Wednesday, November 12, 2008

God Loves Stories


Lepau Oh La La makin ramai. Sebentar lagi kami akan menyudahi coffee morning talk itu. Arloji menunjuk angka 10:12. Pukul 15 :00 nanti Jansen Sinamo akan bicara di depan para eksekutif sebuah bank BUMN di Bogor. Ia memutuskan akan pulang dulu ke rumah sebelum berangkat ke sana.


Hari ini, dua pekan setelah ngopi bareng yang dulu, kami berdua bertemu lagi. Di lepau yang sama, di jam yang sama. Juga dengan menu yang sama: kopi dan omelet setebal sandal jepit Jepang. Jum'at 5 November. Lebih dua jam kami telah berbincang, dengan saya kebagian sebagai pelontar pertanyaan.


Seselintas saya terbayang pada Oriana Fallaci. Apakah saya harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti dia? Novelis, wartawan dan perempuan Italia itu dikenang sebagai pewawancara legendaris terutama oleh kekuatan, keberanian dan keblak-blakan pertanyaannya kepada para tokoh dunia lawan bicaranya. Ia dijuluki avenging angel, walau pun banyak juga diantara wawancaranya itu berisi pencerahan simpatik bagi orang-orang yang membacanya. Seperti pengakuannya sendiri, ia akan selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit –dan mungkin mempermalukan-- pada bagian paling awal wawancaranya. Tidak perlu ada basa-basi. “I’ll begin with the most brutal question….,” katanya suatu kali mengawali wawancaranya dengan Indira Gandhi.


Wawancara Oriana Fallaci biasanya panjang dan bertele-tele. Ia tak pernah sudi naskahnya dipotong atau disunting, demi alasan apa pun. Take it or leave it, begitu ia berdebat dengan pemimpin koran yang mencoba mengkompromikan laporannya. Ia marah besar dan tak pernah lupa ketika wawancaranya dengan Lech Walesa disunting sedemikian rupa oleh The London Sunday Times. Koran itu ia tuduh telah menghianati dirinya. Wawancara itu memang telah dibeli putus dari Fallaci. Tetapi dengan perjanjian dimuat penuh. “They gave me their word of honor, they swore that they would publish the complete text, no cuts, no manipulations, then I found that they had abolished some questions, mixed some answer, cut and manipulated the whole text…..” tuturnya dalam sebuah sesi tanya jawab dengan para wartawan peserta program Nieman di Universitas Harvard.


Fallaci punya banyak alasan mengapa wawancara-wawancaranya seperti sebuah mahakarya yang kudus, tak boleh disentuh oleh orang lain kecuali penciptanya. Ia ingin jujur. Apa adanya. Dan lebih dari itu, menurut dia, wawancara kerap juga jauh lebih efektif dibanding laporan naratif. Bagi Fallaci, wawancara adalah teater. Dan ia memilihnya sebagai cara mengekspressikan diri sebagai wartawan dan penulis. “I thought, as I still think, that interviews are direct and effective and dramatic. They are beautiful because they are theatre. When you want to give the portrait of a person nothing is as good as an interview…..


Jadi, haruskah gaya Oriana Fallaci dihadirkan di lepau ini?


Hanya selintas saja pertanyaan itu. Dengan cepat ia menemui ajal. Tidak. Saya tidak harus seperti Oriana Fallaci ketika berbincang dengan Jansen Sinamo. Sepanjang perbincangan kami, saya menyadari bahwa yang terbangun –terutama dibangun sendiri olehnya—adalah atmosfir persahabatan yang hangat, akrab tanpa jarak, yang dalam Bahasa Batak mungkin tergambar dari istilah….ai so ise, hita do, (bukan siapa-siapa, kita-kita juga, kok). Dia adalah story teller. Dan, seperti pada hampir sebagian besar cerita yang kita dengar, kita selalu hanyut di dalamnya, terlibat bahkan melibatkan diri. Jansen tahu hal itu. Maka sebagian besar pertanyaan akan dijawabnya dengan cerita, perumpamaan, ilustrasi dan juga humor....


God loves stories, kata Jansen, ketika menjelaskan kenapa cerita adalah cara yang terbaik untuk menjelaskan sesuatu. Tuhan mencintai cerita. Bacalah kitab suci apa saja, kata dia. Penuh dengan cerita. Godang do tudos-todus, adalah nasihat klasik dalam tiap perbincangan para tetua Batak. Dan dari cerita manusia belajar. Manusia melihat dirinya sendiri. Tapi lebih dari itu, melalui cerita manusia menyadari dan menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya. Dia sang Maha itu selalu ada dan terlibat dan manusia menyatakannya melalui cerita.


Tak lupa Jansen menyarankan agar saya membaca Soul Print karya Marc Gaffni, filosof Amerika yang bermukim di Jerusalem, yang menyuarakan kebajikan lewat cerita-cerita spiritual untuk membantu pembacanya menemukan gairah hidup.


Di rumah, karena penasaran, saya mencoba mencarinya lewat situs Amazon.com, Jansen benar. Buku itu persis seperti yang dijelaskannya.Cover belakang buku tersebut berkata: SOUL PRINT speak to all readers, regardless of religious beliefs and practises. Using the power of myth –biblical and folk―and drawing his high and lows, Gaffni offer advice on how to overcome the obstacles of an increasingly disconnected world to form bonds based truth and love:connections that begin with our true selves.

()()()


Jadi, kapan Anda pertama kali menyadari harus memulai menulis sesuatu tentang Etos, yang kini menjelma jadi masterpiece Anda?.” Di sela perbincangan saya melontarkan pertanyaan itu.


Sebentar ia menoleh ke luar lewat dinding kaca. Ia tersenyum dengan bola mata yang bulat besar yang jadi ciri khasnya. Dan Jansen kemudian menjawabnya, dengan caranya yang sudah khas pula: dengan cerita.


Tahun 1995 adalah puncak mobilitas Jansen Sinamo bepergian ke berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Kedudukannya sebagai instruktur Dale Carnegie mengharuskannya demikian. Dan pada suatu hari ia harus merelakan diri 'terjebak' di sebuah bandara di negeri itu. Penerbangannya tertunda empat jam lebih. Badai salju dimana-mana. Ia memutuskan harus mencari kesibukan melewatkan waktu.


Lalu ia menemukan sebuah bacaan. Life. Majalah itu menyajikan topik cover story yang menarik: Apa Warisan Manusia yang paling Abadi?


Sambil mengunyah daging bison yang dikeringkan yang di temukannya di salah satu foodcourt bandara itu (enak kali bah...., kata Jansen, mengenang. Ia tak bisa lupa tentang rasa daging bison itu) ia pun hanyut dalam bacaannya. Lebih dari itu. Ia temukan pencerahan dari yang dibacanya.


Apa sih warisan manusia yang paling abadi?


Ada tujuh keajaiban dunia kuno yang sering disebut-sebut. Colossus Rodos, yakni patung Helios yang sangat besar, dibuat sekitar tahun 292-280 SM di Yunani. Taman Gantung Babilonia, dibuat oleh Nebukadnezar II sekitar abad ke-8 SM di Irak. Mauseoum Mausolus, yakni makam Mausolus di Turki. Mercusuar Iskandariyah di pulau Pharos. Piramida Giza yang jadi makam Firaun di Mesir. Patung Zeus di kota Olympia. Dan Kuil Artemis di Efesus yang sekarang lebih dikenal sebagai Turki


Sayangnya, menurut Life yang dibacanya itu, sebagian besar dari tujuh keajaiban itu tak mampu bertahan. Dari kesemuanya, hanya piramida Giza lah yang masih dapat disaksikan hingga di zaman modern sekarang. Sisanya lenyap bahkan ada yang diragukan benar-benar pernah ada. Walau ajaib, hebat dan menghebohkan, ternyata semua itu tidak abadi sebagai warisan manusia. Taman gantung Babilonia kini tinggal kenangan, bahkan ada yang menyangsikan apakah ia pernah dibangun. Patung Helios bahkan hanya bertahan selama 56 tahun sebelum dihancurkan oleh gempa bumi.


Bukan, bukan keajaiban-keajaiban itu yang merupakan warisan paling abadi manusia. Menurut Life, yang paling abadi adalah....buku. Ya, ide-ide yang dituangkan ke dalam buku adalah warisan yang tak pernah bisa lenyap sepanjang masa. Dan Jansen Sinamo seperti terkesiap, menyadari dan mengaminkan hal itu. Dirinya tersadar untuk menyiapkan warisan yang abadi. Yang akan menjadi soul print dirinya. Dan kejadian tahun 1995 itu, menurut dia, adalah momen paling permulaan dan paling menentukan bagi terciptanya buku Etos, yang uniknya baru terbit pertamakali beberapa tahun kemudian. Jansen tak pernah melupakan momen itu, sama seperti ia tak bisa lupa pada daging bison yang dikeringkan…..

()()()


Ribuan orang sudah pernah mendengar Jansen Sinamo berbicara dan bercerita. Tiap panggung, bagi dia, selalu mempunyai tantangan dan daya tarik sendiri. Bukan hanya korporasi yang mengundangnya bicara. Ia bahkan pernah diminta oleh suatu perkumpulan (punguan) marga Batak Toba. Rupanya punguan itu merasa penting mendapat suntikan Etos agar semangat maju di kalangan marga itu terpacu. Uniknya, marga yang dimaksud sebetulnya termasuk yang besar dan terpandang di lingkungan batak.


Lalu Jansen memulai penampilannya dengan cerita tentang popularitas marga-marga Batak di dunia. Marga Batak mana sih yang paling populer? Maka ia mengambil tolok ukur sederhana: mesin pencari Google. Dan, ternyata menurut Google, perkumpulan marga yang kini jadi audiens-nya itu hanya berada di urutan ke-12 diantara marga-marga Batak, dengan jumlah item penelusuran di mesin pencari internet sekitar 400 ribuan. Yang teratas adalah marga lain yang mungkin tak disangka-sangka mereka, dengan jumlah penelusuran 1,5 juta. “Mereka panas. Lalu ketika diminta menjawab apa yang harus dilakukan atas temuan itu, mereka langsung bersemangat bicara. Ada yang bilang, dalam lima tahun harus bisa di lima terbesar. Good. Dan, untuk itu diperlukan Etos,” kata Jansen menceritakan pengalamannya.


Sebelum tampil pada hari H, para dalang terkenal mengaku harus melakukan semacam tapa dan puasa. Dulu di kampung kami, saya masih ingat, sebelum memulai pekerjaannya membangun rumah, para tukang beserta ‘stafnya’ harus dijamu dan disuguhi makanan yang serba teratur oleh empunya rumah. Semacam syarat dan harapan agar pekerjaan itu lancar tak kurang suatu apa. Konon, seperti yang saya dengar dari seorang sahabat, para pemain Srimulat yang kocak, nyeleneh dan tampil lepas di atas panggung itu, justru tegang dan gelisah di balik panggung sambil merokok dan minum bir, menanti-nanti detik-detik penampilan mereka.


Apa yang Anda lakukan pada saat-saat menjelang bicara di suatu acara? Apakah ada ketegangan semacam itu yang Anda rasakan?” Saya bertanya kepada Jansen.


Ia menyandarkan punggung ke sofa tempatnya duduk. Tangan kanannya terentang di sandaran. Kata dia, jelas ia melakukan home-work-nya sebelum tampil. Thank to teknologi informasi. Semua materi pelatihan dan ceramahnya sudah ada di laptopnya. Dan, bila keadaan mengharuskan, dalam hitungan beberapa menit pun, ia bisa siap untuk berceramah.


“Sekarang ini, saya membayangkan saya sudah seperti dokter spesialis. Kapan pun orang datang membutuhkan pertolongan atau kapan pun dipanggil, harus siap untuk bekerja,” kata Jansen.


Apa yang Anda lakukan dalam perjalanan menuju tempat Anda tampil?”


Hehehe. Nothing special,” kata dia. “Baca-baca. Menelepon teman-teman. SMS. Kadang-kadang tertidur juga, Apalagi bila perjalanan cukup memakan waktu, seperti misalnya, nanti ketika akan menuju Bogor. Materi presentasi sudah saya siapkan sejak tadi malam. Tinggal baca-baca sebentar.”


Pernah suatu kali ia diminta mengadakan pelatihan beberapa hari di sebuah instansi Pemerintah. Pesertanya adalah seluruh pimpinan instansi tersebut, termasuk Pak Menteri. Ketika hari pertama pelatihan usai, tak semua peserta langsung membubarkan diri dan meninggalkan tempat pelatihan. Ada tiga orang yang masih asyik terus mengajaknya berdiskusi. Saat malam makin larut, satu per satu mereka mohon pamit, hingga tinggal satu orang yang tampaknya masih tetap menikmati perbincangan. Dan tatkala kemudian mereka sepakat mengakhiri percakapan karena waktu istirahat sudah tiba, lawan bicara Jansen berdiri. Ia mohon pamit, seraya berkata, “Well, Pak Jansen. Anda layak jadi guru kami. Terimakasih telah menyediakan waktu,” kata dia.


Tiga orang yang mengajaknya berbicara itu semuanya bergelar Ph.D. Agaknya perbincangan sampai larut malam itu adalah satu tahapan untuk ‘menguji’ Jansen.

()()()


Hujan gerimis menyertai perjalanan saya meninggalkan lepau Oh La La. Saya melihat Jansen berjalan dengan tongkatnya memasuki mobil yang akan membawanya pergi. Kami sudah berjanji akan bertemu kembali tak lama lagi.



Ciputat, 9 November 2008

P.S. Serial perbincangan dengan Jansen Sinamo dapat dibaca dan akan terus ditambah di Candid Talks with Jansen Sinamo

Terimakasih untuk Bang Jansen Sinamo atas kesediaannya meluangkan waktu.

4 comments:

  1. Mejuah-juah, Horas. Kita semua senang dengan cerita, apalagi secantik cerita dari Sarimatondang :-). Teruskan cerita demi cerita di Sarimatondang yang beautiful ini ya Kila........

    ReplyDelete
  2. Setuju! Mantap Pauda :-))

    ReplyDelete
  3. @ sembiring: mejuah-juah, terimakasih, bujur!

    @ anggiat d.s.: mauliate.

    ReplyDelete
  4. Trimakasih untuk tulisan ini yg mengingatkan saya pada kisah-kisah tentang Oriana Fallaci. Di zaman sekarang kita mungkin sudah lebih suka pada cara Oprah. Tapi jangan lupa, gaya Tukul di Empat Mata eh, di Bukan Empat Mata ding, juga unik lo waktu mewawancarai tamu-tamunya :-) Trims Pak, salam kenal

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...