Wednesday, September 10, 2008

Senyum Sekulum Simon Carmiggelt



“Kau harus baca Simon Carmiggelt.”

“Simon siapa?”

“Simon Carmiggelt. Bukunya dulu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh H. Tanzil. Judulnya, Humor Sekolom Senyum di Kulum.”

Itu perbincangan kami, kira-kira tiga tahun lalu, sebelum dia, Bakti Tejamulya, berangkat ke Amerika. Di warung kopi dekat kantor sambil menyeruput kopi tubruk dan ia menyantap ransum yang disiapkan istrinya setiap pagi untuk makan siangnya. Kedatangannya kali itu untuk berpamitan karena ke Amerika kali ini, ia akan lama. Bekerja di sana untuk mencari uang, buat ditabung untuk anak-anaknya yang masih kecil.

Bakti adalah wartawan dan penulis by design, meskipun menurut dia, sewaktu kecil ia bercita-cita jadi masinis. Ia sarjana jurnalistik, senang dan piawai menulis, tetapi sekaligus ahli dalam menganalisis sebuah tulisan. Sejak berumur belasan tahun karangannya sudah ia kirimkan dan dimuat di beberapa media. Sesudah dewasa, ia pernah bekerja di bagian humas sebuah korporasi besar, tapi menulis tetap ia lakukan untuk pekerjaannya tersebut mau pun mengisi waktu luangnya. Beberapa karangannya dimuat di jurnal kewartawanan yang bermutu, juga di harian nasional. Kalau bertemu dia, tak ada topik selain bicara tentang dunia wartawan, dunia kepengarangan. Sekali-kali terpantul juga lelucon-lelucon, yang elegan mau pun kampungan. Tetapi fokusnya tetap: bagaimana menulis yang bernas, bukan ecek-ecek tapi tetap menarik.

“Jadi kau harus baca Simon Carmiggelt. Ia menulis dengan nada humor tapi serius. Humor yang dituliskannya tak membuat kita terbahak-bahak lalu menguap begitu saja. Humornya adalah sejenis lelucon yang hanya mengundang senyum di kulum tapi tak pernah basi. Tiap kali kita ingat bahwa kita pernah membacanya, senyum di kulum itu terus-terusan ada,” kata dia, sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.

“Simon siapa katamu tadi?” Saya mengulang lagi pertanyaan yang sesungguhnya untuk menggambarkan kekurang antusias-an saya pada nama yang aneh itu. Sudah biasa, jika dua wartawan seperti kami bertemu, dan saling bicara tentang penulis-penulis yang kami kagumi, keangkuhan masing-masing akan muncul. Saya pura-pura tak mau tahu dengan penulis yang dia idolakan. Sebaliknya, dia juga akan seolah-olah tak antusias dengan penulis yang saya jagokan.

Tapi Simon Carmiggelt memang benar-benar saya tak tahu. Baru kali itu saya dengar namanya. Belakangan baru saya tahu bahwa ia lahir di Den Haag, tahun 1913. Ia menulis setiap hari satu kolom di koran Heet Parool dengan nama samaran Kronkel. Di kolomnya itu lah ia bercerita apa-apa yang disaksikannya di kota Amsterdam dan sekitarnya. “Ia menggambarkan lewat kata-kata bagaimana orang berjalan, bersalaman, saling memandang, apa yang dipercakapkan, bagaimana mereka bercumbuan atau sebaliknya bagaimana berkelahi,” begitu H.Tanzil menggambarkan Carmiggelt di sampul dalam buku Humor Sekolom Senyum di Kulum. Bila ingin mengetahui keadaan dan kehidupan di Nederland, menurut Tanzil, tidak ada yang mengimbangi tulisan-tulisan Carmiggelt di zamannya. Ia tidak meratapi kekurangan-kekurangan yang muncul dalam hidup, tetapi reaksinya adalah guyon dan humor.

Atas tulisan-tulisannya yang sudah dianggap bagian dari sastra Belanda, Carmiggelt menerima penghargaan C.G. Hooft, hadiah kesusastraan paling tinggi di Nederland. Ada10 ribu lebih tulisannya yang pernah dimuat di berbagai surat kabar dan beberapa sudah dibukukan.

Beberapa bulan lalu di toko buku loak di Permata Hijau, sekonyong-konyong buku tipis itu menari-nari di mata saya. Saya comot, dan mencoba melihat harganya. Di bagian belakang buku itu, masih ada tertempel stiker harga Metro Book Store sebesar Rp2000. Tapi ketika saya tanya kepada penjaga berapa harga buku loak itu, ia menjawab Rp5000. Jarang-jarang buku loak yang lebih mahal dari harga aslinya. Tapi saya segera sambar itu buku, Sebab harga Rp2000 itu mungkin adalah harga ketika pertama kali buku itu terbit: 1982 (cetakan I) dan 1986 (cetakan II).

Di rumah, saya membaca-baca buku itu, dan tak bisa berhenti sebelum menuntaskan keseluruhan tulisan di dalamnya yang berjumlah 34. Satu diantaranya adalah ini.

***


Wawancara *)

oleh: Simon Carmiggelt


Ketika saya sampai di rumah, istri saya berkata:” Ada telepon dari seorang redaktur majalah wanita. Mau wawancara. Tidak..... Tidak dengan kamu lho....Wawancara dengan saya. Maksudnya masuk dalam seri: Istri-istri dari Tokoh-tokoh Belanda.”

“Selamat! Akhirnya engkau jadi mashur juga! Siapa tahu fotonya juga dipasang –-berwarna lagi.”

“Amit-amit,” katanya. “Tidak, sudah saya tolak.!”

“Mengapa?”

“Apa yang mesti kukatakan? Tidak bakal saya menceritakan apa artinya hidup dengan engkau.”

“Tentu tidak,” jawab saya. “Itu tidak bijaksana. Dan akan merusak citraku.”

“Bukan urusan orang,” katanya.

“Benar engkau,” saya mengaku. “Tapi kalau semua orang berkata begitu, maka majalah-majalah boleh gulung tikar dan dimana kelak mesti dipasang iklan-iklan berwarna tentang macam-macam sup? Wawancara itu mesti engkau tangani.”

“Bagaimana menanganinya?”

“Mendusta yang pintar,” kata saya. “Engkau mesti ulangi saja ocehan yang kau baca dari semua wanita yang diwawancara. Katakan, misalnya: Suamiku tentu bekerja keras sepanjang hari, tapi pada malam hari musik menjadi rekreasinya yang paling penting –-piringan hitam dari Vivaldi. Bisa berjam-jam ia mendengarkannya sambil matanya tertutup.”

“Tapi kita tak punya gramopon,” ia membantah.

“Tak apa,” jawab saya. “Apa engkau sangka yang mewawancara itu akan bertanya: ‘Nah, kalau begitu perlihatkan gramopon dan piringan-piringan hitam itu?’ Itu tanda tak percaya yang kasar sekali yang tentu merupakan alasan yang baik untuk mengusirnya dari rumah. Tidak. Paling-paling juga dia akan bertanya, ‘Apa yang nyonya kerjakan di siang hari, kalau suami nyonya tak ada?’ Maka jawablah sebagai berikut: Sore hari saya suka tidur barang satu jam. Atau lebih baik pakai kata istirahat karena kalau wartawannya agak jorok, maka mungkin dia akan bertanya,’ Ditiduri siapa?’ Jaman sekarang memang jaman edan. Nah, selebihnya engkau suka membaca. Banyak membaca supaya dapat mengikuti kecepatankanku di bidang kulturil intelektuil yang begitu pesat.”

“Apa yang saya baca?”

Saya mengangkat bahu

“Katakan bahwa engkau senang dengan puisi Irlandia Timur, tapi nada suaramu menandakan engkau sedikitpun tidak suka puisi Irlandia Barat. Sebut sebagai contoh penyair Ulah McLaughty, yang telah melukis dengan kata-kata indah sukma seorang wanita.”

“Siapa dia penyair itu?”tanyanya.

“Orangnya tak ada,” kataku.

“Tapi kalau dimuat dalam wawancara tersebut, ‘kan ketahuan?”

Saya geleng kepala diliputi oleh belas kasih.

“Engkau sudah tigapuluh tahun hidup bersama seorang wartawan, dan masih saja engkau ini tak tahu apa-apa,”kataku. “Pernah Henk Terlingen mewawancara aku di depan radio. Lama sekali aku ngomong tentang seorang pengarang yang aku kagumi padahal tak pernah ada. Dia tahu bahwa aku mengibul, tetapi disiarkannya juga wawancara itu. Henk memang orang yang bisa diajak kemana-mana. Apa kau sangka ada surat masuk menanyakan: Siapa pengarang itu? Hah, tidak sama sekali. Lagi pula Hugo Claus dahulu juga berbuat begitu –dalam wawancara radio menyebut pengarang-pengarang asing yang begitu banyak mempengaruhinya tapi tak ada selain dalam khayalannya. Hanya karena ia makan malam yang lalu menjanjikannya kepada Fons Rademakers ketika mereka menikmati minuman keras. Tak ada yang membuka suara menanyakan ini-itu. Nah, kamu jarang sekali menonton televisi. Hanya kalau ada program yang betul penting-penting, suatu yang memberi pelajaran. Bukan yang dangkal itu…..”

“Tapi engkau puji setinggi langit Yang Membalas Dendam?”

“Diamkan saja itu. Seterusnya engkau boleh berkata:’Sudah tentu ada kesulitannya, hidup dengan suami yang demikian’, tapi nada suara dan air mukamu harus dipelajari di kaca kamar mandi; jangan perlihatkan betapa sulitnya kehidupan itu, itu bukan urusan orang luar.”

Dia geleng kepala.

“Saya tak bisa,” katanya.

“Jika engkau bisa, saya akan pergi,” kataku.

***


Tiap kali saya mengulang membaca tulisan Simon Carmiggelt, saya selalu ingat Bakti dan perbincangan kami di warung kopi itu. Lantas ingin berkata, dear Bung Bakti, amanatmu sudah kujalankan. Aku akhirnya ketemu juga Simon Carmiggelt. Wajahnya dalam foto di bukunya, terlihat asem dan kecut seperti rasa cuka soto. Apakah itu harga yang harus dibayar seorang penulis untuk membuat orang senyum di kulum lewat tulisan-tulisannya? Ah, kita perlu ngopi lagi untuk ngobrolin dia."

--selesai--

Ciputat, 7 September 2008

*) Judul Buku: Humor Sekolom Senyum di Kulum
Penulis: Simon Carmiggelt
Alih Bahasa: Hazil Tanzil
Penerbit: Djambatan, 1982, 1986

4 comments:

  1. ahu pe, on dope hutanda si simon on. Anggo si simon tampublon hutanda do ito :)

    ReplyDelete
  2. ha.ha.ha.ha.ha. alai molo si simon petrus ra, sude do hita hea umbegesa ate. manang si simon granfunkel....mauliate nungga disangahon ito ro tu son, huta nami sarimatondang nasohatudosan norak dohot ulina :-). diatei tupa.

    ReplyDelete
  3. wah..saya punya bukunya tuh..
    warisan dari kakek, katanya buku itu dibeli sebelum saya lahir.
    ada satu cerita yang bikin saya tertawa terpingkal-pingkal..SRI PANGGUNG.
    hehe..
    Ada juga yang bikin saya jadi sadar sehabis saya baca yang berjudul REMBRANT.

    bukunya bagus banget meski kalo saya baca harus sambil garuk-garuk hidung karena debu dari buku tua bikin saya alergi..

    ReplyDelete
  4. waaahh..buku bagus tuh..
    saya juga punya. warisan dari kakek.
    katanya dibeli sebelum saya lahir.

    Ada yang bikin saya tertawa terpingkal-pingkal..SRI PANGGUNG. hehe...
    Ada juga yang bikin saya jadi merenung yaitu REMBRANT.

    Jaman segitu, orang-orang belanda sudah bisa bikin orang di generasi saya bisa tertawa.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...