Tuesday, March 03, 2009

Dongeng untuk Maryama Karpov

Dear Maryama Karpov,

Apa kabar? Jangan kaget membaca surat ini. Anggap saja ini salah satu caraku yang lain untuk menyapamu. Surat ini aku tulis untuk mengantarkan dongeng-dongeng yang mungkin tak lagi sepenuhnya asing bagimu tiap kali kau berkunjung ke sini.

Memang aku tak pernah menghitungnya. Tetapi seingatku, puluhan kali sudah engkau mengatakan, bila kesempatan ada, bila umur panjang dan bila Tuhan mengizinkan (kadang-kadang memang Tuhan perlu kita libatkan, bahkan pada hal-hal remeh), ingin berkunjung ke Sarimatondang, kampung halaman kami yang masih sulit menemukannya di peta. Berkali-kali kau katakan ingin mencoba bagaimana rasanya menghabiskan sore duduk-duduk di kebun nanas (yang sudah punah), berlarian di hamparan perkebunan teh hijau, atau mungkin kau juga ingin mencoba bagaimana 'kembali menjadi anak-anak' tatkala mandi di Aek Simatahuting.

Dugaanku, kau juga akan membayangkan sesuatu yang menyenangkan melewatkan Sabtu pagi yang lamban di Sarimatondang, sambil memeluk lutut karena kedinginan dan menikmati sarapan lappet serta pohul-pohul. Di kampung kami, justru Sabtu lah hari yang easy like Sunday morning. Sebaliknya, Minggu pagi merupakan saat paling sibuk ketika seisi rumah berebut paling dulu mandi dan merias diri supaya dapat tiba di gereja tanpa terlambat.

Maryama Karpov yang baik,

Kadang-kadang aku tertawa sendiri membaca surat-surat-e mu yang berisi keinginan-keinginan yang aneh tapi lucu itu. Misalnya, aku tak bisa menahan tawa, tapi sekaligus juga hati ini seperti menari-nari dibuai oleh nyanyian yang menyenangkan tiap kali di akhir surat engkau mengatakan suatu saat nanti ingin juga bertemu dengan Amboru dan Makkela-mu, yang pasti lah belum pernah tahu siapa dirimu yang begitu merindukan mereka. Entah darimana engkau petik dan pelajari panggilan akrab dari khasanah Simalungun itu, yang bila dicari padanannya, adalah Tante dan Om dalam Bahasa Indonesia. Tak bisa aku membayangkan bagaimana kira-kira wajah Bapak dan Mamakku berhadap-hadapan dengan seorang Turis seperti dirimu yang sudah banyak tahu tentang mereka tapi mereka samasekali tak pernah tahu tentang dirimu.


Ada rasa malu ketika menyadari betapa kekanak-kanakannya kami, orang Sarimatondang yang udik ini. Yang sifat ge-er dan rada-rada chauvinistic-nya tak pernah bisa diredam dan dikesampingkan. Bayangkan lah. Sekian banyak kali kau mengatakan kerinduan-kerinduanmu itu, sekian itu pula hati kami merasa tersanjung. Serasa jadi pria terhebat di dunia, walau pun aku tahu, sebagian dari rasa itu mungkin hanya fatamorgana. Pasti lah yang selalu kau katakan itu mengandung basa-basi komunikasi untuk menghibur hati melankolis manusia udik seperti kami, yang kecintaannya pada kampung halaman berlebihan seperti make up artis pantomim. Tapi herannya, walau tahu digombali berpuluh kali begitu, tetap saja tak tersembunyikan rasa bangga. Rasa dihargai. Apalagi ketika akhirnya dapat kuraba juga kegembiraanmu menemukan kembali pengalaman masa kecilmu, yang mungkin dalam hal kepolosan dan keluguannya tak berbeda jauh dengan 'dongeng' yang kutorehkan di the beautiful sarimatondang ini. Ada pertautan yang entah direkatkan oleh apa diantara pengalaman-pengalaman kita. Mungkin kah itu karena seperti yang dikatakan orang, bahwa manusia sesekali harus kembali seperti kanak-kanak yang pulas di atas ayunan ketika mendengar dongeng, entah itu di ayunan canggih memakai energi listrik, atau yang ayunan ‘klasik,’ sebuah sarung yang diikatkan di dahan pohon nangka?


Aku mencatat juga dengan sangat baik salah satu perkataanmu yang cukup lama kurenung-renungkan. Pernah kau berkata tidak ada penjelasan untuk semua kerinduanmu akan kampung halaman kami yang hanya kau kenal lewat cerita-cerita tak menentu di sini. Katamu, tidak perlu ada logika untuk menjawab mengapa kau suka membaca pengalaman masa kanak-kanak kami dulu, yang setiap pulang sekolah harus segera berlari ke kebun dan ladang sebab hanya di sana lah kami akan mendapat jatah makan siang. Menurutmu, tidak juga perlu ada keterangan mengapa kau merasa klik tiap kali membaca kisah-kisah sahabat masa kecilku yang baik dan lugu, yang kebaikan dan keluguan mereka tetap abadi, setidak-tidaknya dalam ingatan dan kenangan ketika berdoa di pusara mereka. Engkau juga berkata, tak perlu bersusah-susah mencari penjelasan ilmiah atas apa yang menurutmu kecocokan chemistry antara dirimu dan kisah-kisah di Sarimatondang-kami yang alon-alon asal kelakon ini. “Bung Siadari,” katamu dalam suratmu. “Tidak untuk semua hal kita bisa menuntut penjelasan. Dan, itu pula sebabnya aku lebih senang menuliskan sesuatu melalui surat. Sebab aku bisa mengatakan apa yang kupikirkan, tanpa perlu kau debat, tanpa perlu aku terganggu untuk melayani protesmu.”


Baiklah Maryama. Aku tak akan mendebatmu dan tak akan memprotesmu lagi jika itu akan memutuskan perbincangan kita. Kau terlalu berharga untuk tak disapa. Terlalu cerdas untuk tak didengar. Terlalu baik untuk tak dipedulikan. Dan terlalu manis untuk dilupakan. Lagipula, tahukah kau bahwa Sarimatondang maya ini sebenarnya berutang banyak oleh ilham-ilham yang muncul dari surat-surat yang ditulis oleh orang-orang sepertimu dan terutama oleh imajinasi tentang sosok misterius dirimu? Tahukah kau bahwa the beautiful sarimatondang ini juga dipersembahkan bagi dirimu dan orang-orang yang masih menghargai hal-hal kecil di sekitar kita, yang luhur, yang menyentuh, seperti rasa yang selalu mendorong-dorongmu untuk segera bergerak tiap kali melihat ibu-ibu tua ragu-ragu tatkala akan menyeberang jalan?

Maryama Karpov yang pintar,

Kau mungkin betul. Bahwa ada saat-saat dimana tidak perlu ada penjelasan untuk berbagai hal dalam hidup. Sebab dengan begitu lah kita bisa menikmati pikiran-pikiran kanak-kanak yang dengan keriangannya melukis langit berwarna kuning, sungai berwarna pink dan pohon berwarna ungu. Tanpa membebaskan pikiran-pikiran yang menuntut penjelasan itu, siapa yang bisa mengatakan indahnya langit kuning, sungai pink dan pohon ungu? Hanya kita orang dewasa lah yang selalu berpikir bahwa kopi harus hitam, bunga harus wangi dan semua tindakan manusia harus masuk akal.

Ya, aku tahu, para filosof akan gusar bila ada orang yang sudi menerima sesuatu tanpa mempertanyakannya. Sebab, seperti yang pernah aku baca dalam sebuah resensi buku, filsafat, ilmu yang rumit tapi menarik itu (ada kemiripannya dengan dirimu dalam wujud lain) justru dimulai dari rasa 'heran.' Keheranan itu lah yang mendorong orang untuk bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu, termasuk tentang sang Ada mau pun sang Pengada.


Tapi aku mau melupakan sejenak tentang yang susah-susah seperti filsafat, meskipun perbincangan filosofis makin menarik minatku di usia yang makin uzur ini. Sebab berbincang denganmu sesungguhnya adalah berpetualang lagi dengan berbagai mimpi, dengan angan-angan dan cita-cita, yang bertabur tinggi-tinggi seperti bintang-bintang di malam hari yang kau minta aku pandangi tiap kali ingin membayangkan siapa dirimu.


Untuk membebaskan pikiran dengan cara seperti itu, mungkin makin sulit kulakukan di Jakarta yang kian hari kian bising dan bergegas. Tapi tidak, di Sarimatondang. Di kampung halaman kami itu, banyak tempat yang tersedia untuk melepas dan membebaskan angan tanpa perlu dicap sebagai 'kurang kerjaan.' Di masa kecil dulu, aku bisa pergi ke kali Aek Simatahuting untuk melepaskan pikiran yang mumet. Duduk berjongkok sambil menyaksikan riak-riak kecil air bening itu, serasa beban lepas dan pikiran segar melayang-layang untuk kemudian menemukan tempatnya yang bersih kembali di kepala dan otak ini.

Tidur-tiduran di bawah pohon cengkeh, sambil membiarkan nyamuk sesekali menemukan tempat persinggahannya di pipi atau di betis, adalah juga saat-saat yang membebaskan. Kala lain, duduk-duduk berkerumun dengan teman-teman sebaya di lapangan yang rumputnya dibiarkan menyemak adalah momen-momen terbaik merenda angan-angan, bertukar ide mau pun pendapat yang tanpa kusadari ikut juga membentuk cara berpikirku setelah dewasa. Yah, kalau lagi sial, diskusi itu akan segera bubar manakala menyadari satu dua lintah telah dengan sukses menempel di sela-sela jari kaki.


Tentu saja Sarimatondang yang aku pungut dari kenangan-kenanganku semaca kecil itu, tidak lagi sepolos dan selugu itu kini. Sudah banyak yang berubah. Dan, bukan hanya desa kecil itu yang berubah, diriku yang selalu merasa memiliki dan mencintainya pun pasti lah ikut berubah juga. Tapi satu hal yang aku percaya, bahkan diantara berbagai perubahan-perubahan itu, selalu ada satu-dua hal yang abadi. Tetap ada dan tak bisa hilang. Yang sampai kini aku tak tahu itu apa dan tak bisa kujelaskan dengan sempurna. Yang jelas ia adalah sejenis perasaan yang menyebabkan dada serasa penuh disesaki oleh keharuan, rasa berhutang, rindu tetapi juga keakraban yang mengimbau-imbau, tiap kali menemukan sesuatu yang mengingatkan ku pada Sarimatondang yang udik itu.


Perasaan seperti itu pula yang muncul lagi, ketika seorang teman sekampung yang baik hati mengirimiku foto-foto mutakhir Sarimatondang. Menjelang liburan Natal kemarin, ia mengabarkan dia akan pulang kampung dari Batam, tanah perantauan tempatnya bermukim. Lalu kuminta oleh-oleh darinya berupa foto-foto yang mungkin ia sempatkan memotretnya. Dan sekarang, engkau bisa juga menyimak kampung kami pada sosoknya yang paling update ini. Yah, aku tahu, engkau mungkin akan menertawakan sekaligus sedikit terperanjat betapa Sarimatondang dalam bentuknya yang sekarang telah sedemikian rupa membelokkan bahkan meruntuhkan indahnya imajinasimu. Tidak apa, jika itu yang terjadi. Tetapi sungguh, di dalam hati, aku selalu berharap -- dan rasanya aku makin bisa mengenali sifat-sifatmu-- bahwa bukan terutama dari hal-hal yang kusam di foto ini yang akan membuatmu makin menyadari betapa pentingnya Sarimatondang bagi kami (dan mudah-mudahan bagimu juga). Melainkan dari perjalanannya yang sudah sedemikian panjang sehingga meninggalkan jejak yang dalam di hati dan pikiran kami. Untuk dan karena itu lah aku berani menuliskan surat ini kepadamu, selain untuk membayar rasa berutang, sebab engkau sudah berkali-kali menutut agar gambar-gambar mutakhir tentang desa kami itu aku sajikan di the beautiful sarimatondang ini.

Jadi, kapan kau akan berkunjung?

--selesai--

Catatan.

-Maryama Karpov adalah tokoh dan judul novel Andrea Hirata (yang sayangnya belum sempat saya baca). Dalam tulisan ini, nama itu dipakai untuk melambangkan sosok imajiner yakni sejumlah pembaca blog ini –diantaranya ada yang mengidentifikasi diri sebagai Maryama Karpov karena begitu tergila-gilanya pada novel itu-- yang berkali-kali mengemukakan kerinduan untuk mengunjungi Sarimatondang dan berbagi kenangan yang mirip-mirip tentang masa kecilnya. Tulisan ini semoga menginspirasi perusahaan travel dan biro perancang perjalanan wisata untuk mengagendakan tur nostalgik ke Sarimatondang. (Ayah dan ibu saya yang sudah pensiunan itu, tolong didaftarkan sebagai kandidat tour guide hahahaha)

-Foto-foto mutakhir Sarimatondang ini dipotret oleh Abet Juli Simbolon, kecuali satu foto tentang kebun teh, yang dipotret oleh Erick Simare-Mare. Abet adalah putra kelahiran Sarimatondang yang kini bermukim dan mencari nafkah di kota Batam. Abet dilahirkan oleh seorang ibu boru (marga) Damanik yang berprofesi guru (seperti ibu saya). Erick Simare-mare masih kuliah di Medan. Ia juga dilahirkan dari rahim boru Damanik, yang juga guru. Selanjutnya, karena boru Damanik terkenal cerewet (reteng) menjurus galak, ada semacam konsensus tak tertulis diantara orang-orang seperti kami yang dilahirkan oleh ibu boru Damanik bahwa kami ini adalah 'korban' boru Damanik, dan karena itu harus lah selalu memupuk solidaritas sesama korban boru Damanik tersebut. Anehnya, salah satu dari bentuk solidaritas itu, selain tolong-menolong berkirim-kirim foto seperti ini, adalah mati-matian membela apa saja yang berbau-bau Damanik, terutama membela ibu kami yang cerewet dan galak itu hahahaha (Terimakasih ya, Abet dan Erick)

Keterangan foto (dari atas ke bawah);

1.Seorang ibu berjalan meninggalkan perkebunan teh di Sarimatondang sambil menjunjung kayu bakar. Kayu bakar itu adalah pohon-pohon teh yang sudah ditebang dan meranggas. Kayu bakar semacam ini sangat renyah ketika berhadapan dengan jilatan api. Ia jadi kayu bakar yang mantap manakala memasak air, nasi dan menggoreng apa saja. Foto ini juga menyiratkan perubahan. Dahulu, jarang sekali ibu-ibu yang menjunjung dan pergi mencari kayu bakar semacam ini. Biasanya kami anak-anak dan remaja lah yang melakukannya.

2.Perkebunan teh di Sidamanik. Foto ini diambil oleh Erick Simare-mare. Lihat, betapa luas dan hijaunya, bukan? Dulu ketika saya masih kecil, sering melihat kakak-kakak yang sudah remaja bepergian ke kebun teh ini. Sambil mereka mencari kayu bakar, berlangsung lah kencan mesra-mesra-sebal diantara mereka. Ditingkahi oleh nyanyian, berkejar-kejaran, main petak umpet, nangis dan tertawa, pokoknya tak kalah dengan scene di film India ala Bollywood.

3.Pintu masuk ke pabrik teh di Sidamanik. Ada satu ciri khas pabrik teh ini yang tak bisa terlupa. Setiap pukul 12 (atau pukul 13?) sirine-nya akan berbunyi, mungkin sebagai pertanda pergantian shift pekerja. Suara sirine itu terdengar sampai jauh ke Sarimatondang. Ketika suatu hari saya dilemparkan nasib ke Cardiff, Wales, bunyi sirine itu digantikan oleh bunyi lonceng gereja. Jadi, Sarimatondang desa kami itu, tak terlalu beda-beda amat, kan, dengan Cardiff, di Wales sana?

4.SMA Negeri Sarimatondang. Saya masih ingat persis, sekolah ini untuk pertama kalinya menerima murid baru pada tahun 1983, setahun setelah saya menamatkan SMP. Jadi saya tidak sempat menikmati duduk di sekolah ini. Namun, semua adik-adik saya menimba studi SMA dari sekolah ini. Diantaranya adalah alm Eva, yang merupakan alumni pertama sekolah ini. Sedih juga ya, melihat papan nama yang bopeng-bopeng begitu?

5.Sebuah ornamen di SMP Negeri Sarimatondang. Sekolah ini persis berada di belakang rumah kami di Sarimatondang. Menghadap kepada ornamen ini adalah lapangan tempat siswa berbaris setiap pagi untuk melakukan apel bendera. Walau rumah saya hanya sepelemparan batu dari sekolah ini, herannya sekali-dua kali saya pernah juga terlambat masuk hehehe. Salah satu keuntungan tinggal di dekat-dekat sekolah adalah bila jam istirahat tiba, kita masih sempat berlari-lari kecil ke rumah untuk makan, kala lapar. Nggak enaknya, adalah manakala ada keperluan-keperluan tertentu, misalnya, Pak Guru butuh air atau sendok untuk makan pecal, kita pula yang disuruhnya untuk mengambilkan air dan sendok itu dari rumah hahahaha.

6. Becak di Sarimatondang. Kini alat transportasi ini makin lazim digunakan untuk bepergian.

6 comments:

  1. Aduh bang..... tersentuh sekali aku baca tulisanmu ini. Thanks sudah memuat foto foto yang tak seberapa itu. Love love love sarimatondang. Disi do pusokhi, haroroanhu haumakki, anggo bakke ku disi tanomanmu disi udeanhu sarihonma. (Plesetan lagu Pulo samosir).
    Ya.. selalu rindu kita pada sarimatondang.

    Salam hangat,
    Juli Abet Simbolon

    ReplyDelete
  2. Anonymous9:04 PM

    so sweet pak siadari... pengen segera menjumpai kampung halaman bapak.

    ReplyDelete
  3. Seneng baca tulisan ini. Kapan ya bisa ke Sarimatondang? Pengen juga lari-larian di kebun teh itu. Nggak bayar kan?

    ReplyDelete
  4. Mantap! Jangan lupa, kalau udah ke sarimatonadang, lanjut lagi ke simarjarungjung. Tidak jauh lagi.

    ReplyDelete
  5. rita marbun9:17 PM

    Senyum-senyum sendiri pas baca tentang berpacaran di kebun teh. Romantis kali. Sambil cari kayu bakar, sambil berkejar-kejaran. Kayak lagu Victor Hutabarat hehehehe. Udah berapa orang, Bang, di Sarimatondang yang menuju pelaminan gara-gara kencan di kebun teh?

    ReplyDelete
  6. heryanto damanik elmedany8:46 AM

    saya rindu kampung halaman .sekolah,teman yang cerewet,guruku semua ,kapan aku bisa pulang mencium tanah kelahiran,sejuknya udara dibawah pinus yang berbaris.tingal di negri orang tak melupakan q padamu sidamanik. tunggu aku akan datang membangun sidamanik.horas.heryanto alumni 2007-2008.semangat slalu bwat para guruq dan adik2 q i tanoh sidamanik.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...