Monday, December 22, 2008

Kalau Ketemu Ibu Saya, Pliss Jangan Bilang-bilang Ya....


(Hari ini hari Ibu. Maka tulisan ini yang sudah tayang September lalu, saya posting kembali. Mudah-mudahan masih cocok suasananya, ya......)


***
Nyokap ketika menggendong cucunya. Tidak cape-cape juga nih Ibu. Padahal sudah sebulan lebih jadi co-CEO bersama Ayah mempersiapkan pernikahan adik saya

Kalau suatu saat ketemu ibu saya, pliss, jangan bilang-bilang ya, kalau saya pernah membocorkan rahasia ini. Ia bisa marah besar. Dan seharian penuh kami anak-anaknya akan mendapat khotbah panjang lebar. Tak henti-henti. Diulang-ulang. Bahkan walau pun kita sudah pura-pura bersiul, bernyanyi-nyanyi kecil agar suara amarahnya itu tak begitu telak-telak terdengar memenuhi rumah dan hinggap di telinga setiap orang, justru karena itu ia tambah nyaring ‘bernyanyi.’ Inti kemarahannya sebenarnya itu-itu saja. “Kalian sudah lupa ya, titah Allah yang kelima, yakni hormati lah orang tua mu agar…..dst…dst. Kalian boleh tertawa-tawa bila aku bicara begini. Tapi nanti kalian rasakan juga ketika kalian sudah jadi orang tua…..”

Ah.

Sialnya, ‘kutukan’ Ibu itu kok manjur lho. Memang tak sampai sesadis kejadian pada Sampuraga atau Malin Kundang yang jadi batu. Tetapi, saya berani bertaruh, orang-orang seusia saya pasti pernah mengamininya dan berkata dalam hati, ‘iya ya, nasihat Ibu tempo hari benar juga...’ Yakni ketika kita, misalnya, sedang bertukang memperbaiki kaki kursi, atau sedang menumis kangkung di dapur lalu meminta tolong kepada anak kita untuk mengambil sesuatu. Lantas sang anak melengos sambil berkata, “Ambil sendiri napa..., aku kan masih capek nih, beresin buku...” Betul, kan, bahwa kenakalan kita sewaktu kecil kepada bokap-nyokap mendapatkan pembalasan dari anak-anak kita sekarang?

Kalau kaum bapak dalam budaya Batak sering disebut-sebut sebagai kepala rumah tangga, saran saya kita jangan lantas membayangkannya sepadan dengan CEO. Pengalaman saya berkata justru ibu lah yang jadi CEO. Bapak-bapak umumnya lebih senang dan merasa lebih bergengsi bila jadi chairman atau presiden komisaris saja. Duduk-duduk tenang menerima laporan dari sang CEO. Kadang-kadang sih, dimintai advis. Tetapi yang lebih sering terjadi CEO lah yang jungkir-balik memutar otak mencukup-cukupkan budget yang ada. Atau ibarat sebuah keluarga adalah negara, bapak-bapak lebih memilih sebagai kepala negara. Ibu-ibu lah yang jadi perdana menteri. Kaum ibu lah –pengemban amanat sebagai pelaksana kebijakan--, yang berdebat dan bersitegang dengan para menteri-menteri. Sementara sang ‘kepala negara’ duduk manis mengamatinya sambil sekali-kali ‘mencuri poin’ dengan berkata, “Siapa dulu dong, bapaknya....” manakala ada anaknya menorehkan prestasi.

Maka kini tiap kali saya teringat pada betapa seringnya Ibu marah kepada kami anak-anaknya dulu semasa kecil --marah besar atau marah kecil—selalu muncul dorongan untuk memakluminya. Bahwa kemarahannya itu lebih dari wajar. Bahkan harus, bila mempertimbangkan betapa bengal dan bebalnya kami.

() () ()


Syahdan suatu hari di suatu masa ketika kami anak-anaknya masih duduk di bangku SD dan SMP, sang CEO, yakni ibu, mengeluarkan sebuah beleid baru. Rupanya ia melihat ‘ketimpangan’ pembagian pekerjaan diantara kami seisi rumah dan karena itu perlu reformasi regulasi. Pekerjaan yang dimaksud adalah ‘MENCUCI PIRING.’

Ya, mencuci piring sodara-sodara. Jangan anggap remeh pekerjaan ini. Ini adalah pekerjaan penting yang oleh kami anak laki-laki sebisa mungkin dihindari. Tampaknya ibu membaca gelagat yang tidak sehat ini. Karena itu, ia memutuskan agar ada jadwal mencuci piring diantara seisi rumah. Yang tidak kebagian giliran hanya lah Ayah (yang bener aja, masa preskom terjun langsung mencuci piring….), ibu, Oppung (kakek) dan dua orang adik paling bontot yang masih kecil-kecil. Selebihnya harus kebagian. Ayah, sang preskom yang diuntungkan oleh peraturan ini tentu saja senang dan tenang-tenang, walau pun sebagai sesama laki-laki kami mencoba protes kepadanya.

Ada berbagai alasan mengapa pekerjaan mencuci piring terasa berat dan membosankan. Pertama, dari sisi jumlah piring yang harus dicuci. Banyak sekali. Rumah kami setiap hari paling tidak diisi oleh 13 kepala. Kami kakak-beradik, ada enam orang. Lalu Oppung (Kakek) yang sejak saya lahir sudah ikut dengan keluarga kami. (Nenek –ibunda ayah—sudah almarhumah sejak ayah belum berkeluarga). Selanjutnya ada dua orang namboru (adik perempuan ayah). Lalu dua orang kerabat yang masih remaja, yang bersekolah di Sarimatondang dan kost di rumah kami. Lalu sang preskom dan CEO. Belum lagi kalau ada famili atau tamu yang berkunjung dan ikut nimbrung makan. Makin bertumpuk saja piring yang harus dibereskan.

Kedua, pekerjaan mencuci piring itu makin terasa berat karena ia dilangsungkan di kamar mandi yang rada gelap dan becek. Air harus digunakan secara hemat, karena ia didatangkan dengan cara memikulnya dalam ember dari mata air Aek Simatahuting setiap sore. (Jarak mata air itu kurang lebih setengah kilometer dari rumah).

Piring-piring kotor biasanya ditumpuk di lantai kamar mandi. Lalu petugas yang kebagian giliran akan duduk di bangku kecil dan menyabuninya menggunakan sabut kelapa. Sabut kelapa itu akan dicocolkan ke sabun balok (batangan) yang biasanya berwarna hijau (cap telepon). Sesudah semuanya beres, baru lah diikuti oleh proses membilas. S.O.P membilas ini sudah sangat baku: harus dua kali. Pertama dimasukkan dan dibilas di dalam ember besar yang sudah penuh berisi air. Sesudah itu baru dibilas lagi di ember kedua yang tak kalah besarnya. Terakhir, piring-piring disusun di rak.

Bagi saya, dan juga bagi adik-adik laki-laki lainnya, pekerjaan tetek-bengek seperti ini terasa menjemukan dan menyiksa. Apalagi jika kami kebagian mencuci piring sehabis makan malam. Uih, diri ini rasanya seperti orang paling malang sekampung Sarimatondang. Bukan apa-apa. Ada kalanya kita sudah janjian dengan teman-teman untuk nongkrong menonton televisi di rumah tetangga. Atau ada siaran langsung pertandingan sepak bola. Ah, rasanya ingin betul punya tenaga seperti Popeye The Sailorman, yang dengan sekali tenggak bayam kesukaannya, langsung beres dah pekerjaan seberat dan serumit apa pun.

Siksaan itu sudah mulai terasa ketika makan malam bersama itu hampir menemui ujungnya. Kita yang kebagian bertugas biasanya menuntaskan makan lebih cepat. Sambil begitu, kita mengamati ke kanan dan ke kiri, mengawasi piring siapa saja yang sudah bisa diangkat ke kamar mandi. Rasa jengkel segera muncul bila menyaksikan ada diantara yang makan itu masih berlamat-lamat dengan suapan demi suapannya. Yang paling belagu dalam hal ini adalah ayah. Menyadari bahwa ada diantara kami yang tak sabaran, ia sering berpura-pura tak kenal waktu. Ia biarkan piringnya masih berisi secuil nasi. Lalu tangannya mencomot sedikit demi sedikit entah tahu goreng, atau sayur daun singkong atau sambal belacan (terasi). Nasi secuil yang masih berada di piringnya tak ia sentuh-sentuh, yang berarti kita belum bisa membereskan piringnya. Makin dia tahu kita sebal menungguinya, makin dia lambat-lambatkan makannya.

Agar tugas mencuci piring lebih ringan, tiap giliran terdiri dari dua orang. Biasanya merupakan kombinasi dari yang senior dan junior. Selain bertujuan mempercepat proses mencuci piring, kebijakan ini dimaksudkan job training bagi yang belum punya pengalaman.

Namun, dugaan saya, ada ‘tujuan tersembunyi’ yang tak pernah secara terus terang diucapkan oleh sang CEO, tetapi setelah dewasa, saya baru menyadarinya. Yakni untuk menciptakan self control dalam ‘regu’ pencuci piring tersebut. Sebab sering kali ada kecurangan-kecurangan kecil dilakukan oleh orang tertentu. Misalnya, ia menggosok dan menyabuni piring seadanya saja. Membilasnya pun asal rendam ke air tanpa benar-benar memperhatikan apakah bilasan itu sudah sempurna. Biasanya ini dilakukan oleh orang-orang yang terburu-buru karena ingin ‘mengejar’ tayangan Aneka Ria Safari TVRI. Nah, bila satu regu terdiri dari dua orang, kecurangan-kecurangan seperti ini biasanya bisa tercium. Sebab sang partner akan segera mengingatkan, “Eh, jangan begitu kau. Nanti kukasih tau sama Mamak, habis kau diretengi (dimarahi).”

() () ()


Ternyata dalam perjalanannya, yang paling sering memancing bawel dan amarah ibu bukan kecurangan-kecurangan dalam menggosok piring secara serampangan atau karena membilasnya seadanya. Dalam hal ini, rahasia kecurangan itu bisa kami tutupi rapat-rapat. Istilah TST atau Tau Sama Tau memang belum kami kenal saat itu. Namun pada praktik sudah kami jalankan. Jadi kalau pun satu dua piring kami bilas tak sempurna, dengan sendirinya masing-masing regu sudah saling maklum dan tak meributkannya. Sang CEO tak lagi pernah mendapat laporan yang merisaukannya soal ini.

Yang tak pernah bisa kami tutupi adalah kejadian-kejadian tak terduga tetapi makin lama makin sering terjadi. Karena begitu inginnya cepat-cepat menuntaskan pekerjaan, kami kerap mencoba bereksperimen dengan cara-cara kreatif. Misalnya, ketika membereskan piring-piring kotor dari meja makan ke kamar mandi, kami dengan sombongnya beratraksi meniru-niru pegawai warung Nasi Padang. Yakni mengangkatnya secara bertumpuk-tumpuk bukan hanya di satu tangan, tetapi dengan dua tangan sekaligus, persis seperti gerak penari piring dari khasanah Minang.

Beberapa kali memang berhasil. Tapi jangankan kami yang amatir, Pembalap profesional seperti Valentino Rossi saja yang sampai-sampai digelari The Doctor karena kepiawaiannya memacu motornya di tikungan, sesekali pernah juga tergelincir. Maka di rumah kami pun terjadi jua lah kecelakaan pada akrobat mengangkat piring-piring itu. Kempryang… !!! Piring atau gelas berjatuhan di lantai dan pecah berkeping-keping. Ibu yang biasanya sudah berada di ruang depan ketika kami mencuci piring, akan segera datang ke dapur. Menyaksikan beberapa piring kesayangannya sudah hancur, tak ada lagi pilihan baginya selain marah. Keluar lah ‘kuliah malam’ yang tak pernah diharapkan. Petuah dengan pesan bernada ‘biar lambat asal selamat’ mau pun yang bernuansa ‘tak lari gunung dikejar’ akan bertubi-tubi ia lontarkan untuk mengingatkan keterburu-buruan kami.

Kalau sudah begini, rasanya semua hal jadi serius. Sampai berhari-hari setelah itu sepertinya segala gerak-gerik kita berada dalam pengawasan sang CEO. Mau menuang minum ketika makan, langsung saja terdengar sergahannya, “Hati-hati kau, jangan seperti orang yang mengejar maling….. Pelan-pelan saja kau tuang minum kau itu.” Atau bila kita sedang menyalakan lampu semprong dan akan menggantungkannya di dinding kamar, segera terdengar teriakannya, “Oi…anaha. Perhatikan itu kursi di sebelah kananmu. Jangan asal terjang begitu saja. Jangan seperti piring kemarin….” Adduh, piring kemarin yang sudah hancur dan tak tahu lagi dimana rimbanya, masih juga dibawa-bawa.

Begitulah. Mungkin karena kami anak-anaknya kian hari tumbuh jadi remaja dan bengalnya makin tak ketulungan, bunyi-bunyian berupa kempryang-kempryong akibat benda-benda kaca yang jatuh makin kerap terjadi. Dari piring dan gelas, kejadian semacam itu merembet pula ke benda-benda kaca lainnya. Kaca lampu semprong pun kian sering berhamburan tak terkendali, jatuh dan hancur. Kala itu belum ada program listrik masuk desa. Lampu semprong adalah peralatan vital untuk melengkapi lampu petromaks yang hanya mampu menerangi ruang tamu. Tiap sore, lampu-lampu semprong itu harus diisi dengan minyak tanah setelah kaca semprongnya dibersihkan dengan lap. Manakala lampu-lampu itu akan digantungkan di dinding, kembali lagi atraksi ala penari piring kami praktikkan. Yakni mengangkat satu lampu di tangan kiri, satu lampu di tangan kanan, plus kadang-kadang menjepitkan botol minyak tanah yang sudah kosong di ketiak. Kompryang…..!!!!, tiba-tiba kita kehilangan keseimbangan karena ingin menghindari keset kaki yang terlipat. Cerita menyebalkan berulang lagi: sang CEO marah besar. Dan nasihat yang ‘itu-itu’ tadi direwind lagi.

Hingga sekali waktu, ketika saya dan adik-adik tengah asyik menonton televisi di ruang depan, dari dapur terdengar suara yang sudah akrab tetapi selalu ingin kami lupakan. Kompryang…….!!! Saya dan adik-adik saling berpandangan. Terdiam sejenak, sambil dengan harap-harap cemas menantikan kejadian selanjutnya yang sudah dapat kami duga. Yakni teriakan ibu dan suara cerewetnya yang membuat bising telinga. Seseorang pasti akan jadi korban.

Tapi ajaib. Setelah suara kompryang kali ini, tak ada terdengar apa-apa. Senyap. Sesunyi kuburan. Kemana suara bawel ibu yang khas itu?. Satu per satu kami beranjak dan mencoba mengintip lewat pintu tengah. Hanya sebentar saja kami berani menyaksikan pemandangan itu, untuk selanjutnya kembali ke depan televisi sambil tertawa cekikikan. Baru saja kami melihat ibu sedang menyapu dan membereskan pecahan-pecahan beling. Agaknya ibu sendiri lah yang kurang waspada kali ini, sehingga mungkin ketika ia mengambil gelas dari rak, gelas itu terlepas dari tangannya yang menyebabkan bunyi kompryang tadi. Pantas saja senyap. Bukankah ada lelucon, bahwa di dunia ini hanya ada dua peraturan tentang berbuat salah; peraturan pertama, Ibu tak pernah salah. Peraturan kedua, kalau Ibu salah, lihat peraturan pertama?

Ketika kami tertawa cekikikan, ibu tiba-tiba telah muncul di ruang depan. Benar-benar kami tak siap akan kehadirannya itu. Saya berusaha menahan tawa setengah mati, begitu juga adik-adik, yang terpaksa mengatupkan tangan ke mulut masing-masing. Ibu terlihat mau marah dan memandangi kami satu per satu. “Puas.... Puas.... Puas kalian ya mentertawakan orang tua?” suaranya mulai agak meninggi. Kami makin terdiam tapi belum bisa sepenuhnya menahan tawa. Dada saya masih terguncang-guncang. Mungkin karena menyaksikan kami begitu rupa, saya melihat ibu juga tak bisa mempertahankan wajah seriusnya. Perlahan-lahan ia ikut tersenyum sambil menjewer kami satu per satu. “Senang kalian ya..... melihat orang tua berbuat salah…. Nanti juga kalian sudah tua, kalian akan mengalaminya,” kata dia. Kali ini nasihat itu terasa tak lagi menggurui. Sebab senyumnya yang tersungging itu, begitu manis dan damainya.

() () ()


Tanggal 1 September lalu, ibu berulang tahun. Entah yang ke berapa, saya lupa. Saya bahkan lupa mengucapkan selamat di hari H, dan baru bisa bercakap-cakap via telepon sehari sesudahnya. Orang-orang selalu mengatakan boru Damanik adalah perempuan paling cerewet, bawel dan sengak di kalangan suku Simalungun. Saya tak percaya pada stereotip ini, tetapi ibu saya, yang boru Damanik itu, memang terkenal reteng.

Mungkin karena sebagian besar kariernya sebagai guru SD dihabiskannya mengajar kelas 1 dan 2. Mungkin karena ia harus jadi CEO di rumah kami, mengurusi belasan penghuni yang sebagian diantaranya datang silih-berganti. Mungkin pula karena ia harus piawai mengelola sumber daya yang pas-pasan di sebuah desa yang pertumbuhan ekonominya sebagian besar ditopang oleh pertanian dan pasar kecil-kecilan, plus gaji sepasang pegawai negeri yang gerak naiknya seperti siput.

Saya tahu ia kurang suka bila kami mencap-nya sebagai ibu yang bawel. Kami juga dulu membelanya mati-matian bila ada diantara murid-muridnya yang mengingatkan kami akan sifat bawel, reteng dan remeng-nya ibu kami. Dan, kini, ketika ia makin tua, dan ketika kami merasakan hampir tiap inci dari hidup kami adalah tetesan dari keringat dan doa-nya, tidak, tidak ada setitik pun yang tidak kami banggakan dari dirinya. Termasuk bawel dan remengnya.

Maka, selamat ulang tahun, Omak. Nanti bila kami pulang kampung, cucu-cucumu yang mulai pada nakal pasti juga akan memecahkan piring dan gelasmu. Kami ingin sekali mereka juga menikmati bawel dan remengmu.

--selesai—


Ciputat, 14 September 2008

Artikel lain tentang ibu, bisa dibaca di sini

14 comments:

  1. Anonymous11:20 PM

    awas ya,papa amartya, ntar kalau ketemu ibunya saya akan bilang-bilang. biar kena damprat lagi...:-)). lam kenal mas. jadi ingat almarhumah ibu....


    leoni

    ReplyDelete
  2. Anonymous8:56 PM

    Bukan boru Damanik aja bang, yang reteng. Boru apa pun, kalau orang batak pasti jadi reteng deh kalau udah jadi emak-emak....

    Btw, haduan ma hita martutur, alai abang niba ma hamu. Turnip do au. Mantap kali Sarimatondang ini bah...

    horas,

    Hiras T

    ReplyDelete
  3. Aku sempat tersenyum terhadap penghargaan sebutan CEO terhadap seorang IBU ;)

    ReplyDelete
  4. Anonymous9:36 PM

    Lae, katanya buah g jauh dari pohonnya. Jadi, kalo lae begitu sama mamak, bisa jadi anak lae nanti begituin juga sampeyan. Emang enak jadi ortu

    ReplyDelete
  5. terimakasih, mauliate, diatei tupa, xie-xie, kamsia, nuhun, matur nuwun thank you untuk kawan2 yg sudah berkunjung.
    @ leoni: hahaha, solidaritas sesama ibu memang kuat sekali. hahaha
    @ anonymus: ah, masa' sih semua boru batak reteng?
    @ manik: horas tulang. senyum-senyum begitu banyak artinya lho....
    @anonymus: hehehe, anak sy emang sudah mulai memberontak... tapi saya suka lho... sebab pemberontakan sering melahirkan inovasi (katanya). seperti jakub yg bergumul dengan seseorang.... sampai subuh... hebat kan tuh...

    ReplyDelete
  6. Haha.. cerita yang menarik, Bang!

    Saya bisa merasakan, karena saya sudah terbukti "jantan" : punya anak dua! Hahaha...
    Anak-anak sudah mulai pintar "membalik" wejangan2 kami... :)

    Pertanyaan saya cuma satu : bagaimana bisa, kisah yang ditulis tanggal 14 Sept 08 diposting tanggal 13 sept 08? Hihihi... Kebiasaan mark up atau mark down di kantor yach? :D

    ReplyDelete
  7. ha..ha..ha..
    tankyu mengingatkan soal kalender (tanggalan). tulisan ini diposting via warnet, minggu 14 september. kayaknya kalender bloggerku yang http://mysarimatondang.blogspot.com telat sehari. sedangkan yang benar ada di http://sarimatondang.blogspot.com.
    anyway, tankyu ya...

    ReplyDelete
  8. alo ito, lucu deh postingannya....cuci piring emang nyebelin...tapi mendingan nyuci piring daripada nyapu atau setrika baju atau ngelap2....gak tau kenapa, sih...emang sukanya maen aer aja kali dulu waktu kecil...hehehe :)

    salam.....

    ReplyDelete
  9. Ups sanina, ternyata kita punya pengalaman sama marinanghon boru Damanik.
    Tapi begitulah pembawaan lahiriah inang BorDam, tapi yang penting maksudnya baik, dan dalam banyak hal spt yang sanina bilang setelah kita dewasa kita mengakui kebenaran gemblengannya.
    Boru Damanik itu cantik-cantik lho, dan tidak luntur walaupun usia sudah lanjut.
    Salute to inang boru Damanik

    ReplyDelete
  10. @ray sumbayak
    Horas sanina. Hehehehe. Jadi, udah perlu nih kita bikin ikatan putra/1 'korban' boru damanik? Ups, salah, Ikatan Putra/i Asuhan boru Damanik. Hehehe. Diatei tupa domma roh ham martandang hu Sarimatondang Nalaingan. Domma ongga roh au hu blog mu. Aido ase dong do blog mu i Simalungun Bloggers Club. Horas ma

    ReplyDelete
  11. Senasiblah kita bang...
    Tapi aku bangga lahir dari rahim boru Damanik yang "reteng".
    Retengnya itu ngangenin.
    Tahun baru pulang bang...??
    Horas (Juli Abet Simbolon)

    ReplyDelete
  12. @abet simbolon
    horas juli. apa kabar?
    kami belum pasti apakah pulang bulan desember ini. tergantung sihumisik, kata orang batak hehehe. bagaimana kalian di batam? sehat? salam sama pauda dan nanguda ya....

    ReplyDelete
  13. berarti dulu aku baik loh sama mamakku, soalnya anak-anakku sekarang baik sama aku hehehe :). Tenang aja ito aku ngga akan bilang-bilang koq!

    ReplyDelete
  14. ibumu pasti bangga kalo baca tulisan ini... tiap goresan yang ditulis di blog ini tersirat rasa hormat dan sayang seorang anak yg penuh bakti. Mudah2an 2 anak cowok yg di rumah mengenang hal-hal baik dari mamanya ini(karena aku gak pernah cerewet rasanya sama mereka). tetep kreatif ya !

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...