Saturday, November 08, 2008

Setelah 10 Tahun Reformasi.....


Judul Buku: On Becoming the Winner Generation,
(Pemuda dan Generasi Pemenang),
Inspirasi dan Solusi di Tengah Misorientasi Generasi Muda
Penulis: Didi Aprianto dan Wishnu Dewanto
Editor: Salim Shahab dan Eben Ezer Siadari
Tebal: 132 Halaman
Penerbit: Lintas Berita Indonesia
Tahun: 2008
Harga: Rp50.000


Setelah 10 tahun reformasi banyak orang menilai gerakan pemuda seperti kehilangan arah. Mandeg. Tercerai-berai. Tak punya agenda bersama. Padahal, sejak seabad lalu, sejarah mencatat pemuda selalu berada di garda terdepan dalam melakukan perubahan. Sejak di bangku SD, kita mengenal tahun-tahun bersejarah itu: 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978 dan 1998.


Penulis buku ini mengamati adanya misorientasi itu, namun mereka tak pesimistis. Walau 10 tahun terakhir berlalu dengan makin termarginalkannya pemuda sebagai gerakan, mereka melihat bahwa sesungguhnya banyak tokoh-tokoh muda inspiratif yang tak tenggelam dalam misorientasi itu. Dengan cara dan kiprah mereka sendiri, ikon-ikon itu memunculkan harapan, menunjukkan cahaya di ujung terowongan yang gelap. Intelektual muslim Universitas Paramadina, Anis Baswedan, grup musik Slank, pelopor survei opini publik Denny JA, atlit bulutangkis Taufik Hidayat, pakar politik Eep Saefulloh Fatah, diva dangdut Inul Daratista, perempuan 'listrik' Tri Mumpuni dan sejumlah tokoh lain merupakan contoh-contoh yang dijadikan bahan refleksi pada buku ini untuk 'menemukan kembali' roh kepeloporan dan pembaruan pemuda.


Penelusuran atas ikon-ikon muda kontemporer itu didahului dengan pemaparan secara mendalam dan sistematis atas pergerakan pemuda sejak 1908, yakni berdirinya Budi Utomo. Para penulis memetakan berbagai periode pergerakan itu berdasarkan peran yang dimainkan para pemuda menghadapi tantangan zamannya. Mulai dari pemuda sebagai pelopor kebangkitan (1908), pemersatu (1928), pendobrak (1945), pembaru (1966), pembawa suara alternatif (1974,1978) hingga sebagai reformator (1998). Telaah reflektif atas peran pada berbagai periode itu lah yang mengantarkan mereka menemukan ikon-ikon muda di era reformasi. Penemuan akan ikon-ikon ini kemudian dijadikan landasan optimisme meretas jalan bagi pemuda sebagai gerakan untuk memenangkan peran sejarahnya yang, telah sangat menentukan sejak dulu.


Pada bagian akhir buku ini, kedua penulis mengemukakan keyakinan mereka bahwa kini diperlukan peningkatan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Wawasan itu menjadi landasan bagi pemuda untuk menemukan 'musuh bersama', seperti yang sudah terbukti menjadi pemersatu gerakan sejak zaman prakemerdekaan. Musuh bersama itu kini adalah ketidakadilan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan. Untuk melawan 'musuh bersama,' kaum muda memerlukan arena mau pun wadah sebagai kawah candradimuka penggemblengan. Dan, ikon-ikon muda di era reformasi telah menunjukkan bahwa mereka berhasil menemukan dan menciptakan arena mereka masing-masing. Ada yang menemukannya di bidang dakwah. Ada yang mendapatkannya di dunia dangdut. Yang lain menjadikan musik sebagai wadah. Dan banyak lagi, termasuk dengan bergiat jadi pengusaha, intelektual dan ....masuk ke partai politik.

()()()


Suatu malam yang sudah agak larut, empat bulan lalu, Salim Shahab dan saya menemukan diri telah begitu dalam dan panjang berdiskusi di sebuah rumah di kawasan Pondok Indah. Tuan rumahnya masih muda, bernama Didi Apriadi. Ia dengan antusias mengemukakan berbagai pandangannya tentang persoalan kepemudaan. Ia meminta advis sekaligus memohon kesediaan kami sebagai penyunting bagi buah pikirannya. Kami mengiyakannya.


Di tengah perjalanan Didi kemudian diperkuat pula oleh Wishnu Dewanto, seorang tokoh pemuda sekaligus Ketua Umum Pemuda Hanura. Kombinasi ketokohan dan pemikiran-pemikiran mereka tampaknya turut memperkaya buku ini. Didi Apriadi sendiri adalah pengusaha muda, penggiat teknologi informasi, aktivis sosial dan juga politisi. Keduanya bergabung di Partai Hanura. Didi di DPP, Wishnu di organisasi pemuda.


Begitu lah. Kami membantu para penulis buku ini merangkai buah pikiran mereka hingga menjadi buku. Melalui diskusi yang intens, diselingi hidangan kopi dan berbagai cemilan lainnya –terutama ketika perbincangan itu dilangsungkan pada acara berbuka puasa tempo hari- Salim dan saya seringkali menjadi semacam devil's advocate bagi ide-ide yang dilontarkan para penulis buku ini. Diskusi sering jadi panas namun pada akhirnya selalu ada momen dan kesadaran menemukan irama pikiran yang saling melengkapi.


Dan pada Minggu 2 November lalu, buku itu secara resmi diluncurkan oleh Wiranto di Hotel Sahid, Lippo Cikarang, setelah terlebih dahulu dibedah dalam sebuah diskusi yang menghadirkan pembicara tokoh-tokoh muda. Dalam sambutannya pada buku ini, Menpora Adhyaksa Dault mengatakan, “Kepada kedua penulis buku ini, Didi Apriadi dan Wishnu Dewanto saya ingin menitipkan amanat agar gagasan-gagasan yang dikemukakan di dalam buku ini dapat diwujudkan di dunia nyata ......Melihat track record keduanya yang merupakan tokoh-tokoh muda yang tekun dan berprestasi di bidang masing-masing, saya percaya mereka dapat menggali energi perubahan dalam diri mereka mau pun lingkungannya....” Sedangkan Wiranto, menulis, “Saya mengharapkan dengan membaca buku ini kaum muda makin menyadari dan peduli pada masalah yang dihadapi bangsanya.”

()()()


Salim Shahab dan saya telah beberapa kali berpartner dalam penulisan dan penyuntingan buku. Usianya lebih muda dari saya. Dengan daya determinasinya yang tinggi serta speed kerjanya yang di atas rata-rata menjadikan dirinya sebagai seorang deal maker yang tangguh, sekaligus membuat saya nyaman sebagai mr fix it up untuk mendukungnya. Dalam pembagian peran semacam itu, satu dua kali pasti terjadi korslet di sana sini, saling mendahulukan pendapat masing-masing, overkomunikasi, atau malah sebaliknya, karena adanya ewuh-pakewuh justru memunculkan miskomunikasi.


Tetapi di akhir pekerjaan, kami selalu dapat menemukan momen ketika kami duduk bersama. Entah di rumah makan Arab kesukaannya, atau di restoran fastfood yang merupakan kesukaan kami semua. Pada saat-saat seperti itu, kami temukan juga kenyataan bahwa kami ini ternyata tak pernah henti-hentinya belajar. Khusus untuk buku ini, Salim dan saya belajar dari cara kerja dan kiprah kedua penulis buku ini. Lebih dari itu, kami bahkan seolah dipaksa untuk menelaah kembali buku-buku pelajaran sejarah semasa sekolah menengah. Sebab jika tidak, kami tak kan bisa mengikuti lontaran-lontaran pemikiran kedua penulis buku ini.


selesai


Ciputat, 8 November 2008


Catatan:

Didi Apriadi adalah entrepreneur muda berprestasi, penggiat teknologi informasi, aktivis sosial dan politisi. Ia telah mendirikan dan mengelola 10 perusahaan, sebagian besar bergerak di bidang IT, diantaranya pernah masuk dalam daftar Entreprise 50 versi Majalah Swa. Ketika masih mahasiswa, lulusan teknik geodesi ITB ini, turut membidani lahirnya Center for Student Entreperneurship Development. Pernah menjadi dewan direktur Asosiasi Perusahaan Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), Didi sampai kini masih tercatat sebagai anggota Masyarakat Telekomunikasi. Ia mendirikan Palembang Care Foundation LSM yang menghimpun potensi masyarakat untuk memajukan kota kelahirannya, Palembang. Bukunya tentang strategi memasarkan Palembang terbit tahun 2007, berjudul Palembang and Venus.


Wishnu Dewanto adalah ketua Pemuda Hanura. Ia juga pengusaha. Sejak remaja ia sudah aktif memimpin berbagai organisasi pemuda, antara lain dengan menjadi ketua Remaja Islam Masjid Cut Mutiah, ketua Forum Dialog Remaja Masjid, ketua Yayasan Masjid Cut Mutia dam wakil bendahara umum DPD REI DKI Jaya.


Salim Shahab sejak kuliah di jurusan ilmu komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) sudah aktif dalam kegiatan jurnalistik. Selain sebagai jurnalis, public relations, campaihn consultant dan trainer di berbagai kegiatan jurnalistik, ia juga menyunting beberapa buku, al Farid Husain, To See the Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh (2007); Prof Dr (HC) dr Uton Muchtar Rafei, Health, Politics, Menjangkau yang tak Terjangkau (2007) dan Didi Apriadi, Palembang and Venus (2007). Sejumlah penghargaan telah ia terima. Kini ia aktif di Institut Perdamaian Indonesia (IPI).


Cover di atas adalah versi yang sangat awal. Dalam versi final, judulnya adalah: Pemuda dan Generasi Pemenang, Inspirasi dan Solusi di tengah Misorientasi Pemuda.


4 comments:

  1. mas, hati-hati. tetap setia pada idealisme ya....

    ReplyDelete
  2. Kinan1:20 AM

    Asyik. Makan-makan nih.....

    ReplyDelete
  3. @simarjarunjung: thank you. diatei tupa!

    @slamet: Ya, terimakasih untuk selalu mengingatkan. Dan ini adalah jawaban dari hati.

    @kinan: Hehehehe....Boleh-boleh....

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...