitu. Untuk memastikan agar saya benar-benar tahu dimana itu jalan Teuku Cik Ditiro.

Selepas hujan ada pelangi, sebaris dari syair nyanyian yang sering saya dengar ternyata benar-benar metafora yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika keesokan harinya saya tiba juga di kantor Sjahrir, ia sudah duduk dengan wajah cerah di belakang meja kerjanya. Suaranya kencang dan ada nada kocak dan ceria. “Ngomong apa kita hari ini Ben,” katanya, terdengar akrab. Mungkinkah sekretaris redaksi tadi malam telah menyebut-nyebut nama saya kepadanya? Lalu ia menawari minuman. “Minum apa Ben? Kopi ya.... Pake krim ya....” Dan segera terdengar teriakannya meminta minuman itu kepada OB di kantornya. Saya lega. Ia tidak marah ternyata, seperti yang saya khawatirkan. Bahkan ia samasekali tak menyinggung insiden nyasar kemarin sore. Wawancara sepanjang 45 menit itu ia habiskan dengan bicara dan bicara. Tawanya renyah. Kopi dengan krim pagi itu, saya rasakan nikmat sekali.

(^|^) (^|^) (^|^)


Pada 24 Februari 1995 Sjahrir genap berusia setengah abad. Ketika itu kami merancang sebuah liputan yang sangat panjang tentang dia. Topik utama menyangkut seorang pakar ekonomi sangat jarang kami buat. Tetapi keputusan memilih Sjahrir sebagai cerita sampul sudah bulat.

Dan itu tak berlebihan. Sjahrir sudah seperti keluarga sendiri bukan hanya bagi kami tetapi bagi hampir kebanyakan wartawan ekonomi. Ia sudah bertahun-tahun jadi kolumnis di majalah kami. Ia tempat bertanya yang paling cepat dan dekat dalam jangkauan. Cara bicaranya yang lugas, sudut pandangnya yang menarik, pengetahuan dan jejaringnya yang luas, tak hanya memberi dasar yang penting untuk menyajikan sesuatu yang bersifat inside story, tetapi juga insight story.

Namun bukan itu alasan terpenting untuk mengangkat cerita tentang Sjahrir. Ada hal lain. Kala itu Sjahrir tengah dalam puncaknya sebagai seorang ekonom, kolumnis, pembicara seminar dan konsultan ekonomi. Namanya melambung di dalam mau pun di luar negeri. Seperti pengakuannya sendiri, dalam sebulan ia pernah berbicara di 40 seminar. Tarifnya sebagai ‘seminaris’ disebut-sebut mencapai puluhan juta per sekali tampil. Dan, ini, terjadi ketika ekonomi Indonesia sedang booming, ketika satu dolar masih Rp1500-an, ketika untuk mendirikan sebuah bank hanya dibutuhkan modal awal Rp5 miliar.

Gambaran high profile dirinya ini lah, yang, setidaknya di kalangan yang banyak mengenalnya, memunculkan kontroversi. Sang demonstran, aktivis, intelektual yang digadang-gadang mengartikulasikan suara rakyat, pengkritik konglomerat yang tak kenal ampun, kini dikesankan telah berpaling. Ia makin lunak pada masalah-masalah yang dulu dicercanya habis-habisan. Ia bahkan dinilai telah menjadi bagian dari yang dikritiknya itu.

Saya beruntung mendapat kesempatan mewawancarainya untuk topik yang dimaksudkan menjawab kontroversi dirinya itu. Wawancara kami berlangsung di ruang kerjanya lebih dari satu jam, yang kemudian terbit dengan judulSaya tak mungkin jadi Aktivis Selamanya. Dalam edisi yang sama, saya juga menulis profil Sjahrir dengan sudut pandang yang agak kritis. Tulisan itu terbit dengan judul Pleidoi setelah Setengah Abad. Beberapa pekan sebelumnya, Sjahrir telah meluncurkan 12 buku sekaligus, hasil penyuntingan dan penyortiran lebih dari 3000 makalah yang pernah ia buat. Lagi-lagi saya harus bersyukur karena mendapat kesempatan menurunkan tinjauan atas buku-buku itu dalam tulisan berjudul Evolusi setelah Setengah Abad.

Kini membaca kembali bagaimana ia menjawab pertanyaan di seputar kontroversi dirinya itu dahulu, dalam hati muncul pengakuan bahwa Sjahrir ketika itu sesungguhnya hanya lah seseorang yang baru memulai. Pembuka jalan. Perintis. Perannya yang dianggap kontroversial itu di kala itu, justru kini sudah jadi hal jamak di hadapan. Berapa banyak sudah aktivis dewasa ini yang telah mengikuti jejaknya, bahkan mungkin sesungguhnya jauh lebih kontroversial daripada Sjahrir bila ditilik dari kacamata tempo dulu? Benar jua lah kata beberapa orang kala itu. Sjahrir adalah orang yang selalu mendahului zamannya. Dan untuk orang seperti ini, kontroversi memang selalu jadi langganan.

Dalam wawancara dengan Sjahrir tempo hari, dari rak bukunya yang padat, saya ingat ia mencomot sebuah buku kecil seukuran saku. Ia membuka dan membolak-balik halamannya. Agaknya buku itu berisi ayat-ayat Al Qur’an. Lantas ia membacakan satu diantaranya, yang bunyinya kira-kira, ‘Kenikmatan membawa kedengkian.’ Ayat itu tampaknya dimaksudkannya untuk menggambarkan betapa kesuksesan kerap mengundang rasa dengki dan untuk itu seseorang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menghadapinya dengan sabar dan bijak.

Berkali-kali ia membantah bahwa ia berubah, apalagi meninggalkan sahabat-sahabatnya, seperti yang dituduhkan kepadanya. Bahwa keberhasilannya sebagai kolumnis, sebagai ekonom, sebagai pembentuk opini publik dan konsultan yang dibayar mahal, itu hanya lah sebagai bagian dari keringat dan kerja kerasnya. Sjahrir menekankan bahwa seringkali orang menilai dirinya dari apa yang ia capai saat itu, tetapi lupa membayangkan betapa telah besar pengorbanan yang telah ia berikan, yang dalam kata-kata Sjahrir, merupakan ‘investasi’ dalam perjalanan hidupnya. Investasi itu lah yang telah memberi buah kepadanya dalam bentuk penghargaan publik pada karya dan pemikiran-pemikirannya. Bahwa ia pernah jadi demonstran, jadi aktivis, bukan berarti ia harus jadi aktivis selamanya. Ia telah memilih lapangan perjuangan yang lain.


(^|^) (^|^) (^|^)

Saya kira siapa saja yang ingin menulis tentang Sjahrir pasti akan merasa kekurangan halaman untuk dapat menyajikan laporan yang lengkap. Begitu banyak sisi yang dapat diungkap. Demikian bertaburannya bahan-bahan tentang dirinya. Ekonom-ekonom yang lebih muda darinya mungkin akan berfokus mengulas dan mengkritisi pikiran-pikirannya. Teman-teman sebayanya akan mengenang Sjahrir sebagai sahabat yang energik, kocak dan ‘Anak Menteng’ yang gaul tapi peduli pada ketidakadilan. Sementara banyak ekonom yang lebih senior melihat Sjahrir sebagai ‘anak didik’ yang pontensial, cepat bahkan kerap terlalu maju dalam merumuskan masalah dan karena itu sering juga dicap sebagai anak badung yang susah diatur.

Beberapa tokoh yang tahu masa kecil Sjahrir dan kenal orang tuanya berkata lelaki bertubuh besar itu merupakan titisan ayahnya. Ayahnya adalah pengagum Sutan Sjahrir, tokoh humanis dan sosialis yang pernah menjadi Perdana Menteri di zaman Soekarno. Nama Sjahrir disematkan kepadanya adalah juga buah dari kekaguman itu.

Sjahrir, yang akrab disapa Ciil, tampaknya juga tak memungkiri dirinya yang sosialis, humanis dan pengikut Sutan Sjahrir. Terus terang, saya tak mengerti apa itu sosialis dan apa itu humanis. Saya juga tidak tahu bagaimana menempatkan julukan-julukan itu di zaman seperti sekarang. Tetapi bila sosialis dan humanis itu adalah cerminan dari seseorang yang sangat peduli pada keadilan, sangat memandang tinggi akan keluhuran dan martabat manusia, saya kira tak sedetik pun orang meragukan Sjahrir dengan julukan itu.

Sebagai pribadi, orang-orang mengenalnya sangat hangat, bahkan untuk orang yang pertama kali ia kenal. Pancing saja ia dengan topik ekonomi terbaru, maka ia bisa memberi khotbah yang panjang tapi memukau, bahkan ketika kita sedang terburu-buru. Ia tampaknya gemar menjamu rekan dan kenalannya. Ada saja alasannya untuk mengadakan hajatan di kantornya. Entah itu dalam rangka selamatan ulang tahun yayasan yang didirikannya, ulang tahun dirinya, buka puasa, open house lebaran, tahun baru dan banyak lagi. Pada saat itu kantor –dan kemudian rumahnya—benar-benar open selebar-lebarnya. Makanan yang tersedia begitu berlimpahnya, dan menurut dugaan saya, orang-orang yang anti-kolesterol harus berpikir dua kali untuk menyantap aneka hidangan yang penuh lemak yang tersedia. Soto kudus, kepala ikan kakap, rendang dan macam-macam lagi akan terhidang di meja besar dan semua orang bisa sepuasnya mencomotnya. Mendapat undangan dari Sjahrir adalah sebuah sukacita bagi kami para wartawan.

Sjahrir akan berkeliling menyemangati tamu-tamunya untuk menyantap hidangan itu. Dia sendiri, dugaan saya, berusaha menahan diri –demi alasan kesehatan—untuk tidak terlalu banyak comot sana comot sini. Namun dari wajahnya jelas terlihat, ia ingin sekali ikut dengan suasana lahap yang dipertunjukkan para hadirin. “Ayo, dong….. ya ilah, cuma segitu aja makannya….. ayo…. ayo…..,” ia selalu mendorong-dorong orang untuk terus bersantap.”Hidup ini sekali-kali harus dinikmati. Jangan mikir inflasi terus…. Utang luar negeri terus….” Kata dia sekali waktu, kepada kami beberapa wartawan yang siap-siap menodong dia untuk wawancara seusai bersantap.

Hajatan demi hajatan yang diselenggarakannya tahun demi tahun itu adalah juga cerminan dari perkembangan dan pertumbuhan pergaulannya. Kian tahun makin ramai dan makin banyak ‘selebritis-selebritis’ baru yang ikut meramaikannya. Kian ke belakang hari, makin banyak juga eksekutif papan atas perusahaan domestik dan multinasional yang ikut memenuhi undangannya. Tetapi saya juga hafal, bahwa di berbagai sudut tiap hajatan itu, akan selalu ada wajah-wajah yang itu-itu juga. Sosok-sosok dengan gaya busana yang kasual. Potongan rambut yang tak jauh-jauh kelasnya dengan kita-kita dari kalangan akar rumput. Dan, saya kira, mereka itu lah sesungguhnya sahabat-sahabat sejati Sjahrir, yang telah bersamanya sejak ia belum apa-apa. Invisible friends yang justru sangat diandalkannya. Yang akan sangat visible manakala para undangan membubarkan diri dan Sjahrir larut lagi dalam aktivitasnya sehari-hari.

Sekali waktu di pertengahan tahun 1990-an, di koran-koran ramai diberitakan tentang perseteruan di puncak DEKOPIN, antara Thoby Mutis dan Sri Edi Swasono. Saya mendapat tugas untuk mewawancarai Sjahrir seputar konflik di tubuh badan yang menjadi pembawa bendera koperasi di Tanah Air itu. Berkali-kali saya menelepon dia, berkali-kali pula sekretarisnya beralasan ia tak ada di kantor. Tak biasa-biasanya dia begitu. Dan, akhirnya ketika kemudian suaranya muncul di ujung telepon, ia terdengar menghela nafas panjang. “Wadduh topik yang ini jangan deh. Dua-duanya (Thoby Mutis dan Sri Edi, maksudnya) teman-teman kita juga. Nggak enak aku ngomong,” kata dia. Saya terhenyak. Tapi dari sana saya belajar, apa arti dan defenisi teman bagi Sjahrir dan bagaimana ia memperlakukan mereka.

Konglomerasi, monopoli, tataniaga, politik ekonomi adalah beberapa kata kunci yang jadi minat dan tema tulisan-tulisannya. Tetapi kata-kata yang abstrak itu jadi hidup sebab dalam ulasan-ulasannya selalu bertabur nama-nama tokoh penting, nama-nama grup bisnis besar, anekdot-anekdot lucu dan kutipan-kutipan segar dari ahli-ahli ekonomi tenar. Seorang teman berkata bahwa diantara sedikit pembicara dan kolumnis di Indonesia yang menulis sefasih ketika ia berbicara (dan sebaliknya) hanya Arief Budiman lah yang bisa disandingkan dengan Sjahrir. Saya tidak tahu darimana teman itu mendapat penilaian begitu. Tapi dalam hati saya mengaminkannya. (Harus kita akui, sering kali ada trade off antara menulis dan berbicara. Ada yang hebat menulis, tetapi selalu kehabisan kata-kata ketika berpidato. Sebaliknya, ada yang kuat dan fasih berceramah berjam-jam, ketika diminta menuliskannya, langsung stop di paragrap pertama).

Sejak mahasiswa Sjahrir sudah dikenal rajin menulis. Namun ia sendiri pernah mengaku bahwa kemampuan itu makin terasah dan menemukan kematangannya semasa di penjara setelah peristiwa Malari. Sebagai ekonom, pendidikannya di J.F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard memberinya kemampuan untuk menganalisis perekonomian lewat ‘metodologi studi kasus’ yang agaknya secara intens dan spartan diajarkan di universitas itu.

Ada ‘rahasia kecil’ yang pernah dibocorkan oleh Dorodjatun Kuntjoro-Jakti ketika memberi kata pengantar dalam acara peluncuran buku-buku karya Sjahrir di akhir tahun 1990-an. Syahdan Sjahrir sudah di ujung kuliah S1-nya di Fakultas Ekonomi UI. Hari itu ia menghadapi meja hijau, kata lain dari mempertahankan skripsi. Pengujinya, diantaranya, adalah Dorodjatun sendiri, yang tak lain dari sohib Sjahrir sesama aktivis. Lantas tim penguji meminta Sjahrir menjelaskan dan menggambarkan neraca bank sentral, topik yang tampaknya berhubungan dengan skripsi Sjahrir.

Menurut cerita Dorodjatun, sampai sidang itu selesai, Sjahrir tak bisa menjelaskan perihal yang dimintakan kepadanya itu, topik yang sesungguhnya dikategorikan mendasar dalam ilmu ekonomi moneter, namun sering juga menjadi momok bagi mahasiswa ekonomi. Sebab dalam menjelaskan neraca bank sentral, biasanya kita kerap dibingungkan –dan diuji—untuk menempatkan secara benar item-item akun tertentu di lajur debit di neraca bank sentral dan di lajur sebaliknya di neraca bank umum. Hubungan antara neraca bank sentral dan neraca bank umum ini lah yang oleh ekonom umumnya dipakai untuk menjelaskan 'penciptaan' uang dan likuiditas dalam perekonomian, berupa mata rantai berefek ganda yang sangat penting. Alhasil, dalam sidang itu Sjahrir disuruh mengulang.

Ketika menceritakan itu, Dorodjatun tersenyum, yang disambut tawa terbahak-bahak hadirin, termasuk Sjahrir sendiri, yang tampaknya tak bisa menahan geli menyadari Dorodjatun masih ingat pada peristiwa itu. Selanjutnya Dorodjatun berkata, seandainya Sjahrir ketika itu ‘lulus,’ belum tentu ia bisa kondang seperti sekarang, menjadi ekonom yang didengar pendapatnya dan laris ‘ditanggap’ dimana-mana. Lagi-lagi orang bertepuk tangan.



(^|^) (^|^) (^|^)

Berbagai peran telah ia jalani sepanjang hidupnya. Ia aktivis mahasiswa. Ia dosen di FE-UI. Ia konsultan ekonomi bagi sejumlah grup bisnis, termasuk untuk Aburizal Bakrie dan perusahaannya. Ia pengusaha lewat perusahaan pialang sahamnya di Bursa Efek Jakarta. Ia pendiri partai. Dan, ia juga penasihat ekonomi presiden. Namun, diantara semua peran itu, dalam hemat saya, yang paling memikat dia dan tak kan pernah bisa ia lepaskan adalah dunia ide, dunia berpikir dan dunia menulis.

Ada beberapa alasan mengapa saya sangat yakin akan hal itu. Di puncak kejayaannya sebagai ekonom, banyak media yang mengeluhkan ‘tarif’ menulisnya yang sangat tinggi. Dan, ketika itu saya tanyakan kepadanya, ia terkekeh-kekeh dan berkata, “Lu percaya?”. Sembari begitu, ia menyebut angka yang sangat kecil, yakni nilai rupiah yang diterimanya dari majalah saya bekerja untuk honornya menulis. “Apa lu percaya saya mau terima segini, kalau yang saya kejar adalah tarif yang tinggi itu?” Honornya menulis ketika itu memang relatif kecil bahkan ditilik dari kacamata sekarang. Dan tidak pernah naik pula selama lima tahun berturut-turut. Ini ia gunakan menggambarkan sikapnya bahwa ia menulis karena ingin menulis. Bahwa ia mematok tarif dalam pekerjaan menulis untuk seminar yang dimaksudkan menghasilkan keuntungan, bagi dia itu adalah bagian dari jerihnya sebagai ekonom profesional. Ia, menurut dia, tak pernah mematok tarif sepanjang menulis untuk media.

Sama seperti kebanyakan kolumnis pada umumnya, Sjahrir bangga bila tulisannya mendapat apresiasi. Beberapa hari setelah tulisannya terbit, sering kali ia menelepon dan menanyakan apa reaksi pembaca atas karyanya tersebut. Dalam sebuah kesempatan berbincang, pernah ia bercerita sangat antusias dengan mata berbinar-binar tetapi sekaligus tak bisa menyembunyikan rasa haru tentang apresiasi orang akan tulisannya. Ketika itu ramai diperbincangkan pertentangan mazhab Widjojonomics dan Habibienomics. Dan seakan ingin menjernihkan kebingungan publik, Sjahrir lantas menurunkan sebuah tulisan yang berkaitan dengan hal itu di harian Kompas.

Menurut Sjahrir, pada hari ketika tulisan itu muncul, Jakob Oetama, pemimpin umum Kompas, menelepon dirinya. Mengucapkan terimakasih untuk tulisan tersebut yang dinilainya bernilai bagi pembaca. Ketika menceritakan itu, saya dapat menerka betapa Sjahrir tak dapat menyembunyikan rasa bangganya, seperti seorang murid yang dahaga akan pujian kepala sekolah yang jarang-jarang menyambangi muridnya. Sjahrir mengatakan, ia lebih merasa tersanjung menerima telepon dari Jakob Oetama daripada ditelepon oleh menteri sekali pun. Telepon itu, bagi Sjahrir, adalah lambang apresiasi yang tiada ternilai dari tokoh yang tampaknya sangat ia hormati.

Kecintaannya terhadap dunia ide dan dunia menulis, makin terlihat kental ketika di awal tahun 2000-an (kalau saya tak salah) ia mengambil sebuah keputusan penting. Ketika itu ia 'memproklamirkan' diri untuk berhenti (moratorium) bicara di seminar dan menulis di media mana pun. Alasannya, menurut dia ketika itu, krisis ekonomi di Tanah Air sudah demikian runyam dan kacaunya sehingga tak memerlukan lagi analisis dan komentarnya. Uniknya, pada saat yang sama, ia mendirikan sebuah majalah ilmiah populer bertajuk Jurnal Ekonomi dan Pasar Modal.

Lagi-lagi saya beruntung mendapat kesempatan mengeksplorasi 'kontroversi' tentang moratorium bicara dan menulis-nya itu, untuk disajikan sebagai cerita sampul di majalah tempat saya bekerja ( Sayangnya, saya belum menemukan file tulisan tentang ini. Mudah-mudahan segera dapat). Ketika untuk kesekian kalinya saya menemuinya untuk meminta keterangan perihal itu, ia menerima saya dengan busana yang sedikit santai. Bercelana jeans dan berbaju jeans. Di majalah yang akan ia terbitkan itu posisinya adalah sebagai pemimpin redaksi. Dan, tampaknya dengan berbusana seperti itu ia merasa benar-benar sudah jadi orang redaksi sungguhan.

Sambil saya mewawancarai dia ketika itu, ia membaca naskah-naskah, yang menurut cerita dia, adalah tulisan-tulisan dari beberapa ekonom muda yang akan tampil di edisi perdana majalah tersebut. Dari ceritanya saya dapat melihat bagaimana besarnya harapannya untuk kelak dapat membesarkan majalah itu. Bukan hanya sebagai media yang disegani tetapi juga berkembang secara bisnis. Ia juga menyebut beberapa tokoh media yang sukses secara bisnis tetapi tetap dihormati sebagai intelektual dan pemikir (al, ia menyebut Pak Jakob Oetama), ketika saya bertanya bagaimana ia membayangkan dirinya beberapa tahun ke depan.

Tetapi jalannya rupanya berbelok setelah itu. Beberapa tahun kemudian ia telah melibatkan diri dalam dunia politik lewat pendirian partai yang menurut dia sendiri adalah langkah untuk menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan. Saya tak lagi banyak mengikuti kegiatannya setelah itu, walau pun televisi dan media massa tak kurang-kurangnya mengulas sosoknya. Saya tak lagi bekerja di tempat saya yang lama dan ulasan ekonomi yang bersangkuat-paut dengan Sjahrir makin jarang.

Sjahrir, setelah itu, dalam ingatan saya, lebih banyak pada sosoknya yang 'humanis' jika yang dimaksudkan dengan istilah itu adalah 'benar-benar sebagai manusia yang menghargai manusia tanpa embel-embel apa pun.' Beberapa orang rekan mengenang Sjahrir sebagai pribadi yang disiplin, tepat waktu untuk acara apa saja. Tampaknya hal itu benar. Sekali waktu di tahun 2000-an, seorang wartawan senior yang mantan aktivis menikahkan anaknya di sebuah mesjid di kawasan Bintaro. Jam sudah menunjukkan pukul 14:00 dan acara itu sudah hampir rampung ketika kami melihat Sjahrir datang tergopoh-gopoh. Dengan cepat ia pergi menyalami tuan rumah, sementara seseorang (yang kemudian kami tahu supirnya), berjalan di belakangnya dan bergabung dengan kami. Sang supir itu tampak bersungut-sungut. Kata sang supir, sepanjang perjalanan di dalam mobil Sjahrir mengomel terus karena jalanan macet plus mereka nyasar berkali-kali untuk bisa tiba di masjid tersebut. Itu adalah kejadian yang langka. Beberapa orang bercerita, Sjahrir lebih sering datang paling awal ke sebuah hajatan, bahkan kerap mendahului kedua mempelai.

Membaca berita tentang Sjahrir kadang-kadang bisa mendorong kita berefleksi, dari ucapan-ucapannya ketika diwawancarai berbagai media. Uniknya, tak selalu pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi yang paling sering menarik perhatian saya. Justru pandangan-pandangannya sebagai manusia biasa lah yang menarik minat. Misalnya, ada sebuah wawancara Sjahrir yang saya lupa di muat di majalah mana, yang membuat saya merenung-renung lama. Dalam wawancara itu, Sjahrir memberi satu alasan lagi mengapa ia di tahun 1990-an demikian getol cari uang seperti kejar setoran dari satu seminar ke seminar lain. Alasannya adalah ia ingin bermukim dan dan membeli rumah di kawasan Menteng, sebuah kawasan elit d Jakarta.

Di masa itu, Sjahrir tinggal di kawasan Bintaro (atau Pamulang?) dan setiap hari ke kantornya pulang-pergi memakan waktu dua jam. Untuk menghindari macet, sering kali ia pergi subuh dan pulang larut malam. Dalam wawancara itu ia bekata seolah mengeluh, kalau begitu terus, ia bisa 'tua di jalan'. Tidak bisa menyaksikan anak-anaknya Pandu dan Gita tumbuh sebagai anak-anaknya, sebab nanti setelah mereka remaja, mereka itu sudah akan jadi 'orang lain.' Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah bertempat tinggal di Jakarta, di kawasan yang dekat-dekat dengan kantornya, dan bila bicara begitu, tak ada yang lain kecuali kawasan Menteng.

Menteng tampaknya selalu menjadi 'kampung halaman' yang selalu ia rindukan. Dalam berbagai wawancaranya dengan media, sepanjang membicarakan masa kecil dan masa mudanya Sjahrir tak pernah menutupi rasa bangganya sebagai anak Menteng kendati semua orang tahu ia dilahirkan di Kudus. Ia dengan fasih menceritakan berbagai kenangannya tentang tinggal di rumah yang dari dalamnya masih terdengar suara kereta api lewat, tentang es krim ragusa dan lain-lainnya. Dalam hati saya berkata pada diri sendiri, dimana-mana, agaknya seorang pria pasti akan selalu ingin diam dan menghabiskan waktu di kampung halamannya. Entah itu di udik seperti saya yang halak hita van Sarimatondang yang tiada d peta, atau pun Sjahrir yang anak gedongan yang dibesarkan di kota metropolitan Jakarta.

Sekali waktu Sabtu sore-sore, ketika saya membawa putri saya berjalan-jalan di seputaran air mancur di Taman Surapati di kawasan Menteng, tak dinyana Sjahrir sedang jogging mengelilingi pelataran taman. Itu adalah petang yang selalu mengingatkan saya pada senja kaum priyayi yang kerap dilukiskan Umar Kayam dalam tulisan-tulisannya. Dan, Sjahrir tampak tak berbeda dengan sejumlah pensiunan lain yang juga berolah raga sore di kawasan itu. Kami kemudian saling sapa dan berjabat tangan. Entah sudah berapa tahun kami tak berjumpa. Ia juga menyapa putri saya lalu bertanya siapa namanya. Ia sedikit terperanjat (tetapi mungkin senang?) ketika ia tahu namanya adalah Amartya. Itu adalah nama ekonom peraih nobel yang selalu disanjung-sanjung Sjahrir. Saya sendiri menyematkan nama itu karena ikut-ikutan ngefans ala membabi buta kepada ekonom asal India itu. Lagipula, Amartya saya anggap punya arti yang baik: Abadi dalam bahasa India, rezeki yang berharga dalam bahasa Jawa Kuno.


(^|^) (^|^) (^|^)


Kini Sjahrir telah pergi. Mungkin terlalu cepat bagi sementara orang, yang membayangkan Sjahrir yang energik dan optimistik. Apalagi bila mempertimbangkan banyak hal yang seharusnya mungkin dapat dicapainya, seperti disuarakan beberapa orang. Ada yang berkata Sjahrir seharusnya sudah lebih dari layak jadi menteri. Tiap kali ada pengumuman kabinet baru, seolah kesempatan itu terbuka baginya, tetapi tiap kali pula seperti luput dan menjauh.

Tapi apa lah sebetulnya arti jabatan yang demikian itu dibandingkan apa yang telah ia kerjakan dan dikenang orang? Begitu telah banyak ia berbuat. Sebagai aktivis mahasiswa, ia tetap jadi sumber inspirasi, sepanjang selalu ada guru-guru sejarah yang penuh dedikasi, seperti guru sejarah saya di SMA tempo hari yang mengajarkan secara hidup dan bersemangat tentang aksi-aksi mahasiswa.

Dan, Sjahrir, yang aktivis, telah membangun kapasitas dirinya sehingga melampaui yang pernah dilakukan dan bahkan dibayangkan kawan-kawan seperjuangannya. Dalam hemat saya, salah satu jasa terpenting dari Sjahrir sebagai ekonom, cendekiawan, pembicara dan pembentuk opini publik, adalah kepiawaiannya mengangkat isu-isu ekonomi makro jadi perdebatan publik yang hangat, membumi dan memikat, sememikat ketika orang kini bicara tentang kemungkinan hidup tanpa bahan bakar fosil mau pun tentang nasib anak-anak Ahmad Dani bila dia dan Maya masih tetap saja seperti kucing dan tikus.

Dengan kehadiran Sjahrir –dan juga beberapa ahli ekonomi lain, seperti Kwik Kian Gie dan alm Sritua Arief—kita disadarkan bahwa ekonomi itu begitu dekat di dalam hidup keseharian kita; bukan seperti pada periode-periode sebelumnya, ketika ekonomi dicitrakan merupakan urusan orang-orang berjulukan teknokrat berkacamata tebal. Sjahrir lah, yang dengan piawai menggandeng media, membawa ilmu yang muram itu menampakkan sisi lainnya yang penuh dinamika, sehingga semua orang merasa pantas bicara tentang inflasi, pertumbuhan ekonomi, bahkan pada gilirannya, Indonesia pernah dilanda ‘inflasi pengamat ekonomi.’

Tidak semua orang -- bahkan menteri sekali pun – mampu mengemban tugas itu. Banyak menteri yang dikenang orang oleh tanggung jawab yang tidak dituntaskannya. Namun Sjahrir, akan dikenang oleh apa yang telah dilakukannya. Dengan tuntas. Bahkan mungkin melebihi ekspektasi seorang aktivis yang juga ekonom.

Sepanjang hidupnya, saya tak pernah berani menyapa Sjahrir seperti rekan-rekan lain menyapanya, Ciil atau Bung Sjahrir. Tapi kali ini, semoga ia tak marah jika untuk pertama kalinya saya ingin mengucapkan salam, Selamat jalan Bung Ciil. Kami akan selalu mengenangmu***

Ciputat, 9 Agustus 2008

Sumber foto: Kompas dan Syahrir.net

2 comments:

  1. Anonymous3:46 AM

    bung, memang banyak yg bisa kita kenang dari beliau itu. mudah-mudahan kita bisa banyak belajar dari beliau. sy juga ikut kaget atas meninggalnya beliau. terimakasih sudah membuat catatan ini, sehingga kiprah beliau tetap segar dalam ingatan.

    horas bah

    ReplyDelete
  2. Anonymous3:50 AM

    Selamat Jalan Bung Ciil....Anda sudah ikut mewarnai negeri ini

    Horas Bah

    Indra J. Ahmadi

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...