Saturday, August 23, 2008

Thank God, You're Here



Kalau tak diingatkan, sampai sekarang pun saya mungkin tak tahu-menahu bahwa acara Akhirnya Datang Juga di salah satu stasiun televisi kita adalah semacam versi domestik dari acara Thank God, You're Here, yang sudah terlebih dulu ada di televisi mancanegara. Info ini saya dapatkan, dari siapa lagi kalau bukan dari ‘pakar’ penikmat televisi di rumah kami, yakni istri saya.

Semula saya tak percaya. Sebab dibolak-balik dengan cara bagaimana pun, dengan memakai kamus apa pun, dan dengan metode penafsiran secanggih apa pun, sulit lah membayangkan pertalian arti Thank God You're Here dengan Akhirnya Datang Juga. Kalau Popeye the Sailorman diterjemahkan jadi Popeye si Pelaut, tentu tak perlu ada komentar. Atau The Three Musketers yang dipelesetkan dengan Tri Mas Getir, masih bisa lah diterima akal. Tapi Thank God, You're Here jadi Akhirnya Datang Juga? Dari Hongkong?

Eh, tak dinyana dan tak diduga, ketemu juga pertalian makna itu. Thank God You're Here bisa benar-benar identik dengan Akhirnya Datang Juga, setelah beberapa waktu silam saya berkenalan dengan seseorang yang menceritakan masa-masa manis-getir pengalamannya sebagai mahasiswa. Cerita itu benar-benar menyentuh dan mengena. Sehingga saya tak bisa menahan diri untuk menceritakannya. Tentang seseorang yang, sebut lah bernama Toga. Pemuda yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Tapanuli Utara sana.

Begini.
.
***


Suatu hari di tahun 1995.

Peluh membuat kemeja yang dikenakannya terasa lengket. Tapi angin dingin pegunungan segera mengusir rasa itu. Sore sudah lama berlalu. Seperempat jam lebih ia berjalan kaki dari pemberhentian bis terakhir hingga tiba di sini. Dan, kini ia duduk di kursi rotan yang terlihat makin tua dan kusam. Satu dari sedikit saksi bisu tentang nyaris tiadanya pertambahan perabot di ruangan itu, rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Kini ia kembali menginjakkan kaki, setelah kepulangannya yang terakhir, tiga tahun lalu. Seperti di desa-desa kecil dan terpencil lainnya di Tapanuli Utara, ia sudah terbiasa dengan sinaran lampu petromaks di rumah itu.

“Jam berapa rupanya kau berangkat dari Medan, tadi?” Toga mendengar ayahnya bertanya. Terdengar datar saja pertanyaan itu, seolah ditujukan hanya memecah kesunyian. Itu sebabnya Toga merasa tak perlu segera menjawabnya. Ayahnya baru saja pulang dari sawah di ujung desa. Ia duduk menggelesot di depan pintu yang terbuka. Rokok di bibirnya mengepul, dan diembuskannya ke halaman.

“Mana Inong?” Toga balik bertanya mencari dimana Inong, panggilan akrabnya untuk ibunya.

“Pergi tadi. Katanya sebentar. Mungkin melihat beras di rumah si Anu. Biasanya bagus beras si Anu itu. Inong-mu punya minat membelinya. Hari onan (pasar) yang akan datang mungkin bisa dijual. Tarhilala (lumayan)….”

Toga makin menyadari betapa tak banyak berubahnya rutinitas hidup kedua orang tuanya. Ayahnya bertani dan beternak kerbau. Ibunya turut membantu, tetapi pekerjaan utamanya lebih sebagai pedagang beras di pasar. Dari ‘sinergi’ hidup pasangan itu lah Toga beserta tiga kakak serta adik bungsunya dibesarkan. Dari dulu hingga sekarang. Sampai saat ini, ketika ia terduduk di kursi rotan itu, pulang dari Medan tempatnya kuliah di sebuah perguruan tinggi.

“Sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan, Bapa. Tapi nantilah itu. Tunggu Inong pulang dulu. Sekarang mandi lah dulu aku.”

Toga segera bangkit. Tak lama kemudian sudah terdengar suara derai air jatuh di lantai. Di kamar mandi yang tak lebih dari sepetak ruang dua kali tiga meter, ia nikmati guyuran dingin menusuk tulang air dari bak besar tempat penampungannya. Pasti lah adik perempuan bungsunya yang setiap pagi dan sore tak henti-henti menjunjung air di dalam ember dari sumbernya di kaki bukit. Berapa kali ia bolak-balik hingga bak ini penuh?. Sore-sore begini si bungsu yang sering dia ejek sebagai penunggu kampung itu pasti tengah marguru ende (belajar bernyanyi kelompok paduan suara gereja) di rumah Guru Huria.

***


Panjang ceritanya mengapa Toga sampai kuliah di Medan dan baru kali ini pulang dalam tiga tahun terakhir. Kisahnya mungkin dimulai dari tiga kakaknya yang kesemuanya laki-laki dan kini telah berkeluarga. Kesemuanya menetap di Jakarta. Tak seorang pun diantara kakak-kakaknya diberangkatkan dari rumah itu merantau dengan bekal ijazah sarjana. Semuanya pergi dengan tekad baja belaka. Semoga kelak dengan ijazah SMA bisa membanting tulang di negeri orang. Bekerja apa saja yang penting bisa menyambung hidup. Dan meringankan beban orang tua.

Si sulung lah yang pertama menembus perbatasan desa. Ia merantau ke Jakarta dan hinggap di rumah seorang kenalan jauh. Ia menjadi pembantu all round di usaha tambal ban induk semangnya itu. Bukan karena keajaiban jika sang sulung ternyata akhirnya jadi ‘orang’ dan pembuka jalan bagi adik-adiknya. Sambil bekerja sebagai penambal ban, ijazah SMA-nya laku juga menempatkannya sebagai karyawan rendahan sebuah BUMN di Jakarta. Rupanya kegigihan dan ketekunannya menambal ban telah menyentuh hati si induk semang. Induk semangnya itu lah yang berupaya mencari informasi dan juga koneksi agar si sulung mendapat penghidupan yang lebih layak. Berhasil. Dan hebatnya, bukan cuma sukses mendapatkan lowongan pekerjaan, si sulung juga berhasil menaklukkan putri semata wayang sang majikan.

Sambil bekerja di BUMN itu, si sulung kuliah malam, hingga kelak jadi sarjana juga. Kariernya yang terus membaik menyebabkan dirinya ‘menarik’ satu per satu adik-adiknya ke Ibukota. Adik-adik itu mengulang lagi kisah ‘bersakit-sakit dahulu berenang-renang kemudian.’ Umumnya mereka terlebih dulu diuji ketekunan dan keberanian berkeringat; dengan menjadi pembantu all round di usaha tambal ban yang ternyata juga terus berkembang. Adik-adik itu pun pada saatnya mendapat pekerjaan yang lebih baik. Sambil begitu, mereka mengambil kuliah di malam hari dan pada waktunya menjadi sarjana.

Ketika tiba saatnya bagi Toga menyelesaikan pendidikan SMA-nya, ternyata ia tak diperbolehkan lagi menempuh jalur serupa. Dari Jakarta si sulung sudah berpesan agar Toga tak usah datang ke Jakarta. Begitu juga dengan sang ayah. Ia dengan tegas mengatakan agar Toga melanjutkan kuliah setelah SMA. Rupanya ayahnya merasa keadaan ekonomi keluarga sudah lumayan. Beban kini lebih ringan. Apalagi si sulung dan yang lainnya sudah hidup mandiri dan siap mendukung sang ayah menguliahkan Toga. Tetapi ada alasan lain yang lebih penting: sang ayah merasa selama ini belum pernah secara ‘penuh’ menjadikan anaknya sarjana. Hanya pada Toga lah kesempatan itu ada.

Toga tak dapat menolak. Ia akhirnya diterima di Fakultas Hukum sebuah PTS bonafid di Medan. Itu pun awalnya ia lakukan dengan setengah hati. Sebelumnya ia bahkan tak sempat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN karena ia memang tak pernah berniat kuliah. Pilihannya mengambil Fakultas Hukum juga karena pertimbangan yang lebih pragmatis: pelajarannya tidak terlalu sukar, dapat cepat lulus dan segera bisa mencari kerja.

***

Kini tiga tahun sudah berlalu sejak kepulangannya pertama, tempo hari. Begitu cepat. Tetapi juga begitu tak sabar. Tak sabar ingin bertemu dengan Inong, untuk melampiaskan rindu. Toga baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia mendengar suara ibunya berbicara dengan ayahnya. Ia segera menyusul ke halaman rumah, tempat ia melihat ibu dan ayahnya sedang duduk-duduk di bangku bambu. Si bungsu juga ternyata ada di sana. “Bah, pulang kau rupanya ya….” suara ibunya terdengar di telinga Toga. Tak ada peluk tak ada cium. Kemesraan di tengah keluarga di desa-desa ini agaknya tak harus ditunjukkan dalam tindakan-tindakan intim. Tepukan ibunya di punggungnya, sudah merupakan simbol kasih yang mendalam. Dan telah ia hafal sejak ia masih kanak-kanak dulu.

“Orang-orang kalau sekolah di Medan, kulitnya bertambah putih. Kau kulihat malah tambah hitam. Tapi tak apa-apa. Yang penting sehat. Tambah gemuk kulihat kau. Enak rupanya makanmu di Medan sana ya….” ibunya berkata sambil memperhatikan secara seksama postur tubuh Toga. Toga tersenyum saja. Ia tahu, ibu mana pun pasti terlebih dahulu memperhatikan kesehatan anak-anaknya baru membahas hal-hal lain.


***


Toga menjalani kuliahnya di Medan di atas perpaduan kekecewaan tetapi sekaligus tekad untuk membuktikan diri tak kalah dengan kakak-kakaknya. Ia kecewa tak jadi ke Jakarta. Namun kekecewaan itu ia balas dengan niat untuk tak mau terlalu tergantung kepada kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Itu sebabnya, tatkala ia pulang kampung untuk pertama kalinya setelah setahun kuliah, ia mohon kepada ayah-ibunya agar mengizinkannya tak terlalu sering-sering pulang. Dari ayah-ibu yang mulai berumur itu juga ia hanya meminta agar setiap bulan dikirimi uang secukupnya. Sekadar menutup uang kuliah yang sesungguhnya cukup berat untuk ukuran petani desa. Maklum, ia kuliah di sekolah swasta. Lagipula, Toga berharap ayah-ibunya juga harus menyisihkan uang buat si bungsu. Perempuan pun boleh kok jadi sarjana, kata Toga. Dari kakak-kakaknya di Jakarta, Toga tak terlalu berharap. Bukan kah mereka itu yang ‘melarangnya’ datang ke Jakarta?

Demikian lah, mulai tahun kedua, Toga ‘kuliah sambil kerja.’ Istilah ‘sambil kerja’ di sini adalah dalam pengertian yang benar-benar harfiah. Pagi ia ke kampus mengikuti pelajaran sebagaimana lazimnya mahasiswa. Sore ia bekerja dengan menarik becak. Ia tidak sendiri dalam karier darurat ini. Dua orang kawan satu kos-nya, yang juga diberangkatkan kedua orang tuanya dari desa-desa lain di pinggiran Danau Toba, menyediakan diri cari uang lewat cara ini.

Becak dayung mereka sewa dari seorang toke becak yang rumahnya tak jauh dari tempat kos mereka. Sepulang kuliah mereka datang ke rumah toke. Lalu satu per satu memilih becak yang akan mereka kemudikan. Tak diperlukan terlalu banyak keahlian untuk menarik becak dayung ala Medan, kecuali tenaga yang cukup, plus kerendahan hati untuk tak malu bertanya manakala penumpang meminta diantarkan ke tujuan yang ia sendiri tak hafal dimana tempatnya.

Tahun demi tahun ia jalani ‘kuliah sambil kerja’ yang demikian. Tidak terlalu banyak uang tambahan yang mereka dapatkan, tetapi cukup untuk tak perlu ‘mengemis-ngemis’ ke kampung halaman. Sesekali ada juga pengalaman menyebalkan. Misalnya tatkala tahun ajaran baru tiba dan butuh uang ekstra untuk urusan ini-itu, eh, pernah sekali waktu becak sang toke tak ada lagi yang bisa ditarik. Mereka keduluan orang lain dan jatah becak sudah habis. Toga dan kawan-kawan ‘panik’ ketika itu. Uang kiriman dari kampung sudah sangat tipis. Induk semang sudah berkali-kali menagih uang kos. Lalu apa akal?

Pagi-pagi sekali mereka bertiga pergi ke Pasar Sambu. Sebab dari sesama penarik becak mereka tahu ada pekerjaan lain yang bisa mendatangkan uang. Yakni membantu mengangkat dan mengantarkan sayur-sayuran dari pasar ke truk dan sebaliknya, dengan menggunakan kereta dorong. Sebelum subuh pasar itu sudah ramai dan pekerjaan angkat-mengangkat itu mereka akhiri pukul sembilan, untuk segera ngebut ke kampus.

Tapi apa daya hanya dua hari mereka bertahan. Pada hari ketiga, bos ‘preman’ kuli angkut mendatangi mereka. Bertanya ini itu. Dapat izin darimana ikut mengais rezeki di pasar itu. Buntut-buntutnya sang bos preman memberitahukan peraturan yang sudah dijalankan bak tradisi turun temurun di pasar itu. Yakni tiap kuli angkut harus menyerahkan setoran setiap hari kepada sang bos. Toga mencoba berhitung. Dan alamak, sungguh-sungguh tak masuk akal. Dengan Matematika apa pun, pasti lah mereka tak sanggup memenuhi peraturan itu. Sebab lebih dari tigaperempat dari pendapatan yang sanggup mereka raih setiap hari, harus disisihkan kepada preman. Akhirnya mereka meninggalkan pekerjaan itu. Cukup dua hari saja untuk mengambil keputusan balik kanan, dan kembali sebagai penarik becak. Mudah-mudahan si toke becak sudah punya stok becak baru.

Empat tahun berjalan tanpa terasa. Berhasil juga akhirnya Toga menyelesaikan kuliahnya. Cukup cepat untuk ukuran otak desa seperti dirinya. Tetapi yang menamatkan kuliah dalam tempo 3,5 tahun sudah banyak diantara teman-temannya. Itu sebabnya, ketika siang itu ia keluar dari ruang sidang skripsinya, dan telah diumumkan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Hukum, tindakan yang segera ia lakukan adalah berkemas-kemas dari tempat kosnya. Buru-buru ke terminal mengejar bis terakhir menuju kampung halamannya. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat. Sehingga tatkala tiba di rumah nanti, ayah-ibunya masih terjaga.


***


Kini Toga duduk di rumah ini. Baru saja makan malam usai. Dengan nasi merah bulat besar-besar, sayur daun singkong yang ditumbuk tanpa santan dan ikan asin bermata melotot yang kepalanya keras seperti batu. Bersendawa juga Toga karena kekenyangan. Selalu nikmat merasakan buah karya kuliner ibu-nya. Daya tarik makanan itu lebih pada nostalgia yang dimunculkannya ketimbang asin dan pedas yang tajam yang sedari dulu memang sudah begitu.

“Kata kau, tadi ada yang mau kau bicarakan. Apa rupanya yang penting, sehingga kau pulang,” kata sang ayah. Rokoknya kembali mengepul. Toga juga mengambilnya sebatang. Sudah berani dia sekarang merokok di hadapan ayahnya.

Toga menyulut rokok. Memandang sekejap kepada ibu yang duduk di atas tikar.

“Begini Bapa. Begini Inong,” kata Toga membuka pembicaraan. “Hari ini aku datang karena aku perlu uang sedikit. Memang kiriman Bapa dan Inong selama ini tidak pernah terlambat. Tapi kali ini aku perlu tambahan, agak banyak. Rp1,5 juta,” suara Toga makin melemah ketika menyebut angka rupiah itu.

“Banyak kali uang itu. Untuk apa rupanya? Mau kawin kau?,” ayahnya menyela. Sebelah kakinya terangkat seraya membuang muka ke arah pintu.

“Tidak Bapa. Memang aku perlu uang itu. Tadi siang aku sudah ikut ‘meja hijau.’ Aku sudah lulus. Uang Rp1,5 juta itu aku perlukan untuk keperluan memperbanyak skripsi dan persiapan wisuda,” kata Toga.

Lama terasa suasana hening sebelum kembali ayahnya menyahut. Kali ini bibir ayahnya sedikit miring. Menambah nada sinis pada ucapannya. “Ah, jangan main-main kau Toga. Aku ini memang orang dusun. Tak pernah ke Medan. Tak tahu apa itu namanya universitas. Tapi jangan kau bohongi kami untuk mendapatkan uang Rp1,5 juta itu. Tak ada cerita orang sudah lulus sarjana secepat kau ini. Anak si Polan yang sudah lebih dulu kuliah dari kau, belum selesai sampai sekarang. Di Medan juganya dia kuliah. Jadi jangan kau bikin maccam-maccam cerita. Kalau memang kau perlu uang, bisa kami parpala-palai, kami usahakan. Tapi terus terang lah kau. Jangan-jangan ada pelajaran yang tak bisa kau ikuti, dan kau perlu memberi uang mauliate (terimakasih) kepada gurumu…. Kalau memang begitu, tak apa-apa. Orang lain pun kudengar ada yang begitu. Tapi jangan kau coba-coba bikin alasan. Sudah terlalu tua kami ini untuk kau bohongi…..”

Toga terhenyak tapi ia tak kaget. Ia sudah hafal akan gaya negosiasi ayah-ibunya tiap kali berurusan soal uang. Mereka perlu menyelidiki secara mendalam jangan sampai mereka tertipu seperti banyak cerita yang sudah bukan rahasia di desa ini. Ada banyak mahasiswa asal desa ini mengarang banyak alasan demi mendapatkan uang dari orang tua. Yang paling parah, ada yang rutin menerima belanja setiap bulan, padahal mereka sudah tak kuliah lagi alias finish alias drop out. Yang lain lagi, kawin lari dengan gadis kota dan tetap berkirim surat ke kampung halaman bahwa kini ia pindah kuliah ke kota lain. Tolong kirim uang belanja setiap bulan….

“Bukan begitu Bapa. Palias ma i. Dijauhkan lah kita dari cerita-cerita bohong semacam itu. Aku ini sungguh-sunguh, Bapa. Kan Bapa yang bersikeras agar aku jadi sarjana. Sekarang anak mu ini sudah sarjana. Senang lah hati mu. Kalau kau tak percaya, ini aku bawakan surat keterangan bahwa aku sudah melaksanakan meja hijau tadi….,” Toga mengambil selembar surat dari tasnya. Menyerahkannya kepada ayahnya.

“Ah, tak perlu itu. Siapa pun bisa bikin surat seperti itu. Di kota Tarutung sana pun bisa aku minta toke Cina membikin surat seperti itu,” ayahnya meletakkan selembar kertas yang diterimanya dari Toga.

Kini Toga mulai merasa lelah. Ia habis akal meyakinkan kedua orang tuanya. Tapi ia pun tak bisa menyalahkan keadaan. Ayah-ibu-nya tak pernah menyelesaikan Sekolah Rakyat. Pengetahuan mereka tentang dunia pendidikan sangat minim. Belum punya pengalaman menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Plus, sering mendengar cerita-cerita seram tentang kepiawaian anak-anak kuliahan meng-kadali kedua orang tua mereka.

Ibunya akhirnya memecah keheningan. “Kapan rupanya kau perlukan uang itu? Bisa kau tunggu satu-dua hari ini?”

“Ya, usahakan Inong lah satu-dua hari ini. Aku juga mau cepat-cepat kembali ke Medan, karena masih banyak yang harus aku persiapkan.”

“Tapi kau harus benar-benar jujur ya….Amang. Aku usahakan pun,” ibu Toga berbicara pelan. Toga tahu, jika ibunya sudah sampai menggunakan panggilan Amang kepada anak laki-lakinya –yang sesungguhnya berarti Ayah—itu menyiratkan dua hal: ibunya sedang benar-benar menekankan sesuatu yang sangat serius atau ia sedang merasa kasihan.

Percakapan malam hari itu ditutup dengan tiada kesimpulan apakah ayah dan ibu Toga dapat mempercayai putra mereka telah menyelesaikan kuliahnya. Dan tampaknya ketiadaan kesimpulan itu bertahan terus selama tiga hari Toga berada di rumah itu. Keesokan harinya dan keesokan harinya, kabar tentang telah lulusnya Toga diceritakan ayahnya kepada siapa pun yang ada di kampung itu, tetapi dengan nuansa yang justru meragukannya. Kepada setiap orang dia mempertanyakan apakah mungkin anaknya yang baru empat tahun kulian di Medan, sudah tamat begitu cepat. Sedangkan banyak anak-anak lain dari desa itu hingga kini masih terus kuliah, padahal mereka lebih dulu daripada Toga.

Keraguan itu masih mencuat ketika Toga bersiap-siap untuk pulang ke Medan pagi-pagi sekali tiga hari berikutnya. Sambil Toga berkemas-kemas, karena ia perlu berjalan kaki cukup jauh menuju pemberhentian bis terdekat, masih didengarnya suara ayahnya yang sedikit menggerutu. Dari dalam kamar, ibunya kemudian datang mendekati Toga. Ibu dan anak itu kemudian duduk di kursi rotan di ruangan itu, berhadap-hadapan. Sang ibu menyerahkan uang Rp1,5 juta yang dibutuhkannya. “Ini uang yang kau perlukan. Baik-baik lah kau menggunakannya,” kata ibu. Tak ada penjelasan dari sang ibu darimana uang itu diperoleh. Tapi Toga tahu, banyak kerabat lain yang bisa dimintakan tolong meminjamkan uang, sepanjang itu demi keperluan sekolah.

Toga menerima uang itu. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke pintu. Ia memanggil ayahnya yang sedari tadi duduk di halaman rumah. “Bapa, ke sini lah sebentar. Aku sudah mau berangkat….”.

Dari balik pintu ayahnya muncul dan turut bergabung duduk di kursi rotan. Masih juga sang ayah membuang muka tak mau bertatapan dengan Toga.

“Begini Bapa. Kalau Bapa masih tetap belum percaya, tidak apa-apa. Tapi nanti datang lah Bapak ke Medan. Kami akan diwisuda. Kalau Bapa dan Inong mau menginap di tempat kos-ku juga tidak apa-apa. Tetapi kalau mau menginap di rumah Paman yang di Belawan, mungkin lebih baik. Nanti aku mintakan tolong sama dia mengantarkan Bapa ke kampus,” Toga terus berusaha meyakinkan. Ia sebutkan tanggal dan bulan hari wisuda yang ia maksudkan. Tak lupa tanggal itu ia lingkari di satu-satunya kalender di ruangan itu. Paman yang dimaksudkan sebetulnya adalah kerabat jauh. Itu lah satu-satunya sanak saudara mereka yang tinggal dekat-dekat Medan.

“Apa itu wisuda? Tak mengerti aku maksudmu,” ayahnya menukas.

“Wisuda itu artinya dilantik, Bapa. Dilantik jadi sarjana,” si bungsu yang sedari tadi mendengarkan ikut menjelaskan.

“Ah, belum percaya aku. Nanti kalau aku datang ke Medan, tau-tau kau malah tak ada di situ, makin malu aku,” ayahnya menyahut.

Ibu Toga tampaknya tak sabar lagi mendengar ketegangan itu. Segera ia berujar ke arah suaminya. “Jangan begitu kau. Bilanglah sama anakmu itu nasihat yang baik-baik. Kalau memang dia benar jadi sarjana, kita akan datang. Tapi kalau dia berbohong, Tuhan lah yang akan membalas. Begitu lah seharusnya omonganmu.”

Toga bersyukur bahwa ibunya cukup bijak, kendati di dalam hati ia juga masih mencium kenyataan, ibunya pun sesungguhnya belum sepenuhnya percaya akan keberhasilan anaknya menyelesaikan studi.

***


Makin siang aula itu makin ramai. Di pelatarannya sebagian wisudawan berfoto-foto sambil menunggu acara dimulai. Nun jauh di sana, ada tenda-tenda tempat yang disediakan untuk para undangan yang tak tertampung di dalam aula. Tenda-tenda itu pun sudah mulai penuh. Toga berdiri bersama beberapa rekan sesama wisudawan. Jubah yang dikenakannya makin membesarkan hatinya bahwa kini ia sudah merampungkan salah satu cita-cita ayahnya. Tetapi kerongkongannya serasa tercekat, ketika ia mengedarkan pandangan sedari tadi, dan ia tidak menemukan tanda-tanda ayah-ibunya akan hadir di sini. Ah, mereka belum percaya juga….

Upacara wisuda itu akhirnya dimulai. Sekali lagi Toga mengarahkan pandangan ke barisan tempat duduk yang khusus disediakan kepada para orang tua wisudawan. Ia saksikan di sana wajah-wajah penuh kebanggaan –sebagian besar adalah orang-orang yang sudah sangat berumur. Berjas dan berkebaya. Tapi sekali lagi, Toga hanya bisa bergumam dalam hati. Tuhan. Apakah aku masih bisa mengharapkan keajaiban, agar kedua orang tua ku Kau hadirkan di sini?

Upacara itu berlangsung dengan khidmat. Sesekali terdengar tepuk tangan meriah. Satu demi satu wisudawan maju ke panggung. Berbaris. Dan ketika tiba di sana, merunduk untuk membiarkan Pak Rektor meraih seuntai rumbai di topi wisuda dan menyingsingkannya ke arah samping. Setelah itu, Pak Rektor menyerahkan sebentuk piagam dalam wadah berbentuk tabung, simbol telah sahihnya sang wisudawan menuntaskan studi. Dari pengeras suara, Toga mendengar namanya disebutkan. Ia rasakan matanya basah ketika menjabat tangan Pak Rektor. Di benaknya terbayang ayah-ibunya yang masih juga belum mempercayainya.

Lalu perlahan ia berbalik menuju tempat duduknya semula. Dari atas panggung itu ia menuruni anak tangga satu per satu, seraya sesekilas mengarahkan pandangan ke hadapannya. Mula-mula ia tak percaya. Tapi makin lama ia makin merasakan ia tak salah lagi. Di kejauhan, diantara orang-orang yang berdiri di bagian paling belakang aula itu, ia menyaksikan wajah-wajah yang sangat ia kenal. Melambai-lambaikan tangan tiada henti. Terus dan terus dan terus. Seakan-akan mereka tak percaya bahwa Toga telah melihat mereka.

Ya. Toga merasa pasti kini. Itu adalah ayahnya. Ibunya. Si bungsu. Si Paman. Dan ada beberapa orang keluarga dekat. Dan juga beberapa orang tetangga dari kampung halaman. Thank God. You are here. Akhirnya mereka datang juga. Gumaman itu berkali-kali terlantun di dalam hati Toga. Ia tak kembali lagi ke tempat duduknya semula. Dengan bergegas ia menemui orang-orang yang sangat ia kasihi itu di bagian paling belakang aula itu.

Segera ia peluk ibunya. Dengan erat. Sepenuh-penuhnya. “Maafkan kami, ya Amang. Kami sudah berusaha berangkat pagi-pagi sekali dari rumah Pamanmu di Belawan. Tapi di tengah jalan motor (maksudnya, mobil, pen) kami kempes ban-nya. Tak ada ban serapnya pula. Agak lama kami mencari tukang tambal ban. Makanya kami datang agak terlambat. Tak kebagian lagi kami tempat duduk di aula ini, terpaksa kami berdiri di belakang ini,” terbata-bata ibunya berbicara. Dekat sekali di telinga Toga.

Menyusul kemudian Toga memeluk ayahnya. Kali ini ayahnya lah yang mendekapnya erat-erat. Toga sesunggukan di pundak ayahnya, tapi tersedak juga ia akhirnya karena ingin tertawa, mendengar suara kocak ayahnya sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Eh, serius juga rupanya kau soal yang Rp1,5 juta itu ya. Minta maaf lah aku. Ganteng kau dengan baju longgar mu itu... bah, tak kelihatan lagi bekas parmahan (gembala) kerbau di kampung sana. Hahahaha. Rame kali acara ini. Kalau kutahu begini acara wisuda, sudah kujahitkan satu jas untuk ku, satu untuk mu. Biar jago (keren) kita dilihat orang-orang kota ini….”

Sore hari seusai acara wisuda, ayah Toga bersikeras agar mereka pulang ke kampung hari itu juga.

“Sudah sore Bapa. Tidak ada lagi kendaraan umum ke kampung kita. Besok lah Bapa pulang,” kata Toga.

“Tidak. Kita harus pulang hari ini. Dan kau harus ikut,” kata ayahnya. Segera pula sang ayah memanggil paman Toga dan berpesan agar mencarikan kendaraan carteran. “Berapa pun ongkosnya akan kubayar. Yang penting kita bisa sampai di kampung hari ini. Selama ini aku sudah malu dijadikan bahan parekkelan, jadi bahan ledekan olehorang sekampung. Banyak yang bilang aku dibohongi anakku yang mengaku-ngaku sudah sarjana dalam empat tahun. Sekarang harus kubuktikan. Anakku bukan pembohong.”

***


Dalam Bahasa Simalungun, tarimakasih sering dijadikan padanan kata terimakasih. Tetapi ada kata lain yang dianggap lebih orisinil dan lebih mulia dalam menggambarkan kata terimakasih, yakni Diatei Tupa. Diatei Tupa bukan semata ucapan terimakasih kepada sesama yang telah berbuat baik kepada kita. Melainkan ucapan syukur kepada Tuhan karena telah terwujudnya sesuatu yang baik. Mungkin mirip-mirip dengan Thank God dalam Bahasa Inggris. Atau Syukur Alhamdulillah kata kita orang Indonesia.

Dan, akhirnya saya temukan juga persambungan makna dari Thank God you are here dengan Akhirnya datang juga pada kisah si Toga itu.

---selesai---


Ciputat, 23 Agustus 2008

N.B.

(1) Kisah ini adalah cuplikan hidup dari seorang sahabat berinisial SL. Beberapa rinciannya telah saya ubah dan tambah, tapi substansinya samasekali tak berkurang. Terimakasih lae SL, telah berbagi cerita ini kepada saya. Dan kalau lae membaca tulisan ini, mohon jangan marah ya atas kelancangan saya menuliskannya di blog ini. Saya sungguh-sungguh tersentuh oleh cerita ini dan mudah-mudahan lae juga sependapat dengan saya, bahwa cerita semacam ini layak dibagikan kepada anak-cucu kita.

(2) Mudah-mudahan kisah ini juga bisa menjangkau mereka yang mengaku dirinya sebagai penyelenggara pendidikan, termasuk Pemerintah yang telah menyisihkan 20% APBN untuk bidang ini. Pesan Oppung dari bona pasogit, serius dan bijaksanalah dengan tanggung jawab yang mahapenting itu. Banyak sekali orang tua kita di kampung sono yang tidak tahu apa-apa tentang seluk-beluk pendidikan, tetapi mereka percaya seyakin-yakinnya akan magic dunia pendidikan. Jangan salah gunakan kepercayaan itu dengan gimmick-gimmick tak perlu tentang program-program yang seolah dahsyat tapi UUD (ujung-ujungnya duit). Sedikit banyak Pemerintah bertanggung jawab menciptakan rasa bersalah di setiap hati orang tua yang tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, sebab Pemerintah lah yang ‘meneror’ warga negara dengan program-program wajib belajar dan semacamnya. Sehingga para orang tua itu merasa berdosa dan berusaha jungkir-balik demi sekolah anak-anaknya. Kalau mereka dikibuli lagi demi ‘memeras’ pundi-pundi mereka yang tak seberapa, percaya lah. Doa orang tertindas saja sudah sangat manjur. Apalagi kutukan mereka….

(3) Penjelasan tentang makna Diatei Tupa itu saya dapatkan dari Mansen Purba SH, budayawan Simalungun yang getol mempopulerkan penggunaan Diatei Tupa.

5 comments:

  1. Diatei Tupa. Syukur Alhamdulillah, saya bisa baca blog ini, terlebih bisa mengenal penulisnya.

    Sungguh, sebuah cerita yang mengharukan. Saya menulis komen ini seraya menghapus air mata. Saya ingat "sesuatu", Bang. Banyak tulisan Abang yang mengingatkan pada keluarga kami di kampung. Almarhumah ibu, dan ayah saya yang Alhamdulillah senantiasa diberkahi kesehatan kendati pernah terserang stroke di tahun 2002...

    Bang, saya banyak mendapat pencerahan dan penyadaran dari tulisan-tulisan Abang... Terima kasih banyak.

    Panjang umur untuk Abang, dan saya setuju, tulisan semacam ini akan bisa jadi "warisan" berharga untuk anak cucu kita. Amien...

    Salam.

    ReplyDelete
  2. ah, bisa aja nih mas fajar, itu menghapus air mata karena sedih apa karena kecape'an baca tulisan sepanjang ini? hehehehe

    blog panjenengan makin hari makin canggih je. lama-lama panjenengan bukan lagi banker on writing tapi writer on banking....
    ayo bahas lagi dong, serat centini atau ronggowarsito....

    terimakasih mas udah mampir di sini. diatei tupa, matur nuwun,

    ReplyDelete
  3. gak sengaja cari gambar toga untuk tulisan di blog ku yang kebetulan aku wisuda bulan depan, eh.. malah mampir ke tulisan abang.

    bagus banget bang..
    bagus banget....

    jadi sedih membacanya...

    ReplyDelete
  4. Meng-Google "diatei tupa artinya" telah menggiring saya ke blog dan tulisan memikat ini. Tak heran bila putri Amang suka menyandera Ayahnya untuk mendongeng! Saya sangat menikmati cerita menarik ini dan bagaimana Amang membangun konflik ke konflik, serta menggambarkannya dengan sangat baik, sekaligus memperkenalkan budaya Simalungun kepada pembaca/saya. Diatei tupa, Amang na burju.

    ReplyDelete
  5. Meng-Google "diatei tupa artinya" telah menggiring saya ke blog dan tulisan yang memikat ini. Tak heran bila putri Amang sering menyandera Ayahnya untuk mendongeng. Saya sangat menikmati cerita menarik berdasarkan kisah nyata ini, saya menyukai cara Amang membangun cerita dari konflik ke konflik, juga bagaimana Amang menggambarkannya dengan sangat baik untuk memperkenalkan budaya Simalungun kepada pembaca/saya. Diatei Tupa, Amang na burju!

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...