Monday, August 18, 2008

Tebal Muka di Tugas Perdana



Ketika sore tambah larut dan hiruk-pikuk berita di televisi makin membosankan, pasti lah giliran rak buku di rumah kami jadi sasaran iseng dan jahil saya untuk menghabiskan waktu. Itu terjadi di waktu-waktu akhir pekan, terutama yang panjang seperti Sabtu-Minggu 16,17,18 Agustus lalu. Kacian deh, rak buku itu. Saya ubek-ubek sampai tak beraturan. Susunan buku yang sesungguhnya sudah semrawut dari dahulu kala, tambah berantakan lagi. Apalagi rak besi itu sebetulnya sudah demikian reyot dan ringkihnya. Sebab dulunya ia boleh nemu dan boleh beli secara obral di pinggir jalan. Saya duga rak itu dulunya adalah bekas apkiran supermarket yang sudah bangkrut. Jika aslinya ia digunakan untuk memajang barang-barang, di rumah saya ia jadi rak buku. Seandainya rak buku itu bisa ngomong, tak dapat saya perkirakan apakah ia bertambah senang atau malah menggerutu dengan perubahan peranannya

Anak dan istri saya pasti akan bersungut-sungut bila melihat ayah dan suaminya ini sudah mulai asyik duduk bersila di lantai sambil mencomot dan membongkar-bongkar isi rak itu. Bukan karena mereka merasa tidak diperhatikan. --Oh, mereka malah senang bila saya jauh-jauh dari ruang tamu tempat mereka duduk, sebab mereka akan terbebas dari komentar-komentar sengak saya mengenai tayangan di televisi yang mereka tonton. Bahwa mereka mengomel seraya sedikit mengancam, itu karena mereka tahu, nanti setelah selesai dengan buku-buku itu, pasti lah dengan suksesnya saya berhasil menambah kesemrawutannya. Rak buku itu segera menemukan bentuknya yang baru layaknya kapal pecah. Dan diperlukan beberapa hari lagi agar si Mbak sempat merapikannya, karena pekerjaan utamanya di dapur memang tak boleh terganggu oleh urusan buku-buku tak bermutu ala kolektor yang tak kalah tak bermutunya seperti saya.

Demikian lah, akhir pekan lalu saya kembali jadi sasaran koor “uuuuuuuuu” dari anak dan istri ketika mereka melihat saya menggelesot di ubin. Tatapan sinis mereka mengiringi tangan saya yang mulai bergerak mengobrak-abrik buku dan majalah hingga seberantak-berantakannya. Ada juga sedikit rasa sebal mendengar cemooh rutin itu. Tetapi cuma sebentar. Sebab kali ini ada ganjaran yang benar-benar wow dari mengobok-obok majalah lama berdebu itu. Saya berhasil menemukan kembali apa yang saya cari-cari sebelum ini: tulisan perdana saya sebagai wartawan, 17 tahun lalu.

Ya. Sungguh tak terkira senangnya hati. Bagi orang lain pasti tak ada artinya penemuan ini. Tetapi bagi saya ia sangat bersejarah (Ehm, kata bersejarah ini memang terlalu dramatis, ya?). Tulisan itu lah pembuka pintu memasuki pekerjaan yang telah saya tekuni belasan tahun ini. Telah lama saya berniat agar tulisan perdana itu dapat saya temukan untuk kemudian bisa ‘diabadikan’ di blog ini. The Beautiful Sarimatondang memang sekaligus juga saya proyeksikan sebagai perpustakaan maya. Dan dengan menyimpannya di sini, kiranya tak terlalu muluk-muluk bila saya merasa telah mewariskan sesuatu kepada putri saya Amartya yang kini sudah duduk di kelas 4 SD. Sehingga suatu hari ketika sudah besar nanti, ia dapat semaunya dan kapan pun menjiarahi kembali perjalanan karier ayahnya yang kampungan bin norak ini. Siapa tahu dengan baca-baca ini dia juga tertarik jadi wartawan. Kalau pun tidak, at least dia dapat menjadi satu diantara makin sedikitnya orang yang menaruh respek pada pekerjaan yang kian diremehkan orang ini.

Sesungguhnya, dilihat dari magnitude berita, tulisan perdana itu sangat cetek. Ecek-ecek, kata orang Medan. Dimuatnya cuma di rubrik bernama Senggang, yakni rubrik yang menampung berita-berita ringan seputar tokoh dan selebriti. Panjangnya pun hanya empat paragraf. Tetapi bila ditilik dari betapa gugup dan gemetarnya saya ketika mewawancarai narasumber untuk tulisan ini, tak bisa tidak ini merupakan karya yang menguras banyak ‘nyali’ bagi seorang udik bin kuper seperti saya. Apalagi ketika itu saya baru 10 hari diterima sebagai calon reporter. Ini benar-benar pengalaman tak terlupakan.

Begini lah laporan perdana itu.


Kaum wanita ternyata semakin tertarik membicarakan politik. Ini terungkap dalam perbincangan santai mengupas buku Perempuan Indonesia: Pemimpin di Masa Depan, di Griya Sari Ayu, Pulo Gadung, 10 Juni 1991. Selain Mely G. Tan –editor buku itu-- hadir sejumlah tokoh wanita, seperti Rachmawati Soekarnoputri, Dewi Motik Pramono, Martha Tilaar dan Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto. Acara itu khas wanita, dihiasi warna-warni bunga.

“Bisnis lebih memungkinkan wanita berkembang,” cetus Shanti, direktur operasi NVDP Soedarpo Corporation. Alasannya, dalam bisnis perusahaan melihat prestasi tanpa membedakan pria dan wanita. Berbeda dengan sektor publik, faktor sosial budaya kerap menjadi kendala tampilnya srikandi -srikandi di medan politik. Putri sulung Soedarpo Sastrosatomo ini merupakan salah satu penulis artikel untuk buku tersebut.

Sementara itu, Menteri Urusan peranan Wanita Ny. Sulasikin Murpratomo tak mau peran kaumnya diartikecilkan. “Wanita yang menjabat anggota DPR/MPR terus bertambah dari pemilu ke pemilu,” katanya. Betapa pun, para tokoh wanita itu –juga Shanti—sepakat, wanita tak cuma di dapur. Namun sudah pandai berbisnis dan berpolitik. (Warta Ekonomi, No 04 Tahun III/24 Juni 1991)


***


Dari laporan tadi, jelas terlihat bahwa cantolan berita (newspeg)-nya adalah peristiwa peluncuran buku Perempuan Indonesia: Pemimpin Masa Depan. Dan agaknya karena ini ‘hanya’ sebuah acara seremonial, maka tugas peliputannya pun cukup ditangani calon reporter. Briefing yang saya terima sebelum berangkat hanya secukupnya. “Pokoknya kamu cari saja angle yang menurut kamu menarik. Lalu minta komentar dari tokoh yang kamu anggap pas untuk menjawabnya,” begitu kira-kira bekal yang saya peroleh.

Tentu saja briefing yang sambil lalu itu saya simak dengan serius. Bagaimana pun, saya ini masih calon reporter yang masih ‘bau kencur,’baru 10 hari didaulat sebagai Orang Pers. Itu pun, sembilan hari diantaranya diisi dengan ngendon di kantor mengikuti training dan ‘bantu-bantu’ mentranskrip wawancara yang dilakukan para wartawan senior. Itu sebabnya, ‘penugasan’ ke luar kantor untuk pertama kalinya ini saya terima dengan penuh kesungguhan. Saya anggap ini salah satu ujian penting.

Lobi gedung pertemuan itu sudah mulai ramai ketika saya tiba di sana. Namun tamu utama yang ditunggu-tunggu belum ada. Dengan harap-harap cemas, saya ikut berdiri di pintu gedung bersama-sama dengan sejumlah hadirin. Dari salah seorang staf panitia, saya mendapat info sang tamu agung beberapa menit lagi akan sampai di tempat. Dia adalah Rachmawati Soekarnoputri, yang diharapkan meresmikan peluncuran buku itu.

Betul saja, beberapa menit kemudian Rachmawati tiba. Ia turun dari mobil dan segera memasuki gedung. Ia disambut oleh sejumlah orang dengan menyalaminya sambil mengantarkan masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan. Melihat itu, segera saja saya merasa sudah tiba waktunya beraksi. Di dalam benak, saya sudah menyusun pertanyaan untuk dilontarkan: “lebih mudah mana bagi perempuan Indonesia, berkiprah di dunia bisnis atau di dunia politik?” Jelas, Rachmawati, yang kala itu lebih artikulatif dibanding kakaknya, orang yang pas untuk menjawabnya.

Tetapi, dasar saya ini calon reporter norak dan kampungan, tanpa ba bi bu langsung saja saya ‘merangsek’ mendekati Rachmawati. Sekejap saja ada rasa gengsi tapi kemudian 'urat malu' serasa sudah putus oleh beban ingin 'lulus' dari ujian pertama ini. Dengan tebal muka, tak saya hiraukan dirinya yang baru saja tiba dan sedang menuju meja tempat gelas-gelas berisi minuman. Ia sedang akan meneguk air putih ketika saya menyodorkan tape recorder ke dekat wajahnya seraya melontarkan pertanyaan. Kontan saja beberapa orang yang mendampinginya melindungi putri proklamator itu seraya menghalangi saya untuk dekat-dekat. Seorang ibu-ibu yang tampaknya sahabat Rachmawati kemudian mendekati saya dan menasihati. Kata dia, bukan begitu cara yang sopan untuk mewawancarai orang. Sebaiknya tunggu dulu hingga rileks. Lagipula, kata dia, acara peluncuran buku tersebut belum dimulai. Kok sudah tanya-tanya?

Dengan sedikit rasa bersalah, akhirnya saya undur dan menjauh. Lantas mengambil tempat duduk untuk meredakan ketegangan. Tak lama kemudian acara peluncuran buku itu pun dimulai, yang menampilkan sejumlah pembicara, dengan moderator Mely G. Tan, editor buku dimaksud. Baru lah setelah acara diskusi selesai saya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sudah saya simpan. Tapi nyali saya sudah sedikit ciut untuk mendekati Rachmawati. Pertanyaan itu kemudian saya tanyakan kepada Mely G. Tan, dan Shanti L. Poesposoetjipto Soedarpo.

Begitu lah. Ketika tiba di kantor, saya membuat laporan dan menyerahkannya kepada Redaktur. Hasilnya adalah seperti yang sudah diketengahkan di atas.

Nah, putriku, Amartya. Jika kini Bapakmu ini masih tetap norak dan udik, tak perlu lagi engkau kagetkan dan pertanyakan. Dari sono-nya memang sudah begitu. Dan, dunia tak lantas kiamat, bukan, walau sifat norak dan udik itu masih tetap saja bertahan?

Ciputat, 18 Agustus 2008

Foto pertama hanya ilustrasi belaka. Foto kedua adalah putri saya, Amartya, di usianya yang kini sembilan tahun, tatkala memetik strawberry di sebuah tempat wisata di Bandung. Foto ketiga adalah Shanti L. Poesposoetjipto Soedarpo.

1 comment:

  1. Anak yang manis dari keluarga yang bahagia semoga terus menuai berkah ya bang.. :D
    makasih dah mampir

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...