Wednesday, March 11, 2009

Surat Seorang Ayah kepada Putrinya yang akan Berulang Tahun ke-10


Amartya putriku,


Beberapa hari lagi usiamu genap 10 tahun. Tepatnya nanti 25 Maret. Tidak terasa ya? Rasanya baru kemarin suster Rumah Sakit di Jatinegara itu menggendongmu dan menunjukkan wajah mungilmu seusai operasi cesar yang singkat. Lantas aku dan ibumu mencoba-coba menunjukkan wajah jenaka. Aku menari-nari serta berseru ‘ciluk baaaaa’ di hadapanmu untuk melucu dan membuat kau tertawa. Barulah ketika sang suster mengingatkan bahwa bayi yang berusia beberapa menit seperti dirimu belum bisa melihat apa-apa, aku tersadar dengan perasaan malu seraya menghentikan ulah kampunganku. Untuk menghibur diri, aku berkata di dalam hati bahwa pasti bukan hanya aku ayah yang berjoget-joget tanpa penonton karena terlalu bersemangat menanti kelahiran putrinya……


Kini engkau sudah menjelang remaja. Sebentar lagi aku mungkin harus tahu diri untuk undur dari ruang tamu manakala kawan-kawanmu datang berkunjung. Betapa cepatnya waktu berlalu. Adakah itu berarti juga bertambahnya kesadaran akan hakikat hidup? Aku jadi ingat seorang kolega beberapa tahun lalu. Kala itu aku masih bujangan. Mula-mula aku merasa lucu juga melihat matanya berkaca-kaca ketika menceritakan saat-saat mengantarkan putrinya di hari pertama masuk Sekolah Dasar. Kata dia, ia menangis ketika itu. Untuk kesekian kalinya ia disadarkan sudah jadi ‘Bapak’ dengan kewajiban dan tanggung jawab yang makin besar. Dan melihat putrinya melangkah memasuki halaman sekolah itu seraya melambaikan tangan, makin deras air matanya mengalir. Seolah tak percaya. Dirinya yang urakan itu, akhirnya kini menyaksikan buah hatinya memasuki dunia baru.



Tahukah kau Amartya? Kolega yang kuceritakan itu sesungguhnya orang yang sangat rasional, bila kata rasional dimaksudkan sebagai lawan kata dari emosional. Ia gemar mempertanyakan apa saja tentang A hingga Z-nya dunia ini. Ia skeptis terhadap semua yang bernama alam sesudah kematian, sama kritisnya terhadap segala mitos tentang penciptaan. Tapi tatkala bercerita tentang hari-hari pertama putrinya memasuki sekolah, ia mendadak jadi pria paling sentimentil. Dan melihat betapa seseorang yang biasanya emosinya sekeras batu karang ternyata bisa juga meleleh, apa mungkin aku bisa mengelak untuk tak ikut membuang muka seraya pura-pura membersihkan kacamata, untuk menutupi kecengengan dan sesaknya dada ini?



Satu hal yang selalu kusyukuri dari semakin bertambahnya usiamu adalah melihat dirimu tumbuh menjadi seseorang yang dapat puas dengan apa yang yang kita punya. Aku baru menyadari itu tatkala seorang kerabat yang bermalam di rumah kita, mengingatkanku bahwa betapa kau, kata dia, tidak banyak menuntut bila dibandingkan dengan kanak-kanak seusiamu. Aku tak begitu yakin apakah itu murni keheranan atau sebentuk pujian. Yang jelas, makin hari memang kurasakan merundingkan apa saja dengan dirimu makin mudah dan makin cepat. Ke dalam hal ini, diantaranya termasuk soal memutuskan bagaimana sebaiknya hari ulang tahunmu kita rayakan dan hadiah apa yang sepatutnya kau peroleh. Sudah lama kita sepakati itu, bukan?


Kadang-kadang muncul juga, sih, kecemasan apakah ini adalah sikap nrimo yang terpaksa dari seorang anak yang mengetahui serba keterbatasan orang tuanya. Jangan-jangan hal itu muncul sebagai fotokopi dari Papamu yang dalam banyak hal sering bersikap pasrah dan rada-rada minder karena ketidakberdayaan mengikuti perubahan dunia yang berlari cepat. Tapi hanya sebentar saja kecemasan itu berlangsung. Sebab setelah kuamat-amati, keceriaanmu tak pernah kalah dengan kanak-kanak mana pun, yang membuatku cemburu tetapi juga senang. Sebab dalam hati aku berpikir, seandainya aku dulu seceria dan sepercaya dirimu, mungkin wajah ‘jeruk purut’ ku tak kan sekecut yang kau lihat sekarang (jangan menertawakan Papa, please……)


Amartya buah hatiku,


Sekali waktu dulu kau pernah menanyakan sesuatu yang menurutku serius, tapi kala itu kita hanya mendiskusikannya sangat pendek. Sekarang mungkin waktunya aku membahasnya dengan agak panjang lebar. Dulu aku merasa tak siap, dan pada saat yang sama, aku menduga kau juga tak kan bisa menerima penjelasan seserius dan sepanjang yang akan aku lakukan ini. Kini waktunya kurasa sudah tepat. Jadi sambil kau membaca surat ini, tolong off kan dulu nada dering ponsel mu dan matikan televisi itu, ya…..


Kau bertanya waktu itu: “Kenapa sih, Papa memberiku nama Amartya? Kawan-kawan banyak yang menanyakannya. Dan aku kesulitan menjawab.”


Aku tertawa tetapi berpikir keras untuk bisa memberikan jawaban yang pendek dan masuk akal bagi bocah seusiamu. Jangankan kau Nak. Teman-teman ku pun banyak yang meraba-raba pengertian di balik namamu. Ada yang menduga kau kuberi nama itu (dan disapa, Marty) karena mengacu pada Marty Natalegawa, diplomat muda yang kini jadi wakil tetap negara kita di PBB. Yang lain menduga-duga seraya menyejajarkannya dengan tokoh Marty, si zebra dalam film Madagascar. Mereka yang tidak mau susah-susah, menjadikannya sebuah nama jenaka dengan memelesetkannya jadi Martiyem, nama yang terdengar sangat lokal dan dekat sekali dengan tradisi eyang putri dan eyang kakung-mu.


Kala itu pun aku hanya memberikan keterangan seperlunya atas pertanyaanmu itu. Aku katakan bahwa Amartya adalah nama yang bagus. Dalam Bahasa India, artinya abadi (immortal). Konon dalam Bahasa Jawa kuno (aku belum cek, cuma dulu ada grup musik namanya Amartya 8 dan mereka mengatakannya dalam sebuah wawancara televisi) Amartya berarti rezeki yang indah. Tetapi alasan yang paling benar dan yang paling sungguh-sungguh, kataku waktu itu, adalah karena Amartya merupakan nama seseorang yang sangat pintar dari India yang aku kagumi. Dia pintar dan karena itu berhasil memenangi hadiah Nobel ekonomi tahun 1998. Nama lengkapnya, Amartya Sen.


Waktu itu kupikir penjelasan itu sudah cukup untuk anak seusiamu. Tetapi kini aku merasa kau harus tahu lebih. Bukan untuk membebanimu dengan harapan harus bisa sehebat arti dan kiprah penyandang nama itu, justru untuk memberimu ruang yang lapang menafsirkannya. Sehingga kelak kau tak perlu menjadi tiruan dari Amartya-Amartya sukses sebelumnya, melainkan menemukan sendiri arti menjadi Amartya, dan secara otentik muncul dari kapasitas dirimu seutuhnya, tidak lebih, tidak kurang dan tidak dipaksakan.

Aku akan memulai penjelasanku dengan sebuah kejadian yang kurang enak. Ketika pertamakali menapaki kuliah di Fakultas Ekonomi, sudah kebiasaan kami sesama mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk saling berdebat dan mempertengkarkan apa saja, untuk melewatkan waktu dan melupakan keroncongannya perut di tanggal-tanggal tanggung bulan. Kami berusaha meremehkan jurusan yang dipilih orang lain dan meninggikan studi diri sendiri. Tapi ada satu cemooh yang selalu menusuk di ulu hati karena begitu merasa terhina tetapi juga sekaligus tak sanggup kubantah. Yakni ketika kawan-kawan pada umumnya menganggap Ilmu Ekonomi adalah ilmunya orang-orang yang pelit, tak punya perasaan, kemaruk dan mementingkan diri sendiri. Sebab, menurut mereka, prinsip ilmu ekonomi adalah “ Dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.”



Kau tahu, Amartya, di kampung halaman ayahmu sana, di Sarimatondang yang tidak ada di peta, pelit dan kemaruk adalah salah satu julukan terjelek. Lebih baik kita dituduh tak berduit daripada dikatakan pelit. Itu sebabnya ledekan tentang Ilmu Ekonomi sebagai ilmu yang mengajarkan “dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya” aku anggap keterlaluan dan ingin sekali kubuktikan ketidakbenarannya.


Bukan maksudku ingin munafik, pura-pura jadi orang yang moralistis yang tidak doyan jadi orang kaya dan banyak uang. Tentu lah di dalam angan-anganku ada juga harapan dengan menuntut ilmu itu suatu saat bisa menjadi seseorang yang bisa hidupnya layak, berkarier sebagai bankir atau pegawai di instansi yang menangani budget pemerintah. Paling apes, jadi kerani di jawatan tertentu, peneliti di think tank X, atau kalau pun tidak, penulis kere seperti ayahmu kini pun lumayan lah. Tapi jika hidup harus dilakoni “dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya,” jelas lah tak pernah terpikirkan.


Sialnya, ternyata cemooh kaum awam itu tak terlalu meleset, lho. Ilmu ekonomi itu, ternyata, makin hari kian dekat dengan pengertian yang tidak ramah itu. Tahukah kau, Amartya, bahwa fundasi dari ilmu ekonomi arus utama di zaman modern ini adalah sebuah asumsi yang terdengar sangat tidak bersahabat dan tidak ‘manusiawi’? Ilmu ekonomi modern dikembangkan dengan mengandaikan manusia pada umumnya bertindak rasional. Dan celakanya, rasional di sini diidentikkan dengan mementingkan diri sendiri. Tiap manusia dianggap sebagai homo economicus. Mahluk yang sepanjang hidupnya ditujukan untuk mengejar dan memaksimalkan keperluan diri sendiri. Haus harta, itu mungkin kata yang lebih sinis tapi tak terlalu salah. Dan karena disadarinya bahwa kebutuhannya tidak terbatas sedangkan sumberdaya untuk mendapatkannya demikian terbatas, maka diperlukan lah sebuah alat untuk mencapai itu. Ilmu ekonomi pun lahir, sebagai ilmu mengenai pilihan. Lihat lah. Begitu selfish, bukan pandangan ilmu ekonomi tentang manusia?


Dulu, seiring dengan makin dalamnya pelajaran yang kami dapatkan, kian aku anggap biasa saja asumsi itu. Makin kuanggap lumrah pernyataan-pernyataan mengenai rasionalitas, walau dalam hati kecil ada juga terpikir-pikir, apa betul kita manusia hidup hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri saja? Apa betul kita membanting tulang, bekerja, berpikir, untuk memenuhi kebutuhan yang tak berkesudahan itu? Kalau demikian halnya, mengapa ada yang berkata bahwa ‘Manusia tidak hidup dari roti saja’ pernyataan yang selalu ingin kupercaya karena menurutku manusia memang harus mengisi hidupnya lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tetapi juga orang lain?. Jika manusia hanya hidup untuk dirinya sendiri dan untuk ‘roti saja,’ lantas kemana perginya hal-hal yang justru kita anggap agung dan kekal, seperti persahabatan, welas kasih, niat baik, pengorbanan dan cinta?


Aku ingat bagaimana dulu ayah (yakni oppung doli-mu) begitu ‘mati-matian’ mengumpulkan uang demi memelopori pembangunan makam leluhur di Samosir sana. Tak seorang pun menganggap ayah rasional dalam tindakannya itu, termasuk kami anak-anaknya yang masih kecil, yang untuk membayar uang sekolah pun sering terlambat. Kami menganggap tindakannya itu hanya berjuang menonjolkan ego-nya sebagai seseorang yang sok jadi pahlawan menjunjung marga dan martabat keluarga. Tidak ada gunanya secara ekonomis. Tapi ketika kemudian tindakannya itu diikuti juga oleh kerelaan para kerabat untuk bahu-membahu mewujudkan ‘proyek spiritual’ itu, apalagi orang-orang kemudian mengetahui bahwa bukan untuk dirinya sendiri ayah membangun tugu itu sebab bukan leluhur ayah yang akan pertamakali menempati makam itu, muncul juga pembenaran terhadap tindakannya itu. Bahwa jangan-jangan ayah yang dimatangkan oleh tradisinya sendiri memang mempunyai sudut pandang tertentu terhadap apa yang dinamakan rasionalitas. Jangan-jangan di atas sesuatu yang kita sebut rasional itu, ada hal lain yang sesungguhnya jauh lebih masuk akal, hanya saja kita belum melihatnya pada suatu masa. Dan, yang paling pasti, tak seorang pun yang bertambah miskin oleh karena proyek itu….


Amartya biji mataku,


Pada tahun 1998, setahun sebelum kau lahir, koran-koran di Indonesia memberi porsi yang cukup besar atas berita terpilihnya Amartya Sen sebagai pemenang Nobel. Banyak orang, terutama kita-kita dari dunia ketiga, menyambut gembira kemenangan itu karena yang ditonjolkan adalah kiprah Sen sebagai ekonom yang sangat peduli pada persoalan kemiskinan, isu yang tentu sangat dekat dengan persoalan keseharian kita. Dalam pikiran udikku, segera saja sosok Sen tergambar sebagai seorang hero. Dan menariknya, ia bukan hero sejenis Robin Hood yang mengandalkan kebengalan dan kenakalannya, melainkan pahlawan yang bekerja dengan pikiran dan ide luhurnya. Coba, siapa yang tak terkesima pada sosok semacam ini, apalagi bagi orang seperti Papamu ini, yang dibesarkan di desa kecil yang selalu merindukan dan mengagumi aksi-aksi mesianik?


Tapi bukan itu terutama yang membuatku jatuh cinta pada nama Amartya dan dalam hati berjanji, jika suatu saat punya anak, akan kuberi nama itu. Amartya Sen bagiku menjadi semacam superhero karena dengan pikiran-pikirannya, hatiku terobati dan terhibur dari cemooh hina kepada ilmu ekonomi semasa mahasiswa dulu. Dari pikiran-pikiran Sen lah makin kusadari bahwa ilmu ekonomi tidak harus mengandaikan hanya rasionalitas yang mendalangi setiap tindakan manusia dan tujuan utama manusia hanya lah memaksimalkan pemenuhan kepentingan diri-sendiri.


Sen melihat bahwa ilmu ekonomi mempunyai sisi yang indah dan luhur. Perjalanan sejarah lah yang membuat ilmu ekonomi itu ‘dikerdilkan’ dari keindahan etis. Menurut dia, sejak dahulu kala Aristoteles telah mengatakan bahwa manusia bukan hanya homo economicus melainkan juga mahluk sosial. Bahwa ilmu ekonomi itu tak beda dengan ilmu lainnya, sehingga, “tujuan ilmu ini harus mencakup tujuan dari ilmu-ilmu yang lain, sehingga tujuan ini harus mendatangkan kebaikan bagi manusia.” (Ehm…ehm, seandainya dulu aku tahu hal ini, aku seharusnya sudah punya amunisi yang ampuh untuk berdebat dengan kawan-kawan mahasiswa sebayaku…..)


Bagi Sen adalah absurd jika manusia dianggap akan selalu rasional. “…..Sudah jelas sekali bahwa kita semua suka berbuat salah, kita sering mengadakan eksperimen, kita menjadi bingung dan seterusnya. Dunia pasti dihuni oleh banyak Hamlet, banyak Macbeth, banyak Lear dan juga Othello. Tipe-tipe orang yang rasional dan tenang mungkin memenuhi buku-buku teks kita tapi dunia ini jauh lebih beragam isinya,” tulis Sen pada salah satu bukunya. (Harap perhatikan, anakku, Amartya Sen itu selalu menulis begitu seriusnya, tapi sesekali ia selipkan juga humor keringnya. Kau pun, kalau bisa, begitu lah).


Memang, demi kesederhanaan dan ketajamannya, ilmu ekonomi membutuhkan asumsi rasionalitas itu, yang sebenarnya samasekali tidak ramah tentang manusia. Selama berabad-abad, dengan asumsi yang semacam itu ilmu ekonomi modern telah memberikan sumbangan yang besar bagi peradaban. Namun di sisi lain, Sen juga percaya bahwa dikerangkengnya manusia sebagai 'hanya' mahluk rasional –apalagi rasionalitas itu disederhanakan pula sebagai maksimalisasi kepentingan diri sendiri— tidak sepatutnya terjadi, setidaknya bagi pengembangan ilmu ekonomi di masa depan. Sen percaya, membuka kemungkinan lain selain mengasumsikan manusia hidup untuk memaksimalkan kepentingan dirinya sendiri, jauh lebih berguna.


Banyak orang mencemooh upaya Sen ini. Sering orang menunjukkan kemajuan ekonomi negara-negara maju di dunia adalah berkat manusia yang rasional dan mementingkan diri sendiri tersebut. Studi-studi yang menggambarkan kemajuan ekonomi pasar bebas, misalnya dijadikan sebagai bukti dari kebenaran asumsi itu. Ekonomi pasar bebas dipandang sebagai contoh terbaik dari ‘perlombaan’ dan persaingan antarsesama pelaku ekonomi untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri, yang pada gilirannya, oleh si invisible hands diatur sedemikian rupa menjadi tertib dengan sendirinya. Di sini, ekonomi pasar bebas telah diklaim sebagai bukti dari benarnya asumsi mengenai rasionalitas.


Tetapi Sen melihat sisi lain. Kata dia, keberhasilan pasar bebas bukan bukti mutlak tentang motif-motif rasional di balik tindakan tiap pelaku ekonomi. “Dalam kasus ekonomi Jepang, terdapat bukti empiris yang kuat tentang pelepasan-pelepasan sistematis dari perilaku pementingan diri sendiri dalam menjalankan tugas; kesetiaan dan niat baik telah memainkan peran besar dalam keberhasilan industri mereka…..” kata Sen dalam sebuah tulisannya. Menurut dia, apa yang disebut orang sebagai ‘Etos Jepang’ jelas sangat sulit dicocokkan dengan perilaku pementingan diri sendiri. Juga resep Konfusius untuk keberhasilan industri adalah suatu telaah yang menurut Sen, perlu diperhitungkan sebagai alternatif dari mementingkan diri sendiri.



Sen menganggap rasionalitas dan pemenuhan kepentingan diri-sendiri bukan satu-satunya motif. Ada kemungkinan banyak motif, termasuk variasi dari motif pementingan diri-sendiri dimaksud. Bila secara ekstrim ada dikotomi antara kepentingan diri di satu pihak dan kepedulian umum di pihak lain, Sen mengajak kita melihatnya lebih kritis. Kata dia, dikotomi tradisional antara egoisme dan utilariarisme tersebut sering menyesatkan karena variasi percampuran kedua motif itu dalam tindakan-tindakan manusia bisa muncul beraneka ragam.Dan, aku rada-rada setuju dengan dia dalam soal ini.


Kau, mungkin tertawa, seperti diriku ketika masih mahasiswa dulu yang juga ikut-ikut terpingkal-pingkal, manakala mendengar sebuah pendapat yang aku anggap terlalu romantis dan hanya cocok digunakan untuk meninabobokan perut yang sedang lapar. Pendapat itu berupa kutipan dari pernyataan Ki Hajar Dewantara, yang syahdan pernah berkata “
Luwih becik mikul dawet kanthi rengeng-rengeng, tinimbang numpak mobil nanging mbrebes mili." Artinya kira-kira, tukang es dawet yang berkeliling di jalanan seringkali hidupnya lebih berbahagia karena masih bisa bernyanyi-nyanyi riang ketimbang mereka yang sedih-menangis di mobil mewah. Sampai sekarang kutipan ini masih sering diperdengarkan orang, tapi dalam nada yang rada-rada putus asa menyaksikan demikian gencarnya perlombaan untuk jadi hebat dan mentereng, seolah berbanding lurus pula dengan terungkapnya kasus-kasus hukum yang memalukan dan menyayat rasa keadilan.

Tetapi kini, kuharap kau mau lebih serius sedikit merenungkan hal itu. Soalnya, bila menimbang-nimbang lagi apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara itu dan membandingkannya dengan apa yang selama ini diperjuangkan Sen lewat ilmu ekonomi yang ditekuninya, aku seakan melihat pertalian yang erat. Aku cukup yakin bahwa apa yang telah dikatakan Ki Hajar Dewantara itu adalah juga yang ingin dikatakan Sen melalui ilmu ekonomi. Bahwa dengan ilmu ekonomi, hidup umat manusia seharusnya bukan hanya akan bertambah makmur, bertambah kaya, melainkan juga seharusnya lebih baik, lebih bermartabat, dan karena itu, lebih bahagia, asalkan cara pandangnya terhadap tujuan hidup manusia tidak sekadar memenuhi kebutuhannya sendiri belaka. (Sorry anakku, ekonom sering tertawa ngakak bila mendengar kata ‘bahagia,’ karena hal ini menurut mereka tidak dapat diukur).


Atau bila pernyataan ini bisa dilihat dari sisi lain, Sen percaya bahwa ilmu ekonomi seharusnya bisa menunjukkan ada hal-hal lain di luar memenuhi kebutuhan diri sendiri yang menjadi tujuan manusia. Bahwa manusia bukan hidup hanya dari roti saja. Bahwa motif manusia untuk bertindak seringkali pula didorong oleh apa yang oleh kita mungkin sering disebut sebagai cita-cita, idealisme, kebaikan dan banyak lagi. Dalam kata-kata Sen yang sering agak berbelit itu, hal ini bisa terbaca begini: “Keberhasilan seseorang tidak dapat semata-mata dinilai dari kemakmurannya…… Seseorang mungkin menghargai dipromosikannya suatu perihal dan timbulnya hal-hal tertentu, meskipun pencapaian akan hal itu tidak menyebabkan peningkatan kemakmuran.”


Amartya hasianku,


Aku tahu, kau agak bingung dengan khotbah yang rada abstrak ini. Di dalam hatimu kau pasti bertanya, kenapa Papamu ini harus berlama-lama bicara soal ini?


Maafkan aku Nak. Harap bersabar sedikit lagi saja.


Ada yang makin hari aku cemaskan dari menghadapi berbagai kejadian belakangan ini. Walau kau tak sepenuhnya mengerti, sama seperti aku Papamu yang masih tetap bingung, namun sedikit banyak engkau pasti tahu dari koran dan TV tentang krisis global dewasa ini. Kalau aku tak salah baca, banyak sekali analisis yang berpendapat ini adalah akumulasi dari optimisme berlebihan terhadap ekonomi pasar bebas, yang terkait erat dengan pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas. Berkaitan dengan bagaimana perlombaan mencapai kemakmuran itu di Amerika, aku pernah baca cerita tentang bagaimana orang-orang di sana begitu keranjingannya dengan produk-produk real estate. Sampai-sampai ada yang secara hiperbolik menggambarkan bukan hanya orang, tapi anjing dan kucing pun dibelikan rumah. Ironisnya, semua itu dibiayai oleh utang yang bersumber dari utang yang bersumber dari utang dst. Dan ketika semua orang merasa berhak dan mampu memenuhi keinginan yang tak terbatas itu lewat berbagai cara yang disebut ‘kreatif’ tapi sesungguhnya jalan pintas yang semu, perekonomian negeri Paman Sam akhirnya guncang. Imbasnya kita pun di Indonesia tak bisa menghindarinya.


Yang ingin aku katakan padamu dengan mengutip fakta ini adalah, betapa perlunya lagi kita mendengar dan memikir ulang apa-apa yang telah dikatakan oleh Sen tempo hari. Betapa ganasnya ilmu ekonomi bila ia dibangun atas asumsi bahwa manusia hidup didorong oleh memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Bayangkan lah, di saat di berbagai belahan dunia masih ada bencana kelaparan, nasih ada kematian massal bukan pada waktunya karena ketiadaan biaya berobat, tetapi di belahan dunia yang lebih makmur justru mereka ‘bermain-main’ dengan berkelimpahannya kemakmuran itu yang ironisnya, justru menghasilkan apa yang kita sebut krisis global.


Walau tak ingin membebani pikiranmu dengan hal-hal berat lainnya seperti korupsi, tapi kali ini pun aku terpaksa menyeretmu sebentar, walau aku tahu otak kanak-kanakmu mungkin belum sepenuhnya bisa mencernanya. Kukira kau juga harus ikut mendengar apa yang belum lama ini dirisaukan oleh filosof dan rohaniawan yang kita hormati, Frans Magnis Suseno. Rasanya dia marah, walau pun masih membungkus bahasanya dengan santun. Ia sudah demikian kesalnya melihat praktik korupsi di lingkungan politisi dan parlemen yang tak kunjung bisa diatasi. Dan kalau mendengar kata-katanya, aku Papamu ini merasa merinding, Nak. Kata sang Romo, seperti dikutip Kompas, korupsi kini merupakan penyakit amat serius yang diderita bangsa kita. Penyakit ini terutama disebabkan pemujaan yang berlebihan terhadap uang dan materi.


Kau dengar itu,Anakku? Lagi-lagi kita diingatkan pada apa yang sedari dulu telah dirisaukan oleh Sen, ekonom yang nama depannya kini kau sandang. Ketika urusan legislasi itu oleh para anggota DPR kita sudah diidentikkan dengan transaksi seperti dalam sebuah perniagaan, maka manusia sebagai homo economicus yang tujuan hidupnya semata memenuhi kepentingan dirinya sendiri tak lagi sekadar asumsi. Ia benar-benar jadi perilaku aktual. Dan betapa mengerikannya membayangkan keadaan, bila hal ini tak bisa dihentikan.


Di sini lah, anakku, nama Amartya itu kuharapkan menjadi inspirasi bagimu untuk menemukan jati dirimu. Amartya Sen, tokoh yang kini namanya kau sandang, di umur 23 tahun sudah menjadi profesor ekonomi di Univesitas Jadavpur. Sebagian besar hidup dan kariernya diterjunkan pada ilmu yang kering dan membosankan ini, tapi ia dapat melihat sisinya yang indah dan luhur, walau pun suaranya mungkin hanya terdengar sayup-sayup. Ia tahu semestinya ilmu ekonomi juga mengandung pendekatan-pendekatan etis, sesuatu yang makin hari justru makin ‘diharam’kan oleh para ekonom jalur utama. Sen, dengan daya persuasinya, datang dengan cara untuk 'menggenapi' Ilmu Ekonomi, bukan untuk memorak-porandakannya. Kata dia, “Saya tidak mengatakan bahwa pendekatan non-etika pada ilmu ekonomi pasti tidak produktif. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa ilmu ekonomi dapat dibuat lebih produktif dengan memberikan perhatian yang lebih besar dan jelas pada pertimbangan-pertimbangan etika yang membentuk perilaku dan penilaian manusia.” Untuk hal ini, walau Sen sering dicemooh sebagai ekonom yang terkesima dan terjerat pada hal-hal bersifat ‘omong kosong,’ namun di sisi lain berbagai karyanya yang mengandung dimensi filosofis dan etis itu pula yang membuatnya dijuluki sebagai ‘pemelihara hati nurani’ (conscience keeper), bahkan ia sendirilah nurani dari profesi ekonom (the conscience of our profession).


Berkat ketekunan dan keteguhan itu, akhirnya dunia sedikit banyak menikmati hasil pekerjaan Sen. Di tangannya, ilmu ekonomi dapat juga menampilkan wajahnya yang manusiawi. Lewat penelitian dan studi yang dilakukannya, Sen dapat juga ‘memaksa’ ilmu ekonomi untuk ikut berkata bahwa “Hidup bukan hanya dari roti saja,” dan bahwa manusia tidak hidup untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri belaka. Salah satu caranya untuk melakukan hal itu adalah dengan membuktikan bahwa pembangunan adalah juga pembebasan. Jika sebelum ini pembangunan cukup lama dipandang sebagai upaya untuk menyediakan sebanyak mungkin ‘roti’ lewat pertumbuhan ekonomi, kenaikan penghasilan, modernisasi masyarakat dan kemajuan teknologi, Sen membuktikan bahwa pembangunan juga harus menghasilkan kebebasan bahkan pembangunan itu sendiri adalah pembebasan. Kebebasan itu sendiri adalah salah satu output yang penting, yang kehadirannya sangat bergantung pada determinan-determinan lain, semisal pengaturan sosial-ekonomi, penyediaan fasilitas pendidikan, pemeliharaan kesehatan, jaminan atas hak-hak sipil dan politik serta kebebasan untuk turut menjalankan pengawasan. Dengan kata lain, bagi Sen pembangunan ekonomi itu sendiri adalah juga perluasan kebebasan masyarakat, sama dengan kemiskinan, yang sering ia pandang sebagai sebagai ketidakbebasan. (Ups. Bagian ini pasti akan sangat membosankanmu. Boleh kau lewatkan....)


Keyakinan Sen bahwa manusia tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri belaka, tercermin juga dengan apa yang dilansirnya lewat studi-studinya tentang penanggulangan kelaparan. Ia percaya bahwa masyarakat dapat digerakkan bukan hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri tetapi juga kepada sesuatu yang lebih dari itu, melalui aksi-aksi kolektif mau pun aksi publik. Aksi publik yang dimaksudkannya tidak hanya melibatkan Pemerintah tetapi terutama oleh masyarakat sendiri termasuk oleh pers dan partai politik.


Sebagai contoh, bertahannya kelaparan yang gawat di banyak negara Sub Sahara Afrika, menurut dia, berkaitan erat dengan kurangnya sistem dan praktik demokrasi politik di sana. Hal yang sama pernah juga terjadi di China, ketika kelaparan pada 1958-1961 menewaskan lebih dari 30 juta orang. Sekali pun secara politis Pemerintah RRC sangat komit terhadap pemberantasan kemiskinan, mereka tak bisa menghadang bencana besar itu. Salah satu penyebabnya, menurut Sen, adalah kurangnya sistem distribusi berita yang bebas, yang telah menyesatkan Pemerintah oleh propogandanya sendiri dan laporan-laporan yang menyenangkan dari pengurus partai lokal yang bersaing mendapatkan kepercayaan dari Beijing.


Amartya kerinduanku,

Kau pasti sudah mulai bosan. Seandainya aku berada di sisimu, pasti sedari tadi aku telah melihat mulut kecilmu yang memberengut. Tak apa. Aku juga sudah hampir tiba pada akhir dari khotbah yang tak kau harapkan ini.


Apa sebenarnya yang ingin kukatakan padamu dengan semua cerita tentang asal-usul namamu ini? Sudah pasti aku tidak memberi kuliah tentang pemikiran ekonomi seorang profesor bernama Amartya Sen, yang sepersepuluh dari karya-karyanya pun tak kumengerti dengan pasti. Bukan pula tujuanku untuk berharap suatu saat ketika besar nanti kau harus jadi akademisi ulung peraih nobel, atau menjadi ekonom superserius berkacamata tebal, sesuatu yang aku hampir pasti, tidak pernah terpikir olehmu.


Yang ingin kupesankan, seandainya kau berkenan, adalah tentang perlunya untuk selalu mengasah sisi kemanusiaan dirimu di tengah gencarnya kecenderungan sebaliknya dalam hidup kita sehari-hari. Ketika 10 tahun lalu dunia seperti kaget dan kemudian takjub mengetahui Sen terpilih untuk memenangkan hadiah Nobel, sebetulnya itu tak perlu diherankan. Barangkali ini adalah cerminan dari kerinduan kita manusia akan hal-hal yang selama ini makin menjauh dari haribaan kita. Yakni apa yang sejak dulu kita anggap merupakan bagian terdekat dari diri kita, tetapi kita biarkan berlari liar karena kita disilaukan oleh hal-hal baru yang sebetulnya tidak sepenuhnya kita kuasai. Yang aku maksudkan itu adalah kemanusiaan manusia itu sendiri, jati dirinya yang paling hakiki yang diam-diam sebenarnya selalu kita rindukan tetapi karena terkesan ingin gagah, rasional, kita ingkari dan hindari. Dengan hadiah Nobel itu kita seakan diberi kabar baik, bahwa pada akhirnya ilmu yang makin menjauh dari wajah kemanusiaan itu telah ‘kembali,’ oleh seseorang yang namanya Amartya Sen, seperti namamu.


Memang kita sering dibingungkan oleh berbagai paradoks dalam kenyataan. Seringkali kita kian tidak sudi tersentuh oleh sisi-sisi kemanusiaan, yang kita anggap lunak dalam kehidupan ini. Dongeng tentang bawang merah dan bawang putih kita anggap hanya enak didengar sebelum tidur untuk menenang-nenangkan hati yang terpojok oleh kekecewaan. Kebaikan di dunia yang kian bergegas ini, makin sering ditafsirkan sebagai keramahan yang berlebihan bahkan topeng untuk menutupi kelemahan. Tatkala yang makin dihargai adalah hal-hal yang bisa dihitung, dibayar, dipertukarkan, diutang dan dipiutangkan, hal-hal lain yang berkaitan dengan ‘hidup bukan hanya dari roti saja’ kian diabaikan dan dilupakan.


Tapi percaya lah anakku, seperti yang telah sedikit banyak kita pelajari dari riwayat pemberian namamu, bahwa pada akhirnya kita akan selalu dihadapkan pada pertanyaan tentang apa yang kekal dan apa yang sementara. Tentang apa yang bertahan lama dan apa yang akan lenyap. Dan seperti yang makin hari akan makin kau ketahui, bukan pada hal-hal yang dapat dihitung itu ternyata daya tahan utama manusia, melainkan pada wujudnya yang lain yang tak kasat mata. Dan di atasnya lah kita manusia bisa tetap tegak, bahkan ketika yang lain-lainnya memandangmu dengan sebelah mata. Bukan kebetulan bila Amartya, nama yang kau sandang itu, mempunyai arti ‘kekal’. Sebab pada hal-hal yang kekal itu lah sesungguhnya arah pencarian manusia ditujukan.


Masih panjang jalanmu dan masih banyak waktu untuk kita mempercakapkannya, putriku. Karena itu aku cukupkan sampai di sini. Ingin rasanya mengambil sejumput beras dan meletakkannya di atas kepalamu, sebagai caraku untuk meneguhkan keberanianmu. Dan bila ditambah dengan petuah tak bermutu ini, layak kan aku mendapat pelukan?

()()()


Daftar Bacaan Sambil Lalu


  1. On Ethics and Economics (diterjemahkan oleh Rahmani Astuti dengan judul Masih Adakah Harapan bagi Kaum Miskin), Amartya Sen, 2001, Penerbit Mizan.

  2. 8 Etos Kerja Profesional, Jansen Sinamo, 2005, Institut Mahardika

  3. Kaya, (dalam Catatan Pinggir 1, hal 488-489), Gunawan Muhammad, 1997, Grafiti

9 comments:

  1. Gerda Silalahi7:13 PM

    selamat (menjelang) ulang tahun ke 10 adikku amartya. semoga seluruh harapan papa dan mama tercinta terjadi atasmu.

    berbahagialah amartya yang kelak membaca sejarah pemilihan namanya, bahwa namanya bukan sekedar panggilan dan identitas, tapi juga mengandung doa, harapan, filosopi hidup yang luar biasa dari papanya yang diabadikan dalam nama anaknya.

    ReplyDelete
  2. sampai terharu saya bacanya :)

    mestinya kita semua sadar, bahwa pemujaan terhadap materi hanya membuat kita hancur

    ReplyDelete
  3. Pencerahan yang luar biasa, Bang...
    Thanks atas kesediaannya untuk berbagi.

    Untuk Amartya : selamat ulang tahun yang ke-10.

    Pesen Om : selalu banggalah pada Papa kamu yang luar biasa ini!
    Om adalah salah satu orang yang sangat beruntung berkenalan dengan orang hebat seperti Papamu ini. Swear!

    ReplyDelete
  4. kroepoekje(another e.e siadari)3:54 PM

    Iya ya gak terasa 10th telah berlalu,aku juga belum lupa waktu marty lahir,di hari yang sama langsung melihatnya.waktu itu aku masih remaja(sekarang udah jadi emak2) senang banget punya keponakan apalagi dibilang mirip bo'u emi dan bo'u erba( tambah bangga aja deh he he he) . Mudah2an marty menjadi anak seperti yang selalu diidam idamkan papa mama. To marty: Happy birthday ya sayang,jangan terlalu pasrah sama papamu,jangan percaya kalo dia bilang dia bokek,marty kan anak satu2nya,jadi boleh dong agak dimanja sedikit hi hi hi hi.... To ito Eben: keren juga to blog mu,saking kerennya sampe gak sanggup bacanya,alias keburu bosen hehehe....mending dijadiin buku terus cari penerbit pasti laris deh,kan orang indonesia sekarang jiwa literaturnya juga udah cukup berkembang bukan?

    ReplyDelete
  5. friends,
    makasih untuk salam, harapan dan doanya ya....

    untuk ito gerda silalahi: terimakasih ya ito mak belle.... kapan2 cerita dong kenapa belle diberi nama christabelle amadea....

    untuk kris: hai wong yogya, lagi sibuk apa nih....memuja materi jangan, tp kalau dapat hadiah undian toyota rush, boleh juga sih.... hahahaha

    untuk mas fajar: ah, panjenengan bisa aja....kapan2 kalau ketemu amartya aku sampaikan salamnya. pasti dia bilang mas fajar orang paling norak sedunia karena bisa sobatan sama papanya yang noraknya juga gak kalah sama tukul hahahaha. sukses terus, kita doakan segera bisa jadi kepala cabang deh....apa kepala wilayah?

    untuk kroepoekje (another e.e.siadari): emi, baru aku sadar kalau emilia eleanor siadari itu e.e.siadari juga ya..... makasih untuk doa dan semuanya ya... ito juga senang kalau emi, willem dan terutama nick, makin sehat dan makin batak di negeri tulip.... hahahaha

    ReplyDelete
  6. HAPPY BIRTHDAY AMARTYA SIADARI.
    Ipasu pasu anjaha ipargogohi Tuhan Naibata ma ho, saonari nari ronsi sadokah ni dokahni. Amen.

    Salam hangat,
    Kel. Juli Abet Simbolon
    Batam

    ReplyDelete
  7. HAPPY BIRTHDAY AMARTYA SIADARI.
    Ipasu pasu anjaha ipargogohi Tuhan Naibata ma ho, saonari nari ronsi sadokah ni dokahni. Amen.

    Salam hangat,
    Kel. Juli Abet Simbolon
    Batam

    ReplyDelete
  8. mudah2an seperti namanya, rejekinya lapang dan hidupnya diberkati sang pencipta.

    btw... putrinya cantik, pak. pasti mirip mamanya :)

    ReplyDelete
  9. Anonymous1:02 AM

    Rencananya saya ingin memberi nama anak ke-2 kami dengan nama Amartya... setelah membaca blog ini saya jadi tambah yakin untuk memberi nama Amartya... Amin :)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...