Tuesday, February 10, 2009

Apakah Saya Ada Tampang Miliarder?

Ini salah satu cerita paling menyedihkan yang pernah saya baca. Andreas Chranner tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat pada 31 Juli 2000. Lelaki asal Munich, Jerman itu, tak sendirian. Seluruh keluarganya yang berada di dalam pesawat, juga turut kehilangan nyawa. Yang bikin hati lebih terenyuh, sampai kini, delapan tahun setelah peristiwa itu, tak ada seorang pun di seluruh dunia yang merasa kehilangan atas kepergian Mr Chranner. Betapa ia tak punya siapa-siapa lagi, bahkan setelah kematiannya.


Namun itu ternyata bukan akhir dari kisah Mr Chranner. Sebab, ada seseorang bernama Joseph Sankara, manajer pada departemen foreign remittance pada Bank Of Africa (B.O.A). Ia menemukan sesuatu yang menarik ketika mengerjakan tugasnya mengaudit departemennya. Di departemen yang ia pimpin itu ia temukan sejumlah sangat besar dana: US$12,5 juta. Uang itu ada pada rekening atas nama Mr Chranner.

Wuih, US$12,5 juta. Itu sama dengan Rp125 miliar bila BI berhasil mengerem laju penurunan nilai tukar rupiah menjadi Rp10 ribu per dolar (nyatanya, kini sudah menyentuh Rp12 ribu per dolar). Bila dibelikan ladang di kampung halaman saya, di Sarimatondang, wah, ia bukan saja bisa membuat dan menghidupkan perkebunan nenas yang sudah lama punah. Ia juga mungkin bisa sekaligus mendirikan pabrik pengolahan nenas, museum nenas bahkan kalau perlu, membayar para profesor dari mancanegara untuk mendirikan universitas tempat riset dan pengembangan nenas di tanah kelahiran saya yang dulu sempat kondang dengan gelar parhonasan (terjemahan hiperboliknya: tempat segala sesuatu yang berkaitan dengan nenas).

Atau, bagi yang merasa wajahnya cukup enak dipandang untuk dipampang di spanduk-spanduk tiap persimpangan jalan, uang sebesar itu pasti lebih dari cukup untuk modal jadi caleg di Pemilu mendatang. Uang sebesar itu pasti bisa menjadi magnet untuk menghimpun ribuan tanda tangan mendirikan partai kecil-kecilan. Dan kalau tiba saatnya, uang sebesar itu juga masih cukup lah untuk menjadi 'sembako,' kaos oblong bahkan mesiu untuk 'serangan fajar.' Uang sebesar itu juga pasti masih cukup kuat untuk melakukan lobi-lobi penting, ketimbang harus berdemocrazy ala pengunjuk rasa di gedung DPRD di Medan.


Berhubung uang ini sangat besar dan tak bertuan pula, maka sejak tewasnya Mr Chranner, bank di Afrika tersebut telah mengantisipasi munculnya kerabat atau ahli waris yang akan mencairkannya. Sayangnya hingga kini tak ada satu pun yang datang. Rupanya keluarga Chranner semuanya benar-benar lenyap bersama pesawat bernasib buruk itu. Alhasil dana segar tadi tetap mengendap tanpa bisa dicairkan atau dipindahkan kemana pun.

Joseph Sankara agaknya merasa tersentuh hatinya, seraya di otakpintarnya, ingin juga kebagian serba sedikit. Ia tak ingin dana yang luar biasa jumlahnya itu menganggur. Ia tidak rela bila uang itu hanya akan memperkaya bank tempatnya bekerja. Sesuatu harus dilakukan atas dana peninggalan Mr Chranner. Jika tidak, dana itu akan ‘lenyap’ selamanya, karena setelah delapan tahun ‘tak bertuan,’ dana itu dikategorikan sebagai unclaimed bill dan jadi milik bank sepenuhnya.

Setelah memutar otak, akhirnya ada juga solusi jitu dalam pikiran Joseph Sankara. Ia mencoba meneliti berbagai informasi untuk menemukan partner bisnis yang dapat dipercaya untuk mencairkan dana tersebut. Setelah menemukannya, Joseph Sankara menulis proposal bisnis. Ia mengirimkannya kepada orang yang menurut dia, dapat dianggap sebagai mitra yang kredibel. Dan, eh, (mimpi apa saya semalam), udik-udik begini, saya ternyata menjadi pilihan Pak Joseph Sankara dari Afrika itu. Saya yang orang norak kelahiran Sarimatondang, yang setiap akhir bulan senen-kemis nafas ekonomi rumah tangganya akibat kantong kempis, entah bagaimana ceritanya, dikiriminya proposal bisnis ‘berhadiah’ jutaan dolar itu.

Isi proposal itu sederhana. Joseph Sankara berharap kepada para mitra bisnisnya, yakni saya, bersedia menjadi ahli waris Mr Chranner. Kata dia, menurut undang-undang perbankan di Afrika, ahli waris Mr Chranner semestinya adalah orang asing, dan sudah pasti bukan orang Afrika. Karena itu lah Joseph Sankara mengajukan proposal bisnis tersebut kepada orang asing seperti saya. Joseph Sankara berjanji akan membimbing saya untuk layak menjadi ahli waris Mr Chranner. Lebih jauh, ia sepertinya sudah yakin bahwa upaya kami mendapatkan dana warisan itu bakal tembus. Buktinya, Joseph Sankara sudah bikin hitung-hitungan. Sebanyak 40% dari dana yang berhasil dicairkan nanti menjadi bagian saya. Sisanya, sebesar 10%, dianggarkan untuk biaya-biaya yang keluar dalam urusan ini. Sedangkan sebesar 50% untuk Joseph Sankara sendiri.

Di akhir surat pengantarnya, tak lupa Joseph Sankara menjanjikan akan datang mengunjungi saya suatu saat untuk urusan pencairan dana. Yang perlu saya lakukan adalah mengisi semacam formulir, yang pada intinya meminta sejumlah informasi pribadi saya. Mulai dari nama, no telepon, no faks dan lain sebagainya. Saya tertawa dalam hati. Saya tepok-tepok wajah saya. Berkaca sebentar. Eh, jangan-jangan memang betul orang Sarimatondang yang udik ini ada tampang jadi miliarder. Siapa tahu, kan? Dan rupanya, dengan mengharapkan saya bakal memberikan semua data yang diperlukan, Mr Sankara yakin saya bakal tergiur dengan

mimpi jadi miliarder. Bayangkan, 40% kali Rp125 miliar. Sampai tujuh turunan pun uang sebanyak itu mungkin tak kan habis oleh saya dan ahli waris saya……


()()()

Saya tahu. Banyak pasti yang tertawa ngakak membaca cerita ngibul di atas. Kita-kita yang sudah menjadikan surat-e (email) sebagai bagian dari gaya hidup, pasti pernah sekali-dua bahkan berkali-kali, menerima surat-e bernada simpatik dengan cerita yang menyentuh (seperti kisah Mr Chranner) tetapi nyata-nyata ngibul. Yang seolah-olah menawarkan uang, hadiah, dan sebagainya tetapi sesungguhnya bohong belaka.

Bentuk surat semacam ini bisa bermacam-macam gaya dan isinya. Ada yang panjang, ada yang pendek. Ada yang berupa proposal bisnis, ada yang berupa surat curhat. Intinya tetap sama: permintaan dan tawaran yang bernada too good to be true. Cerita yang saya gubah di atas, contohnya. Kisahnya saya ambil dari sebuah surat-e yang dikirimkan seseorang bernama Joseph Sankara dengan alamat email: mrjoseph_sankara2@universia.cl. Sudah lupa saya kapan tepatnya ia mengirimkannya.

Biasanya, surat-e semacam ini –yang tergolong spam—masuk ke folder bulk di account email Yahoo saya. Dan email semacam ini merupakan sasaran paling awal dan utama untuk didelete. Tapi akhir-akhir ini, kok saya merasa makin sering saja surat semacam itu mampir. Hampir tiap hari ada. Bukan hanya satu, kadang-kadang bahkan tiga sekaligus. Isinya pun mirip-mirip. Hanya nama dan pekerjaan pengirimnya saja yang berbeda.

Itu sebabnya dalam seminggu terakhir saya bertekad untuk mencoba menginventarisir surat-surat bernada too good to be true tersebut. Di satu sisi, ada perasaan ingin memberi apresiasi kepada ‘penulis-penulis kreatif’ itu. Menurut saya, mereka ini boleh lah digolongkan jenius, bisa mengarang cerita yang menyentuh. Hanya saja tujuan dan sasarannya saja yang salah.

Dalam sebuah seminar tentang teknologi informasi suatu hari dulu, seorang eksekutif perusahaan komputer di Indonesia pernah bercerita bahwa surat-surat semacam itu ternyata dikirimkan oleh mesin—bukan orang. Sekali kirim, ia bisa menjangkau ratusan bahkan ribuan alamat email. Jadi kalau saya sempat ge-er, merasa dianggap kredibel dan layak untuk ditawari proposal bisnis bernilai jutaan dolar, sekarang malah seharusnya malu. Sebab hari gini, masih saja ada yang menganggap saya bakal tergiur dengan tawaran jadi miliarder.....

()()()

Tapi apakah dengan begitu kita tidak boleh 'bermimpi?' Mimpi jadi miliarder, mimpi jadi presiden? Membayangkan yang baik dan yang indah semisal menikmati makan malam di Paris bersama sahabat lama yang tak berjumpa 20 tahun, atau memberangkatkan ayah-ibu ke Tanah Suci?

Orang Batak banyak yang diberi nama 'Tulus.' Dan karena bagi orang Batak pemberian nama bagi keturunanya adalah urusan yang sangat penting (bahkan upacara membaptis anak kerap diistilahkan 'mangalop goar tu joro ni Debata,' yang secara bebas bisa ditafsirkan 'menjemput' nama dari gereja, sebab nama tersebut adalahpemberian Tuhan), maka saya cukup yakin bahwa kata 'Tulus' pasti sangat baik dan berarti bagi orang Batak.

Tulus itu pula, yang menurut pengalaman saya, yang jadi penopang tercapainya mimpi. Mimpi-mimpi yang akhirnya berhasil jadi kenyataan --apakah itu mimpi besar atau kecil-- selalu berawal dari hati yang mendambakannya secara tulus. Ketulusan itu kemudian memandu energi pada orang-orang yang bermimpi itu untukmencapainya. Kadang-kadang –bahkan sering-- harus berurai air mata, selain berurai keringat. Sering pula mimpi yang jadi kenyataan itu terwujud dalam rupa yang tidak seperti mimpi semula. Tetapi saya termasuk orang yang percaya, bahwa mimpi (indah) yang jadi kenyataan selalu datang dalam wujudnya yang paling otentik. Bening. Sederhana. Tanpa dipoles. Tapi kita tahu. Ia benar-benar ada dan terasa. Menjadikan kita benar-benar miliarder secara batiniah. Dan yang pasti bukan seperti dongeng ciptaan Joseph Sankara yang bikin kita ngakak itu.Ah, pasti juga saya sedang mendongeng nih...

--selesai--

Keterangan Foto: Kakek dan Nenek (Oppung) Amartya berlagak sebagai miliarder, berfoto di sebuah taman di The Green, sebuahperumahan elit di kawasan Serpong, tak jauh dari tempat kami tinggal. Mudah-mudahan cucu saya kelak bisa berdiam di rumah seperti itu, hahahaha.

7 comments:

  1. Wah saya juga sering dapat surat seperti itu. Yah saya spam saja. Tapi tulisan ini bagus juga buat menginformasikan ke yang tidak tahu bahwa ini penipuan.

    ReplyDelete
  2. Abang punya tampang milliarder juga kog. he he he. Ternyata, bukan cuma orang indonesia yang tukang ngibul ya. Btw.. mana foto hasil jepretanku bang> kog tak ada ceritanya?

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:14 PM

    Model penipun seperti ini sudah lama sekali ada, pernah juga kita lihat di dokumentasi dari England yang sudah lama diincer oleh polisi. Semoga orang -orang sadar bahwa ini adalah salah satu modus penipuan.

    ReplyDelete
  4. wah bang eben nih, heibat! nulis ttg email spam aja bisa panjang dan menarik spt ini. sip deh! :)

    ReplyDelete
  5. Anonymous1:00 AM

    ia bang saya juga jadi bingung soalnya baru beberapa hari ini saya menerima email(spam)yg ingin saya menjadi ahli waris dari seorang miliarder libanon yang mati terbunuh pada sebuah mobil bom bunuh diri 14 january 2005.awalnya saya percaya namun sejak tadi malam saya ragu karena dia meminta saya membayar dana tagihan diplomat sebesar 2000 dollar,saya ragu mengapa saya harus membayar dana tagihan sekecil itu di awal padahal jika dia memeng ingin membantu sudah pasti segala sesuatu telah terselesaikan dengan baik,tapi saya juga sedikit iseng bang..saya bilang aja kalau dia bisa bantu saya membayar diplomat yang dia kirim saya akan menganti sebesar 10000 dollar.terima kasih atas informasinya mudah-mudahan kita benar jadi miliarder beneran..

    ReplyDelete
  6. waah saya juga baru dapat nih, saya sempet percaya,tp ragu2.. dan gak sengaja saya nyari2 info tentang kecelakaan pesawat org yg dmksud penipu itu, eh ada artikel ini... thanks yaaa udah share,n jd lebih waspada lg... tp pngen saya kerjain dulu ah..hehehe

    ReplyDelete
  7. makasih banyak, saya baru aja dikirimi email dari orang yang mengaku pegawai bank yang minta tolong uang tersebut dititipkan ke rekening saya, terus saya bilang diindonesia tidak bisa, maka saya perlu uang untuk transfot dll untuk membuat rekening luar negri di korea utara...telap orangnya wkwkwkwkwk...untung ada postingan ini....tks so much

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...