Sunday, December 28, 2008

Keajaiban-keajaiban Kecil pada Natal di Perumahan Kami


Orang Batak rantau umumnya tahu apa itu ‘punguan parsahutaon.’ Tapi jika diminta memberi padanan katanya yang pas dalam bahasa Indonesia, agak susah juga. Secara harfiah, punguan parsahutaon dapat diterjemahkan menjadi perkumpulan yang bersifat kesewilayahan. Tapi pasti masih bingung, kan, maksudnya?


Barangkali begini, lebih jelasnya. Orang rantau, termasuk orang Batak, biasanya gemar berkumpul dan bikin perkumpulan (punguan). Supaya guyub, kata orang Jawa. Nah, perkumpulan-perkumpulan orang Batak ada banyak macamnya. Ada perkumpulan yang dipersatukan oleh marga. Ini lah yang disebut punguan marga. Ada perkumpulan yang dipertautkan oleh tanah kelahiran. Biasanya punguan ini diberi nama desa tanah kelahiran anggota-anggotanya. Misalnya, Punguan par-Sidamanik, untuk perkumpulan orang-orang yang dilahirkan di Sidamanik, Punguan par-Siantar untuk yang berasal dari Siantar, dan sejenisnya. Ada pun punguan parsahutaon tadi, adalah perkumpulan orang Batak yang dipertautkan oleh domisili di tanah rantau. Misalnya, orang-orang Batak yang tinggal di Bekasi, sangat mungkin membuat punguan parsahutoan mereka di wilayah ini. Begitu juga di tempat-tempat lain.


Orang-orang Batak di tempat kami tinggal sudah satu tahun ini punya perkumpulan. Namanya Punguan Parsahutaon Vila Dago Tol. Ini mengacu pada perumahan dimana kami tinggal di desa Sarua, Tangerang. Biar gampang, kita singkat saja jadi PP-VDT. Anggotanya mencapai 30 kepala keluarga. Sebagian besar keluarga muda. Dengan usia perkumpulan yang masih sebelia itu, harap maklum bila kami baru bisa berkumpul sekali tiap tiga bulan.

Jangan bayangkan jika kompleks perumahan kami ini sudah sementereng ‘perumahan tetangga’, Bumi Serpong Damai (BSD), yang hanya beberapa ratus meter dari perumahan kami. Tak pula sekeren perumahan ‘tetangga jauh’, Bintaro Jaya dan Pondok Indah yang hanya beberapa menit jaraknya (via jalan tol). Belum lah. Di sini semuanya masih serba berkembang. Satu dua rumah memang sudah dipermak jadi berlantai dua dan tiga, lengkap dengan kitchen set berkilau, kamar mandi dengan shower, lampu taman berwarna-warni plus pintu pagar yang dijaga satpam pribadi. Tapi tidak sedikit pula yang masih seperti rumah kami, yang standar dan asli fresh from the oven (menghibur diri sendiri tidak apa-apa, kan?), dengan pintu pagar yang sudah karatan karena budget tak cukup untuk mengecatnya…..


Walau begitu, dalam perkara semangat dan tekad untuk melestarikan tradisi kakek-nenek moyang, tampaknya kami tak boleh diremehkan. Buktinya, perkumpulan itu selalu bisa menemukan caranya untuk terus ‘hidup’ dan berjalan, walau kadang tertatih-tatih. Tokoh yang jadi motor penggeraknya , Lae Silitonga, Lae Pardede, Almarhum Lae Sirait, Oppung Nasution (yang sekaligus jadi ketua, sekretaris, wakil ketua dan penasihat) tak bosan-bosan memberi semangat. Kami memang selalu diyakinkan oleh ‘kata-kata mutiara’ dari buku kudus yang berkata, “dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dan menyebut namaKu, Aku akan…..dst….dst"

Lagipula, sangat lah luhur tujuan perkumpulan ini. Tekad untuk melestarikan tradisi kakek-nenek moyang itu, seingat saya, kami maksudkan bukan untuk tujuan yang bersifat selfish sekadar membesar-besarkan ego keBatakan kami. Melainkan untuk menebar kebaikan-kebaikan yang telah dirintis oleh kakek-nenek moyang dahulu kala, menjadi nilai-nilai yang luhur untuk disemai di tengah keluarga, lingkungan dan pada gilirannnya, negeri ini. Apalagi, perkumpulan ini sesungguhnya bisa juga disebut perkumpulan gado-gado atau pelangi. Bukan cuma saya yang beristrikan boru sileban (perempuan non-Batak) di sini. Banyak pasangan gado-gado lainnya. Termasuk keluarga yang merupakan perpadua Batak-Manado, Batak-Chinese, Batak-Ambon dll. Begitu juga wanita (boru) Batak yang dipersunting baoa sileban (pria non-Batak), Pasangan Palu-Batak, Ambon-Batak dan Jawa-Batak, turut meramaikan perkumpulan ini. Saya sendiri di dalam hati selalu berdoa agar perkumpulan kami jangan pernah melupakan semangatnya sebagai ‘danau’ yang selalu sabar untuk menampung. Danau yang dengan kerendahan hatinya siap mengalirkan dan mengairi sekitarnya dengan kesegaran dan kesejahteraan.

Begitulah. di awal November lalu, tiba-tiba kami disadarkan bahwa Natal sudah dekat. Dan, semua kami merasa bahwa perkumpulan kami perlu merayakan Natal, sesederhana apa pun bentuknya. Panitia Natal pun terbentuk, tetapi dengan serba keterbatasan. Lae Siregar (Polisi) didaulat jadi ketua, Ito boru Sitompul jadi bendahara sedangkan saya jadi sekretarisnya. Dana terbatas tetapi yang paling membuat was-was adalah terbatasnya waktu. Bisa dipahami, karena sebagian besar anggota perkumpulan masih berjuang untuk mencari nafkah di Jakarta yang super bergegas.


Maka persiapan-persiapan perayaan Natal ini dijalankan dengan serba mengandalkan pengertian akan berbagai keterbatasan itu. Bila rapat yang sedianya dijadwalkan pukul 19;00 tetapi baru bisa dimulai pukul 20:30, tak boleh ada yang mengeluh. Bila yang hadir pada persiapan-persiapan itu bisa dihitung dengan jari dan orangnya pun itu-itu pula, ini pun tetap harus disyukuri. Bila rapat-rapat itu pada akhirnya kerap dilakukan secara dadakan dan tak direncanakan, sepenuhnya masuk akal. Pokoknya, maju tak gentar menjadi motto yang tak pernah boleh terlupa sedetik pun. Kalau ada yang sempat berpikir melemahkan semangat, sontak anggota yang lain memberi dorongan motivasi agar tekad kami tak sempat loyo.


Acara Natal itu dijadwalkan dimulai pada sore hari, 7 Desember 2008. Tapi jujur saja, aneka kecemasan sempat menghantui kami, justru pada detik-detik menjelang hari H. Walau di dalam tiap kesempatan bertemu kami selalu memulainya dengan berdoa sangat khusyuk, jelas lah kami tak bisa berbohong tentang adanya keraguan. Banyak pertanyaan melilit di pikiran. Apakah orang-orang akan datang? Apakah cuaca akan mendukung? Apakah makanan akan cukup? Apakah anak-anak akan antusias mengikuti acara? Apakah semua tugas yang sudah dibagi-bagi kepada masing-masing personil panitia, dapat terlaksana, mengingat begitu supersibuknya kami-kami ini?


Pagi hari 7 Desember itu, sudah mulai ada rasa deg-degan. Sampai pukul 10:00, tenda yang seharusnya sudah berdiri, tak nongol juga di depan rumah alm Lae Sirait, yang dijadikan lokasi acara. Kami yang sudah berberes-beres merapikan tempat itu rada cemas juga. Jangan-jangan penyedia tenda lupa bahwa kami membutuhkan jasanya, padahal sudah kami pesan sebulan sebelumnya. Dan kalau itu terjadi, bisa berabe. Susah untuk menyewa tenda secara mendadak pada bulan-bulan seperti sekarang.


Sambil berberes-beres begitu, kami menyadari bahwa kami belum punya keyboard untuk pengiring ibadah. Heran, kok kami tidak terpikir akan hal ini ya? Lae Tambunan dan Lae Silitonga sibuk bertanya ke sana-ke mari menanyakan siapa kira-kira yang punya alat musik tersebut. Sementara itu, untuk memastikan keikutsertaan anak-anak, sejak pagi, saya sudah berkeliling naik motor untuk membagi-bagikan liturgi untuk mereka yang belum kebagian. Ada rasa kecewa juga. Beberapa diantara rumah yang kami kunjungi terkunci. Mereka mungkin sedang keluar rumah.


Makin siang, di atas sana langit kian terlihat mendung. Hati makin sedikit gundah. Oala. Ribet betul mempersiapkan natal perdana ini.


Kecemasan baru berkurang ketika tenda yang kami tunggu-tunggu itu tiba juga. Lae Purba dan Ucok Nasution yang serba ringan tangan mempersiapkan segala tetek-bengeknya, menambah semangat kami. Bersamaan dengan itu, Lawei Sinaga yang mengurus pengeras suara dan sound system, muncul dengan derai tawanya yang khas dan logat Simalungunnya yang mantap. Ia juga mengabarkan bahwa ia sudah menyediakan organ dan pemainnya sekaligus, yakni Bung Simon yang orang Ambon. (Macam mananya kami ini. Ngaku orang Batak, tapi tak ada yang bisa main musik…. Tengkyu ya Bung Simon? ). Sebelumnya, kami melihat Lae Tarihoran memarkir sedannya di pinggir jalan. Ia pamit dan minta izin tidak bisa ikut karena harus ke Bandung. Tapi ia punya keyboard di rumah. Dan itu dapat kami pakai malam nanti. Di lokasi acara, sudah makin ramai yang ikut hadir berbenah-benah. Lae Pardede, Lae Siahaan dan banyak lagi. Yang empunya rumah, Ny L. Tobing masih berada di Puncak untuk mengikuti Diklat, tapi sudah memastikan akan hadir pada perayaan nanti.


Pukul 17:00 semua persiapan sudah rampung. Jalan dan pekarangan rumah alm Lae Sirait sudah dihiasi pohon terang, mimbar, berikut deretan meja dan kursi. Tapi tak lama sesudahnya, hujan deras mengguyur disertai angin kencang. Saya sudah meninggalkan lokasi saat itu, untuk mengantarkan Amartya mengikuti konser sekolahnya di BSD Plaza. Dalam hati saya berdoa. Semoga saja hujan deras ini tak kan mengurangi semangat orang untuk mendatangi perayaan natal nanti.



Bila manusia sering berpikir tentang hal-hal besar ketika bicara tentang keajaiban, maka dalam natal kami kali ini, saya makin percaya bahwa sang Keajaiban itu sering hadir justru dalam bentuknya yang kecil-kecil. Dan, itu lah yang terjadi pada Natal kami, di perumahan kami yang udik dan masih serba berkembang itu. Saya dan Amartya sudah tiba di rumah dari acara konsernya setengah jam sebelum acara dimulai. Dan ajaibnya, hujan sudah reda. Saya berlari-lari kecil dari rumah ke lokasi acara, yang jaraknya cuma beberapa puluh meter. Angin sore bertiup segar dan menyenangkan. Ada blessing in disguised. Dengan turunnya hujan sebelumnya, debu di jalanan turut lenyap. Rumput-rumput terlihat segar. Juga pohon pepaya, jambu, kembang puring dan talas di kebun Lae Sirait, yang jadi latar panggung perayaan Natal kami.


Dan ketika waktunya tiba. Natal itu berlangsung dengan mulus. Kami memulainya pukul 19:00, dan berjalan dengan khusyuk. Saya kebagian membawa acara, setelah ito Golda lebih memilih menjadi MC pada acara perayaan. Sedangkan Pendeta Hutagaol membawakan khotbah, yang mengajak kami untuk jadi garam dan terang dunia, mengabarkan betapa Sang Penebus dan Penasihat Agung itu adalah sumber kasih dan sejahtera. Tiada terhingga terimakasih kami kepada Pak Hutagaol yang adalah pendeta gereja Advent. Perayaan Natal ini juga ditandai dengan acara ‘pajojorhon,’ sebuah tradisi dari Tanah Kelahiran (bona ni pasogit) berupa pembacaan nats Alkitab secara bergantian. Anak-anak dan orang tua turut dalam kegiatan ini. Ah, kalau melihat putri saya yang turut berdiri diantara anak-anak lainnya, air mata saya menitik. Betapa akhirnya saya bisa juga meneruskan kebiasaan itu kepadanya, walau ia sudah dilahirkan di tanah rantau ini.

Seusai ibadah, acara kami dilanjutkan dengan perayaan. Kami pun menikmati hidangan yang tersedia. Sambil begitu, bingkisan dibagikan kepada anak-anak. Di atas panggung, berlangsung acara bebas berupa bernyanyi ‘sesuka-hati’ mendendangkan lagu-lagu Sinanggar Tullo, Luat Pahae, Pos ni Uhur min, Erkata Bedil dan banyak lagi lagu Batak lainnya. Sambil manortor bagi yang senang berjoget, atau sekadar bertepuk tangan di tempat duduk masing-masing.


Kalau melihat betapa tak henti-hentinya kami tersenyum dan bersenda gurau, serta bolak-baliknya setiap orang mengambil hidangan yang tersedia, plus tak ada anak yang tak kebagian hadiah, mungkin ada yang mengira kami telah menghabiskan puluhan juta rupiah untuk acara ini. Tidak. Bahkan Rp5 juta pun tak sampai. Makanan yang terhidang semuanya adalah sumbangan dari masing-masing anggota secara sukarela. Mulai dari nasi, ikan bakar, sate, gulai, sop, buah, air mineral, hadiah untuk anak-anak dan banyak lagi.


Di akhir acara kami semua menyanyikan lagu kebanggaan, O Tano Batak. Bung Simon berusaha untuk bisa mengiringi suara kami yang campur-aduk. Dan untuk kesekian kalinya, lagu ciptaan Nahum Situmorang itu tetap saja bisa mengilik-ilik keharuan, untuk selalu ingat pada kampung halaman, berikut kebaikan-kebaikan tak berkesudahan yang kita timba dari sana.


Demikianlah cerita tentang keajaiban pada perayaan natal di perumahan kami. Mungkin tidak sedramatis yang dibayangkan orang. Tidak sedahsyat dalam cerita-cerita film dan sinetron. Tapi seperti sudah saya katakan tadi. kami lebih percaya pada keajaiban-keajaiban kecil tetapi berkelanjutan, ketimbang pada keajaiban-keajaiban besar sekali tembak tapi sesudah itu tak pernah muncul lagi. Terimakasih tiada terhingga kepada sang Khalik yang mengizinkan ini semua terjadi. Terimakasih untuk kawan-kawan tetangga, Pak RT dan perangkatnya, pak satpam dan tak boleh dilupakan, para mbak-mbak yang sudah ikut repot di dapur masing-masing.

Selamat hari Natal, dan selamat menikmati foto-foto yang indah, yang diabadikan oleh Mas Otto (pria Jawa yang mempersunting boru Sitompul) dengan tulus dan sukarela. Sampai jumpa di Natal tahun depan. Di saat itu, kami yakin, sudah ada PP VDT Choir yang merdu dan membahana walau pun sebagian besar anggotanya tidak bisa baca not. Percaya deh, keajaiban-keajaiban kecil itu pasti akan hadir lagi. (maunya sih, hehehehe).

































4 comments:

  1. Salut buat PP VDT...
    Selamat menyongsong Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati..

    ReplyDelete
  2. ikut bahagia membacanya, terutama bagian anak2 bisa dengan senang melestarikan adat ortunya. pastilah anda bangga banget.

    saya yang lewat atau emang ga dituliskan (padahal udah saya baca detil loh...) ibunya anak2 dari daerah mana?

    ReplyDelete
  3. Gerda Silalahi7:26 PM

    selamat tahun baru yah ito.
    wah, aku ikut terharu membaca persiapan perayaan natal PP DVT, sederhana namun penuh kebersamaan dan solidaritas. dan justu itulah makna natal sebenarnya.

    ReplyDelete
  4. Anonymous1:00 AM

    Aku sungguh kagum dengan kekompakan dan saling dukung di Punguan Parsahutaon - VDT. Selamat ya bang, kalian sudah bisa dengan sukses menyelenggarakan Natal 2008 (Natal perdana kalian) dengan apa adanya kalian, dan sang “Keajaiban” itu sudah hadir di tengah-tengah punguan yang walaupun met-met secara kwantitas, tapi balga dalam hal kwalitas.

    Hal lain yang membuatku sangat bangga dan kagum, adalah tekad dan semangat untuk melestarikan tradisi kakek-nenek moyang kita dengan membuat punguan semacam ini, dengan tujuan – seperti yang sudah abang sebutkan tadi -- untuk menebarkan kebaikan yang telah dirintis oleh nenek moyang menjadi nilai luhur yang perlu selalu disemai di tengah keluarga, lingkungan dan bangsa ini. Sebenarnya esensi dari punguan seperti ini adalah “Kepedulian terhadap sesama” (saling peduli dan saling dukung satu sama lain). Hal ini sangat penting, terutama untuk diwariskan kepada anak-anak kita, ditengah-tengah kehidupan yang sudah sangat hedonis dan individualistis sekarang ini.

    Semoga doa abang, yang juga adalah doa kita semua, bahwa kiranya punguan-punguan seperti ini tidak akan pernah melupakan semangatnya sebagai ‘danau’ yang selalu sabar untuk menampung, yang dengan kerendahan hatinya siap mengalirkan dan mengairi sekitarnya dengan kesegaran dan kesejahteraan, menjadi nyata selalu ditengah masyarakat bangsa ini. Seperti Danau Toba yang sangat kita cintai, kagumi dan banggakan, yang sudah memberi banyak inspirasi, kebahagiaan bahkan kehidupan bagi banyak orang. Danau Toba yang ada di Tano Batak tapi spiritnya bisa kita tebarkan di tanah rantau.

    Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 untuk Abang, Kakak dan Amartya, juga dihita saluhutna.

    Horas

    Riris Panggabean

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...