Thursday, October 16, 2008

Bangga jadi Orang Sarimatondang di Upacara Wisuda STAN



Makin siang makin tumpah ruah saja orang bersiliweran. Lobi Jakarta Convention Center (JCC) tak ubahnya seperti pasar malam. Hari ini (14/10/08) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) mewisuda 2000-an lulusannya. Agaknya panitia sudah mengantisipasi berjubelnya hadirin. Itu sebabnya hanya satu pendamping saja yang bisa menyaksikan langsung seremoni itu di ruang konvensi utama. Lainnya, apa boleh buat. Harus rela duduk di sebuah hall yang tak kalah besar dan menyaksikan acara itu melalui layar lebar. Hall itu pun ternyata tak cukup untuk menampungnya.

Ribuan orang lagi berusaha menyamankan diri duduk bersila di lobi sambil memelototi televisi yang banyak dipajang di area itu. Sebagian berjalan ke sana kemari. Ada juga yang tiduran berbantalkan tas. Mungkin mereka adalah keluarga wisudawan yang baru tiba subuh tadi dari pelosok Jawa sono, dan kini setengah mengantuk menunggu seremoni itu usai. Yang lain lagi mengobrol ngalor ngidul. Anak-anak berlarian di atas lantai marmer yang mengilap. Beberapa ibu hilir-mudik naik-turun eskalator berkali-kali. Dugaan saya mereka diherankan oleh adanya tangga yang bisa berjalan sendiri. Dan, itu adalah hiburan yang menyenangkan di tengah lama dan panjangnya waktu menunggu acara usai.

Sebetulnya, diwisuda atau tidak, seorang mahasiswa yang telah lolos melewati ujian akhir sudah sah jadi sarjana. Tapi bagi orang tua dan sanak keluarga, seremoni wisuda itu lah klimaks dari perjuangan kuliah selama bertahun-tahun.

Alangkah berbunga-bunga hati dan pikiran, menyaksikan putra-putri itu mengenakan baju toga. Seakan punah dalam sekejap lelah-prihatin selama ini menyokong biaya dan tetek-bengek sekolah mereka. Dan karena itu semua orang dapat maklum jika masing-masing wisudawan tak cukup diantarkan oleh ayah-ibu. Bila perlu, Opung, Om, Tante, Tulang, Mbah, Eyang, Pak De, Oma, Opa, Enceng, Teteh, Uni, Nande, dan tetangga turut serta. Sebab ini adalah pesta. Siapa saja harus bersukacita.

JCC yang dulu dibangun untuk jadi ajang diplomasi berbagai kepala negara sewaktu KTT Non-Blok dilangsungkan di Jakarta, sontak saja terasa sesak oleh orang sebanyak itu. Kadang-kadang tampak berbagai momen unik oleh tingkah bapak dan ibu dengan wajah-wajah berkeringat tapi ceria. Seakan canggung tapi juga bangga di balik himpitan jas dan cekikan dasi, dibalut kebaya dan digandoli sanggul.

Berbahagia lah orang yang bisa mengikuti wisuda. Sebab seringkali peristiwa itu tak kan terulang lagi. Saya terkenang pada rasa ‘sesal’ almarhum Prof Dr.Umar Kayam, yang ia ceritakan dalam sebuah tulisannya di Koran Kedaulatan Rakyat. Sampai ia setua itu dengan gelar akademis berjenjang-jenjang, ia tak pernah merasakan bangganya memakai baju toga dalam keramaian wisuda.

Ketika ia meraih gelar sarjana mudanya di UGM di tahun 60-an, zaman masih susah. Baju toga belum musim. Hanya mahaguru yang mengenakannya. Giliran ketika ia menyelesaikan studi S2-nya di negeri Paman Sam, sewa toga di New York mencapai US$75 sekali pakai. Dan itu adalah harga yang sangat mahal buat seorang mahasiswa dengan beasiswa pas-pasan seperti dirinya, apalagi ia sudah berkeluarga ketika itu. Maka dia urungkan ikut wisuda.

Lalu ketika menyelesaikan studi doktoralnya –di Amerika Serikat juga—mestinya itu adalah saat yang pas baginya mengenakan baju toga wisuda. Tapi batal juga. Ia dan keluarga sudah sempat pulang ke Tanah Air ketika upacara wisuda diselenggarakan. (Dugaan saya, akhirnya beliau sempat juga mengenakan baju toga kala dikukuhkan jadi gurubesar. Tapi rasanya tentu lain, sebab ketika dikukuhkan jadi gurubesar dia seorang diri saja, tidak rame-rame berbaju toga-ria seperti saat-saat wisuda).

Maka ketika melihat ribuan wisudawan itu berbaris rapi menanti nama masing-masing dipanggilkan, maklum lah kita mengapa wajah-wajah mereka tetap sumringah walau antrian panjang untuk maju ke depan itu mungkin membuat kaki pegal dan kesemutan. Makna sebuah seremoni seringkali berbanding lurus dengan ‘derita fisik’ untuk melaluinya. Semakin lelah kaki berdiri semakin terasa berarti itu seremoni. Semakin tak kan bisa terlupa hingga ke ujung hayat.

()()()

Tiga hari sebelumnya Om Sidabutar menelepon. Dari rumah seorang kerabatnya, ia mengabarkan bahwa ia telah tiba di Jakarta. Dan kedatangannya kali ini untuk menghadiri wisuda salah seorang putrinya. Sang putri telah menamatkan studinya di STAN. “Kalau ada waktumu, datang lah kau ke Jakarta Convention Center. Di sana kita ketemu,” kata dia.

Om Sidabutar adalah teman sekampung di Sarimatondang. Ia masih tergolong kerabat. Tapi bukan hanya itu yang menjelaskan munculnya ‘rasa berhutang’ tiap kali berbicara dengan beliau. Di kampung halaman, Om Sidabutar adalah kolega ayah mengurusi adat dan gereja. Kadang-kadang mereka berdua suka juga bertukar-pikiran tentang ladang dan kebun. Kecuali itu, Om Sidabutar adalah guru SMA Negeri Sidamanik, tempat adik –adik saya dididik dan mengenalnya sebagai ‘Guru Matematika yang Antik.’ Dan di sekolah kita selalu diajari untuk ingat kepada siapa pun ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ kita.

Tetapi yang paling membuat rasa hormat ini tak putus-putusnya, adalah karena dulu ketika saya menikah, Om Sidabutar lah ‘Raja Parhata,’ kata lain dari pengarah acara untuk upacara adat perkawinan. Bersama dengan seorang Om Sidabutar lainnya, mereka berdua menjadi co-director yang serasi kala itu membuat semuanya lancar tanpa cacat yang berarti. Ayah selalu menekankan hal ini di tiap kesempatan, untuk jangan sekali-kali melupakan Raja Parhata perkawinan kita, sama halnya dengan petuahnya untuk selalu mengingat pendeta yang memberkati pernikahan kita. Memang tak ada ruginya menuruti petuah itu.

Maka dengan hati riang dan rasa hormat, diimbuhi oleh keinginan untuk bertemu dengan Om Sidabutar, pagi itu saya telah melarutkan diri dengan ribuan hadirin pada acara wisuda itu. Hari itu kebetulan saya agak senggang. Dan sudah lama sekali tak menghadiri wisuda siapa pun. Maka kesempatan ini saya pakai juga sebagai ‘wisata spiritual’ menjiarahi lagi masa wisuda ketika mahasiswa dulu.

Sambil menunggu acara seremoni itu usai, pilihan paling mengasyikkan adalah berjalan-jalan di lobi menelusup ke sana kemari di sela-sela berdesak-desakannya orang-orang. Om Sidabutar dan keluarga masih berada di ruang utama konvensi. Mereka pasti lah dengan khusyuk mengikuti upacara, sebab itu lah tujuan utama mereka bepergian dari Sarimatondang ke Jakarta.

Betapa berartinya memang wisuda terlihat dari wajah-wajah yang meramaikan JCC itu. Lihat lah ayah yang duduk di dekat toilet sana. Dengan sabar ia menyelonjorkan kaki. Keriput keningnya mengesankan ia kelelahan. Dengan mata kuyu kurang tidur karena kelamaan di perjalanan. Tetapi senyumnya ketika berbicara dengan pria di sampingnya, tak bisa tidak, memancarkan rasa lega, yang mungkin hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang mengalami bagaimana jungkir-baliknya membiayai sekolah anak-anak. Rambut hitam kelabunya membuat saya menduga ia mungkin petani paruh baya. Empat kancing paling atas kemeja batiknya ia biarkan terbuka, menyebabkan kaus oblong kecoklat-coklatan di dalamya terlihat jelas. Para petani memang sering berkeringat dan merasa kepanasan bila badannya ditutupi tekstil, bahkan ketika di ruang ber-AC seperti gedung ini.

Pemudi di pojok sana, saya lihat mematung dan seakan tidak berkedip mengikuti acara melalui layar televisi. Adakah ia sedang menunggu pujaan hatinya keluar dari ruang konvensi itu? Mungkinkah ia masih pacar berstatus setengah resmi, sehingga belum saatnya diperkenalkan kepada keluarga sang pujaan dan tidak turut diajak masuk? Tetapi wajahnya tampak bangga. Berseri-seri. Dan karangan bunga di tangannya itu, sedari tadi tak ia lepas-lepas. Ia jaga betul agar tetap dalam bentuknya yang paling prima. Mungkin kah untuk diserahkannya nanti kepada pria yang hari itu pasti gagah dengan baju toganya?

Lalu ketika tengah asyik menyimak acara wisuda itu melalui layar televisi, dan mendengar satu per satu nama wisudawan disebutkan, tiba-tiba di belakang saya terdengar percakapan dalam Bahasa Toba. Saya menoleh, ternyata seorang ibu paruh baya tengah mewanti-wanti ayahnya agar jangan kemana-mana. Si ibu hendak pergi sebentar, mencari anggota keluarga yang lain.

Tak bisa saya menahan diri untuk tak menyapa bapak berperawakan kurus itu. Ia ternyata bermarga Manurung. Ia sudah tampak uzur, tapi raganya masih prima. Tutur bahasanya sangat jelas. Matanya tajam dan pandangannya tampaknya masih jernih, terbukti ia bisa mengikuti acara wisuda itu lewat layar TV yang letaknya sebenarnya agak jauh. Yang membuat saya menahan senyum di kulum adalah jawabannya yang cepat dan cermat ketika saya menanyakan usianya. “Delapan puluh empat tahun, tiga bulan empat hari. Itu lah umur saya hari ini,” kata dia sambil menoleh ke arah saya, penuh kepuasan.

Dari ceritanya, saya jadi tahu bahwa ia sudah 24 tahun pensiun dari pekerjaannya sebagai guru SD di Porsea. Kedatangannya ke Jakarta kali ini adalah untuk menghadiri wisuda cucunya di JCC itu. Lucunya, ia tidak sehafal usianya ketika saya bertanya, dari anaknya yang ke berapakah cucunya itu. “Sebentar,” katanya, sambil menghitung dengan menggunakan bantuan jari-jarinya. Setelah ia menyebut satu per satu nama anaknya, baru lah ia yakin akan jawabannya. “Cucu saya yang diwisuda hari ini adalah anak dari putri saya nomor lima,” kata dia sambil tertawa, memperlihatkan hanya beberapa saja giginya yang sudah copot. Keseluruhan anaknya berjumlah 10 orang. Yang sulung berada di Medan. “Dia ketua PPRN Sumatera Utara,” kata dia, dengan senyum lebih bangga lagi. Saya tidak tertarik bertanya kepanjangan dari apakah PPRN itu. Pasti lah itu partai politik, bukan?

Lalu di ruang berkaca yang khusus tempat orang-orang merokok, saya menemukan pria dengan hem batik hijau bercorak hitam. Umurnya mungkin 60-an. Tangan kirinya seakan demikian kencangnya memegang tas hias berwarna krem, cinderamata bagi para wisudawan. Bapak itu tersenyum dengan ramah ketika saya meminjam mancisnya. Dari mengobrol dengan dia akhirnya saya tahu ia datang dari sebuah desa kira-kira satu jam perjalanan dari Surabaya. Ia tadi ada di dalam ruangan upacara, tetapi karena tidak betah, ia keluar untuk merokok. Anaknya yang diwisuda hari itu adalah yang nomor lima dari enam bersaudara. Katanya, anak itu dulunya bengal ketika masih di SMA, tapi herannya bisa sedemikian takutnya terkena DO sehingga jadi ‘kutu buku’ semenjak sekolah di STAN.

“Saya yang bersikeras untuk datang menghadiri wisuda ini. Kalau anak saya itu, sudah bilang dari kemarin-kemarin, agar saya tak usah hadir, menghabis-habiskan ongkos saja. Toh nanti juga ada foto-foto wisuda,” kata pria itu bercerita tentang perbincangan dengan anaknya. Tapi cara berpikir orang tua memang lain. Dan si ayah itu lebih menuruti kata hatinya ketimbang mendengar kata anaknya. “Mungkin saja cara berpikir dia sudah seperti akuntan. Apa-apa dihitung. Apa-apa dihemat. Tapi tetap saja, saya harus lihat bagaimana dia diwisuda. Biar harus berimpit-impit di atas kereta, harus dilakoni untuk sampai di Jakarta ini. Jangan sampai saya menyesal nanti dan dia juga,” kata si Bapak.

Saya tertawa, tetapi mata saya berkaca-kaca. Saya ingat diri saya tempo hari beberapa minggu menjelang hari wisuda. Ketika ayah berkirim surat dan mengabari bahwa mereka akan datang dari Sarimatondang untuk menghadiri wisuda saya di Bandung, pendirian saya persis seperti anak si Bapak itu. Saya membalas surat ayah dengan mengatakan tak usah memaksakan diri untuk datang bila harus berutang ke sana kemari. Toh yang terpenting saya sudah lulus. Sudah mengantongi ijazah. Dan foto-foto wisuda kelak bisa dikirimkan.

Tetapi di hari H wisuda, ketika melihat ayah dan ibu tak bosan-bosannya mengapit saya untuk difoto berulang-ulang di pelataran aula yang riuh rendah itu, di dalam hati saya tak berhenti bersyukur. Saya mungkin akan menyesal seumur hidup seandainya mereka menuruti saran saya untuk tak datang ke acara wisuda. Lihat lah. Senyum mereka berdua, dengan mengenakan jas dan kebaya yang merepotkan itu. Seolah-olah mereka kembali jadi pengantin baru lagi. Terpingkal-pingkal ke sana kemari. Saling ledek dan saling cemooh keudikan dan kenorakan mereka sebagai orang van Sarimatondang. Dan memperlakukan saya anaknya ini seperti bayi lagi, yang patut dijadikan objek foto berulang-ulang. Seandainya mereka masih punya tenaga, mungkin mereka akan menggendong saya ke sana kemari, memamerkan kepada orang-orang betapa penantian yang telah lama itu kini terbayarkan sudah.

()()()

Dan akhirnya saya bertemu juga dengan Om Sidabutar. Bertemu dengan istrinya, anak-anaknya dan beberapa kerabat yang ikut menghantar mereka. Om Sidabutar tak banyak berubah saya lihat, masih tetap semuda ketika ia masih jadi Raja Parhata di hajatan perkawinan saya tempo hari. Badannya ramping dengan setelan jas yang tak kalah dengan Tantowi Yahya. Guru dimana pun memang adalah contoh yang layak ditiru dalam soal selera kerapihan berbusana.

Kami mengobrol ngalor-ngidul, tentang kampung halaman, tentang kawan-kawan sekampung, tentang perjalanan mereka dari Sarimatondang hingga tiba di Jakarta ini, tapi pikiran saya sebenarnya tak sepenuhnya pada pembicaraan kami. Dari tadi saya sudah tak henti-hentinya terharu dengan dada serasa penuh, membayangkan betapa melelahkannya perjuangan Om Sidabutar dan keluarga. Dan menyaksikan mereka menikmati kemeriahan wisuda itu, siapa yang tak ikut terharu dan berbagi kebahagiaan yang sama?

Dari ayah di kampung saya mendapat kabar bahwa beberapa bulan sebelumnya Om Sidabutar dan istrinya terbang ke Yogyakarta untuk menghadiri wisuda putra sulungnya yang menamatkan studi di UGM. Tak lama kemudian, salah seorang lagi putrinya diterima di Fakultas Teknik PTN ternama di Jakarta ini. Putrinya yang lain, ‘menjadi’ penjaga gawang di Sumatera Utara dan ingin meneruskan karier orang tuanya dengan mengambil kuliah di Unimed, Medan. Semua itu pasti butuh biaya besar. Apalagi bila membayangkan penghasilan pasangan suami-istri itu sebagai guru.

Tapi rupanya akan selalu ada keajaiban-keajaiban kecil bagi siapa saja yang dengan tekun dan yakin pada keajaiban itu. Senyum Om Sidabutar siang itu juga adalah keajaiban yang memancarkan sukacita. Molo hepeng nasinari do i, kata dia, yang secara tersirat kira-kira berarti uang bisa dicari tapi keberhasilan harus lah melalui perjuangan jatuh bangun. Dan karena yakin bahwa keberhasilan akan tercapai dengan memberi pendidikan yang baik kepada anak-anaknya, maka di Sarimatondang kampung halaman kami itu tak pernah ada kerabat yang menutup pintu bagi siapa pun yang tengah terdesak membiayai sekolah putra-putrinya. Selalu ada sumber. Selalu ada jalan. Menyebabkan tak ada cerita orang pintar putus sekolah karena ketiadaan biaya. Securam apa pun gunung, setinggi apa pun pohon, akan kudaki. Begitu bunyi sebuah syair lagu Batak, menggambarkan semangat pantang menyerah. Dan menyekolahkan anak adalah sumber semangat yang tak pernah putus bagi sebagian besar orang Batak.

Kebahagiaan Om Sidabutar hari itu makin lengkap manakala saya melihat daftar ranking lulusan STAN dengan spesialisasi akuntansi. Putri Om Sidabutar (namanya Misnilawaty) berada di ranking 31 dari lebih 700 wisudawan. Predikat kelulusannya ‘Terpuji’ yang merupakan predikat tertinggi di atas Memuaskan dan Sangat Memuaskan. Diantara orang-orang Batak yang jadi wisudawan hari itu (saya sempat mencatatnya, lihat daftar sesudah tulisan ini) dia lah yang mencatat ranking kedua tertinggi, yang membuat dada saya berdegup kencang ketika berdesak-desakan memelototi papan pengumuman di lobi JCC itu. Dalam hati saya berkata, betapa bangganya saya jadi orang Sarimatondang hari ini dan akan saya kabari hal ini kepada siapa saja meskipun mungkin orang tak begitu peduli.

Ya, betapa tidak. Bagaimana pun kecilnya Sarimatondang kampung halaman kami itu, yang sering kali lupa dicatatkan di peta, yang jalannya masih acap dibiarkan berlubang-lubang, yang orang-orangnya masih udik dan norak juga, yang masih belum bisa membedakan mana roti dan mana kue, yang sering diledek sebagai orang Siantar coret karena mengaku-ngaku sebagai orang Siantar tapi letak desa itu sesungguhnya masih jauh dari perbatasan kota, tapi lihat lah. Dalam kecilnya dia, dalam norak dan udiknya dia, Sarimatondang selalu bisa membuat kami-kami bangga, seperti hari ini. Ketika ia telah memunculkan seorang lady, putri Om Sidabutar itu, menjadi salah satu wisudawan perempuan Batak paling pintar hari itu. (Seorang lagi bernama Soupani Indra Nasution. Ia ranking 21, lihat daftar di bawah tulisan ini).

Om Sidabutar tampak biasa-biasa saja menanggapi pencapaian putrinya. Bahkan ia mungkin mengharapkan lebih dari itu. Sebab sebagai guru tampaknya ia memang tahu kemampuan putrinya. Yang trengginas. Yang sedari remaja sudah dididik hidup mandiri. Sejak SMA sudah dibiarkan ‘merantau’ bersekolah di Sibolga, kota sejauh lima jam perjalanan dari Sarimatondang. Dan ketika kemudian ‘menyeberang’ ke pulau Jawa, putrinya itu pun diberangkatkan sendirian hanya berbekal ‘pesan’ untuk dititipkan kepada kerabat. Sang putri bahkan sempat pula menempuh studi di Fakultas Kedokteran Undip Semarang tetapi oleh pertimbangan ekonomi memilih kuliah di STAN.

Dan kini, betapa bangganya orang Sarimatondang punya bintang STAN seperti dia…..

()()()

Pukul empat sore upacara wisuda itu baru usai. Berbondong-bondong para wisudawan melangkah meninggalkan JCC, diikuti oleh rombongan keluarga masing-masing. Beberapa masih sibuk berfoto. Yang lain ada juga yang sudah melepas baju toga. Satu dua pemuda dengan mesra digelendoti kekasih masing-masing, sementara para orang tua tampaknya berusaha mengerti akan kehadiran ‘tamu-tamu’ istimewa di luar ‘kerabat resmi’ itu.

Sambil saya ikut melangkahkan kaki meninggalkan arena, dan berpamitan kepada Om Sidabutar dan keluarga, sesekilas seperti tergambar kenangan demi kenangan di Sarimatondang. Satu dua hari ini keluarga itu akan meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampung halaman. Di sana mereka akan kembali ke rutinitas mereka sebagai guru merangkap petani merangkap pengurus gereja merangkap aktivis adat. Dan pasti lah handai tolan serta para tetangga mengerubungi mereka, bertanya ini-itu dan berbagi kebahagiaan yang sama. Dan saya hampir pasti, perjalanan ulang-alik Sarimatondang-Jakarta itu itu masih akan terjadi lagi dan terjadi lagi dan terjadi lagi, menular kepada banyak keluarga lainnya di Sarimatondang, seperti yang juga sudah ditularkan keluarga lain sebelum mereka. Bahwa di hari-hari ke depan, masih akan banyak lagi keluarga-keluarga seperti Om Sidabutar, yang datang dari Sarimatondang ke berbagai kota-kota di seantero Indonesia dan dunia –ke Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Bali, Ujung Pandang, Manado, Jayapura bahkan ke Manila, New Delhi dan Pittsburgh-- untuk hadir dan menikmati kebahagiaan menyaksikan putra-putri mereka berbaju toga.

Ah, udik-udik begitu, Sarimatondang kok selalu ngangenin ya…..

--selesai—

NB: untuk Bapatua Sidabutar dan Inangtua. Jangan marah ya saya menulis ini tanpa minta izin.


ORANG BATAK WISUDAWAN STAN

PROGRAM D III, SPESIALISASI AKUNTANSI 2009

(Nama/Ranking/Predikat Kelulusan)

Soupani Andri Nasution, 21, Terpuji

Misnilawaty Sidabutar, 31, Terpuji

Riki Apandi Damanik,602, Sangat Memuaskan (SM)

Parulian Saragih, 490, SM

Martin Toyota Lubis, 377, SM

Benny Tibestri Siallagan, 658, SM

Jonathan Hutagalung, 210, SM

Ikhwan Muslim NST, 234, SM

Hubert Sijabat, 652, SM

Devi Marni Simanjuntak, 255, SM

Nicholas Lumban Tobing, 425, SM

Ali Amran Hasibuan, 298, SM

Andreas Christian Tarigan, 607,SM

Daniel Hamonangan Rajagukguk, 85, SM

Daniel Siburian, 731, SM

Indayanita Susia Situmeang, 566, SM

Rony Alfredo Rumapea, 509, SM

Paskainus Simorangkir, 585, SM

Andika Siahaan, 670, SM

Basten Parulian, 743, SM

Joustar Margogo Harapan, 512, SM

Aldry Maralus Pangidoan Tambunan, 697, SM

Anggiat Firman Basarma Panggabean, 429, SM

Doli Indra Marito Harahap, 678, Memuaskan (M)

Elizabeth Sinaga, 236, SM

Hary Gok Tua Purba, 333, SM

Sudarman Damanik, 547, SM

News Tarigan, 427, SM

Lilian Margareth Sihombing, 588, SM

Mhd Yovanka Putra Nst, 368, SM

Desi Anita Nasution, 59, SM

Edi Indra Damanik, 311 SM

Hanes Ashar Sirait, 720, M

Rocky Paruhum Siahaan, 525, SM

Uli Tua Simorangkir, 289, SM

sumber: papan pengumuman wisuda STAN, diolah

27 comments:

  1. Anonymous11:00 PM

    MANTAP SARIMATONDANG!! HIDUP PARSARIMATONDANG. MANTAPKAN TERUS ANAKHONHI DO HAMORAON DI AU!!!

    AKU JUGA ADA KOK DI ACARA WISUDA ITU, TAPI KOK KITA TAK KETEMU YA TULANG? TELATEN KALI TULANG MENCATAT NAMA WISUDAWAN BATAK ITU BAH. AKU PUN MELIHAT PAPAN PENGUMUMAN ITU, TAPI TAK TERPIKIR MENCATATNYA! YANG TERPIKIR CUMA MENCATAT NOMOR DAN RANKING SI PARIBAN :-). SALUT LAH. DAFTAR INI BISA JADI DATABASE SUATU SAAT NANTI. TERUTAMA KALAU DEKAT_DEKAT NATAL, MAU KIRIM PROPOSAL MINTA SUMBANGAN, HEHEHE. SALUT TULANG

    TULUS LT

    ReplyDelete
  2. @Tulus LT: Memang rame kali wisuda itu. Jangankan yang belum kenal, yang sudah saling kenal pun bisa-bisa tidak saling ketemu karena begitu ramainya. Hehehe. Wisudawan-wisudawan ini kita doakan supaya kelak jadi pemimpin2 hebat. Ngomong-ngomong, boru apa rupanya pariban mu itu?:-)
    Dan kenapa pula panggil tulang sama aku?

    Terimakasih sudah mampir ke sini ya...
    Horas

    ReplyDelete
  3. Anonymous8:11 PM

    Mantap kali si Oppung itu. Umur 84 tahun 3 bulan 4 hari. Masih bisa nggak kita seperti dia ya?

    ReplyDelete
  4. Anonymous8:15 PM

    Kang papa amartya, predikat terpuji itu baru ya? Kalau dulu di zaman kita-kita kan Memuaskan, Sangat Memuaskan sama Cum Laude. Sekarang ada lagi Terpuji ya....

    Selamat, selamat, selamat untuk orang Sarimatondang.
    (Sambil terus penasaran membayangkan dimana itu Sarimatondang. Abisnya, Titin belum pernah ke Sumantra....hehehe)

    titin

    ReplyDelete
  5. hiks, aku sampe nangis nih.... secara nyokap udah gak ada waktu ku di wisuda.

    ReplyDelete
  6. @anonimus: kalau mau, bisa. syaratnya: jangan merokok, disiplin bekerja, rajin mencangkul ke ladang, dan bermukim lah di porsea atau di sarimatondang :-)

    @titin: gampang kok kalau mau ke sarimatondang. dari medan ke siantar dulu. trus, ambil arah jalan menuju parapat. nanti akan tiba di sebuah pom bensin (legendaris) di simpang simarimbun. kalau ke kiri itu ke parapat (atau ke tigabalata). ke kanan, itu lah ke sarimatondang. sudah nggak jauh, paling 20 km lagi.

    kalau masih nyasar, sebut nama saya tiga kali. pasti tambah nyasar lagi....hehehe

    @siska pintasani: mmmmm, kadang-kadang kita perlu sedih dan nangis kok. biar ada sirkulasi air mata (hahahaha, hoax banget nih). tapi serius. ada pakar yang berpendapat, menangis adalah salah satu cara untuk menyeimbangkan hidup, ada pernah sy tulis di artikel 'kapan anda pernah menangis 2.' terimakasih sudah berkunjung ya...

    ReplyDelete
  7. @siska pintasani: eh, sorry, judul tulisan sy yg sy sebutkan sebelumnya, salah. yg benar: kapan anda terakhir kali menangis 2.

    sorry.

    ReplyDelete
  8. Anonymous1:13 AM

    Kita doakan semoga setelah jadi pejabat, mereka tetap ingat bahwa sebagian besar fasilitas yang mereka nikmatin adalah uang negara. Kalau mereka jadi pemimpin tetap ingat kalau mereka datang dari kampung-kampung yang jauh dan masih banyak yang membutuhkan. Jangan setelah sukses jadi pasien KPK pula.....

    ReplyDelete
  9. @anonimus: Setuju! Tapi kita juga harus fair. Mereka masuk STAN karena mereka lolos dari ujian seleksi, jadi layak lah kalau mereka menikmati fasilitas tsb. Yg repot adalah orang masuk ke sekolah negeri yang bermutu karena tenaga 'uang.' Dan itu yang sekarang terjadi dengan adanya macam-macam 'jalur khusus' di luar sipenmaru zaman kami dulu hehehe

    ReplyDelete
  10. Hebat hebat hebat...
    Semoga akan semakin banyak lagi orang2 Sarimatondang yang bisa jadi sumber inspirasi bagi adek2 kita yang sedang menuntut ilmu?
    Sekali sekali abang tulis jugalah tentang kiat sukses jadi perantau, supaya adek2 kita tidak jadi penjaga gawang saja di kampung itu. Kalau di kampung sambil bekerja sih tak apa2, kalau jadi beban ortu?? macam mana pulak?

    Salam hangat,
    Juli Abet Simbolon
    Batam Island

    ReplyDelete
  11. @abet: amin,amin,amin. filosofi blog ini sebenarnya menginginkan agar pembaca juga membaca yang tersirat, reading the unwritten words. jadi perihal adek-adek yang di kampung, semoga terinspirasi. tidak perlu pula kita padukkar-dukkar sidangolon, bertambah ruwet nanti pikiran mereka. hehehe.

    btw: kalau punya foto-foto sidamanik, suasana kebun teh, ladang, kebun, pokkan dll, tolong kirimi aku via email ya....

    ReplyDelete
  12. Wisuda memang selalu tak bisa terlupakan... Tapi dengan tulisan ini makin rindu aku pulang....

    ReplyDelete
  13. Selamat ya.... Horas. Ikut bangga lah kita-kita, sesama orang yang dilahirkan dari pelosok. Horas.

    ReplyDelete
  14. Bagus juga lae bikin daftar ini. Jadi inspirasi buat adek-adek kita.

    ReplyDelete
  15. Senang campur sebal kalau ingat wisuda. Baju togaku dulu ketinggalan di tempat kos karena buru-buru pulang ke rumah babe. Dan sampe sekarang sudah gak tahu dimana hiks.

    ReplyDelete
  16. Ups, ketawa dalam hati aku mendengar jawaban si Opung. Ketawa terbahak-bahak kalau membayangkan ibu-ibu naik eskalator berulang-ulang. Jadi ingat mamak waktu ke Jakarta. Takut kali naik eskalator. Hahahaha

    ReplyDelete
  17. @anggir na tonggi: wah, pulang kemana rupanya? boleh titip ole-ole nggak... hehehe. trims sudah berkunjung.
    @riama pardosi: trims, ito.
    @lagu-lagu yang tak pernah berlalu: ah, sekadar iseng aja kok bikin daftar itu. jangan terlalu dipandang serius.
    @john: bung tidak sendirian mengalami hal menyebalkan tentang baju toga. ada teman, baju toga-nya terpaksa dilego karena harus bayar utang di warung dekat kampus...hehehe
    @ups: hahahaha. kadang-kadang eskalator memang bikin senewen. kadang-kadang terpaksa harus buka sepatu hak tinggi, baru berani melangkahkan kaki, dan kain panjangnya diangkat pula. daga daga, memang serba salah eskalator itu bah....

    ReplyDelete
  18. Lagi browsing Simarjarungjung, eh ketemu blog ini. Seru juga ceritanya. Aku langsung link tulang. Horas...

    ReplyDelete
  19. Anonymous12:20 AM

    it is great,,,,,,,,,

    love you dad
    love you mom
    luve you bro'
    love you sist'

    doain noni juga ya bang,,,,,,,,,,,,,

    ReplyDelete
  20. @simarjarunjung: horas, panogolan (ups, sok jadi tulang nih).silakan... horas.

    @noni: yang ini pasti noni sidabutar kan? jangan mau kalah sama kakakmu ya. kita doain, pasti. salam sama patua dan nangtua ya....

    ReplyDelete
  21. Koq aku ikut berkaca-kaca ya ito membacanya. Aku bisalah merasakan perasaan bangga orangtua saat anaknya wisuda. Jadi ingat wajah papi saya waktu saya di wisuda, saya tau dia sangat bangga pada saya. Thanks tulisannya membuat saya kembali ke masa lalu. GBU

    ReplyDelete
  22. @duma nababan: trims utk kunjungannya. salut utk jogi dengan les pianonya.

    ReplyDelete
  23. aduh, ito, aku juga jadi ikut berkaca-kaca nih. ingat semua-semuanya waktu diwisuda. jadi kangen pulang ini ito.

    ReplyDelete
  24. thx postingannya... baru saya tau kalau sarimatondang adalah nama kota bukan nama gadis cantik....

    ReplyDelete
  25. Sebagai teman si Misni, dan sama-sama lulusan STAN. Bangga kali pun aku Mis melihatmu lulus terpuji, sukses dalam dunia pekerjaan juga ya.

    ReplyDelete
  26. Babang1:46 AM

    hi hi siapun moderator blog ini.
    Saya anak Sarimantondang juga =)

    Salam ya....


    Babang

    ReplyDelete
  27. Misnilawaty Sidabutar11:48 PM

    Hehe.... sepertinya ada namaku disebut-sebut di tulisan ini.. Makasih untuk tulisannya bang, bagus bgt.. Semakin bersyukur untuk bapak & mamak yang walau udik tapi hebat...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...