Wednesday, October 08, 2008

Beda Ritual di McDonald's dan di Lepau SJ



Di seberang jalan persis di depan rumah kami di Sarimatondang, dulu ada sebuah lepau. Tak ada papan nama. Juga tanpa spanduk. Tapi semua orang sekampung familiar dengannya. Tanpa iklan tanpa reklame, ia secara ajeg menjalankan tugasnya sebagai lepau sejak pagi hingga senja. Kita sebut saja dia, Lepau SJ (Seberang Jalan)

Sebagaimana lazimnya sebuah lepau di sebuah desa yang diisi hanya puluhan rumah, Lepau SJ menyajikan hidangan standar. Misalnya, teh manis, kopi dan kopi susu. Juga ada minuman botol, semisal limun. Tak usah bingung seperti apa bentuk minuman yang terakhir ini. Sebetulnya ini adalah pronounciation orang kampung kami untuk lemon, tapi secara salah kaprah orang Sarimatondang menjadikannya nama generik untuk semua jenis minuman bersoda. Mereka yang suka berpikir lebih detail, kadang-kadang dapat membedakan mana limun dengan merek orange crush (minuman bersoda rasa jeruk bikinan P. Siantar) dan limun rasa nanas yang mereknya saya sudah lupa. Tetapi umumnya, orang kampung kami sudah cukup puas dengan mengenalnya limun saja. Dan, limun adalah pelepas dahaga yang menyegarkan. Ia ditenggak langsung dari botolnya, tanpa dicampur dengan es. Hawa sejuk Sarimatondang sudah cukup membuat limun-limun itu tetap segar walau sepanjang hari ia dijejer di etalase tanpa pendingin. Es batu adalah barang langka. Sama langkanya dengan kulkas, yang hanya bisa kami tatap sesekilas di restoran bakmi di P. Siantar, tempat pemilik resto menyimpan sayur-mayur dan daging.

Menu lainnya adalah lappet atau lepat. Ia terbuat dari tepung beras atau ketan, gula (merah atau pasir) dan parutan kelapa, dibungkus dengan daun pisang berbentuk piramida. Mirip-mirip dengan lepat adalah pohul-pohul. Bedanya, ini sejenis lepat beras tanpa dibungkus daun. Pohul berasal dari kata sappohul, atau sekepalan tangan, sebab 'cetakan' lepat ini adalah kepalan tangan pembuatnya. Bekas kepalan dan jari tangan itu bahkan masih tercetak jelas tatkala pohul-pohul siap hidang, berupa siluet bergelombang yang unik. Serabut kasar parutan kelapa pada lepat dan pohul-pohul made in Sarimatondang sangat menonjol, hingga kadang-kadang terselip di sela-sela gigi. Yang juga jadi ciri khasnya adalah porsinya yang besar. Saya curiga, 'cetakan' dari pohul-pohul itu bukan kepalan tangan perempuan, melainkan kepalan tangan laki-laki dewasa. Dan bila ini benar, pupus lah mitos bahwa kaum pria orang Batak sangat anti menggeluti pekerjaan dapur. Buktinya, pohul-pohul itu lah.....

Lepau SJ sudah buka sebelum matahari terbit. Pada tanggal-tanggal muda, ia sering diantri oleh pelanggan, terutama anak-anak. Mungkin untuk menghibur, atau juga karena agak malas untuk memasak, sekali-dua orang tua di kampung itu mengganti sarapan pagi dengan lappet atau pohul-pohul. Maka mereka memerintahkan anak-anak membelinya dari lepau. Alangkah senangnya hati kami bila terbuka kesempatan seperti ini. Selepas mandi dari kali Aek Simatahuting, kami segera bergegas ke Lepau SJ. Meminta lappet dibungkuskan. Di rumah, sebuah pagi yang ceria pun berlalu dengan sarapan lappet yang dicelupkan ke dalam teh manis. Memang tak semewah pancake bersama tegukan cappucino. Tapi, Bung, ini kan di Sarimatondang era 70-an!

Seingat saya, Lepau SJ tak pernah menyediakan menu nasi dan lauk-pauknya seperti banyak lepau lain di belahan Sarimatondang yang sudah agak 'kota.' Saya tak tahu apa alasannya. Bisa jadi karena pertimbangan pasar. Sulit lah membayangkan ada permintaan (demand) lauk-pauk mengingat konsumen lepau itu adalah orang-orang Sarimatondang yang ekonomi rumah tangganya umumnya hanya beberapa strip di atas garis kemiskinan. Budaya makan di luar tak pernah ada pada kami semasa kecil. Bukan saja karena akan dicap sebagai pajago-jagohon (sikap mentang-mentang) atau iseng patabo-tabo pandaian (memanja-manjakan lidah). Membeli lauk-pauk atau makan di kedai juga dianggap sebagai cermin pemborosan dan kemalasan memasak.




()()()


Suasana di Lepau SJ seolah menari-nari kembali dalam memori, tatkala di waktu libur lebaran, saya membaca sebuah artikel tua yang menarik. Judulnya, Rituals at McDonald's. Penulisnya, Conrad Phillip Kottak, profesor antropologi di Universitas Michigan di Ann Arbor. Tulisannya itu pernah dimuat di majalah Natural History edisi Januari, 1978.

Kottak sebagai antropolog rupanya tertarik dan ingin mengetahui apa yang menyebabkan McDonad's bisa sedemikian sukses di Amerika dan di berbagai penjuru dunia, yang menyebabkan Ronald McDonald's menjadi pesaing Santa Claus dan Mickey Mouse di benak anak-anak negeri Paman Sam itu. Ia ingin menjelaskan, apakah fanatisme para penggemar McD untuk datang berulang-ulang ke outlet-outletnya, sudah bisa dibandingkan dengan fanatisme orang-orang yang pergi mengikuti ritual agama.

Kottak mencoba menjawabnya dengan meneropong apa yang dimaksud dengan ritual, dan yang membedakannya dengan perilaku sosial (behavior). Pertama-tama ia mengutip ciri-ciri ritual menurut antropolog Roy Rappaport. Menurut yang disebut terakhir ini, ciri yang paling utama dari ritual adalah adanya gaya tertentu; dilaksanakan berulang-ulang (repetitive) dan mempunyai stereotip. Ritual biasanya dilangsungkan di tempat yang sudah tertentu dan pada waktu-waktu yang sudah tertentu pula. Ritual ditandai oleh adanya urutan liturgis tertentu –berupa kata-kata mau pun tindakan yang didasarkan pada sesuatu yang sudah ada 'sejak dulu', bukan karena 'dikomando' oleh pemimpin upacara.

Ritual juga merupakan penyampaian informasi mengenai pengikut-pengikutnya dan tradisi mereka. Dilangsungkan dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi, ritual diterjemahkan melalui pesan-pesan, nilai-nilai dan sentimen-sentimen untuk kemudian menjelma menjadi tindakan-tindakan yang dapat disaksikan. Kendati derajat keyakinan dan kepercayaan di antara pengikut suatu ritual berbeda satu dengan yang lain, pada dasarnya mereka menerima dan melaksanakan perintah ritual tersebut secara individu.

Dengan ciri ini, apakah fanatisme pada McDonald's dapat digolongkan jadi ritual?

Bagi sebagian besar antropolog, termasuk Rappaport, tentu lah institusi sekuler seperti McDonald's tak bisa disejajarkan dengan ritual. Apalagi ritual juga umumnya melibatkan emosi tertentu, motif tanpa pamrih dan entitas supranatural yang tak ditunjukkan oleh karakteristik orang Amerika penggemar McDonald's. Meskipun demikian, kata Kottak, ada juga antropolog yang mempunyai definisi ritual yang lebih luas. William Arens (dalam tulisannya, American Footbal Ritual pada Natural History, Oktober 1975), mengatakan bahwa perilaku sosial (behavior) bisa juga mempunyai aspek-aspek sakral dan sekuler sekaligus. Karena itu, menurut dia, fanatisme penggemar Football Amerika bisa juga digolongkan sekadar sport, tetapi di sisi lain bisa juga dianggap sebuah ritual publik.

Jangan dilupakan, ada juga masyarakat tertentu yang memuja dan mensakralkan sesuatu yang oleh masyarakat lain dianggap 'rendah' atau tak pantas. Artinya, keagungan dan kesakralan sesuatu itu tidak selalu ditentukan oleh nilai intrinsink sesuatu yang dipuja itu. Masyarakat Aborigin di Australia, misalnya, seperti pernah diamati sosiolog asal Perancis, Emile Durkheim, kadang-kadang memuliakan mahluk-mahluk 'rendahan' seperti kodok, bebek, kelinci dan lain-lain. Nah, kata Kottak. Jika kelinci dan kodok bisa dimuliakan sedemikian rupa, mengapa McDonald's tidak?

Kottak pada akhirnya memang tak secara eksplisit mengatakan bahwa McDonald' telah menjelma jadi ritual. Namun, tulisannya yang panjang lebar itu secara sistematis memperlihatkan bukti-bukti dan observasi Kottak tentang perilaku dan aktivitas pelanggan mau pun staf McDonald's yang bisa ditafsirkan sudah seperti ritual. Mulai dari formalitas dan keseragaman perilaku pelanggan manakala memasuki outlet-outlet McD, ucapan-ucapan standar yang terlontar dari staf McD merespons pelanggannya, setting interior dan arsitektur outlet-outlet McD, suasana yang dirasakan pelanggan ketika berada di dalam outlet dibandingkan di luarnya, dan banyak hal lain lagi.

Kata Kottak:
The total McDonald's ambience invites comparison with sacred places. The chain stresses clean living and reaffirms those traditional Americans values that transcend McDonald's itself. Max Boas and Steve Chain, biographers of McDonald;s board chairman, Ray Krock, report that after the hundredth of McDonald's opened in 1959, Krock leased a plane to survey likely sites for the chain's expansion. McDonald's would invade the suburbs by locating its outlets near traffic intesections, shopping centers, and chuches. Steeples figured prominently in Kroc's plan. He believed that suburban churchgoers would be preprogrammed consumer of the McDonald's formula-- quality, service and cleanliness".


Menutup tulisannya, Kottak mengutip pendapat para sosiolog yang mengatakan berbagai ikatan sosial semakin hari semakin lemah di masyarakat kontemporer Amerika. Namun pada saat yang sama, kata Kottak, kehadiran McD , Football dan institusi sejenis lainnya justru semakin signifikan sebagai perekat masyarakat. McDonald's, menurut Kottak, telah menjadi satu dari sejumlah elemen budaya Amerika yang baru dan kuat yang telah menghasilkan ekspektasi, pengalaman dan perilaku umum –melampaui wilayah, kelas, agama, sentimen politik, gender, umur, etnis, preferensi seksual, kota non kota dll.

Dengan memadukan berbagai aspek simbolis dan ritual agama, kata Kottak, McDonald's telah menciptakan ceruknya yang penting dalam mengubah masyarakat Amerika.


()()()


Lepau SJ di kampung halaman kami dulu, di Sarimatondang, sudah pasti tak bisa dibandingkan dengan outlet McDonald's dimana pun. Oh ya, ada juga memang kelebihannya dibanding McD. Yakni teh manis ala Lepau SJ yang begitu atraktif cara membuatnya. Air panas 'digayung' dari tungkunya yang khas berlapis seng putih dan mengeluarkan asap berkepul-kepul. Lalu dituangkan melalui saringan yang berisi bubuk teh (banyak sekali) yang bentuknya menggantung mirip jala para nelayan atau kantong kolekte di gereja. Gelas memanjang yang sudah berisi gula, telah pula menunggu siraman air teh berwarna merah marun itu. Ketika dihidangkan di atas meja, gelas berisi teh dan lapisan gula putih yang belum diaduk, tampak seperti bendera merah putih yang eksotis. Alamak, sedapnya menghirup teh manis panas disela tiupan angin dingin Sarimatondang.

Tapi bukan itu yang paling utama menyebabkan Lepau SJ terkenang-kenang tatkala membaca Rituals at McDonald's. Ada hal lain yang lebih menancap dalam. Yakni sebuah 'ritual' juga, tetapi sama sekali lain dengan ritual yang bisa kita dapatkan di McDonald's. Ritual itu adalah berupa kebiasaan kami anak-anak yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun pagi hari menjelang berangkat sekolah, dan terutama setiap siang hari sepulang sekolah. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul enam, ketika kami anak-anak sudah mandi dan sarapan serta mengenakan seragam, biasanya ada waktu luang sekitar 15 menitan sebelum berlari ke sekolah yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah. Pada waktu-waktu itu lah, kami anak-anak mengendap-endap dari pengawasan orang tua dan berlari ke Lepau SJ. Di sana kami memuaskan diri membaca koran kemarin, yang belum sempat kami baca.

Ritual semacam itu paling sering kami lakukan pada siang hari sepulang sekolah. Biasanya pukul satu siang kami sudah tiba di rumah. Namun kami tak langsung duduk di meja makan, sebab anggota keluarga lainnya yang bersekolah di SMP belum tiba. Maka sambil menunggu mereka, kami berlari ke Lepau SJ. Koran-koran yang terhampar di meja kami baca-baca sebisa kami. Kali ini bukan hanya koran kemarin, tetapi koran hari itu juga sudah hadir. Seusai makan siang, sebelum ayah-ibu siap-siap memerintahkan kita untuk berangkat ke ladang, lagi-lagi kami berlari ke lepau itu. Surat kabar-surat kabar di sana menjadi sasaran bacaan kami.

Memang kami anak-anak harus tahu diri. Kalau di lepau sedang ada pelanggan yang minum dan membaca koran, kami tidak boleh mengganggunya. Sudah ada semacam pengertian pada kami, bahwa para pelanggan itu telah merogoh saku untuk membeli minuman. Jadi mereka mempunyai hak prerogatif membaca koran di sana. Bila begitu, kami terpaksa duduk diam, sambil mencuri-curi baca dari balik tatapan si pelanggan itu. Kadang-kadang ada perasaan gemas karena begitu tak sabarnya. Apalagi di saat-saat turnamen sepak bola Marah Halim Cup jadi headline koran-koran. Walah walah walah, ingin rasanya mengusir semua pengunjung kedai itu agar kami anak-anak lah yang merajai membaca koran. Tapi tentu itu tak mungkin. Maka sikap terbaik adalah mendekam sambil waspada, seperti kucing-kucing di warung pecal lele di Jakarta, yang duduk diam tapi siaga satu menanti sisa-sisa tulang ikan dari para pelanggan warung.

Berlangganan surat kabar bukan hal umum kala itu di kalangan penduduk Sarimatondang. Hanya beberapa orang yang bersedia 'menyisihkan' uang untuk 'kertas pembukus ikan asin' itu. Di rumah kami setiap siang memang hadir surat kabar Sinar Pembangunan. Tapi itu ada bukan karena ayah punya banyak duit, melainkan karena priviledge-nya sebagai reporter freelance. Lagipula, tak ada yang bisa membandingkan kenikmatan membaca koran di Lepau SJ. Soalnya ada bermacam-macam koran di sana. Dan berita dari satu koran ke koran lainnya menjadi diskusi yang hangat di kalangan kami anak-anak.

Dari membaca koran di Lepau SJ itu lah saya mengenal Tumsila, Nobon, Juswardi dan sederet pemain PSMS lainnya. Dan, itu belum seberapa. Koran di lepau itu pula yang memperkenalkan saya pada Norman Whiteside, pemain termuda di Inggris kala itu dan bermain untuk klub Manchester United. Lewat koran Sinar Indonesia Baru, seorang wartawan olah raganya rajin membuat ulasan tentang sepak bola Inggris dengan foto-foto pemain yang besar. Agaknya wartawan itu fans MU juga. Dan gara-gara eksposesnya berkali-kali tentang si Norman Whiteside itu lah saya jadi membabi-buta menjagokan Manchester United sampai sekarang. Padahal, saya paling tak suka dengan julukan klub itu, Red Devil....

Sekali-dua, kami baca-baca juga berbagai berita politik dan nasional. Tiap kali ada gambar Daud Jusuf yang jadi menteri pendidikan kala itu, rasa ingin tahu kami tergelitik. “Mau apa lagi Pak Kacamata ini,” pikir kami dalam hati. Bukan apa-apa. Bagi kami anak sekolah, Menteri Pendidikan sering dianggap melebihi 'presiden.' Tiap kali ada ujian pelajaran IPS, atau cerdas tangkas uji kepintaran, pasti ada soal yang menanyakan, 'siapakah menteri pendidikan Indonesia?.' Dan popularitas menteri pendidikan makin tinggi karena ia sering jadi buah bibir para guru-guru. Dampak dari kebijakan-kebijakannya terasa langsung menohok pada kami anak-anak sekolah. Belum hilang rasanya 'kecewa' kami atas beleid Pak Kacamata ini. Yakni tatkala ia memindahkan liburan panjang akhir tahun pelajaran dari yang biasanya bulan Desember ke bulan Juni. Akibatnya liburan Natal dan tahun baru jadi begitu pendek. Dulu juga kami sudah kecewa karena waktu libur yang berkurang drastis. Yakni jika biasanya sebulan penuh selama puasa kami bisa berpesta-pora melampiaskan kegemaran bermain bola di lapangan Sarimatondang,kini tak lagi, karena dihapusnya liburan sepanjang puasa.

Di sisi lain, sambil menatap-natap fotonya berkedip-kedip, terbayang-bayang di kepala betapa pintarnya Pak Kacamata itu. Dengar-dengar dari orang yang sering juga membicarakannya di lepau itu, ia lulusan Sorbonne di Perancis. Dan tidak banyak orang Indonesia yang bisa meraih gelar doktor di universitas beken itu. Wah, darimana kira-kira dia mendapat otak encernya ya.... Makin terkagum-kagum lagi hati ini manakala tahu bahwa si Pak Kacamata itu adalah orang Aceh dan pernah tinggal di Medan. 'Ah, tak jauh-jauhnya rupanya asal-muasalnya. Dekat-dekat sininya rupanya dia,' demikian ada nada bisikan di dalam hati.

Letak Lepau SJ yang berada tak jauh dari beberapa SD dan sebuah SMP di Sarimatondang menyebabkan ia juga sering jadi tempat persinggahan guru-guru dan pegawai. Guru yang bertempat tinggal jauh dari Sarimatondang, akan menyempatkan diri istirahat sebentar di lepau, sambil menunggu bus umum yang akan membawa mereka pulang. Sambil menumpang membaca koran, saya juga sering menggabungkan diri diam-diam dengan para guru yang sedang minum kopi atau teh. Banyak juga topik pembicaraan mereka yang menarik, tapi ujung-ujungnya selalu dapat saya tebak. Sebab perbincangan mereka tak beda jauh dengan apa yang selalu diperbincangkan ayah-ibu di rumah yang juga guru. Yakni, tanggal berapa tunjangan dibayarkan, bisluit (SK) kenaikan golongan yang belum turun-turun, dst...dst...

Diantara guru yang jadi tamu tetap Lepau SJ, ada satu yang favorit saya. Yakni guru agama kami yang legendaris, yang kalau bercerita, tak kalah asyik dengan si PM Toh, pendongeng kawakan dari Aceh yang kerap ditanggap oleh televisi. Tapi kehadiran Pak Guru Agama di lepau itu bukan untuk mendongeng, melainkan untuk bermain catur. Ia selalu punya lawan favorit pula. Dan kalau mereka tengah bersitegang memainkan buah caturnya, saya sangat menikmati suasananya. Psywar berupa ledekan-ledekan ringan tentang langkah-langkah yang diambil lawan, sering memancing tawa. Diam-diam saya berpikir, alangkah ringannya wajah-wajah mereka itu dibebaskan oleh 'caturnya' dari beban kehidupan sehari-hari. Untuk nanti kembali lagi berkerut-kerut sedemikian rupa, ketika terjun lagi ke the real life.

Pak Guru Agama itu sangat baik kepada saya. Mungkin karena ibu adalah koleganya sesama guru. Manakala bermain catur itu, ia akan menjadikan saya sekondannya. Ketika ia akan melangkahkan anak caturnya, sesekali ia seakan meminta advis dari saya bocah yang hanya tahu bilang skak dan roker (rokade, maksudnya). Tentu itu adalah strateginya untuk memanas-manasi lawannya saja. Sekali dua kali, saya juga kebagian teh susu, sebab tak seru lah bermain catur sampai berjam-jam jika tidak memakai taruhan. Dan taruhan mereka kala bermain catur adalah siapa yang kalah, dia yang akan membayar minuman. Biasanya dua gelas teh susu tetapi kadang-kadang jadi tiga gelas, sebab saya sebagai sekondan dihitung juga.


()()()


Di berbagai tulisan di internet, banyak orang yang mengunjungi daerah-daerah di Tapanuli dan juga di daerah Simalungun mempunyai sudut pandang negatif pada lepau. Sebetulnya, mereka bukan keberatan pada lepaunya, tetapi kepada pengunjungnya. Yang mengherankan saya, sudut pandang negatif itu juga sering terlontar dari sesama orang Batak yang seharusnya dapat menyelami bagaimana suasana psikologis di daerah-daerah yang terosilasi itu. Namun mereka tampaknya sudah memposisikan dirinya sebagai turis yang lebih beradab dan lebih banyak tahu, ketimbang memposisikan diri sebagai orang yang berkampung halaman di sana.

Maka dari pengamatan sepintas mereka terhadap lepau yang tak pernah sepi dari kaum bapak yang menongkrong, seringkali mereka melontarkan kesan bahwa kaum bapak Batak umumnya pemalas, hanya bisa berleha-leha di kedai. Mereka membiarkan kaum ibu pergi ke sawah, membanting tulang dan di sore hari harus bertanggung jawab pula pada pekerjaan-pekerjaan domestik.

Menurut saya, pengamatan itu hanya setengah benar. Atau itu hanya melodramatisasi dari pikiran sempit para Batak-batak turis yang menyinggahi kampung halaman sekadar melepas kangen. Kalau saja mau duduk dan berlama-lama di sana, satu atau dua hari, jelas lah akan makin kita sadari betapa dalamnya arti kehadiran lepau. Ia semestinya tak dipandang sebagai tempat nongkrong dan tempat berleha-leha. Ia lebih dari itu.

Ke lepau lah petani pergi pagi-pagi sekali, manakala ia akan menjual kerbaunya di saat kepepet, misalnya untuk membiayai sekolah anaknya. Di lepau ia mencari advis bagaimana harga 'pasar' kerbau dan siapa kira-kira yang bisa menyediakan uang membeli kerbaunya di saat terdesak demikian. Di lepau pula para petani mencari info pendahuluan apa obat untuk pohon pisangnya yang mengering, layu dan hampir mati. Di lepau kaum bapak setiap pagi mengudate berita di seputar kampungnya. Tentang si polan yang sakit dan tadi malam dan dilarikan ke puskesmas. Tentang putri si Anu yang kawin lari karena hubungan dengan si Pariban tidak disetujui orang tuanya. Tentang putra si X yang baru saja mengirimkan uang buat merenovasi rumahnya, dan wessel pos pemberitahuan kiriman uang itu sudah sebulan tertempel di kantor pos karena bapaknya tak tahu-menahu adanya kiriman itu dst...dst....

Ritual itu sudah berlangsung sejak dulu. Sebelum keliling berbagai kota, ke lepau lah Pak saudagar menyegarkan diri dengan kopi dan lepat pagi-pagi sekali, berbasa-basi dan berbincang sana-sini sebagai cara untuk 'pamit.' Para pensiunan yang lebih banyak mendekam di rumah, ke lepau juga ia pergi seolah memberi kabar bahwa ia masih 'ada' dan masih bugar.

Di lepau lah kaum bapak dapat menemukan suasana egaliter dengan bahasa pasar yang sebebas-bebasnya. Lepau lah tempat netral untuk bertemu, sebab jika perbincangan dilaksanakan di rumah, akan muncul ewuh-pakewuh. Di rumah diperlukan basa-basi martutur atau martarombo, yang selain menghabiskan waktu juga membutuhkan energi. Di lepau, semua orang dapat mengeluarkan uneg-uneg dan siapa saja boleh ikut nimbrung. Tidak seperti bertamu di rumah yang lebih sering memunculkan monolog ketimbang dialog, di lepau lah demokrasi yang sesungguhnya ada, one man one vote. Tak peduli minumannya teh manis atau kopi atau sebotol limun belaka. (Kadang-kadang sih, kita memang jadi pendengar yang baik, manakala ada pembesar yang mentraktir seisi lepau. Tapi ini hanya saat-saat khusus. Misalnya menjelang Pilkada....).

Di lepau jua lah tempat kaum bapak melampiaskan naluri kanak-kanaknya. Bernyanyi sambil bermain gitar, bermain catur atau bermain joker karo melewatkan waktu. Itu adalah penghiburan yang berharga atas kesulitan hidup, melengkapi penghiburan lain yang bersifat klasik, ritual dari Mimbar sekali sepekan itu.

Bahwa juga ada satu-dua orang yang setiap hari dan sepanjang waktu menghabiskan masa hidupnya dari satu lepau ke lepau lain, tak semestinya ia jadi pusat perhatian. dimana-mana di dunia ini selalu ada pengecualian. Dan hal seperti itu tak sepatutnya dijadikan gambaran umum atas bapak-bapak Batak, apalagi bila mengingat dampak negatifnya pada citra lepau.


()()()


Syahdan, beberapa tahun kemudian, Lepau SJ itu lenyap. Rumah yang selama ini jadi tempat yang ramai, tutup dan berubah menjadi rumah tempat tinggal biasa. Tapi tak usah cemas apalagi sedih. Ini adalah cerita happy ending. Lenyapnya lepau itu bukan karena ia tutup atau bangkrut, melainkan karena visi pemiliknya yang cemerlang. Ia menginginkan perkembangan usaha yang lebih besar. Maka pemiliknya berpindah rumah ke bagian lain wilayah Sarimatondang, wilayah yang lebih ramai dan lebih hidup. Di sana, lepau itu makin besar. Dan ia bukan lagi hanya menyediakan teh, kopi dan kopi susu tetapi juga menjadi usaha kelontong yang tumbuh. Pemiliknya benar-benar entrepreneur yang tak kenal menyerah. Ia melakukan berbagai terobosan, termasuk dengan menjadi pelopor penyedia mesin pemarut kelapa.

Tiap kali ingat Lepau SJ dan ingat pada pemiliknya, tak henti-hentinya saya berterimakasih di dalam hati. Ritual di lepau itu mungkin tak mengundang perhatian antropolog untuk membahasnya, seperti perhatian yang mereka curahkan mempelajari McDonald's. Tapi sepotong kenangan di Lepau SJ telah membuka pintu cakrawala wawasan kami kanak-kanak, terutama dari koran-koran yang disediakannya.

Mungkin itu kah yang secara tak sadar membuat saya memasuki dunia, yang oleh anak saya, disebut sebagai dunia ketik-mengetik ini?

--selesai--



Ciputat, 5 Oktober 2008

Notes:
Rituals at McDonald's pertama kali terbit di majalah Natural History, Januari 1978. Tulisan tersebut dimuat kembali dalam Crossing Cultures, Readings for Compositions, Henry Knepler & Myrna Knepler, McMillan Publishing, 1983, halaman 241

* Untuk Amboru Anna di Tangerang, jangan marah ya, saya menulis tentang Lepau SJ ini....

18 comments:

  1. Anonymous12:28 AM

    emang, kelapa pohul-pohul gak ada bandingannya. mantap....

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:04 AM

    AKU JADI INGAT LEPAU DI DEKAT JALAN KE SIMATA HUTING. KODE NI SI BORxxxx KITA MENYEBUTNYA (JANGAN DIPANJANGIN, SOALNYA PANTANG MENYEBUT NAMA ORANG YANG SUDAH TUA). AKU DULU SERING SINGGAH DIBAWA OPUNG KE SANA SORE-SORE, SEPULANG DARI MANDI DI AEK SIMATA HUTING. MINUM TEH SUSU DAN ROTI BULAN DAN ROTI KETAWA. SAYANG SEKARANG KAYAKNYA SUDAH TIDAK ADA LAGI LEPAU ITU. PALING SERU MEMANG MENONTON ORANG MAIN CATUR....
    HORAS, DARI SESAMA PARSARIMATONDANG

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:59 AM

    Di kampungku aku pernah punya pengalaman yang tidak bisa kulupakan waktu kecil. Kampung kami tak jauh dari kampung Bung Siadari, di Sait Buttu. Waktu itu sudah sore, tapi rupanya ada tiga anak rantau datang dari Jakarta singgah di lepau (kedai). Mereka baru saja jiarah dari Tambun Raya, dan mau menuju Siantar.

    Rupanya mereka lapar, jadi minta disediakan makanan. Aku melihat tukang lepaunya belingsatan menyediakan makanan. Juga mereka meminta minuman. Kemudian karena ada satu dua bapak-bapak di kedai itu, mereka tawari dan mereka traktir. Akhirnya kedai itu makin ramai oleh bapak-bapak yang baru pulang dari ladang. Semua mereka dibayari.

    Lalu ada dari bapak-bapak itu yang bisa main gitar, jadi bernyanyi-nyanyi juga lah mereka. Bor ma udan i... udan i.... udan.....i. Itu satu lagu yang kuingat dinyanyikan rame-rame. Pokonya sampai agak malam mereka di situ. Cukup ramai lah kampung kami malam itu. Yang biasanya lepaunya sudah tutup jam 7 malam, sampai jam 9 masih juga ramai.

    Akhirnya ketiga anak rantau itu berangkat lagi ke siantar naik mobil mereka. Itulah sekilas pengamatanku tentang lepau. Kadang-kadang kalau nonton film cowboy dan melihat para cowboy minum-minum, aku jadi ingat lepau di kampung kita sana.

    Terimakasih Bung Eben, diatei tupa untuk tulisan ini.

    B. Silalahi

    ReplyDelete
  4. horas dear all. terimakasih telah berbagi tentang pengalaman di lepau.

    @anonim1: sebagai tambahan, kalau bokap dulu lagi bokek, sering dia memancing imajinasi kami dengan bikin pohul-pohul dari nasi. jadi nasi yang masih hangat, dikepal-kepal dan bentuknya jadi bulat, mirip-mirip pohul-pohul. bedanya, rasanya ya rasa nasi, bukan rasa lepat. tapi tetap lah kami senang. hehehe

    @anonim2: ya, lepau di dekat kali simatahuting itu memang legendaris juga. mantap tuh lappetnya. tapi bapakku paling sering nyuruh aku ke sana dulu bukan untuk beli lappet, tapi beli pote (hahahaha). (lain kali kalau berkunjung, plisss tinggalin jejak dong.....hehehe)

    @ anonim 3: wah, Sait Buttu itu tempat yang asyik tuh, lae. Banyak lepau di situ. Masih sering pulang ke sana? Kalau ada foto-fotonya, tolong kita dibagi ya... kirim via email aja.

    ReplyDelete
  5. Wah iya yah, MC DOnald itu memang sama di semua outlet. Ini memang gaya Amrik Franchise yang justru semakin digemari oleh kalangan kita.

    Keseragaman di dunia bisnis itu penting rupanya berbeda dengan dunia pendidikan. Anehnya di sekolah Amrik sana, sekolah tanpa seragama.

    cerita panjang yang sangat menarik bos... makasidh dah mampir, dan makasih atas ucapan selamat idul fitrinya... mari kita jalin terus perdamaian Indonesia. :D Horass..

    ReplyDelete
  6. Wah, aku nggak bisa kasih komen soal pohul-pohul ataupun lepat.. gak isa mbayangke aku! :)

    Yang pasti, aku jadi lebih tahu, kok tulisan Bang Eben bagus-bagus, tetep saja enak dibaca mekipun terkenal panjang-panjang ya? Rupanya : ada darah dari seorang reporter freelance! Hehe...

    Bang, aku kepikiran untuk membukukan tulisan-tulisan Abang seputar tradisi batak dan "kawan-kawannya" dari blog ini.

    Ada komen?

    Aku yakin banyak pembaca blog yang setuju. Ya kan, pembaca?

    (usul : kuisioner bulan depan : "Apakah Anda setuju isi blog ini dibukukan?"
    Jawabannya :
    ( ) setuju sekali
    ( ) sangat setuju
    ( ) setuju banget
    ( ) amat setuju
    ( ) harus!

    Haha. Gimana, Bang?)

    ReplyDelete
  7. @mas kurt: terimakasih mas ustad, kunjungan baliknya. saya sering lho berlama-lama di blognya....skali lagi, minal aidin walfaidzin

    @mas fajar: trimakasih atas apresiasinya mas. buku keduanya kapan terbit? aku sedang berusaha keras membujuk putriku agar 'mengganti' cita2nya dari dokter jadi wartawan atau penerbit :-). Kalau berhasil, gampanglah nanti soal urusan bikin buku hehehe
    minal aidin ya mas, gak lengkap rasanya kalau cuma sms doang....

    ReplyDelete
  8. Miss Lemontea4:29 PM

    wah ito, sambil ngelap2 iler ini di mejaaa....ngiler baca tentang lapet dan pohul2....dulu waktu di jakarta, si Neng Lemontea ini sering banget "bete" di pesta batak yang tak kunjung akhir alias seharian suntuk. Udah panas (kalo gedung pesta adat kan biasanya A.C nya kreditan, alias anginnya dikit2 sejuknya....) Mana lagi dengerin opung2 mandokkon hata, ah..sudahlah lengkap penderitaan gak ngerti soalnya...padahal musti tetep duduk yang manis soalnya nungguin si bokap dan nyokap. jadinya lapet dan pohul2 yang sering dibagi2in pas sore2 itu adalah penghibur utama....sampe dibela2in loh, rebutan sama kaum ina2 yang heboh ngebungkusin pulang....suka sebel2an segala hahaha, padahal sih kalau mamaku pergi ke pesta adat pun suka gak lupa wanti2: bawain lapet yang banyak ya maaaaaaa.....hauehauhe....itu upahku jadi asisten bantuin si mama pake kebaya yang heboh banget deh kalo mo ke pesta adat batak...duh benerannn....lapet dari pesta adat itu enak banget...!!!!jauhhh banget deh enaknya dibandingin sama pancake apa cheese cake disini......kapan yah bisa makan lagi.....

    ReplyDelete
  9. @miss lemontea:
    bah.... penggemar pohul2 juga rupanya ito ya? bagaimana dengan jatah pembagian 'jambar.' dibungkus untuk dibawa pulang atau langsung ditancap juga di pesta itu? hehehe. trimakasih kunjungannya. cerita tentang lehman brothers effect-nya ditunggu lho... di indonesia kita-kita sempat panik nih...

    ReplyDelete
  10. Skarang yaang lagi in bukan MCD tapi Starbuck (ada bukunya, Starbuck Experience). Namun ide beasarnya tetap sama. Menjadikan minum kopi bukan sekedar minum kopi tapi jadi 'ritual'. Orang bisnis banyak belajar dari organisasi-organisasi agama dan budaya. Nggak tau kalau sebaliknya, apa organisasi agama dan budaya mau nggak belajar dari organisasi bisnis. Hehehe. Tulisan yg menarik. Kalau lepau mau dijadikan kayak MCD, kira-kira ada saran nggak Bung Siadari? Mungkin bisa lho....kan orang batak itu dah ada di mana2.


    john

    ReplyDelete
  11. Dimana cari bukunya Pak? Kayaknya buku bagus tuh...

    ReplyDelete
  12. @john: ide yang menarik bung, tentang menjadikan lepau seperti McD. Lepau yang baik, sepemahaman saya, adalah karena 'suasana'-nya. Mungkin sama juga dengan apa yang saat ini dimunculkan orang sebagai 'Starbuck Experience' itu (Saya udah sempat juga baca sikkit-sikkit buku tsb). Lepau di kampung kami, rame-nya biasanya pagi dan sore. Agak berbeda dengan ritme kerja orang Jakarta. Tapi beberapa lepau kelas akar rumput di Jakarta, masih tetap mempertahankan ritme pagi-sore itu. Biasanya yang singgah di sana adalah para entrepreneur self employee (meminjam kategorisasi Kiyosaki). Semisal, para supir mikrolet dan metromini, penambal ban dll. Kalangan ini memang lebih luwes dalam soal waktu, seperti Pak Tani di kampung halaman.

    Sementara lepau kelas menengah-atas di Jkt, rame-nya pas makan siang saja.

    Anyway, terimakasih untuk ide-nya.

    @sori: dulu saya nemu-nya di toko buku loak. belum sempat browse di internet....siapa tahu ada cetak ulangnya :-)

    ReplyDelete
  13. Anonymous8:16 PM

    Lisoi, lisoi, lisoi, lisoi, o parmitu...
    Minumma, minumma, dorgukma, dorgukma, handitma galas mi....

    Lepau kok selalu identik dengan tuak, lae? Padahal selain tuak, kan banyak yang lain di sana ya...

    Mauliate

    ReplyDelete
  14. Bang, enak kali baca tulisanmu ini...(bah pake bahasa siantar pulak aku). tapi aku punya kesan nggak enak sama kodei (lepau) ini bang. Waktu kecil aku paling malas kalau disuruh mamak menjemput bapak supaya pulang dari kodei. Biasanya bapak kalau main catur bisa lupa waktu sampai larut malam. Nah, supaya bapak cepat pulang, pernah aku berbohong bilang ada tamu penting di rumah. Bapak sih nggak percaya, malah dia bilang: "tanggung ini, sudah mau skak mat". Eh malah ditawari segelas susu. Terpaksa dengan senang hati aku temanin bapak main catur. Akhirnya karena lama tak pulang2, mamak yang nyusul ke kodei sambil bawa pentungan. Jadi ribut deh, BORDAM nya kumat. he he he.

    ReplyDelete
  15. @anonimus: memang masih perlu diteliti apalah lagu lisoi itu yang membentuk citra lepau, atau lepau lah yang membentuk citra seperti yang dibayangkan pencipta lagu lisoi :-). Tapi ada satu kata tentang lepau: tak kenal maka tak sayang. Kalau pernah pergi ke lepau, persepsinya akan beda dengan orang yang sudah punya prejudice dulu sebelum pernah ke sana.

    @abet: aku terpaksa tertawa-tawa sendirian membaca ceritamu itu. membayangkan pak AS sedang bercatur, dan kau disampingnya minum susu, terpingkal-pingkal aku jadinya. Pendapatmu ini makin meyakinkan aku bahwa lepau adalah tempat yang baik untuk nongkrong. Buktinya kau pun jadinya ikutan minum di sana :-) Bahwa mamak datang bawa pentungan, yah, soal biasa lah itu untuk bordam. Ntar juga kalau dijelasin, dia bisa mengerti tentang pentingnya arti ekonomis dan budaya lepau....

    Membayangkan Sarimatondang tanpa lepau saja sudah mengerikan. Apalagi kalau membayangkan desa-desa kecil lainnya, seperti Jorlang Huluan, Gorak, dll. Coba, apa lagi yang menghidupkan desa-desa itu tanpa lepau? Jadi kita harus salut pada para entreperneur yang berani menanamkan uang bikin lepau. Bahwa ada eksesnya, yah.... sama2 kita pikirkan bagaimana cara mengatasinya...

    ah, jadi ngelantur aku. pokoknya, aku tetap akan tagih foto-foto sidamanik kalau kau punya.

    horas

    ReplyDelete
  16. Pohul-pohul selagi hangat, mak nyusss sekali. Apalagi kalau bersama teh manis yang legit. Lebih mak nyusss lagi

    ReplyDelete
  17. toho di roha, nanidok muna i marhite tulisan on.

    horas

    ReplyDelete
  18. Perbandingan yang menarik Pak, sepertinya antara Lepau SJ dan McD masing-masing memberikan sebuah experience bagi pelanggan. Experience yang konsisten tersebut selanjutnya menjadi sebuah asosiasi merk yang tertanam di persepsi pelanggannya. Nice posting

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...