Saturday, September 20, 2008

Purba yang Ini, Lain dari yang Lain


“Jadi lah kuda pacuan. Jangan mau jadi kuda beban.”

Nasihat itu didengarnya sangat jelas. Ibunya yang menyampaikannya. Pada suatu sore ketika duduk-duduk. Di dapur terbuka di belakang rumah. Sambil anak berusia 13 tahun itu membantu merapikan kayu bakar yang sedang membara di tungku perapian. Sebentar
lagi nasi di dalam periuk hitam itu mungkin akan matang. Asap tipis menyeruak dari sela-sela tutupnya. Sesekali didihan air meluap membasahi tepian tungku.

Perbincangan sore itu membekas dalam pikirannya, jauh sampai anak itu kelak dewasa. Tentang apa arti 'kuda' bagi dirinya dan bagi perjalanan hidupnya. Tentang bagaimana sepatutnya peran dan semangat kuda dijadikan sebagai inspirasi hidup. Bahwa bila pilihannya menjadi 'kuda beban', itu berarti akan berlelah-lelah sepanjang hayat, menjadi tempat segala hal yang berat-berat, tak ada pilihan selain patuh dan untuk kemudian tak pernah disebut-sebut, bahkan dilupakan.

Beda halnya dengan kuda pacuan. Ia disayang. Makanan terbaik selalu disediakan baginya. Ia digadang-gadang dan dibanggakan. Ia bahkan jadi personifikasi pemiliknya. Seakan hidup dan prestise sang majikan digantungkan padanya. Kuda pacuan selalu punya nama. Nama yang gagah. Nama yang memang dimaksudkan untuk selalu disebut-sebut, dipuja dan dikenang.

“Maka jadi lah kuda pacuan. Jangan jadi kuda beban.”

Anak berusia 13 tahun itu hanya bisa manggut-manggut. Mencamkannya dalam-dalam.

()()()



Orang Batak dalam tradisinya mengenal apa yang disebut 'Purba.' Memang ada marga Purba, tetapi Purba kali ini bukan mengacu kepada marga atau fam. Ini adalah semacam ikon, penanda bagi seseorang, yang dipercaya merupakan anugerah dari Yang Mahabesar untuk dijadikan sebagai semacam benchmark dalam menjalani hidup.

Setiap orang dipercaya mempunyai Purba-nya masing-masing. Ada yang Purba-nya kuda, ada yang Purba-nya emas, ada yang Purba-nya bunga, dan sebagainya. Dalam Kamus Bahasa Simalungun-Indonesia, Purba dijelaskan sebagai... dalam mimpi ada orang lain memberikan sesuatu pada diri sewaktu ada dalam kandungan. Pemberian dimaksud adalah merupakan Purba bagi orang dalam kandungan. Sebagai contoh, ada seorang ibu yang ketika mengandung anaknya yang pertama, bermimpi pada suatu malam ada seorang tua menghampirinya. Lalu memberikan kepadanya setangkup bunga mawar. Nah, bagi sebagian orang Batak, hal itu dipercaya bahwa Purba si anak yang dikandung itu adalah bunga mawar.

Saya harus buru-buru menjelaskan pengetahuan saya tentang Purba hanya sampai di sini. Saya samasekali tak berani memberi acuan mimpi seperti apa yang patut dipercaya. Sebab, bisa jadi, bukan, seorang perempuan yang tengah hamil bermimpi berkali-kali?. Malam Senin, mimpi bertemu dengan Pak Jenggot dan memberinya sekaleng roti. Malam Selasa bermimpi tentang Pak Uban yang mengirimkan kado sebuntal uang. Malam Rabu bermimpi lagi mendapat sebuah kulkas dari Pak Kumis. Jadi, mana dong, yang patut dijadikan Purba bagi sang anak? Terus terang saya tak punya penjelasan akan hal ini.

Yang juga patut dicatat, banyak yang percaya bahwa bukan hanya mimpi yang menjadi perantaraan seseorang mendapatkan Purba bagi anak yang dikandungnya. Dari beberapa cerita yang pernah saya dengar, ada juga satu-dua ibu yang mendapatkan Purba itu ketika tengah terjaga. Mungkin sedang duduk-duduk, atau ketika sedang beres-beres di dapur, atau tengah menjemur pakaian, tiba-tiba saja sekelebat seakan ada yang datang dan memberikan sesuatu. (Biasanya seorang yang sudah tua sekali). Peristiwa itu berlangsung dengan cepat, tapi si ibu jelas sekali mengingatnya bahkan seakan kejadian itu nyata. Dan ketika ia kemudian menceritakannya kepada orang lain, pasti lah selalu akan diberi penjelasan, bahwa ....”Oh, mungkin itu lah Purba dari anak yang dikandungmu itu.”

Sebagai orang yang sangat awam dalam hal tradisi dan adat-istiadat Batak, belajarnya juga dari dengar-dengaran dari pembicaraan orang-orang tua, saya tak berani mengatakan bagaimana tanggapan umum orang Batak terhadap 'fenomena' Purba. Sejauh yang saya tahu, ibu-ibu umumnya merenungkan dan mencoba menafsir-nafsirkan apa gerangan arti Purba dimaksud. Lalu menyimpannya dalam hati, untuk kelak dijadikan semacam acuan memberi nasihat kepada sang anak.

Kerap juga Purba itu dijadikan personifikasi dari kepribadian sang anak. Dengan begitu, si ibu dan si anak dapat mendiskusikan nasihat-nasihat yang berharga dengan menjadikan Purba tadi sebagai objek pembahasan. Menurut saya, ini adalah ide jenius. Sebab tiap orang saya kira akan segera merasa jengah bila dirinya dijadikan objek nasihat, apalagi bila dilontarkan secara langsung. Beda halnya bila petuah, nasihat atau bahkan peringatan disampaikan melalui satu objek tertentu sebagai perantara. Rasanya lebih afdol.

Saya juga pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu kehadirannya, dan ketika ia di dalam kandungan, ibunya bermimpi mendapat pemberian seekor keledai. Maka ketika si anak lahir, ayahnya langsung membeli seekor keledai. Mungkin karena ia pernah bernasar tentang hal itu. Keledai tersebut dipelihara dan sangat disayang. Ketika si anak bertambah dewasa dan keledai dimaksud akhirnya meninggal, si ayah kembali lagi membeli seekor keledai sebagai penggantinya. Jadi keledai tak pernah absen dari rumah mereka. Tentu saja si keledai tidur di kandangnya. (Untung juga ibunya tidak bermimpi diberi beruang ya...).


()()()


Bagian yang paling menarik dari perbincangan tentang Purba adalah perihal arti dan penafsiran terhadapnya. Tatkala masih kecil, kami anak-anak sering membanding-bandingkan Purba yang satu dengan Purba yang lain. Hebat mana, seseorang yang Purba-nya emas dengan seseorang yang Purba-nya padi, misalnya. Macam-macam argumentasi berkembang dalam hal ini. Tak ada yang mau mengalah. Sebab semua orang pasti menonjolkan sisi baik dari Purba-nya dan menonjolkan sisi buruk Purba orang lain.

Tapi ada juga perbincangan tentang Purba yang jadi mendalam dan agak serius. Itu lah agaknya yang terjadi pada kisah si ibu dan si anak di seputar tungku perapian di dapur rumah mereka, yang diceritakan di awal tulisan ini. Sang ibu agaknya merasa, anaknya kini sudah mulai tumbuh remaja. Mungkin sudah boleh diberi nasihat yang sedikit berisi. Lagipula kebisuan akan membuat rasa lelah makin berat, beda halnya bila diisi dengan berbincang-bincang. Kepenatan akan lebih ringan, seperti sore-sore di suatu masa di suatu waktu di sebuah desa di bona pasogit itu.

Pada saat itu lah sang Ibu 'membocorkan' rahasia tentang Purba sang anak. Kata dia, ketika mengandung anaknya itu tempo hari, suatu malam ia bermimpi. Ada seorang yang sudah sangat tua, berwajah keriput, rambutnya putih begitu juga dengan jenggotnya. Orang tua itu duduk di tepi jalan seolah menunggu seseorang. Ketika ia lewat, Pak Tua itu berdiri dan menyapa. Lalu memintanya menunggu sebentar sebab ia akan memberikan sesuatu. Tak lama kemudian seekor kuda datang menghampiri Pak Tua. Pak Tua itu kemudian menyerahkan tali kendali kuda kepadanya. Tak ada pesan apa-apa dari si Pak Tua, selain senyum bijak di wajahnya sambil berlalu meninggalkannya.

“Jadi, Purba-mu adalah kuda.” Si ibu berkata, sambil ia menyiapkan penggorengan. Si anak masih terdiam, sambil melanjutkan urusannya merapikan kayu bakar di tungku perapian.

“Kuda itu kuat. Bekerja keras. Tak mudah menyerah,” kata Ibu melanjutkan wejangannya. (Lihat, si ibu bicara tentang kuda, tapi maksudnya sebenarnya, bicara tentang anaknya, bukan?) “Tapi kau harus ingat, kuda juga ada macamnya,” kata sang ibu menambahkan. “Jadi lah kuda pacuan, bukan kuda beban. Sebab kalau jadi kuda beban, kau hanya akan dipandang dari tenagamu saja. Makin bisa kau angkat yang berat-berat, makin berat pula dibebankan kepadamu. Padahal, yang kau dapatkan tak ada. Tempatmu pun di kandang belakang. Beda dengan kuda pacuan. Kau akan disayang-sayang. Dibanggakan kemana-mana. Kalau sakit, kau akan diobatinya. Tempatmu pun disediakan khusus. Jadi kalau kau sudah besar nanti, Nakku, jadilah kuda pacuan ya....?” si ibu seolah membujuk tapi juga ada nada perintah dalam bicarannya.

“Nah sekarang, mungkin sudah matang nasi yang kau masak itu. Sudah bisa diangkat. Habis itu, tolong panggilkan abangmu supaya dia yang menyendokkannya ke dalam panci,” si ibu mengalihkan pembicaraan, pertanda nasihat-menasihati sudah usai sore itu.

()()()


Di dunia ini selalu berlangsung pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Yang bagus dan yang buruk. Bahkan dalam diri manusia, selalu pertarungan itu lah yang berlangsung. Saya kira para filosof pernah mengatakannya. Juga para tetua di kampung halaman. Pemuka-pemuka adat. Dan orang-orang tua kita, pernah menyampaikannya.

Barangkali begitu pula halnya dengan Purba. Tak ada Purba yang samasekali bagus, tak ada pula Purba yang sepenuhnya jelek. Tiap Purba mengandung keduanya dan tugas manusia lah mempelajarinya, memahaminya dan kemudian melakukan pilihan.

Juga ketika kita melihat dan menempatkan pilihan antara kuda beban dan kuda pacuan. Tak sepenuhnya dapat dikatakan menjadi kuda beban adalah nasib buruk sedangkan jadi kuda pacuan merupakan keberuntungan. Penafsiran lanjutan terhadap pengertian itu masih terbuka luas dan tak ada yang final.

Menjadi kuda beban tak selalu berupa cerita tentang pecundang, sama halnya dengan kuda pacuan yang tak identik dengan kisah para pahlawan. Dalam berbagai kasus, orang-orang yang dipandang menyandang tugas sebagai kuda beban, justru menjadi yang diandalkan pada saat-saat sulit. Dari sudut pandang positif, kuda beban tak hanya personifikasi dari kepatuhan dan keuletan menanggung yang berat-berat. Tetapi ia juga gambaran dari loyalitas, kesabaran dan kesediaan menerima keadaan seberat dan sesakit apa pun demi majikan yang tentu saja, diharapkan melindungi dan memeliharanya.

Sebaliknya dengan kuda pacuan. Memang imaji dominan akan peran yang dibawakannya adalah sebagai jagoan, pembawa bendera dan acuan untuk diikuti. Tapi ada kalanya pamornya jatuh dan kalah. Pada kasus semacam itu banyak cerita yang mengisahkan tentang kuda pacuan yang akhirnya dilego, dipindah tangankan dan akhirnya menjadi tua tanpa ada yang mengingatnya.

Tak hanya masyarakat Batak, dimana-mana orang acap kali dihinggapi sindrom mengharapkan putra-putrinya jadi kuda pacuan. Tak bisa disalahkan juga. Apalagi bila itu ditanyakan pada orang-orang yang dilahirkan di Sarimatondang, kampung kami itu. Sebagian besar penduduknya adalah kaum rantau yang baru satu atau dua generasi bermukim di sana. Termasuk juga keluarga seperti kami, orang-orang Batak Toba yang telah 'mengintegrasikan' diri menjadi dan berahap Simalungun. Pekerjaan merintis penghidupan mulai dari nol alangkah sulit dan melelahkan. Bukan hanya tak berdaya dari sudut ekonomi, dari sudut politik dan adat-istiadat pun kerap termarjinalkan.

Untungnya, 'pencerahan' dari dunia pendidikan dan dunia religi selalu datang tak berkesudahan. Anakhon hi do hamoraon di au yang berarti 'Anakku lah kekayaanku,' selalu menjadi 'bayam Popeye' yang siap mendongkrak semangat dan harapan. Semangat dan harapan itu lah yang kadang menjelma jadi impian-impian mesianik, menggadang-gadang putra-putrinya menciptakan lompatan kuantum. Membebaskan kaum dari penderitaan dan kemiskinan dengan menjadi kuda pacuan pembawa bendera.

Namun, tak semua harapan-harapan itu bisa terwujud. Dan pada saat-saat seperti itu, agaknya manusia diperbolehkan menoleh kembali kepada sang Purba sebagai tempat berkaca untuk selanjutnya merevitalisasi diri. Lewat Purba yang membuka dan menyediakan diri untuk ditafsirkan dengan beraneka cara, manusia dapat melihat dirinya sendiri dengan perspektif baru. Sebuah kacamata yang mungkin tidak memberikan pemandangan seperti yang diharapkannya dulu, tetapi bukan berarti apa yang dilihatnya kini tak ada yang menyegarkan lagi. Tidak. Dengan menafsirkan ulang Purba itu, manusia bisa melihat lagi horison-horison baru yang tak kalah cerah dan menenteramkan. Lewat kaca mata dengan sudut pandang baru itu, kuda beban tak lagi dipandang seperti kuda beban seperti yang diteropong lewat perbincangan di tungku perapian tempo hari, sama halnya dengan kuda pacuan yang juga tak harus diglamourkan seperti penafsiran di sore di bona ni pasogit itu.

“Aku banyak menghayati hidupku dari memikir-mikirkan Purba-ku itu,” kata lelaki berumur 50-an tahun itu, sambil kami duduk menunggu seseorang yang akan kami temui di sebuah kantor Pemerintahan. Kami baru berkenalan, tetapi begitu cepat nyambung, mungkin karena kami sama-sama penggemar rokok dan terperangkap di ruang khusus perokok di kantor itu. “Petuah ibu di tungku perapian itu membekas ke dalam ingatanku. Tapi juga tak semuanya aku simpan jadi pusaka. Di dalam hidup, aku gumulkan, aku perdebatkan, dan dari sana aku temukan juga maknanya berdasarkan penafsiranku sendiri,” kata dia. Pria itu lah yang puluhan tahun lalu, ketika dia masih berumur 13 tahun, dipetuahi ibunya tentang apa dan arti Purba-nya, yakni seekor kuda. Pria itu bekerja pada sebuah firma hukum, dan makin hari menyadari bahwa menjadi kuda beban atau pun kuda pacuan, masing-masing mempunyai konsekuensinya sendiri. “Mungkin banyak dari mereka yang jadi pasien KPK sekarang, melakukan yang mereka lakukan itu karena sindrom jadi kuda pacuan itu,” kata dia sambil terkekeh-kekeh. Saya tersenyum kecut. Benar-benar tak paham saya perihal carut-marut hukum di negeri ini.

()()()


Kata ayah, Purba saya adalah sejenis buah yang rasanya asam dan kecut. Ia menceritakan itu sambil lalu, dulu sekali ketika saya masih di bangku SMA. Panjang lebar juga ia menjelaskan penafsirannya dan sesekali dengan gagah berani saya debat, sebab saya merasa perbicangan tentang Purba adalah urusan orang-orang kuno dan berpikiran norak. Dan, sekarang saya memang mungkin sudah tua sehingga tertarik dengan hal-hal norak seperti Purba.

Yang saya sayangkan, saya belum tahu apa sesungguhnya Purba putri saya. Dulu ketika ia dalam kandungan, saya tak pernah bertanya kepada istri apakah ia pernah bermimpi tentang seseorang yang memberikan sesuatu kepadanya. Ehm, ralat dikit. Sebetulnya, ada juga terpikir untuk menanyakannya, tetapi saya urungkan. Sebab ada yang saya khawatirkan. Mengingat istri saya yang hafal luar kepala menu-menu enak dan mahal berbagai restoran di Jakarta, maka bila saya menanyakannya, ada kemungkinan ia setiap hari mengaku bermimpi dikirimi Pizza dengan topping irisan ikan salmon atau Es krim Haagen Dazs bertabur karamel atau T-Bone Steak ala Hotel Mulia atau macam-macam lagi. Itu belum seberapa. Bagaimana kalau ia bermimpi diberi seseorang Honda Jazz berwarna ungu?

Jadi mengingat konsekuensinya, saya tak berani bertanya dan sampai sekarang tak tahu apa tuh Purba putri saya.

--selesai--


Ciputat, 20 September 2008


PS: Sebagian bahan tulisan ini dari hasil perbincangan dengan DS. Bang DS, terimakasih untuk ceritanya tentang 'Purba.' Ini sudah aku tuliskan di sini. Semoga aku tak salah menceritakan ulang-nya.

Foto: Amartya dan ayahnya dan seekor kuda (22 Juni 2008)

5 comments:

  1. Anonymous7:03 AM

    Menarik sekali ini lae. Aku dulu diberitahu PURBA ku pohon beringin. Katanya waktu ibu mengandung, ia bermimpi berjalan jauh, dan kemudian berlindung di bawah pohon beringin. Lalu ada orang tua datang dan berkata kepada ibu dia ingin ikut berteduh di pohon beringin tersebut. Dalam mimpi itu ibu menyadari bahwa dia lah yang memiliki pohon beringin tersebut.

    Aku sampai sekarang masih ingat mengenai PURBA ini, meskipun aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi mauliate lae, telah mengangkat topik ini. Aku jadi coba memikir-mikirkannya lagi.

    Gorga M.

    ReplyDelete
  2. Anonymous7:25 AM

    Jadi penasaran pengen tau apa purba ku....Apa daya, yang ingin ditanya sudah tiada... hehehehe. Horas bah.

    wawan

    ReplyDelete
  3. miss lemontea9:36 PM

    Wah...jadi inget sama crita si mama yang sering dibilang waktu hamil si abangku yang paling tua mimpi ngumpulin berlian berceceran (jadilah dia yg plg berhasil secara edukasi dan financial sampe skrg)....sedangkan abang kedua, gak mimpi, (jadinya...ya gitu dehh...no comment lah..hehehe) trus pas hamil aku mimpi....pake banyak perhiasan....(jadinya aku boros tukang belanja belenji gak jelas..haha..ngaku dosa ajalah)
    gak tau deh itu masuk purba apa masuk ke arah ngidam atau ramalan karakter sang jabang bayi????.....ehhehehe.....
    Horas, ito...selama jadi orang batak, gak pernah denger loh namanya purba2 ini....interesting banget!!!!

    ReplyDelete
  4. @lae gorga m.
    wah, asyik juga purba lae itu ya. mungkin maksudnya jadi pelindung dan penganyom, barangkali. kalau dilihat sebagai beban, mungkin jadi berat. tapi kalau dianggap sebagai tantangan, pasti menarik.

    di kampung kami dulu ada beringin yang besar. kami suka bermain-main di bawahnya. juga banyak burung bersarang di atasnya, yang jadi sasaran tembak yang punya senapan angin. pertumbuhan pohon beringin umumnya lambat. tapi kalau ia 'selamat' sampai besar, ia akan panjang umur dan kuat. jadi, selamat jadi pelindung dan penganyom keluarga lah lae....(ingat ya, alon2 asal kelakon hehehe).

    @wawan.
    jangan berkecil hati walau tak tahu apa purba nya. dalam hemat saya sih, purba itu bukan jimat, apalagi kunci sukses. ia berfungsi jadi bahan pelajaran aja.... salam kenal mas....

    @ito miss lemontea.
    asyik juga ceritanya ya.... enaknya bicara tentang 'purba' adalah kita bisa membuat tafsiran yang beraneka. misalnya, 'purba' abangnya ito yang berlian, selain bisa ditafsirkan sebagai lambang keberhasilan, bisa juga ia merupakan simbol 'investasi' yang berharga, terutama investasi bagi keluarga, sebagai pembawa 'bendera' dan pembawa marga.

    kalau purba-nya ito miss lemontea itu --yakni perhiasan yang dikenakan-- menurut saya bisa juga ditafsirkan begini. jadilah 'perhiasan' bagi keluarga. mengharumkan, mempercantik atau menjaga nama baik keluarga. kira-kira begitu... hehehe.

    (aku serasa jadi oppung-oppung kalau sudah ngomong macam begini, seolah-olah tau, padahal bisa-bisanya aku aja ngomong gini ito. mhn maaf bila tidak berkenan. btw, aku udah intip fs-nya dan sudah tahu kota tempat ito tinggal. bangga juga melihat putri2 batak udah melanglang buana. doakan ya supaya anggi-nya di rumah (amartya) suatu saat bisa ikut jejaknya hehehe)

    ReplyDelete
  5. Horas bang..
    Akupun jadi kepikiran baca tulisan abang ini. Purbaku dulu apa ya...? Kalau ingat cerita mamak, katanya purbaku "air". Sampai sekarang aku nggak ngerti maksudnya apa. Tapi kupikir pikir, mungkin karena aku anak sulung, maka aku harus bisa memberikan kesejukan kali ya di tengah2 keluarga, atau malah sebaliknya??? menghanyutkan. Wah...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...