Monday, October 27, 2008

Pelajaran dari Pelajaran Mengarang


Lonceng tanda usainya masa istirahat pertama telah berdentang sejak beberapa menit lalu. Kini, dengan peluh yang belum sepenuhnya kering sehabis main bola tadi, kami duduk di tempat masing-masing. Di atas meja, di hadapan, buku tulis kosong yang terbuka lebar seakan menantang untuk diisi. Bu Guru mulai mondar-mandir di lorong barisan bangku dengan pandangannya yang mengawasi. Pelajaran Mengarang hari ini memasuki bagian yang penting. Yakni mengarang bebas.

Hari dan tanggalnya tak lagi ingat persis, tapi tahunnya saya masih sangat pasti: 1974. Kami baru beberapa bulan duduk di kelas III SD dan jangan ditanya betapa bangganya hati ini. Sebenarnya hanya berpindah satu ruangan dari ruangan sebelumnya, tapi naik ke kelas III terasa istimewa. Sebab, sejak saat itu kami benar-benar sudah mempunyai hak dan kewajiban penuh sebagai murid. Kami sudah diperbolehkan menulis dengan tinta, tak lagi dengan pinsil. Jadwal pelajaran (kami menyebutnya roster) pun sudah full, sehari penuh, tidak seperti anak-anak kelas I dan II, yang masing-masing hanya belajar setengah hari dengan ruangan yang dipakai bergantian. .Duduk di kelas III juga berarti pintu masuk ‘kelompok elit’ di sekolah ini. Sejak kelas III lah murid SD diperbolehkan (baca:diwajibkan) ikut upacara bendera setiap Senin, dan bagi kami itu sebuah prestise. Itu berarti kita sudah harus mengenakan seragam putih-putih, tidak seperti anak-anak kelas I dan II yang masih berpakaian bebas, sesuka-suka mamaknya. Selain itu, hanya murid kelas III ke atas pula yang turut dalam pawai perayaan 17 Agustusan, yang berarti kesempatan memperoleh uang jajan ekstra. Hebat, kan?

Pelajaran Mengarang kali ini membuat suasana demikian senyap. Rupanya tiap orang dari kami berpikir keras. Dan itu cukup untuk mengubah ruang kelas jadi tampak lebih serius dan mencekam. Biasanya, di siang yang tanggung begini, dindingnya yang terbuat dari papan sering menyediakan hiburan, dalam bentuk bunyi bum bum tek bum bum dug lewat pukulan mau pun hentakan tangan dan belebas satu dua murid yang menyimpan cita-cita terpendam jadi drummer. Tapi kali ini tampaknya tak ada yang berselera melampiaskan hobi hingar-bingar itu. Semua hanyut dalam pikiran masing-masing.

Dinding kelas kami sebetulnya tak sepenuhnya ditutup papan kayu. Seperempat di bagian paling atas dibiarkan lowong, menyebabkan angin (dan kadang-kadang, tempias hujan) bebas menerobos masuk. Kalau kami lagi jenuh, ada saja alasan untuk naik ke atas kursi atau meja, dan melongok ke luar lewat dinding yang melompong itu. Di lapangan depan sering ada latihan baris-berbaris, atau anak-anak kelas VI bermain kasti. Pasti lah tanpa sadar kami turut berteriak-teriak histeris seperti fans Manchester United bila bemain di kandang sendiri. Anehnya, dalam Pelajaran Mengarang kali ini, kami tak termakan oleh godaan di luar kelas itu. Pelajaran kali ini seakan menghipnotis.

Jika siang telah demikian matangnya, dan matahari sudah persis di atas kepala, lobang-lobang pada atap seng jadi jalan masuk bagi cahaya. Sinar yang tajam lurus itu kadang-kadang hinggap pada rambut anak-anak putri di depan tempat kita duduk. Bila mereka bergerak, cahaya itu akan menimbulkan efek berkilau pada pita warna-warni yang bertengger di kepala mereka. Itu akan jadi hiburan yang manis di kala perut sudah mulai keroncongan. Sayangnya, itu tak lucu lagi saat ini bagi kami yang tengah terperangkap dalam tahap yang demikian genting pada Pelajaran Mengarang.

Ya, kami memang sedang dalam konsentrasi 1000 (ya, seribu, bukan seratus) persen. Pelajaran Mengarang ini terasa lebih gawat dan menguras energi karena tadi di awal pelajaran, Bu Guru telah mengeluarkan ‘fatwa’ yang aneh tapi nyata. Fatwa itu samasekali telah mengubah medan percaturan karang-mengarang, yang sebelumnya kami anggap merupakan pelajaran cetek bin gampang. Dengan ketegasan penuh dan tak mau diganggu gugat, tadi Bu Guru telah mengeluarkan hak veto-nya, bahwa dalam tugas mengarang kali ini tak diperbolehkan memulai cerita dengan kata-kata, “Pada Suatu Hari……

Ini tak pernah kami duga sebelumnya. Bagaimana tidak. Selama ini tugas mengarang tak pernah jadi masalah. Banyak hal bisa diceritakan. Dan semuanya akan berjalan demikian mulusnya lewat kalimat pembuka, “Pada suatu hari…..” Tak terhitung sudah berapa banyak cerita pernah lahir di kelas ini sejak dahulu kala –paling tidak bila mendengar pengalaman kakak-kakak kelas—dengan kalimat pembuka “Pada suatu hari…..” itu. Di rumah kala menjelang tidur, kami kanak-kanak bahkan menjadikan karang-mengarang sebagai cara untuk bisa cepat memejamkan mata. Dan semua cerita rekaan mau pun benaran akan kami mulai dengan “Pada suatu hari…...” Entah itu “Pada suatu hari, seorang kakek sedang berjalan-jalan di pasar….,” atau, “Pada suatu hari, seekor rusa sedang merumput di tepi hutan…..” atau, “Pada suatu hari, ibu menangis sehabis mencuci piring……” atau, “Pada suatu hari hujan turun dengan lebatnya dan pohon-pohon bertumbangan…..” Pokoknya apa pun cerita bisa mengalir bila ada si “Pada suatu hari….

Kini kebebasan itu seakan tercerabut. Otak jadi macet. Di dalam pikiran memang tertimbun beraneka cerita. Namun lucunya –eh, lebih tepatnya, malangnya—semua jadi mandeg seperti terminal Pulo Gadung di musim mudik. Hilangnya si “Pada suatu hari …..” benar-benar jadi malapetaka. Sudah beberapa menit berlalu tetapi lembaran kosong di hadapan masih juga kosong melompong. Tengok kiri dan kanan, idem dito. Kawan-kawan yang lain agaknya juga menghadapi soal serupa. Mendadak beku dengan diembargo-nya si "Pada suatu hari……

Tapi entah bagaimana mulanya, diantara kami anak-anak kampung itu ada juga ternyata yang dilahirkan sebagai ‘jenius.’ Setelah beberapa menit berlalu, dari belakang tempat duduk, saya mendengar suara berbisik-bisik. Saya menoleh dan dua kawan di sana tampaknya sudah tersenyum-senyum, sambil menulis dengan lancarnya. Ah, kelihatannya mereka telah berhasil menembus kebuntuan. Tanpa malu-malu saya mendorongkan muka melihat kertas di hadapan mereka. Dua-tiga paragraf telah terisi. Wow. Apakah mereka sudah menemukan pengganti si “Pada suatu hari….” itu? Saya melongok lebih dekat lagi. Yup, tak salah lagi. Di atas kertas-kertas buku tulis mereka terlihat lah oleh saya, karangan yang kalimat awalnya bukan lagi “Pada suatu hari…..” melainkan….”Pada suatu ketika……

“Aha,” kata saya dalam hati, seperti menyaksikan Newton yang menemukan sesuatu dari jatuhnya buah apel. Memang jenius lah kawan itu. Dia temukan juga akhirnya pengganti “Pada suatu hari….” yang sakti itu. Saya tentu tak mau ketinggalan. Dengan cepat dan yakin, saya mulai mengisi kertas putih di hadapan dengan kalimat pembuka mengikuti temuan jenius itu: “Pada suatu ketika……” Alangkah terasa leganya hati, seperti baru saja melihat secercah cahaya di ujung sana selepas melintasi terowongan gelap nan panjang.

Ajaibnya, ternyata tak cuma satu-dua murid yang berpikiran begitu. Lebih dari setengah karangan pada hari itu dimulai dengan kata, “Pada suatu ketika…..” Entah bagaimana reaksi Bu Guru nanti ketika menemukan murid-muridnya melakukan ‘akrobat kata-kata’ dari “Pada suatu hari….” menjadi “Pada suatu ketika…..”

()()()

Diakui atau tidak, manusia suka sekali dengan kepastian. Karena itu lah orang selalu gandrung dengan rumus, resep, taktik, strategi dan berbagai alat untuk menciptakan kepastian itu. Sayangnya hidup seringkali bertolak-belakang dengan kepastian. Kenyataan terdiri dari banyak sekali kerumitan-kerumitan yang tak dapat dikerangkeng menjadi rumus atau resep.

Mengapa tontonan olah raga bisa mendatangkan antusiasme yang demikian tinggi dimana saja di belahan dunia ini? Jawabnya: karena dengan tontonan itu lah manusia bisa melarikan diri sejenak dari hidup yang penuh ketidakpastian. Di pentas olah raga paling tidak ada banyak hal yang sudah jelas: aturannya pasti. Dalam sepak bola, misalnya, tim yang memasukkan bola paling banyak ke gawang lawan, dia lah yang menang. Jumlah pemain harus 11. Tidak boleh memainkan bola dengan tangan, kecuali kiper. Dan seterusnya dan seterusnya. Pada olah raga lari, lebih sederhana lagi. Siapa paling cepat tiba di garis finish, dia lah yang menang. Dengan menonton dan jadi fans sebuah tim olah raga, kita sejenak terlupa dari berbagai ketidaklogisan mau pun kesemrawutan logika dalam hidup. “Sports offers us a momentary escape from the inconclusive struggles of daily life into an ordered world with well defined rules, clear cut winners and losers and certifiable heroes and heroines,” kata Harry H Crosby dan Duncan A Carter dalam buku mereka, The Committed Writes, Mastering Nonfiction Genres.

Karena terobsesi untuk menundukkan ketidakpastian, manusia tak jera-jeranya berikhtiar menemukan resep yang manjur untuk menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Manusia memang sadar bahwa hidup sudah pasti tidak sesempit pesta olah raga. Hidup lebih luas dan lebih rumit dari itu, namun manusia tiada henti ingin menjaringnya dalam aksioma-aksioma. Ironisnya, itu kemudian menenggelamkan manusia dalam proses reduksi yang tiada berkesudahan. Paling tidak, begitu lah pendapat Milan Kundera. Di zaman permulaan era modern, kata Kundera dalam Art of Novel, dunia dan manusia lambat laun dikerdilkan menjadi objek teknis dan matematis belaka sehingga ilmu pengetahuan mendorong manusia masuk ke terowongan spesialisasi disiplin. Dengan begitu perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan manusia tidak bisa melihat dunia lain secara penuh, termasuk diri mereka sendiri. Manusia, kata Kundera, menjadi alat belaka kekuasaan (teknologi, politik, sejarah) yang telah melampaui dan memiliki manusia itu sendiri. Bagi kekuasaan, manusia hanya diperhitungkan sebagai manusia konkret, bukan sebagai ‘kehidupan’ dengan beribu bahkan berjuta kemungkinan di dalamnya.

Untungnya –kalau boleh mengatakannya demikian—manusia masih punya para pengarang dan dunianya, atau ‘Novel’ dalam kata-kata Kundera. Di antara tekanan proses reduksi yang gila-gilaan itu, masih ada para pengarang yang menghidupkan dan menjaga manusia agar tidak terasing dari spirit hidup hakikinya yang kompleks, walau harus diakui mereka selalu dalam ketegangan berhadapan dengan ancaman pereduksian itu. Novel, kata Kundera, dengan setia dan terus-menerus menemani manusia sejak awal era modern. Novel hadir untuk meneliti dengan cermat kehidupan konkret manusia dan melindunginya dari “pelupaan atas mengada.” Satu-satunya raison d’etre dari sebuah Novel, kata Kundera, adalah untuk menemukan apa yang hanya dapat ditemukan oleh Novel tersebut. Dengan kata lain, Novel mempertemukan manusia dengan dirinya, yang tidak dapat ditemukannya melalui hal lain.

Spirit Novel adalah menerima dan mengakui kekompleks-an itu apa adanya. Menurut Kundera, setiap Novel mengatakan kepada pembacanya, “Mahluk adalah tidak sesederhana yang kamu pikirkan.” Kalau orang Jawa percaya dengan kearifan yang berkata manungso tan keno kiniro, manusia tak dapat diduga, lewat Novel lah kearifan itu dapat dihadirkan dan dihidupkan dengan jelas. Bahkan itu lah, menurut Kundera, kebenaran abadi Novel. Berbeda dengan filsafat, Novel dengan cara dan logikanya sendiri menemukan berbagai dimensi eksistensi yang telah banyak diabaikan oleh peradaban. Melalui Novel manusia mengeksplorasi dirinya ke sudut-sudut yang sangat dalam, yang bahkan tidak pernah terbayangkan dan oleh pendekatan lain tak mungkin dapat terhantarkan.

Kata Kundera, “Semua novel di setiap masa, berpusat pada teka-teki diri. Segera setelah sosok imajiner tercipta dalam novel, secara otomatis ia akan berhadapan dengan pertanyaan: apa itu diri dan bagaimana diri bisa terpahami?.... Manusia berharap untuk menyatakan citranya melalui perilaku tapi citra itu tak mirip dengannya. Dan jika diri tidak dapat dipahami melalui tingkah laku, lantas dimana dan bagaimana kita memahaminya? Maka tiba lah waktunya ketika novel, dalam pencarian dirinya, dipaksa untuk berpaling dari dunia tindakan yang kasat mata dan beralih pada kedalaman kehidupan yang tidak terlihat.”

()()()

Mengarang adalah petualangan tak berkesudahan untuk menjaga dunia yang kompleks itu tak punah oleh proses reduksi yang mengancam tak berkesudahan pula. Para pengarang berjuang untuk mengeksplorasi segala hal tersembunyi dan tak mungkin, untuk menjadikannya nyata dan mungkin dalam karya-nya. Memang tak semua pengarang sukses melakukannya. Tetapi itu lah hakikat dunia kepengarangan. Dengan begitu pembacanya disadarkan bahwa dunia ini rumit, tidak hitam putih. Maka layaknya pula kita tak usah terkaget-kaget oleh seaneh apa pun kejadian-kejadian di dalamnya.

Dunia yang rumit itu penuh dengan hal-hal yang biasa, tetapi juga oleh kejadian-kejadian luar biasa, asing, aneh, unik, lucu, dungu dan lain-lain yang tak terjelaskan. Persis seperti panggung yang ditawarkan oleh para pengarang. Oleh karya mereka lah anak-anak dapat menemukan kebajikan dalam dongeng tentang kancil dan buaya yang legendaris walau pun hingga zaman jungkir-balik begini belum pernah ada berita yang mengatakan kancil dan buaya bisa ngobrol. Oleh karya para pengarang pula kita bisa dihanyutkan pada manisnya cinta yang tragis, baik di negeri pribumi ini yang dialami Saijah dan Adinda mau pun di negeri dingin sono yang dilakoni Romeo dan Juliet. Sama halnya dengan manggut-manggutnya istri saya meskipun ia tak pernah ke Rusia, tentang adanya Krasnoyarsk-26, kota rahasia bawah tanah tempat pengayaan uranium, yang dibacanya lewat The Sky is Falling karya Sidney Sheldon.

Barangkali itu sebabnya Bu Guru kami, 34 tahun lalu, melarang kami memulai cerita dengan kata-kata “Pada suatu hari….” Agaknya ia sudah mencium gelagat yang tidak sehat, yakni keranjingannya kami menggunakan rumus-rumus mudah untuk memulai cerita dengan mengandalkan si “Pada suatu hari….” itu. Padahal dunia ini sangat kompleks, jauh lebih kompleks dari dunia yang hanya selalu dimulai dengan “Pada suatu hari…..”

Dengan membuang si ”Pada suatu hari….”, mungkin Bu Guru ingin mengajar kami untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi jalan-jalan baru untuk memulai sebuah karangan. Dan dengan itu pula, mungkin ia ingin meniupkan harapan pada kami, bahwa banyak jalan untuk memulai banyak hal. Memang tidak selalu ada jalan mudah. Seringkali ketekunan dan keseriusan lah kuncinya. Seperti para wartawan tempo dulu, yang konon harus mengorbankan bertangkai-tangkai pinsil untuk diraut, berbatang-batang rokok terbakar tak menentu, sebelum menemukan lead yang menarik dan nendang bagi para pembacanya.

Hmmm, (sambil kukur-kukur kepala) betapa telmi-nya saya ini jika pelajaran dari Pelajaran Mengarang 34 tahun lalu itu, baru dapat saya temukan sekarang…..
--selesai—

Ciputat, 26 Oktober 2008

Sumber kutipan dan bacaan
The Art of Novel, Milan Kundera, 1986, edisi terjemahan diterbitkan oleh Jalasutra, 2002
The Comitted Writer, Mastering Nonfiction Genres, Harry H. Crosby & Duncan A. Carter, McGraw Hill, 1986
The Sky is Falling, Sidney Sheldon (edisi terjemahan), Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Perdebatan Bachrum Rangkuty dan F. Rahardi tentang “Akrobat Kata-kata” di Harian Kompas, turut menginspirasi tulisan ini.

11 comments:

  1. asyik banget. makin bikin aku kuat untuk jadi penulis....

    salam

    ReplyDelete
  2. Selain 'Pada Suatu Hari,'ada lagi lead yg populer lae. Yaitu, 'Adalah seorang.....'. Atau, 'Pada sebuah dusun, tersebutlah....' Yang lain lagi, 'Tersebutlah di suatu desa...'.

    Jadi lucu juga memang bila ingat2 pelajaran mengarang di waktu dulu.

    Mauliate untuk pencerahan ini, lae. Tapi aku nonton bola terutama karena lumayan melewatkan waktu, apalagi kalau menang taruhan, hahaha.

    ReplyDelete
  3. Yg jelas, novel juga alat perlawanan yang paling gigih!

    ReplyDelete
  4. i'd never think novel as serious as that. but, let me think again, may be u r right, pak siadari.

    nice to find this blog.
    btw, kalau dari prapat, bagaimana ke sarimatondang? sy beberapa kali ke d' toba dan samosir. trus ke prapat. tapi hv no ideas bout sarimatondang :-)

    bisa kasih info? sapa tau kali-kali ke sana.

    vonny

    ReplyDelete
  5. @mimpi jadi penyair: selamat berjuang mas!. trims udah berkunjung.

    @panombang di jakarta: ayat favorit di kala 'marayat-ayat' (bhs simalungun)atau 'pajojorhon'(bhs toba) adalah 1 musa 1 ayat 1: di mula ni mula na.....itu lead yang menarik dan paling populer.sewaktu kecil, anak-anak berebut mendapatkan ayat itu, karena ia akan paling awal maju ke depan dan paling awal pula kebagian permen dan lilin....hehehe (btw: sudah dapat apa selama 'manombang' di jakarta, selain rokkap ni tondi? :-))

    @ lawan!: setuju! tapi, untuk menebar persahabatan pun novel tak kalah dahsyatnya lo...

    @vonny: dari parapat, ambil jalan yang ke arah siantar/medan. sesudah tiga dolok dan tiga balata (sebelum siantar) akan ada pom bensin di daerah bernama simarimbun. di sana putar balik ke arah kiri. nah, sarimatondang tak jauh lagi, lk 20km.

    sebenarnya, ada jalan pintas dari parapat ke sarimatondang melalui tambun raya dst. tapi saya gak hafal. jadi jalan yg saya kemukakan itu jalan yang paling umum dan sudah dijadikan orang patokan bertahun2.

    ReplyDelete
  6. you are not alone, dang holan ho na songoni :)

    ReplyDelete
  7. Anonymous8:51 AM

    Kira2 siapa dulu gurunya bang?? apa aku sempat ketemu dengan beliau? Guru bahasa Indonesia di zaman aku & Erba, adalah Pak JS (bapak Silalahi di depan rumah abang), sempat juga guru bahasa indonesia kami namboru kita Bu Rianta Saragih dari pongkalan buttu.
    Ada juga pengalaman unik sewaktu kelas 3, sewaktu bu guru mengajarkan lagu wajib untuk kami. Judulnya "madu & racun (bill & Broad). Mungkin namboru itu ngefans dengan lagu itu, sehingga kami diharuskan untuk menghafalnya. Akhirnya kena tegur sama Kepsek, "itu nggak mendidik" katanya. he he he.

    Horas,
    Abet Simbolon (Batam)

    ReplyDelete
  8. @duma nababan: hehehe, trims, mauliate, diatei tupa.

    @abet simbolon: yup, Bu RS itu. Tapi jangan bilang2 ya aku ngomongin bliau di sini...hehehe. Aneh juga, kenapa harus ditegur kepsek dia ngajarin lagu itu ya.....Ada-ada sazza....

    Btw, Foto Sidamaniknya mana....

    ReplyDelete
  9. hehehehe ngerti saya sekarang kenapa banyak teman yang memberikan 'upahan' buat saya dalam pelajaran mengarang. ternyata mengarang ga mudah meski cuma dalam pelajaran dan ga dikonteskan

    ReplyDelete
  10. Anonymous7:18 PM

    horas....
    tarimo kasih tulang,atas tulisannya pas saya search nama saya di google akhirnya aku menemukan tulisann ini
    betapa telatennya tulang mencatat nama2 kami beserta peringkatnya
    aku juga merupakan salah satu peserta yang di wisuda di situ tulang
    jadi mau nangis teringat lagu anakkon hi do hamora onm diau yang anaklah manogu2 orang tuanya kayak lagu BORU PAnggoaran

    ReplyDelete
  11. Anonymous7:25 PM

    horas....
    tarimo kasih tulang,atas tulisannya pas saya search nama saya di google akhirnya aku menemukan tulisann ini
    betapa telatennya tulang mencatat nama2 kami beserta peringkatnya
    aku juga merupakan salah satu peserta yang di wisuda di situ tulang
    jadi mau nangis teringat lagu anakkon hi do hamora onm diau yang anaklah manogu2 orang tuanya kayak lagu BORU PAnggoaran

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...