Saturday, September 06, 2008

'Brunch' di Warung Joe



Orang bule mengenal tradisi brunch. Sepotong kata yang merupakan perkawinan dari breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang). Istilah ini pertama kali muncul di Inggris pada 1896. Ia dipopulerkan oleh majalah Hunter's Weekly, dan kemudian menjadi slang di kalangan pelajar.

Ehm. Ya, ya, tak usah deh mengenye, tentang ke-sok tahu-an saya perihal ini. Tak usah mendelik dan berkata, 'eh, kok berani-beraninya sih si orang norak van Sarimatondang ini bicara tentang brunch...Apa sudah merasa begitu hebatnya dia sehingga nekad membicarakan topik yang seharusnya hanya cocok dibawakan oleh Bondan Winarno atau William Wongso di Trans TV atau Metro TV?'

Ya, saya ngaku. Tak ada keahlian saya secuil pun soal topik yang berhubungan dengan makan-memakan ini. Bila pun saya mengutip istilah keren dari negeri dingin ini, harap maklum lah. Orang kita kan sering langsung tersentak (dari ngantuk atau pun lamunannya) bila disodori istilah-istilah aneh. Siapa tahu dengan membuka cerita memakai kata brunch, pembaca blog ini langsung melek dan segar-bugar lagi menjalankan hari-harinya di bulan Ramadhan....Maafkan lah taktik saya yang rada mudah ditebak ini.

Dari penjelasan Wikipedia yang saya intip sikkit-sikkit beberapa hari lalu, ternyata ada macam-macam cara orang menggambarkan dan memahami brunch. Yang paling umum adalah perihal timingnya. Brunch, seperti namanya, adalah sebuah hidangan yang disajikan pada saat yang serba tanggung. Kalau disebut breakfast, tak terlalu pas karena sudah agak siang. Tetapi jika dibilang lunch, juga tak tepat, karena masih kepagian. Kalau dalam Bahasa Batak, ini lah mungkin yang disebut paralang-alangan. Bukan ini, bukan itu.

Begitu tanggungnya, sehingga dalam sebuah episode serial The Simpsons ("Life on the Fast Lane," yang disiarkan pertama kali pada Maret 1990), seorang Perancis menggambarkan brunch dengan kata-kata serba 'not'. : "It's not quite breakfast, it's not quite lunch, but it comes with a slice of cantaloupe at the end. You don't get completely what you get at breakfast, but you get a good meal." Yang paling tajam kiranya adalah defenisi dari kamus Merriam-Webster online. Kata kamus ini, brunch adalah a meal usually taken late in the morning that combines a late breakfast and an early lunch.

Namun, definisi brunch kian ke belakang hari agaknya makin mengacu ke sudut pandang yang positif. Di sini brunch bukan dipandang sebagai 'bukan ini, bukan itu,' melainkan benar-benar menggambarkan breakfast + lunch, atau breakfast ya, lunch ya. Restoran dan hotel makin acap memakai nama itu untuk hidangan yang serba lengkap. Itu berarti meliputi keseluruhan menu standar breakfast, semisal telur, sosis, bacon, ham, buah, pasta dan sejenisnya, plus item-item lain yang biasanya dihidangkan pada saat lunch, seperti salad, sop, daging, seafood bahkan juga pencuci mulut (bukan terjemahan dari mouth washer, tetapi desert, hehehe). Biasanya brunch dihidangkan ala buffet. Pokoknya tak kan mengecewakan mereka yang perutnya termasuk kategori L, XL, apalagi XXL.

Ada yang memperkirakan tradisi makan ala brunch di Inggris bermula dari kebiasaan para keluarga di sana meliburkan para pelayannya pada hari Minggu. Sebagai imbalannya, pada pagi-pagi sekali sang pelayan mempersiapkan hidangan yang terdiri dari makanan-makanan dingin (apa ya terjemahan dari cold items?, maksudnya pasti bukan melulu es krim kan?) dan diletakkan di meja makan. Seluruh anggota keluarga dapat mengambil sendiri dan menikmatinya sesuka-suka mereka sepanjang hari, tanpa terikat waktu.

Suatu hari, beberapa tahun lalu, atas berkat rahmat Allah yang Mahaesa serta oleh keinginan luhur seorang relasi (ceile, kayak pembukaan UUD 45 aja), saya dan keluarga mendapat komplimen untuk brunch di Hotel Marriott. Ketika hal itu saya beritahu di rumah, istri saya melonjak kegirangan. Ia bahkan sudah sangat looking forward seminggu sebelum tiba saatnya kami menyambangi hotel itu. Dugaan istri saya memang benar. Brunch di Marriott istimewa. Mengesankan, lebih tepatnya. Pokoknya enak, banyak dan nikmat. Apalagi tak jauh dari meja kami, ada grup band Batak yang tak henti-hentinya bernyanyi merdu. Salah satu lagunya, yang membuat saya seperti terlempar ke kampung halaman, adalah..... Sai tudia ho marpira, o anduhur na gundesan....

Iseng-iseng seusai bersantap, saya mengintip bill yang disodorkan pelayan. Alamak. Banyak kali angka nolnya. Maka itu saya segera berbisik menggoda istri saya yang sudah bersandar full karena kekenyangan. “Eh, tau nggak, dalam dua jam kita di restoran ini, kita sudah menghabiskan satu spring bed,” kata saya. Wajahnya langsung memerah dan sedikit marah. “Husss, kamu norak banget sih, boleh nggak sekali-kali pikirannya dijauhkan dari itung-itungan,” kata istri saya yang langsung cemberut dan membuang muka. Memang, bila dihitung-hitung, harga brunch yang kami nikmati hari itu, bisa membeli sebuah spring bed baru, benda yang jadi impian istri saya kala itu. Untung saja bill itu bisa terbayar oleh komplimen dari sang relasi.



()()()()


“Hei lae, cabenya dipotong-potong atau bulat saja?”

Nah, itu adalah pertanyaan rutin dari Joe, panggilan akrab penjaga warung kopi plus mi instan yang jadi langganan saya. Topping mi instan di warung-nya itu ada dua yang lazim: bawang goreng dan cabe rawit dipotong-potong kecil. Tapi kadang-kadang ada juga yang lebih memilih cabe rawitnya bulat saja. Maka setiap kali ada pelanggan yang memesan mi instan, selalu ia menanyakan perihal cabe tersebut.

Joe lahir, besar dan berkeluarga di Tegal. Ia sendirian saja yang tinggal di Jakarta dan setiap akhir bulan pulang kampung. Sebutan Joe kepadanya bisa-bisanya saya saja, mengikuti cara orang lain memanggilnya. Mungkin nama sebenarnya adalah Sutarjo atau Bejo atau Karjo. Sejak ia tahu bahwa saya orang Batak, ia selalu menyapa saya dengan lae.

Warung kopi plus mi instan-nya itu kira-kira tiga blok jauhnya dari kantor tempat saya bekerja. Tak jauh di seberang warung itu ada sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang besar dan terus berkembang. Itu sebabnya warung itu selalu ramai oleh para pegawai yang ingin mengisi perut. Disamping kanan-kiri warung Joe banyak juga pedagang lainnya. Pokoknya jalan kecil yang memisahkan warung Joe dan perusahaan jasa kurir itu selalu hidup sepanjang hari kerja. Apalagi di sana ada juga bengkel las dan cat duco.

“Lalu, apa hubungannya Joe dengan brunch?,” para pembaca yang tak sabar mungkin akan langsung menyergah.

Ada. Warung Joe adalah langganan saya untuk menikmati brunch, hampir setiap hari, kecuali di hari libur. Seperti kebanyakan komuter seJabodetabek, tiap hari saya berangkat dari rumah seringkali tanpa sempat sarapan secukupnya. Yang mengisi perut ini paling-paling sepotong tempe goreng atau sekerat roti, atau sejumput nasi goreng atau beberapa potong lontong bacang, plus teh manis (yang terakhir ini tak pernah lupa).

Ketika tiba di kantor, biasanya sarapan tak sempurna itu masih bisa menopang otak mengerjakan dan memberes-bereskan pekerjaan. Entah itu meeting, menelepon ke sana kemari (yang penting mau pun yang kurang penting), mempersiapkan naskah-naskah yang sudah bisa dikirimkan ke lay outer, browsing tentang bahan-bahan pendukung tulisan, dan lain-lain dan banyak lagi. Kadang-kadang sih, sempat juga memejamkan mata 15 menit sampai 30 menit. Maklum, perjalanan saya dari rumah ke tempat kerja, (sudah pernah saya ukur) memakan jarak kurang lebih 40 km. Plus ditambah berdiri di atas kereta api, wah, bisa kebayang energi yang terkuras.

Biasanya, pukul 11 atau kurang, mulai lah terasa perut yang minta diisi. Dan bagi orang seperti saya yang sudah terkena gejala maag sejak masih mahasiswa, tak boleh ada kata kompromi untuk hal semacam ini. Biasanya warung Joe akan menjadi tempat escape yang paling nyaman. Di sana kita akan bisa dengan leluasa menikmati brunch –sudah kesiangan untuk disebut sebagai sarapan, tapi masih terlalu pagi untuk disebut makan siang. Brunch yang murah-meriah tapi sangat tepat waktu memenuhi keinginan.

Dalam menyajikan brunch, warung Joe pasti lah kalah jauh dibanding Marriot bila dilihat dari sisi nutrisinya, tapi menang selangkah dalam soal taylor made-nya. Di warung Joe pilihan-pilihan yang tersedia memang terbatas. Tapi itu bisa diimbangi oleh kesudiannya memasakkan pesanan pelanggannya sesuai dengan yang diinginkan. Mi yang direbus tak usah sampai lembek banget? Mi dengan telur tanpa diaduk? Mi nya dua telurnya satu atau sebaliknya, mi-nya satu telurnya dua? Pakai bawang goreng tapi tanpa cabe rawit? Atau pakai cabe rawit tanpa bawang goreng? Dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau mau brunch yang lengkap, coba mulai lah dengan telur ayam setengah matang. Jangan lupa membubuhinya dengan lada agar bau amisnya hilang serta garam secukupnya. Biasanya, Joe juga akan bertanya untuk memastikan, apakah Anda memang benar-benar menginginkan telur setengah matang atau tiga perempat matang (ada bedanya, lho...)

Setelah itu, giliran roti bakar dengan berbagai aneka pilihan selai. Strawberry? Kacang? Nanas? (Uuups, sorry, kalau selai rasa pete sih, belum pernah ada di sini). Biar tambah afdol, sesekali celupkan lah roti ke dalam teh manis yang telah dituang ke dalam piring kecil yang jadi tatakan gelas. Jangan terlalu lama, sebab Anda tidak sedang ingin makan bubur roti, bukan?

Seusai menu breakfast itu, baru lah masuk ke menu utama, yakni mi instan rebus. Kebiasaan saya adalah mi instan dua dengan bumbu satu, plus pakai telur. Cabe rawit bulat diiris-iris, ditaburkan manakala mi sudah terhidang di dalam mangkuk. Sebagai side dish-nya, dua potong kerupuk putih atau tahu isi goreng yang bisa dipesan dari warung di sebelahnya. Menjelang mi habis, sudah boleh pesan kopi. Sebab dengan begitu, ketika kita mengakhiri makan mi, sang kopi hitam manis itu sudah tak terlalu panas-panas banget lagi untuk diseruput. Jadi efisien dari sisi waktu, dan tepat sasaran dari segi rasa. Mantap. Kalau masih kurang, rujak buah sudah siap-siap menerima pesanan tak jauh dari sana.

Kalau dipikir-pikir brunch di warung Joe itu sudah jadi semacam ritus juga bagi saya. Dan, ini memang sering membuat penasaran. Bagaimana bisa ya, brunch dengan mi instan di warung Joe begitu nikmatnya, padahal di rumah pun, kalau malam sudah begitu larut dan makan malam sudah dingin, kita sebenarnya sudah terbiasa dengan hidangan mi instan? Kenapa ya, mi instan bikinan warung Joe terasa tak ada bandingannya, bahkan walau mi instan bikinan rumah sudah diperkaya dengan macam-macam bahan: sosis, irisan daging ayam, bakso ikan, toge, kangkung, sawi, brokoli dan entah apa lagi...

Jawabnya tak jauh-jauh, ternyata. Di warung mi instan mana pun, pasti tak kan pernah absen botol-botol yang terbuat dari beling seukuran botol bir. Umumnya warnanya hijau atau coklat. Isinya: saos. Ya, dan ini lah sesungguhnya kunci paling pokok dari nikmatnya menyantap mi rebus di warung pinggir jalan. Saos ini biasanya tutupnya dibuka seluruhnya –bandingkan dengan saos rumah yang ujung botolnya biasanya dibiarkan kecil-- sehingga ketika kita menuangnya ke mangkuk, mengalir lah ia dengan deras, bahkan kerap menutupi seluruh permukaan mi. Ada kalanya saos itu susah dijinakkan. Terlalu kental dan tak mau juga keluar dari botolnya, sehingga kita harus memukul-mukulkannya dengan telapak tangan. Tak apa. Itu adalah bagian dari seni menikmati brunch di warung Joe.

Seringkali saya mencoba membaca-baca apa saja kandungan dari saos ini lewat botol kemasannya. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Garam, gula, cabe, tomat dan pepaya, itu lah sebagian diantaranya. Tapi yang tak pernah saya lupa adalah gambar yang jadi cap atau merek saos itu. Warna-warna cerah penuh: merah, hijau dan kuning, sungguh memancing selera. Apalagi nama mereknya benar-benar menggoda syaraf: cap Cabe Gunung. Sebab saya diingatkan pada cabe-cabe segar dari pegunungan Tambun Raya, kira-kira setengah jam perjalanan dari kampung saya, Sarimatondang. Cabe gunung yang langsung dipetik dari pohonnya. Hijau dan padat, pedasnya tak terkira-kira.

Apakah benar saos itu terbuat dari cabe gunung? Wah, wallahualam. Yang jelas, cap dan merek saos itu tak salah. Ia memang benar-benar menggambarkan cabe gunung. Buktinya, di sana tertera dengan jelas-jelas, gambar cabe dan gambar gunung. Saos ini belum pernah saya temukan di supermarket mana pun. Tampaknya ia spesial untuk warung pinggir jalan.



()()()

Bagi para CEO dan kalangan bisnis, brunch akan lebih produktif lagi bila dilakukan sambil mengadakan pembicaraan bisnis. Kalangan selebritis, dugaan saya, akan menggunakan brunch sebagai ajang saling curhat, terutama mengenai gempuran berbagai berita gosip media yang menerpa mereka.

Lantas bagaimana dengan brunch di warung Joe, apakah ia juga seproduktif brunch-nya para CEO atau kah ia berlalu tanpa kesan?

Jujur saja, saya sering menguping pembicaraan orang-orang yang duduk di warung itu, entah mereka melaksanakan brunch atau sekadar nongkrong saja. Dan, pembicaraan favorit yang paling bikin penasaran –tetapi saya pura-pura nggak sedang menyimak, sebab takut digebuki oleh orang-orang sekantor-- adalah bila dua atau lebih OB sedang berbincang. Banyak ocehan mereka yang bisa menjadi bahan tertawaan, tetapi lebih banyak lagi yang sesungguhnya adalah suara-suara yang mewakili kita, baik dalam hal pekerjaan, di dunia rumah tangga bahkan dalam bernegara. Bedanya, bila para OB itu dapat menyuarakannya secara lepas bebas, kita-kita masih sering ja-im lalu kemudian memendamnya.

Sebagaimana kita tahu, para OB adalah orang yang –secara terpaksa, atau memang dipaksa oleh keadaan—harus menjadi manusia multitalenta dan multifungsi. Jadi pegawai kurir untuk memfotokopi sekaligus mengantarkan dokumen, dia oke. Pergi ke bank untuk mengambil gaji atau membayar segala rupa tagihan bosnya, dia bisa. Membeli lauk makan siang plus pulsa dia tak bisa menolak. Kadang-kadang jadi tukang pijat pun ia harus bersedia.

Bila menggunakan kacamata Robert T. Kiyosaki, para OB ini bisalah dikategorikan sebagai orang yang hidup di dua kuadran, kuadran employee tetapi sekaligus juga self employee. Dia tidak cuma multitalenta dan multifungsi, sekaligus juga jadi multisource income, karena dia tidak cuma makan gaji. Sembari ia mengerjakan tugas-tugas rutinnya, dari tugas-tugas ekstra itu ia juga mendapatkan pemasukan tambahan. Kait-mengait antara tugas dan tip itu lah yang mendorong gairah para OB itu untuk selalu siap mengerjakan apa saja.

Begitu penting dan serbabisanya para OB, jangan diherankan bila jejaring pergaulannya begitu luas. Dari dengar-dengaran akan pembicaraan para OB, saya jadi tahu bahwa mereka itu demikian mobile-nya dalam membina jaringan di kantor tempat mereka bekerja. Mobilitas itu tak hanya horizontal tetapi juga vertikal. Jasa mereka tak hanya dibutuhkan secara lintas departemen –SDM, Marketing, Akunting-- tetapi juga secara hirarkis, mulai dari kepala seksi hingga presiden direktur.

Tak mengherankan jika gosip-gosip seputar orang-orang yang mereka layani kerap terlontar dikala mereka duduk-duduk sambil menikmati brunch di warung Joe. Tentang bos X yang baru saja beli rumah baru, tentang Bu Y yang pelit tak pernah kasih tip walau pun nyuruhnya nggak kira-kira. Tentang Pak Z yang berubah jadi pemurah setelah kawin lagi, tentang Mas W yang baru saja memenangkan kejuaraan game online antarpropinsi, tentang Bu S yang sudah seminggu tak masuk-masuk karena ikut kampanye bersama suaminya yang caleg. Dan banyak lagi.

Pada brunch kali itu, kembali lagi saya menguping pembicaraan mereka. Dua orang OB, yang tampaknya baru saja menyelesaikan tugas-tugas yang mereka kerjakan sejak pagi, kini sedang menyembunyikan diri di warung itu –takut disuruh-suruh lagi. OB yang satu berambut kelam berkulit putih. Ngganteng dan modis, wajahnya cerah ceria. Yang satu lagi justru bertampang jadul, wajahnya tampak keruh hari itu. Dari logat bicara dan ceritanya, akhirnya saya tahu si tampang jadul berasal Sumatera Utara, tepatnya Tanah Karo.

“Aku harus pulang libur lebaran ini, tapi bingung cari ongkos darimana,” kata OB bertampang jadul itu. Lawan bicaranya diam saja. Kopi susu di depannya diseruput sedikit sekali.

“Sudah kucoba pinjam sama Bos, tapi aku malah balik dimarahi. Emangnya aku bank? Gitu jawabnya. Sedih kali kurasa,” kata si tampang jadul lagi.

Makin lama mereka bercerita makin serius pula saya menguping. Dan akhirnya saya jadi tahu duduk persoalannya. Si muka jadul baru dua tahun bekerja di perusahaan itu. Ia jadi OB pagi hari dan malam harinya kuliah. Di Jakarta ia tinggal di rumah seorang kakaknya yang dari ceritanya, hidupnya terkesan pas-pasan juga. Itu lah sebabnya, walau ia ingin pulang ke kampung halaman, ia tak ingin menambah beban sang kakak untuk membiayai tiketnya. Si OB jadul ingin membeli tiket sendiri dengan uangnya sendiri pula.

Yang mengherankan dan sedikit membuat hati saya rada bertanya-tanya adalah jawabannya ketika ia ditanya kenapa harus pulang kampung lebaran ini. Bukan kah masih ada kesempatan lain di waktu-waktu mendatang? Bayangkan, dia harus pulang ke ujung Sumatera lho. Perlu uang tidak sedikit. Tapi akhirnya saya mengerti setelah mendengar dialog ini.

OB Jadul: Kami ada sembilan orang bersaudara. Aku paling bontot. Kata abangku, aku baru bisa ikut pulang kalau bisa bayar ongkos sendiri. Sebab dia pun harus menanggung ongkos istri dan tiga orang anaknya. Kalau aku paksa-paksa, mungkin dia mau juga sih membelikan aku tiket. Tapi nggak enak lah. Aku sudah mondok di rumahnya, dia juga yang ikut bantu bayar kuliahku, masakan untuk tiket pulang aku harus minta lagi dari dia....

OB Modis: Trus, kenapa lu harus maksain ikut pulang kalau emang gak punya tiket? Mending nanti, kalau lu udah lulus. Kumpulin dulu duit dari sekarang......

OB Jadul: Tidak mungkin Coy. Soalnya, kudengar-dengar, Bapak dan Mamak mau berfoto bersama. Belum pernah kami semua berfoto sama-sama sekaligus. Semua berjas dan berdasi. Pergi ke studio foto. Nanti kalau aku tak pulang, cuma aku yang nggak ada di foto itu. Padahal, kapan lagi ada acara seperti itu......

OB Modis: Jadi lu pengen pulang karena lu pengen berfoto bersama...?


Ketika melontarkan pertanyaan terakhir, si muka ganteng bertanya seolah meledek. Wajahnya benar-benar dibikinnya lucu-lucu dungu, tapi sebetulnya dimaksudkan untuk menggambarkan penilaiannya terhadap si OB muka jadul.

Saya menghentikan proyek nguping saya sampai di sana. Tak tahu saya bagaimana akhir pembicaraan itu. Namun, dalam hati saya kembali merenung-renung, betapa kaya dan betapa puspawarnanya hidup manusia. Ada banyak cara orang mengusahakan untuk bisa pulang kampung dan seringkali tidak ada pilihan yang mudah. Bagi yang berduit, masih akan bingung memikirkan, apakah pulang kampung naik pesawat X atau pesawat Y, di hari H lebaran atau beberapa hari sesudahnya. Yang pas-pasan bingung memikirkan apakah pulang kampung kali ini akan menyempatkan diri ke kampung mertua atau ke kampung halaman sendiri saja. Sementara yang kurang berduit seperti si OB muka jadul, bingung harus mencari pinjaman darimana. Mungkin akan mencoba lagi melobi Bosnya di kantor.

Namun yang juga tak kalah ruwetnya adalah alasan untuk pulang kampung itu. Ada banyak alasan. Mulai dari melepas rindu kepada kedua orang tua. Menjenguk handai tolan. Menikmati dan menggali nostalgia pada tempat dimana kita lahir dan dibesarkan. Memperkenalkan anak-anak kepada sebagian dari masa lalu kita yang luhur dan mungkin tak dapat ditemukan lagi di kota besar yang ganas dan beringas. Sampai kepada alasan yang tak kalah pentingnya, seperti yang dikemukakan oleh si OB bermuka jadul: ingin berfoto bersama sekeluarga, dengan berjas dan berdasi.

So, para fotografer seluruh dunia, bersatu lah. Lebaran kali ini kalian akan kebanjiran order.

--selesai--


ciputat, 31 agustus 2008

Dua foto terakhir diambil dari jakartafood.blogspot.com
Semua foto merupakan ilustrasi untuk tulisan ini

2 comments:

  1. Lae, abis Ramadhan, Lae musti ajak aku ke warung Si Joe! Awas kalo enggak!

    Kalo cuman tiga blok dari kantor, kan berarti deket juga dari kantorku. :)

    Dan jangan kuatir. Lae yang akan bayar! Hahaha...


    Kutunggu ajakannya,

    Fajar S Pramono

    ReplyDelete
  2. uups, jangan bilang2 joe ya, kalau dia aku rasanin n gossipin di sini. perkara mau brunch di sana, gampang lah itu mas. sing penting wareg. hahahaha (bener kan bhs jowo ku ini)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...