Tuesday, September 30, 2008

Tertawa Bersama Marga-marga Batak (2)


Kalau bicara sejujur-jujurnya, tiap kita pasti pernah bosan. Kalau boleh pula berterus terang, rasa bosan itu kerap hadir pada saat-saat dimana seharusnya ia tidak boleh dibiarkan merajalela. Dan, kalau diperbolehkan membuka rahasia, salah satu rasa bosan yang sering ingin saya lawan sekeras-kerasnya –tetapi sering tidak berhasil-- adalah ketika berada di rumah ibadah. Maaf kan lah pria udik ini. Mau apa lagi.

Seperti kejadiannya beberapa waktu lalu. Suatu ketika di sebuah hari Minggu, saya menemukan diri bersama istri dan putri kami merunduk memelototi ujung sepatu di sebuah gereja yang sebagian besar jemaatnya adalah kawan-kawan dari Indonesia Tengah dan Indonesia Timur (Walau pun nama belakang gereja dimaksud adalah Indonesia Barat). Letaknya hanya 10 menit perjalanan dari rumah kami. Dan, kami datang kepagian. Ibadah baru akan dimulai 15 menit lagi. Menunggu menit demi menit itu lah rasa bosan hadir tanpa diundang. Lalu apa cara mengusirnya?

Eh, syukur alhamdulillah, bersua juga satu cara yang antik. Yakni dengan membolak-balik Warta Jemaat, yang ketika itu menjelma seolah menjadi bacaan sangat berharga bagi saya. Warta Jemaat –ada baiknya saya memperkenalkannya sedikit bagi yang belum pernah melihatnya—adalah semacam lembaran berita-berita yang terjadi sepanjang sepekan di dalam dan diantara warga gereja dimaksud. Beberapa poin dari Warta Jemaat tersebut biasanya dibacakan juga dari atas mimbar, tetapi berita selengkapnya dari peristiwa-peristiwa di seputar gereja tercantum dalam Warta Jemaat tersebut. Termasuk perihal laporan keuangan dan neraca ‘kekayaan’ gereja. Orang Simalugun punya nama yang rada melodius untuk Warta Gereja, yakni: Ting ting.


Sambil menunggu dimulainya ibadah, saya membolak-balik Warta Jemaat di tangan saya. Sesekali, Amartya yang duduk disebelah, menyodori permen rasa pedas yang tentu saja tidak saya tolak. Ajaib, rasa bosan berlalu membaca-baca Warta Jemaat itu. Otak terasa segar. Mata jadi jernih kembali. Bahkan, kalau saja orang-orang yang memperhatikan senyum-senyum sekulum saya, pasti ada yang mengira saya sedang membaca kartun-kartun lucu.

Memang ada yang lucu ketika membolak-balik Warta Jemaat itu, walau pun bagi orang lain mungkin itu bukan lelucon. Yakni ketika dari berbagai nama yang diwartakan di sana, tertera beraneka marga (fam) kawan-kawan dari Indonesia Tengah dan Timur. Terus terang nama-nama fam itu banyak juga yang rada asing ditelinga saya. Supusepa, Saweho, Huwae, Kumarurung......

Saya jadi ingat pada email kocak berantai yang dulu pernah saya baca. Yakni sebentuk pamflet bernada protes dengan menggunakan marga-marga dan nama Batak sebagai 'racikan' utamanya. Menurut saya pencipta pamflet jenaka itu pasti lah orang kreatif abis. Lewat karya itu, dengan singkat ia sudah bisa memperkenalkan puluhan marga-marga Batak. Dengan cara yang menghibur pula:

karena kenaikan BBM
Tambah banyak SIHOTANG
Karena PANDAPOTAN terus MANURUNG!
SAGALA nya jadi Mahal
TAMBUNAN kehidupan makin berat
SIMANJORANG miskin dan kaya makin BARASA
Tipis HARAHAP
Rakyat miskin sudah PANGARIBUAN
Anak-anak nangis MARPAUNG-PAUNG
Otak sudah SITOMPUL
Tapi masih diminta sabar SITORUS!
Keadaan makin GINTING
Kepala pusing ber BUTAR-BUTAR
Rambut nyaris POLTAK
Sementara ada orang yang SIBARANI TAMBUNAN Minyak
Apa karena keSILABAN Pemimpin Kita?
Sehingga berani SIMORANGKIR janjinya?
Tapi jangan SEMBIRING Menuduh
Mungkin karena kurang HUTAGAOL?
Atau karena tekanan si HUTABARAT?
Oleh karena itu
Kita jangan saling SILALAHI satu satu sama lain
dan jangan saling ber NAINGGOLAN sesama anak bangsa
jangan juga ber SITANGGANG dengan sesama Saudara!
Kita harus SIADARI
Bangsa ini ada di pinggir TOBING
POHAN-POHAN banyak ditebangin
Membuat hutan-hutan Kita GIRSANG
BATUBARA Kita diambilin…
PULUNGAN Trilyun ilang dilaut.
Kita butuh pemimpin yang Punya fikiran SIREGAR !
Kita harus PARAPAT Barisan !
Kita harus SIAGIAN!
Karena itu
Kita harus PANJAITAN Doa
Minta PARLINDUNGAN kepada Tuhan
Agar selamat dan hidup ARITONANG
Jangan Kita SIAHAAN-SIAHAAN kesempatan
Kita harus ber SITINJAK dari sekarang!!!
Kita harus jadi bangsa yang TOGAR
Kita harus jadi bangsa yang SIBARANI !
untuk SIMANGUNSONG masa depan
KABAN???
BUTEET DAH !!
Jadi KeSITOMPULANnya
HORAS BAH (Tidak Ada BeRAS makan gaBAH!)



Ingat pada pamflet lucu itu sambil membolak-balik Warta Jemaat pada Minggu pagi di gereja yang hening itu, saya lantas mencoba mengotak-atik marga-marga Indonesia Tengah dan Timur tersebut. Maksudnya membuat semacam pamflet bernada serupa. Sayang, otak udik saya hanya bisa menghasilkan karya seadanya belaka. Sampai ibadah selesai, saya merasa belum puas akan hasilnya, sebagai berikut ini:

Naiknya harga BBM memang bikin hati PAttiNASARANy.
Mendadak SONDAKH dia naik,
membuat ekonomi keluarga jatuh ter-ROMPAS
dan RUNTU.
Kalau tak sabar, pikiran bisa jadi SUPIT.
Ibarat kata, seperti sebuah pil maMAHIT
Diberikan kala cuaca panas ThERIK
dan perut sedang PALAR pula
Membuat seluruh tubuh seperti TUMATAR

Satu-satunya pilihan sekarang adalah hidup ber-SAHAnaJA
Jangan RIWEPASSA-kan diri untuk membeli sesuatu
Kalau tak perlu
Jangan buang uang secara POSUMAH
Bisa-bisa harta tergadai MANUPUTTY utang
Usahakan lah hidup SUMAMPOW kita
Kita galakkan PANGEMANAN dimana-mana
Harus RORINGPANDEY mengatur pengeluaran
Dan hidup SIHASALE serta rajin berdoa
LEWERISSA hati dan pikiran
Dengan begitu, semoga ekonomi cepat mem-MBOEIK
Sehingga kita SALAMATe dan sejahtera



()()()


Kata orang-orang tua, "Dimana langit dijunjung, di sana bumi di pijak." Tentu ini bukan konsep Fisika, melainkan konsep budaya. Mirip-mirip dengan kata-kata jenaka, "kalau di kandang kambing mengembik, di kandang macan mengaum."

Tetapi perjumpaan dengan berbagai budaya yang berbeda sering menyebabkan diperlukan waktu untuk belajar tentang bumi tempat berpijak dan langit untuk dijunjung. Bagi kita di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman kultur, kesalahan atau keteledoran dalam ‘mengenali’ bumi untuk dipijak dan langit untuk dijunjung itu,semestinya lah tak mesti mendatangan kerutan di kening. Melainkan justru melahirkan kegembiraaan dan selanjutnya sukaria. Sebab perbedaan-perbedaan itu ternyata melahirkan berbagai hal jenaka yang bikin awak tambah muda.

Lucu-lucuan soal marga di antara budaya yang berbeda hanya satu contoh saja yang bisa disebut.Banyak kisah-kisah kocak lain. Misalnya, tatkala dulu pertama kali membawa istri saya yang orang Jawa itu beribadah di gereja Batak Simalungun, tiap lima menit dia senyum-senyum dikulum mengikuti jalannya ibadah. Tentu saja ini mengherankan, sebab menurut saya tak banyak kata-kata lucu sepanjang ibadah yang dilangsungkan dalam bahasa Simalungun itu. Maka karena penasaran, saya tanya dia, apa yang aneh sehingga ia bisa bertingkah seperti sedang menyaksikan ketoprak Srimulat. Terus terang, dalam hati, saya agak tersinggung juga. Kok dia tidak mau berbagi humor dengan saya.

Baru lah setelah ibadah selesai ia membocorkannya. “Memang bukan mengada-ada ternyata kalau orang Batak itu penggemar nasi dan daging B2 ya...,” kata dia sambil senyum-senyum seolah ingin membuat saya penasaran.

“Kenapa kamu bisa berkesimpulan begitu?”

Jawab dia:” Hampir sepanjang ibadah tadi, tiap lima menit orang yang di atas mimbar bicara nasi dan ham. Sebentar-bentar dia bilang Nasi- Am. Sebentar-sebentar bilang Ham. Perut saya jadi lapar. Ingat Nasi goreng ditaburi irisan ham....” kata dia sambil tertawa.

Saya pun hanya bisa mesem-mesem. Nasiam dalam Bahasa Simalungun berarti Anda (dalam bentuk jamak). Ham juga artinya sama --Anda--tapi dalam bentuk tunggal dan biasanya ditujukan sebagai sapaan hormat –terutama kepada orang yang lebih tua mau pun yang baru kita kenal. Sepanjang ibadah di gereja Batak Simalungun, kata-kata Nasiam dan Ham memang bertaburan dalam khotbah, nyanyian mau pun ajakan beribadah lainnya.

Di Subang tempo hari, ketika menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama delapan mahasiswa dari berbagai jurusan, saya pernah malu karena ‘keliru’ membaca ‘bumi dipijak, langit dijunjung’ itu. Ketika itu kami bermukim di rumah Pak Lurah. Dan, karena suasana lebaran belum usai, ke rumah itu kerap berkunjung tamu-tamu. Sehingga kami para mahasiswa/I di rumah itu sering berperan sebagai tuan rumah menyajikan hidangan ala kadarnya.

Dari pengamatan selama beberapa waktu, saya akhirnya berkesimpulan bahwa minuman mau pun hidangan akan disuguhkan beberapa waktu setelah tuan rumah dan tamunya berbincang ala kadarnya. Dan ketika suguhan itu sudah berada di atas meja, biasanya baru tiga sampai lima menit para tamu menyentuhnya. Sambil mengangkat gelas ketika akan menghirup minuman, biasanya mereka akan berkata, “Mangga, ditampi.” Dalam hati saya berkata, oh, begitu toh orang Sunda mengatakan Silakan diminum…..

Maka pada suatu hari ketika hanya saya satu-satunya peserta KKN yang berada di rumah menemani Pak Lurah dan Bu Lurah menerima tamu, saya berusaha turut jadi tuan rumah yang baik. Setelah Bu Lurah menyajikan minuman dan cemilan kecil, saya ikut nimbrung ngobrol ngalor ngidul dengan para tamu. Tentu dalam Bahasa Indonesia, sebab Bahasa Sunda saya sangat amburadul.

Sampai sepuluh menit berlalu, hidangan di atas meja belum juga disentuh oleh para tamu. Saya melihat Pak Lurah masih tetap asyik ngobrol tak kunjung mempersilakan tamunya menikmati hidangan. Karena khawatir teh manis yang tersaji akan jadi dingin, maka di sela mereka asyik mengobrol, saya memotong pembicaraan dengan berkata, “Mangga, ditampi, keburu dingin minumannya…….”

Serentak saja para tamu serta Pak Lurah dan Bu Lurah terdiam. Hening sejenak di ruangan itu tetapi wajah para tamu kemerah-merahan. Saya belum sadar apa yang membuat mereka terdiam, hingga satu dari para tamu itu dengan bijak mengajari saya orang Batak norak ini. Ternyata Mangga, Ditampi, lazimnya dikatakan oleh para tamu yang mendapat suguhan. Yang artinya kira-kira, Ya, hidangannnya kami terima (tampi).

Wah, giliran saya yang malu bukan alang kepalang. Untungnya, orang Indonesia punya stok ketawa yang lumayan banyak untuk hal-hal jenaka ketika dalam perjumpaan budaya itu muncul peristiwa-peristiwa di luar kelaziman.

Yang juga tak pernah bisa terlupakan sampai sekarang adalah kedunguan saya sebagai orang udik van Sarimatondang ketika suatu hari dibawa berkeliling kota Jackson di negeri Paman Sam. Daniel Fietkwietz, seorang Polandia yang fasih berbahasa Indonesia, menjadi escort dan intrepreter saya selama kunjungan sebulan di sana. Dengan menumpang sebuah sedan sewaan yang disupiri sendiri oleh Daniel, kami bercakap-cakap menyusuri jalan-jalan lurus dan bersilang di kota itu.

Tapi ada satu hal yang mengherankan saya. Banyak sekali nama-nama jalan yang diakhiri dengan kata Dr. Ada Jackson Dr, Washington Dr, dan banyak lagi. Diam-diam dalam hati saya menerka-nerka, pasti lah kota ini dulunya tempat orang-orang menimba ilmu kedokteran. Sehingga pahlawan-pahlawan di kota ini banyak yang bergelar Dr.

Meskipun demikian, sebagai orang Indonesia yang tak mau disepelekan sebagai orang dari negara dunia ketiga, maka saya bungkus lah komentar saya atas nama-nama jalan tersebut dengan gaya nasionalis 24 karat yang harkat dan martabat negaranya tak boleh lebih rendah dari negara mana pun.

“Hm, Daniel. Indonesia dan kota ini ternyata ada kesamaan dan kemiripiannya, bila melihat latar belakang sejarahnya,…” kata saya.

“Oh ya? Kenapa kamu bilang begitu?”

“Para perintis kebangkitan dan kemerdekaan di Indonesia banyak sekali dipelopori oleh Dr. Ada Dr Wahidin Sudirohusodo, ada Dr Sutomo, ada Dr Cipto Mangunkusumo… Persis dengan kota ini. Lihat, banyak sekali pahlawan yang diabadikan jadi nama jalan yang bergelar dokter. Ada Jackson Dr, ada Washington Dr…….”

Senyum Daniel sekilas tampak aneh mendengar perkataan saya. Sambil membuang muka –mungkin ia menjaga perasaan saya tapi juga mungkin untuk menyembunyikan ketawa-nya—ia berkata dengan lrih. “Dr yang kamu lihat pada marka-marka jalan itu bukan singkatan dari dokter. Melainkan Drive. Jadi ada Washington Drive, ada Jackson Drive dst….” kata dia.

Adduh, mati aku.

()()()


Nah Sodara-sodara, sambil menuliskan hal-hal dungu tentang berbagai kejadian dalam pelbagai perjumpaan budaya, saya ingin mengucapkan minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Selalu ketika merayakan idul fitri, perjumpaan-perjumpaan budaya yang indah dapat kita temukan. Antara lain, misalnya, ketika kami yang tidak merayakan lebaran itu toh tak kekurangan ketupat nan gurih di rumah berkat kiriman dari para tetangga. Dan saya bisa melampiaskan kerinduan saya untuk memotong sendiri ketupat berbungkus daun enau, yang macam-macam rasa dan kepadatannya.In satu hal yang jarang bisa saya lakukan. Sebab di hari-hari biasa, tukang lontong sayur (atau ketoprak)lah yang memotongkannya. Kini saya jadi tahu seret dan lengketnya ketupat-ketupat itu manakala mendapat sayatan pisau dapur kita. Pengalaman yang asyik.





--selesai--

Ciputat, 30 September 2008

2 comments:

  1. Anonymous9:37 PM

    kang papa amartya, mangga, ditampi blognya, numpang baca-baca, hehehe


    titin

    ReplyDelete
  2. Mangga, mangga, calik...calik...:-)). Kumaha. Damang sadayana?

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...