Tuesday, October 21, 2008

Surat Kartini Tertanggal 23 Agustus 1900





Jepara, 23 Agustus 1900

Aku hendak, aku mesti menuntut kebebasanku. Aku hendak, Stella, aku hendak, terdengarkah olehmu? Manakan aku akan menang bila tiada aku berjuang? manakan aku akan mendapat bila tiada aku cari? Tiada berjuang tiada menang; aku akan berjuang, Stella, aku hendak merebut kemerdekaanku. Aku tidak gentar karena keberatan dan kesukaran, rasaku cukup kuatnya aku akan mengalahkan sekaliannya itu, tetapi ada yang
sungguh aku segani. Stella, sudah beberapa kali kuceritakan, aku sayang akan Bapak dengan segenap sukmaku. Belum tentu hatiku, entah akan beranikah aku meneruskan kehendakku, bila akan melukai hatinya, hatinya yang kasih sayang kepada kami itu.

Kasihan Bapakku, kesayangan hatiku, telah banyak benar menanggung dukacita, dan kehidupan masih tetap saja mendatangkan kecewa kepadanya, memilukan hatinya. Stella, kesayangan bapak hanyalah anak-anaknya saja, kami biji matanya, keriangan, pelipur laranya.

Aku sangat sayang akan kebebasanku, itulah jiwaku dan nasib saudara-saudaraku perempuan menjadi minat perhatian jantungku; aku rela membantunya banyak-banyak, dan relalah pula berkurban barang apa juapun yang boleh sekiranya menjadi kebaikan baginya. Dapat dan boleh berkurbanku diri bagi keperluan perempuan, itulah yang kupandang jadi bahagia hidupku. Tetapi yang terlebih kusayangi daripada semuanya itu, ialah Bapakku.

Stella, katakanlah aku pengecut, penggamang, apa boleh buat, lain dari pada itu tak dapat kubuat; bila Bapak menahan aku dari pada berbuat bakti itu, akan aku terima dengan tawakkal, sekalipun hatiku akan meratap, menangis. Aku enggan melukai lagi hati, mencucurkan darah hati yang sayang akan daku itu. Sudahlah cukup bercucuran darahnya, biarpun sekali-kali bukan karena salahku.

Katamu, kau tiada mengerti bahwa seorang perempuan mesti kawin. “Mesti,” engkau pertentangkan selalu dengan “aku mau.” Jika berhadapan dengan orang lain pastilah aku perbuat demikian juga, tetapi ini dengan Bapak; tiadalah aku sanggup berbuat demikian, apalagi sekarang ini, karena aku tahu, betapa sedihnya penderitaan yang ditanggungkannya.

Segala yang akan kuperbuat, tiada kupandang jadi barang yang “mesti”, melainkan jadi barang yang kupikul dengan rela hatiku bagi 'kesenangannya.' Aku mengarang, menggambar, segala apa kuperbuat, karena Bapak senang. Aku akan bekerja keras dengan segala asyik hatiku, akan berbuat sesuatu yang baik juga, ialah karena aku hendak menyenangkan hatinya.
Stella, katakanlah aku gila, berlebih-lebihan, tetapi apakah dayaku. Bapakku, aku amat sayang kepadanya. Benar akan sangatlah sedihnya hatiku, bila sekiranya Bapak menahan cita-citaku hendak bebas, tetapi akan lebih tiada terhingga pilu hatiku, bila keinginan hatiku yang sangat itu terkabul, tetapi akupun harus pula kehilangan kasih Bapak. Ah, kasih itu tiada akan hilang selama-lamanya, itu aku yakin, tetapi boleh jadi hatinya akan hancur luluh karena perbuatanku.

Kecewa karena orang lain, agaknya akan terderita jua olehnya, tetapi jika karena aku, pastilah akan sangat memilukan hatinya, sebab sayangnya akan daku berangkali lebih dari pada saudaraku lainnya. Dan aku amat kasih akan Bapak. ...................
ttd,
Kartini


()()()

Kartini ingin jadi dokter. Ia ingin bersekolah di Eropa. Ia ingin memajukan kaumnya. Ia ingin melakukan perubahan. Tetapi apa daya. Ia, hanya lah, dalam kata-kata sajak Chairil Anwar, seseorang yang 'dari kumpulannya terbuang.' “Ketika saya sudah berumur 12 tahun, lalu saya ditahan di rumah—saya mesti masuk 'tutupan'; saya dikurung didalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar,” tulis dia dalam suratnya yang lain (25 Mei 1899). “Kami, gadis-gadis yang masih terantai kepada adat istiadat lama......Pergi belajar ke sekolah, keluar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat.”

Kepahlawanan seringkali digambarkan sebagai sebuah perlawanan terhadap musuh-musuh yang bengis, raksasa yang penuh angkara murka atau tembok tebal yang kokoh dan angkuh. Tidak, tidak begitu, selalu. Kartini tak punya musuh. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyenangkannya. Yang menjadi penghalang cita-citanya yang terutama bukan musuh, raksasa atau tembok tebal. Tetapi sebentuk hati yang lembut, yang melindungi, yang menyayangi, yang ia hormati dan ia idolakan: Ayahnya.

Alangkah aneh pergulatan itu. Begitu besar keinginannya terbang tinggi melampaui zaman dan kaumnya. Tetapi yang ia harus arungi adalah laut dalam penuh kasih. Dan ia harus berpikir beribu-ribu kali untuk melakukannya. “Kesayangan bapak hanyalah anak-anaknya saja, kami biji matanya, keriangan, pelipur laranya.... Jika berhadapan dengan orang lain pastilah aku perbuat demikian juga, tetapi ini dengan Bapak; tiadalah aku sanggup berbuat demikian....

Tak pula hitam-putih yang selalu jadi pilihannya dalam perjalanan cita dan angan-angannya. Ia belajar. Kadang benar, kadang salah. Dan karena itu ia semakin dewasa. Seperti komentar Armijn Pane dalam pengantar buku Habis Gelap Terbitlah Terang: “Kartini pada mulanya mencaci agamanya dan adat istiadatnya. Mukanya selamanya dihadapkan ke arah Barat. Kemudian berubah juga, kemudian dipandangnya adat istiadatnya dan pikiran-pikiran yang terkandung dalam bangsanya ada baiknya juga.”

Kartini tahu Stella dan kawan-kawan sahabat pena-nya, memandang dirinya terlalu lamban, terlalu penurut dan terlalu sabar. Tetapi dengan bahasanya yang lembut, Kartini bisa juga 'melawan.', seperti suratnya kepada Stella, Agustus 1903. “Janganlah kami coba dengan paksa mengubah adat kebiasaan negeri kami ini; bangsa kami yang masih seperti anak-anak itu, akan mendapat yang dikehendakinyam yang mengkilap bercemerlangan. Kemerdekaan perempuan tak boleh tidak akan datang juga; pasti akan datang juga, hanyalah tiada dapat dipercepat datangnya.”

Pada akhirnya Kartini tak sempat ke Eropa. Sampai akhir hayatnya ia memilih mengabdi sebagai istri. Dan ia jatuh sakit. Tetapi surat terakhirnya kepada Ny. Abendanon (7 September 1904) masih menjadi warisan optimisme bagi siapa saja yang mau berempati akan keadaannya. Sebab ia selalu yakin, sehabis gelap ada terang. “Tuhan tiada akan tuli, mendengar sekian banyaknya hati sama-sama mendoa. Ibuku, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa anak Ibu ini tiada akan ada alangan suatu apa........

Tatkala menyaksikan Sri Mulyani Indrawati di televisi, kadang-kadang saya terpikir, alangkah bahagianya Kartini kini di alam baka sana. Atau iri?


Ciputat, 19 Oktober 2008

Catatan: Surat Kartini disalin dari Habis Gelap Terbitlah Terang, terdjemahan Armijn Pane, Balai Pustaka, 1951, dengan penyesuaian pada ejaan dan paragraf

11 comments:

  1. So sweet...... Bravo Pak.

    ReplyDelete
  2. wi23k1:54 AM

    orang jaman dulu kalo nulis surat asyik banget. jaman sekarang, boro-boro nulis surat. kirim sms aja isinya akronim smuanya ha20x. eniwei, trimakasih nih ya pak. tulisan yang touchy. jadi mikir, kok dulu waktu di skul, kita-kita nggak disuruh baca surat-surat. yang ada cuma disuruh hapalin judul bukunya doang ha20x. ssst, dosa nyalahin bu guru. ntar pak siadari ngadu lagi ame nyokapnye... becanda lo pak.

    salam

    ReplyDelete
  3. Pengaruh Kartini memang besar. Sampai-sampai orang Batak banyak yang pakai nama Kartini. Mudah-mudahan semangat Kartini bukan hanya diserap oleh kaum wanita Batak, tetapi terutama kaum laki-lakinya. Hehehe

    ReplyDelete
  4. Lae, mari kita sama-sama nyanyikan lagu Boru Panggoaran. Sepertinya cocok dengan tulisan ini....
    Horas

    ReplyDelete
  5. Memang betul, dari dulu kita cuma diajarkan untuk menghafal judul buku Habis Gelap Terbitlah Terang, tapi tidak pernah membaca surat-suratnya. Ups. Baru sekarang terpikir

    ReplyDelete
  6. @john: trimakasih pak.
    @wi23k: hehehe. memang, nyokap sy pasti marah kalau korps-nya disalah-salahin. tapi kritik membangun gak apa-apa juga. trims udah berkunjung...
    @anggir na tonggi: setuju....
    @lagu lagu yang tak pernah berlalu: mari lae, siapa takut? Ho do borukku....dst
    @ups: Orang sudah tidak punya perhatian pada surat-surat Kartini sebab sudah ada yang lebih menarik, yakni Surat-Surat Berharga di bursa saham.Mumpung harganya lagi anjlok, mari kita balik membaca surat-surat kartini.. hehehe

    ReplyDelete
  7. Rup taendehon ma:
    ho do boruku
    Tampuk ni ate-ateki

    Ho do boruku…
    Tampuk ni pusu-pusuki

    Burju-burju ma ho
    Na marsikkolai
    Asa dapot ho na sinittani rohami

    hahaha, sedap kali pun.

    Horas lae, kartini itu memang pantas jadi boru panggoaran.

    ReplyDelete
  8. keren banget lae.

    kurasa kartini tersenyum sambil meneteskan air mata. manusiawi kan ?

    ReplyDelete
  9. @robert manurung: horas amangboru. kehormatan bagiku amangboru mau berkunjung ke sini. salut sama kepedulian amangboru pada ketidakmerdekaan tanah air kita ini. semoga energi itu menjangkiti lebih banyak orang lagi. kartini juga pasti terharu dan senang membaca blog amangboru. horas.

    ReplyDelete
  10. Bang, biasanya sehabis wisuda, ada syukuran. Yang diwisuda menerima surduk-surduk. Mantap tuh makanannya (sorry, yang aku pikirkan memang makanan aja....)

    ReplyDelete
  11. @mari makan: betul. dan surduk-surduknya bisa tiga sampai empat paket. soalnya mulai dari bapauda/bapaanggi, bapa tongah, bapatua, tulang ( tulang godang, tulang etek), namboru/amboru ikut pula 'manurduk.' Belum lagi teman sekampung yang ikut bersenang hati. Wah, bisa mabok surduk-surduk deh, hehehe. Dan itak (atau nitak), jangan sampai lupa. top lah pokoknya....trims sudah mampir

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...