Tuesday, December 16, 2008

Air Mata Etos



Rupanya ada kisah-kisah yang tak pernah berhenti membuat orang terharu. Walau telah diputar ulang berpuluh, bahkan beratus kali; walau telah kita dengar sejak masih kecil hingga kita beranak-pinak, pesona kisah-kisah itu tak habis-habis menggugah perasaan terdalam tiap insan. Dan diam-diam kita menyeka mata yang berkaca-kaca tatkala mendengarnya lagi dan lagi dan lagi.


Kisah Yusuf anak Yakub mungkin salah satunya. Ini adalah cerita yang tak asing lagi bagi sebagian besar orang yang pernah menghabiskan masa kecil di Sekolah Minggu. Cerita tentang Yusuf, anak ke 11 dari 12 bersaudara, yang selalu disangka sebagai anak yang ‘aneh,’ anak yang suka menyendiri, anak yang sering bicara lebih tua dari usianya. Lebih dari itu ia dinilai angkuh dan pajago-jagohon oleh kakak-kakak lelakinya karena ia kerap seolah meninggikan diri daripada saudara-saudaranya itu. Pendek kata Yusuf menyebalkan sampai ke tulang sumsum. Begitu besarnya kebencian dan sakit hati yang tercipta menyebabkan saudara-saudaranya tega menghajarnya dengan mengurungnya di dalam sumur yang gelap. Lalu kemudian menjualnya kepada saudagar dari Mesir dan Yusuf pun terbuang, jadi budak di Tanah Seberang itu.


Namun cerita itu berlanjut dengan Yusuf sebagai bintang. Ini adalah cerita tentang demikian berartinya ketekunan, kesabaran dan keteguhan memegang amanah. Yusuf menapaki jalan hidupnya anak tangga demi anak tangga. Dari tingkatan yang sangat bawah. Memulainya sebagai seorang budak kasar yang tidak dianggap, ia menjalankan pekerjaan penuh tanggung jawab. Ia selalu siaga, tidak anggap remeh terhadap godaan sekecil atau sebesar apa pun. Tak mengherankan bila ia berhasil mendapat kepercayaan dan jadi tangan kanan tuannya. Memang tak selalu mulus. Ia sempat jatuh-bangun karena fitnah dan rasa iri. Ia berani menolak cinta istri majikannya walau ganjarannya adalah dia masuk penjara karena dituduh ingin memperkosa. Di penjara ia banyak menolong orang, tetapi dirinya agaknya tak cukup penting untuk selalu diingat oleh orang yang berutang budi padanya. Hingga di kemudian hari, kebaikan yang ditaburnya tak berkesudahan itu, menemukan tanah subur tempatnya tumbuh. Perjuangan pantang menyerahnya bersua dengan momentum, ketika ia berhasil menafsirkan mimpi Raja Firaun yang menghindarkan bangsa Mesir dari malapetaka. Peristiwa itu membawa dirinya ke puncak kariernya. Yusuf menjadi orang kepercayaan Raja.


Lalu sang waktu mempertemukan Yusuf dengan saudara-saudaranya. Mereka berhadap-hadapan, tetapi dalam keadaan berbalik. Saudara-saudaranya itu samasekali tak mengenali Yusuf lagi. Yusuf duduk di tahtanya sebagai penguasa, sedangkan di hadapannya, 10 kakak lelakinya bersimpuh menghiba memohon belas kasihan. Yusuf hidup berkelimpahan di ‘tanah rantau’ Mesir, sedangkan kakak-kakaknya yang dulu membenci dan membuangnya, ibarat pesakitan; mereka datang dari Tanah Kanaan, ‘kampung halaman’ yang dilanda kelaparan dan butuh bantuan.


Seandainya Yusuf menyimpan dendam, sebenarnya dengan sedikit bahasa isyarat saja, ia bisa memerintahkan para punggawanya membalaskan derita yang pernah diterimanya kepada kakak-kakaknya yang kini tak berdaya itu. Bukankah dirinya dulu dijadikan bahan tertawaan dan olok-olok? Bukankah orang-orang yang dihadapannya itu lah yang dulu tega mengikatnya, menjualnya sebagai budak dan berbohong kepada ayah-ibu mereka dengan mengatakan Yusuf telah mati dimakan binatang buas di tempat penggembalaan?


Tidak, bukan itu yang Yusuf lakukan. Agaknya benarlah apa yang sudah sering diaminkan banyak orang, bahwa memutus ikatan ‘darah’ sama sulitnya dengan menebas air dari pancuran. Selalu ada jalan untuk kembali bersambung. Pertalian darah selalu lebih kuat daripada jalinan temali apa pun. Ia tak pernah bisa melanggengkan rasa benci.


Maka alih-alih menyimpan dendam dan sakit hati, Yusuf justru dikurung dan disandera rasa rindu tiada terkira ketika bertemu muka dengan saudara-saudaranya. Seorang penguasa seperti Yusuf rupanya tak berbeda dengan siapa pun kita, yang hatinya terbuat dari sekeping daging lembut yang bisa luluh. Sebesar-besarnya kekuasaan dan setinggi-tingginya tahta kerajaan, apa lah arti semua itu bila ganjarannya adalah harus terpisah dari orang-orang terkasih, sahabat-sahabat sepermainan semenjak kecil hingga dewasa?


Alkitab mencatat ‘reuni keluarga’ ini dengan detail yang mengharukan:

Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya lalu berserulah ia: “Suruhlah keluar semua orang dari sini.” Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya.

Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun.

Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:”Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?” Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia.

Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu:”Marilah dekat-dekat.”

Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi:”Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu…….

Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pula lah Benyamin pada bahu Yusuf. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.

(Kejadian 45:1-5:14-15)




()()()

6 Desember 2008, selama lima jam lebih, Jansen Sinamo berbicara di hadapan warga jemaat Gereja Kristus Yesus (GKY) Citra Garden, Jakarta Barat. Ia diundang untuk berceramah dengan topik Membangun Etos Kerja Kristiani. Ruang serba guna di lantai I gereja itu, tampak megah dan sejuk. Hampir semua tempat duduk terisi. Saya berada diantara lebih kurang 300 hadirin yang ramah satu sama lain, santun dan tampaknya dari rumah memang sudah menyiapkan diri untuk ‘belajar’ pada pagi itu.


Jansen menggunakan kisah Yusuf sebagai ilustrasi untuk etos kerja nomor dua dari delapan etos yang selama ini ia kembangkan. Yakni: Kerja sebagai amanah, karena itu aku bekerja dengan penuh tanggung jawab. Yusuf, kata Jansen, adalah tokoh dalam Alkitab yang dapat dijadikan benchmark tentang seseorang yang menjadikan pekerjaan sebagai amanah. Yusuf bukan hanya menganggap bekerja sebagai amanah dari tuannya, tetapi lebih dari itu, amanah dari sang Khalik. Ia menempatkan amanah sebagai titipan berharga yang dipercayakan kepadanya. Konsekuensinya, sebagai penerima amanah, ia terikat secara moral untuk melaksanakannya secara baik dan benar. Itu sebabnya ia tak mau main-main dengan tanggung jawab itu, walau risikonya adalah terpental dari titian karier.


Seperti biasa dalam ceramahnya, selain bercerita dengan suaranya yang microphonic, Jansen juga menggunakan foto, slide, lagu dan video clip di sela-sela orasinya. Sepanjang lima jam itu para audiens tetap stay, bahkan untuk makan siang pun hanya tersedia waktu 30 menit. Jansen sendiri tampaknya asyik dengan pekerjaannya sehingga walau ia belum sepenuhnya bisa sempurna berjalan di atas panggung, dengan tongkat yang kadang-kadang ia kenakan, ia usahakan juga seolah ‘melompat’ sesekali, untuk memeragakan apa yang ia katakan.


Dan, tiba lah pada satu momen yang mungkin tak pernah diduga siapa pun yang ada di ruangan itu. Tatkala Jansen dalam orasinya sampai pada cerita tentang pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya. Tiba-tiba saja ia seperti tercekat kerongkongannya. Jansen bicara terbata-bata. Dari tempat duduk saya tak jauh dari panggung tempatnya berbicara, saya dapat melihat matanya berkaca-kaca. Rupanya Jansen menangis. Tidak sampai sesunggukan, tetapi jelas lah terlihat betapa sang Guru Etos tak bisa menghindar dari larut pada cerita yang dia tuturkan. Dan, hadirin di ruang yang adem itu, ikut-ikutan hening dan terdiam. Saya harus mengakui air mata saya juga menitik pada saat itu. Saya menduga banyak juga diantara hadirin yang ikut menitikkan air mata.


Cerita ini sudah sejak kecil dikisahkan oleh guru sekolah minggu, sudah kita hafal luar kepala, tetapi ia tak pernah berhenti membuat kita berpikir, merenungkannya dan kadang-kadang kita menangis dibuatnya. Kita harus berterimakasih pada guru-guru sekolah minggu kita, dimana pun mereka berada, telah menceritakannya dan menanamkannya dengan mendalam di hati kita masing-masing,” tutur Jansen, setelah ia bisa kembali menguasai diri dan hadirin bertepuk tangan. Jansen agaknya hanya mengizinkan beberapa detik saja momen haru mengisi ruangan itu. Dan ia pun melanjutkan ceramahnya.


Belakangan, di akhir acara, pihak panitia mengumumkan bahwa diantara hadirin yang memenuhi ruangan itu, terdapat pula serombongan guru dari berbagai sekolah. Saya melihat mata Jansen kembali berkaca-kaca. Mungkinkah ia terharu, karena sebagai Guru Etos, ia ternyata sedang berbicara diantara koleganya ‘sesama’ guru?


()()()

8 Desember 2008, untuk sesuatu hal yang sudah kami rencanakan sejak jauh hari, saya bertemu lagi dengan Jansen Sinamo, menikmati brunch di Peacock Restaurant, Hotel Sultan, Jakarta. Beberapa potong toast dan fried egg bersama secangkir black coffee ada di hadapannya ketika saya mulai membuka pembicaraan. Ini adalah hari libur, karena itu kami agak santai. Lagipula, kami masih menunggu beberapa orang teman lagi untuk bergabung.


Di benak saya, kejadian kemarin masih menghantui. Dan dari rumah memang saya telah meniatkan menanyakan itu kepadanya. Apakah ia sering menangis manakala berbicara di atas panggung? Kenapa kisah Yusuf begitu mengguncang perasaannya?


Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Dengan tangan dan tanpa menggunakan pisau, ia patah-patahkan toast di piring kecilnya untuk kemudian ia masukkan ke mulutnya. “Tiap orang Batak saya kira akan terharu mendengar mau pun menceritakan kisah seperti yang dialami Yusuf dan saudara-saudaranya,” kata dia. Gelasnya ia angkat dan ia meneguk kopi. “Mungkin karena cerita itu menyangkut sebuah keluarga. Sebuah keluarga besar pula,” tambah dia lagi.


Seselintas, benak saya mencoba-coba membayangkan masa kecil Jansen, yang sudah berkali-kali ia ceritakan. Ia anak sulung dari delapan bersaudara. Sebuah keluarga besar, tentu. Dan seperti pengakuannya, sejak kecil ia sudah digadang-gadang jadi 'pembawa bendera'. Harus jadi contoh. Bila adik-adiknya melakukan kesalahan, kemarahan orang tuanya tidak sebesar bila dirinya sendiri yang melakukan kesalahan. Nasihat tentang bagaimana agar bertanggung jawab memegang amanah sebagai anak sulung itu, telah menjadi sarapan paginya sejak dirinya masih kecil. Juga jadi bahan obrolan di tungku perapian sambil menanak nasi. Di pematang sawah tatkala beristirahat menyiangi tanaman. Di hajatan keluarga sambil bersantap makan. Mungkinkah oleh kerumitan dan hiruk-pikuknya sebuah keluarga besar, sehingga Jansen selalu tersentuh oleh kisah-kisah keluarga seperti cerita Yusuf di Alkitab?.


Menurut Jansen, di Alkitab, kisah Yakub dan anak-anaknya memakan porsi yang cukup besar, dibanding keluarga-keluarga lain. Dan uniknya, keluarga Yakub bukan lah keluarga sempurna atau ideal. Bahkan secara bercanda, Jansen berkata keluarga itu termasuk keluarga yang brengsek. Mulai dari Yakub sendiri, yang di masa mudanya ‘mengambil hak anak sulung’ dari kakaknya Esau dengan cara yang tricky, lalu dirinya yang ditipu oleh Pamannya Laban, kemudian anak sulungnya Ruben yang ‘naik ke tempat tidur’ ayahnya, Jehuda yang tersangkut skandal dengan menantunya, Yusuf dan saudara-saudaranya yang tidak pernah akur dan seterusnya dan seterusnya.


Keluarga itu, menurut Jansen, tidak pernah sepi dari masalah. Namun, kata Jansen lagi, justru karena ketidaksempurnaan itu lah kisah tentang Yakub dan keluarganya menjadi klasik dan selalu dibicarakan orang. Dan kita pun larut di dalamnya, karena kita di dalam hidup kita, sedikit-banyak juga merasakan kepedihan-kepedihan yang dialami oleh keluarga itu. “Kalau keluarga Yakub sempurna, tidak ada masalah, tidak ada gejolak dan pertengkaran, Alkitab mungkin hanya akan mencatat kisah mereka dengan satu kalimat: Yakub dan keluarganya hidup tenteram dan bahagia selamanya dari masa kecilnya hingga akhir hayatnya!. Titik. Apa menariknya lagi kalau hanya sampai di situ saja,” kata Jansen.

()()()

Kedua orang tua Jansen berpulang ketika mereka berkunjung ke Jakarta. Ayahnya lebih dulu. Kemudian ibunya. Itu dulu sekali. Mereka memang masih sempat menyaksikan Jansen menikah dan memberi mereka cucu. Tapi bagi Jansen sendiri, kepergian ayah-ibu itu masih terlalu cepat. Jansen, di hati kecilnya, masih ingin ‘membahagiakan’ mereka lebih lama lagi. Tetapi seperti kita yakini, tak seorang pun yang bisa menunda ajal.


Sampai sekarang Jansen masih merasa punya utang sekaligus amanah dari ayah-ibunya. Yakni menyediakan makam yang layak bagi mereka di kampung halaman. Hingga saat ini, jasad ayah-ibunya masih bersemayam di salah satu pemakaman Jakarta Timur, dan Jansen berharap suatu hari tak lama lagi, tulang-belulang mereka sudah dapat dibawa ke kampung halaman. “Itu juga merupakan amanah yang harus saya penuhi,” tutur Jansen, suatu kali.


Dari ibunya, Jansen mengagumi kebijakan dan kemampuan bercerita sambil memberi nasihat pada waktu yang tepat dan pesan yang disampaikannya mengena kepada sasaran. “Padahal sekolahnya hanya sampai kelas satu SD,” kata Jansen. Jansen juga mengakui nilai-nilai tentang hidup banyak ia dapatkan dari Ibunda yang menyampaikannya secara sambil lalu di berbagai kesempatan. Dari kisah hidup ibunya yang menderita semasa kecil sebagai korban revolusi, Jansen justru mendapatkan nilai-nilai hidup sebagai bekal untuk berjuang. “Sebagai sulung dari delapan bersaudara, sejak dini pula saya sudah dikaryakan di ladang, kebun, dan sawah. Di sela-sela jagung dan kacang, ubi dan padi, cabe dan jahe, ibu saya suka bercerita tentang derita masa lalunya dan sekaligus memproyeksikan harapannya bisa bersekolah setinggi mungkin supaya bisa meretas belenggu kemiskinan dan meraih sukses dalam kehidupan. Tak jarang beliau meneteskan air mata ketika berkisah, baik dalam rangka memotivasi atau menasihati saya,” tulis Jansen dalam prolog buku 8 Etos Kerja profesional.


Dari ayahnya, Jansen mengagumi ketokohannya di bidang adat dan komunitas Batak di desa kelahirannya. Rumpun marga Sinamo tergolong kecil, tetapi ketokohan adat ayahandanya kerap melampaui rumpun marga itu. Ayahnya dikenal sebagai Raja Parhata atau Parsinabul; jurubicara dalam pesta-pesta adat, yang anehnya, hingga dewasa ini jalur menuju posisi itu hanya dapat dicapai melalui learning by doing, jam terbang yang panjang dan proven serta yang tak kalah penting, konsensus komunitas.


Untuk banyak hal, saya telah melampaui ayah saya. Tetapi untuk yang satu itu, untuk menjadi Raja Parhata, sampai sekarang saya belum bisa. Mungkin karena belum banyak kesempatan untuk berlatih. Dan untuk yang satu itu, saya salut kepadanya. Dia sudah melanglang kampung demi kampung untuk tugas itu. Dia selalu bangga membawa seekor ayam jantan yang besar ke rumah, tatkala ia usai melaksanakan tugasnya. Itu lah upahnya dari pekerjaan sebagai Raja Parhata, selain kehormatan keluarga,” kata Jansen menceritakan ayahnya dengan mata yang basah.


Ada satu cerita yang mungkin tak banyak orang tahu. Sebagai orang Batak dan Indonesia pada umumnya, Jansen Sinamo tergolong telat nikah. Sampai menjelang 30 tahun, ia belum ketemu jodoh juga. Tentu saja kedua orang tuanya sempat cemas menyadari keadaan itu. Bagaimana pun sebagai anak sulung, keturunan Jansen Sinamo dianggap penentu bagi keberlangsungan generasi Sinamo dari ayah-ibunya. Dan apa jadinya keberlangsungan generasi itu bila Jansen tak menikah juga?


Maka pada suatu hari, Jansen yang sudah bekerja di Jakarta kala itu, mendadak dipanggil pulang kampung. Jansen sudah tahu ini pasti menyangkut soal telat nikahnya dia. Ia pun pulang. Ternyata sebuah upacara kecil di tengah keluarga inti sudah dipersiapkan untuknya. Yakni acara santap makan bersama setelah didahului mempersembahkan hidangan seekor ikan Batak utuh kepadanya.


Upacara itu memang ada tujuannya. Di kalangan orang Batak ada keyakinan bahwa seseorang terlambat menikah bisa jadi disebabkan tatkala ketika dia di dalam kandungan, ada permintaan sang Ibunda yang tidak terpenuhi. Itu lah yang dianggap sebagai penghalang dirinya menemukan jodoh, dan karena itu, untuk menghilangkan hambatan itu, permintaan yang tidak terpenuhi tempo hari harus ‘dibayarkan’ kini.


Ternyata dulu ketika mengandung Jansen, sang Ibunda ngidam untuk menikmati hidangan ikan Batak. Ketika hal itu disampaikannya kepada suaminya, permintaan itu dilayani. Ayah Jansen segera pergi ke pasar dan membeli ikan Batak permintaan istrinya. Sayangnya, setelah pulang dengan membawa ikan Batak bersamanya, ayah Jansen merasa tugasnya sudah selesai. Ia menyerahkan ikan tersebut kepada istrinya untuk dimasak, padahal, sesungguhnya istrinya ingin menikmati hidangan ikan Batak yang dimasak sendiri oleh suaminya itu.


Maka dalam upacara yang diperuntukkan bagi Jansen tersebut di kemudian hari, ikan Batak yang dihidangkan kepadanya adalah sungguh-sungguh ikan Batak yang dimasak sendiri oleh ayahnya. Hari itu ayahnya terpaksa bersedia menanggalkan gengsi kebanyakan lelaki Batak yang umumnya ogah bekerja di dapur. “Saya kira, itulah ikan Batak pertama dan terakhir yang dimasak sendiri oleh ayah saya, walau pun waktu itu, ia juga dibantu oleh kerabat lainnya,” kata Jansen sambil tertawa menceritakannya. Boleh percaya atau tidak, tak lama setelah upacara itu Jansen menemukan jodohnya, yang kini telah memberinya sepasang putra-putri yang sudah remaja.


Diantara berbagai amanah orang tua kepada dirinya, peran sebagai 'anak sulung' agaknya banyak sekali mempengaruhi hidup yang diperjuangkan Jansen. Peran sebagai anak sulung tersebut mengharuskan dirinya banyak berimprovisasi memerankan banyak hal; dia harus menjadi pemimpin di tengah adik-adik dan keluarga besar, penasihat manakala ada yang cekcok, solidarity maker manakala ada 'musuh' dari luar yang mengancam, sekaligus jadi pelopor dan sponsor fund rising manakala ada yang membutuhkan.

Semenjak kedua orang tuanya masih hidup dan Jansen mulai mandiri sebagai kepala keluarganya, sebagian dari tugas mereka sudah didelegasikan kepada sang putra sulung. Hampir semua adik-adiknya bersekolah dan bahkan menikah dengan sokongan Jansen. Demikian juga dengan sanak-saudara yang lain. Tak dia ingat lagi berapa banyak kerabat yang ‘meminjam’ uang darinya untuk biaya sekolah ini itu atau untuk uang persekot memasuki instansi X atau Y. Dan sudah bukan berita baru jika sebagian dari pinjaman itu macet di perjalanan.


Namun, bukan hal itu yang paling membuat Jansen sedih. Yang paling membuat dia berduka, seperti yang pernah diceritakannya, adalah apabila ia mendengar cerita tentang anggota keluarga yang kerja atau kuliah tidak becus. “Mau menangis rasanya, bila mendengar ada saudara yang sekolahnya tidak beres, bolos, atau menyalahgunakan kepercayaan. Padahal kita sudah membantunya sebisa mungkin. Jangan dikira bahwa kita selalu memberikan bantuan karena kita sudah berlebih. Kita membantu dengan harapan, bantuan itu dipergunakan sebaik mungkin. Kita tidak menuntut imbalan dari bantuan itu. Yang kita tuntut hanya lah agar mereka yang kita bantu dapat berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian suatu saat, ia juga bisa membantu sanak saudara yang lain lagi. Nah, kalau kepercayaan dan harapan seperti itu sudah disalahgunakan, saya sering marah dan sedih dalam hati,” kata Jansen.


()()()

Makin siang restoran Peacock di Hotel Sultan makin ramai. Padahal, ini hari libur. Satu per satu teman yang kami tunggu kini sudah muncul dan lantas bergabung. Kami menyudahi perbincangan, untuk masuk ke topik lain. Tapi di buku kecil yang menjadi catatan saya, masih tersimpan banyak rincian kisah hidup sang Guru Etos, yang akan saya tuliskan lagi di masa mendatang.

-bersambung-


Ciputat, 13 Desember 2008


1 comment:

  1. Anonymous4:21 PM

    Baru tau kalau Pak Jansen harus 'diupa-upa' dulu baru dapat jodoh.....:-). Ikannya dihabiskan sendirian kan? Selamat, semoga cepat pulih Pak...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...